BAB I PENDAHULUAN

January 18, 2018 | Author: Panitia Wisuda | Category: Tesis
Share Embed


Deskripsi Singkat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan tujuan pendidikan (output),

sangat ditentukan oleh

implementasinya (proses), dan implementasinya sangat dipengaruhi oleh tingkat kesiapan segala hal (input) yang diperlukan untuk berlangsungnya implementasi. Keyakinan ini berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan diciptakan oleh-Nya serba sistem (utuh dan benar) dengan catatan utuh dan benar menurut hukum-hukum ketetapan-Nya (Slamet, 2005: 1). Jika demikian halnya, tidak boleh berpikir dan bertindak secara parsial apalagi parosial dalam melaksanakan pendidikan dan pembelajaran. Sebaliknya, perlu berpikir dan bertindak secara holistik, integratif, terpadu dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Sekolah sebagai sistem tersusun dari komponen konteks, input, proses, output, dan outcome. Konteks berpengaruh pada input, input berpengaruh pada proses, proses berpengaruh pada output, serta output berpengaruh pada outcome. Dalam sebuah sistem, terbentuk sub-sub sistem yang secara sinergis saling mendukung dalam pencapaian tujuan penyelenggaraan program dalam hal ini adalah program pendidikan sejarah. Proses belajar mengajar merupakan proses yang terpenting karena dari sinilah terjadi interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik. Di sini pula campur tangan langsung antara pendidik dan peserta didik berlangsung sehingga dapat dipastikan bahwa hasil pendidikan sangat tergantung dari perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Dengan demikian dapat diyakini bahwa perubahan hanya akan terjadi jika terjadi perubahan perilaku pendidik dan peserta didik. Dengan demikian posisi pengajar dan peserta didik memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran (Surakhmad, 2000: 31). Proses belajar mengajar merupakan serangkaian aktivitas yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Ketiga hal tersebut merupakan rangkaian utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Persiapan

1

belajar mengajar merupakan penyiapan satuap acara pelajaran (SAP) yang meliputi antara lain standar kompetensi dan kompetensi dasar, alat evaluasi, bahan ajar, metode pembelajaran, media/alat peraga pendidikan, fasilitas, waktu, tempat, dana, harapan-harapan, dan perangkat informasi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar. Kesiapan siswa, baik fisik maupun mental, juga merupakan hal penting. Jadi esensi persiapan proses belajar mengajar adalah kesiapan segala hal yang diperlukan untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. Pelaksanaan proses belajar mengajar, merupakan kejadian atau peristiwa interaksi antara pendidik dan peserta didik yang diharapkan menghasilkan perubahan pada peserta didik, dari belum mampu menjadi mampu, dari belum terdidik menjadi terdidik, dari belum kompeten menjadi kompeten. Inti dari proses belajar mengajar adalah efektivitasnya. Tingkat efektivitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Perilaku pendidik yang efektif, antara lain mengajarnya jelas, menggunakan variasi metode pembelajaran, menggunakan variasi media/alat peraga pendidikan, antusiasme, memberdayakan peserta didik, menggunakan pembelajaran kontekstual (contextual-teaching and learning), menggunakan jenis pertanyaan yang membangkitkan, dan lain sebagainya. Sedang perilaku peserta didik, antara lain motivasi atau semangat belajar, keseriusan, perhatian, karajinan, kedisiplinan, keingintahuan, pencatatan, pertanyaan, senang melakukan latihan soal, dan sikap belajar yang positif. Pembelajaran semacam ini akan berjalan efektif melalui pendekatan konstruktivistik. Untuk mewujudkan tingkat efektivitas yang tinggi dari perilaku pendidik dan peserta didik, perlu dipilih strategi proses pembelajaran kontekstual yang efektif dan bermakna dengan mendekatkan pada realitas dan pengalaman. Jenis realita bisa asli atau tiruan, dan jenis pengalaman bisa kongkret atau abstrak. Pendekatan proses belajar mengajar akan menekankan pada student centered, reflective learning, active learning, enjoyble dan joyful learning, cooperative learning, quantum learning, learning revolution, dan

2

contectual learning. Tujuan pembelajaran sejarahadalah untuk menumbuhkan nasionalisme dan integrasi nasional, maka pendekatan yang cocok adalah pendekatan multiperspektif dan multikultural (Wiriaatmadja, 2004: 62). Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil pembelajaran. Dengan demikian fokus evaluasi pembelajaran adalah pada hasil, baik hasil yang berupa proses maupun produk. Informasi hasil pembelajaran ini kemudian dibandingkan dengan hasil pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika hasil nyata pembelajaran sesuai dengan hasil yang ditetapkan, maka pembelajaran dapat dikatakan efektif. Sebaliknya, jika hasil nyata pembelajaran tidak sesuai dengan hasil pembelajaran yang ditetapkan, maka pembelajaran dikatakan kurang efektif. Pendidik menggunakan berbagai alat evaluasi sesuai karakteristik kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Dalam rangka pengembangan pembelajaran sejarah agar lebih fungsional dan terintegrasi dengan berbagai bidang keilmuan lainnya, maka terdapat berbagai bidang yang seyogianya mendapat perhatian, yaitu: pertama, untuk menjawab tantangan masa depan, kreativitas dan daya inovatif diperlukan agar suatu bangsa bukan hanya sekedar manjadi konsumen IPTEK, konsumen budaya, maupun penerima nilai-nilai dari luar secara pasif, melainkan memiliki keunggulan kompetitif dalam hal penguasaan IPTEK. Oleh karenanya, sikap, motivasi, dan kreativitas perlu dikembangkan melalui penciptaan situasi proses belajar mengajar yang dinamis di mana pengajar mendorong vitalitas dan kreativitas peserta didik untuk mengembangkan diri. Kedua, peserta didik akan dapat mengembangkan daya kreativitasnya apabila proses belajar mengajar dilaksanakan secara terprogram, sistemis dan sistematis, serta ditopang oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Ketiga, dalam proses pengembangan kematangan intelektualnya, peserta didik perlu dipacu kemampuan berfikirnya secara logis dan sistematis. Dalam proses belajar mengajar, pengajar harus memberi arahan yang jelas agar peserta didik dapat memecahkan suatu persoalan secara logis dan ilmiah. Keempat, peserta didik harus diberi internalisasi dan keteladanan, dimana

3

mereka dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Fenomena ini dalam hal-hal tertentu dapat membentuk semangat loyalitas, toleransi, dan kemampuan adaptabilitas yang tinggi. Dalam pendekatan ini perlu diselaraskan dengan kegiatan proses belajar mengajar yang memberi peluang kepada mereka untuk berprakarsa secara dinamis dan kreatif. Oleh karena itu, diperlukan kinerja guru yang mendukung pencapaian kualitas tersebut. Untuk

memperoleh

gambaran

yang

jelas

tentang

dinamika

pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah yang tergolong sekolah berkualitas selama ini, maka penelitian ini akan dilaksanakan di SMA 5 Yogyakarta, dengan asumsi bahwa SMA tersebut dapat menggeneralisasi sekolah-sekolah berkualitas lainnya. Adapun fokus penelitian ini adalah menyangkut faktorfaktor yang mendukung kualitas pembelajaran sejarah di SMA.

B. Rumusan Masalah a. Bagaimana dinamika pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta selama ini ? b. Faktor-faktor apa yang menjadi pendukung kualitas pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta ?

C. Tujuan Penelitian a. Mengetahui dinamika pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta selama ini? b. Mengetahui faktor-faktor pendukung kualitas pembelajaran di SMA 5 Yogyakarta ?

D. Manfaat Penelitian a. Memberi masukan yang berguna bagi dinas pendidikan maupun kepala sekolah

untuk

memerhatikan

faktor-faktor

pendukung

kualitas

pembelajaran. b. Memberi masukan yang penting bagi guru untuk terobsesi dalam peningkatan kinerja dalam pembelajaran.

4

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kualitas Pembelajaran Sejarah Pembelajaran sejarah sebagai sub-sistem dari sistem kegiatan pendidikan, merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan integritas dan kepribadian bangsa melalui proses belajar mengajar. Keberhasilan ini akan ditopang oleh berbagai komponen, termasuk kemampuan dalam menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Sistem kegiatan pendidikan dan pembelajaran adalah sistem kemasyarakatan yang kompleks, diletakkan sebagai suatu usaha bersama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dalam rangka untuk membangun dan mengembangkan diri (Bela H. Banathy, 1992 : 175). Dalam konteks yang lebih sederhana, pembelajaran sejarah sebagai sub sistem dari sistem kegiatan pendidikan, merupakan usaha pembandingan dalam kegiatan belajar, yang menunjuk pada pengaturan dan pengorganisasian lingkungan belajar mengajar sehingga mendorong serta menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar dan mengembangkan diri. Di dalam pembelajaran sejarah, masih banyak kiranya hal yang perlu dibenahi, misalnya tentang porsi pembelajaran sejarah yang berasal dari ranah kognitif dan afektif. Kedua ranah tersebut harus selalu ada dalam pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah yang mengutamakan fakta keras, kiranya perlu mendapat perhatian yang signifikan karena pembelajaran sejarah yang demikian hanya akan menimbulkan rasa bosan di kalangan peserta didik atau siswa dan pada gilirannya akan menimbulkan keengganan untuk mempelajari sejarah (Soedjatmoko, 1976 : 15). Keberhasilan program pembelajaran sangat

ditentukan oleh tinggi

rendahnya kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, aktivitas dan kreativitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar akan berkualitas apabila didukung oleh guru yang professional memiliki kompetensi professional, pedagogik, kepribadian, dan sosial (UU Guru dan Dosen Pasal 10). Di samping itu, kualitas pembelajaran juga dapat maksimal

5

jika didukung oleh siswa yang berkualitas (cerdas, memiliki motivasi belajar yang tinggi dan

sikap positif dalam belajar), dan didukung sarana dan

prasarana pembelajaran yang memadai. Guru yang profesional akan memungkinkan memiliki kinerja yang baik, begitu pula dengan siswa yang berkualitas memungkinan siswa memiliki perilaku yang positif dalam kegiatan belajar mengajar. Interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa yang positif akan mewujudkan budaya kelas yang positif dan impresif atau iklim kelas (classroom climate) yang mendukung untuk proses belajar siswa. Dengan demikian, seluruh pendukung kegiatan belajar mengajar harus tersedia sebagaimana dikatakan Cox (2006: 8) bahwa: ”the quality of an instructional program is comparised of three elements, materials (and equipment), activities, and people”. Secara garis besar, terdapat dua variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, yakni ketersediaan dan dukungan input dan serta kualitas proses pembelajaran. Input terdiri dari siswa, guru, dan sarana serta prasarana

pembelajaran.

Kualitas

pembelajaran

adalah

ukuran

yang

menunjukkan seberapa tinggi kualitas interaksi guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. Kegiatan belajar mengajar tersebut dilaksanakan dalam suasana tertentu dengan dukungan sarana dan prasarana pembelajaran tertentu tertentu pula. Oleh karena itu, keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung pada: guru, siswa, sarana pembelajaran, lingkungan kelas, dan budaya kelas. Semua indikator tersebut harus saling mendukung dalam sebuah sistem kegiatan pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui tingkat kualitas pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu diketahui dan dirumuskan indikator-indikator kualitas pembelajaran. Morrison, Mokashi & Cotter (2006: 4-21) dalam risetnya telah merumuskan 44 indikator kualitas pembelajaran yang reduksi kedalam 10 indikator. Kesepuluh indikator kualitas pembelajaran tersebut meliputi: 1) Rich and stimulating physical environment; 2) Classroom climate condusive to learning; 3) Clear and high expectation for all student; 4) Coherent,

6

focused instruction; 5) Thoughtful discourse; 6) Authentic learning; 7) Regular diagnostic assessment for learning; 8) Reading and writing as essential activities; 9) Mathematical reasoning; 10) Effective use of technology. Kualitas pembelajaran berdasarkan pendapat di atas dikatakan baik apabila: 1) lingkungan fisik mampu menumbuhkan semangat siswa untuk belajar; 2) iklim kelas kondusif untuk belajar; 3) guru menyampaikan pelajaran dengan jelas dan semua siswa mempunyai keinginan untuk berhasil; 4) guru menyampaikan pelajaran secara sistematis dan terfokus; 5) guru menyajikan materi dengan bijaksana; 6) pembelajaran bersifat riil (autentik dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan siswa); 7) ada penilaian diagnostik yang dilakukan secara periodik ; 8) membaca dan menulis sebagai kegiatan yang esensial dalam pembelajaran; 9) menggunakan pertimbangan yang rasional dalam memecahkan masalah; 10) menggunakan teknologi pembelajaran, baik untuk mengajar maupun kegiatan belajar siswa. Berdasarkan indicator-indikator di atas, maka indikator kualitas pembelajaran untuk kualitas pembelajaran sejarah direduksi menjadi 5 indikator, yang dianggap memiliki peranan cukup besar dalam menentukan kualitas pembelajaran. Kelima indikator tersebut adalah: kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, sarana pembelajaran sejarah, budaya atau iklim kelas, sikap siswa terhadap pelajaran sejarah, dan motivasi belajar siswa.

B. Sikap dan Motivasi Siswa Menurut Edward (dalam Eko Pramono, 1993: 61), sikap dinyatakan sebagai derajat afeksi baik positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek psikologis. Adapun yang dimaksud dengan objek psikologis adalah sembarang simbol, ungkapan, pribadi (person), slogan, lembaga (institusi), cita-cita atau ide, norma-norma, nilai-nilai dimana terhadapnya setiap orang dapat berbeda tingkat afeksinya, baik positif maupun negatif. Sementara Zimbardo (dalam Pramono, 1993: 62), menjelaskan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau predisposisi implisit yang berpengaruh secara umum dan

7

konsisten atas respon-respon evaluatif serta meliputi komponen-komponen kognitif, afektif, dan perilaku. Sementara Johnson & Johnson (2002: 168) memahami sikap sebagai: “an attitude is a positive or negative reaction to a person, object, or idea” (Sikap adalah reaksi positif atau negatif terhadap seseorang, objek atau ide). Sedangkan Thurstone (dalam Saifuddin Azwar. 2005: 5) merumuskan sikap sebagai tingkat afeksi positif atau negatif terhadap objek psikologis. Dalam konsepsi ini, seseorang yang memiliki afeksi positif terhadap sesuatu objek dapat dikatakan menyenangi objek tersebut. Begitu pula halnya dengan seseorang yang memiliki afeksi negatif terhadap suatu objek dapat dikatakan tidak menyenangi objek itu. Sedangkan Muhajir (1992: 75) mengatakan bahwa sikap merupakan kecenderungan afeksi suka tidak suka pada suatu objek sosial. Jika sikap terbentuk dari hasil proses belajar mengajar, maka sikap tersebut memiliki komponen yang meliputi kognitif, apektif, dan konatif. Ketiga domain ini memiliki hubungan yang erat, terlebih lagi dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat mengetahui kognisi dan perasaan seseorang terhadap suatu objek tertentu. Komponen aspek kognitif merupakan representasi dari apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap. Sikap merupakan komponen internal yang berperan sekali dalam mengambil tindakan, lebih-lebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak (W.S. Winkel, 1996: 104). Keberhasilan belajar siswa dalam proses pembelajaran, sangat dipengaruhi oleh motivasi yang ada pada dirinya. Indikator kualitas pembelajaran salah satunya adalah adanya motivasi belajar yang tinggi dari para siswa. J.E. Ormrod (2003: 368-369) menguraikan bahwa: Motivation has several effect on students’ learning and behavior:It directs behavior toward particular goal.It leads to increased effort and energy.It increases initiation of, and persistence in activities.It enhances cognitive processing. It lead to improved performance.( Motivasi memiliki beberapa efek terhadap belajar siswa: motivasi mempengaruhi secara langsung terhadap perilaku yang

8

diarahkan pada tujuan tertentu. Motivasi mendorong meningkatnya semangat dan usaha. Motivasi meningkatkan ketekunan dalam kegiatan. Motivasi mempertinggi proses berpikir. Motivasi mendorong perbaikan kinerja). Motivasi belajar merupakan factor psikis yang bersifat nonintelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Seorang yang memiliki intelegensia cukup tinggi boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Mengenai hal ini, tidak saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu memberikan semangat dan kegiatan siswa untuk belajar. Dengan demikian tugas guru adalah bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi (Sardiman AM, 2007: 75-76). Dengan demikian motivasi dapat disimpulkan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha meniadakan atau mengelakan perasaan tidak suka itu. Motivasi belajar memegang peranan yang penting dalam memberi gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan kegiatan belajar yang pada akhirnya akan mampu memperoleh prestasi yang lebih baik. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh factor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Persoalan motivasi dapat juga dikaitkan dengan persoalan minat. Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat cirri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginankeinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Motif sebagai suatu

9

dorongan yang menggerakan, mengarahkan dan menentukan atau memilih perilaku. Pengertian

tersebut memandang motif dan motivasi dalam

pengertian yang sama, karena definisinya mengandung pengertian sebagai konsep, sebagai pendorong serta menggambarkan tujuan dan perilaku. Manullang (1991: 34) menyatakan bahwa motif adalah suatu faktor internal yang menggugah, mengarahkan dan mengintegrasikan tingkah laku seseorang yang didorong oleh kebutuhan, kemauan dan keinginan yang menyebabkan timbulnya suatu perasaan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, apa yang dilihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu memiliki hubungan dengan kepentingannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang karena merasa ada kepentingan. Menurut Bernard (dalam Sardiman AM, 2007: 76) dikatakan bahwa minat timbul tidak secara tiba-tiba atau spontan, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja. Jadi jelas bahwa soal minat akan selalu berkait dengan soal kebutuhan atau keinginan. Oleh karena itu yang penting bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar. McClelland (Widoyoko, 2007: 62) merumuskan secara operasional ciri-ciri perilaku individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan individu dengan motivasi berprestasi rendah. Mereka yang memiliki motivasi tinggi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, yakni: 1) memperlihatkan berbagai tanda aktivitas fisiologis yang tinggi, 2) menunjukkan kewaspadaan yang tinggi, 3) berorientasi pada keberhasilan dan sensitif terhadap tanda-tanda yang berkaitan dengan peningkatan prestasi kerja, 4) memiliki tanggung jawab secara pribadi atas kinerjanya, 5) menyukai umpan balik berupa penghargaan dan bukan insentif untuk peningkatan kinerjanya, 6) inovatif mencari hal-hal yang baru dan efisien untuk peningkatan kinerjanya.

10

C. Sarana Pembelajaran Di samping faktor kemampuan pengajar, pengembangan strategi belajar mengajar, sangat berkaitan erat dengan tersedianya fasilitas dan kelengkapan kegiatan belajar mengajar, baik yang bersifat statis (seperti gambar, model, dan lain sebagainya) ataupun yang bersifat dinamis (seperti kehidupan yang nyata di sekitar peserta didik) (Widja, 1989: 37). Ini berarti, dalam

pengembangan

strategi

pembelajaran

sejarah,

harus

sudah

diperhitungkan pula fasilitas atau sarana yang ada (perlu diadakan), sebab tanpa

memperhitungkan

itu

semua,

suatu

strategi

yang

betapapun

direncanakan dengan baik akan tidak efektif pula hasilnya. Juga dengan sendirinya diperhitungkan alokasi-alokasi waktu yang tersedia. Oleh karena itu, pengembangan suatu strategi pembelajaran sejarah berkaitan erat dengan usaha membuat perencanan pembelajaran (course planing), di mana segala unsur-unsur

yang

menunjang

strategi

tersebut

diperhitungkan

dan

dipersiapkan sehingga sasaran yang hendak dicapai melalui suatu strategi, dapat terwujud dengan sebaik-baiknya. Proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik dan berkualitas

apabila didukung sarana pembelajaran yang memadai. Sarana

pembelajaran dapat berupa tempat atau ruang kegiatan pembelajaran beserta kelengkapannya, yang diorientasikan untuk memudahkan terjadinya kegiatan pembelajaran. Terdapat dua sarana pembelajaran yang harus tersedia, yakni perabot kelas atau alat pembelajaran dan media pembelajaran. Menurut Cruickshank (1990: 11), sarana pembelajaran yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran terdiri atas ukuran kelas, luas ruang kelas, suhu udara, cahaya, suara, dan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat klasifikasi menjadi 4 macam, yakni: a) media pandang diproyeksikan, seperti: OHP, slide, projector dan filmstrip; b) media pandang yang tidak diproyeksikan, seperti gambar diam, grafis, model, benda asli; c) media dengar, seperti piringan hitam, pita kaset dan radio; d) media pandang dengar, seperti televisi dan film (Ibrahim Bafadal, 2003: 13-14). Kelengkapan dan optimalisasi

11

pemanfaatan media pembelajaran penting peranannya dalam mencapai efektivitas program pembelajaran. Media pembelajaran memiliki fungsi utama sebagai alat bantu mengajar, berpengaruh terhadap terciptanya suasana, kondisi, budaya, dan lingkungan belajar yang dikelola oleh guru. Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar siswa. (Azhar Arsyad, 1997: 15).

Nana Sudjana (2005: 2-3 ) menyampaikan bahwa

optimalisasi pemanfaatan media pembelajaran dapat mempertinggi kualitas proses dan hasil belajar siswa. Hal ini terjadi karena: a) penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; b) bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa; c) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan; d) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, karena tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain. Dengan demikian, optimalisasi penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

D. Iklim Kelas dan Kinerja Guru Iklim

kelas

merupakan

salah

satu

indikator penting

yang

berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran, di samping faktor-faktor pendukung lainnya. Dikatakan Hyman dalam (Hadiyanto & Subiyanto 2003: 8) dijelaskan bahwa iklim pembelajaran yang kondusif antara lain dapat mendukung: (1) interaksi yang bermanfaat di antara peserta didik, (2) memperjelas

pengalaman-pengalaman

guru

dan

peserta

didik,

(3)

menumbuhkan semangat yang memungkinkan kegiatan-kegiatan di kelas berlangsung dengan baik, dan (4) mendukung saling pengertian antara guru dan peserta didik. Dijelaskan lebih lanjut oleh Moos dalam ( Hadiyanto & Subiyanto 2003: 8) bahwa iklim sosial dapat berpengaruh terhadap kepuasan

12

peserta didik dalam belajar, dan dapat menumbuhkembangan pribadi. Berdasarkan pendapat tersebut jelas bahwa iklim kelas sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran, dan pada gilirannya berarti berpengaruh juga terhadap hasil pembelajaran. Kemudian Edmonds dalam (Morrison, Mokashi, & Cotter, 2006: 6) dalam penelitiannya menyampaikan tesis bahwa “An orderly classroom conducive to learning is strongly correlated with student achievement”. Kelas yang tertib dan kondusif untuk belajar mempunyai hubungan yang kuat dengan prestasi belajar siswa. Fraser dalam (Hadiyanto & Subiyanto 2003: 9) mendokumentasikan lebih dari 45 penelitian yang membuktikan adanya hubungan yang positif antara iklim kelas dengan prestasi belajar peserta didik. Penelitian-penelitian itu menggunakan berbagai macam alat ukur iklim kelas seperti Learning Environment Inventory (LEI), Classroom Environment Scales (CES), Individualized Classroom Environment Questionnaire (ICEQ), dan instrumen-instrumen lain yang digunakan di beberapa negara maju maupun berkembang. Faktor guru merupakan salah satu variabel input yang berpengaruh terhadap pencapaian kualitas pembelajaran. Proses pembelajaran akan menunjukkan kualitas tinggi apabila didukung oleh segala kesiapan input termasuk kinerja guru yang maksimal dalam kegiatan belajar mengajar. Nana Sudjana (2002: 42) dalam penelitiannya menyampaikan tesis bahwa 76,6% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kinerja guru, dengan rincian: kompetensi guru mengajar memberikan sumbangan 32,43%, penguasaan materi pelajaran memberikan sumbangan 32,38% dan sikap guru terhadap mata pelajaran memberikan sumbangan 8,60%. Faktor guru adalah faktor yang sangat mempengaruhi terutama dilihat dari kemampuan guru mengajar serta kelayakan guru itu sendiri. Data Pusat Statistik Pendidikan Balitbang Depdiknas 2000/2001 menunjukkan bahwa persentase guru yang layak mengajar terhadap jumlah guru yang ada secara nasional adalah 63.79%. Artinya masih terdapat sekitar 36.21% guru SMA yang tidak layak mengajar baik dilihat dari kompetensi maupun

13

kualifikasi pendidikannya. Perhatian yang belum sungguh-sungguh terhadap sumber daya pendidikan khususnya guru-guru baik dalam hal peningkatan mutu, kesejahteraan, dan kedudukan sosialnya, proses pendidikan dan perkembangan masyarakat akan lebih memperlebar kesenjangan kualitas guruguru itu sendiri. Hal serupa disampaikan oleh Supardan (2001: 63) dalam penelitiannya bahwa variabel guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Guru sejarah yang memiliki kinerja baik, tidak hanya dapat menjadi fasilitator dan dinamisator bagi peserta didik, tetapi juga dapat memberikan model dan makna yang signifikan apa artinya belajar dari kelampauan. Sebagaimana dikatakan Goble dalam Supardan (2001: 64), bahwa dari sudut kontinuitas sosial, guru memiliki fungsi sosial yang paling penting untuk mewujudkan model aksi sosial yang berfungsi sebagai motor bagi siswa dan masyarakatnya. Darling & Hammond (2000: 1) dari Standford University melakukan penelitian bahwa faktor kualitas guru mempunyai korelasi yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Begitu juga dengan penelitian Schacter (2006: 2) dari Milken Family Foundation yang menjelaskan bahwa kinerja guru merupakan variabel input yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Kedua penelitian ini sangat jelas menegaskan bahwa faktor guru merupakan

variabel

penting

untuk

meningkatkan

kualitas

proses

pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah, Wiriaatmadja (1992: 66) dalam disertasinya tentang peranan pengajaran sejarah nasional Indonesia dalam pembentukan identitas nasional, menyatakan bahwa variabel guru merupakan faktor yang penting bagi keberhasilan pembelajaran sejarah. Guru sejarah yang tidak memiliki kinerja baik seperti tidak mampu mengaktifkan siswanya menyebabkan pembelajaran sejarah kurang berhasil untuk penghayatan nilainilai secara mendalam. Hal serupa disampaikan oleh Taufik Abdulah dalam Supardan (2001: 67), bahwa pada umumnya guru sejarah belum menunjukkan kinerja yang baik, terbukti dengan masih banyaknya guru sejarah SMA yang

14

dalam proses pembelajarannya masih suka menyampaikan ”tumpukan” informasi tentang nama-nama tokoh, tanggal suatu peristiwa, dan isi perjanjian sebanyak mungkin, bukan bagaimana semua itu diartikan bagi peserta didiknya. Tentunya dalam konsepsi ini sebenarnya kualitas pembelajaran sejarah sebagaimana disampaikan oleh Helius Sjamsuddin (2005) salah satunya harus didukung oleh kinerja guru yang menuntut banyak pikiran, tenaga, dan waktu bagi guru untuk persiapan, pelaksanaan, dan sampai kepada evaluasinya. Menurut Mulyasa (2005: 37), paling kurang ada 19 peran guru dalam kegiatan pendidikan yakni peran guru sebagai: pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu, model dan teladan, peribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa ceritera, actor, emancipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator. Untuk menunjang tugasnya tersebut, maka guru harus memiliki

kompetensi

yang

memadai.

Mulyasa

(2005:

190-192)

mengidentifikasi kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yakni kemampuan dasar (kepribadian), kemampuan umum (kemampuan mengajar), dan kemampuan khusus (pengembangan keterampilan mengajar). Kemampuan dasar meliputi: beriman dan bertakwa, berwawasan Pancasila, mandiri penuh tanggungjawab, berwibawa, berdisiplin, berdedikasi, bersosialisasi dengan masyarakat, dan mencintai peserta didik serta peduli terhadap pendidikannya. Kemampuan umum meliputi: 1) menguasai ilmu pendidikan dan keguruan; 2) menguasai kurikulum; 3) menguasai didaktik metodik umum; 4) menguasai pengelolaan kelas; 5) mampu melaksanakan monitoring dan evaluasi peserta didik; dan 6) mampu mengembangkan dan aktualisasi diri. Sedangkan kemampuan khusus meliputi: keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, dan mengajar kelompok kecil dan perorangan.

15

BAB III METODE PENELITIAN

Metodologi merupakan konsep teoritik yang membahas mengenai berbagai metode atau ilmu metode-metode, yang dipakai dalam penelitian. Sedangkan metode merupakan bagian dari metodologi, yang diinterpretasikan sebagai teknik dan cara dalam penelitian, misalnya teknik observasi, metode pengumpulan sumber (heuristik), teknik wawancara, analisis isi, dan lain sebagainya. Berbagai hal yang berkaitan dengan metodologi penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

A. Kasus Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA 5 Yogyakarta, dan difokuskan pada dinamika pembelajaran sejarah selama ini, dan faktor-faktor pendukung kualitas pembelajaran sejarah.

B. Desain Penelitian Studi ini menggunakan desain yang longgar untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul, tetapi kondisi yang tepat dari

kemungkinan-kemungkinan

tersebut

tidak

bisa

diramalkan

sebelumnya. Desain di sini merupakan rencana antisipasi terhadap kemungkinan, dan bila kemungkinan itu muncul, desain bisa disesuaikan secara tepat dalam pelaksanaannya. Penampilan studi selanjutnya dibentuk oleh sejumlah interaksi yang selalu tetap terbuka sepanjang waktu. Ada beberapa unsur

yang dijadikan

perhatian

pada saat

merumuskan desain adalah: 1) penentuan fokus studi, 2) penentuan ketepatan paradigma pada fokusnya, 3) penentuan penerapan paradigma studi pada teori substantif yang dipilih, 4) penentuan tentang di mana dan dari siapa data akan dikumpulkan, 5) penentuan fase-fase suksesif penelitian, 6) penggunaan ”human instrumentation”, 7) pengumpulan dan

16

pencatatan data, 8) penggarapan analisis, 9) perencanaan logistik, dan 10). perencanaan derajat kepercayaan. Berdasarkan permasalahan yang diajukan dalam studi ini, yang lebih mengutamakan pada masalah makna/persepsi, maka jenis penelitian dengan strateginya yang relevan adalah studi kualitatif. Dengan penelitian ini diharapkan dapat mengungkap berbagai informasi kualitatif dan kauantitatif dengan deskripsi-analisis yang teliti dan penuh makna. Pada tiap-tiap obyek akan dilihat kecenderungan, pola pikir, ketidakteraturan, serta tampilan perilaku dan integrasinya sebagaimana dalam studi kasus genetik (Muhadjir, 1996: 243). Karena permasalahan dan fokus penelitian sudah ditentukan dalam proposal sebelum terjun ke lapangan, maka jenis strategi penelitian ini secara lebih spesifik dapat disebut sebagai studi terpancang (embedded study research)(Yin, 1987: 136). Dengan mengenal dan memahami karakter penelitian kualtatif, dapat mempermudah peneliti dalam mengambil arah dan jalur yang tepat dalam mengumpulkan data, menganalisis maupun mengembangkan laporan penelitian. Studi kasus didasarkan pada teknik-teknik yang sama dalam kelaziman yang berlaku pada strategi historis-kritis, tetapi dengan menambah dua sumber bukti yang akurat yaitu observasi langsung dan wawancara sistemik. Meskipun studi kasus dan historis-kritis terjadi tumpang tindih, tetapi kekuatan yang unik dari studi kasus adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan beragam sumber. Penelitian kualitatif mempunyai karakteristik pokok yakni: Pertama, riset

kualitatif mempunyai latar alami karena sumber datanya yang

langsung dari perisetnya, maksudnya data dikumpulkan dari sumbernya langsung, dan peneliti merupakan instrumennya; kedua riset kualitatif ini bersifat deskriptif; ketiga periset kualitatif lebih memperhatikan proses dan produk yang bermakna; keempat, periset kualitatif cenderung menganalisa datanya secara induktif, maksudnya data yang dikumpulkan bukanlah untuk mendukung atau menolak hipotesis, tetapi abstraksi disusun sebagai

17

kekhususan yang telah terkumpul dan dikelompokan bersama; kelima, “makna” merupakan soal esensial perhatian utamanya.

C. Sumber Data Data untuk keperluan studi evaluatif kualitatif dapat berasal dari enam sumber yaitu: dokumen, rekaman arsip, wawancara, pengamatan langsung, observasi, dan perangkat-perangkat fisik. Dalam penelitian kualitatif, peneliti berhadapan dengan data yang bersifat khas, unik, idiocyncratic, dan multiinterpretable (Waluyo, 2000: 20). Data yang paling penting untuk dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif tidak bersifat nomotetik (satu data satu makna) seperti dalam pendekatan kuantitatif atau positivisme. Untuk itu, data-data kualitatif perlu ditafsirkan agar mendekati kebenaran yang diharapkan. Adapun jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Informan atau nara sumber yang terdiri dari kalangan kepala sekolah dan pimpinan sekolah lain, guru sejarah, siswa, sejarawan, dan ahli pendidikan sejarah. 2. Tempat dan aktivitas kegiatan proses belajar mengajar di SMA 5 Yogyakarta. 3. Teks yang berupa arsip dan dokumen resmi mengenai program pengajaran, kurikulum, dan catatan-catatan lain yang relevan. Dalam menafsirkan teks yang bermacam-ragam diperlukan dekontekstualisasi (proses pembebasan dari konteks). Teks bersifat otonom yang didasarkan atas tiga hal, yaitu: maksud penulis; situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks; dan untuk siapa teks itu ditulis. Seorang peneliti harus “membaca dari dalam” teks yang ditafsirkannya itu. Tetapi peneliti tidak boleh luluh ke dalam teks tersebut dan cara pemahamannya tidak boleh lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarah dari teks itu. Karena itu distansi asing dan aspek-aspek subjektif-objektif dari teks-teks tersebut harus disingkirkan.

18

Selain sumber-sumber yang bersifat individual di atas, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data kualitatif. Hal tersebut mencakup penggunaan: (1) berbagai sumber bukti, yakni bukti dari dua atau lebih sumber, tetapi menyatu dengan serangkaian fakta atau temuan yang sama, (2) data dasar, yakni kumpulan formal bukti yang berlainan dari laporan akhir studi yang bersangkutan, dan (3) serangkaian bukti, yaitu keterkaitan yang eksplisit antara pertanyaanpertanyaan yang diajukan, data yang terkumpul, dan konklusi-konklusi yang ditarik. Pengacuan pada prinsip-prinsip ini, diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas substansial studi kualitatif yang akan dilaksanakan.

D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam studi ini adalah sebagai berikut. 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing) Wawancara jenis ini bersifat lentur dan terbuka, tidak terstruktur ketat, tetapi dengan pertanyaan yang semakin terfokus dan mengarah pada kedalaman informasi. Dalam hal ini, peneliti dapat bertanya kepada responden kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa di samping opini mereka mengenai peristiwa yang ada. Dalam berbagai situasi, peneliti dapat meminta responden untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan dapat menggunakan posisi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya (Yin, 1996: 109). Kelebihan mencari data dengan cara wawancara, dapat diperoleh keterangan yang tidak dapat diperoleh dengan metode yang tidak menggunakan hubungan yang bersifat personal. Semakin bagus pengertian

pewawancara

dan

semakin

halus

perasaan

dalam

pengamatannya itu, semakin besar pulalah kemampuannya untuk memberikan dorongan kepada subjeknya. Lagi pula, semakin besar kemampuan orang yang diwawancarai untuk menyatakan responsnya, semakin besar proses intersimulasi itu. Tiap-tiap respons atau

19

tanggapan yang verbal dan reaksinya dinyatakan dengan kata-kata dapat memberikan banyak pikiran-pikiran yang baru. Suatu jawaban bukanlah jawaban atas satu pertanyaan saja, melainkan merupakan pendorong timbulnya keterangan lain yang penting mengenai peristiwa atau objek penelitian. Semakin besar bantuan responden dalam wawancara, maka semakin besar peranannya sebagai informan. Dalam hal ini, informan kunci seringkali sangat penting bagi keberhasilan studi kasus. Mereka tidak hanya bisa memberi keterangan tentang sesuatu kepada peneliti, tetapi juga bisa memberi saran tentang sumber-sumber bukti lain yang mendukung serta menciptakan akses terhadap sumber yang bersangkutan (Yin, 1996: 109). Dengan demikian wawancara mendalam harus memberikan keleluasaan informan dalam memberikan penjelasan secara aman, tidak merasa ditekan, maka perlu diciptakan suasana “kekeluargaan”. Kelonggaran ini akan mengorek kejujuran informasi, terutama yang berhubungan dengan sikap, pandangan, dan perasaan informan sehingga pencari data tidak merasa asing dan dicurigai. Oleh karena itu, maka masalah pelaksanaan wawancara perlu dipilih “waktu yang tepat”, maksudnya para informan diwawancarai pada saat yang tidak sibuk dan dalam kondisi yang “santai” sehingga keterangan yang diberikan memang benar-benar adanya. Namun demikian, peneliti perlu berhati-hati dari ketergantungan yang berlebihan kepada seorang informan, terutama karena kemungkinan adanya pengaruh hubungan antar pribadi. Suatu cara yang rasional untuk mengatasi kesalahan ini adalah dengan mengandalkan sumber-sumber bukti lain untuk mendukung keterangan-keterangan informan tersebut dan menelusuri bukti yang bertentangan sehati-hati mungkin.

2. Observasi Langsung Observasi langsung dapat dilakukan dalam bentuk observasi partisipasi pasif terhadap berbagai kegiatan dan proses yang terkait

20

dengan studi (Sutopo, 1996: 137). Observasi langsung ini akan dilakukan dengan cara formal dan informal, untuk mengamati berbagai kegiatan dan peristiwa di ruangan kelas, kegiatan pokok siswa dan staf pengajar dalam proses pengajaran sejarah, dan lain-lain pendukung pembelajaran sejarah. Observasi tersebut dapat terbentang mulai dari kegiatan pengumpulan data yang formal hingga yang tidak formal. Bukti observasi

seringkali

bermanfaat

untuk

memberikan

informasi

tambahan tentang topik yang akan diteliti. Observasi dapat menambah dimensi-dimensi baru untuk pemahaman konteks maupun fenomena yang akan diteliti. Observasi tersebut bisa begitu berharga sehingga peneliti bahkan bisa mengambil foto-foto pada situs studi kasus untuk menambah keabsahan penelitian (Dabbs dalam Sutopo, 1996:113).

3. Mencatat Dokumen (Content Analysis) Teknik ini sering disebut sebagai analisis isi (content analysis) yang cenderung mencatat apa yang tersirat dan yang tersurat. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari dokumen dan arsip tentang pengajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta. Dalam psikologi, analisis isi menemukan tiga ranah aplikasi penting. Pertama adalah, analisis terhadap rekaman verbal guna menemukan hal-hal yang bersifat motivasional, psikologis atau karakteristikkarakteristik kepribadian. Aplikasi ini telah menjadi tradisi tentang pemanfaatan dokumen-dokumen pribadi, dan aplikasi analisis terhadap struktur kognitif. Aplikasi kedua adalah pemanfaatan data kualitatif yang dikumpulkan dalam bentuk jawaban atas pertanyaan terbuka (Krippendoff, 1991:11). Di sini analisis isi memperoleh status teknis pelengkap yang memungkinkan peneliti memanfaatkan data yang hanya dapat dikumpulkan dengan cara yang tidak terlalu membatasi pokok bahasan dan menguji silang kesahihan temuan yang diperoleh dengan menggunakan berbagai teknik yang berbeda. Aspek ketiga

21

menyangkut proses-proses komunikasi dimana isi merupakan bagian intergralnya (Krippendoff, 1991:11).

E. Teknik Cuplikan (Sampling) Setiap peneliti harus membuat keputusan tentang siapa dan berapa jumlah orang yang akan diteliti. Dalam penelitian kualitatif, akan tergantung

dari penggunaan seleksi dan strategi cuplikan. Dalam

penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif

dengan

pertimbangan

konsep

teoritis

yang

digunakan,

keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik empiriknya, dan lain sebagainya. Oleh karena itu teknik cuplikan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah “Purposive Sampling” (Sutopo, 1996 : 138), atau lebih tepat disebut sebagai cuplikan dengan criterion-based selection yang tidak didapat ditemukan lebih dulu secara acak. Dalam hal ini peneliti memilih informan yang dianggap “mengetahui permasalahan yang dikaji” (dapat dipercaya informasinya). Penelitian diawali dengan memilih informan, dalam hal ini informan yang paling mengetahui fokus penelitian, kemudian dikembangkan sesuai dengan kebutuhan untuk memperoleh data (Patton, 1980:38). Teknik cuplikan semacam ini lebih dikenal sebagai “Internal Sampling”, maksudnya bahwa sampling tidak dimaksudkan untuk mewakili populasi tetapi mewakili informasinya, sehingga bila diinginkan usaha untuk generalisasi, kecenderungannya mengarah pada generalisasi teoritik (Sutopo, 1995:19). Internal sampling dapat memberi peluang bahwa keputusan dapat diambil begitu peneliti memiliki suatu gagasan umum yang timbul tentang apa yang sedang dipelajari, dengan informan mana, kapan melakukan observasi yang tepat, dan berapa dokumen, arsip, serta catatan-catatan lapangan yang perlu dikaji.

22

F. Validitas Data Untuk menjamin validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini, peneliti mengggunakan teknik informant review atau umpan balik dari informan (Milles dan Hubberman, 1992:453). Selain itu peneliti juga menggunakan teknik triangulasi untuk lebih memvalidkan data (Paton, 1980: 100). Teknik triangulasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, triangulasi metode,

dan

triangulasi teori. Pertama, triangulasi sumber, yakni mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Kedua, triangulasi metode, yakni mengumpulkan data yang sejenis dengan menggunakan teknik atau pengumpulan data yang berbeda. Dalam hal ini untuk memperoleh data, maka digunakan beberapa sumber dari hasil wawancara dan observasi. Ketiga, triangulasi teori untuk mengintepretasikan data yang sejenis. Data tentang pembelajaran sejarah misalnya, digali dari beberapa teori baik teori pendidikan, psikologi, maupun teori lain. Tipe-tipe triangulasi yang berlainan tadi merupakan strategi untuk mengurangi bias sistematik di dalam data. Masing-masing kasus strategi melibatkan pengecekan temuan-temuan terhadap sumber-sumber lain. Dengan demikian triangulasi sebagai proses pengevaluator (penilai) dapat menjaga tuduhan atau dakwaan bahwa temuan-temuan penelitian itu menggunakan alat sederhana baik masalah-masalah metode, sumber data, maupun bias penelitian. Selain itu data dapat dikembangkan dan disimpan agar sewaktu-waktu dapat ditelusuri kembali bila dikehendaki adanya verifikasi (Patton, 1983:332).

G. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif (Miles dan Huberman, 1984). Dalam model analisis ini, tiga komponen analisisnya yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verivikasi, aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses yang berlanjut,

23

berulang, dan terus-menerus hingga membentuk sebuah siklus. Dalam proses ini aktivitas peneliti bergerak di antara komponen analisis dengan pengumpulan data selama proses ini masih berlangsung. Selanjutnya peneliti hanya bergerak diantara tiga komponen analisis tersebut. Reduksi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Dengan demikian reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Secara sederhana dapat dijelaskan dengan “reduksi data” dan perlu mengartikannya sebagai kuantifikasi. Data kualitatif dapat disederhanakan dan ditransformasikan dalam aneka macam

cara:

melalui

seleksi

yang

ketat,

melalui

ringkasan,

menggolongkannya dalam suatu pola yang lebih luas dan sebagainya. Sementara itu penyajian data merupakan alur penting yang kedua dari kegiatan analisis interaktif. Suatu penyajian, merupakan kumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Sedangkan kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan atau verifikasi. Peneliti harus memberi kesimpulan secara longgar, terbuka dan skeptis (Paton, 1983:20). Dengan demikian, model analisis interaktif ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam pengumpulan data model ini, peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data samapai penyusunan kesimpulan. Artinya data yang didapat di lapangan kemudian peneliti menyusun pemahaman arti segala peristiwa yang disebut reduksi data dan diikuti penyusunan data yang berupa ceritera secara sistematis. Reduksi dan sajian data ini disusun pada saat peneliti mendapatkan unit data yang diperlukan dalam penelitian. Pengumpulan data terakhir peneliti mulai melakukan usaha menarik kesimpulan dengan menarik verifikasi berdasarkan reduksi dan sajian data. Jika permasalahan yang diteliti belum

24

terjawab dan atau belum lengkap, maka peneliti harus melengkapi kekurangan tersebut di lapangan terlebih dahulu. Secara skematis proses analisis interaktif ini dapat digambarkan sebagai berikut. Pengumpulan Data

Sajian Data

Verifikasi/ Penarikan Kesimpulan

Reduksi Data

Gambar 1. Model Analisis Interaktif Milles dan Hubberman

25

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskr-i Data 1. Profil SMA Negeri 5 Yogyakarta a. Sejarah SMA 5 Yogyakarta Berawal dari prakarsa para tokoh pendidikan dan tokoh masyarakat di Yogyakarta yang antara lain Bapak R. DS. Hadiwidjono, Bapak JudjanaL, Prof. Ir Haryono, Prof. Ir Supardi, Prof. Suhardi, SH, pada tanggal 17 september 1949, SMA Negeri 5 Yogyakarta secara resmi dapat didirikan dengan nama Sekolah Menengah Umum Atas Bagian Yuridis Ekonomi (SMA/AC) dan menempati gedung SMA Putri Stella Duce Yogyakarta. Pada tanggal 27 Oktover 1949, melalui surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 210 B, SMA C memperoleh status menjadi SMA Bagian C Negeri. Sebagai kepala sekolah adalah Bapak R.D.S Hadiwijana. Tanggal 31 maret 1950 pimpinan sekolah yang diserah terimakan kepada Bapak Suwito Puspo Kusumo, yang selanjutnya diserahkan kepada Bapak RA Djoko Tirto, SH. Dibawah pimpinan Bapak R.A Djoko, SH SMA bagian C berkembang pesat. Tanggal 21 Juli 1952 melalui SK Menteri Pendidikn& Keudayaan nomor 3094/B, SMA/C dipecah menjadi 2 sekolah yaitu: 1) MA Bagian C Negeri dibawah pimpinan Bapak Parwanto SH yang menempati gedung di Jalan Pogung No 2 Kotabaru, Yogyakarta, masuk pada siang hari (sekarang menjadi SMA N 5 Yogyakarta). 2) SMA Bagian C Negeri II dipimpin Bapak RA Djoko Tirtono SH yang menempati gedung yang sama tetapi masuk pada pagi hari (sekarang menjadi SMA N 6 Yogyakarta). Untuk mengantisipasi kemajuan jaman dengan mneyiapkan siswa untuk dapat melanjutkan ke Perguruan tinggi, maka pada tanggal 1 gustus 1959 SMA Negeri V Bagian C dijadikan SMA Negeri V bagian A-C. Pada tahun tersebut berhasil dibakukan : 1) peraturan dan tata tertib sekolah; 2) Lagu Mars Puspanegara; 3) Lambang sekolah “Puspanegara“ yang memiliki

26

tugas suci “Trus Hakarya Ruming Praja“ mengandung makna agar nantinya para siswa SMA N 5 Yogyakarta terus berkarya demi keharuman Negara dan Bangsa. Sejak resmi berdiri sampai saat ini, SMA N 5 Yogyakarta telah mengalami berkali-kali pergantian Kepala Sekolah. Setiap kepemimpinan membawa perubahan kearah peningkatan. Lebih dari 10 orang kepala sekolah pernah menjabat dan memimpin di SMA N 5 Yogyakarta. Pada tanggal 11 Juli 1999, SMA N 5 Yogyakarta diserah terimakan kepada Bapak Drs Panut S, karena kepala sekolah sebelumnya yaitu Bapak Drs N Ngabdurahim menjalani masa purna tugas. Bapak Drs. Panut S menggantikan posisi beliau untuk beberapa saat hingga datang kepala sekolah tetap yang baru. Kepala sekolah yang baru datang pada bulan Desember 1999 yaitu Bapak Drs Ilham. Pada periode ini. Bapak Drs. H Ilham memiliki program utama meningkatkan ketakwaan sehingga pada saat itu salah satu wujudnya adalah diresmikannya masjid SMA N 5 Yogyakarta dengan nama masjid DARUSSALAM PUSPANEGARA. Beliau menjabat hingga purna tugas. Pada bulan Desember 2001 Bapak Drs Timbul Mulyono, kepala sekolah SMA N 7 Yogyakarta ditunjuk untuk menggantikan sementara posisi kepala sekolah. Tanggal 25 Maret 2002 kepala sekolah dijabat oleh Bapak Drs. H Abu Suwardi. Program beliau adalah pembangunan etos kerja pada semua guru dan karyawan dan membangun kedisiplinan pada para siswa. b. Visi dan Misi 1). Visi Berusaha menciptkan manusia yang memiliki citra moral, citra keceendekiawanan,

citra

kemandirian

dan

berwawasan

linkungan

berdasarkan atas ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa 2). Misi 1) Terbentuknya insan pelajar yang memiliki moral, perilaku yang baik, berbudi pekerti yang luhur berbudaya bangsa Indonesia dan berakhlakul

27

karimah berdasarkan aturan-aturan yang berlaku baik di kalangan masyarakat, sekolah, negara maupun agama. 2) Terbentuknya generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi berjiwa patriotis, nasionalis tanpa mengabaikan nilai-nilai norma serta nilai-nilai luhur kebangsaan maupun keagamaan. 3) Terbentuknya generasi yang berjiwa mandiri, senang beraktivitas dan berkreatifitas untuk menatap kehidupan masa depan yang lebih cerah dalam menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi.

2. Faktor Pendukung Kualitas Pembelajaran Sejarah Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan

masyarakat

di masa lampau

berdasarkan metode dan metodologi tertentu. Pengetahuan masa lampau tersebut mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik. Mata pelajaran Sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Secara substantif, materi sejarah: 1. mengandung

nilai-nilai

kepahlawanan,

keteladanan,

kepeloporan,

patriotisme, nasionalisme, dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik; 2. memuat

khasanah

mengenai

peradaban

bangsa-bangsa,

termasuk

peradaban bangsa Indonesia. Materi tersebut merupakan bahan pendidikan yang mendasar bagi proses pembentukan dan penciptaan peradaban bangsa Indonesia di masa depan; 3. menanamkan kesadaran persatuan dan persaudaraan serta solidaritas untuk menjadi perekat bangsa dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa; 4. sarat dengan ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari;

28

5. berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

Berdasarkan Peraturan Mendiknas No. 22 tahun 2006 mata pelajaran sejarah untuk Sekolah Menengah Atas meliputi aspek-aspek sebagai berikut. 1. Prinsip dasar ilmu sejarah 2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia 3. Perkembangan negara-negara tradisional di Indonesia 4. Indonesia pada masa penjajahan 5. Pergerakan kebangsaan 6. Proklamasi dan perkembangan negara kebangsaan Indonesia. Peraturan Mendiknas No. 22 tahun 2006 menyebutkan bahwa mata pelajaran sejarah di SMA secara rinci memiliki 5 tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. 2. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah

dan metodologi

keilmuan. 3. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. 4. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. 5. Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. (2006: 254).

29

Kelima tujuan tersebut pada prinsipnya untuk membentuk dan mengembangkan 3 kecakapan

peserta didik, yaitu kecakapan akademik,

kesadaran sejarah, dan nasionalisme. Kecakapan akademik dijabarkan secara rinci dalam tujuan kedua dan keempat yakni: melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah

dan metodologi keilmuan; menumbuhkan pemahaman

peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. Kesadaran sejarah diuraikan lebih lanjut pada tujuan kesatu dan kelima yakni membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan; menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. Sedangkan nasionalisme diuraikan lebih rinci dalam tujuan ketiga dan kelima yakni: menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau; menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. Ke lima tujuan tersebut apabila dihubungkan dengan pencapaian standar kompetensi lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan SMA, mata pelajaran sejarah memiliki posisi yang cukup strategis. Selama ini, penilaian produk pembelajaran sejarah selama ini hanya difokuskan pada kecakapan akademik sebagaimana diwujudkan dalam tujuan sejarah yang kedua dan keempat, sedangkan penilaian terhadap kesadaran sejarah dan nasionalisme sebagaimana diwujudkan dalam tujuan sejarah 1, 3, dan 5 kurang mendapat perhatian. Ukuran keberhasilan pembelajaran sejarah tidak cukup hanya dinilai dari aspek kecakapan akademik semata, tetapi perlu melihat hasil penilaian aspek kesadaran sejarah dan nasionalisme. Dengan

30

demikian standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian. Dalam proses pembelajaran sejarah, SMA 5 Yogyakarta sudah mengacu dan menerapkan pada pencapaian tujuan pembelajaran sejarah sebagaimana rambu-rambu di atas. Pencapaian tujuan pembelajaran selama ini tidak hanya terfokus pada kecakapan akademik saja, melainkan juga sudah menyentuh ranah kesadaran sejarah dan nasionalisme. Di samping itu di SMA 5 Yogyakarta juga menerapkan prinsip Penilaian Berbasis Kelas (PBK), sehingga teknik penilaian tidak hanya menerapkan tes dan penilaian akhir saja, melainkan juga dengan non-tes dan penilaian proses dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, penilaian pembelajaran sejarah dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan. Hal ini tentunya dapat berhasil karena dukungan kompetensi guru sejarah, iklim kelas, motivasi dan sikap siswa, serta sarana pembelajaran sejarah. Dalam hal ini, faktor yang cukup dominan dalam menentukan keberhasilan program pembelajaran sejarah adalah kualitas pembelajaran. Dengan demikian, kualitas pelaksanaan pembelajaran akan sangat tergantung pada sarana dan prasarana pembelajaran, aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan

pembelajaran

dan

personal

yang

terlibat

dalam

kegiatan

pembelajaran baik itu guru dan siswa. Kualitas pembelajaran akan lebih baik apabila melibatkan guru yang berkualitas (mempunyai kompetensi dalam bidangnya), siswa yang berkualitas (cerdas, mempunyai motivasi belajar yang tinggi dan mempunyai sikap yang positif dalam belajar) dan dengan didukung sarana dan prasarana atau fasilitas pembelajaran yang cukup baik, baik dari segi ketersediaan maupun pemanfaatan (utility)nya. Guru yang berkualitas akan memungkinkan mempunyai kinerja yang baik, begitu juga dengan siswa yang berkualitas memungkinan siswa mempunyai perilaku yang positif dalam kegiatan pembelajaran. Interaksi antara keduanya memungkinkan terwujudnya

31

iklim kelas (classroom climate) yang cukup kondusif untuk proses belajar siswa. Kualitas pembelajaran merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa tinggi kualitas interaksi antara guru dengan siswa yang terjadi dalam tempat pembelajaran (ruang kelas) untuk mencapai tujuan pembelajaran atau mewujudkan kompetensi tertentu. Interaksi tersebut melibatkan guru dan siswa yang dilakukan dalam lingkungan tertentu dengan dukungan sarana dan prasarana tertentu. Dengan demikian keberhasilan proses pembelajaran atau kualitas pembelajaran akan tergantung dan dipengaruhi oleh: guru, siswa, fasilitas pembelajaran, lingkungan kelas, dan iklim kelas. Sebagaimana dipaparkan dalam kajian teori di atas, kualitas pembelajaran

dikatakan

baik

manakala

lingkungan

fisik

mampu

menumbuhkan semangat siswa untuk belajar; iklim kelas kondusif ; guru menyampaikan pelajaran dengan

jelas; 4) pelajaran disampaikan secara

sistematis dan terfokus; guru menyajikan materi dengan bijaksana; pembelajaran bersifat riil; ada penilaian diagnostik yang kontinyu; adanya budaya membaca dan menulis; menggunakan pertimbangan rasional dalam memecahkan masalah;

menggunakan teknologi pembelajaran, baik untuk

mengajar maupun kegiatan belajar siswa. Keberhasilan dalam pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh guru dan lingkungan saja, tetapi faktor siswa cukup berperan, oleh karena itu dalam ini dimasukkan dua aspek baru dari sisi siswa, yaitu sikap dan motivasi belajar siswa. Di SMA 5 Yogyakarta, indikator yang menjadi pendukung peningkatan kualitas pembelajaran sejarah adalah sebagai berikut.

a. Kompetensi Guru Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah variabel guru. Guru mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap kualitas pembelajaran, karena gurulah yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas, bahkan sebagai penyelenggara pendidikan di

32

sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang selama ini dilaksanakan, kompetensi guru SMA 5 Yogyakarta sudah dianggap: a) Menguasai bidang studi atau bahan ajar dengan baik b) Memahami karakteristik peserta didik secara komprehensif c) Menguasai pengelolaan pembelajaran dengan baik d) Menguasai metode dan strategi pembelajaran dengan inovatif e) Menguasai penilaian hasil belajar siswa secara cermat f) Memiliki kepribadian dan wawasan pengembangan profesi Dalam melaksanakan tugasnya, guru sudah dapat berfungsi sebagai pengajar, pelatih, pembimbing, dan sebagai professional (Ketentuan Umum pasal 1, Undang - Undang Guru dan Dosen). Untuk menilai kinerja guru di sini, dapat dilihat dari cara mereka melaksanakan tugas di dalam kelas, mengembangkan karier profesionalnya, dan hasil karya mereka, baik mereka sebagai guru maupun sebagai professional di bidang pendidikan. Karya guru ditunjukkan karya ilmiah, seperti hasil penelitian, buku bahan ajar, artikel dalam majalah maupun jurnal ilmiah dan juga karya lain seperti teknologi pembelajaran, alat peraga dalam pembelajaran dan sebagainya. Secara umum baik G1 maupun G2 di SMA 5 Yogyakarta memiliki kompetensi yang memadai sebagaimana yang distandarkan pemerintah. G1 bahkan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi profesi seperti PGRI, MSI, dan MGMP. Berdasarkan observasi dan suvervisi di dalam kelas, penguasaan materi pelajaran sudah cukup memadai. Begitu pula dengan keterampilan didaktik metodik sudah menunjukkan adanya inovasi pembelajaran yang sudah

melibatkan siswa secara aktif dan kreatif, sehingga pembelajaran

sejarah cukup impresif. Guru memiliki inisiatif untuk menyampaikan materi pelajaran yang masih bersifat kontroversif, dengan berbagai metode seperti aktif debat sehingga tidak selalu terpaku pada paradigma pemerintah. Di samping itu, guru memiliki keberanian untuk menyampaikan fakta apa adanya, dan selanjutnya ada upaya penanaman makna dan nilai yang bermanfaat bagi para siswa. Karena memang pada dasarnya, siswa dapat

33

belajar tidak saja pada peristiwa-peristiwa yang baik, melainkan dapat pula pada peristiwa buruk, yang diambil manfaatnya bagi kehidupannya. Dalam kegiatan pembelajaran, guru telah menerapkan berbagai metode pembelajaran secara dinamis seperti metode ceramah bervariasi, diskusi, pembelajaran luar kelas atau wisata sejarah, sampai pembelajaran berbasis proyek. Mulai tampak perubahan paradigma pembelajaran yang semula berbasis pada guru sekarang menjadi pembelajaran berbasis pada siswa. Dalam membuat perencanaan juga guru telah menerapkan penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang terarah dan memiliki tingkat kesesuaian

tinggi

dengan

pelaksanaannya.

Guru

juga

aktif

dalam

mengembangkan diri terutama mengembangkan profesionalitas melalui MGMP, MSI, PGRI, dan organisasi profesi lain. Begitu pula guru memberi akses yang luas untuk berkonsultasi di luar pembelajaran. Terkait dengan media pembelajaran, guru juga telah menggunakan media yang dapat membantu kegiatan pembelajaran seperti OHP, Peta, gambar, dan lain sebagainya.

b. Sarana dan Sumber Pembelajaran Sejarah Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang dan peralatan. Media tidak hanya terbatas pada arti sempit sebagai alat bantu saja, tetapi justru bermakna umum, baik itu sebagai alat bantu atau justru berfungsi sebagai bagian dari metode pembelajaran yang akan mengarahkan pemahaman siswa menjadi lebih baik. Media yang digunakan sebagai alat bantu umumnya berupa benda tak bergerak yaitu buku teks, modul yang kesemua itu hanya terbatas sebagai alat bantu bagi guru untuk memaparkan materi. Apapun media yang digunakan sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan pilihan media yang digunakan mampu mengantarkan siswa untuk memahami bahan ajar untuk mendapatkan hasil yang optimal. Secara umum ada 6 bentuk tipe media, yaitu gambar diam (still pictures), Rekaman suara (audio recording), gambar bergerak (Motion Pictures), Televisi, real things, simulation and models, programmed and

34

computer assisted. Sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi dari keenam media tersebut perlu ditambah dengan internet dimana aplikasi dari teknologi ini diantaranya adalah e-learning. Kegiatan pembelajaran akan dapat berlangsung dengan lancar apabila didukung sarana dan sumber pembelajaran yang memadai seperti ketersediaan media di atas. Sarana dan sumber pembelajaran meliputi segala sesuatu yang memudahkan terjadinya proses pembelajaran, meliputi tempat atau ruang kegiatan pembelajaran beserta kelengkapannya. Media pembelajaran untuk kepentingan efektivitas pembelajaran di kelas dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu: a) media pandang diproyeksikan, seperti: OHP, slide, projector dan filmstrip; b) media pandang yang tidak diproyeksikan, seperti gambar diam, grafis, model, benda asli; c) media dengar, seperti piringan hitam, pita kaset dan radio; d) media pandang dengar, seperti televisi dan film. Keberadaan dan pemanfaatan media pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Di SMA 5 Yogyakarta sarana pendukung memang belum sepenuhnya memadai. Jumlah OHP misalnya masih sangat terbatas dan media-media lain belum sebanding dengan jumlah guru maupun siswa. Media mutakhir misalnya, SMA 5 Yogyakarta hanya memiliki 3 laptop dan 1 LCD. Suatu jumlah yang masih kecil jika dibandingkan dengan jumlah guru dan kelas/siswa.

c. Budaya Akademik Proses pembelajaran erat sekali kaitannya dengan lingkungan atau suasana di mana proses itu berlangsung. Meskipun prestasi belajar juga dipengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya belajar, fasilitas yang tersedia, pengaruh budaya akademik masih sangat penting. Hal ini beralasan karena ketika para peserta didik belajar di ruangan kelas, lingkungan kelas, baik itu lingkungan fisik maupun non fisik kemungkinan mendukung mereka atau bahkan malah mengganggu mereka. Budaya akademik yang kondusif antara lain dapat mendukung: interaksi yang bermanfaat di antara peserta didik; memperjelas pengalaman-pengalaman guru dan peserta didik; menumbuhkan

35

semangat yang memungkinkan kegiatan-kegiatan di kelas berlangsung dengan baik; dan mendukung saling pengertian antara guru dan peserta didik. Di samping itu budaya akademik atau suasana kelas dan lingkungan kelas mempunyai pengaruh yang penting terhadap kepuasan peserta didik, belajar, dan pertumbuhan/perkembangan pribadi. Kedua pendapat itu sangat beralasan karena hal-hal tersebut di atas pada gilirannya akan mempengaruhi prestasi belajar peserta didik. Di SMA 5 Yogyakarta, budaya akademik menunjukkan suasana yang kondusif. Sosialitas antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan bahkan antara guru dengan guru menunjukkan keanekaragam pencerminan yang cukup harmoni. Meskipun masih ada kelompok-kelompok pada guru misalnya antara guru PNS dengan GTT, tapi hubungan diantara keduanya menunjukkan suasana yang baik. Begitu pula di dalam kelas adanya sikap sosial siswa yang positif terhadap pembelajaran sejarah menambah suasana akademik yang kondusif.

d. Sikap Siswa terhadap Pelajaran Sejarah Sikap siswa terhadap pelajaran sejarah, menunjukkan sikap yang cukup positif. Berdasarkan wawancara terhadap R1, R2, R3, dan R4, maka dapat disimpulkan bahwa mereka sudah memiliki sikap yang positif terhadap pelajaran Sejarah. Memang, sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran mempunyai peran yang cukup dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Sikap siswa terhadap Sejarah dimaksudkan sebagai tendensi mental yang diaktualkan atau diverbalkan terhadap mata pelajaran sejarah yang didasarkan pada pemahaman dan keyakinan serta perasaannya terhadap sejarah. Objek yang disikapi adalah sikapnmata pelajaran sejarah. Berkaitan dengan komponen-komponen sikap, maka sikap terhadap pelajaran sejarah dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Komponen kognisi Komponen ini merupakan bagian sikap siswa yang timbul berdasarkan pemahaman maupun keyakinannya terhadap pelajaran sejarah. Siswa yang menganggap pelajaran sejarah tidak terlalu penting

36

karena yang dipelajari dalam pelajaran sejarah hanya hafalan, memiliki perasaan dan kecenderungan tingkah laku yang berbeda dalam menghadapi pelajaran sejarah

dibandingkan dengan siswa yang

menganggap pelajaran sejarah sangat penting karena bermanfaat dalam masyarakat. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa komponen kognisi menjawab pertanyaan apa yang diketahui, dipahami dan diyakini siswa terhadap pelajaran sejarah. Jawaban siswa SMA 5 Yogyakarta terhadap komponen kognisi menunjukkan bahwa siswa cukup menyenangi pelajaran sejarah. 2) Komponen afeksi Komponen ini merupakan bagian sikap siswa yang timbul berdasarkan apa yang dirasakan siswa terhadap pelajaran sejarah. Komponen ini menjawab apa yang dirasakan siswa ketika menghadapi pelajaran sejarah. Perasaan siswa terhadap pelajaran sejarah dapat muncul karena faktor kognisi maupun faktor-faktor tertentu yang sangat sulit diketahui. Seorang siswa merasa senang atau tidak senang, suka atau tidak suka terhadap pelajaran sejarah, baik terhadap materinya, gurunya maupun manfaatnya. Hal ini termasuk komponen afeksi. Ini juga menunjukkan rasa cukup senang siswa terhadap pelajaran sejarah. 3) Komponen konasi Berdasarkan komponen kognisi dan afeksi nampak adanya kecenderungan untuk bertindak maupun bertingkah laku sebagai reaksi terhadap kegiatan pembelajaran Sejarah. Siswa yang memperlihatkan tingkah laku seperti suka bertanya, aktif mengikuti pelajaran sejarah, kebiasaan mempersiapkan alat-alat dan buku-buku sejarah sebelum berangkat sekolah, senang mengerjakan soal yang berhubungan dengan sejarah, dan sebagainya merupakan contoh-contoh yang tergolong komponen konasi. Berdasarkan hasil observasi, maka kecenderungan sikap konasi siswa dalam pembelajaran sejarah termasuk dalam kategori positif, atau memiliki kemampuan konasi dengan baik.

37

Sikap positif siswa dalam kegiatan pembelajaran sejarah mempunyai sumbangan positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sejarah yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan hasil belajar sejarah siswa. Hal ini terjadi karena siswa yang memiliki sikap positif selama kegiatan pembelajaran berlangsung pada umumnya akan diikuti dengan semangat dan motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mempunyai sikap negatif, dengan motivasi belajar yang tinggi akan diikuti instensitas belajar yang lebih baik sehingga pada akhirnya akan mampu meraih prestasi belajar

yang lebih tinggi. Dengan demikian kualitas

pembelajaran sejarah juga dipengaruhi sikap siswa terhadap pelajaran sejarah selama berlangsungnya proses pembelajaran dalam kelas. Siswa perlu memiliki sikap positif terhadap mata pelajaran sejarah, karena dengan sikap positif, dalam diri siswa akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang disajikan. Siswa juga perlu memiliki sikap positif terhadap guru yang mengajar suatu mata pelajaran. Siswa yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru, akan cenderung mengabaikan hal-hal yang disampaikan guru. Dengan demikian, siswa yang memiliki sikap negatif terhadap guru yang mengajar, akan sukar menyerap materi pelajaran yang disajikan. Siswa juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran dalam hal ini mencakup, suasana pembelajaran, strategi dan teknik pembelajaran yang digunakan. Tidak jarang siswa yang merasa kecewa atau tidak puas terhadap proses pembelajaran yang berlangsung, namun mereka tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan. Akibatnya mereka terpaksa mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung dengan perasaan yang kurang nyaman. Hal ini dapat mempengaruhi tarap penyerapan dan atau penguasaan materi yang disajikan atau kompetensi yang dikembangkan. Berdasarkan ungkapan tersebut di atas berdasarkan objeknya, sikap siswa dalam pembelajaran dapat dibedakan antara sikap terhadap guru, sikap terhadap mata pelajaran, sikap terhadap sesama

38

siswa, sikap terhadap strategi pembelajaran yang digunakan guru, dan sikap terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan.

e. Motivasi Belajar Siswa Seperti halnya dengan sikap siswa terhadap pelajaran Sejarah, motivasi belajar siswa juga menunjukkan kategori cukup tinggi dalam mempelajari Sejarah. Menurut R1, R2, XR, R4, mereka merasa motivasi belajarnya cukup tinggi karena didaktik dan metodik yang diterapkan oleh guru tidak membosankan, dan bahkan banyak melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas. Begitu pula dengan pemahaman akan arti penting materi sejarah juga menimbulkan adanya motivasi belajar sejarah. Sejarah dianggap penting dan berguna bagi kehidupannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi belajar siswa memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap keberhasilan proses maupun hasil belajar siswa. Salah satu indikator kualitas pembelajaran

adalah adanya semangat maupun

motivasi belajar dari para siswa. Dalam banyak hal pengertian motivasi dan minat digunakan secara silih berganti, bahkan dalam pendidikan dan psikologi acapkali penggunaannya disamakan. Dalam pengertian umum minat merupakan daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas guna mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian minat merupakan suatu potensi yang ada pada individu yang sifatnya laten atau potensi yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman, sedangkan motivasi adalah kondisi yang muncul dalam diri individu yang disebabkan oleh interaksi antara motif dengan kejadian-kejadian yang diamati oleh individu, sehingga mendorong mengaktifkan perilaku menjadi tindakan nyata. Mereka yang memiliki motivasi tinggi, dapat diidentifikasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) memperlihatkan berbagai tanda aktivitas fisiologis yang tinggi, 2) menunjukkan kewaspadaan yang tinggi, 3) berorientasi pada keberhasilan dan sensitif terhadap tanda-tanda yang berkaitan dengan peningkatan prestasi kerja, 4) memiliki tanggung jawab

39

secara pribadi atas kinerjanya, 5) menyukai umpan balik berupa penghargaan dan bukan insentif untuk peningkatan kinerjanya, 6) inovatif mencari hal-hal yang baru dan efisien untuk peningkatan kinerjanya. Dalam pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta, siswa menunjukkan motivasi yang cukup tinggi. Tingginya motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah dapat pula ditunjukkan dengan baiknya nilai ulangan sejarah baik harian maupun ulangan semester. Dalam hal lain, prestasi akademik siswa juga cukup tinggi seperti ditunjukkan melalui prestasi dibidang lomba-lomba yang bernuansa sejarah seperti lomba cerdas-cermat sejarah, artikel sejarah, lawatan sejarah, lomba bercerita sejarah, dan lain sebagainya.

B. Pembahasan dan Analisis Kinerja guru atau (teacher performance), berkaitan dengan kompetensi atau kemampuan guru dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, untuk memiliki kinerja yang baik, guru harus didukung oleh kompetensi yang baik pula. Dengan demikian, kinerja guru merupakan perwujudan kompetensi yang meliputi kemampuan dan motivasi untuk melaksanakan tugas profesi dengan baik. Sebagaimana dinyatakan dalam (Depdiknas, 2004 b: 11),

bahwa kinerja guru merupakan kemampuan guru untuk

mendemonstrasikan berbagai ketrampilan dan kompetensi yang dimilikinya. Oleh karena itu esensi dari kinerja guru berarti kemampuan guru dalam menunjukkan ketrampilan atau kompetensi yang dimilikinya dalam dunia pendidikan. Dalam kasus SMA 5 Yogyakarta, kinerja guru selalu dievaluasi oleh Kepala Sekolah dalam program suvervisi, sehingga baik tidaknya kinerja guru selalu terpantau (G1). Secara lebih spesifik, Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2003: 89) merumuskan standar Kompetensi guru sebagai berikut: 1) kompetensi pengelolaan pembelajaran yang terdiri atas: penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan interaksi belajar mengajar, penilaian prestasi

40

belajar peserta didik dan pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, 2) kompetensi pengembangan profesi, dan 3) kompetensi penguasaan akademik, yang terdiri atas pemahaman wawasan kependidikan dan penguasaan kajian akademik. Menurut pasal 28 ayat 3 PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan pasal 10 ayat 1 UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen kompetensi guru terdiri dari: a) kompetensi pedagogik; b) kompetensi kepribadian; c) kompetensi profesional; dan, d) kompetensi sosial. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan

berbagai

potensi

yang

dimilikinya.

Kompetensi

kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan

dalam Standar Nasional

Pendidikan. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Dengan demikian ujung tombak dari proses pendidikan adalah proses pembelajaran, dengan demikian untuk memperbaiki kualitas pendidikan, upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran merupakan tuntutan yang tidak

bisa ditinggalkan,

karena tanpa adanya peningkatan

kualitas

pembelajaran, mustahil dapat meningkatkan kualitas output pendidikan, karena output pendidikan tidak lain merupakan output dari proses pembelajaran. Begitu juga hasil belajar siswa tidak akan terlepas dari pengaruh kualitas pembelajaran yang telah berlangsung sebelumnya, karena hasil belajar siwa tidak lain merupakan produk dari sebuah proses, yaitu proses pembelajaran. Tentu saja kualitas proses juga tidak akan terlepas dari

41

pengaruh kualitas input. Hasil pembelajaran sejarah selain output berupa kecakapan akademik, kecakapan personal dan kecakapan sosial, ada hasil yang lain yaitu prestasi siswa dalam bermasyarakat (social achievement) yang disebut outcome. Apabila pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, maka keempat komponen tersebut (input, process, output dan outcome) saling mempengaruhi satu dengan

yang lain. Keempat komponen sistem

pembelajaran sejarah tersebut dapat dibedakan menjadi: a) input dalam pembelajaran sejarah meliputi: fasilitas pembelajaran yang tersedia (ruang kelas beserta kelengkapannya, media pembelajaran seperti peta, map, globe, serta sumber belajar yang tersedia), kurikulum yang digunakan, kualitas guru yang mengajar (latar belakang pendidikan, pengalaman, dan motivasi kerja), dan kualitas siswa yang belajar (IQ, SQ, EQ, motivasi belajar, pengetahuan dan pengalaman siswa) b) proses pembelajaran sejarah, dan c) output pembelajaran sejarah (academic skill, personal skill dan social skill) dan outcome pembelajaran sejarah dalam bentuk keberhasilan dalam masyarakat (social achievement), baik masyarakat lokal, tegional, nasional maupun internasional. Keberhasilan siswa dalam hidup masyarakat merupakan tujuan akhir dari pembelajaran sejarah. Keempat komponen tersebut saling terkait satu dengan yang lain. Kemudian, sekolah sebagai lingkungan eksternal pembelajaran sejarah akan mempengaruhi tersedianya input yang cukup baik, yaitu sarana dan prasarana pembelajaran, kualitas guru dan kualitas siswa. Tersedianya input yang baik akan memungkinkan terselenggaranya proses pembelajaran yang lebih baik, karena dengan adanya sarana dan prasarana pembelajaran yang baik akan memudahkan bagi guru maupun siswa dalam berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran. Tersedianya media pembelajaran akan memudahkan guru dalam mengajar, tersedia sumber dan sarana belajar akan memudahkan siswa dalam belajar. Adanya guru yang berkualitas memungkinkan diperolehnya guru yang mempunyai kinerja lebih baik dalam pembelajaran di kelas, sehingga memudahkan siswa dalam belajar, begitu juga dengan siswa yang mempunyai kecerdasan, minat dan motivasi yang tinggi dalam

42

pembelajaran

sejarah

memungkinkan

terwujudnya

kualitas

proses

pembelajaran yang lebih baik. Tingginya kualitas pembelajaran akan mampu meningkatkan kecakapan akademik, kecakapan personal maupun kecakapan sosial siswa sebagai hasil proses pembelajaran, yang pada akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam masyarakat, dengan kata lain prestasi sosial (social achievement) siswa dalam masyarakat cukup baik. Dalam konteks program pembelajaran, tanpa mengurangi arti penting serta tanpa mengesampingkan faktor-faktor yang lain, faktor kualitas pembelajaran merupakan faktor yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas hasil proses pembelajaran yang pada akhirnya akan berujung pada meningkatnya kualitas pendidikan, karena muara dari berbagai program pendidikan adalah pada terlaksananya program pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu untuk mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran tidak cukup hanya berdasarkan pada hasil penilaian hasil belajar siswa semata, namun perlu juga memperhatikan hasil penilaian terhadap input serta kualitas pembelajaran. Sebagai proses identifikasi dan pemaknaan dari tahapan penelitian yang mengarah pada substansi pembelajaran, maka dapat diinterpretasikan bahwa proses pembelajaran sejarah untuk materi sejarah adalah lebih banyak kepada teori-teori umum tentang pembelajaran. Dalam teori belajar-mengajar yang menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh keterampilan didaktik-metodik guru sangat terbukti dalam penelitian di SMA 5 Yogyakarta ini. Guru di samping sebagai fasilitator sebagaimana konsep baru dalam proses pembelajaran, guru juga sebagai dinamisator dan sumber inspirasi. Ini juga tidak menafikan prinsip student centered learning yang mengharuskan pembelajaran yang berpusat pada siswa, melainkan lebih dari itu, bahwa dalam konsespi yang substantif, guru berperan sejak awal sehingga ada pembelajaran yang erimbang´antara peran guru sebagai pendidik dan pengajar, dan peran siswa sebagai pebelajar. Keseimbangan peran inilah yang menunjukkan adanya kontinum pembelajaran yang bergerak dari strategi

43

ekspositori yang melibatkan peran penuh guru dalam proses pembelajaran maupun bimbingan, hingga pada strategi inkuiri yang melibatkan peran siswa secara penuh. Kemudian sesuai dengan kompleksitas dan globalnya kecenderungan dan perkembangan masyarakat dalam perjalanan sejarahnya, maka sudah pada tempatnyalah apabila persepektif pengajaran sejarah berorientasi pada masa depan. Hal ini berarti akan memerlukan orientasi, atau mungkin lebih tepat perluasan wawasan pengajaran sejarah, yaitu dari orientasi pengajaran sejarah yang menekankan aspek masa kelampauannya (past oriented), perlu diperluas kearah orientasi pengajaran sejarah berwawasan masa depan (future oriented). Penekanan wawasan pengajaran sejarah pada masa depan ini, pada dasarnya juga sesuai dengan hakekat tujuan pendidikan yang mempersiapkan kehidupan masa depan bagi generasi penerus. Konsep masa lampau adalah guru terbaik bagi masa depan, dapat menjadi salah satu perspektif yang strategis dalam menempatkan konsep wawasan masa depan dalam pengajaran sejarah yang dinamis (Djoko Suryo: 2005: 3). Sejalan dengan teori Fenton (1967: 262), bahwa berdasarkan observasi terhadap strategi pembelajaran yang dilakukan oleh para pengajar sejarah, ternyata strategi itu bergerak pada suatu kontinum dari strategi ekspositori sampai pada strategi inkuiri Strategi ekspositori menunjukkan keterlibatan pengajar secara penuh menuntut keterlibatan mental pengajar untuk mampu memilih model dan metode mengajar yang sesuai dengan beban dan isi materi serta tujuan yang akan dicapai. Penentuan terhadap satu model mengajar akan membuka kemungkinan untuk menggunakan beberapa metode mengajar. Guru SMA 5 Yogyakarta secara didaktik metodik menunjukkan cara kerja yang optimal, dan terkesan bersikap inovatif terhadap dinamisasi pembelajaran sejarah. Hal ini terbukti dengan proses penilaian terhadap siswa yang tidak hanya penilaian produk saja, melainkan juga adanya penilaian proses seperti pada tugas, proyek, dan penilaian unjuk kerja. Gagasan ini berkaitan dengan usaha untuk memahami bagaimana para siswa mendapatkan pengalaman dalam pembelajaran. Selama ini sistem

44

evaluasi akhir yang cenderung hanya fokus pada hasil pembelajaran dengan parameter para pendidik. Gagasan ini mendorong inisiasi lahirnya masukan dan umpan balik dari mahasiswa untuk mengevaluasi proses pembelajaran dan pembelajaran yang telah berlangsung. Oleh karena itu sistem umpan balik tidak hanya kesimpulan akhir perkuliahan, namun merupakan suatu proses dalam relasi pembelajaran-pembelajaran yang terus menerus. Realitas yang selama ini terjadi, para pendidik hanya berkonsentrasi pada disseminasi materi tanpa mempertimbangkan bagaimana proses tersebut mempengaruhi peserta didik dan membentuk lingkungan pembelajaran. Sistem umpan balik yang efektif bermaksud menjembatani gap yang ada antara pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendidik selayaknya meluangkan waktu diakhir kegiatan pembelajaran untuk menarik kesimpulan umum dan mengadakan dialog dengan peserta didik. Pola semacam ini memungkinkan terciptanya proses pembelajaran yang kondusif (Carolin Rekar Murno, 2005). Dengan demikian mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran sejarah tidak cukup hanya berdasarkan penilaian hasil belajar siswa yang terbatas pada aspek akademis saja, melainkan juga menjangkau penilaian hasil belajar yang lain yakni kesadaran sejarah dan nasionalisme. Selain itu dalam cara pandang sistem, penilaian perlu dilakukan terhadap input dan proses pembelajaran yang telah berlangsung. Evaluasi program pembelajaran sejarah yang didasarkan pada penilaian hasil belajar berupa kecakapan akademik saja, merupakan kelemahan evaluasi program pembelajaran sejarah selama ini. Oleh karena itu untuk lebih mengoptimalkan evaluasi program pembelajaran sejarah SMA maka perlu dilakukan secara lebih komprehensif yang tidak hanya terfokus pada aspek output pembelajaran semata, melainkan juga menyentuh ranah proses pembelajaran sejarah. Output pembelajaran tidak hanya terfokus pada penilaian ketrampilan akademis (academic skill) tetapi juga menyangkut penilaian terhadap kesadaran sejarah (historical awareness) dan nasionalisme (nationalism). Terhadap kedua variabel yang disebut terakhir tersebut perlu dilakukan karena sejarah merupakan bidang studi yang

45

mempersiapkan peserta didik yang memiliki kesadaran sejarah dan nasionalisme sebagai pendukung character and nation building. Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal istilah penilaian berbasis kelas. Salah satu tujuan perlunya penilaian berbasis kelas yakni memberi umpan balik (feed back) pada program jangka pendek yang dilakukan oleh siswa dalam proses kegiatan belajar dan oleh guru dalam proses kegiatan mengajar sehingga masih memungkinkan untuk mengadakan perbaikan (Depdiknas, 2003 b: 191). Dalam hal ini, objek penilaian berbasis kelas tidak hanya terfokus pada hasil belajar semata, melainkan juga pada siswa dalam proses belajar dan kinerja guru yang mengajar. Hasil penilaian berbasis kelas memberikan feed back pada siswa maupun guru sebagai dasar untuk melakukan perbaikan kegiatan pembelajaran selanjutnya. Untuk mendukung penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang berbasis kompetensi, maka perlu dikembangkan model evaluasi program pembelajaran sejarah SMA yang lebih menyeluruh yang dapat digunakan oleh pimpinan sekolah atau pimpinan sekolah untuk mengevaluasi program pembelajaran yang telah disusun dan dilaksanakan oleh guru. Hasil belajar mata pelajaran sejarah mencakup kecakapan akademik (academic skill), kesadaran sejarah (historical awareness), dan nasionalisme (nationalism).

Kecakapan akademik menyangkut ranah kognitif yang

mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran yang bersumber dari kurikulum yang berlaku. Penilaian kesadaran sejarah (historical awareness) meliputi kemampuan: 1) menghayati makna dan hakekat sejarah bagi masa kini dan masa yang akan datang; 2) mengenal diri sendiri dan bangsanya; 3) membudayakan sejarah bagi pembinaan budaya bangsa; dan 4) menjaga peninggalan sejarah bangsa. Sedangkan aspek nasionalisme (nationalism) menyangkut: 1) perasaan bangga siswa sebagai bangsa Indonesia; 2) rasa cinta tanah air dan bangsa; 3) rela berkorban demi bangsa; 4) menerima kemajemukan; 5) bangga pada budaya yang beraneka ragam; 6) menghargai jasa para pahlawan; dan 7) mengutamakan kepentingan kelompok.

46

Terdapat beberapa sumber yang dapat dijadikan acuan untuk menilai produk pembelajaran sejarah. Savage & Armstrong, dalam Widyoko (2007) bahwa untuk menilai hasil pembelajaran dapat dilakukan melalui: a). penilaian secara informal meliputi observasi guru, diskusi guru dengan siswa, kliping artikel surat kabar, dan teknik-teknik informasi lainnya; b) penilaian secara formal, meliputi: rating scale, checklist, attitude inventories, tes isian, tes pilihan ganda, dan tes melengkapi. Sedangkan dalam Direktorat Tenaga Kependidikan (Depdiknas, 2003 b: 11) dijelaskan bahwa penilaian dalam mata pelajaran selain penilaian tertulis (pencil and paper test), dapat juga menggunakan model penilaian unjuk kerja (performance assessment), penugasan (project), produk (product), atau portopolio (portfolio). Menurut Mardapi (2005: 77), sesuai dengan tujuannya, penilaian yang digunakan di kelas bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu: penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif merupakan bagian integral dari proses pembelajaran peserta didik. Penilaian ini digunakan untuk memperoleh umpan balik dari peserta didik untuk memperkuat proses pembelajaran dan untuk membantu tenaga pendidik menentukan strategi pembelajaran yang lebih tepat. Penilaian formatif dapat dilakukan melalui tugas-tugas, ulangan singkat atau kuis, ulangan harian, dan atau tugas kegiatan praktek. Penilaian ini dilakukan pada dasarnya untuk memperbaiki strategi pembelajaran. Sedangkan penilaian sumatif dilakukan pada akhir blok pelajaran untuk memberi indikasi tingkat pencapaian belajar peserta didik atau kompetensi dasar yang dicapai peserta didik. Bentuk soal ulangan sumatif bisa berupa pilihan ganda, uraian objektif, uraian bebas, tes praktek, dan lainnya. Sependapat dengan itu Daliman (2003: 229) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran sejarah dapat dilakukan penilaian proses yang meliputi teknik belajar, inisiatif, kemampuan berpendapat, motivasi, sikap, partisipasi, dan ketepatan penyelesaian tugas. Sedangkan penilaian hasil pembelajarannya meliputi kebenaran dan keluasan konsep, analisis kritis, kemampuan rekonstruksi, historiografi, dan kemampuan aplikasi isu-isu penting.

47

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa untuk menilai hasil pembelajaran sejarah di SMA dapat menggunakan berbagai teknik penilaian yang adaptif. Pemilihan teknik penilaian yang digunakan tergantung pada aspek kemampuan yang dinilai. Adapun teknik-teknik penilaian yang dapat dipilih seperti: 1) tes tertulis (pencil and paper test) baik dalam bentuk isian, pilihan ganda, maupun menjodohkan; 2) penilaian unjuk kerja (performance assessment); 3) penugasan (project); 4) produk (product); 5) portopolio (portfolio); 6) inventori sikap (attitude inventories); dan 7) rating scale.

48

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran Sejarah di SMA 5 Yogyakarta sebagai implementasi kurikulum nasional selama ini sudah menunjukkan kualitas yang baik. Adanya faktor yang mendukung terhadap kualitas pembelajaran sejarah mrnjadikan materi sejarah dapat diselenggarakan secara optimal. Indikator-indikator itu dapat bersifat internal maupun eksternal, yang berdampak

baik

secara langsung maupun

tidak

langsung terhadap

keberhasilan proses maupun output. Dengan demikian diperlukan cara pikir sistem yang mengevaluasi secara berkelanjutan penerapan KTSP Sejarah secara cermat, yakni berdasarkan sudut pandang sistem yang meliputi konteks, input, proses, dan output, sehingga pembelajaran sejarah dapat memiliki kapabilitas dan kualitas yang baik. Indikator-indikator yang menjadi pendukung dalam implementasi KTSP sejarah terutama dalam proses pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta yakni meliputi: memadainya kompetensi guru baik yang menyangkut kompetensi akademik, pedagogik, sosial, maupun kepribadian; adanya sarana pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah meskipun masih terbatas; atsmospir atau budaya akademik yang kondusif; cukup positifnya sikap siswa terhadap pelajaran sejarah; dan motivasi siswa dalam belajar sejarah siswa yang cukup tinggi. Dengan demikian, indikator-indikator tersebut perlu ditingkatkan dan menjadi perhatian serius oleh seluruh komponen sekolah secara sinergis, agar segala potensi tersebut terus menjadi indikator pendukung untuk keberhasilan kegiatan atau program pembelajaran.

B. Implikasi dan Saran Mengingat adanya ungkapan bahwa tidak ada satu metode dan strategi pun yang paling baik untuk diterapkan kecuali tepat dan sesuai dengan kondisi peserta didik, maka menunjukkan bahwa metode apapun akan cocok dan

49

efektif apabila sesuai dengan kondisi dalam proses pembelajaran. Metode ceramah sekalipun akan cocok apabila peserta didik memiliki tingkat pemahaman tinggi, dan dalam kapasitas kelas yang besar. Namun demikian akan lebih baik apabila pengajar mampu menyeleksi tentang mana-mana metode yang cocok untuk diterapkan dalam kelasnya. Atau dapat pula memadu beberapa metode sehingga proses pembelajaran tidak membosankan bagi peserta didik, dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara substansial, tidak saja hanya menyentuh ranah kognitif belaka, melainkan pula ranah afektif maupun psikomotor. Itu berarti pembelajaran tidak sekedar transfer of knowlenge, melainkan pula transfer of value. Inilah sebenarnya sejatinya sistem pendidikan yang menjadi cita-cita dan tujuan pendidikan nasional secara menyeluruh. Sistem pengajaran yang bermakna adalah pengajaran yang dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Meskipun proses belajar mengajar tidak dapat sepenuhnya berpusat pada peserta didik sebagaimana tuntutan kurikulum kompetensi, tetapi yang perlu dicermati adalah bahwa pada hakekatnya peserta didiklah yang harus belajar dan mengembangkan diri. Oleh karena itu proses belajar mengajar perlu berorientasi pada kebutuhan dan intelektualitas peserta didik. Kegiatankegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar harus dapat memberikan pengalaman belajar lamngsung yang menyenangkan dan berguna bagi peserta didik. Dengan demikian, pengajar perlu memberikan bermacammacam pengalaman baik langsung maupun tidak langsung mengenai situasi belajar yang memadai untuk materi yang disajikan, dan menyesuaikannya dengan kemampuan serta karakteristik peserta didik sebagai insan yang sedang dikembangkan. Berkaitan dengan itu, maka tugas pengajar adalah memberi arahan dan bimbingan yang jelas dan bermanfaat bagi dinamika intelektualitas peserta didik, sehingga peserta didik memiliki bingkai kerja yang kritis dan mendorong untuk bekerja secara aktif dan kreatif. Tanggungjawab profesi pengajar adalah memberikan pelayanan yang baik pada subjek belajar. Sekarang ini pengajar lebih dituntut untuk berfungsi

50

sebagai pengelola proses belajar mengajar yang melaksanakan tugas yaitu dalam merencanakan, mengatur, mengarahkan, dan mengevaluasi. Namun demikian bukan berarti pengajar telah lepas sama sekali dalam proses pembelajaran, melainkan tetap memiliki peran yang besar dalam memimpin proses pembelajaran. Keberhasilan dalam belajar mengajar sangat tergantung pada kemampuan pengajar dalam merencanakan, yang mencakup antara lain menentukan tujuan belajar peserta didik, bagaimana caranya agar peserta didik mencapai tujuan tersebut, sarana apa yang diperlukan, dan lain sebagainya, sehingga proses pembelajaran menjadi terarah. Dalam hal mengatur, yang dilakukan pada waktu implementasi apa yang telah direncanakan dan mencakup pengetahuan tentang bentuk dan macam kegiatan yang harus dilaksanakan, bagaimana semua komponen dapat bekerjasama dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Pengajar bertugas untuk mengarahkan, memberikan motivasi, dan memberikan inspirasi kepada peserta didik untuk belajar. Memang benar tanpa pengarahan pun masih dapat juga terjadi proses belajar, tetapi dengan adanya pengarahan yang baik dari pengajar maka proses belajar dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan dalam hal mengevaluasi, termasuk penilaian akhir, hal ini dimaksudkan apakah perencanaan, pengaturan, dan pengarahannya dapat berjalan dengan baik atau masih perlu diperbaiki. Jika masih terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran, maka tugas pengajar adalah mengembangkannya berdasarkan suatu evaluasi, dan atau bahkan berdasarkan hasil penelitian yang terencana secara sistemis dan sistematis. Dengan demikian pada dasarnya, pengajar adalah peneliti yang harus memiliki kemampuan tinggi dalam menilai dan menginterpretasi gejalagejala yang muncul dalam proses pembelajaran. Jika pengajar tidak memiliki kemampuan meneliti, maka proses pembelajaran yang gagal atau kurang berhasil akan terus berlangsung. Kemudian sebagai saran bagi para staf pengajar khususnya pengajar sejarah, bahwa pembelajaran yang bermakna harus dinamis dan memerlukan kreativitas dari pengajar untuk mengembangkannya. Apabila pengajaran sejarah tetap terpola pada strategi konvensional, maka pengajaran sejarah

51

yang demikian telah terperangkap pada bidang gelap yang menyesatkan. Pengajarah sejarah akan kehilangan arah dan makna, atau lebih buruk lagi dampak destruktruktifnya akan ditinggalkan oleh orang banyak. Dengan demikian, tugas pengajar adalah selalu tanggap terhadap perkembangan situasi, termasuk harus memiliki kompetensi dalam merespon arus perubahan yang semakin global dan kompetitif. Apabila tidak adaptif terhadap berbagai perubahan jaman, maka pengajar sejarah akan ketinggalan dan atau bahkan tergilas oleh arus globalisasi.

52

KEPUSTAKAAN

Bela H.Banathy. (1992). A Systems View of Education: Concepts and Principles for Effective Practice. (Englewood Cliffs: Educational Technology. Cox, J. (2006). The quality of an instructional program. National Education Association-Alaska. Diambil dari pada tanggal 23 Pebruari 2006, dari http://www.ak.nea.org./excellence/coxquality. Cruickshank, D.R. (1990). Research that informs teachers and teacher educators. Bicomington. Indiana: Phi Delta Kappa Educational Foundation Dadang Supardan. (2001). “Kreativitas Guru Sejarah dalam Proses Pembelajaran: Studi Kasus di SMU Kotamadya Bandung”, dalam Historia No. 3 Volume II. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Darling, L. & Hammond. (2000). Teacher quality and student achievement: A Review of state policy evidence. Education Policy Analysis Archives. Volume 8 Number 1. Diambil pada tanggal 17 Pebruari 2006 dari http://epas.asu.edu/epas/v8n1 Davidoff, LL. (1988). “Introduction To Psychology”, alih bahasa Mari Juniati, Psikologi Suatu Pengantar Jilid I. Jakarta: Erlangga. Hadiyanto & Subiyanto. (2003). Pengembalian kebebasan guru untuk mengkreasi iklim kelas dalam manajemen berbasis sekolah. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan no. 040. Januari 2003. diambil pada tanggal 6 September 2006 dari http://www.depdiknas.go.id. Helius Sjamsuddin. (2005). Model-model Pengajaran Sejarah: Beberapa Alternatif untuk SLTA. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Ibrahim Bafadal. (2003). Manajemen perlengkapan sekolah. Teori dan aplikasinya. Jakarta: Bumi Aksara. Krippendorff, Klaus. (1991). Content Analysis: Introduction Its Theory and Methodology”, Alih Bahasa Farid Wajidi, Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi. Jakarta: Rajawali. Manullang. (1991). Pengembangan motivasi berprestasi. Jakarta: Pusat Produktivitas Nasional. Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia. Miles, M.B. and Huberman, A.M. (1984). Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. Beverly Hills CA: Sage Publications. Moleong, L.J. (1999). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muhadjir, Noeng. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin. Mulyasa, E. (2007). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Morrison, D.M. & Mokashi K. & Cotter, K. (2006). Instructional quality indicators: Research foundations. Cambrigde. Diambil pada tanggal 17 Maret 2006 dari www.co.nect.net Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. (2005). Media pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Noeng Muhadjir. (1992). Pengukuran kepribadian. Yogyakarta: Rake Sarasin

53

Ormrod, J.E. (2003). Educational psychology, Developing learners. Fourth edition. New Jersey: Pearson Education, Inc. Patton, M.Q. (1980). Qualitative Evaluation Methods. Beverly Hills, CA.: Sage Publication. Sardiman AM. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Radja Grafindo Persada. Schacter, J. (2006). Teacher performance-based accountability : why, what and how. Santa Moica : Miken Family Foundation. Diambil pada tanggal 15 Pebruari 2006 dari http://www.mff.org/pubs/ performance-assessment. pdf. Spradley, J.P. (1980). Participant Observation. New York, N.Y: holt, Rinehart, and Winston. Soedjatmoko. 1976. “Kesadaaran Sejarah dalam Pembangunan”. Prisma No. 7. Jakarta. Sutopo, H.B. (1995). Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press. Sutopo, H.B. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra UNS. Supardan, Dadan. 2001. “Kreativitas Guru Sejarah dalam Proses Pembelajaran: Studi Kasus di SMU Kotamadya Bandung”, dalam Historia: Jurnal Pendidikan Sejarah, No.3 Vol.II. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Surakhmad, Winarno. 2000. Metodologi Pengajaran Nasional. Jakarta: UHAMKA. Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Waluyo, H.J. 2000. “Hermeneutik Sebagai Pusat Pendekatan Kualitatif”, dalam Historika, No.11. Surakarta: PPS UNJ KPK UNS. Widja, I. Gde. (1989. Dasar-dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: Depdikbud. Widoyoko, S.E.P. (2007). Pengembangan Model Evaluasi Pembelajaran IPS SMP. Yogyakarta: PPS UNY. Winarno Surakhmad, 2000. Metodologi Pengajaran Nasional. Jakarta: Universitas Muhammadiyah Profesor Hamka. Winkel, W.S. (1991). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo. Wiriaatmadja, Rochiati. 2004. “Multicultural Perspective in Teachhing History to the Chinese Indonesian Studies”, dalam Historia: Jurnal Pendidikan Sejarah, No.9 Vol.V. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Yin, R.K. 1987. Case Study Research: Design and Methods. Beverly Hills, CA: Sage Publication.

54

lAMPIRAN 1. CURRICULUM VITAE Nama Tempat Tanggal Lahir NIP Pangkat/Golongan Jabatan Agama Pekerjaan Mata Kuliah Pokok

Instansi Alamat Kantor Alamat Rumah Pendidikan

: Aman, M.Pd. : Salem, Brebes, 15 Oktober 1974 : 132 303 695 : Penata Muda Tk I/ III-b : Asisten Ahli : Islam : PNS Dosen : 1. Sejarah Indonesia 2. Strategi Pembelajaran, Perencanaan Pembelajaran : FISE Universitas Negeri Yogyakarta : Kampus Karangmalang FISE UNY Telpon 0274 586168 Psw. 385. : Joho Blok IV RT.07 RW.62 Condong Catur, Depok Sleman Yogyakarta. Telpon. 085227226897. : S2 Pendidikan Sejarah

Penelitian Lima Tahun Terakhir: 1. Optimalisasi Penerapan Model Inkuiri dalam Pembelajaran Sejarah. PPKP (2005), Anggota. 2. Points dan Coins, Studi Penulisan Bermakna dalam Mata kuliah Pengantar dan Dasar-dasar Ilmu Sejarah RBT (2004), Anggota. 3. Pengembangan Metode Problem Solving dalam Pembelajaran Sejarah. Penelitian Kelompok SP4. (2006), Anggota. 4. Kendala-Kendala dalam Implementasi Kurikulum IPS Materi Sejarah di SMP Piri Ngaglik Sleman. Dosen Muda (2007), Ketua. 5. Pengembangan Model Delikan dalam Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Penelitian Iptek (2007), Ketua. Publikasi Ilmiah Lima Tahun Terakhir 1. Pemilu 2004 dan Budaya Demokrasi Indonesia. SOCIA (2004). 2. Benteng Kendala Reformasi Pengajaran Sejarah. SOCIA (2006). 3. Historisitas dan Kompleksitas Metodologi Penelitian Kualitatif. ISTORIA (2006) 4. Pemikiran Hatta Tentang Demokrasi. MOZAIK (2006). 5. Kloning dan Masalah Sosial Etik. DIMENSIA (2007). Yogyakarta, 5 November 2008 Pembuat,

Aman, M.Pd. NIP. 132 303 695

55

CURRICULUM VITAE Nama NIP Jenis Kelamin Pangkat/Gol/Jabatan Fakultas/Jurusan Perguruan Tinggi Bidang Keahlian Pendidkan Alamat Rumah Alamat Kantor

: Dyah Kumalasari, M.Pd. : 132 304 482 : Perempuan : Penata Muda Tk I/IIIb/Asisten Ahli : FIS/Pendidikan Sejarah : UNY Yogyakarta : Sejarah Indonesia : S-2 PPs UNS : Perum. Grha Palem Indah No. G1, Con-Cat Yogyakarta : Jurusan Pendidikan Sejarah, FIS UNY Telp. (0274) 586168, psw.385. Pengalaman Penelitian : 1. Hidden Curriculum dalam Pembelajaran Sejarah dan Pembentukan Jiwa Nasionalisme. Penelitian FISE Kelompok (2003), Anggota. 2. Points dan Coins, Studi Penulisan Bermakna dalam Mata kuliah Pengantar dan Dasar-dasar Ilmu Sejarah RBT (2004), Anggota. 3. Hambatan Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Dalam Penyusunan Tugas Akhir. Penelitian FISE Kelompok (2005), Anggota. 4. Pendekatan Model Provlem Solving dalam Pembelajaran Sejarah Tata Negara, SP4. (2006), Anggota. 5. Pengembangan Model Small Group Discusion dalam Pembelajaran Sejarah Australia Oceania. Penelitian Kelompok FISE. (2007), Anggota. Publikasi Ilmiah: 1. Sejarah dan Problematika Pendidikan. ISTORIA 2005. 2. Pergolakan Sosial Masyarakat Surakarta Masa Awal Reformasi. DIMENSIA, 2007. 3. Nasionalisme dalam Pendidikan Sejarah. MOZAIK, 2006. 4. Sejarah Pendidikan Indonesia Pada Masa Kolonial. ISTORIA, 2007.

Yogyakarta, 5 November 2008 Yang Membuat,

Dyah Kumalasari, M.Pd. NIP. 132 304 482

56

LAPORAN PENELITIAN PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2008

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG KUALITAS PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA 5 YOGYAKARTA

OLEH: AMAN, M.PD. DYAH KUMALASARI, M.PD.

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN 2008

57

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI Alamat: Kampus Karangmalang Yogyakarta 55281 Telp. 548202, 586168 Psw. 247, 248, 249 ========================================================== LAPORAN PENELITIAN PENDIDIKAN 1. Judul Penelitian

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG KUALITAS PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) 5 YOGYAKARTA Pendidikan Sejarah SMA 5 Yogyakarta 6 bulan/ dari bulan Mei sampai bulan Oktober 2008

2. Bidang Penelitian 3. Lokasi Penelitian 4. Waktu Penelitian 5. Ketua Tim Peneliti a. Nama Lengkap & gelar b. Jabatan c. Jurusan d. Fakultas/Lembaga 6. Alamat E-mail No. Telpon Rumah/HP 7. Jumlah Dana yang Disuslkan

Aman, M.Pd. Asisten Ahli Pendidikan Sejarah FISE/Universitas Negeri Yogyakarta Joho Blok 4 Condongcatur, Depok, Sleman [email protected] 085 227 226 897 Rp 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah)

Yogyakarta, 5 November 2008 Ketua Tim Peneliti,

Dekan FISE Universitas Negeri Yogyakarta,

Sardiman A.M., M.Pd. NIP. 130 814 615

Aman, M.Pd. NIP. 132 303 695 Mengetahui, Ketua Lembaga Penelitian UNY

Prof. Sukardi, Ph.D. NIP. 130 693 819

58

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG KUALITAS PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) 5 YOGYAKARTA ABSTRAK Pembelajaran sejarah memiliki karakteristik khusus dalam tujuan pencapaiannya terutama menyangkut tertanamkannya nilai-nilai kesadaran sejarah dan nasionalisme, di samping kemampuan akademik siswa. Untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, maka perlu pembelajaran yang inovatif sehingga perlu pendukung agar pembelajaran sejarah menjadi berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta selama ini, dan mengetahui faktor-faktor yang mendukung kualitas pembelajaran sejarah di SMA tersebut. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa SMA 5 Yogyakarta tergolong sekolah yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam proses pembelajaran maupun dalam realitas outputnya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bersifat naturalistik. Sedangkan strategi yang digunakan mengingat penelitian tersebut sudah direncanakan secara terperinci dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan, maka strateginya yang cocok adalah embedded research (penelitian terpancang). Adapun langkah-langkahnya adalah 1) pengumpulan sumber melalui wawancara, observasi, dan teknik dokumentasi); 2) mereduksi data dengan tujuan untuk menyederhanakan dan mengkategorisasi data; 3) menyajikan data dalam bentuk deskripsi memorial; 4) menarik kesimpulan sebagai hasil interpretasi; 5) mengajukan rekomendasi berupa implikasi; dan 6) menyusun laporan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta selama ini menunjukkan keanekaragaman pencerminan dimana proses pembelajaran sudah berlangsung cukup baik. Proses pembelajaran sejarah menunjukkan adanya kualitas proses dan hasil pembelajaran. Penilaian yang dilaksanakan oleh guru juga sudah mencakup penilaian proses dan produk pembelajaran. Selanjutnya melalui penelitian ini ditemukan faktor-faktor yang mendukung kualitas pembelajaran di SMA 5 Yogyakarta tersebut yakni adanya kompetensi guru yang sudah memiliki kompetensi dengan baik; adanya sikap siswa yang positif terhadap pelajaran sejarah; adanya motivasi yang cukup tinggi untuk berprestasi dalam mata pelajaran sejarah; sarana pembelajaran yang cukup memadai; dan iklim kelas yang mendukung proses pembelajaran sejarah. Dengan demikian hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan landasan atau pedoman bagi pimpinan sekolah maupun guru pada umumnya untuk senantiasa memerhatikan faktor-faktor yang mendukung terwujudnya kualitas pembelajaran. Kata Kunci: pembelajaran, kualitas, sejarah.

59

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... ii KATA PENGANTAR ............................................................................... iii DAFTAR ISI .............................................................................................. iv

BAB

I. PENDAHULUAN ..................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1 B. Perumusan dan Pemecahan Masalah ..................................... 4 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................. 4

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ..................................................................18 A. Kerangka Teori ..................................................................... 18 1. Pendidikan dan Pengajaran Sebagai Sistem ..................... 18 2. Hakikat Pembelajaran IPS Sejarah ................................... 20 a. Konsep Dasar IPS ..........................................................20 b. Pembelajaran IPS Sejarah ..............................................23 3. Model Delikan dalam Pembelajaran IPS Sejarah ..............28 4. Ekspositori Ke Inkuiri dalam Kegiatan Pembelajaran .......30 B. Kerangka Pikir ..................................................................... 33 C. Hipotesis Tindakan .............................................................. 34 BAB III. PELAKSANAAN PENELITIAN .............................................. 18 B. Perencanaan Penelitian ......................................................... 18 C. Pelaksanaan penelitian .... .................................................... 19 1. Tempat Penelitian ............................................................ 19 2. Bidang Penelitian ............................................................. 19 3. Sumber Data .................................................................... 19 4. Pengumpulan Data .......................................................... 20 5. Penerapan Siklus Penelitian ............................................ 20 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 40 A. Hasil Penelitian .................................................................... 40

60

1. Gambaran Umum SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta .. 40 2. Konsep Dasar IPS Sejarah ................................................ 45 2. Proses Pembelajaran IPS Sejarah .................................... 40 B. Pembahasan dan Analisis .................................................... 52 BAB V. PENUTUP ................................................................................ 56 A. Kesimpulan ......................................................................... 56 B. Implikasi dan Saran ............................................................ 56 LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................... 59 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penelitian ini meskipun menemui berbagai hambatan baik teknis maupun metodologis. Penelitian ini berjudul faktor-faktor pendukung kualitas pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Yogyakarta. Namun demikian, keberhasilan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang sangat besar kontribusinya bagi terselesaikannya penelitian ini. Oleh karenaitu, dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih yang dalam kepada: 1. Universitas Negeri Yogyakarta yang telah mendanai penelitian ini sehingga penelitian tindakan ini dapat diselesaikan dengan baik. 2. Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta yang juga telah memberi kesempatan kepada kami melalui terseleksinya proposal penelitian kami di tingkat Sekolah, yang telah memuluskan jalannya penelitian ini. 3. Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNY yang juga telah mendorong kami untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan profesi bagi kami yang sangat kami hargai.

61

4. Kepala SMA 5 Yogyakarta yang telah dengan tulus bersedia mengijinkan sekolah sebagai lokasi penelitian, dan sekaligus menjadi kolaborator dalam penelitian ini. 5. Pak Edi, pak Bambang yang telah bersedia memberikan informasi yang bermanfaat bagi penelitian ini, sehingga memudahkan dalam proses penyelesaiannya. 6. Teman sejawat yang ikut mendukung terselesaikannya penelitian ini kami sampaikan terima kasih yang tulus. 7. Berbagai pihak yang juga ikut berpartisipasi dalam penelitian ini kami menyampaikan terima kasih yang amat dalam. Namun demikian, bukan berarti hasil penelitian ini tidak terdapat kekurangan dan kelemahan, tetapi justru kami merasa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Kami merasa demikian mengingat masih adanya kendala-kendala

yang

kurang

mendukung

optimalnya

pelaksanaan

penelitian kami, seperti terbatasnya waktu dan kurangnya sarana pendukung untuk kegiatan penelitian ini. Oleh karena itu, dalam kesempaatan ini kami mengharapkan kepada berbagai pihak terutama pembaca untuk memberikan masukkan berupa saran dan kritik yang sifatnya membangun bagi kebaikan penelitian ini. Pun juga kepada para pengajar di di sekolah untuk secara bersama sama meningkatkan kualitas proses pembelajaran, melalui pengembangan berbagai model pembelajaran yang sifatnya dinamis, baik secara mandiri maupun melalui penelitian yang sifatnya kontinum. Akhirnya kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, semoga penelitian ini dapat bermanfaat terutama bagi kami, atau bahkan bagi para pembaca yang bersedia untuk mengembangkannya.

Yogyakarta, 12 November 2008 Ketua Tim Peneliti,

Aman, M.Pd.

62

Berawal dari prakarsa para tokoh pendidikan dan tokoh masyarakat di Yogyakarta yang antara lain Bapak R. DS. Hadiwidjono, Bapak Sudjana, Prof. Ir Haryono, Prof. Ir Supardi, Prof. Suhardi, SH, pada tanggal 17 september 1949, SMA Negeri 5 Yogyakarta secara resmi dapat didirikan dengan nama Sekolah Menengah Umum Atas Bagian Yuridis Ekonomi (SMA/AC) dan menempati gedung SMA Putri Stella Duce Yogyakarta. Pada tanggal 27 Oktover 1949, melalui surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 210 B, SMA C memperoleh status menjadi SMA Bagian C Negeri. Sebagai kepala sekolah adalah Bapak R.D.S Hadiwijana. Tanggal 31 maret 1950 pimpinan sekolah yang diserah terimakan kepada Bapak Suwito Puspo Kusumo, yang selanjutnya diserahkan kepada Bapak RA Djoko Tirto, SH. Dibawah pimpinan Bapak R.A Djoko, SH SMA bagian C berkembang pesat. Tanggal 21 Juli 1952 melalui SK Menteri Pendidikn& Keudayaan nomor 3094/B, SMA/C dipecah menjadi 2 sekolah yaitu:

63

1) MA Bagian C Negeri dibawah pimpinan Bapak Parwanto SH yang menempati gedung di Jalan Pogung No 2 Kotabaru, Yogyakarta, masuk pada siang hari (sekarang menjadi SMA N 5 Yogyakarta). 2) SMA Bagian C Negeri II dipimpin Bapak RA Djoko Tirtono SH yang menempati gedung yang sama tetapi masuk pada pagi hari (sekarang menjadi SMA N 6 Yogyakarta). Untuk mengantisipasi kemajuan jaman dengan mneyiapkan siswa untuk dapat melanjutkan ke Perguruan tinggi, maka pada tanggal 1 gustus 1959 SMA Negeri V Bagian C dijadikan SMA Negeri V bagian A-C. Pada tahun tersebut berhasil dibakukan : 1) peraturan dan tata tertib sekolah; 2) Lagu Mars Puspanegara; 3) Lambang sekolah “Puspanegara“ yang memiliki tugas suci “Trus Hakarya Ruming Praja“ mengandung makna agar nantinya para siswa SMA N 5 Yogyakarta terus berkarya demi keharuman Negara dan Bangsa. Sejak resmi berdiri sampai saat ini, SMA N 5 Yogyakarta telah mengalami

berkali-kali

pergantian

Kepala

Sekolah.

Setiap

kepemimpinan membawa perubahan kearah peningkatan. Lebih dari 10 orang kepala sekolah pernah menjabat dan memimpin di SMA N 5 Yogyakarta. Pada tanggal 11 Juli 1999, SMA N 5 Yogyakarta diserah terimakan kepada Bapak Drs Panut S, karena kepala sekolah sebelumnya yaitu Bapak Drs N Ngabdurahim menjalani masa purna tugas. Bapak Drs. Panut S menggantikan posisi beliau untuk beberapa saat hingga datang kepala sekolah tetap yang baru.

64

Kepala sekolah yang baru datang pada bulan Desember 1999 yaitu Bapak Drs Ilham. Pada periode ini, Bapak Drs. H Ilham memiliki program utama meningkatkan ketakwaan sehingga pada saat itu salah satu wujudnya adalah diresmikannya masjid SMA N 5 Yogyakarta dengan nama masjid DARUSSALAM PUSPANEGARA. Beliau menjabat hingga purna tugas. Pada bulan Desember 2001 Bapak Drs Timbul Mulyono, kepala sekolah SMA N 7 Yogyakarta ditunjuk untuk menggantikan sementara posisi kepala sekolah. Tanggal 25 Maret 2002 kepala sekolah dijabat oleh Bapak Drs. H Abu Suwardi. Program beliau adalah pembangunan etos kerja pada semua guru dan karyawan dan membangun kedisiplinan pada para siswa. Adapun visi SMA 5 Yogyakarta adalah berusaha menciptkan manusia yang memiliki citra moral, citra keceendekiawanan, citra kemandirian dan berwawasan linkungan berdasarkan atas ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan misinya adalah sebagai berikut. 1) Terbentuknya insan pelajar yang memiliki moral, perilaku yang baik, berbudi pekerti yang luhur berbudaya bangsa Indonesia dan berakhlakul karimah berdasarkan aturan-aturan yang berlaku baik di kalangan masyarakat, sekolah, negara maupun agama. 2) Terbentuknya generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi berjiwa patriotis, nasionalis tanpa mengabaikan

65

nilai-nilai norma serta nilai-nilai luhur kebangsaan maupun keagamaan. 3) Terbentuknya generasi yang berjiwa mandiri, senang beraktivitas dan berkreatifitas untuk menatap kehidupan masa depan yang lebih cerah dalam menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi. Adapun tujuan umum SMA N 5 Yogyakarta adalah sebagai berikut. 1) Menghasilkan genarasi yang berwawasan imtak dan iptek serta berfikir kedepan. 2) Menghasilkan genarasi yang bermoral yang disiplin, jujur, bersih, berdedikasi serta bertanggung jawab. 3) Mengingatkan dan menumbuhkembangkan bakat dan prestasi siswa dibidang akademis maupun non akademis. 4) Mewujudkan

dan

mempersiapkan

genarasi

berwawasan

kebangsaan dan berjiwa patriot. 5) Menghasilkan genarasi yang peduli dan peka terhadap lingkungan. Sedangkan tujuan khususnya SMA Negeri 5 Yogyakarta adalah sebagai berikut. 1) Meningkatkan prestasi akademik a) Lulus 100% dalam ujian nasional maupun ujian sekolah b) Masuk 4 besar tingkat kota dalam prestasi hasil ujian nasional c) Minimal 75% dari jumlah siswa diterima di PTN, 96% melanjutkan keperguruan tinggi.

66

d) Perstasi olimpiade MIPA besar, tingkat kota/ propinsi, ikut di tingkat nasional e) Perstasi lomba akademik diluar olimpiade tiga besar tingkat kota/propinsi (termasuk Bahasa Inggris) 2) Meningkatkan perstasi non akademik a) Peringkat tiga besar pada lomba musik tingkat kota, provonsi, nasional b) Juara satu lomba PIKN, UKS tingkat propinsi c) Peringkat tiga besar lomba Tonti tingkat kota/propinsi 3) Santun dalam perilaku, rajin dalam menjalankan kerintah agama Namun demikian, terdapat tantangan nyata yang dihadapi sekolah yang betul-betul dihadapi secara serius adalah sebagai berikut. 1) Memepertahankan tingkat kelulusan sekolah sebesar 100% setuap tahunnnya. 2) Daya komperisi hasil kelulusan tahun pelajaran 2008/2009 belum semuanya (program IPA maupun IPS memperoleh peringkat 4 besar tingkat kota dalam kenyataannya program IPA belum memenuhi target sedangkan program IPS memperoleh 5 besar. dan dalam hal ini tantanga yang dihadapi adalah untuk program IPA. 3) Tingkat keberhasilan dalam oleimpiade sains yang masih belum sesuai dengan harapan (dari pesarta olempiade biologi, fisika, kimia,

astronomi,

dan

67

matematika

minimal

diharapkan

memeperoleh 5 besar propinsi sementara hasil yang diperoleh baru astronomi peringkat 2 tingkat propinsi dan lolos tingkat nasional). 4) Tingkat keberhasilan lomba penelitian ilmiah remaja (LPIR) yang masih sangat kurang baik tingkat kota maupun tingkat propinsi (dari target yang diharpkan milimal satu siswa dapat memperoleh 3 besar tingkat kota/propinsi setiap tahunnnya, ternyata masih belum terlaksana). 5) Tingkat keberhasilan siswa yang diterima di PTN masih dibawah presentase yang dihaeapkan sekolah. Dari target yang diharapkan minimal 75 % dari jumlah pendaftar diterima di PTN ternyata baru mencapai 72% yang berat besar tantanganya 3 %. 6) Tingkat kepedulian para siswa terhadap lingkungan masih rendah. Target

yang diharapkan tingkat kepekaan siswa terhadap

lingkungan kelas minimal 95 persen, dalam kenyataan prosentase jumlah siswa yang peka terhadap lingkunga kelas sekitar 60 persen yang berarti tantangan yang dihadapi adalah sekitar 35 persen. Sasaran atau tujuan situasional sekolah menengah tersebut adalah sebagai berikut. 1) Tercapainya prosentase hasil kelulusan siswa sebasar 100 persen pada setiap tahunnnya. 2) Tercapainya prestasi hasil ujian nasional setiap tahunnya empat besar tingkat kota maupun propinsi.

68

3) Tercapainya lima besar prestasi hasil olimpiade sains setiap tahun tiap mata pelajarannnya dan biasa memasuki tingkat nasional. 4) Tercapainya prosentase jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi minimal 70 persen pada seriap tahunnya. 5) Tercapainya prestasi 3 besar hasil lomba bahasa inggris ditingkat kota maupun tingkat propinsi. 6) Tercapainya prestasi 3 besar hasil LIR ditingkat kota maupun tingkat propinsi minimal 95 persen dari jumlah siswa adalah peka terhadap lingkungan. Kondisi fisik SMA N 5 Yogyakarta pada umumnya sudah baik dan memenuhi syarat untuk menunjang proses pembelajaran dengan lingkungan dalam sekolah yang cukup nyaman. Selain itu SMA Negeri 5 Yogyakarta sudah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai untuk menunjang proses pembelajaran, seperti ruang kelas, ruang multimedia, laboratorium fisika dan biologi, kimia, bahasa, TI, ruang kantor, ruang kepala sekolah, dan ruang atau gedung penunjang lainnya. Saat ini SMA N 5 Yogyakarta dipimpin oleh bapak Drs. Munjid Nur Alamsyah, MM.

b. Temuan Uji Coba Operasional di SMA N 5 Yogyakarta Uji coba operasional lapangan di SMA Negeri 5 Yogyakarta diterapkan pada subjek siswa, guru, dan kepala sekolah. Jumlah subjek guru sejarah adalah 2 orang dan kepala sekolah 1 orang. Sedangkan

69

jumlah subjek siswa sebanyak 137 yang diambil pada kelas XI IPA 2 dan 4, IPS 2 dan 3. Pengambilan kelas dilakukan secara acak mengingat karakteristik siswa pada kelas XI tersebut homogen, sehingga kelas manapun yang dicuplik tidak akan berpengaruh terhadap hasil uji coba operasional lapangan ini. Responden diminta untuk memberikan penilaian melalui quesioner dan memberikan penilaian melalui butir-butir pertanyaan dalam quesioner. Untuk subjek coba kepala sekolah dan guru diminta pendapatnya untuk menilai tentang kelayakan instrumen berupa angket sebagai alat pengumpul data, model evaluasi pembelajaran sejarah, dan panduan evaluasi. Sementara beberapa subjek coba siswa juga diminta untuk menilai tentang kelayakan instrumen berupa angket sebagai alat pengumpul data, terutama angket kualitas dan hasil pembelajaran. Pada uji coba operasional lapangan di SMA Negeri 5 Yogyakarta ini, juga dilakukan estimasi reliabilitas instrumen dengan menggunakan bantuan program SPSS for Windows 17.0, yakni sebuah alat

analisis

untuk

menentukan

kelayakan

instrumen

yang

dikembangkan. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan bantuan program SPSS for Windows 17.0 tersebut menunjukkan bahwa seluruh instrumen yang dikembangkan baik instrumen kualitas maupun hasil pembelajaran sejarah memiliki koofesien alpha (α) = di atas 0.7 yang menunjukkan bahwa instrumen dapat dikatakan reliabel (Nunnally, 1978: 230).

70

Penilaian siswa terhadap implementasi komponen dan indikator kualitas pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Yogyakarta menunjukkan bahwa: komponen kinerja guru sejarah, materi pelajaran sejarah,

metode

pembelajaran,

sarana

pembelajaran,

suasana

pembelajaran, dan motivasi belajar sejarah dinilai baik oleh siswa. Hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah di SMA N 5 Yogyakarta memiliki tingkat kualitas pembelajaran yang baik. Meskipun klasifikasi komponen kualitas pembelajaran antara SMA N I Yogyakarta dengan SMA N 5 Yogyakarta sama, tetapi jika dilihat rerata skornya di SMA N I lebih tinggi jika dibandingkan dengan di SMA 5 Yogyakarta. Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa siswa menanggap kinerja guru sejarah sudah baik dan memiliki tanggung jawab profesional yang baik. Guru selalu tepat waktu, dan memiliki kedisiplinan yang tinggi. Guru juga banyak memanfaatkan media pembelajaran baik peta, gambar, maupun reflika lain yang dapat digunakan (SS3-1, Wawancara, 24 Mei 2010). Sekolah juga memiliki ruang belajar yang santai di lengkapi dengan berbagai reflika untuk kegiatan pembelajaran. Di samping itu sekolah juga memiliki ruang multimedia

dan

laboratorium

internet

yang

cukup

memadai

yang

digunakan

(Observasi, 20 Mei 2010). Materi

pembelajaran

sejarah

dan

dikembangkan di SMA 5 termasuk dalam klasifikasi baik. Buku-buku

71

paket menggunakan buku-buku yang sudah distandarkan oleh BSNP. Materi-materi tersebut selanjutnya dikemas melalui penggunaan media powerpoint maupun handout yang berdasarkan penilaian siswa baik karena materi pelajaran dapat dipahami dengan jelas. Begitu pula dengan metode yang dikembangkan oleh guru sudah bervariatif, meskipun pembelajaran pada umumnya berlangsung dalam kelas (SS3-2, Wawancara, 22 Mei 2010). Terdapat perbedaan antara kedua guru sejarah yang ada di sekolah yakni yang satu lebih banyak humor dalam mengajar, dan yang satunya lagi serius dalam melaksanakan pembelajaran tetapi dengan penampilan yang sangat rileks. Dengan demikian, siswa memandang mereka dapat saling melengkapi dalammelaksanakan pembelajaran. Selanjutnya sarana pembelajaran yang tersedia di sekolah sudah baik, dimana sekolah sudah menyediakan laboratorium internet, ruang multimedia, dan perpustakaan yang cukup menunjang. Demikian pula halnya dengan suasana pembelajaran sudah kondusif, terlihat dari suasana pembelajaran yang demokratis, dan adanya dukungan

guru

terhadap

upaya

pengembangan

kemampuan

intelektualitas siswa. Hubungan antara siswa-dengan siswa lainnya juga terlihat baik (Observasi 20 Juni 2010). Sikap dan motivasi siswa meskipun masuk dalam klasifikasi baik, tetapi rerata skornya masing-masing 3.65 dan 3.63, artinya mendekati klasifikasi cukup. Berdasarkan pengakuan siswa mereka

72

tidak begitu senang dengan pelajaran sejarah, dan itu berdampak terhadap motivasi belajar sejarah. Permasalahan yang sama dengan sekolah lainnya adalah bahwa mata pelajaran sejarah tidak di ujikan secara nasional, sehingga fokus belajar terhadap mata pelajaran-mata pelajaran yang di unaskan. Selain itu, kajian yang belum sepenuhnya menyentuh nilai-nilai yang luhur dari substansi sejarah juga berpengaruh pada sikap dan motivasi belajar sejarah (SS3-3, Wawancara, 22 Juni 2010). Guru sejarah di SMA N 5 Yogyakarta ada 2 orang dimana keduanya berkualifikasi strata-1. Penilaian guru sejarah di SMA N 5 Yogyakarta terhadap implementasi komponen dan indikator kualitas pembelajaran sejarah, menunjukkan bahwa komponen kinerja guru dinilai sangat baik dengan rerata skor 4.28. Sementara komponen materi

pelajaran

sejarah,

metode

pembelajaran,

dan

sarana

pembelajaran dinilai baik, dengan masing-masing rerata skor 4.08, 4.05, dan 4.09. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sejarah, mereka merasa telah melaksanakan pembelajaran secara maksimal. Untuk memberikan pemahaman yang baik pada siswa, maka digunakan media pembelajaran seperti peta, gambar, dan powerpoint (GS3-1, Wawancara, 25 Mei 2010). Dalam menanamkan sikap kesadaran sejarah dan nasionalisme, guru menjelaskan dengan perumpamaan tiang bendera, siswa disuruh merenungkan bahwa tiang bendera yang digunakan untuk upacara

73

bendera adalah tulang-tulang para pahlawan yang diikat menjadi satu, sehingga berdirilah tiang. Oleh karena itu, berdirinya tiang bendera tersebut bukanlah suatu hal yang mudah melainkan melalui pengorbanan yang besar dari para pahlawan (GS3-2, Wawancara 25 Mei 2010). Sementara untuk materi pelajaran sejarah guru menilai baik mengingat buku-buku yang digunakan di sekolah adalah buku-buku yang sudah distandarkan oleh BSNP. Di samping itu dilengkapi pula oleh buku-buku ensiklopedi dan sumber-sumber referensi lain (Observasi 20 Mei 2010). Demikian juga dengan metode pembelajaran guru mengatakan bahwa metode pembelajaran sudah diusahakan secara maksimal agar siswa dapat memahami materi pelajaran secara lebih baik. Sedangkan sarana yang tersedia di sekolah meskipun SMA 5 Yogyakarta belum memiliki laboratorium IPS secara khusus, tetapi media dan sarana yang ada dianggap sudah dapat meninjang (GS3-2, Wawancara, 25 Mei 2010). Terhadap kinerja guru sejarah, kepala sekolah SMA Negeri 5 Yogyakarta

menilai baik yakni dengan rerata nilai 3.57. Kepala

sekolah menilai guru sejarah di SMA ini telah melaksanakan tugas belajar mengajar sejarah dengan baik. Kepala sekolah memberi nilai sama dengan penilaian siswa yakni klasifikasi baik. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, dijelaskan bahwa kedua guru sejarah sudah cukup senior, sehingga memiliki pengalaman mengajar yang

cukup.

Guru

telah

74

berusaha

untuk

menyelenggarakan

pembelajaran sejarah yang baik dan mendidik melalui optimalisasi metode pembelajaran (KS3, Wawancara, 24 Mei 2010). Guru memiliki perencanaan mengajar yang baik yang dibuktikan dengan perangkat mengajar yang lengkap, mulai dari merumuskan tujuan pembelajaran sampai sistem evaluasi. Berdasarkan hasil penilaian siswa terhadap implementasi komponen dan indikator hasil pembelajaran sejarah di SMA N 5 Yogyakarta menunjukkan bahwa kesadaran sejarah dan sikap nasionalisme siswa termasuk dalam kategori baik. Kesadaran sejarah siswa rerata skornya 3.81 sedangkan sikap nasionalisme memiliki rerata skor 3.71. Siswa memandang penting kesadaran sejarah di kalangan generasi muda, demikian pula halnya dengan sikap nasionalisme. Suatu bangsa akan kokoh apabila masyarakatnya memiliki rasa kesadaran sejarah dan nasionalisme. Oleh karena itu, adalah

penting

untuk

melestarikan

budaya

bangsa

termasuk

peninggalan sejarah bangsa. Sikap nasionalisme juga dikembangkan di sekolah melalui kegiatan-kegiatan seperti upacara bendera, pramuka, dan kegiatan-kegiatan bertemakan kebangkitan nasional, seperti lomba artikel, cerita sejarah, lawatan sejarah, dan lain-lain (SS3-4, Wawancara 22 Mei 2010). Penilaian hasil belajar sejarah, di samping menilai kesadaran sejarah dan nasionalisme, komponen hasil pembelajaran sejarah juga mencakup kecakapan akademik. Penilaian kecakapan akademik

75

menggunakan hasil ulangan semester genap yang diambil pada kelas XI dalam penelitian ini. Di SMA N 5 Yogyakarta ini, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran sejarah adalah 7.0 (tujuh koma nol). Berdasarkan hasil ulangan akhir semester genap 2009/2010, maka diketahui rerata nilai ulangan siswa kelas XI baik IPA maupun IPS adalah 78.10. Hal ini menunjukkan bahwa rerata nilai kecakapan akademik siswa sudah baik, dengan rerata di atas KKM.

76



Deskripsi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan tujuan pendidikan (output),

sangat ditentukan oleh

implementasinya (proses), dan implementasinya sangat dipengaruhi oleh tingkat kesiapan segala hal (input) yang diperlukan untuk berlangsungnya implementasi. Keyakinan ini berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan diciptakan oleh-Nya serba sistem (utuh dan benar) dengan catatan utuh dan benar menurut hukum-hukum ketetapan-Nya (Slamet, 2005: 1). Jika demikian halnya, tidak boleh berpikir dan bertindak secara parsial apalagi parosial dalam melaksanakan pendidikan dan pembelajaran. Sebaliknya, perlu berpikir dan bertindak secara holistik, integratif, terpadu dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Sekolah sebagai sistem tersusun dari komponen konteks, input, proses, output, dan outcome. Konteks berpengaruh pada input, input berpengaruh pada proses, proses berpengaruh pada output, serta output berpengaruh pada outcome. Dalam sebuah sistem, terbentuk sub-sub sistem yang secara sinergis saling mendukung dalam pencapaian tujuan penyelenggaraan program dalam hal ini adalah program pendidikan sejarah. Proses belajar mengajar merupakan proses yang terpenting karena dari sinilah terjadi interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik. Di sini pula campur tangan langsung antara pendidik dan peserta didik berlangsung sehingga dapat dipastikan bahwa hasil pendidikan sangat tergantung dari perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Dengan demikian dapat diyakini bahwa perubahan hanya akan terjadi jika terjadi perubahan perilaku pendidik dan peserta didik. Dengan demikian posisi pengajar dan peserta didik memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran (Surakhmad, 2000: 31). Proses belajar mengajar merupakan serangkaian aktivitas yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Ketiga hal tersebut merupakan rangkaian utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Persiapan

1

belajar mengajar merupakan penyiapan satuap acara pelajaran (SAP) yang meliputi antara lain standar kompetensi dan kompetensi dasar, alat evaluasi, bahan ajar, metode pembelajaran, media/alat peraga pendidikan, fasilitas, waktu, tempat, dana, harapan-harapan, dan perangkat informasi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar. Kesiapan siswa, baik fisik maupun mental, juga merupakan hal penting. Jadi esensi persiapan proses belajar mengajar adalah kesiapan segala hal yang diperlukan untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. Pelaksanaan proses belajar mengajar, merupakan kejadian atau peristiwa interaksi antara pendidik dan peserta didik yang diharapkan menghasilkan perubahan pada peserta didik, dari belum mampu menjadi mampu, dari belum terdidik menjadi terdidik, dari belum kompeten menjadi kompeten. Inti dari proses belajar mengajar adalah efektivitasnya. Tingkat efektivitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Perilaku pendidik yang efektif, antara lain mengajarnya jelas, menggunakan variasi metode pembelajaran, menggunakan variasi media/alat peraga pendidikan, antusiasme, memberdayakan peserta didik, menggunakan pembelajaran kontekstual (contextual-teaching and learning), menggunakan jenis pertanyaan yang membangkitkan, dan lain sebagainya. Sedang perilaku peserta didik, antara lain motivasi atau semangat belajar, keseriusan, perhatian, karajinan, kedisiplinan, keingintahuan, pencatatan, pertanyaan, senang melakukan latihan soal, dan sikap belajar yang positif. Pembelajaran semacam ini akan berjalan efektif melalui pendekatan konstruktivistik. Untuk mewujudkan tingkat efektivitas yang tinggi dari perilaku pendidik dan peserta didik, perlu dipilih strategi proses pembelajaran kontekstual yang efektif dan bermakna dengan mendekatkan pada realitas dan pengalaman. Jenis realita bisa asli atau tiruan, dan jenis pengalaman bisa kongkret atau abstrak. Pendekatan proses belajar mengajar akan menekankan pada student centered, reflective learning, active learning, enjoyble dan joyful learning, cooperative learning, quantum learning, learning revolution, dan

2

contectual learning. Tujuan pembelajaran sejarahadalah untuk menumbuhkan nasionalisme dan integrasi nasional, maka pendekatan yang cocok adalah pendekatan multiperspektif dan multikultural (Wiriaatmadja, 2004: 62). Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil pembelajaran. Dengan demikian fokus evaluasi pembelajaran adalah pada hasil, baik hasil yang berupa proses maupun produk. Informasi hasil pembelajaran ini kemudian dibandingkan dengan hasil pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika hasil nyata pembelajaran sesuai dengan hasil yang ditetapkan, maka pembelajaran dapat dikatakan efektif. Sebaliknya, jika hasil nyata pembelajaran tidak sesuai dengan hasil pembelajaran yang ditetapkan, maka pembelajaran dikatakan kurang efektif. Pendidik menggunakan berbagai alat evaluasi sesuai karakteristik kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Dalam rangka pengembangan pembelajaran sejarah agar lebih fungsional dan terintegrasi dengan berbagai bidang keilmuan lainnya, maka terdapat berbagai bidang yang seyogianya mendapat perhatian, yaitu: pertama, untuk menjawab tantangan masa depan, kreativitas dan daya inovatif diperlukan agar suatu bangsa bukan hanya sekedar manjadi konsumen IPTEK, konsumen budaya, maupun penerima nilai-nilai dari luar secara pasif, melainkan memiliki keunggulan kompetitif dalam hal penguasaan IPTEK. Oleh karenanya, sikap, motivasi, dan kreativitas perlu dikembangkan melalui penciptaan situasi proses belajar mengajar yang dinamis di mana pengajar mendorong vitalitas dan kreativitas peserta didik untuk mengembangkan diri. Kedua, peserta didik akan dapat mengembangkan daya kreativitasnya apabila proses belajar mengajar dilaksanakan secara terprogram, sistemis dan sistematis, serta ditopang oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Ketiga, dalam proses pengembangan kematangan intelektualnya, peserta didik perlu dipacu kemampuan berfikirnya secara logis dan sistematis. Dalam proses belajar mengajar, pengajar harus memberi arahan yang jelas agar peserta didik dapat memecahkan suatu persoalan secara logis dan ilmiah. Keempat, peserta didik harus diberi internalisasi dan keteladanan, dimana

3

mereka dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Fenomena ini dalam hal-hal tertentu dapat membentuk semangat loyalitas, toleransi, dan kemampuan adaptabilitas yang tinggi. Dalam pendekatan ini perlu diselaraskan dengan kegiatan proses belajar mengajar yang memberi peluang kepada mereka untuk berprakarsa secara dinamis dan kreatif. Oleh karena itu, diperlukan kinerja guru yang mendukung pencapaian kualitas tersebut. Untuk

memperoleh

gambaran

yang

jelas

tentang

dinamika

pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah yang tergolong sekolah berkualitas selama ini, maka penelitian ini akan dilaksanakan di SMA 5 Yogyakarta, dengan asumsi bahwa SMA tersebut dapat menggeneralisasi sekolah-sekolah berkualitas lainnya. Adapun fokus penelitian ini adalah menyangkut faktorfaktor yang mendukung kualitas pembelajaran sejarah di SMA.

B. Rumusan Masalah a. Bagaimana dinamika pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta selama ini ? b. Faktor-faktor apa yang menjadi pendukung kualitas pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta ?

C. Tujuan Penelitian a. Mengetahui dinamika pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta selama ini? b. Mengetahui faktor-faktor pendukung kualitas pembelajaran di SMA 5 Yogyakarta ?

D. Manfaat Penelitian a. Memberi masukan yang berguna bagi dinas pendidikan maupun kepala sekolah

untuk

memerhatikan

faktor-faktor

pendukung

kualitas

pembelajaran. b. Memberi masukan yang penting bagi guru untuk terobsesi dalam peningkatan kinerja dalam pembelajaran.

4

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kualitas Pembelajaran Sejarah Pembelajaran sejarah sebagai sub-sistem dari sistem kegiatan pendidikan, merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan integritas dan kepribadian bangsa melalui proses belajar mengajar. Keberhasilan ini akan ditopang oleh berbagai komponen, termasuk kemampuan dalam menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Sistem kegiatan pendidikan dan pembelajaran adalah sistem kemasyarakatan yang kompleks, diletakkan sebagai suatu usaha bersama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dalam rangka untuk membangun dan mengembangkan diri (Bela H. Banathy, 1992 : 175). Dalam konteks yang lebih sederhana, pembelajaran sejarah sebagai sub sistem dari sistem kegiatan pendidikan, merupakan usaha pembandingan dalam kegiatan belajar, yang menunjuk pada pengaturan dan pengorganisasian lingkungan belajar mengajar sehingga mendorong serta menumbuhkan motivasi peserta didik untuk belajar dan mengembangkan diri. Di dalam pembelajaran sejarah, masih banyak kiranya hal yang perlu dibenahi, misalnya tentang porsi pembelajaran sejarah yang berasal dari ranah kognitif dan afektif. Kedua ranah tersebut harus selalu ada dalam pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah yang mengutamakan fakta keras, kiranya perlu mendapat perhatian yang signifikan karena pembelajaran sejarah yang demikian hanya akan menimbulkan rasa bosan di kalangan peserta didik atau siswa dan pada gilirannya akan menimbulkan keengganan untuk mempelajari sejarah (Soedjatmoko, 1976 : 15). Keberhasilan program pembelajaran sangat

ditentukan oleh tinggi

rendahnya kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, aktivitas dan kreativitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar akan berkualitas apabila didukung oleh guru yang professional memiliki kompetensi professional, pedagogik, kepribadian, dan sosial (UU Guru dan Dosen Pasal 10). Di samping itu, kualitas pembelajaran juga dapat maksimal

5

jika didukung oleh siswa yang berkualitas (cerdas, memiliki motivasi belajar yang tinggi dan

sikap positif dalam belajar), dan didukung sarana dan

prasarana pembelajaran yang memadai. Guru yang profesional akan memungkinkan memiliki kinerja yang baik, begitu pula dengan siswa yang berkualitas memungkinan siswa memiliki perilaku yang positif dalam kegiatan belajar mengajar. Interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa yang positif akan mewujudkan budaya kelas yang positif dan impresif atau iklim kelas (classroom climate) yang mendukung untuk proses belajar siswa. Dengan demikian, seluruh pendukung kegiatan belajar mengajar harus tersedia sebagaimana dikatakan Cox (2006: 8) bahwa: ”the quality of an instructional program is comparised of three elements, materials (and equipment), activities, and people”. Secara garis besar, terdapat dua variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, yakni ketersediaan dan dukungan input dan serta kualitas proses pembelajaran. Input terdiri dari siswa, guru, dan sarana serta prasarana

pembelajaran.

Kualitas

pembelajaran

adalah

ukuran

yang

menunjukkan seberapa tinggi kualitas interaksi guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. Kegiatan belajar mengajar tersebut dilaksanakan dalam suasana tertentu dengan dukungan sarana dan prasarana pembelajaran tertentu tertentu pula. Oleh karena itu, keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung pada: guru, siswa, sarana pembelajaran, lingkungan kelas, dan budaya kelas. Semua indikator tersebut harus saling mendukung dalam sebuah sistem kegiatan pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui tingkat kualitas pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu diketahui dan dirumuskan indikator-indikator kualitas pembelajaran. Morrison, Mokashi & Cotter (2006: 4-21) dalam risetnya telah merumuskan 44 indikator kualitas pembelajaran yang reduksi kedalam 10 indikator. Kesepuluh indikator kualitas pembelajaran tersebut meliputi: 1) Rich and stimulating physical environment; 2) Classroom climate condusive to learning; 3) Clear and high expectation for all student; 4) Coherent,

6

focused instruction; 5) Thoughtful discourse; 6) Authentic learning; 7) Regular diagnostic assessment for learning; 8) Reading and writing as essential activities; 9) Mathematical reasoning; 10) Effective use of technology. Kualitas pembelajaran berdasarkan pendapat di atas dikatakan baik apabila: 1) lingkungan fisik mampu menumbuhkan semangat siswa untuk belajar; 2) iklim kelas kondusif untuk belajar; 3) guru menyampaikan pelajaran dengan jelas dan semua siswa mempunyai keinginan untuk berhasil; 4) guru menyampaikan pelajaran secara sistematis dan terfokus; 5) guru menyajikan materi dengan bijaksana; 6) pembelajaran bersifat riil (autentik dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan siswa); 7) ada penilaian diagnostik yang dilakukan secara periodik ; 8) membaca dan menulis sebagai kegiatan yang esensial dalam pembelajaran; 9) menggunakan pertimbangan yang rasional dalam memecahkan masalah; 10) menggunakan teknologi pembelajaran, baik untuk mengajar maupun kegiatan belajar siswa. Berdasarkan indicator-indikator di atas, maka indikator kualitas pembelajaran untuk kualitas pembelajaran sejarah direduksi menjadi 5 indikator, yang dianggap memiliki peranan cukup besar dalam menentukan kualitas pembelajaran. Kelima indikator tersebut adalah: kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, sarana pembelajaran sejarah, budaya atau iklim kelas, sikap siswa terhadap pelajaran sejarah, dan motivasi belajar siswa.

B. Sikap dan Motivasi Siswa Menurut Edward (dalam Eko Pramono, 1993: 61), sikap dinyatakan sebagai derajat afeksi baik positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek psikologis. Adapun yang dimaksud dengan objek psikologis adalah sembarang simbol, ungkapan, pribadi (person), slogan, lembaga (institusi), cita-cita atau ide, norma-norma, nilai-nilai dimana terhadapnya setiap orang dapat berbeda tingkat afeksinya, baik positif maupun negatif. Sementara Zimbardo (dalam Pramono, 1993: 62), menjelaskan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau predisposisi implisit yang berpengaruh secara umum dan

7

konsisten atas respon-respon evaluatif serta meliputi komponen-komponen kognitif, afektif, dan perilaku. Sementara Johnson & Johnson (2002: 168) memahami sikap sebagai: “an attitude is a positive or negative reaction to a person, object, or idea” (Sikap adalah reaksi positif atau negatif terhadap seseorang, objek atau ide). Sedangkan Thurstone (dalam Saifuddin Azwar. 2005: 5) merumuskan sikap sebagai tingkat afeksi positif atau negatif terhadap objek psikologis. Dalam konsepsi ini, seseorang yang memiliki afeksi positif terhadap sesuatu objek dapat dikatakan menyenangi objek tersebut. Begitu pula halnya dengan seseorang yang memiliki afeksi negatif terhadap suatu objek dapat dikatakan tidak menyenangi objek itu. Sedangkan Muhajir (1992: 75) mengatakan bahwa sikap merupakan kecenderungan afeksi suka tidak suka pada suatu objek sosial. Jika sikap terbentuk dari hasil proses belajar mengajar, maka sikap tersebut memiliki komponen yang meliputi kognitif, apektif, dan konatif. Ketiga domain ini memiliki hubungan yang erat, terlebih lagi dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat mengetahui kognisi dan perasaan seseorang terhadap suatu objek tertentu. Komponen aspek kognitif merupakan representasi dari apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap. Sikap merupakan komponen internal yang berperan sekali dalam mengambil tindakan, lebih-lebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak (W.S. Winkel, 1996: 104). Keberhasilan belajar siswa dalam proses pembelajaran, sangat dipengaruhi oleh motivasi yang ada pada dirinya. Indikator kualitas pembelajaran salah satunya adalah adanya motivasi belajar yang tinggi dari para siswa. J.E. Ormrod (2003: 368-369) menguraikan bahwa: Motivation has several effect on students’ learning and behavior:It directs behavior toward particular goal.It leads to increased effort and energy.It increases initiation of, and persistence in activities.It enhances cognitive processing. It lead to improved performance.( Motivasi memiliki beberapa efek terhadap belajar siswa: motivasi mempengaruhi secara langsung terhadap perilaku yang

8

diarahkan pada tujuan tertentu. Motivasi mendorong meningkatnya semangat dan usaha. Motivasi meningkatkan ketekunan dalam kegiatan. Motivasi mempertinggi proses berpikir. Motivasi mendorong perbaikan kinerja). Motivasi belajar merupakan factor psikis yang bersifat nonintelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Seorang yang memiliki intelegensia cukup tinggi boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Mengenai hal ini, tidak saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu memberikan semangat dan kegiatan siswa untuk belajar. Dengan demikian tugas guru adalah bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi (Sardiman AM, 2007: 75-76). Dengan demikian motivasi dapat disimpulkan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha meniadakan atau mengelakan perasaan tidak suka itu. Motivasi belajar memegang peranan yang penting dalam memberi gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan kegiatan belajar yang pada akhirnya akan mampu memperoleh prestasi yang lebih baik. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh factor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Persoalan motivasi dapat juga dikaitkan dengan persoalan minat. Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat cirri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginankeinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Motif sebagai suatu

9

dorongan yang menggerakan, mengarahkan dan menentukan atau memilih perilaku. Pengertian

tersebut memandang motif dan motivasi dalam

pengertian yang sama, karena definisinya mengandung pengertian sebagai konsep, sebagai pendorong serta menggambarkan tujuan dan perilaku. Manullang (1991: 34) menyatakan bahwa motif adalah suatu faktor internal yang menggugah, mengarahkan dan mengintegrasikan tingkah laku seseorang yang didorong oleh kebutuhan, kemauan dan keinginan yang menyebabkan timbulnya suatu perasaan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu, apa yang dilihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu memiliki hubungan dengan kepentingannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang karena merasa ada kepentingan. Menurut Bernard (dalam Sardiman AM, 2007: 76) dikatakan bahwa minat timbul tidak secara tiba-tiba atau spontan, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja. Jadi jelas bahwa soal minat akan selalu berkait dengan soal kebutuhan atau keinginan. Oleh karena itu yang penting bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar. McClelland (Widoyoko, 2007: 62) merumuskan secara operasional ciri-ciri perilaku individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan individu dengan motivasi berprestasi rendah. Mereka yang memiliki motivasi tinggi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, yakni: 1) memperlihatkan berbagai tanda aktivitas fisiologis yang tinggi, 2) menunjukkan kewaspadaan yang tinggi, 3) berorientasi pada keberhasilan dan sensitif terhadap tanda-tanda yang berkaitan dengan peningkatan prestasi kerja, 4) memiliki tanggung jawab secara pribadi atas kinerjanya, 5) menyukai umpan balik berupa penghargaan dan bukan insentif untuk peningkatan kinerjanya, 6) inovatif mencari hal-hal yang baru dan efisien untuk peningkatan kinerjanya.

10

C. Sarana Pembelajaran Di samping faktor kemampuan pengajar, pengembangan strategi belajar mengajar, sangat berkaitan erat dengan tersedianya fasilitas dan kelengkapan kegiatan belajar mengajar, baik yang bersifat statis (seperti gambar, model, dan lain sebagainya) ataupun yang bersifat dinamis (seperti kehidupan yang nyata di sekitar peserta didik) (Widja, 1989: 37). Ini berarti, dalam

pengembangan

strategi

pembelajaran

sejarah,

harus

sudah

diperhitungkan pula fasilitas atau sarana yang ada (perlu diadakan), sebab tanpa

memperhitungkan

itu

semua,

suatu

strategi

yang

betapapun

direncanakan dengan baik akan tidak efektif pula hasilnya. Juga dengan sendirinya diperhitungkan alokasi-alokasi waktu yang tersedia. Oleh karena itu, pengembangan suatu strategi pembelajaran sejarah berkaitan erat dengan usaha membuat perencanan pembelajaran (course planing), di mana segala unsur-unsur

yang

menunjang

strategi

tersebut

diperhitungkan

dan

dipersiapkan sehingga sasaran yang hendak dicapai melalui suatu strategi, dapat terwujud dengan sebaik-baiknya. Proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik dan berkualitas

apabila didukung sarana pembelajaran yang memadai. Sarana

pembelajaran dapat berupa tempat atau ruang kegiatan pembelajaran beserta kelengkapannya, yang diorientasikan untuk memudahkan terjadinya kegiatan pembelajaran. Terdapat dua sarana pembelajaran yang harus tersedia, yakni perabot kelas atau alat pembelajaran dan media pembelajaran. Menurut Cruickshank (1990: 11), sarana pembelajaran yang mempengaruhi kualitas proses pembelajaran terdiri atas ukuran kelas, luas ruang kelas, suhu udara, cahaya, suara, dan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat klasifikasi menjadi 4 macam, yakni: a) media pandang diproyeksikan, seperti: OHP, slide, projector dan filmstrip; b) media pandang yang tidak diproyeksikan, seperti gambar diam, grafis, model, benda asli; c) media dengar, seperti piringan hitam, pita kaset dan radio; d) media pandang dengar, seperti televisi dan film (Ibrahim Bafadal, 2003: 13-14). Kelengkapan dan optimalisasi

11

pemanfaatan media pembelajaran penting peranannya dalam mencapai efektivitas program pembelajaran. Media pembelajaran memiliki fungsi utama sebagai alat bantu mengajar, berpengaruh terhadap terciptanya suasana, kondisi, budaya, dan lingkungan belajar yang dikelola oleh guru. Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar siswa. (Azhar Arsyad, 1997: 15).

Nana Sudjana (2005: 2-3 ) menyampaikan bahwa

optimalisasi pemanfaatan media pembelajaran dapat mempertinggi kualitas proses dan hasil belajar siswa. Hal ini terjadi karena: a) penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; b) bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa; c) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan; d) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, karena tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain. Dengan demikian, optimalisasi penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

D. Iklim Kelas dan Kinerja Guru Iklim

kelas

merupakan

salah

satu

indikator penting

yang

berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran, di samping faktor-faktor pendukung lainnya. Dikatakan Hyman dalam (Hadiyanto & Subiyanto 2003: 8) dijelaskan bahwa iklim pembelajaran yang kondusif antara lain dapat mendukung: (1) interaksi yang bermanfaat di antara peserta didik, (2) memperjelas

pengalaman-pengalaman

guru

dan

peserta

didik,

(3)

menumbuhkan semangat yang memungkinkan kegiatan-kegiatan di kelas berlangsung dengan baik, dan (4) mendukung saling pengertian antara guru dan peserta didik. Dijelaskan lebih lanjut oleh Moos dalam ( Hadiyanto & Subiyanto 2003: 8) bahwa iklim sosial dapat berpengaruh terhadap kepuasan

12

peserta didik dalam belajar, dan dapat menumbuhkembangan pribadi. Berdasarkan pendapat tersebut jelas bahwa iklim kelas sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran, dan pada gilirannya berarti berpengaruh juga terhadap hasil pembelajaran. Kemudian Edmonds dalam (Morrison, Mokashi, & Cotter, 2006: 6) dalam penelitiannya menyampaikan tesis bahwa “An orderly classroom conducive to learning is strongly correlated with student achievement”. Kelas yang tertib dan kondusif untuk belajar mempunyai hubungan yang kuat dengan prestasi belajar siswa. Fraser dalam (Hadiyanto & Subiyanto 2003: 9) mendokumentasikan lebih dari 45 penelitian yang membuktikan adanya hubungan yang positif antara iklim kelas dengan prestasi belajar peserta didik. Penelitian-penelitian itu menggunakan berbagai macam alat ukur iklim kelas seperti Learning Environment Inventory (LEI), Classroom Environment Scales (CES), Individualized Classroom Environment Questionnaire (ICEQ), dan instrumen-instrumen lain yang digunakan di beberapa negara maju maupun berkembang. Faktor guru merupakan salah satu variabel input yang berpengaruh terhadap pencapaian kualitas pembelajaran. Proses pembelajaran akan menunjukkan kualitas tinggi apabila didukung oleh segala kesiapan input termasuk kinerja guru yang maksimal dalam kegiatan belajar mengajar. Nana Sudjana (2002: 42) dalam penelitiannya menyampaikan tesis bahwa 76,6% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kinerja guru, dengan rincian: kompetensi guru mengajar memberikan sumbangan 32,43%, penguasaan materi pelajaran memberikan sumbangan 32,38% dan sikap guru terhadap mata pelajaran memberikan sumbangan 8,60%. Faktor guru adalah faktor yang sangat mempengaruhi terutama dilihat dari kemampuan guru mengajar serta kelayakan guru itu sendiri. Data Pusat Statistik Pendidikan Balitbang Depdiknas 2000/2001 menunjukkan bahwa persentase guru yang layak mengajar terhadap jumlah guru yang ada secara nasional adalah 63.79%. Artinya masih terdapat sekitar 36.21% guru SMA yang tidak layak mengajar baik dilihat dari kompetensi maupun

13

kualifikasi pendidikannya. Perhatian yang belum sungguh-sungguh terhadap sumber daya pendidikan khususnya guru-guru baik dalam hal peningkatan mutu, kesejahteraan, dan kedudukan sosialnya, proses pendidikan dan perkembangan masyarakat akan lebih memperlebar kesenjangan kualitas guruguru itu sendiri. Hal serupa disampaikan oleh Supardan (2001: 63) dalam penelitiannya bahwa variabel guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Guru sejarah yang memiliki kinerja baik, tidak hanya dapat menjadi fasilitator dan dinamisator bagi peserta didik, tetapi juga dapat memberikan model dan makna yang signifikan apa artinya belajar dari kelampauan. Sebagaimana dikatakan Goble dalam Supardan (2001: 64), bahwa dari sudut kontinuitas sosial, guru memiliki fungsi sosial yang paling penting untuk mewujudkan model aksi sosial yang berfungsi sebagai motor bagi siswa dan masyarakatnya. Darling & Hammond (2000: 1) dari Standford University melakukan penelitian bahwa faktor kualitas guru mempunyai korelasi yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Begitu juga dengan penelitian Schacter (2006: 2) dari Milken Family Foundation yang menjelaskan bahwa kinerja guru merupakan variabel input yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Kedua penelitian ini sangat jelas menegaskan bahwa faktor guru merupakan

variabel

penting

untuk

meningkatkan

kualitas

proses

pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah, Wiriaatmadja (1992: 66) dalam disertasinya tentang peranan pengajaran sejarah nasional Indonesia dalam pembentukan identitas nasional, menyatakan bahwa variabel guru merupakan faktor yang penting bagi keberhasilan pembelajaran sejarah. Guru sejarah yang tidak memiliki kinerja baik seperti tidak mampu mengaktifkan siswanya menyebabkan pembelajaran sejarah kurang berhasil untuk penghayatan nilainilai secara mendalam. Hal serupa disampaikan oleh Taufik Abdulah dalam Supardan (2001: 67), bahwa pada umumnya guru sejarah belum menunjukkan kinerja yang baik, terbukti dengan masih banyaknya guru sejarah SMA yang

14

dalam proses pembelajarannya masih suka menyampaikan ”tumpukan” informasi tentang nama-nama tokoh, tanggal suatu peristiwa, dan isi perjanjian sebanyak mungkin, bukan bagaimana semua itu diartikan bagi peserta didiknya. Tentunya dalam konsepsi ini sebenarnya kualitas pembelajaran sejarah sebagaimana disampaikan oleh Helius Sjamsuddin (2005) salah satunya harus didukung oleh kinerja guru yang menuntut banyak pikiran, tenaga, dan waktu bagi guru untuk persiapan, pelaksanaan, dan sampai kepada evaluasinya. Menurut Mulyasa (2005: 37), paling kurang ada 19 peran guru dalam kegiatan pendidikan yakni peran guru sebagai: pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu, model dan teladan, peribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa ceritera, actor, emancipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator. Untuk menunjang tugasnya tersebut, maka guru harus memiliki

kompetensi

yang

memadai.

Mulyasa

(2005:

190-192)

mengidentifikasi kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yakni kemampuan dasar (kepribadian), kemampuan umum (kemampuan mengajar), dan kemampuan khusus (pengembangan keterampilan mengajar). Kemampuan dasar meliputi: beriman dan bertakwa, berwawasan Pancasila, mandiri penuh tanggungjawab, berwibawa, berdisiplin, berdedikasi, bersosialisasi dengan masyarakat, dan mencintai peserta didik serta peduli terhadap pendidikannya. Kemampuan umum meliputi: 1) menguasai ilmu pendidikan dan keguruan; 2) menguasai kurikulum; 3) menguasai didaktik metodik umum; 4) menguasai pengelolaan kelas; 5) mampu melaksanakan monitoring dan evaluasi peserta didik; dan 6) mampu mengembangkan dan aktualisasi diri. Sedangkan kemampuan khusus meliputi: keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, dan mengajar kelompok kecil dan perorangan.

15

BAB III METODE PENELITIAN

Metodologi merupakan konsep teoritik yang membahas mengenai berbagai metode atau ilmu metode-metode, yang dipakai dalam penelitian. Sedangkan metode merupakan bagian dari metodologi, yang diinterpretasikan sebagai teknik dan cara dalam penelitian, misalnya teknik observasi, metode pengumpulan sumber (heuristik), teknik wawancara, analisis isi, dan lain sebagainya. Berbagai hal yang berkaitan dengan metodologi penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

A. Kasus Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA 5 Yogyakarta, dan difokuskan pada dinamika pembelajaran sejarah selama ini, dan faktor-faktor pendukung kualitas pembelajaran sejarah.

B. Desain Penelitian Studi ini menggunakan desain yang longgar untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul, tetapi kondisi yang tepat dari

kemungkinan-kemungkinan

tersebut

tidak

bisa

diramalkan

sebelumnya. Desain di sini merupakan rencana antisipasi terhadap kemungkinan, dan bila kemungkinan itu muncul, desain bisa disesuaikan secara tepat dalam pelaksanaannya. Penampilan studi selanjutnya dibentuk oleh sejumlah interaksi yang selalu tetap terbuka sepanjang waktu. Ada beberapa unsur

yang dijadikan

perhatian

pada saat

merumuskan desain adalah: 1) penentuan fokus studi, 2) penentuan ketepatan paradigma pada fokusnya, 3) penentuan penerapan paradigma studi pada teori substantif yang dipilih, 4) penentuan tentang di mana dan dari siapa data akan dikumpulkan, 5) penentuan fase-fase suksesif penelitian, 6) penggunaan ”human instrumentation”, 7) pengumpulan dan

16

pencatatan data, 8) penggarapan analisis, 9) perencanaan logistik, dan 10). perencanaan derajat kepercayaan. Berdasarkan permasalahan yang diajukan dalam studi ini, yang lebih mengutamakan pada masalah makna/persepsi, maka jenis penelitian dengan strateginya yang relevan adalah studi kualitatif. Dengan penelitian ini diharapkan dapat mengungkap berbagai informasi kualitatif dan kauantitatif dengan deskripsi-analisis yang teliti dan penuh makna. Pada tiap-tiap obyek akan dilihat kecenderungan, pola pikir, ketidakteraturan, serta tampilan perilaku dan integrasinya sebagaimana dalam studi kasus genetik (Muhadjir, 1996: 243). Karena permasalahan dan fokus penelitian sudah ditentukan dalam proposal sebelum terjun ke lapangan, maka jenis strategi penelitian ini secara lebih spesifik dapat disebut sebagai studi terpancang (embedded study research)(Yin, 1987: 136). Dengan mengenal dan memahami karakter penelitian kualtatif, dapat mempermudah peneliti dalam mengambil arah dan jalur yang tepat dalam mengumpulkan data, menganalisis maupun mengembangkan laporan penelitian. Studi kasus didasarkan pada teknik-teknik yang sama dalam kelaziman yang berlaku pada strategi historis-kritis, tetapi dengan menambah dua sumber bukti yang akurat yaitu observasi langsung dan wawancara sistemik. Meskipun studi kasus dan historis-kritis terjadi tumpang tindih, tetapi kekuatan yang unik dari studi kasus adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan beragam sumber. Penelitian kualitatif mempunyai karakteristik pokok yakni: Pertama, riset

kualitatif mempunyai latar alami karena sumber datanya yang

langsung dari perisetnya, maksudnya data dikumpulkan dari sumbernya langsung, dan peneliti merupakan instrumennya; kedua riset kualitatif ini bersifat deskriptif; ketiga periset kualitatif lebih memperhatikan proses dan produk yang bermakna; keempat, periset kualitatif cenderung menganalisa datanya secara induktif, maksudnya data yang dikumpulkan bukanlah untuk mendukung atau menolak hipotesis, tetapi abstraksi disusun sebagai

17

kekhususan yang telah terkumpul dan dikelompokan bersama; kelima, “makna” merupakan soal esensial perhatian utamanya.

C. Sumber Data Data untuk keperluan studi evaluatif kualitatif dapat berasal dari enam sumber yaitu: dokumen, rekaman arsip, wawancara, pengamatan langsung, observasi, dan perangkat-perangkat fisik. Dalam penelitian kualitatif, peneliti berhadapan dengan data yang bersifat khas, unik, idiocyncratic, dan multiinterpretable (Waluyo, 2000: 20). Data yang paling penting untuk dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif tidak bersifat nomotetik (satu data satu makna) seperti dalam pendekatan kuantitatif atau positivisme. Untuk itu, data-data kualitatif perlu ditafsirkan agar mendekati kebenaran yang diharapkan. Adapun jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Informan atau nara sumber yang terdiri dari kalangan kepala sekolah dan pimpinan sekolah lain, guru sejarah, siswa, sejarawan, dan ahli pendidikan sejarah. 2. Tempat dan aktivitas kegiatan proses belajar mengajar di SMA 5 Yogyakarta. 3. Teks yang berupa arsip dan dokumen resmi mengenai program pengajaran, kurikulum, dan catatan-catatan lain yang relevan. Dalam menafsirkan teks yang bermacam-ragam diperlukan dekontekstualisasi (proses pembebasan dari konteks). Teks bersifat otonom yang didasarkan atas tiga hal, yaitu: maksud penulis; situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks; dan untuk siapa teks itu ditulis. Seorang peneliti harus “membaca dari dalam” teks yang ditafsirkannya itu. Tetapi peneliti tidak boleh luluh ke dalam teks tersebut dan cara pemahamannya tidak boleh lepas dari kerangka kebudayaan dan sejarah dari teks itu. Karena itu distansi asing dan aspek-aspek subjektif-objektif dari teks-teks tersebut harus disingkirkan.

18

Selain sumber-sumber yang bersifat individual di atas, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data kualitatif. Hal tersebut mencakup penggunaan: (1) berbagai sumber bukti, yakni bukti dari dua atau lebih sumber, tetapi menyatu dengan serangkaian fakta atau temuan yang sama, (2) data dasar, yakni kumpulan formal bukti yang berlainan dari laporan akhir studi yang bersangkutan, dan (3) serangkaian bukti, yaitu keterkaitan yang eksplisit antara pertanyaanpertanyaan yang diajukan, data yang terkumpul, dan konklusi-konklusi yang ditarik. Pengacuan pada prinsip-prinsip ini, diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas substansial studi kualitatif yang akan dilaksanakan.

D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam studi ini adalah sebagai berikut. 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing) Wawancara jenis ini bersifat lentur dan terbuka, tidak terstruktur ketat, tetapi dengan pertanyaan yang semakin terfokus dan mengarah pada kedalaman informasi. Dalam hal ini, peneliti dapat bertanya kepada responden kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa di samping opini mereka mengenai peristiwa yang ada. Dalam berbagai situasi, peneliti dapat meminta responden untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan dapat menggunakan posisi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya (Yin, 1996: 109). Kelebihan mencari data dengan cara wawancara, dapat diperoleh keterangan yang tidak dapat diperoleh dengan metode yang tidak menggunakan hubungan yang bersifat personal. Semakin bagus pengertian

pewawancara

dan

semakin

halus

perasaan

dalam

pengamatannya itu, semakin besar pulalah kemampuannya untuk memberikan dorongan kepada subjeknya. Lagi pula, semakin besar kemampuan orang yang diwawancarai untuk menyatakan responsnya, semakin besar proses intersimulasi itu. Tiap-tiap respons atau

19

tanggapan yang verbal dan reaksinya dinyatakan dengan kata-kata dapat memberikan banyak pikiran-pikiran yang baru. Suatu jawaban bukanlah jawaban atas satu pertanyaan saja, melainkan merupakan pendorong timbulnya keterangan lain yang penting mengenai peristiwa atau objek penelitian. Semakin besar bantuan responden dalam wawancara, maka semakin besar peranannya sebagai informan. Dalam hal ini, informan kunci seringkali sangat penting bagi keberhasilan studi kasus. Mereka tidak hanya bisa memberi keterangan tentang sesuatu kepada peneliti, tetapi juga bisa memberi saran tentang sumber-sumber bukti lain yang mendukung serta menciptakan akses terhadap sumber yang bersangkutan (Yin, 1996: 109). Dengan demikian wawancara mendalam harus memberikan keleluasaan informan dalam memberikan penjelasan secara aman, tidak merasa ditekan, maka perlu diciptakan suasana “kekeluargaan”. Kelonggaran ini akan mengorek kejujuran informasi, terutama yang berhubungan dengan sikap, pandangan, dan perasaan informan sehingga pencari data tidak merasa asing dan dicurigai. Oleh karena itu, maka masalah pelaksanaan wawancara perlu dipilih “waktu yang tepat”, maksudnya para informan diwawancarai pada saat yang tidak sibuk dan dalam kondisi yang “santai” sehingga keterangan yang diberikan memang benar-benar adanya. Namun demikian, peneliti perlu berhati-hati dari ketergantungan yang berlebihan kepada seorang informan, terutama karena kemungkinan adanya pengaruh hubungan antar pribadi. Suatu cara yang rasional untuk mengatasi kesalahan ini adalah dengan mengandalkan sumber-sumber bukti lain untuk mendukung keterangan-keterangan informan tersebut dan menelusuri bukti yang bertentangan sehati-hati mungkin.

2. Observasi Langsung Observasi langsung dapat dilakukan dalam bentuk observasi partisipasi pasif terhadap berbagai kegiatan dan proses yang terkait

20

dengan studi (Sutopo, 1996: 137). Observasi langsung ini akan dilakukan dengan cara formal dan informal, untuk mengamati berbagai kegiatan dan peristiwa di ruangan kelas, kegiatan pokok siswa dan staf pengajar dalam proses pengajaran sejarah, dan lain-lain pendukung pembelajaran sejarah. Observasi tersebut dapat terbentang mulai dari kegiatan pengumpulan data yang formal hingga yang tidak formal. Bukti observasi

seringkali

bermanfaat

untuk

memberikan

informasi

tambahan tentang topik yang akan diteliti. Observasi dapat menambah dimensi-dimensi baru untuk pemahaman konteks maupun fenomena yang akan diteliti. Observasi tersebut bisa begitu berharga sehingga peneliti bahkan bisa mengambil foto-foto pada situs studi kasus untuk menambah keabsahan penelitian (Dabbs dalam Sutopo, 1996:113).

3. Mencatat Dokumen (Content Analysis) Teknik ini sering disebut sebagai analisis isi (content analysis) yang cenderung mencatat apa yang tersirat dan yang tersurat. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari dokumen dan arsip tentang pengajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta. Dalam psikologi, analisis isi menemukan tiga ranah aplikasi penting. Pertama adalah, analisis terhadap rekaman verbal guna menemukan hal-hal yang bersifat motivasional, psikologis atau karakteristikkarakteristik kepribadian. Aplikasi ini telah menjadi tradisi tentang pemanfaatan dokumen-dokumen pribadi, dan aplikasi analisis terhadap struktur kognitif. Aplikasi kedua adalah pemanfaatan data kualitatif yang dikumpulkan dalam bentuk jawaban atas pertanyaan terbuka (Krippendoff, 1991:11). Di sini analisis isi memperoleh status teknis pelengkap yang memungkinkan peneliti memanfaatkan data yang hanya dapat dikumpulkan dengan cara yang tidak terlalu membatasi pokok bahasan dan menguji silang kesahihan temuan yang diperoleh dengan menggunakan berbagai teknik yang berbeda. Aspek ketiga

21

menyangkut proses-proses komunikasi dimana isi merupakan bagian intergralnya (Krippendoff, 1991:11).

E. Teknik Cuplikan (Sampling) Setiap peneliti harus membuat keputusan tentang siapa dan berapa jumlah orang yang akan diteliti. Dalam penelitian kualitatif, akan tergantung

dari penggunaan seleksi dan strategi cuplikan. Dalam

penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif

dengan

pertimbangan

konsep

teoritis

yang

digunakan,

keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik empiriknya, dan lain sebagainya. Oleh karena itu teknik cuplikan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah “Purposive Sampling” (Sutopo, 1996 : 138), atau lebih tepat disebut sebagai cuplikan dengan criterion-based selection yang tidak didapat ditemukan lebih dulu secara acak. Dalam hal ini peneliti memilih informan yang dianggap “mengetahui permasalahan yang dikaji” (dapat dipercaya informasinya). Penelitian diawali dengan memilih informan, dalam hal ini informan yang paling mengetahui fokus penelitian, kemudian dikembangkan sesuai dengan kebutuhan untuk memperoleh data (Patton, 1980:38). Teknik cuplikan semacam ini lebih dikenal sebagai “Internal Sampling”, maksudnya bahwa sampling tidak dimaksudkan untuk mewakili populasi tetapi mewakili informasinya, sehingga bila diinginkan usaha untuk generalisasi, kecenderungannya mengarah pada generalisasi teoritik (Sutopo, 1995:19). Internal sampling dapat memberi peluang bahwa keputusan dapat diambil begitu peneliti memiliki suatu gagasan umum yang timbul tentang apa yang sedang dipelajari, dengan informan mana, kapan melakukan observasi yang tepat, dan berapa dokumen, arsip, serta catatan-catatan lapangan yang perlu dikaji.

22

F. Validitas Data Untuk menjamin validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini, peneliti mengggunakan teknik informant review atau umpan balik dari informan (Milles dan Hubberman, 1992:453). Selain itu peneliti juga menggunakan teknik triangulasi untuk lebih memvalidkan data (Paton, 1980: 100). Teknik triangulasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, triangulasi metode,

dan

triangulasi teori. Pertama, triangulasi sumber, yakni mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Kedua, triangulasi metode, yakni mengumpulkan data yang sejenis dengan menggunakan teknik atau pengumpulan data yang berbeda. Dalam hal ini untuk memperoleh data, maka digunakan beberapa sumber dari hasil wawancara dan observasi. Ketiga, triangulasi teori untuk mengintepretasikan data yang sejenis. Data tentang pembelajaran sejarah misalnya, digali dari beberapa teori baik teori pendidikan, psikologi, maupun teori lain. Tipe-tipe triangulasi yang berlainan tadi merupakan strategi untuk mengurangi bias sistematik di dalam data. Masing-masing kasus strategi melibatkan pengecekan temuan-temuan terhadap sumber-sumber lain. Dengan demikian triangulasi sebagai proses pengevaluator (penilai) dapat menjaga tuduhan atau dakwaan bahwa temuan-temuan penelitian itu menggunakan alat sederhana baik masalah-masalah metode, sumber data, maupun bias penelitian. Selain itu data dapat dikembangkan dan disimpan agar sewaktu-waktu dapat ditelusuri kembali bila dikehendaki adanya verifikasi (Patton, 1983:332).

G. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif (Miles dan Huberman, 1984). Dalam model analisis ini, tiga komponen analisisnya yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verivikasi, aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses yang berlanjut,

23

berulang, dan terus-menerus hingga membentuk sebuah siklus. Dalam proses ini aktivitas peneliti bergerak di antara komponen analisis dengan pengumpulan data selama proses ini masih berlangsung. Selanjutnya peneliti hanya bergerak diantara tiga komponen analisis tersebut. Reduksi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Dengan demikian reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Secara sederhana dapat dijelaskan dengan “reduksi data” dan perlu mengartikannya sebagai kuantifikasi. Data kualitatif dapat disederhanakan dan ditransformasikan dalam aneka macam

cara:

melalui

seleksi

yang

ketat,

melalui

ringkasan,

menggolongkannya dalam suatu pola yang lebih luas dan sebagainya. Sementara itu penyajian data merupakan alur penting yang kedua dari kegiatan analisis interaktif. Suatu penyajian, merupakan kumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Sedangkan kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan atau verifikasi. Peneliti harus memberi kesimpulan secara longgar, terbuka dan skeptis (Paton, 1983:20). Dengan demikian, model analisis interaktif ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam pengumpulan data model ini, peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data samapai penyusunan kesimpulan. Artinya data yang didapat di lapangan kemudian peneliti menyusun pemahaman arti segala peristiwa yang disebut reduksi data dan diikuti penyusunan data yang berupa ceritera secara sistematis. Reduksi dan sajian data ini disusun pada saat peneliti mendapatkan unit data yang diperlukan dalam penelitian. Pengumpulan data terakhir peneliti mulai melakukan usaha menarik kesimpulan dengan menarik verifikasi berdasarkan reduksi dan sajian data. Jika permasalahan yang diteliti belum

24

terjawab dan atau belum lengkap, maka peneliti harus melengkapi kekurangan tersebut di lapangan terlebih dahulu. Secara skematis proses analisis interaktif ini dapat digambarkan sebagai berikut. Pengumpulan Data

Sajian Data

Verifikasi/ Penarikan Kesimpulan

Reduksi Data

Gambar 1. Model Analisis Interaktif Milles dan Hubberman

25

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskr-i Data 1. Profil SMA Negeri 5 Yogyakarta a. Sejarah SMA 5 Yogyakarta Berawal dari prakarsa para tokoh pendidikan dan tokoh masyarakat di Yogyakarta yang antara lain Bapak R. DS. Hadiwidjono, Bapak JudjanaL, Prof. Ir Haryono, Prof. Ir Supardi, Prof. Suhardi, SH, pada tanggal 17 september 1949, SMA Negeri 5 Yogyakarta secara resmi dapat didirikan dengan nama Sekolah Menengah Umum Atas Bagian Yuridis Ekonomi (SMA/AC) dan menempati gedung SMA Putri Stella Duce Yogyakarta. Pada tanggal 27 Oktover 1949, melalui surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 210 B, SMA C memperoleh status menjadi SMA Bagian C Negeri. Sebagai kepala sekolah adalah Bapak R.D.S Hadiwijana. Tanggal 31 maret 1950 pimpinan sekolah yang diserah terimakan kepada Bapak Suwito Puspo Kusumo, yang selanjutnya diserahkan kepada Bapak RA Djoko Tirto, SH. Dibawah pimpinan Bapak R.A Djoko, SH SMA bagian C berkembang pesat. Tanggal 21 Juli 1952 melalui SK Menteri Pendidikn& Keudayaan nomor 3094/B, SMA/C dipecah menjadi 2 sekolah yaitu: 1) MA Bagian C Negeri dibawah pimpinan Bapak Parwanto SH yang menempati gedung di Jalan Pogung No 2 Kotabaru, Yogyakarta, masuk pada siang hari (sekarang menjadi SMA N 5 Yogyakarta). 2) SMA Bagian C Negeri II dipimpin Bapak RA Djoko Tirtono SH yang menempati gedung yang sama tetapi masuk pada pagi hari (sekarang menjadi SMA N 6 Yogyakarta). Untuk mengantisipasi kemajuan jaman dengan mneyiapkan siswa untuk dapat melanjutkan ke Perguruan tinggi, maka pada tanggal 1 gustus 1959 SMA Negeri V Bagian C dijadikan SMA Negeri V bagian A-C. Pada tahun tersebut berhasil dibakukan : 1) peraturan dan tata tertib sekolah; 2) Lagu Mars Puspanegara; 3) Lambang sekolah “Puspanegara“ yang memiliki

26

tugas suci “Trus Hakarya Ruming Praja“ mengandung makna agar nantinya para siswa SMA N 5 Yogyakarta terus berkarya demi keharuman Negara dan Bangsa. Sejak resmi berdiri sampai saat ini, SMA N 5 Yogyakarta telah mengalami berkali-kali pergantian Kepala Sekolah. Setiap kepemimpinan membawa perubahan kearah peningkatan. Lebih dari 10 orang kepala sekolah pernah menjabat dan memimpin di SMA N 5 Yogyakarta. Pada tanggal 11 Juli 1999, SMA N 5 Yogyakarta diserah terimakan kepada Bapak Drs Panut S, karena kepala sekolah sebelumnya yaitu Bapak Drs N Ngabdurahim menjalani masa purna tugas. Bapak Drs. Panut S menggantikan posisi beliau untuk beberapa saat hingga datang kepala sekolah tetap yang baru. Kepala sekolah yang baru datang pada bulan Desember 1999 yaitu Bapak Drs Ilham. Pada periode ini. Bapak Drs. H Ilham memiliki program utama meningkatkan ketakwaan sehingga pada saat itu salah satu wujudnya adalah diresmikannya masjid SMA N 5 Yogyakarta dengan nama masjid DARUSSALAM PUSPANEGARA. Beliau menjabat hingga purna tugas. Pada bulan Desember 2001 Bapak Drs Timbul Mulyono, kepala sekolah SMA N 7 Yogyakarta ditunjuk untuk menggantikan sementara posisi kepala sekolah. Tanggal 25 Maret 2002 kepala sekolah dijabat oleh Bapak Drs. H Abu Suwardi. Program beliau adalah pembangunan etos kerja pada semua guru dan karyawan dan membangun kedisiplinan pada para siswa. b. Visi dan Misi 1). Visi Berusaha menciptkan manusia yang memiliki citra moral, citra keceendekiawanan,

citra

kemandirian

dan

berwawasan

linkungan

berdasarkan atas ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa 2). Misi 1) Terbentuknya insan pelajar yang memiliki moral, perilaku yang baik, berbudi pekerti yang luhur berbudaya bangsa Indonesia dan berakhlakul

27

karimah berdasarkan aturan-aturan yang berlaku baik di kalangan masyarakat, sekolah, negara maupun agama. 2) Terbentuknya generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi berjiwa patriotis, nasionalis tanpa mengabaikan nilai-nilai norma serta nilai-nilai luhur kebangsaan maupun keagamaan. 3) Terbentuknya generasi yang berjiwa mandiri, senang beraktivitas dan berkreatifitas untuk menatap kehidupan masa depan yang lebih cerah dalam menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi.

2. Faktor Pendukung Kualitas Pembelajaran Sejarah Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan

masyarakat

di masa lampau

berdasarkan metode dan metodologi tertentu. Pengetahuan masa lampau tersebut mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik. Mata pelajaran Sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Secara substantif, materi sejarah: 1. mengandung

nilai-nilai

kepahlawanan,

keteladanan,

kepeloporan,

patriotisme, nasionalisme, dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik; 2. memuat

khasanah

mengenai

peradaban

bangsa-bangsa,

termasuk

peradaban bangsa Indonesia. Materi tersebut merupakan bahan pendidikan yang mendasar bagi proses pembentukan dan penciptaan peradaban bangsa Indonesia di masa depan; 3. menanamkan kesadaran persatuan dan persaudaraan serta solidaritas untuk menjadi perekat bangsa dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa; 4. sarat dengan ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari;

28

5. berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

Berdasarkan Peraturan Mendiknas No. 22 tahun 2006 mata pelajaran sejarah untuk Sekolah Menengah Atas meliputi aspek-aspek sebagai berikut. 1. Prinsip dasar ilmu sejarah 2. Peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia 3. Perkembangan negara-negara tradisional di Indonesia 4. Indonesia pada masa penjajahan 5. Pergerakan kebangsaan 6. Proklamasi dan perkembangan negara kebangsaan Indonesia. Peraturan Mendiknas No. 22 tahun 2006 menyebutkan bahwa mata pelajaran sejarah di SMA secara rinci memiliki 5 tujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. 2. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah

dan metodologi

keilmuan. 3. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. 4. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. 5. Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. (2006: 254).

29

Kelima tujuan tersebut pada prinsipnya untuk membentuk dan mengembangkan 3 kecakapan

peserta didik, yaitu kecakapan akademik,

kesadaran sejarah, dan nasionalisme. Kecakapan akademik dijabarkan secara rinci dalam tujuan kedua dan keempat yakni: melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah

dan metodologi keilmuan; menumbuhkan pemahaman

peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. Kesadaran sejarah diuraikan lebih lanjut pada tujuan kesatu dan kelima yakni membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan; menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. Sedangkan nasionalisme diuraikan lebih rinci dalam tujuan ketiga dan kelima yakni: menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau; menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. Ke lima tujuan tersebut apabila dihubungkan dengan pencapaian standar kompetensi lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan SMA, mata pelajaran sejarah memiliki posisi yang cukup strategis. Selama ini, penilaian produk pembelajaran sejarah selama ini hanya difokuskan pada kecakapan akademik sebagaimana diwujudkan dalam tujuan sejarah yang kedua dan keempat, sedangkan penilaian terhadap kesadaran sejarah dan nasionalisme sebagaimana diwujudkan dalam tujuan sejarah 1, 3, dan 5 kurang mendapat perhatian. Ukuran keberhasilan pembelajaran sejarah tidak cukup hanya dinilai dari aspek kecakapan akademik semata, tetapi perlu melihat hasil penilaian aspek kesadaran sejarah dan nasionalisme. Dengan

30

demikian standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian. Dalam proses pembelajaran sejarah, SMA 5 Yogyakarta sudah mengacu dan menerapkan pada pencapaian tujuan pembelajaran sejarah sebagaimana rambu-rambu di atas. Pencapaian tujuan pembelajaran selama ini tidak hanya terfokus pada kecakapan akademik saja, melainkan juga sudah menyentuh ranah kesadaran sejarah dan nasionalisme. Di samping itu di SMA 5 Yogyakarta juga menerapkan prinsip Penilaian Berbasis Kelas (PBK), sehingga teknik penilaian tidak hanya menerapkan tes dan penilaian akhir saja, melainkan juga dengan non-tes dan penilaian proses dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, penilaian pembelajaran sejarah dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan. Hal ini tentunya dapat berhasil karena dukungan kompetensi guru sejarah, iklim kelas, motivasi dan sikap siswa, serta sarana pembelajaran sejarah. Dalam hal ini, faktor yang cukup dominan dalam menentukan keberhasilan program pembelajaran sejarah adalah kualitas pembelajaran. Dengan demikian, kualitas pelaksanaan pembelajaran akan sangat tergantung pada sarana dan prasarana pembelajaran, aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan

pembelajaran

dan

personal

yang

terlibat

dalam

kegiatan

pembelajaran baik itu guru dan siswa. Kualitas pembelajaran akan lebih baik apabila melibatkan guru yang berkualitas (mempunyai kompetensi dalam bidangnya), siswa yang berkualitas (cerdas, mempunyai motivasi belajar yang tinggi dan mempunyai sikap yang positif dalam belajar) dan dengan didukung sarana dan prasarana atau fasilitas pembelajaran yang cukup baik, baik dari segi ketersediaan maupun pemanfaatan (utility)nya. Guru yang berkualitas akan memungkinkan mempunyai kinerja yang baik, begitu juga dengan siswa yang berkualitas memungkinan siswa mempunyai perilaku yang positif dalam kegiatan pembelajaran. Interaksi antara keduanya memungkinkan terwujudnya

31

iklim kelas (classroom climate) yang cukup kondusif untuk proses belajar siswa. Kualitas pembelajaran merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa tinggi kualitas interaksi antara guru dengan siswa yang terjadi dalam tempat pembelajaran (ruang kelas) untuk mencapai tujuan pembelajaran atau mewujudkan kompetensi tertentu. Interaksi tersebut melibatkan guru dan siswa yang dilakukan dalam lingkungan tertentu dengan dukungan sarana dan prasarana tertentu. Dengan demikian keberhasilan proses pembelajaran atau kualitas pembelajaran akan tergantung dan dipengaruhi oleh: guru, siswa, fasilitas pembelajaran, lingkungan kelas, dan iklim kelas. Sebagaimana dipaparkan dalam kajian teori di atas, kualitas pembelajaran

dikatakan

baik

manakala

lingkungan

fisik

mampu

menumbuhkan semangat siswa untuk belajar; iklim kelas kondusif ; guru menyampaikan pelajaran dengan

jelas; 4) pelajaran disampaikan secara

sistematis dan terfokus; guru menyajikan materi dengan bijaksana; pembelajaran bersifat riil; ada penilaian diagnostik yang kontinyu; adanya budaya membaca dan menulis; menggunakan pertimbangan rasional dalam memecahkan masalah;

menggunakan teknologi pembelajaran, baik untuk

mengajar maupun kegiatan belajar siswa. Keberhasilan dalam pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh guru dan lingkungan saja, tetapi faktor siswa cukup berperan, oleh karena itu dalam ini dimasukkan dua aspek baru dari sisi siswa, yaitu sikap dan motivasi belajar siswa. Di SMA 5 Yogyakarta, indikator yang menjadi pendukung peningkatan kualitas pembelajaran sejarah adalah sebagai berikut.

a. Kompetensi Guru Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah variabel guru. Guru mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap kualitas pembelajaran, karena gurulah yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas, bahkan sebagai penyelenggara pendidikan di

32

sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang selama ini dilaksanakan, kompetensi guru SMA 5 Yogyakarta sudah dianggap: a) Menguasai bidang studi atau bahan ajar dengan baik b) Memahami karakteristik peserta didik secara komprehensif c) Menguasai pengelolaan pembelajaran dengan baik d) Menguasai metode dan strategi pembelajaran dengan inovatif e) Menguasai penilaian hasil belajar siswa secara cermat f) Memiliki kepribadian dan wawasan pengembangan profesi Dalam melaksanakan tugasnya, guru sudah dapat berfungsi sebagai pengajar, pelatih, pembimbing, dan sebagai professional (Ketentuan Umum pasal 1, Undang - Undang Guru dan Dosen). Untuk menilai kinerja guru di sini, dapat dilihat dari cara mereka melaksanakan tugas di dalam kelas, mengembangkan karier profesionalnya, dan hasil karya mereka, baik mereka sebagai guru maupun sebagai professional di bidang pendidikan. Karya guru ditunjukkan karya ilmiah, seperti hasil penelitian, buku bahan ajar, artikel dalam majalah maupun jurnal ilmiah dan juga karya lain seperti teknologi pembelajaran, alat peraga dalam pembelajaran dan sebagainya. Secara umum baik G1 maupun G2 di SMA 5 Yogyakarta memiliki kompetensi yang memadai sebagaimana yang distandarkan pemerintah. G1 bahkan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi profesi seperti PGRI, MSI, dan MGMP. Berdasarkan observasi dan suvervisi di dalam kelas, penguasaan materi pelajaran sudah cukup memadai. Begitu pula dengan keterampilan didaktik metodik sudah menunjukkan adanya inovasi pembelajaran yang sudah

melibatkan siswa secara aktif dan kreatif, sehingga pembelajaran

sejarah cukup impresif. Guru memiliki inisiatif untuk menyampaikan materi pelajaran yang masih bersifat kontroversif, dengan berbagai metode seperti aktif debat sehingga tidak selalu terpaku pada paradigma pemerintah. Di samping itu, guru memiliki keberanian untuk menyampaikan fakta apa adanya, dan selanjutnya ada upaya penanaman makna dan nilai yang bermanfaat bagi para siswa. Karena memang pada dasarnya, siswa dapat

33

belajar tidak saja pada peristiwa-peristiwa yang baik, melainkan dapat pula pada peristiwa buruk, yang diambil manfaatnya bagi kehidupannya. Dalam kegiatan pembelajaran, guru telah menerapkan berbagai metode pembelajaran secara dinamis seperti metode ceramah bervariasi, diskusi, pembelajaran luar kelas atau wisata sejarah, sampai pembelajaran berbasis proyek. Mulai tampak perubahan paradigma pembelajaran yang semula berbasis pada guru sekarang menjadi pembelajaran berbasis pada siswa. Dalam membuat perencanaan juga guru telah menerapkan penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang terarah dan memiliki tingkat kesesuaian

tinggi

dengan

pelaksanaannya.

Guru

juga

aktif

dalam

mengembangkan diri terutama mengembangkan profesionalitas melalui MGMP, MSI, PGRI, dan organisasi profesi lain. Begitu pula guru memberi akses yang luas untuk berkonsultasi di luar pembelajaran. Terkait dengan media pembelajaran, guru juga telah menggunakan media yang dapat membantu kegiatan pembelajaran seperti OHP, Peta, gambar, dan lain sebagainya.

b. Sarana dan Sumber Pembelajaran Sejarah Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang dan peralatan. Media tidak hanya terbatas pada arti sempit sebagai alat bantu saja, tetapi justru bermakna umum, baik itu sebagai alat bantu atau justru berfungsi sebagai bagian dari metode pembelajaran yang akan mengarahkan pemahaman siswa menjadi lebih baik. Media yang digunakan sebagai alat bantu umumnya berupa benda tak bergerak yaitu buku teks, modul yang kesemua itu hanya terbatas sebagai alat bantu bagi guru untuk memaparkan materi. Apapun media yang digunakan sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan pilihan media yang digunakan mampu mengantarkan siswa untuk memahami bahan ajar untuk mendapatkan hasil yang optimal. Secara umum ada 6 bentuk tipe media, yaitu gambar diam (still pictures), Rekaman suara (audio recording), gambar bergerak (Motion Pictures), Televisi, real things, simulation and models, programmed and

34

computer assisted. Sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi dari keenam media tersebut perlu ditambah dengan internet dimana aplikasi dari teknologi ini diantaranya adalah e-learning. Kegiatan pembelajaran akan dapat berlangsung dengan lancar apabila didukung sarana dan sumber pembelajaran yang memadai seperti ketersediaan media di atas. Sarana dan sumber pembelajaran meliputi segala sesuatu yang memudahkan terjadinya proses pembelajaran, meliputi tempat atau ruang kegiatan pembelajaran beserta kelengkapannya. Media pembelajaran untuk kepentingan efektivitas pembelajaran di kelas dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu: a) media pandang diproyeksikan, seperti: OHP, slide, projector dan filmstrip; b) media pandang yang tidak diproyeksikan, seperti gambar diam, grafis, model, benda asli; c) media dengar, seperti piringan hitam, pita kaset dan radio; d) media pandang dengar, seperti televisi dan film. Keberadaan dan pemanfaatan media pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Di SMA 5 Yogyakarta sarana pendukung memang belum sepenuhnya memadai. Jumlah OHP misalnya masih sangat terbatas dan media-media lain belum sebanding dengan jumlah guru maupun siswa. Media mutakhir misalnya, SMA 5 Yogyakarta hanya memiliki 3 laptop dan 1 LCD. Suatu jumlah yang masih kecil jika dibandingkan dengan jumlah guru dan kelas/siswa.

c. Budaya Akademik Proses pembelajaran erat sekali kaitannya dengan lingkungan atau suasana di mana proses itu berlangsung. Meskipun prestasi belajar juga dipengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya belajar, fasilitas yang tersedia, pengaruh budaya akademik masih sangat penting. Hal ini beralasan karena ketika para peserta didik belajar di ruangan kelas, lingkungan kelas, baik itu lingkungan fisik maupun non fisik kemungkinan mendukung mereka atau bahkan malah mengganggu mereka. Budaya akademik yang kondusif antara lain dapat mendukung: interaksi yang bermanfaat di antara peserta didik; memperjelas pengalaman-pengalaman guru dan peserta didik; menumbuhkan

35

semangat yang memungkinkan kegiatan-kegiatan di kelas berlangsung dengan baik; dan mendukung saling pengertian antara guru dan peserta didik. Di samping itu budaya akademik atau suasana kelas dan lingkungan kelas mempunyai pengaruh yang penting terhadap kepuasan peserta didik, belajar, dan pertumbuhan/perkembangan pribadi. Kedua pendapat itu sangat beralasan karena hal-hal tersebut di atas pada gilirannya akan mempengaruhi prestasi belajar peserta didik. Di SMA 5 Yogyakarta, budaya akademik menunjukkan suasana yang kondusif. Sosialitas antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan bahkan antara guru dengan guru menunjukkan keanekaragam pencerminan yang cukup harmoni. Meskipun masih ada kelompok-kelompok pada guru misalnya antara guru PNS dengan GTT, tapi hubungan diantara keduanya menunjukkan suasana yang baik. Begitu pula di dalam kelas adanya sikap sosial siswa yang positif terhadap pembelajaran sejarah menambah suasana akademik yang kondusif.

d. Sikap Siswa terhadap Pelajaran Sejarah Sikap siswa terhadap pelajaran sejarah, menunjukkan sikap yang cukup positif. Berdasarkan wawancara terhadap R1, R2, R3, dan R4, maka dapat disimpulkan bahwa mereka sudah memiliki sikap yang positif terhadap pelajaran Sejarah. Memang, sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran mempunyai peran yang cukup dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Sikap siswa terhadap Sejarah dimaksudkan sebagai tendensi mental yang diaktualkan atau diverbalkan terhadap mata pelajaran sejarah yang didasarkan pada pemahaman dan keyakinan serta perasaannya terhadap sejarah. Objek yang disikapi adalah sikapnmata pelajaran sejarah. Berkaitan dengan komponen-komponen sikap, maka sikap terhadap pelajaran sejarah dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Komponen kognisi Komponen ini merupakan bagian sikap siswa yang timbul berdasarkan pemahaman maupun keyakinannya terhadap pelajaran sejarah. Siswa yang menganggap pelajaran sejarah tidak terlalu penting

36

karena yang dipelajari dalam pelajaran sejarah hanya hafalan, memiliki perasaan dan kecenderungan tingkah laku yang berbeda dalam menghadapi pelajaran sejarah

dibandingkan dengan siswa yang

menganggap pelajaran sejarah sangat penting karena bermanfaat dalam masyarakat. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa komponen kognisi menjawab pertanyaan apa yang diketahui, dipahami dan diyakini siswa terhadap pelajaran sejarah. Jawaban siswa SMA 5 Yogyakarta terhadap komponen kognisi menunjukkan bahwa siswa cukup menyenangi pelajaran sejarah. 2) Komponen afeksi Komponen ini merupakan bagian sikap siswa yang timbul berdasarkan apa yang dirasakan siswa terhadap pelajaran sejarah. Komponen ini menjawab apa yang dirasakan siswa ketika menghadapi pelajaran sejarah. Perasaan siswa terhadap pelajaran sejarah dapat muncul karena faktor kognisi maupun faktor-faktor tertentu yang sangat sulit diketahui. Seorang siswa merasa senang atau tidak senang, suka atau tidak suka terhadap pelajaran sejarah, baik terhadap materinya, gurunya maupun manfaatnya. Hal ini termasuk komponen afeksi. Ini juga menunjukkan rasa cukup senang siswa terhadap pelajaran sejarah. 3) Komponen konasi Berdasarkan komponen kognisi dan afeksi nampak adanya kecenderungan untuk bertindak maupun bertingkah laku sebagai reaksi terhadap kegiatan pembelajaran Sejarah. Siswa yang memperlihatkan tingkah laku seperti suka bertanya, aktif mengikuti pelajaran sejarah, kebiasaan mempersiapkan alat-alat dan buku-buku sejarah sebelum berangkat sekolah, senang mengerjakan soal yang berhubungan dengan sejarah, dan sebagainya merupakan contoh-contoh yang tergolong komponen konasi. Berdasarkan hasil observasi, maka kecenderungan sikap konasi siswa dalam pembelajaran sejarah termasuk dalam kategori positif, atau memiliki kemampuan konasi dengan baik.

37

Sikap positif siswa dalam kegiatan pembelajaran sejarah mempunyai sumbangan positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sejarah yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan hasil belajar sejarah siswa. Hal ini terjadi karena siswa yang memiliki sikap positif selama kegiatan pembelajaran berlangsung pada umumnya akan diikuti dengan semangat dan motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mempunyai sikap negatif, dengan motivasi belajar yang tinggi akan diikuti instensitas belajar yang lebih baik sehingga pada akhirnya akan mampu meraih prestasi belajar

yang lebih tinggi. Dengan demikian kualitas

pembelajaran sejarah juga dipengaruhi sikap siswa terhadap pelajaran sejarah selama berlangsungnya proses pembelajaran dalam kelas. Siswa perlu memiliki sikap positif terhadap mata pelajaran sejarah, karena dengan sikap positif, dalam diri siswa akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang disajikan. Siswa juga perlu memiliki sikap positif terhadap guru yang mengajar suatu mata pelajaran. Siswa yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru, akan cenderung mengabaikan hal-hal yang disampaikan guru. Dengan demikian, siswa yang memiliki sikap negatif terhadap guru yang mengajar, akan sukar menyerap materi pelajaran yang disajikan. Siswa juga perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran dalam hal ini mencakup, suasana pembelajaran, strategi dan teknik pembelajaran yang digunakan. Tidak jarang siswa yang merasa kecewa atau tidak puas terhadap proses pembelajaran yang berlangsung, namun mereka tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan. Akibatnya mereka terpaksa mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung dengan perasaan yang kurang nyaman. Hal ini dapat mempengaruhi tarap penyerapan dan atau penguasaan materi yang disajikan atau kompetensi yang dikembangkan. Berdasarkan ungkapan tersebut di atas berdasarkan objeknya, sikap siswa dalam pembelajaran dapat dibedakan antara sikap terhadap guru, sikap terhadap mata pelajaran, sikap terhadap sesama

38

siswa, sikap terhadap strategi pembelajaran yang digunakan guru, dan sikap terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan.

e. Motivasi Belajar Siswa Seperti halnya dengan sikap siswa terhadap pelajaran Sejarah, motivasi belajar siswa juga menunjukkan kategori cukup tinggi dalam mempelajari Sejarah. Menurut R1, R2, XR, R4, mereka merasa motivasi belajarnya cukup tinggi karena didaktik dan metodik yang diterapkan oleh guru tidak membosankan, dan bahkan banyak melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas. Begitu pula dengan pemahaman akan arti penting materi sejarah juga menimbulkan adanya motivasi belajar sejarah. Sejarah dianggap penting dan berguna bagi kehidupannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi belajar siswa memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap keberhasilan proses maupun hasil belajar siswa. Salah satu indikator kualitas pembelajaran

adalah adanya semangat maupun

motivasi belajar dari para siswa. Dalam banyak hal pengertian motivasi dan minat digunakan secara silih berganti, bahkan dalam pendidikan dan psikologi acapkali penggunaannya disamakan. Dalam pengertian umum minat merupakan daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas guna mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian minat merupakan suatu potensi yang ada pada individu yang sifatnya laten atau potensi yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman, sedangkan motivasi adalah kondisi yang muncul dalam diri individu yang disebabkan oleh interaksi antara motif dengan kejadian-kejadian yang diamati oleh individu, sehingga mendorong mengaktifkan perilaku menjadi tindakan nyata. Mereka yang memiliki motivasi tinggi, dapat diidentifikasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) memperlihatkan berbagai tanda aktivitas fisiologis yang tinggi, 2) menunjukkan kewaspadaan yang tinggi, 3) berorientasi pada keberhasilan dan sensitif terhadap tanda-tanda yang berkaitan dengan peningkatan prestasi kerja, 4) memiliki tanggung jawab

39

secara pribadi atas kinerjanya, 5) menyukai umpan balik berupa penghargaan dan bukan insentif untuk peningkatan kinerjanya, 6) inovatif mencari hal-hal yang baru dan efisien untuk peningkatan kinerjanya. Dalam pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta, siswa menunjukkan motivasi yang cukup tinggi. Tingginya motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah dapat pula ditunjukkan dengan baiknya nilai ulangan sejarah baik harian maupun ulangan semester. Dalam hal lain, prestasi akademik siswa juga cukup tinggi seperti ditunjukkan melalui prestasi dibidang lomba-lomba yang bernuansa sejarah seperti lomba cerdas-cermat sejarah, artikel sejarah, lawatan sejarah, lomba bercerita sejarah, dan lain sebagainya.

B. Pembahasan dan Analisis Kinerja guru atau (teacher performance), berkaitan dengan kompetensi atau kemampuan guru dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, untuk memiliki kinerja yang baik, guru harus didukung oleh kompetensi yang baik pula. Dengan demikian, kinerja guru merupakan perwujudan kompetensi yang meliputi kemampuan dan motivasi untuk melaksanakan tugas profesi dengan baik. Sebagaimana dinyatakan dalam (Depdiknas, 2004 b: 11),

bahwa kinerja guru merupakan kemampuan guru untuk

mendemonstrasikan berbagai ketrampilan dan kompetensi yang dimilikinya. Oleh karena itu esensi dari kinerja guru berarti kemampuan guru dalam menunjukkan ketrampilan atau kompetensi yang dimilikinya dalam dunia pendidikan. Dalam kasus SMA 5 Yogyakarta, kinerja guru selalu dievaluasi oleh Kepala Sekolah dalam program suvervisi, sehingga baik tidaknya kinerja guru selalu terpantau (G1). Secara lebih spesifik, Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2003: 89) merumuskan standar Kompetensi guru sebagai berikut: 1) kompetensi pengelolaan pembelajaran yang terdiri atas: penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan interaksi belajar mengajar, penilaian prestasi

40

belajar peserta didik dan pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, 2) kompetensi pengembangan profesi, dan 3) kompetensi penguasaan akademik, yang terdiri atas pemahaman wawasan kependidikan dan penguasaan kajian akademik. Menurut pasal 28 ayat 3 PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan pasal 10 ayat 1 UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen kompetensi guru terdiri dari: a) kompetensi pedagogik; b) kompetensi kepribadian; c) kompetensi profesional; dan, d) kompetensi sosial. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan

berbagai

potensi

yang

dimilikinya.

Kompetensi

kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan

dalam Standar Nasional

Pendidikan. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Dengan demikian ujung tombak dari proses pendidikan adalah proses pembelajaran, dengan demikian untuk memperbaiki kualitas pendidikan, upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran merupakan tuntutan yang tidak

bisa ditinggalkan,

karena tanpa adanya peningkatan

kualitas

pembelajaran, mustahil dapat meningkatkan kualitas output pendidikan, karena output pendidikan tidak lain merupakan output dari proses pembelajaran. Begitu juga hasil belajar siswa tidak akan terlepas dari pengaruh kualitas pembelajaran yang telah berlangsung sebelumnya, karena hasil belajar siwa tidak lain merupakan produk dari sebuah proses, yaitu proses pembelajaran. Tentu saja kualitas proses juga tidak akan terlepas dari

41

pengaruh kualitas input. Hasil pembelajaran sejarah selain output berupa kecakapan akademik, kecakapan personal dan kecakapan sosial, ada hasil yang lain yaitu prestasi siswa dalam bermasyarakat (social achievement) yang disebut outcome. Apabila pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, maka keempat komponen tersebut (input, process, output dan outcome) saling mempengaruhi satu dengan

yang lain. Keempat komponen sistem

pembelajaran sejarah tersebut dapat dibedakan menjadi: a) input dalam pembelajaran sejarah meliputi: fasilitas pembelajaran yang tersedia (ruang kelas beserta kelengkapannya, media pembelajaran seperti peta, map, globe, serta sumber belajar yang tersedia), kurikulum yang digunakan, kualitas guru yang mengajar (latar belakang pendidikan, pengalaman, dan motivasi kerja), dan kualitas siswa yang belajar (IQ, SQ, EQ, motivasi belajar, pengetahuan dan pengalaman siswa) b) proses pembelajaran sejarah, dan c) output pembelajaran sejarah (academic skill, personal skill dan social skill) dan outcome pembelajaran sejarah dalam bentuk keberhasilan dalam masyarakat (social achievement), baik masyarakat lokal, tegional, nasional maupun internasional. Keberhasilan siswa dalam hidup masyarakat merupakan tujuan akhir dari pembelajaran sejarah. Keempat komponen tersebut saling terkait satu dengan yang lain. Kemudian, sekolah sebagai lingkungan eksternal pembelajaran sejarah akan mempengaruhi tersedianya input yang cukup baik, yaitu sarana dan prasarana pembelajaran, kualitas guru dan kualitas siswa. Tersedianya input yang baik akan memungkinkan terselenggaranya proses pembelajaran yang lebih baik, karena dengan adanya sarana dan prasarana pembelajaran yang baik akan memudahkan bagi guru maupun siswa dalam berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran. Tersedianya media pembelajaran akan memudahkan guru dalam mengajar, tersedia sumber dan sarana belajar akan memudahkan siswa dalam belajar. Adanya guru yang berkualitas memungkinkan diperolehnya guru yang mempunyai kinerja lebih baik dalam pembelajaran di kelas, sehingga memudahkan siswa dalam belajar, begitu juga dengan siswa yang mempunyai kecerdasan, minat dan motivasi yang tinggi dalam

42

pembelajaran

sejarah

memungkinkan

terwujudnya

kualitas

proses

pembelajaran yang lebih baik. Tingginya kualitas pembelajaran akan mampu meningkatkan kecakapan akademik, kecakapan personal maupun kecakapan sosial siswa sebagai hasil proses pembelajaran, yang pada akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam masyarakat, dengan kata lain prestasi sosial (social achievement) siswa dalam masyarakat cukup baik. Dalam konteks program pembelajaran, tanpa mengurangi arti penting serta tanpa mengesampingkan faktor-faktor yang lain, faktor kualitas pembelajaran merupakan faktor yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas hasil proses pembelajaran yang pada akhirnya akan berujung pada meningkatnya kualitas pendidikan, karena muara dari berbagai program pendidikan adalah pada terlaksananya program pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu untuk mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran tidak cukup hanya berdasarkan pada hasil penilaian hasil belajar siswa semata, namun perlu juga memperhatikan hasil penilaian terhadap input serta kualitas pembelajaran. Sebagai proses identifikasi dan pemaknaan dari tahapan penelitian yang mengarah pada substansi pembelajaran, maka dapat diinterpretasikan bahwa proses pembelajaran sejarah untuk materi sejarah adalah lebih banyak kepada teori-teori umum tentang pembelajaran. Dalam teori belajar-mengajar yang menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh keterampilan didaktik-metodik guru sangat terbukti dalam penelitian di SMA 5 Yogyakarta ini. Guru di samping sebagai fasilitator sebagaimana konsep baru dalam proses pembelajaran, guru juga sebagai dinamisator dan sumber inspirasi. Ini juga tidak menafikan prinsip student centered learning yang mengharuskan pembelajaran yang berpusat pada siswa, melainkan lebih dari itu, bahwa dalam konsespi yang substantif, guru berperan sejak awal sehingga ada pembelajaran yang erimbang´antara peran guru sebagai pendidik dan pengajar, dan peran siswa sebagai pebelajar. Keseimbangan peran inilah yang menunjukkan adanya kontinum pembelajaran yang bergerak dari strategi

43

ekspositori yang melibatkan peran penuh guru dalam proses pembelajaran maupun bimbingan, hingga pada strategi inkuiri yang melibatkan peran siswa secara penuh. Kemudian sesuai dengan kompleksitas dan globalnya kecenderungan dan perkembangan masyarakat dalam perjalanan sejarahnya, maka sudah pada tempatnyalah apabila persepektif pengajaran sejarah berorientasi pada masa depan. Hal ini berarti akan memerlukan orientasi, atau mungkin lebih tepat perluasan wawasan pengajaran sejarah, yaitu dari orientasi pengajaran sejarah yang menekankan aspek masa kelampauannya (past oriented), perlu diperluas kearah orientasi pengajaran sejarah berwawasan masa depan (future oriented). Penekanan wawasan pengajaran sejarah pada masa depan ini, pada dasarnya juga sesuai dengan hakekat tujuan pendidikan yang mempersiapkan kehidupan masa depan bagi generasi penerus. Konsep masa lampau adalah guru terbaik bagi masa depan, dapat menjadi salah satu perspektif yang strategis dalam menempatkan konsep wawasan masa depan dalam pengajaran sejarah yang dinamis (Djoko Suryo: 2005: 3). Sejalan dengan teori Fenton (1967: 262), bahwa berdasarkan observasi terhadap strategi pembelajaran yang dilakukan oleh para pengajar sejarah, ternyata strategi itu bergerak pada suatu kontinum dari strategi ekspositori sampai pada strategi inkuiri Strategi ekspositori menunjukkan keterlibatan pengajar secara penuh menuntut keterlibatan mental pengajar untuk mampu memilih model dan metode mengajar yang sesuai dengan beban dan isi materi serta tujuan yang akan dicapai. Penentuan terhadap satu model mengajar akan membuka kemungkinan untuk menggunakan beberapa metode mengajar. Guru SMA 5 Yogyakarta secara didaktik metodik menunjukkan cara kerja yang optimal, dan terkesan bersikap inovatif terhadap dinamisasi pembelajaran sejarah. Hal ini terbukti dengan proses penilaian terhadap siswa yang tidak hanya penilaian produk saja, melainkan juga adanya penilaian proses seperti pada tugas, proyek, dan penilaian unjuk kerja. Gagasan ini berkaitan dengan usaha untuk memahami bagaimana para siswa mendapatkan pengalaman dalam pembelajaran. Selama ini sistem

44

evaluasi akhir yang cenderung hanya fokus pada hasil pembelajaran dengan parameter para pendidik. Gagasan ini mendorong inisiasi lahirnya masukan dan umpan balik dari mahasiswa untuk mengevaluasi proses pembelajaran dan pembelajaran yang telah berlangsung. Oleh karena itu sistem umpan balik tidak hanya kesimpulan akhir perkuliahan, namun merupakan suatu proses dalam relasi pembelajaran-pembelajaran yang terus menerus. Realitas yang selama ini terjadi, para pendidik hanya berkonsentrasi pada disseminasi materi tanpa mempertimbangkan bagaimana proses tersebut mempengaruhi peserta didik dan membentuk lingkungan pembelajaran. Sistem umpan balik yang efektif bermaksud menjembatani gap yang ada antara pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendidik selayaknya meluangkan waktu diakhir kegiatan pembelajaran untuk menarik kesimpulan umum dan mengadakan dialog dengan peserta didik. Pola semacam ini memungkinkan terciptanya proses pembelajaran yang kondusif (Carolin Rekar Murno, 2005). Dengan demikian mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran sejarah tidak cukup hanya berdasarkan penilaian hasil belajar siswa yang terbatas pada aspek akademis saja, melainkan juga menjangkau penilaian hasil belajar yang lain yakni kesadaran sejarah dan nasionalisme. Selain itu dalam cara pandang sistem, penilaian perlu dilakukan terhadap input dan proses pembelajaran yang telah berlangsung. Evaluasi program pembelajaran sejarah yang didasarkan pada penilaian hasil belajar berupa kecakapan akademik saja, merupakan kelemahan evaluasi program pembelajaran sejarah selama ini. Oleh karena itu untuk lebih mengoptimalkan evaluasi program pembelajaran sejarah SMA maka perlu dilakukan secara lebih komprehensif yang tidak hanya terfokus pada aspek output pembelajaran semata, melainkan juga menyentuh ranah proses pembelajaran sejarah. Output pembelajaran tidak hanya terfokus pada penilaian ketrampilan akademis (academic skill) tetapi juga menyangkut penilaian terhadap kesadaran sejarah (historical awareness) dan nasionalisme (nationalism). Terhadap kedua variabel yang disebut terakhir tersebut perlu dilakukan karena sejarah merupakan bidang studi yang

45

mempersiapkan peserta didik yang memiliki kesadaran sejarah dan nasionalisme sebagai pendukung character and nation building. Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal istilah penilaian berbasis kelas. Salah satu tujuan perlunya penilaian berbasis kelas yakni memberi umpan balik (feed back) pada program jangka pendek yang dilakukan oleh siswa dalam proses kegiatan belajar dan oleh guru dalam proses kegiatan mengajar sehingga masih memungkinkan untuk mengadakan perbaikan (Depdiknas, 2003 b: 191). Dalam hal ini, objek penilaian berbasis kelas tidak hanya terfokus pada hasil belajar semata, melainkan juga pada siswa dalam proses belajar dan kinerja guru yang mengajar. Hasil penilaian berbasis kelas memberikan feed back pada siswa maupun guru sebagai dasar untuk melakukan perbaikan kegiatan pembelajaran selanjutnya. Untuk mendukung penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang berbasis kompetensi, maka perlu dikembangkan model evaluasi program pembelajaran sejarah SMA yang lebih menyeluruh yang dapat digunakan oleh pimpinan sekolah atau pimpinan sekolah untuk mengevaluasi program pembelajaran yang telah disusun dan dilaksanakan oleh guru. Hasil belajar mata pelajaran sejarah mencakup kecakapan akademik (academic skill), kesadaran sejarah (historical awareness), dan nasionalisme (nationalism).

Kecakapan akademik menyangkut ranah kognitif yang

mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran yang bersumber dari kurikulum yang berlaku. Penilaian kesadaran sejarah (historical awareness) meliputi kemampuan: 1) menghayati makna dan hakekat sejarah bagi masa kini dan masa yang akan datang; 2) mengenal diri sendiri dan bangsanya; 3) membudayakan sejarah bagi pembinaan budaya bangsa; dan 4) menjaga peninggalan sejarah bangsa. Sedangkan aspek nasionalisme (nationalism) menyangkut: 1) perasaan bangga siswa sebagai bangsa Indonesia; 2) rasa cinta tanah air dan bangsa; 3) rela berkorban demi bangsa; 4) menerima kemajemukan; 5) bangga pada budaya yang beraneka ragam; 6) menghargai jasa para pahlawan; dan 7) mengutamakan kepentingan kelompok.

46

Terdapat beberapa sumber yang dapat dijadikan acuan untuk menilai produk pembelajaran sejarah. Savage & Armstrong, dalam Widyoko (2007) bahwa untuk menilai hasil pembelajaran dapat dilakukan melalui: a). penilaian secara informal meliputi observasi guru, diskusi guru dengan siswa, kliping artikel surat kabar, dan teknik-teknik informasi lainnya; b) penilaian secara formal, meliputi: rating scale, checklist, attitude inventories, tes isian, tes pilihan ganda, dan tes melengkapi. Sedangkan dalam Direktorat Tenaga Kependidikan (Depdiknas, 2003 b: 11) dijelaskan bahwa penilaian dalam mata pelajaran selain penilaian tertulis (pencil and paper test), dapat juga menggunakan model penilaian unjuk kerja (performance assessment), penugasan (project), produk (product), atau portopolio (portfolio). Menurut Mardapi (2005: 77), sesuai dengan tujuannya, penilaian yang digunakan di kelas bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu: penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif merupakan bagian integral dari proses pembelajaran peserta didik. Penilaian ini digunakan untuk memperoleh umpan balik dari peserta didik untuk memperkuat proses pembelajaran dan untuk membantu tenaga pendidik menentukan strategi pembelajaran yang lebih tepat. Penilaian formatif dapat dilakukan melalui tugas-tugas, ulangan singkat atau kuis, ulangan harian, dan atau tugas kegiatan praktek. Penilaian ini dilakukan pada dasarnya untuk memperbaiki strategi pembelajaran. Sedangkan penilaian sumatif dilakukan pada akhir blok pelajaran untuk memberi indikasi tingkat pencapaian belajar peserta didik atau kompetensi dasar yang dicapai peserta didik. Bentuk soal ulangan sumatif bisa berupa pilihan ganda, uraian objektif, uraian bebas, tes praktek, dan lainnya. Sependapat dengan itu Daliman (2003: 229) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran sejarah dapat dilakukan penilaian proses yang meliputi teknik belajar, inisiatif, kemampuan berpendapat, motivasi, sikap, partisipasi, dan ketepatan penyelesaian tugas. Sedangkan penilaian hasil pembelajarannya meliputi kebenaran dan keluasan konsep, analisis kritis, kemampuan rekonstruksi, historiografi, dan kemampuan aplikasi isu-isu penting.

47

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa untuk menilai hasil pembelajaran sejarah di SMA dapat menggunakan berbagai teknik penilaian yang adaptif. Pemilihan teknik penilaian yang digunakan tergantung pada aspek kemampuan yang dinilai. Adapun teknik-teknik penilaian yang dapat dipilih seperti: 1) tes tertulis (pencil and paper test) baik dalam bentuk isian, pilihan ganda, maupun menjodohkan; 2) penilaian unjuk kerja (performance assessment); 3) penugasan (project); 4) produk (product); 5) portopolio (portfolio); 6) inventori sikap (attitude inventories); dan 7) rating scale.

48

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran Sejarah di SMA 5 Yogyakarta sebagai implementasi kurikulum nasional selama ini sudah menunjukkan kualitas yang baik. Adanya faktor yang mendukung terhadap kualitas pembelajaran sejarah mrnjadikan materi sejarah dapat diselenggarakan secara optimal. Indikator-indikator itu dapat bersifat internal maupun eksternal, yang berdampak

baik

secara langsung maupun

tidak

langsung terhadap

keberhasilan proses maupun output. Dengan demikian diperlukan cara pikir sistem yang mengevaluasi secara berkelanjutan penerapan KTSP Sejarah secara cermat, yakni berdasarkan sudut pandang sistem yang meliputi konteks, input, proses, dan output, sehingga pembelajaran sejarah dapat memiliki kapabilitas dan kualitas yang baik. Indikator-indikator yang menjadi pendukung dalam implementasi KTSP sejarah terutama dalam proses pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta yakni meliputi: memadainya kompetensi guru baik yang menyangkut kompetensi akademik, pedagogik, sosial, maupun kepribadian; adanya sarana pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah meskipun masih terbatas; atsmospir atau budaya akademik yang kondusif; cukup positifnya sikap siswa terhadap pelajaran sejarah; dan motivasi siswa dalam belajar sejarah siswa yang cukup tinggi. Dengan demikian, indikator-indikator tersebut perlu ditingkatkan dan menjadi perhatian serius oleh seluruh komponen sekolah secara sinergis, agar segala potensi tersebut terus menjadi indikator pendukung untuk keberhasilan kegiatan atau program pembelajaran.

B. Implikasi dan Saran Mengingat adanya ungkapan bahwa tidak ada satu metode dan strategi pun yang paling baik untuk diterapkan kecuali tepat dan sesuai dengan kondisi peserta didik, maka menunjukkan bahwa metode apapun akan cocok dan

49

efektif apabila sesuai dengan kondisi dalam proses pembelajaran. Metode ceramah sekalipun akan cocok apabila peserta didik memiliki tingkat pemahaman tinggi, dan dalam kapasitas kelas yang besar. Namun demikian akan lebih baik apabila pengajar mampu menyeleksi tentang mana-mana metode yang cocok untuk diterapkan dalam kelasnya. Atau dapat pula memadu beberapa metode sehingga proses pembelajaran tidak membosankan bagi peserta didik, dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara substansial, tidak saja hanya menyentuh ranah kognitif belaka, melainkan pula ranah afektif maupun psikomotor. Itu berarti pembelajaran tidak sekedar transfer of knowlenge, melainkan pula transfer of value. Inilah sebenarnya sejatinya sistem pendidikan yang menjadi cita-cita dan tujuan pendidikan nasional secara menyeluruh. Sistem pengajaran yang bermakna adalah pengajaran yang dapat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Meskipun proses belajar mengajar tidak dapat sepenuhnya berpusat pada peserta didik sebagaimana tuntutan kurikulum kompetensi, tetapi yang perlu dicermati adalah bahwa pada hakekatnya peserta didiklah yang harus belajar dan mengembangkan diri. Oleh karena itu proses belajar mengajar perlu berorientasi pada kebutuhan dan intelektualitas peserta didik. Kegiatankegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar harus dapat memberikan pengalaman belajar lamngsung yang menyenangkan dan berguna bagi peserta didik. Dengan demikian, pengajar perlu memberikan bermacammacam pengalaman baik langsung maupun tidak langsung mengenai situasi belajar yang memadai untuk materi yang disajikan, dan menyesuaikannya dengan kemampuan serta karakteristik peserta didik sebagai insan yang sedang dikembangkan. Berkaitan dengan itu, maka tugas pengajar adalah memberi arahan dan bimbingan yang jelas dan bermanfaat bagi dinamika intelektualitas peserta didik, sehingga peserta didik memiliki bingkai kerja yang kritis dan mendorong untuk bekerja secara aktif dan kreatif. Tanggungjawab profesi pengajar adalah memberikan pelayanan yang baik pada subjek belajar. Sekarang ini pengajar lebih dituntut untuk berfungsi

50

sebagai pengelola proses belajar mengajar yang melaksanakan tugas yaitu dalam merencanakan, mengatur, mengarahkan, dan mengevaluasi. Namun demikian bukan berarti pengajar telah lepas sama sekali dalam proses pembelajaran, melainkan tetap memiliki peran yang besar dalam memimpin proses pembelajaran. Keberhasilan dalam belajar mengajar sangat tergantung pada kemampuan pengajar dalam merencanakan, yang mencakup antara lain menentukan tujuan belajar peserta didik, bagaimana caranya agar peserta didik mencapai tujuan tersebut, sarana apa yang diperlukan, dan lain sebagainya, sehingga proses pembelajaran menjadi terarah. Dalam hal mengatur, yang dilakukan pada waktu implementasi apa yang telah direncanakan dan mencakup pengetahuan tentang bentuk dan macam kegiatan yang harus dilaksanakan, bagaimana semua komponen dapat bekerjasama dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Pengajar bertugas untuk mengarahkan, memberikan motivasi, dan memberikan inspirasi kepada peserta didik untuk belajar. Memang benar tanpa pengarahan pun masih dapat juga terjadi proses belajar, tetapi dengan adanya pengarahan yang baik dari pengajar maka proses belajar dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan dalam hal mengevaluasi, termasuk penilaian akhir, hal ini dimaksudkan apakah perencanaan, pengaturan, dan pengarahannya dapat berjalan dengan baik atau masih perlu diperbaiki. Jika masih terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran, maka tugas pengajar adalah mengembangkannya berdasarkan suatu evaluasi, dan atau bahkan berdasarkan hasil penelitian yang terencana secara sistemis dan sistematis. Dengan demikian pada dasarnya, pengajar adalah peneliti yang harus memiliki kemampuan tinggi dalam menilai dan menginterpretasi gejalagejala yang muncul dalam proses pembelajaran. Jika pengajar tidak memiliki kemampuan meneliti, maka proses pembelajaran yang gagal atau kurang berhasil akan terus berlangsung. Kemudian sebagai saran bagi para staf pengajar khususnya pengajar sejarah, bahwa pembelajaran yang bermakna harus dinamis dan memerlukan kreativitas dari pengajar untuk mengembangkannya. Apabila pengajaran sejarah tetap terpola pada strategi konvensional, maka pengajaran sejarah

51

yang demikian telah terperangkap pada bidang gelap yang menyesatkan. Pengajarah sejarah akan kehilangan arah dan makna, atau lebih buruk lagi dampak destruktruktifnya akan ditinggalkan oleh orang banyak. Dengan demikian, tugas pengajar adalah selalu tanggap terhadap perkembangan situasi, termasuk harus memiliki kompetensi dalam merespon arus perubahan yang semakin global dan kompetitif. Apabila tidak adaptif terhadap berbagai perubahan jaman, maka pengajar sejarah akan ketinggalan dan atau bahkan tergilas oleh arus globalisasi.

52

KEPUSTAKAAN

Bela H.Banathy. (1992). A Systems View of Education: Concepts and Principles for Effective Practice. (Englewood Cliffs: Educational Technology. Cox, J. (2006). The quality of an instructional program. National Education Association-Alaska. Diambil dari pada tanggal 23 Pebruari 2006, dari http://www.ak.nea.org./excellence/coxquality. Cruickshank, D.R. (1990). Research that informs teachers and teacher educators. Bicomington. Indiana: Phi Delta Kappa Educational Foundation Dadang Supardan. (2001). “Kreativitas Guru Sejarah dalam Proses Pembelajaran: Studi Kasus di SMU Kotamadya Bandung”, dalam Historia No. 3 Volume II. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Darling, L. & Hammond. (2000). Teacher quality and student achievement: A Review of state policy evidence. Education Policy Analysis Archives. Volume 8 Number 1. Diambil pada tanggal 17 Pebruari 2006 dari http://epas.asu.edu/epas/v8n1 Davidoff, LL. (1988). “Introduction To Psychology”, alih bahasa Mari Juniati, Psikologi Suatu Pengantar Jilid I. Jakarta: Erlangga. Hadiyanto & Subiyanto. (2003). Pengembalian kebebasan guru untuk mengkreasi iklim kelas dalam manajemen berbasis sekolah. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan no. 040. Januari 2003. diambil pada tanggal 6 September 2006 dari http://www.depdiknas.go.id. Helius Sjamsuddin. (2005). Model-model Pengajaran Sejarah: Beberapa Alternatif untuk SLTA. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Ibrahim Bafadal. (2003). Manajemen perlengkapan sekolah. Teori dan aplikasinya. Jakarta: Bumi Aksara. Krippendorff, Klaus. (1991). Content Analysis: Introduction Its Theory and Methodology”, Alih Bahasa Farid Wajidi, Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi. Jakarta: Rajawali. Manullang. (1991). Pengembangan motivasi berprestasi. Jakarta: Pusat Produktivitas Nasional. Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia. Miles, M.B. and Huberman, A.M. (1984). Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. Beverly Hills CA: Sage Publications. Moleong, L.J. (1999). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muhadjir, Noeng. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin. Mulyasa, E. (2007). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Morrison, D.M. & Mokashi K. & Cotter, K. (2006). Instructional quality indicators: Research foundations. Cambrigde. Diambil pada tanggal 17 Maret 2006 dari www.co.nect.net Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. (2005). Media pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Noeng Muhadjir. (1992). Pengukuran kepribadian. Yogyakarta: Rake Sarasin

53

Ormrod, J.E. (2003). Educational psychology, Developing learners. Fourth edition. New Jersey: Pearson Education, Inc. Patton, M.Q. (1980). Qualitative Evaluation Methods. Beverly Hills, CA.: Sage Publication. Sardiman AM. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Radja Grafindo Persada. Schacter, J. (2006). Teacher performance-based accountability : why, what and how. Santa Moica : Miken Family Foundation. Diambil pada tanggal 15 Pebruari 2006 dari http://www.mff.org/pubs/ performance-assessment. pdf. Spradley, J.P. (1980). Participant Observation. New York, N.Y: holt, Rinehart, and Winston. Soedjatmoko. 1976. “Kesadaaran Sejarah dalam Pembangunan”. Prisma No. 7. Jakarta. Sutopo, H.B. (1995). Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press. Sutopo, H.B. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra UNS. Supardan, Dadan. 2001. “Kreativitas Guru Sejarah dalam Proses Pembelajaran: Studi Kasus di SMU Kotamadya Bandung”, dalam Historia: Jurnal Pendidikan Sejarah, No.3 Vol.II. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Surakhmad, Winarno. 2000. Metodologi Pengajaran Nasional. Jakarta: UHAMKA. Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Waluyo, H.J. 2000. “Hermeneutik Sebagai Pusat Pendekatan Kualitatif”, dalam Historika, No.11. Surakarta: PPS UNJ KPK UNS. Widja, I. Gde. (1989. Dasar-dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: Depdikbud. Widoyoko, S.E.P. (2007). Pengembangan Model Evaluasi Pembelajaran IPS SMP. Yogyakarta: PPS UNY. Winarno Surakhmad, 2000. Metodologi Pengajaran Nasional. Jakarta: Universitas Muhammadiyah Profesor Hamka. Winkel, W.S. (1991). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo. Wiriaatmadja, Rochiati. 2004. “Multicultural Perspective in Teachhing History to the Chinese Indonesian Studies”, dalam Historia: Jurnal Pendidikan Sejarah, No.9 Vol.V. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Yin, R.K. 1987. Case Study Research: Design and Methods. Beverly Hills, CA: Sage Publication.

54

lAMPIRAN 1. CURRICULUM VITAE Nama Tempat Tanggal Lahir NIP Pangkat/Golongan Jabatan Agama Pekerjaan Mata Kuliah Pokok

Instansi Alamat Kantor Alamat Rumah Pendidikan

: Aman, M.Pd. : Salem, Brebes, 15 Oktober 1974 : 132 303 695 : Penata Muda Tk I/ III-b : Asisten Ahli : Islam : PNS Dosen : 1. Sejarah Indonesia 2. Strategi Pembelajaran, Perencanaan Pembelajaran : FISE Universitas Negeri Yogyakarta : Kampus Karangmalang FISE UNY Telpon 0274 586168 Psw. 385. : Joho Blok IV RT.07 RW.62 Condong Catur, Depok Sleman Yogyakarta. Telpon. 085227226897. : S2 Pendidikan Sejarah

Penelitian Lima Tahun Terakhir: 1. Optimalisasi Penerapan Model Inkuiri dalam Pembelajaran Sejarah. PPKP (2005), Anggota. 2. Points dan Coins, Studi Penulisan Bermakna dalam Mata kuliah Pengantar dan Dasar-dasar Ilmu Sejarah RBT (2004), Anggota. 3. Pengembangan Metode Problem Solving dalam Pembelajaran Sejarah. Penelitian Kelompok SP4. (2006), Anggota. 4. Kendala-Kendala dalam Implementasi Kurikulum IPS Materi Sejarah di SMP Piri Ngaglik Sleman. Dosen Muda (2007), Ketua. 5. Pengembangan Model Delikan dalam Pembelajaran IPS Sejarah di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Penelitian Iptek (2007), Ketua. Publikasi Ilmiah Lima Tahun Terakhir 1. Pemilu 2004 dan Budaya Demokrasi Indonesia. SOCIA (2004). 2. Benteng Kendala Reformasi Pengajaran Sejarah. SOCIA (2006). 3. Historisitas dan Kompleksitas Metodologi Penelitian Kualitatif. ISTORIA (2006) 4. Pemikiran Hatta Tentang Demokrasi. MOZAIK (2006). 5. Kloning dan Masalah Sosial Etik. DIMENSIA (2007). Yogyakarta, 5 November 2008 Pembuat,

Aman, M.Pd. NIP. 132 303 695

55

CURRICULUM VITAE Nama NIP Jenis Kelamin Pangkat/Gol/Jabatan Fakultas/Jurusan Perguruan Tinggi Bidang Keahlian Pendidkan Alamat Rumah Alamat Kantor

: Dyah Kumalasari, M.Pd. : 132 304 482 : Perempuan : Penata Muda Tk I/IIIb/Asisten Ahli : FIS/Pendidikan Sejarah : UNY Yogyakarta : Sejarah Indonesia : S-2 PPs UNS : Perum. Grha Palem Indah No. G1, Con-Cat Yogyakarta : Jurusan Pendidikan Sejarah, FIS UNY Telp. (0274) 586168, psw.385. Pengalaman Penelitian : 1. Hidden Curriculum dalam Pembelajaran Sejarah dan Pembentukan Jiwa Nasionalisme. Penelitian FISE Kelompok (2003), Anggota. 2. Points dan Coins, Studi Penulisan Bermakna dalam Mata kuliah Pengantar dan Dasar-dasar Ilmu Sejarah RBT (2004), Anggota. 3. Hambatan Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Dalam Penyusunan Tugas Akhir. Penelitian FISE Kelompok (2005), Anggota. 4. Pendekatan Model Provlem Solving dalam Pembelajaran Sejarah Tata Negara, SP4. (2006), Anggota. 5. Pengembangan Model Small Group Discusion dalam Pembelajaran Sejarah Australia Oceania. Penelitian Kelompok FISE. (2007), Anggota. Publikasi Ilmiah: 1. Sejarah dan Problematika Pendidikan. ISTORIA 2005. 2. Pergolakan Sosial Masyarakat Surakarta Masa Awal Reformasi. DIMENSIA, 2007. 3. Nasionalisme dalam Pendidikan Sejarah. MOZAIK, 2006. 4. Sejarah Pendidikan Indonesia Pada Masa Kolonial. ISTORIA, 2007.

Yogyakarta, 5 November 2008 Yang Membuat,

Dyah Kumalasari, M.Pd. NIP. 132 304 482

56

LAPORAN PENELITIAN PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2008

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG KUALITAS PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA 5 YOGYAKARTA

OLEH: AMAN, M.PD. DYAH KUMALASARI, M.PD.

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN 2008

57

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI Alamat: Kampus Karangmalang Yogyakarta 55281 Telp. 548202, 586168 Psw. 247, 248, 249 ========================================================== LAPORAN PENELITIAN PENDIDIKAN 1. Judul Penelitian

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG KUALITAS PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) 5 YOGYAKARTA Pendidikan Sejarah SMA 5 Yogyakarta 6 bulan/ dari bulan Mei sampai bulan Oktober 2008

2. Bidang Penelitian 3. Lokasi Penelitian 4. Waktu Penelitian 5. Ketua Tim Peneliti a. Nama Lengkap & gelar b. Jabatan c. Jurusan d. Fakultas/Lembaga 6. Alamat E-mail No. Telpon Rumah/HP 7. Jumlah Dana yang Disuslkan

Aman, M.Pd. Asisten Ahli Pendidikan Sejarah FISE/Universitas Negeri Yogyakarta Joho Blok 4 Condongcatur, Depok, Sleman [email protected] 085 227 226 897 Rp 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah)

Yogyakarta, 5 November 2008 Ketua Tim Peneliti,

Dekan FISE Universitas Negeri Yogyakarta,

Sardiman A.M., M.Pd. NIP. 130 814 615

Aman, M.Pd. NIP. 132 303 695 Mengetahui, Ketua Lembaga Penelitian UNY

Prof. Sukardi, Ph.D. NIP. 130 693 819

58

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG KUALITAS PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) 5 YOGYAKARTA ABSTRAK Pembelajaran sejarah memiliki karakteristik khusus dalam tujuan pencapaiannya terutama menyangkut tertanamkannya nilai-nilai kesadaran sejarah dan nasionalisme, di samping kemampuan akademik siswa. Untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, maka perlu pembelajaran yang inovatif sehingga perlu pendukung agar pembelajaran sejarah menjadi berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta selama ini, dan mengetahui faktor-faktor yang mendukung kualitas pembelajaran sejarah di SMA tersebut. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa SMA 5 Yogyakarta tergolong sekolah yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam proses pembelajaran maupun dalam realitas outputnya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bersifat naturalistik. Sedangkan strategi yang digunakan mengingat penelitian tersebut sudah direncanakan secara terperinci dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan, maka strateginya yang cocok adalah embedded research (penelitian terpancang). Adapun langkah-langkahnya adalah 1) pengumpulan sumber melalui wawancara, observasi, dan teknik dokumentasi); 2) mereduksi data dengan tujuan untuk menyederhanakan dan mengkategorisasi data; 3) menyajikan data dalam bentuk deskripsi memorial; 4) menarik kesimpulan sebagai hasil interpretasi; 5) mengajukan rekomendasi berupa implikasi; dan 6) menyusun laporan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika pembelajaran sejarah di SMA 5 Yogyakarta selama ini menunjukkan keanekaragaman pencerminan dimana proses pembelajaran sudah berlangsung cukup baik. Proses pembelajaran sejarah menunjukkan adanya kualitas proses dan hasil pembelajaran. Penilaian yang dilaksanakan oleh guru juga sudah mencakup penilaian proses dan produk pembelajaran. Selanjutnya melalui penelitian ini ditemukan faktor-faktor yang mendukung kualitas pembelajaran di SMA 5 Yogyakarta tersebut yakni adanya kompetensi guru yang sudah memiliki kompetensi dengan baik; adanya sikap siswa yang positif terhadap pelajaran sejarah; adanya motivasi yang cukup tinggi untuk berprestasi dalam mata pelajaran sejarah; sarana pembelajaran yang cukup memadai; dan iklim kelas yang mendukung proses pembelajaran sejarah. Dengan demikian hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan landasan atau pedoman bagi pimpinan sekolah maupun guru pada umumnya untuk senantiasa memerhatikan faktor-faktor yang mendukung terwujudnya kualitas pembelajaran. Kata Kunci: pembelajaran, kualitas, sejarah.

59

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... ii KATA PENGANTAR ............................................................................... iii DAFTAR ISI .............................................................................................. iv

BAB

I. PENDAHULUAN ..................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1 B. Perumusan dan Pemecahan Masalah ..................................... 4 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................. 4

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ..................................................................18 A. Kerangka Teori ..................................................................... 18 1. Pendidikan dan Pengajaran Sebagai Sistem ..................... 18 2. Hakikat Pembelajaran IPS Sejarah ................................... 20 a. Konsep Dasar IPS ..........................................................20 b. Pembelajaran IPS Sejarah ..............................................23 3. Model Delikan dalam Pembelajaran IPS Sejarah ..............28 4. Ekspositori Ke Inkuiri dalam Kegiatan Pembelajaran .......30 B. Kerangka Pikir ..................................................................... 33 C. Hipotesis Tindakan .............................................................. 34 BAB III. PELAKSANAAN PENELITIAN .............................................. 18 B. Perencanaan Penelitian ......................................................... 18 C. Pelaksanaan penelitian .... .................................................... 19 1. Tempat Penelitian ............................................................ 19 2. Bidang Penelitian ............................................................. 19 3. Sumber Data .................................................................... 19 4. Pengumpulan Data .......................................................... 20 5. Penerapan Siklus Penelitian ............................................ 20 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 40 A. Hasil Penelitian .................................................................... 40

60

1. Gambaran Umum SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta .. 40 2. Konsep Dasar IPS Sejarah ................................................ 45 2. Proses Pembelajaran IPS Sejarah .................................... 40 B. Pembahasan dan Analisis .................................................... 52 BAB V. PENUTUP ................................................................................ 56 A. Kesimpulan ......................................................................... 56 B. Implikasi dan Saran ............................................................ 56 LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................... 59 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penelitian ini meskipun menemui berbagai hambatan baik teknis maupun metodologis. Penelitian ini berjudul faktor-faktor pendukung kualitas pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Yogyakarta. Namun demikian, keberhasilan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang sangat besar kontribusinya bagi terselesaikannya penelitian ini. Oleh karenaitu, dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih yang dalam kepada: 1. Universitas Negeri Yogyakarta yang telah mendanai penelitian ini sehingga penelitian tindakan ini dapat diselesaikan dengan baik. 2. Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta yang juga telah memberi kesempatan kepada kami melalui terseleksinya proposal penelitian kami di tingkat Sekolah, yang telah memuluskan jalannya penelitian ini. 3. Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNY yang juga telah mendorong kami untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan profesi bagi kami yang sangat kami hargai.

61

4. Kepala SMA 5 Yogyakarta yang telah dengan tulus bersedia mengijinkan sekolah sebagai lokasi penelitian, dan sekaligus menjadi kolaborator dalam penelitian ini. 5. Pak Edi, pak Bambang yang telah bersedia memberikan informasi yang bermanfaat bagi penelitian ini, sehingga memudahkan dalam proses penyelesaiannya. 6. Teman sejawat yang ikut mendukung terselesaikannya penelitian ini kami sampaikan terima kasih yang tulus. 7. Berbagai pihak yang juga ikut berpartisipasi dalam penelitian ini kami menyampaikan terima kasih yang amat dalam. Namun demikian, bukan berarti hasil penelitian ini tidak terdapat kekurangan dan kelemahan, tetapi justru kami merasa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Kami merasa demikian mengingat masih adanya kendala-kendala

yang

kurang

mendukung

optimalnya

pelaksanaan

penelitian kami, seperti terbatasnya waktu dan kurangnya sarana pendukung untuk kegiatan penelitian ini. Oleh karena itu, dalam kesempaatan ini kami mengharapkan kepada berbagai pihak terutama pembaca untuk memberikan masukkan berupa saran dan kritik yang sifatnya membangun bagi kebaikan penelitian ini. Pun juga kepada para pengajar di di sekolah untuk secara bersama sama meningkatkan kualitas proses pembelajaran, melalui pengembangan berbagai model pembelajaran yang sifatnya dinamis, baik secara mandiri maupun melalui penelitian yang sifatnya kontinum. Akhirnya kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, semoga penelitian ini dapat bermanfaat terutama bagi kami, atau bahkan bagi para pembaca yang bersedia untuk mengembangkannya.

Yogyakarta, 12 November 2008 Ketua Tim Peneliti,

Aman, M.Pd.

62

Berawal dari prakarsa para tokoh pendidikan dan tokoh masyarakat di Yogyakarta yang antara lain Bapak R. DS. Hadiwidjono, Bapak Sudjana, Prof. Ir Haryono, Prof. Ir Supardi, Prof. Suhardi, SH, pada tanggal 17 september 1949, SMA Negeri 5 Yogyakarta secara resmi dapat didirikan dengan nama Sekolah Menengah Umum Atas Bagian Yuridis Ekonomi (SMA/AC) dan menempati gedung SMA Putri Stella Duce Yogyakarta. Pada tanggal 27 Oktover 1949, melalui surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 210 B, SMA C memperoleh status menjadi SMA Bagian C Negeri. Sebagai kepala sekolah adalah Bapak R.D.S Hadiwijana. Tanggal 31 maret 1950 pimpinan sekolah yang diserah terimakan kepada Bapak Suwito Puspo Kusumo, yang selanjutnya diserahkan kepada Bapak RA Djoko Tirto, SH. Dibawah pimpinan Bapak R.A Djoko, SH SMA bagian C berkembang pesat. Tanggal 21 Juli 1952 melalui SK Menteri Pendidikn& Keudayaan nomor 3094/B, SMA/C dipecah menjadi 2 sekolah yaitu:

63

1) MA Bagian C Negeri dibawah pimpinan Bapak Parwanto SH yang menempati gedung di Jalan Pogung No 2 Kotabaru, Yogyakarta, masuk pada siang hari (sekarang menjadi SMA N 5 Yogyakarta). 2) SMA Bagian C Negeri II dipimpin Bapak RA Djoko Tirtono SH yang menempati gedung yang sama tetapi masuk pada pagi hari (sekarang menjadi SMA N 6 Yogyakarta). Untuk mengantisipasi kemajuan jaman dengan mneyiapkan siswa untuk dapat melanjutkan ke Perguruan tinggi, maka pada tanggal 1 gustus 1959 SMA Negeri V Bagian C dijadikan SMA Negeri V bagian A-C. Pada tahun tersebut berhasil dibakukan : 1) peraturan dan tata tertib sekolah; 2) Lagu Mars Puspanegara; 3) Lambang sekolah “Puspanegara“ yang memiliki tugas suci “Trus Hakarya Ruming Praja“ mengandung makna agar nantinya para siswa SMA N 5 Yogyakarta terus berkarya demi keharuman Negara dan Bangsa. Sejak resmi berdiri sampai saat ini, SMA N 5 Yogyakarta telah mengalami

berkali-kali

pergantian

Kepala

Sekolah.

Setiap

kepemimpinan membawa perubahan kearah peningkatan. Lebih dari 10 orang kepala sekolah pernah menjabat dan memimpin di SMA N 5 Yogyakarta. Pada tanggal 11 Juli 1999, SMA N 5 Yogyakarta diserah terimakan kepada Bapak Drs Panut S, karena kepala sekolah sebelumnya yaitu Bapak Drs N Ngabdurahim menjalani masa purna tugas. Bapak Drs. Panut S menggantikan posisi beliau untuk beberapa saat hingga datang kepala sekolah tetap yang baru.

64

Kepala sekolah yang baru datang pada bulan Desember 1999 yaitu Bapak Drs Ilham. Pada periode ini, Bapak Drs. H Ilham memiliki program utama meningkatkan ketakwaan sehingga pada saat itu salah satu wujudnya adalah diresmikannya masjid SMA N 5 Yogyakarta dengan nama masjid DARUSSALAM PUSPANEGARA. Beliau menjabat hingga purna tugas. Pada bulan Desember 2001 Bapak Drs Timbul Mulyono, kepala sekolah SMA N 7 Yogyakarta ditunjuk untuk menggantikan sementara posisi kepala sekolah. Tanggal 25 Maret 2002 kepala sekolah dijabat oleh Bapak Drs. H Abu Suwardi. Program beliau adalah pembangunan etos kerja pada semua guru dan karyawan dan membangun kedisiplinan pada para siswa. Adapun visi SMA 5 Yogyakarta adalah berusaha menciptkan manusia yang memiliki citra moral, citra keceendekiawanan, citra kemandirian dan berwawasan linkungan berdasarkan atas ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan misinya adalah sebagai berikut. 1) Terbentuknya insan pelajar yang memiliki moral, perilaku yang baik, berbudi pekerti yang luhur berbudaya bangsa Indonesia dan berakhlakul karimah berdasarkan aturan-aturan yang berlaku baik di kalangan masyarakat, sekolah, negara maupun agama. 2) Terbentuknya generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi berjiwa patriotis, nasionalis tanpa mengabaikan

65

nilai-nilai norma serta nilai-nilai luhur kebangsaan maupun keagamaan. 3) Terbentuknya generasi yang berjiwa mandiri, senang beraktivitas dan berkreatifitas untuk menatap kehidupan masa depan yang lebih cerah dalam menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi. Adapun tujuan umum SMA N 5 Yogyakarta adalah sebagai berikut. 1) Menghasilkan genarasi yang berwawasan imtak dan iptek serta berfikir kedepan. 2) Menghasilkan genarasi yang bermoral yang disiplin, jujur, bersih, berdedikasi serta bertanggung jawab. 3) Mengingatkan dan menumbuhkembangkan bakat dan prestasi siswa dibidang akademis maupun non akademis. 4) Mewujudkan

dan

mempersiapkan

genarasi

berwawasan

kebangsaan dan berjiwa patriot. 5) Menghasilkan genarasi yang peduli dan peka terhadap lingkungan. Sedangkan tujuan khususnya SMA Negeri 5 Yogyakarta adalah sebagai berikut. 1) Meningkatkan prestasi akademik a) Lulus 100% dalam ujian nasional maupun ujian sekolah b) Masuk 4 besar tingkat kota dalam prestasi hasil ujian nasional c) Minimal 75% dari jumlah siswa diterima di PTN, 96% melanjutkan keperguruan tinggi.

66

d) Perstasi olimpiade MIPA besar, tingkat kota/ propinsi, ikut di tingkat nasional e) Perstasi lomba akademik diluar olimpiade tiga besar tingkat kota/propinsi (termasuk Bahasa Inggris) 2) Meningkatkan perstasi non akademik a) Peringkat tiga besar pada lomba musik tingkat kota, provonsi, nasional b) Juara satu lomba PIKN, UKS tingkat propinsi c) Peringkat tiga besar lomba Tonti tingkat kota/propinsi 3) Santun dalam perilaku, rajin dalam menjalankan kerintah agama Namun demikian, terdapat tantangan nyata yang dihadapi sekolah yang betul-betul dihadapi secara serius adalah sebagai berikut. 1) Memepertahankan tingkat kelulusan sekolah sebesar 100% setuap tahunnnya. 2) Daya komperisi hasil kelulusan tahun pelajaran 2008/2009 belum semuanya (program IPA maupun IPS memperoleh peringkat 4 besar tingkat kota dalam kenyataannya program IPA belum memenuhi target sedangkan program IPS memperoleh 5 besar. dan dalam hal ini tantanga yang dihadapi adalah untuk program IPA. 3) Tingkat keberhasilan dalam oleimpiade sains yang masih belum sesuai dengan harapan (dari pesarta olempiade biologi, fisika, kimia,

astronomi,

dan

67

matematika

minimal

diharapkan

memeperoleh 5 besar propinsi sementara hasil yang diperoleh baru astronomi peringkat 2 tingkat propinsi dan lolos tingkat nasional). 4) Tingkat keberhasilan lomba penelitian ilmiah remaja (LPIR) yang masih sangat kurang baik tingkat kota maupun tingkat propinsi (dari target yang diharpkan milimal satu siswa dapat memperoleh 3 besar tingkat kota/propinsi setiap tahunnnya, ternyata masih belum terlaksana). 5) Tingkat keberhasilan siswa yang diterima di PTN masih dibawah presentase yang dihaeapkan sekolah. Dari target yang diharapkan minimal 75 % dari jumlah pendaftar diterima di PTN ternyata baru mencapai 72% yang berat besar tantanganya 3 %. 6) Tingkat kepedulian para siswa terhadap lingkungan masih rendah. Target

yang diharapkan tingkat kepekaan siswa terhadap

lingkungan kelas minimal 95 persen, dalam kenyataan prosentase jumlah siswa yang peka terhadap lingkunga kelas sekitar 60 persen yang berarti tantangan yang dihadapi adalah sekitar 35 persen. Sasaran atau tujuan situasional sekolah menengah tersebut adalah sebagai berikut. 1) Tercapainya prosentase hasil kelulusan siswa sebasar 100 persen pada setiap tahunnnya. 2) Tercapainya prestasi hasil ujian nasional setiap tahunnya empat besar tingkat kota maupun propinsi.

68

3) Tercapainya lima besar prestasi hasil olimpiade sains setiap tahun tiap mata pelajarannnya dan biasa memasuki tingkat nasional. 4) Tercapainya prosentase jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi minimal 70 persen pada seriap tahunnya. 5) Tercapainya prestasi 3 besar hasil lomba bahasa inggris ditingkat kota maupun tingkat propinsi. 6) Tercapainya prestasi 3 besar hasil LIR ditingkat kota maupun tingkat propinsi minimal 95 persen dari jumlah siswa adalah peka terhadap lingkungan. Kondisi fisik SMA N 5 Yogyakarta pada umumnya sudah baik dan memenuhi syarat untuk menunjang proses pembelajaran dengan lingkungan dalam sekolah yang cukup nyaman. Selain itu SMA Negeri 5 Yogyakarta sudah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai untuk menunjang proses pembelajaran, seperti ruang kelas, ruang multimedia, laboratorium fisika dan biologi, kimia, bahasa, TI, ruang kantor, ruang kepala sekolah, dan ruang atau gedung penunjang lainnya. Saat ini SMA N 5 Yogyakarta dipimpin oleh bapak Drs. Munjid Nur Alamsyah, MM.

b. Temuan Uji Coba Operasional di SMA N 5 Yogyakarta Uji coba operasional lapangan di SMA Negeri 5 Yogyakarta diterapkan pada subjek siswa, guru, dan kepala sekolah. Jumlah subjek guru sejarah adalah 2 orang dan kepala sekolah 1 orang. Sedangkan

69

jumlah subjek siswa sebanyak 137 yang diambil pada kelas XI IPA 2 dan 4, IPS 2 dan 3. Pengambilan kelas dilakukan secara acak mengingat karakteristik siswa pada kelas XI tersebut homogen, sehingga kelas manapun yang dicuplik tidak akan berpengaruh terhadap hasil uji coba operasional lapangan ini. Responden diminta untuk memberikan penilaian melalui quesioner dan memberikan penilaian melalui butir-butir pertanyaan dalam quesioner. Untuk subjek coba kepala sekolah dan guru diminta pendapatnya untuk menilai tentang kelayakan instrumen berupa angket sebagai alat pengumpul data, model evaluasi pembelajaran sejarah, dan panduan evaluasi. Sementara beberapa subjek coba siswa juga diminta untuk menilai tentang kelayakan instrumen berupa angket sebagai alat pengumpul data, terutama angket kualitas dan hasil pembelajaran. Pada uji coba operasional lapangan di SMA Negeri 5 Yogyakarta ini, juga dilakukan estimasi reliabilitas instrumen dengan menggunakan bantuan program SPSS for Windows 17.0, yakni sebuah alat

analisis

untuk

menentukan

kelayakan

instrumen

yang

dikembangkan. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan bantuan program SPSS for Windows 17.0 tersebut menunjukkan bahwa seluruh instrumen yang dikembangkan baik instrumen kualitas maupun hasil pembelajaran sejarah memiliki koofesien alpha (α) = di atas 0.7 yang menunjukkan bahwa instrumen dapat dikatakan reliabel (Nunnally, 1978: 230).

70

Penilaian siswa terhadap implementasi komponen dan indikator kualitas pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Yogyakarta menunjukkan bahwa: komponen kinerja guru sejarah, materi pelajaran sejarah,

metode

pembelajaran,

sarana

pembelajaran,

suasana

pembelajaran, dan motivasi belajar sejarah dinilai baik oleh siswa. Hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah di SMA N 5 Yogyakarta memiliki tingkat kualitas pembelajaran yang baik. Meskipun klasifikasi komponen kualitas pembelajaran antara SMA N I Yogyakarta dengan SMA N 5 Yogyakarta sama, tetapi jika dilihat rerata skornya di SMA N I lebih tinggi jika dibandingkan dengan di SMA 5 Yogyakarta. Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa siswa menanggap kinerja guru sejarah sudah baik dan memiliki tanggung jawab profesional yang baik. Guru selalu tepat waktu, dan memiliki kedisiplinan yang tinggi. Guru juga banyak memanfaatkan media pembelajaran baik peta, gambar, maupun reflika lain yang dapat digunakan (SS3-1, Wawancara, 24 Mei 2010). Sekolah juga memiliki ruang belajar yang santai di lengkapi dengan berbagai reflika untuk kegiatan pembelajaran. Di samping itu sekolah juga memiliki ruang multimedia

dan

laboratorium

internet

yang

cukup

memadai

yang

digunakan

(Observasi, 20 Mei 2010). Materi

pembelajaran

sejarah

dan

dikembangkan di SMA 5 termasuk dalam klasifikasi baik. Buku-buku

71

paket menggunakan buku-buku yang sudah distandarkan oleh BSNP. Materi-materi tersebut selanjutnya dikemas melalui penggunaan media powerpoint maupun handout yang berdasarkan penilaian siswa baik karena materi pelajaran dapat dipahami dengan jelas. Begitu pula dengan metode yang dikembangkan oleh guru sudah bervariatif, meskipun pembelajaran pada umumnya berlangsung dalam kelas (SS3-2, Wawancara, 22 Mei 2010). Terdapat perbedaan antara kedua guru sejarah yang ada di sekolah yakni yang satu lebih banyak humor dalam mengajar, dan yang satunya lagi serius dalam melaksanakan pembelajaran tetapi dengan penampilan yang sangat rileks. Dengan demikian, siswa memandang mereka dapat saling melengkapi dalammelaksanakan pembelajaran. Selanjutnya sarana pembelajaran yang tersedia di sekolah sudah baik, dimana sekolah sudah menyediakan laboratorium internet, ruang multimedia, dan perpustakaan yang cukup menunjang. Demikian pula halnya dengan suasana pembelajaran sudah kondusif, terlihat dari suasana pembelajaran yang demokratis, dan adanya dukungan

guru

terhadap

upaya

pengembangan

kemampuan

intelektualitas siswa. Hubungan antara siswa-dengan siswa lainnya juga terlihat baik (Observasi 20 Juni 2010). Sikap dan motivasi siswa meskipun masuk dalam klasifikasi baik, tetapi rerata skornya masing-masing 3.65 dan 3.63, artinya mendekati klasifikasi cukup. Berdasarkan pengakuan siswa mereka

72

tidak begitu senang dengan pelajaran sejarah, dan itu berdampak terhadap motivasi belajar sejarah. Permasalahan yang sama dengan sekolah lainnya adalah bahwa mata pelajaran sejarah tidak di ujikan secara nasional, sehingga fokus belajar terhadap mata pelajaran-mata pelajaran yang di unaskan. Selain itu, kajian yang belum sepenuhnya menyentuh nilai-nilai yang luhur dari substansi sejarah juga berpengaruh pada sikap dan motivasi belajar sejarah (SS3-3, Wawancara, 22 Juni 2010). Guru sejarah di SMA N 5 Yogyakarta ada 2 orang dimana keduanya berkualifikasi strata-1. Penilaian guru sejarah di SMA N 5 Yogyakarta terhadap implementasi komponen dan indikator kualitas pembelajaran sejarah, menunjukkan bahwa komponen kinerja guru dinilai sangat baik dengan rerata skor 4.28. Sementara komponen materi

pelajaran

sejarah,

metode

pembelajaran,

dan

sarana

pembelajaran dinilai baik, dengan masing-masing rerata skor 4.08, 4.05, dan 4.09. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sejarah, mereka merasa telah melaksanakan pembelajaran secara maksimal. Untuk memberikan pemahaman yang baik pada siswa, maka digunakan media pembelajaran seperti peta, gambar, dan powerpoint (GS3-1, Wawancara, 25 Mei 2010). Dalam menanamkan sikap kesadaran sejarah dan nasionalisme, guru menjelaskan dengan perumpamaan tiang bendera, siswa disuruh merenungkan bahwa tiang bendera yang digunakan untuk upacara

73

bendera adalah tulang-tulang para pahlawan yang diikat menjadi satu, sehingga berdirilah tiang. Oleh karena itu, berdirinya tiang bendera tersebut bukanlah suatu hal yang mudah melainkan melalui pengorbanan yang besar dari para pahlawan (GS3-2, Wawancara 25 Mei 2010). Sementara untuk materi pelajaran sejarah guru menilai baik mengingat buku-buku yang digunakan di sekolah adalah buku-buku yang sudah distandarkan oleh BSNP. Di samping itu dilengkapi pula oleh buku-buku ensiklopedi dan sumber-sumber referensi lain (Observasi 20 Mei 2010). Demikian juga dengan metode pembelajaran guru mengatakan bahwa metode pembelajaran sudah diusahakan secara maksimal agar siswa dapat memahami materi pelajaran secara lebih baik. Sedangkan sarana yang tersedia di sekolah meskipun SMA 5 Yogyakarta belum memiliki laboratorium IPS secara khusus, tetapi media dan sarana yang ada dianggap sudah dapat meninjang (GS3-2, Wawancara, 25 Mei 2010). Terhadap kinerja guru sejarah, kepala sekolah SMA Negeri 5 Yogyakarta

menilai baik yakni dengan rerata nilai 3.57. Kepala

sekolah menilai guru sejarah di SMA ini telah melaksanakan tugas belajar mengajar sejarah dengan baik. Kepala sekolah memberi nilai sama dengan penilaian siswa yakni klasifikasi baik. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, dijelaskan bahwa kedua guru sejarah sudah cukup senior, sehingga memiliki pengalaman mengajar yang

cukup.

Guru

telah

74

berusaha

untuk

menyelenggarakan

pembelajaran sejarah yang baik dan mendidik melalui optimalisasi metode pembelajaran (KS3, Wawancara, 24 Mei 2010). Guru memiliki perencanaan mengajar yang baik yang dibuktikan dengan perangkat mengajar yang lengkap, mulai dari merumuskan tujuan pembelajaran sampai sistem evaluasi. Berdasarkan hasil penilaian siswa terhadap implementasi komponen dan indikator hasil pembelajaran sejarah di SMA N 5 Yogyakarta menunjukkan bahwa kesadaran sejarah dan sikap nasionalisme siswa termasuk dalam kategori baik. Kesadaran sejarah siswa rerata skornya 3.81 sedangkan sikap nasionalisme memiliki rerata skor 3.71. Siswa memandang penting kesadaran sejarah di kalangan generasi muda, demikian pula halnya dengan sikap nasionalisme. Suatu bangsa akan kokoh apabila masyarakatnya memiliki rasa kesadaran sejarah dan nasionalisme. Oleh karena itu, adalah

penting

untuk

melestarikan

budaya

bangsa

termasuk

peninggalan sejarah bangsa. Sikap nasionalisme juga dikembangkan di sekolah melalui kegiatan-kegiatan seperti upacara bendera, pramuka, dan kegiatan-kegiatan bertemakan kebangkitan nasional, seperti lomba artikel, cerita sejarah, lawatan sejarah, dan lain-lain (SS3-4, Wawancara 22 Mei 2010). Penilaian hasil belajar sejarah, di samping menilai kesadaran sejarah dan nasionalisme, komponen hasil pembelajaran sejarah juga mencakup kecakapan akademik. Penilaian kecakapan akademik

75

menggunakan hasil ulangan semester genap yang diambil pada kelas XI dalam penelitian ini. Di SMA N 5 Yogyakarta ini, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran sejarah adalah 7.0 (tujuh koma nol). Berdasarkan hasil ulangan akhir semester genap 2009/2010, maka diketahui rerata nilai ulangan siswa kelas XI baik IPA maupun IPS adalah 78.10. Hal ini menunjukkan bahwa rerata nilai kecakapan akademik siswa sudah baik, dengan rerata di atas KKM.

76

Lihat lebih banyak...

Komentar

We're moving the hosting, the preview may show error, this will be automatically reload again in 15 seconds to resolve this.
Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.