Aliran-Aliran Feminisme
December 15, 2017 | Author: P. Ganeshvar | Category: N/A
Deskripsi Singkat
Nama : Ni Putu Diah Paramitha G.
NIM : 1201605003
Prodi : Antropologi
ALIRAN-ALIRAN FEMINISME
Feminisme merupakan gerakan memperjuangkan hak-hak perempuan agar perempuan keluar dari ketidakadilan. Feminisme merupakan suatu gerakan politis yang meninjau dari berbagai macam aspek kehidupan. Hingga kini feminisme sangat ramai diperbincangkan, sehingga muncul beraneka macam aliran feminisme. Adapun secara historis aliran-aliran tersebut terbagi ke dalam tiga (3) gelombang.
Gelombang pertama (1792 – 1960)
Feminisme gelombang pertama dianggap dimulai dengan tulisan Mary Wollstonecraft The Vindication of the Rights of Woman (1792) hingga perempuan mencapai hak pilih pada awal abad keduapuluh (Sanders dalam Suastini, 2013). Tulisan Wollstonecraft menyerukan agar terjadinya pengembangan sisi rasional pada perempuan dan menuntut agar anak perempuan dapat belajar di sekolah pemerintah dalam kesetaraan dengan anak laki-laki. Aliran feminisme yang termasuk dalam gelombang pertama ini adalah sebagai berikut.
Feminisme Liberal
Feminisme liberal berpandangan bahwa agar perempuan memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Gerakan ini muncul pada awal abad 18, bersamaan dengan zaman pencerahan (rennaisance). Tuntutannya adalah kebebasan dan kesamaan terhadap akses pendidikan, pembaharuan hukum yang bersifat diskriminatif.
Kaum feminis liberal menuntut kesempatan yang sama bagi setiap individu, termasuk perempuan. Akibatnya banyak perempuan yang melepaskan diri dari ranah domestik menuju ranah publik. Salah satu tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf.
Feminisme Radikal
Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik.
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Penganut aliran ini juga menolak adanya institusi keluarga, baik secara teoritis maupun praktis.
Feminisme Anarkis
Feminisme anarkis lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
Feminisme Marxis
Mengenai aliran ini, jelas menggambarkan bahwasanya perempuan itu dipandang melalui kelas, penindasan terlihat dalam kelas reproduksi politik sosial dalam sistem ekonomi. Aliran ini menggambarkan adanya diskriminasi yang terjadi terhadap perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi kapitalis, di mana perempuan menjadi objek pengerukan modal kaum borjuis.
Feminisme Sosialis
Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis. Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuagan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban perempuan.
Gelombang Kedua (1960 – 1980)
Feminisme gelombang kedua dimulai pada tahun 1960-an yang ditandai dengan terbitnya The Feminine Mystique (Freidan, 1963), diikuti dengan berdirinya National Organization for Woman (NOW, 1966) dan munculnya kelompok-kelompok conscious raising (CR) pada akhir tahun 1960-an (Thompson, 2010). Feminisme gelombang kedua dinilai sebagai feminisme yang paling kompak dalam paham dan pergerakan mereka (Thornham, 2006). Feminisme gelombang kedua bertema besar ―womens liberation- yang dianggap sebagai gerakan kolektif yang revolusionis. Gelombang ini muncul sebagai reaksi ketidakpuasan perempuan atas berbagai diskriminasi yang mereka alami meskipun emansipasi secara hukum dan politis telah dicapai oleh feminisme gelombang pertama.
Feminisme Eksistensial
Dalam tradisi feminisme, setidaknya untuk di Indonesia, eksistensialisme lebih berarti sebagai suatu kajian filosofis. Ia belum banyak dikenal sebagai gerakan baru dari feminisme. Feminisme eksistensialis baru menemukan wajahnya ketika tokoh feminis asal Perancis, Simone Ernestine Lucia Marie Bertnand de Beauvoir, atau yang lebih dikenal Simone de Beauvoir. Untuk pertama kali mengikutsertakan konsep "keberadaan" milik Jean-Paul Sartre, dalam mengkaji feminisme.
Kaum feminis eksistemsial melihat ketertindasan perempuan dari beban reproduksi yang ditanggung perempuan, sehingga tidak mempunyai posisi tawar dengan laki-laki. Feminisme eksistensialis mengajak perempuan untuk menolak segala bentuk opresi—baik itu melalui nilai budaya, kondisi sosial, ekonomi, dan lain-lain—yang dapat mendiskriminasikan perempuan atas hak serta kebebasannya, dan bisa menghilangkan sisi keberadaan/eksistensinya sebagai manusia. Dalam konteks relasi perempuan dan laki-laki di lingkungan masyarakat seperti saat ini, hal yang perlu dilakukan perempuan adalah menghidupi sisi subyektif yang dimilikinya. Ini melihat karena kiranya hampir tidak mungkin seorang perempuan, bahkan juga laki-laki, dalam proses interaksinya menjalin relasi kepada sesama, mampu menghindar dari posisi obyek.
Feminisme Gynosentris
Melihat ketertindasan perempuan dari perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan perempuan lebih inferior dibanding laki-laki. Feminis ini merupakan pengembangan dari feminisme radikal yang ekstrim. Teori ini mengatakan bahwa perempuan harus memformulasikan kekuatan kolektif, menumbuhkembangkan pengetahuan perempuan yang akan membekali mereka untuk melawan control patriarkhial, baik secara fisik maupun kejiwaan.
Gelombang Ketiga (1980 – sekarang)
Berbagai kritik terhadap universalisme dalam feminisme gelombang kedua mendorong terjadinya pendefinisian kembali berbagai konsep dalam feminisme pada akhir tahun 1980an. Feminisme gelombang ketiga ini disebut juga dengan istilah postfeminisme. Akan tetapi, banyak pula tokoh feminis mengklaim bahwa postfemenisme berbeda dengan feminisme gelombang ketiga karena postfeminisme merupakan gerakan yang menolak gagasan-gagasan feminisme tahun 1960-an.
Feminisme Postmoderen
Ide Posmo ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial. Postmoderen menggali persoalan alienasi perempuan seksual, psikologis, dan sastra dengan bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem. Aliran ini memberi gambaran bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan haruslah diterima dan dipelihara. Mereka menganggap bahwa masyarakat telah diatur untuk saling berhubungan diantara keduanya. Lebih jelasnya aliran ini menolak adanya otoritas.
Feminisme Multikultural
Feminis multikultural memusatkan perhatian pada pandangan bahwa di dalam satu negara seperti Amerika, tidak semua perempuan diciptakan atau dikonstruksi secara setara. Tergantung bukan hanya pada ras dan etnis, tetapi juga pada identitas seksual, identitas gender, umur, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan/profesi, status perkawinan dan masih banyak lagi.
Feminisme multikultural di Amerika, yang mengkritik pemikiran mainstream feminis yang tidak memasukkan kepentingan perempuan marginal, disebut juga dengan feminisme 'perempuan berwarna'. Multikultural secara umum didefinisikan sebagai gerakan sosial-intelektual yang mempromosikan nilai keberagaman sebagai prinsip utama dan menekankan semua kelompok kultural harus diperlakukan setara dan terhormat. Gagasan ini berangkat dari kecenderungan imigran awal di Amerika yang meninggalkan identitas awal dan hendak menjadi "Amerika" sebagai identitas baru mereka. Tetapi pemikiran ini ditinggalkan karena mereka kemudian melihat Amerika sebagai sebuah keberagaman, bukan identitas baru yang tunggal. Gagasan multikultural justru "keberagaman" di atas "kesatuan". Masyarakat tidak terdiri atas mayoritas dan minoritas, tetapi pluralitas berbagai macam kelompok yang tidak saling mendominasi. Dalam konteks ini, gerakan feminis kemudian melihat bias perempuan kulit putih, kelas menengah terdidik, heteroseksual dan mengabaikan perempuan imigran, kulit berwarna, lesbian, kurang pendidikan.
Feminisme Global
Feminisme global memperluas gagasan yang dikemukakan oleh feminis multikultural. Feminis global menyatakan penindasan terhadap perempuan juga bisa disebabkan oleh sistem yang tidak adil. Penindasan terhadap perempuan bukan hanya dilakukan oleh laki-laki tetapi juga oleh perempuan dan laki-laki dari tempat lain, terutama dari negara-negara dunia pertama. Para feminis global menyoroti ketimpangan antara negara dunia pertama dengan negara dunia ketiga. Karena itu mereka menyatakan penindasan terhadap perempuan tidak akan bisa dilenyapkan bila masih terjadi penindasan terhadap perempuan di tempat lainnya. Para feminis global dengan demikian memperluas agenda pembebasan perempuan menjadi lintas negara bangsa.
Ekofeminisme
Gerakan feminis yang mengusung kesetaraan dalam menyelamatkan lingkungan disebut ekofeminisme, sebuah gerakan yang berusaha menciptakan dan menjaga kelestarian alam dan lingkungan dengan berbasis feminitas/perempuan. Perempuan dianggap memainkan peran strategis dalam upaya mencegah atau setidaknya menciptakan lingkungan alam yang nyaman dan asri.
Gerakan ekofeminisme pertama kali muncul dari seorang tokoh feminis yang bernama Francoise d'Eaubonne pada tahun 1974 melalui sebuah bukunya "Le Feminisme ou Lamort". Melalui buku itu, Francoise mencoba menggugah, mensugesti dan mengetuk hati nurani kalangan feminis untuk lebih memperhatikan alamnya yang semakin lama menunjukkan krisis berkepanjangan, tidak menemukan atau mendapatkan jalan metode penyelesaian terbaik. Padahal fenomena ini adalah tangan panjang dari ulah jail kaum maskulin yang hegemonis dan eksploitatif.
Refrensi
Suwastini, Ni Komang Arie. 2013. Perkembangan Feminisme Barat dari Abad Kedelapan Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoretis. Universitas Pendidikan Ganesha. Publikasi online.
http://al-hadjar45.blogspot.com/2013/10/pengertian-dan-macam-macam-aliran.html
http://atullaina.blogspot.com/2012/04/aliran-aliran-dalam-feminisme.html
http://catatandhila.wordpress.com/2010/12/19/teorifeminisme/
http://dks-news.blogspot.com/2011/01/perempuan-dalam-jejak-jejak.html
http://green.kompasiana.com/penghijauan/2013/03/02/ekofeminisme-dan-krisis-lingkungan--539406.html
http://novi-kamalia-fisip13.web.unair.ac.id/artikel_detail-82998-Serius-Feminisme%20Multikultural,%20Global%20dan%20Postkolonial.html
http://rochmanonline.blogspot.com/2008/12/aliran-aliran-feminisme-yang-dimaksud.html
http://wulanayoe.blogspot.com/2012/03/macam-macam-aliran-feminisme.html
http://yumasumi1908.blogspot.com/2013/07/state-of-arts-teori-feminisme.html
Deskripsi
Nama : Ni Putu Diah Paramitha G.
NIM : 1201605003
Prodi : Antropologi
ALIRAN-ALIRAN FEMINISME
Feminisme merupakan gerakan memperjuangkan hak-hak perempuan agar perempuan keluar dari ketidakadilan. Feminisme merupakan suatu gerakan politis yang meninjau dari berbagai macam aspek kehidupan. Hingga kini feminisme sangat ramai diperbincangkan, sehingga muncul beraneka macam aliran feminisme. Adapun secara historis aliran-aliran tersebut terbagi ke dalam tiga (3) gelombang.
Gelombang pertama (1792 – 1960)
Feminisme gelombang pertama dianggap dimulai dengan tulisan Mary Wollstonecraft The Vindication of the Rights of Woman (1792) hingga perempuan mencapai hak pilih pada awal abad keduapuluh (Sanders dalam Suastini, 2013). Tulisan Wollstonecraft menyerukan agar terjadinya pengembangan sisi rasional pada perempuan dan menuntut agar anak perempuan dapat belajar di sekolah pemerintah dalam kesetaraan dengan anak laki-laki. Aliran feminisme yang termasuk dalam gelombang pertama ini adalah sebagai berikut.
Feminisme Liberal
Feminisme liberal berpandangan bahwa agar perempuan memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Gerakan ini muncul pada awal abad 18, bersamaan dengan zaman pencerahan (rennaisance). Tuntutannya adalah kebebasan dan kesamaan terhadap akses pendidikan, pembaharuan hukum yang bersifat diskriminatif.
Kaum feminis liberal menuntut kesempatan yang sama bagi setiap individu, termasuk perempuan. Akibatnya banyak perempuan yang melepaskan diri dari ranah domestik menuju ranah publik. Salah satu tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf.
Feminisme Radikal
Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik.
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Penganut aliran ini juga menolak adanya institusi keluarga, baik secara teoritis maupun praktis.
Feminisme Anarkis
Feminisme anarkis lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.
Feminisme Marxis
Mengenai aliran ini, jelas menggambarkan bahwasanya perempuan itu dipandang melalui kelas, penindasan terlihat dalam kelas reproduksi politik sosial dalam sistem ekonomi. Aliran ini menggambarkan adanya diskriminasi yang terjadi terhadap perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi kapitalis, di mana perempuan menjadi objek pengerukan modal kaum borjuis.
Feminisme Sosialis
Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis. Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuagan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban perempuan.
Gelombang Kedua (1960 – 1980)
Feminisme gelombang kedua dimulai pada tahun 1960-an yang ditandai dengan terbitnya The Feminine Mystique (Freidan, 1963), diikuti dengan berdirinya National Organization for Woman (NOW, 1966) dan munculnya kelompok-kelompok conscious raising (CR) pada akhir tahun 1960-an (Thompson, 2010). Feminisme gelombang kedua dinilai sebagai feminisme yang paling kompak dalam paham dan pergerakan mereka (Thornham, 2006). Feminisme gelombang kedua bertema besar ―womens liberation- yang dianggap sebagai gerakan kolektif yang revolusionis. Gelombang ini muncul sebagai reaksi ketidakpuasan perempuan atas berbagai diskriminasi yang mereka alami meskipun emansipasi secara hukum dan politis telah dicapai oleh feminisme gelombang pertama.
Feminisme Eksistensial
Dalam tradisi feminisme, setidaknya untuk di Indonesia, eksistensialisme lebih berarti sebagai suatu kajian filosofis. Ia belum banyak dikenal sebagai gerakan baru dari feminisme. Feminisme eksistensialis baru menemukan wajahnya ketika tokoh feminis asal Perancis, Simone Ernestine Lucia Marie Bertnand de Beauvoir, atau yang lebih dikenal Simone de Beauvoir. Untuk pertama kali mengikutsertakan konsep "keberadaan" milik Jean-Paul Sartre, dalam mengkaji feminisme.
Kaum feminis eksistemsial melihat ketertindasan perempuan dari beban reproduksi yang ditanggung perempuan, sehingga tidak mempunyai posisi tawar dengan laki-laki. Feminisme eksistensialis mengajak perempuan untuk menolak segala bentuk opresi—baik itu melalui nilai budaya, kondisi sosial, ekonomi, dan lain-lain—yang dapat mendiskriminasikan perempuan atas hak serta kebebasannya, dan bisa menghilangkan sisi keberadaan/eksistensinya sebagai manusia. Dalam konteks relasi perempuan dan laki-laki di lingkungan masyarakat seperti saat ini, hal yang perlu dilakukan perempuan adalah menghidupi sisi subyektif yang dimilikinya. Ini melihat karena kiranya hampir tidak mungkin seorang perempuan, bahkan juga laki-laki, dalam proses interaksinya menjalin relasi kepada sesama, mampu menghindar dari posisi obyek.
Feminisme Gynosentris
Melihat ketertindasan perempuan dari perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan perempuan lebih inferior dibanding laki-laki. Feminis ini merupakan pengembangan dari feminisme radikal yang ekstrim. Teori ini mengatakan bahwa perempuan harus memformulasikan kekuatan kolektif, menumbuhkembangkan pengetahuan perempuan yang akan membekali mereka untuk melawan control patriarkhial, baik secara fisik maupun kejiwaan.
Gelombang Ketiga (1980 – sekarang)
Berbagai kritik terhadap universalisme dalam feminisme gelombang kedua mendorong terjadinya pendefinisian kembali berbagai konsep dalam feminisme pada akhir tahun 1980an. Feminisme gelombang ketiga ini disebut juga dengan istilah postfeminisme. Akan tetapi, banyak pula tokoh feminis mengklaim bahwa postfemenisme berbeda dengan feminisme gelombang ketiga karena postfeminisme merupakan gerakan yang menolak gagasan-gagasan feminisme tahun 1960-an.
Feminisme Postmoderen
Ide Posmo ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial. Postmoderen menggali persoalan alienasi perempuan seksual, psikologis, dan sastra dengan bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem. Aliran ini memberi gambaran bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan haruslah diterima dan dipelihara. Mereka menganggap bahwa masyarakat telah diatur untuk saling berhubungan diantara keduanya. Lebih jelasnya aliran ini menolak adanya otoritas.
Feminisme Multikultural
Feminis multikultural memusatkan perhatian pada pandangan bahwa di dalam satu negara seperti Amerika, tidak semua perempuan diciptakan atau dikonstruksi secara setara. Tergantung bukan hanya pada ras dan etnis, tetapi juga pada identitas seksual, identitas gender, umur, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan/profesi, status perkawinan dan masih banyak lagi.
Feminisme multikultural di Amerika, yang mengkritik pemikiran mainstream feminis yang tidak memasukkan kepentingan perempuan marginal, disebut juga dengan feminisme 'perempuan berwarna'. Multikultural secara umum didefinisikan sebagai gerakan sosial-intelektual yang mempromosikan nilai keberagaman sebagai prinsip utama dan menekankan semua kelompok kultural harus diperlakukan setara dan terhormat. Gagasan ini berangkat dari kecenderungan imigran awal di Amerika yang meninggalkan identitas awal dan hendak menjadi "Amerika" sebagai identitas baru mereka. Tetapi pemikiran ini ditinggalkan karena mereka kemudian melihat Amerika sebagai sebuah keberagaman, bukan identitas baru yang tunggal. Gagasan multikultural justru "keberagaman" di atas "kesatuan". Masyarakat tidak terdiri atas mayoritas dan minoritas, tetapi pluralitas berbagai macam kelompok yang tidak saling mendominasi. Dalam konteks ini, gerakan feminis kemudian melihat bias perempuan kulit putih, kelas menengah terdidik, heteroseksual dan mengabaikan perempuan imigran, kulit berwarna, lesbian, kurang pendidikan.
Feminisme Global
Feminisme global memperluas gagasan yang dikemukakan oleh feminis multikultural. Feminis global menyatakan penindasan terhadap perempuan juga bisa disebabkan oleh sistem yang tidak adil. Penindasan terhadap perempuan bukan hanya dilakukan oleh laki-laki tetapi juga oleh perempuan dan laki-laki dari tempat lain, terutama dari negara-negara dunia pertama. Para feminis global menyoroti ketimpangan antara negara dunia pertama dengan negara dunia ketiga. Karena itu mereka menyatakan penindasan terhadap perempuan tidak akan bisa dilenyapkan bila masih terjadi penindasan terhadap perempuan di tempat lainnya. Para feminis global dengan demikian memperluas agenda pembebasan perempuan menjadi lintas negara bangsa.
Ekofeminisme
Gerakan feminis yang mengusung kesetaraan dalam menyelamatkan lingkungan disebut ekofeminisme, sebuah gerakan yang berusaha menciptakan dan menjaga kelestarian alam dan lingkungan dengan berbasis feminitas/perempuan. Perempuan dianggap memainkan peran strategis dalam upaya mencegah atau setidaknya menciptakan lingkungan alam yang nyaman dan asri.
Gerakan ekofeminisme pertama kali muncul dari seorang tokoh feminis yang bernama Francoise d'Eaubonne pada tahun 1974 melalui sebuah bukunya "Le Feminisme ou Lamort". Melalui buku itu, Francoise mencoba menggugah, mensugesti dan mengetuk hati nurani kalangan feminis untuk lebih memperhatikan alamnya yang semakin lama menunjukkan krisis berkepanjangan, tidak menemukan atau mendapatkan jalan metode penyelesaian terbaik. Padahal fenomena ini adalah tangan panjang dari ulah jail kaum maskulin yang hegemonis dan eksploitatif.
Refrensi
Suwastini, Ni Komang Arie. 2013. Perkembangan Feminisme Barat dari Abad Kedelapan Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoretis. Universitas Pendidikan Ganesha. Publikasi online.
http://al-hadjar45.blogspot.com/2013/10/pengertian-dan-macam-macam-aliran.html
http://atullaina.blogspot.com/2012/04/aliran-aliran-dalam-feminisme.html
http://catatandhila.wordpress.com/2010/12/19/teorifeminisme/
http://dks-news.blogspot.com/2011/01/perempuan-dalam-jejak-jejak.html
http://green.kompasiana.com/penghijauan/2013/03/02/ekofeminisme-dan-krisis-lingkungan--539406.html
http://novi-kamalia-fisip13.web.unair.ac.id/artikel_detail-82998-Serius-Feminisme%20Multikultural,%20Global%20dan%20Postkolonial.html
http://rochmanonline.blogspot.com/2008/12/aliran-aliran-feminisme-yang-dimaksud.html
http://wulanayoe.blogspot.com/2012/03/macam-macam-aliran-feminisme.html
http://yumasumi1908.blogspot.com/2013/07/state-of-arts-teori-feminisme.html
Lihat lebih banyak...
Komentar