AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II Tahun Akademik 2007/2008 MODUL 6 (Tatap Muka ke-6
Deskripsi Singkat
AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II
Tahun Akademik 2007/2008
MODUL 6
(Tatap Muka ke-6)
Oleh :
FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si.
Program Perkuliahan Kelas Karyawan
Fakultas Ekonomi-Universitas Mercu Buana
Jakarta
PENGAKUAN PENDAPATAN
(REVENUE RECOGNITION)
Prinsip pengakuan pendapatan (revenue recognition principle)
menetapkan bahwa pendapatan diakui pada saat :
1) direalisasi atau dapat direalisasi dan
2) dihasilkan.
Pendapatan direalisasi apabila barang dan jasa ditukar dengan kas atau
klaim atas kas (piutang). Pendapatan direalisasi apabila aktiva yang
diterima dalam pertukaran segera dapat dikonversi menjadi kas atau klaim
atas kas dengan jumlah yang diketahui. Pendapatan dihasilkan (earned) jika
entitas bersangkutan pada hakikatnya telah menyelesaikan apa yang
seharusnya dilakukan untuk mendapat hak atas manfaat yang dimiliki oleh
pendapatan itu, yakni apabila proses menghasilkan laba telah selesai atau
sebenarnya telah selesai.
Empat transaksi pendapatan telah diakui sesuai dengan prinsip ini :
1. pendapatan dari penjualan produk diakui pada tanggal penjualan (tgl
penyerahan kepada pelanggan).
2. Pendapatan dari pemberian jasa diakui ketika jasa telah diberikan dan
dapat ditagih.
3. Pendapatan dari mengizinkan pihak lain untuk menggunakan aktiva
perusahaan, seperti bunga, sewa, & royalty, diakui sesuai dengan
berlalunya waktu atau ketika aktiva itu digunakan.
4. Pendapatan dari penjualan aktiva selain produk diakui pada tgl
penjualan.
Penyimpangan dari Dasar Penjualan
Alasan umum penyimpangan :
a. untuk mengakui lebih awal (recognize earlier) jika terdapat tingkat
kepastian yg tinggi mengenai jumlah pendapatan yg dihasilkan.
b. Menangguhkan pengakuan, jika tingkat ketidakpastian mengenai jumlah
pendapatan ataupun biaya cukup tinggi, atau jika penjualan bukan
merupakan penyelesaian yg substansial dari proses menghasilkan laba.
PENGAKUAN PENDAPATAN PADA SAAT PENJUALAN (PENYERAHAN).
Pendapatan dari aktivitas pabrikasi serta penjualan umumnya diakui
pada saat penjualan (point of sale), tetapi ada tiga situasi yang dapat
menimbulkan masalah, yaitu :
a. Penjualan dengan Perjanjian Beli Kembali
b. Penjualan dengan Hak Retur
c. Trade Loading dan Channel Stuffing
Penjualan dengan Perjanjian Beli Kembali
Jika terdapat perjanjian beli kembali dengan harga tertentu dan harga
ini dapat menutup semua biaya sediaan ditambah biaya kepemilikan yang
terkait, maka sediaan dan kewajiban yg terkait itu tetap ada pada pembukuan
penjual. Dengan kata lain tidak terjadi penjualan.
Penjualan dengan Hak Retur
Tersedia tiga metode pengakuan pendapatan alternatif apabila penjual
menanggung risiko kepemilikan yang berkepanjangan karena pengembalian
produk, yaitu :
1) tidak mencatat penjualan sampai seluruh hak retur habis masa
berlakunya
2) mencatat penjualan, tetapi mengurangi penjualan dengan estimasi retur
di masa depan.
3) Mencatat penjualan serta memperhitungkan retur saat terjadinya.
FASB menyimpulkan bahwa jika suatu perusahaan menjual produknya tetapi
memberikan pembeli hak unutk mengembalikan produk itu, maka pendapatan dari
penjualan ini akan diakui pada saat penjualan hanya jika semua dari enam
kondisi berikut terpenuhi :
1. Harga penjual kepada pembeli pd hakikatnya tetap (fixed) atau dapat
ditentukan pd tgl penjualan.
2. Pembeli sudah membayar penjual , atau pembeli berkewajiban untuk
membayar penjual, dan kewajiban itu tidak tergantung pd penjualan kembali
produk tersebut.
3. Kewajiban pembeli kpd penjual tidak akan berubah jika terjadi pencurian
atau kerusakan atau rusaknya fisik produk.
4. pembeli yg memperoleh produk untuk dijual kembali memiliki substansi
ekonomi yg terpisah dari yg diberikan oleh penjual.
5. penjual tdk memiliki kewajiban yg signifikan atas kinerja masa depan yg
secara langsung menyebabkan penjualan kembali produk itu oleh pembeli
6. Jumlah retur di masa depan dapat diestimasi secara layak.
Trade Loading dan Channel Stuffing.
Trade Loading adalah praktik yang mencoba menunjukkan penjualan,
laba, dan pangsa pasar yang sebenarnya tidak mereka miliki. Perusahaan
membujuk para pedagang besar yg menjadi pelanggan mereka untuk membeli
lebih banyak produk dari pada yang dapat mereka jual kembali dengan cepat.
Channel Stuffing, praktik yang sama tapi dalam industri perangkat
lunak komputer. Ketika sebuah produsen perangkat lunak ingin mempercantik
hasil-hasil keuangannya. Dua praktik tersebut licik sehingga harus
dilarang.
PENGAKUAN PENDAPATAN SEBELUM PENYERAHAN.
Kontrak jangka panjang seperti kontrak jenis konstruksi, pengembangan
pesawat terbang militer dan komersial, seringkali menetapkan bahwa penjual
(kontraktor) dapat menagih pembeli pada selang waktu tertentu, ketika
berbagai tahap dari proyek itu telah dicapai.
Ada dua metode akuntansi yang sangat berbeda untuk kontrak konstruksi
jangka panjang yang diakui oleh profesi akuntansi :
1. Metode Persentase Penyelesaian (percentage-of-completion method)
2. Metode Kontrak Selesai
Metode persentase penyelesaian harus digunakan jika estimasi kemajuan
ke arah penyelesaian, pendapatan, serta biaya secara layak dapat dipercaya
dan semua syarat berikut terpenuhi :
1. Kontrak itu secara jelas menetapkan hak-hak yang dapat dipaksakan
pemberlakuannya mengenai barang atau jasa yang akan diberikan dan
diterima oleh pihak yang terlibat dalam kontrak, imbalan yang akan
dipertukarkan, serta cara & syarat penyelesaian.
2. Pembeli dapat diharapkan untuk memenuhi semua kewajiban dalam kontrak.
3. Kontraktor dapat diharapkan untuk melaksanakan kewajiban kontraktual.
Metode Kontrak selesai harus digunakan hanya jika :
(1) punya kontrak jangka pendek,
(2) syarat-syarat metode persentase penyelesaian tidak terpenuhi,
(3) terdapat bahaya yg melekat dalam kontrak di luar risiko bisnis
normal.
Mengukur Persentase Penyelesaian.
Ada berbagai metode yang sekarang digunakan untuk mengukur kemajuan suatu
kontrak. Metode-metode ini dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
a. Ukuran masukan (input measures)
b. Ukuran keluaran (output measures)
Ukuran Masukan.
Mengakui pendapatan, biaya, dan laba kotor sesuai dengan tercapainya
kemajuan ke arah penyelesaian kontrak jangka panjang. Untuk menerapkan
metode ini, harus ada beberapa dasar atau standar untuk mengukur kemajuan
ke arah penyelesaian pada tgl interim tertentu.
Metode untuk mengukur tingkat kemajuan penyelesaian :
Metode biaya terhadap biaya (cost-to-cost method)
Metode upaya yg diperluas (efforts expended method)
Metode Biaya ke biaya. Barangkali yang paling terkenal dari ukuran
masukan adalah metode biaya ke biaya. Menurut metode ini, tingkat
penyelesaian ditentukan dengan membandingkan biaya yang sudah dikeluarkan
dengan taksiran terbaru mengenai jumlah total biaya yang diharapkan untuk
menyelesaikan proyek. Untuk menentukan laba tahun berjalan, persentase yang
dihasilkan dari perbandingan antara biaya yang sudah dikeluarkan dengan
jumlah total biaya yang diharapkan dikalikan dengan laba bersih yang
diharapkan dari proyek ini.
Beberapa dari biaya yang dikeluarkan, terutama pada tahap-tahap awal
kontrak, harus dilupakan dalam menerapkan metode ini karena biaya-biaya ini
tidak secara langsung berhubungan dengan usaha yang dicurahkan untuk
kontrak tersebut. Biaya-biaya ini meliputi unsur-unsur seperti biaya
subkontrak untuk pekerjaan yang masih harus dilaksanakan dan standar
pemakaian bahan yang belum dibuat.
Masalah yang paling sulit dalam metode ini adalah menaksir biaya yang
akan dikeluarkan. Namun taksiran ini diperlukan dalam melaporkan laba tanpa
memperhatikan bagaimana persentase penyelesaian itu dihitung.
Ukuran masukan (input measures) – biaya yang terjadi, jam kerja –
dibuat sesuai dengan upaya yang dicurahkan dalam suatu kontrak. Ukuran
keluaran (output measures) – jumlah ton yg diproduksi, jumlah lantai
bangunan yang diselesaikan, jumlah mil jalan yang diselesaikan – dibuat
menurut hasilnya.
Ukuran masukan yang populer digunakan untuk mengukur kemajuan adalah dasar
biaya terhadap biaya (cost-to-cost basis).
Rumus untuk persentase penyelesaian cost-to-cost basis :
Biaya yang terjadi sampai tanggal ini
------------------------------------------------ = Persentase
penyelesaian
Estimasi paling akhir total biaya selesai
Persentase penyelesaian x Estimasi total pendapatan = Pendapatan (laba
kotor) yg (atau Laba Kotor ) diakui sampai
tanggal ini
Pendapatan (laba kotor) yg akan Pendapatan (laba kotor) yg
Pendapatan (laba
diakui sampai tgl ini diakui periode sblmnya = kotor
periode
berjalan.
Metode upaya yang diperluas. Metode upaya yang diperluas didasarkan
pada ukuran tertentu dari pekerjaan yang dilaksanakan. Ukuran itu meliputi
jam kerja, upah buruh, jam mesin, atau kuantitas bahan. Dalam hal-hal
tersebut, tingkat penyelesaian diukur dengan cara yang sama dengan yang
digunakan dalam pendekatan biaya ke biaya, rasio dari usaha yang dicurahkan
terhadap taksiran seluruh usaha yang akan dicurahkan untuk menyelesaikan
kontrak. Sebagai contoh, jika ukuran dari pekerjaan yang dilaksanakan
adalah jam kerja, maka rasio dari jam kerja yang sudah dilaksanakan
terhadap taksiran seluruh jam kerja akan memberikan persentase yang akan
digunkan dalam mengukur laba yang dihasilkan.
Ukuran Keluaran
Ukuran keluaran dibuat dengan hasil yang dicapai. Termasuk dalam kategori
ini adalah metode-metode yang didasarkan pada unit yang dihasilkan dan
pertambahan nilai (values added). Sebagai contoh, jika kontrak menghendaki
unit keluaran, seperti panjang jalan yang sudah diselesaikan terhadap
panjang jalan menurut kontrak. Para arsitek atau insinyur kadang-kadang
diminta untuk mengevaluasi berbagai pekerjaan kemudian menaksir berapa
persentase pekerjaan yang selesai. Taksiran ini dalam kenyataannya adalah
ukuran keluaran dan biasanya didasarkan pada kemajuan fisik yang sudah
tercapai atas suatu kontrak.
Akuntansi untuk Jenis Kontrak-kontrak Pembangunan Jangka Panjang
Terdapat perbedaan yang relative kecil dalam akuntansi untuk jenis
kontrak –kontrak jangka panjang menurut metode persentase penyelesaian dan
menurut metode kontrak selesai. Hanya waktu pengakuan pendapatan dan
pengakuan penandingan biaya (matching cost) yang berbeda. Semua biaya
langsung dan biaya tidak langsung yang dapat dialokasikan dibebankan pada
suatu akun persediaan yaitu Konstruksi dalam Pelaksanaan (Construction in
Progress), begitu biaya-biaya ini muncul. Akun persediaan juga meningkat
dengan adanya laba yang diakui selama periode pembangunan.
Biasanya kontrak-kontrak mensyaratkan pengajuan faktur oleh kontraktor
dan pembayaran faktur ini oleh pelanggan. Jumlah faktur ini biasanya
ditentukan oleh syarat-syarat kontrak, dan mungkin dihubungkan dengan biaya-
biaya yang benar-benar telah dikeluarkan.
Pada umumnya, kontrak-kontrak ini mengharuskan adanya pemeriksaan
sebelum penyerahan akhir dilakukan. Sebagai perlindungan bagi pelanggan,
perjanjian kontrak seringkali menetapkan suatu jumlah yang akan ditahan dan
dikeluarkan dari kemajuan pengajuan faktur (progress billings). Penahanan
ini biasanya berbentuk suatu persentase dari kemajuan pengajuan pengajuan
faktur, berkisar antara 10 – 20 %, dan akan dibayar pada penerimaan akhir
barang yang dibangun. Faktur, termasuk jumlah yang ditahan, didebit pada
perkiraan atau akun Piutang Dagang dan dikredit pada akun Kredit yang
Ditangguhkan atau Penagihan Konstruksi dalam Pelaksanaan. Dengan demikian,
pengajuan faktur pada hakikatnya memindahkan nilai harta dari persediaan ke
piutang, tetapi karena kontrak bersifat jangka panjang, biaya-biaya
pembangunan harus tetap tercermin dalam akun-akun.
Contoh :
" " " 2007 " " " " 2009 " "Constru" "
" " " " "2" " " "ction "150,000"
" " " " "0" " " "in " "
" " " " "0" " " "progres" "
" " " " "8" " " "s " "
Income Statement 2007 2008 2009 Revenue on contracts $ 168,750 $ 317,250 $ 189,000 Cost of construction 150,000 287,400 170,100 Gross profit 18,750 29,850 18,900
Balance Sheet (31 Desember) Current assets: Accounts receivable 22,500 120,000 - Cost & profits > billings 33,750 Current liabilities: Billings > cost & profits 9,000
Completed Contract Method ( Metode Kontrak Selesai)
Companies recognize revenue and gross profit only at point of sale—that is, when the contract is completed.
Under this method, companies accumulate costs of long-term contracts in process, but they make no interim charges or credits to income statement accounts for revenues, costs, or gross profit.
2007 2008 2009 Construction in progress 150,000 287,400 170,100 Cash 150,000 287,400 170,100 Accounts receivable 135,000 360,000 180,000 Billings on contract 135,000 360,000 180,000 Cash 112,500 262,500 300,000 Accounts receivable 112,500 262,500 300,000 Construction in progress 67,500 Construction expense 607,500 Construction revenue 675,000 Billings on contract 675,000 Construction in progress 675,000
-----------------------
Deskripsi
AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH II
Tahun Akademik 2007/2008
MODUL 6
(Tatap Muka ke-6)
Oleh :
FITRI INDRIAWATI, SE., M.Si.
Program Perkuliahan Kelas Karyawan
Fakultas Ekonomi-Universitas Mercu Buana
Jakarta
PENGAKUAN PENDAPATAN
(REVENUE RECOGNITION)
Prinsip pengakuan pendapatan (revenue recognition principle)
menetapkan bahwa pendapatan diakui pada saat :
1) direalisasi atau dapat direalisasi dan
2) dihasilkan.
Pendapatan direalisasi apabila barang dan jasa ditukar dengan kas atau
klaim atas kas (piutang). Pendapatan direalisasi apabila aktiva yang
diterima dalam pertukaran segera dapat dikonversi menjadi kas atau klaim
atas kas dengan jumlah yang diketahui. Pendapatan dihasilkan (earned) jika
entitas bersangkutan pada hakikatnya telah menyelesaikan apa yang
seharusnya dilakukan untuk mendapat hak atas manfaat yang dimiliki oleh
pendapatan itu, yakni apabila proses menghasilkan laba telah selesai atau
sebenarnya telah selesai.
Empat transaksi pendapatan telah diakui sesuai dengan prinsip ini :
1. pendapatan dari penjualan produk diakui pada tanggal penjualan (tgl
penyerahan kepada pelanggan).
2. Pendapatan dari pemberian jasa diakui ketika jasa telah diberikan dan
dapat ditagih.
3. Pendapatan dari mengizinkan pihak lain untuk menggunakan aktiva
perusahaan, seperti bunga, sewa, & royalty, diakui sesuai dengan
berlalunya waktu atau ketika aktiva itu digunakan.
4. Pendapatan dari penjualan aktiva selain produk diakui pada tgl
penjualan.
Penyimpangan dari Dasar Penjualan
Alasan umum penyimpangan :
a. untuk mengakui lebih awal (recognize earlier) jika terdapat tingkat
kepastian yg tinggi mengenai jumlah pendapatan yg dihasilkan.
b. Menangguhkan pengakuan, jika tingkat ketidakpastian mengenai jumlah
pendapatan ataupun biaya cukup tinggi, atau jika penjualan bukan
merupakan penyelesaian yg substansial dari proses menghasilkan laba.
PENGAKUAN PENDAPATAN PADA SAAT PENJUALAN (PENYERAHAN).
Pendapatan dari aktivitas pabrikasi serta penjualan umumnya diakui
pada saat penjualan (point of sale), tetapi ada tiga situasi yang dapat
menimbulkan masalah, yaitu :
a. Penjualan dengan Perjanjian Beli Kembali
b. Penjualan dengan Hak Retur
c. Trade Loading dan Channel Stuffing
Penjualan dengan Perjanjian Beli Kembali
Jika terdapat perjanjian beli kembali dengan harga tertentu dan harga
ini dapat menutup semua biaya sediaan ditambah biaya kepemilikan yang
terkait, maka sediaan dan kewajiban yg terkait itu tetap ada pada pembukuan
penjual. Dengan kata lain tidak terjadi penjualan.
Penjualan dengan Hak Retur
Tersedia tiga metode pengakuan pendapatan alternatif apabila penjual
menanggung risiko kepemilikan yang berkepanjangan karena pengembalian
produk, yaitu :
1) tidak mencatat penjualan sampai seluruh hak retur habis masa
berlakunya
2) mencatat penjualan, tetapi mengurangi penjualan dengan estimasi retur
di masa depan.
3) Mencatat penjualan serta memperhitungkan retur saat terjadinya.
FASB menyimpulkan bahwa jika suatu perusahaan menjual produknya tetapi
memberikan pembeli hak unutk mengembalikan produk itu, maka pendapatan dari
penjualan ini akan diakui pada saat penjualan hanya jika semua dari enam
kondisi berikut terpenuhi :
1. Harga penjual kepada pembeli pd hakikatnya tetap (fixed) atau dapat
ditentukan pd tgl penjualan.
2. Pembeli sudah membayar penjual , atau pembeli berkewajiban untuk
membayar penjual, dan kewajiban itu tidak tergantung pd penjualan kembali
produk tersebut.
3. Kewajiban pembeli kpd penjual tidak akan berubah jika terjadi pencurian
atau kerusakan atau rusaknya fisik produk.
4. pembeli yg memperoleh produk untuk dijual kembali memiliki substansi
ekonomi yg terpisah dari yg diberikan oleh penjual.
5. penjual tdk memiliki kewajiban yg signifikan atas kinerja masa depan yg
secara langsung menyebabkan penjualan kembali produk itu oleh pembeli
6. Jumlah retur di masa depan dapat diestimasi secara layak.
Trade Loading dan Channel Stuffing.
Trade Loading adalah praktik yang mencoba menunjukkan penjualan,
laba, dan pangsa pasar yang sebenarnya tidak mereka miliki. Perusahaan
membujuk para pedagang besar yg menjadi pelanggan mereka untuk membeli
lebih banyak produk dari pada yang dapat mereka jual kembali dengan cepat.
Channel Stuffing, praktik yang sama tapi dalam industri perangkat
lunak komputer. Ketika sebuah produsen perangkat lunak ingin mempercantik
hasil-hasil keuangannya. Dua praktik tersebut licik sehingga harus
dilarang.
PENGAKUAN PENDAPATAN SEBELUM PENYERAHAN.
Kontrak jangka panjang seperti kontrak jenis konstruksi, pengembangan
pesawat terbang militer dan komersial, seringkali menetapkan bahwa penjual
(kontraktor) dapat menagih pembeli pada selang waktu tertentu, ketika
berbagai tahap dari proyek itu telah dicapai.
Ada dua metode akuntansi yang sangat berbeda untuk kontrak konstruksi
jangka panjang yang diakui oleh profesi akuntansi :
1. Metode Persentase Penyelesaian (percentage-of-completion method)
2. Metode Kontrak Selesai
Metode persentase penyelesaian harus digunakan jika estimasi kemajuan
ke arah penyelesaian, pendapatan, serta biaya secara layak dapat dipercaya
dan semua syarat berikut terpenuhi :
1. Kontrak itu secara jelas menetapkan hak-hak yang dapat dipaksakan
pemberlakuannya mengenai barang atau jasa yang akan diberikan dan
diterima oleh pihak yang terlibat dalam kontrak, imbalan yang akan
dipertukarkan, serta cara & syarat penyelesaian.
2. Pembeli dapat diharapkan untuk memenuhi semua kewajiban dalam kontrak.
3. Kontraktor dapat diharapkan untuk melaksanakan kewajiban kontraktual.
Metode Kontrak selesai harus digunakan hanya jika :
(1) punya kontrak jangka pendek,
(2) syarat-syarat metode persentase penyelesaian tidak terpenuhi,
(3) terdapat bahaya yg melekat dalam kontrak di luar risiko bisnis
normal.
Mengukur Persentase Penyelesaian.
Ada berbagai metode yang sekarang digunakan untuk mengukur kemajuan suatu
kontrak. Metode-metode ini dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
a. Ukuran masukan (input measures)
b. Ukuran keluaran (output measures)
Ukuran Masukan.
Mengakui pendapatan, biaya, dan laba kotor sesuai dengan tercapainya
kemajuan ke arah penyelesaian kontrak jangka panjang. Untuk menerapkan
metode ini, harus ada beberapa dasar atau standar untuk mengukur kemajuan
ke arah penyelesaian pada tgl interim tertentu.
Metode untuk mengukur tingkat kemajuan penyelesaian :
Metode biaya terhadap biaya (cost-to-cost method)
Metode upaya yg diperluas (efforts expended method)
Metode Biaya ke biaya. Barangkali yang paling terkenal dari ukuran
masukan adalah metode biaya ke biaya. Menurut metode ini, tingkat
penyelesaian ditentukan dengan membandingkan biaya yang sudah dikeluarkan
dengan taksiran terbaru mengenai jumlah total biaya yang diharapkan untuk
menyelesaikan proyek. Untuk menentukan laba tahun berjalan, persentase yang
dihasilkan dari perbandingan antara biaya yang sudah dikeluarkan dengan
jumlah total biaya yang diharapkan dikalikan dengan laba bersih yang
diharapkan dari proyek ini.
Beberapa dari biaya yang dikeluarkan, terutama pada tahap-tahap awal
kontrak, harus dilupakan dalam menerapkan metode ini karena biaya-biaya ini
tidak secara langsung berhubungan dengan usaha yang dicurahkan untuk
kontrak tersebut. Biaya-biaya ini meliputi unsur-unsur seperti biaya
subkontrak untuk pekerjaan yang masih harus dilaksanakan dan standar
pemakaian bahan yang belum dibuat.
Masalah yang paling sulit dalam metode ini adalah menaksir biaya yang
akan dikeluarkan. Namun taksiran ini diperlukan dalam melaporkan laba tanpa
memperhatikan bagaimana persentase penyelesaian itu dihitung.
Ukuran masukan (input measures) – biaya yang terjadi, jam kerja –
dibuat sesuai dengan upaya yang dicurahkan dalam suatu kontrak. Ukuran
keluaran (output measures) – jumlah ton yg diproduksi, jumlah lantai
bangunan yang diselesaikan, jumlah mil jalan yang diselesaikan – dibuat
menurut hasilnya.
Ukuran masukan yang populer digunakan untuk mengukur kemajuan adalah dasar
biaya terhadap biaya (cost-to-cost basis).
Rumus untuk persentase penyelesaian cost-to-cost basis :
Biaya yang terjadi sampai tanggal ini
------------------------------------------------ = Persentase
penyelesaian
Estimasi paling akhir total biaya selesai
Persentase penyelesaian x Estimasi total pendapatan = Pendapatan (laba
kotor) yg (atau Laba Kotor ) diakui sampai
tanggal ini
Pendapatan (laba kotor) yg akan Pendapatan (laba kotor) yg
Pendapatan (laba
diakui sampai tgl ini diakui periode sblmnya = kotor
periode
berjalan.
Metode upaya yang diperluas. Metode upaya yang diperluas didasarkan
pada ukuran tertentu dari pekerjaan yang dilaksanakan. Ukuran itu meliputi
jam kerja, upah buruh, jam mesin, atau kuantitas bahan. Dalam hal-hal
tersebut, tingkat penyelesaian diukur dengan cara yang sama dengan yang
digunakan dalam pendekatan biaya ke biaya, rasio dari usaha yang dicurahkan
terhadap taksiran seluruh usaha yang akan dicurahkan untuk menyelesaikan
kontrak. Sebagai contoh, jika ukuran dari pekerjaan yang dilaksanakan
adalah jam kerja, maka rasio dari jam kerja yang sudah dilaksanakan
terhadap taksiran seluruh jam kerja akan memberikan persentase yang akan
digunkan dalam mengukur laba yang dihasilkan.
Ukuran Keluaran
Ukuran keluaran dibuat dengan hasil yang dicapai. Termasuk dalam kategori
ini adalah metode-metode yang didasarkan pada unit yang dihasilkan dan
pertambahan nilai (values added). Sebagai contoh, jika kontrak menghendaki
unit keluaran, seperti panjang jalan yang sudah diselesaikan terhadap
panjang jalan menurut kontrak. Para arsitek atau insinyur kadang-kadang
diminta untuk mengevaluasi berbagai pekerjaan kemudian menaksir berapa
persentase pekerjaan yang selesai. Taksiran ini dalam kenyataannya adalah
ukuran keluaran dan biasanya didasarkan pada kemajuan fisik yang sudah
tercapai atas suatu kontrak.
Akuntansi untuk Jenis Kontrak-kontrak Pembangunan Jangka Panjang
Terdapat perbedaan yang relative kecil dalam akuntansi untuk jenis
kontrak –kontrak jangka panjang menurut metode persentase penyelesaian dan
menurut metode kontrak selesai. Hanya waktu pengakuan pendapatan dan
pengakuan penandingan biaya (matching cost) yang berbeda. Semua biaya
langsung dan biaya tidak langsung yang dapat dialokasikan dibebankan pada
suatu akun persediaan yaitu Konstruksi dalam Pelaksanaan (Construction in
Progress), begitu biaya-biaya ini muncul. Akun persediaan juga meningkat
dengan adanya laba yang diakui selama periode pembangunan.
Biasanya kontrak-kontrak mensyaratkan pengajuan faktur oleh kontraktor
dan pembayaran faktur ini oleh pelanggan. Jumlah faktur ini biasanya
ditentukan oleh syarat-syarat kontrak, dan mungkin dihubungkan dengan biaya-
biaya yang benar-benar telah dikeluarkan.
Pada umumnya, kontrak-kontrak ini mengharuskan adanya pemeriksaan
sebelum penyerahan akhir dilakukan. Sebagai perlindungan bagi pelanggan,
perjanjian kontrak seringkali menetapkan suatu jumlah yang akan ditahan dan
dikeluarkan dari kemajuan pengajuan faktur (progress billings). Penahanan
ini biasanya berbentuk suatu persentase dari kemajuan pengajuan pengajuan
faktur, berkisar antara 10 – 20 %, dan akan dibayar pada penerimaan akhir
barang yang dibangun. Faktur, termasuk jumlah yang ditahan, didebit pada
perkiraan atau akun Piutang Dagang dan dikredit pada akun Kredit yang
Ditangguhkan atau Penagihan Konstruksi dalam Pelaksanaan. Dengan demikian,
pengajuan faktur pada hakikatnya memindahkan nilai harta dari persediaan ke
piutang, tetapi karena kontrak bersifat jangka panjang, biaya-biaya
pembangunan harus tetap tercermin dalam akun-akun.
Contoh :
" " " 2007 " " " " 2009 " "Constru" "
" " " " "2" " " "ction "150,000"
" " " " "0" " " "in " "
" " " " "0" " " "progres" "
" " " " "8" " " "s " "
Income Statement 2007 2008 2009 Revenue on contracts $ 168,750 $ 317,250 $ 189,000 Cost of construction 150,000 287,400 170,100 Gross profit 18,750 29,850 18,900
Balance Sheet (31 Desember) Current assets: Accounts receivable 22,500 120,000 - Cost & profits > billings 33,750 Current liabilities: Billings > cost & profits 9,000
Completed Contract Method ( Metode Kontrak Selesai)
Companies recognize revenue and gross profit only at point of sale—that is, when the contract is completed.
Under this method, companies accumulate costs of long-term contracts in process, but they make no interim charges or credits to income statement accounts for revenues, costs, or gross profit.
2007 2008 2009 Construction in progress 150,000 287,400 170,100 Cash 150,000 287,400 170,100 Accounts receivable 135,000 360,000 180,000 Billings on contract 135,000 360,000 180,000 Cash 112,500 262,500 300,000 Accounts receivable 112,500 262,500 300,000 Construction in progress 67,500 Construction expense 607,500 Construction revenue 675,000 Billings on contract 675,000 Construction in progress 675,000
-----------------------
Lihat lebih banyak...
Komentar