DISIPLIN KERJA WAKTU: 1 Sesi 90 menit TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

August 13, 2017 | Author: Sinyo Ardi | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

DISIPLIN KERJA




WAKTU: 1 Sesi 90 menit


TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Mengidentifikasikan asumsi-asumsi progresif dari disiplin dan menggambarkan
tingkatan proses pendisiplinan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

1. Mengetahui apa itu disiplin kerja
2. Mengetahui tujuan dari disiplin kerja
3. Mengetahui pentingnya penerapan disiplin dalam kehidupan organisasi
4. Menerapkan disiplin sebagai manajer dalam situasi simulasi

MATERI

1. Perkenalan
2. Definisi disiplin
3. Tujuan disiplin dalam bekerja
4. Prinsip-prisnip tindakan indisipliner
5. Implementasi prosedur disipliner
6. Penugasan



RENCANA PEMBELAJARAN

"SESI I "
"BAGIAN A "
"Topik ":"Perkenalan kinerja disiplin "
"Metoda ":"Kuliah Singkat "
"Waktu ":"30 menit "
"BAGIAN B "
"Topik ":"Diskusi Kasus Disiplin "
"Metoda ":"Kelompok Kerja "
"Waktu ":"30 menit "
"BAGIAN C "
"Metoda ":"Presentasi Kelompok Diskusi "
"Waktu ":"30 menit "













MATERI
DISIPLIN KERJA



PENDAHULUAN

Disiplin sangat penting untuk pertumbuhan organisasi, digunakan
terutama untuk memotivasi pegawai agar dapat mendisiplinkan diri dalam
melaksanakan pekerjaan baik secara perorangan maupun kelompok. Disamping
itu disiplin bermanfaat mendidik pegawai untuk mematuhi dan menyenangi
peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan
kinerja yang baik.
Kurang pengetahuan tentang peraturan, prosedur, dan kebijakan yang
ada merupakan penyebab terbanyak tindakan indisipliner. Salah satu
upaya untuk mengatasi hal tersebut pihak pimpinan sebaiknya memberikan
program orientasi kepada tenaga perawat/bidan yang baru pada hari
pertama mereka bekerja, karena perawat/bidan tidak dapat diharapkan
bekerja dengan baik dan patuh, apabila peraturan/prosedur atau kebijakan
yang ada tidak diketahui, tidak jelas, atau tidak dijalankan sebagai
mestinya. Selain memberikan orientasi, pimpinan harus menjelaskan
secara rinci peraturan peraturan yang sering dilanggar, berikut rasional
dan konsekwensinya. Demikian pula peraturan/prosedur atau kebijakan yang
mengalami perubahan atau diperbaharui, sebaiknya diinformasikan kepada
staf melalui diskusi aktif.
Tindakan disipliner sebaiknya dilakukan, apabila upaya pendidikan
yang diberikan telah gagal, karena tidak ada orang yang sempurna. Oleh
sebab itu, setiap individu diizinkan untuk melakukan kesalahan dan harus
belajar dari kesalahan tersebut. Tindakan indisipliner sebaiknya
dilaksanakan dengan cara yang bijaksana sesuai dengan prinsip dan
prosedur yang berlaku menurut tingkat pelanggaran dan klasifikasinya.





PENGERTIAN


Disiplin berasal dari akar kata "disciple" yang berarti
belajar.
Disiplin merupakan arahan untuk melatih dan membentuk seseorang
melakukan sesuatu menjadi lebih baik.
Disiplin adalah suatu proses yang dapat menumbuhkan perasaan
seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi
secara obyektif, melalui kepatuhannya menjalankan peraturan
organisasi.

Sanksi indisipliner dilakukan untuk mengarahkan dan memperbaiki
perilaku pegawai dan bukan untuk menyakiti.
Tindakan disipliner hanya dilakukan pada pegawai yang tidak dapat
mendisiplinkan diri, menentang/tidak dapat mematuhi praturan/prosedur
organisasi. Melemahnya disiplin kerja akan mempengaruhi moral pegawai
maupun pelayanan pasen secara langsung, oleh karena itu tindakan
koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan harus segera
diatasi oleh semua komponen yang terlibat dalam organisasi.


Pengembangan Disiplin


Asumsi : Tidak ada orang yang sempurna, oleh sebab itu setiap individu
diizinkan untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan
tersebut. Tindakan koreksi dilakukan apabila individu tidak dapat
mematuhi peraturan sesuai standar minimal atau tidak dapat meningkatkan
tujuan organisasi.


PRINSIP-PRINSIP Disiplin


1. Pemimpin mempunyai prilaku positif
Untuk dapat menjalankan disiplin yang baik dan benar, seorang
pemimpin harus dapat menjadi role model/panutan bagi
bawahannya. Oleh karena itu seorang pimpinan harus dapat
mempertahankan perilaku yang positif sesuai dengan harapan staf.


2. Penelitian yang Cermat
Dampak dari tindakan indisipliner cukup serius, pimpinan harus
memahami akibatnya. Data dikumpulkan secara faktual, dapatkan informasi
dari staf yang lain, tanyakan secara pribadi rangkaian pelanggaran
yang telah dilakukan, analisa, dan bila perlu minta pendapat dari
pimpinan lainnya.


3. Kesegeraan
Pimpinan harus peka terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh
bawahan sesegera mungkin dan harus diatasi dengan cara yang
bijaksana. Karena, bila dibiarkan menjadi kronis, pelaksanaan disiplin
yang akan ditegakkan dapat dianggap lemah, tidak jelas, dan akan
mempengaruhi hubungan kerja dalam organisasi tersebut.

4. Lindungi Kerahasiaan (privacy)
Tindakan indisipliner akan mempengaruhi ego staf, oleh karena itu akan
lebih baik apabila permasalahan didiskusikan secara pribadi, pada ruangan
tersendiri dengan suasana yang rileks dan tenang. Kerahasiaan harus
tetap dijaga karena mungkin dapat mempengaruhi masa depannya .

5. Fokus pada Masalah.
Pimpinan harus dapat melakukan penekanan pada kesalahan yang
dilakukan bawahan dan bukan pada pribadinya, kemukakan bahwa kesalahan
yang dilakukan tidak dapat dibenarkan.

6. Peraturan Dijalankan Secara Konsisten
Peraturan dijalankan secara konsisten, tanpa pilih kasih. Setiap
pegawai yang bersalah harus dibina sehingga mereka tidak merasa dihukum
dan dapat menerima sanksi yang dilakukan secara wajar.



7. Fleksibel
Tindakan disipliner ditetapkan apabila seluruh informasi tentang
pegawai telah di analisa dan dipertimbangkan. Hal yang menjadi
pertimbangan antara lain adalah tingkat kesalahannya, prestasi pekerjaan
yang lalu, tingkat kemampuannya dan pengaruhnya terhadap organisasi

8. Mengandung Nasihat
Jelaskan secara bijaksana bahwa pelanggaran yang dilakukan tidak dapat
diterima. File pegawai yang berisi catatan khusus dapat digunakan
sebagai acuan, sehingga mereka dapat memahami kesalahannya.

9. Tindakan Konstruktif
Pimpinan harus yakin bahwa bawahan telah memahami perilakunya
bertentangan dengan tujuan organisasi dan jelaskan kembali pentingnya
peraturan untuk staf maupun organisasi. Upayakan agar staf dapat
merubah perilakunya sehingga tindakan indisipliner tidak terulang
lagi.

10. Follow Up (Evaluasi)

Pimpinan harus secara cermat mengawasi dan menetapkan apakah
perilaku bawahan sudah berubah. Apabila perilaku bawahan tidak berubah,
pimpinan harus melihat kembali penyebabnya dan mengevaluasi kembali
batasan akhir tindakan indisipliner.




TUJUAN disiplin


Difokuskan untuk mengoreksi penampilan kerja agar peraturan kerja
dapat diberlakukan secara konsisten. Tidak bersifat menghakimi dalam
memberlakukan hukuman atas tindakan indisipliner.





TINDAKAN INdisiplinER



Bimbingan
Teguran Secara Lisan







Skors
Teguran Secara Tertulis





Teguran Secara Lisan

Teguran secara lisan terbatas dalam hal mengingatkan perawat
untuk kesalahan yang kecil dan baru pertama kali dilakukan. Sebagai suatu
tindakan koreksi, biasanya teguran dilakukan secara pribadi dengan
cara yang bersahabat dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi
lingkungan. Bantu bawahan untuk membuat keputusan agar tidak mengulangi
kesalahannya. Buat catatan khusus bahwa perawat telah melakukan
konsultasi, catat waktu, tempat, dan permasalahannya, serta kesimpulan
konsultasi. Dokumen dimasukkan kedalam file pribadi perawat.


Teguran Secara Tertulis

Teguran secara tertulis dilakukan apabila pelanggaran diulangi
kembali, tidak menunjukan perbaikan atau pelanggarannya cukup serius.
Dalam teguran secara tertulis, harus dicantumkan nama pegawai, nama
pimpinan, permasalahannya, rencana perbaikan, dan batas waktu perbaikan
serta konsekwensi nya apabila pelanggaran diulangi. Bawahan harus
membaca dan memahami sanksi yang diberikan dan disepakati bersama.
Dokumen dimasukan ke dalam file pribadi pegawai dan tembusannya
diberikan kepada yang bersangkutan. Sanksi biasanya disesuaikan dengan
kebijakan institusi atau organisasi setempat.


Keputusan Terakhir/Skors

Keputusan terakhir atau terminasi dilakukan karena pimpinan
melihat bahwa kesalahan yang dilakukan oleh bawahan sudah sangat
serius dan selama batas waktu perbaikan perilaku bawahan tidak
memperlihatkan perubahan. Keputusan terakhir biasanya dilakukan dengan
melibatkan pimpinan organisasi/Departemen. Keputusan terakhir /skors
dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada tingkat kesalahannya
maupun kebijakan dari institusi / organisasi. Antara lain adalah :
Penurunan pangkat, mutasi, penundaan kenaikan pangkat / berkala,
penurunan insentif, tidak diperkenankan bekerja untuk jangka waktu pendek
, jangka waktu panjang, atau akhirnya diberhentikan / dikeluarkan.


IMPLEMENTASI PROSEDUR disiplin




Persiapan
Tangung jawab yang dilanggar sebagai bukti..


Objektif
Pelanggaran yang dilakukan harus diteliti dengan cermat
, dengan bukti yang nyata, sebelum tindakan disipliner yang
dilakukan.
Tindakan indisipliner harus dilakukan dengan adil.
Seleksi yang adil tidak pilih kasih.

Kerahasiaan
Catatan harus dijaga kerahasiaannya.
Wawancara dilakukan dengan rileks diruangan tertutup
dan tenang.
Hormati hak individu, beri kesempatan untuk mengemukakan
pendapat.
Diskusikan masalahnya bukan pribadinya.




Modifikasi Perilaku


Dapatkah perilaku bawahan dirubah oleh perubahan perilaku pimpinan ?
Apakah perilaku pimpinan dapat digunakan sebagai contoh yang baik
dan layak ditiru oleh bawahannya ?

Ada beberapa cara yang dapat digunakan pimpinan untuk
menstimulasi bawahan agar dapat merubah perilaku yang kurang baik
kearah yang lebih baik sehingga peningkatan kinerja sesuai standar dapat
dicapai:



Penguatan yang positif
Penguatan positif akan meningkatkan kemungkinan individu untuk
mengulangi kembali tindakan yang diharapkan. Hal ini dapat dilakukan
dengan segera memberikan pujian terhadap hal positif yang dilakukan
bawahan .
Contoh :
" Anda telah mengumpulkan informasi yang berharga selama
anda
mewawancarai Tn. Saroja "
" Saya sangat menghargai perawat yang menghadiri
pertemuan ini "

Hal lain yang dapat digunakan untuk menstimulasi bawahan adalah
dengan memberikan umpan balik, seperti : perhatian, hadiah, tugas khusus,
naik jabatan, pujian, senyuman dan lain-lain. Pengakuan adalah salah
satu penguatan yang mudah dilakukan disamping murah. Oleh karena itu
seorang pemimpin harus mengetahui dan memahami bentuk dorongan seperti
apa yang perlu diberikan pada setiap bawahan dalam berbagai situasi.







KASUS DISIPLIN


Zr. Ana Seorang Kepala Ruangan Bedah Anak, terkejut karena pada jam
01.00 pagi dini hari, kepala jaga menelpon bahwa salah satu pasien usia 4
tahun telah meninggal, setelah diberikan Sonde Fooding oleh salah satu
perawat dinas malam (Zr. Ati). Sementara semua perawat yang berdinas di
ruang Bedah tersebut, telah mengikuti penataran 1 tahun yang lalu tentang
memberikan Sonde Fooding (Naso gastrie tube).

Diskusikan dalam Kelompok :
1. Bila anda sebagai Zr.A, hal apa yang pertama-tama harus dilakukan ?
2. Gunakan pemecahan masalah di atas dengan langkah-langkah
pendisiplinan.


KESIMPULAN




Disiplin kerja sangat penting digunakan sebagai arahan untuk
membentuk dan melatih seseorang melakukan sesuatu menjadi baik, dan
merupakan proses untuk menumbuhkan perasaan seseorang dalam
mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi secara objektif
melalui kepatuhannya manjalankan peraturan organisasi.
Koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan harus segera
diatasi dan dilakukan oleh semua komponen yang terlibat dalam
organisasi. Karena melemahnya disiplin kerja dalam organisasi akan
secara langsung mempengaruhi moral pegawai maupun terhadap pelayanan yang
diberikan.
Sanksi indisipliner dilakukan untuk mengarahkan dan memperbaiki
perilaku pegawai dan bukan untuk menyakiti, oleh karena itu harus
dilakukan secara adil dan bijaksana.





EVALUASI

1. Apakah pengertian Disiplin ?
2. Apa tujuan Disiplin bagi saudara ?
3. Sebutkan prinsip-prinsip dalam menetapkan tindakan Indisipliner ?
4. Sebutkan tahapan-tahapan tindakan Indisipliner ?
5. Sebutkan contoh tindakan Modifikasi Perilaku ?





KEPUSTAKAAN


Armstrong , M. (1991) A Hand Book on personnel Management Practice ( 4th
ed), London Hogan Page.

Marriner,A.T. (1995) ,Nursing Management and Leadership ( 5th ed), Mosby
St Louis, Baltimore.

Hastings,J. (1999), Discipline At Workpart One of The Informal Process,
Nursing Management, 6 (5), 20-23


Deskripsi

DISIPLIN KERJA




WAKTU: 1 Sesi 90 menit


TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Mengidentifikasikan asumsi-asumsi progresif dari disiplin dan menggambarkan
tingkatan proses pendisiplinan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

1. Mengetahui apa itu disiplin kerja
2. Mengetahui tujuan dari disiplin kerja
3. Mengetahui pentingnya penerapan disiplin dalam kehidupan organisasi
4. Menerapkan disiplin sebagai manajer dalam situasi simulasi

MATERI

1. Perkenalan
2. Definisi disiplin
3. Tujuan disiplin dalam bekerja
4. Prinsip-prisnip tindakan indisipliner
5. Implementasi prosedur disipliner
6. Penugasan



RENCANA PEMBELAJARAN

"SESI I "
"BAGIAN A "
"Topik ":"Perkenalan kinerja disiplin "
"Metoda ":"Kuliah Singkat "
"Waktu ":"30 menit "
"BAGIAN B "
"Topik ":"Diskusi Kasus Disiplin "
"Metoda ":"Kelompok Kerja "
"Waktu ":"30 menit "
"BAGIAN C "
"Metoda ":"Presentasi Kelompok Diskusi "
"Waktu ":"30 menit "













MATERI
DISIPLIN KERJA



PENDAHULUAN

Disiplin sangat penting untuk pertumbuhan organisasi, digunakan
terutama untuk memotivasi pegawai agar dapat mendisiplinkan diri dalam
melaksanakan pekerjaan baik secara perorangan maupun kelompok. Disamping
itu disiplin bermanfaat mendidik pegawai untuk mematuhi dan menyenangi
peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan
kinerja yang baik.
Kurang pengetahuan tentang peraturan, prosedur, dan kebijakan yang
ada merupakan penyebab terbanyak tindakan indisipliner. Salah satu
upaya untuk mengatasi hal tersebut pihak pimpinan sebaiknya memberikan
program orientasi kepada tenaga perawat/bidan yang baru pada hari
pertama mereka bekerja, karena perawat/bidan tidak dapat diharapkan
bekerja dengan baik dan patuh, apabila peraturan/prosedur atau kebijakan
yang ada tidak diketahui, tidak jelas, atau tidak dijalankan sebagai
mestinya. Selain memberikan orientasi, pimpinan harus menjelaskan
secara rinci peraturan peraturan yang sering dilanggar, berikut rasional
dan konsekwensinya. Demikian pula peraturan/prosedur atau kebijakan yang
mengalami perubahan atau diperbaharui, sebaiknya diinformasikan kepada
staf melalui diskusi aktif.
Tindakan disipliner sebaiknya dilakukan, apabila upaya pendidikan
yang diberikan telah gagal, karena tidak ada orang yang sempurna. Oleh
sebab itu, setiap individu diizinkan untuk melakukan kesalahan dan harus
belajar dari kesalahan tersebut. Tindakan indisipliner sebaiknya
dilaksanakan dengan cara yang bijaksana sesuai dengan prinsip dan
prosedur yang berlaku menurut tingkat pelanggaran dan klasifikasinya.





PENGERTIAN


Disiplin berasal dari akar kata "disciple" yang berarti
belajar.
Disiplin merupakan arahan untuk melatih dan membentuk seseorang
melakukan sesuatu menjadi lebih baik.
Disiplin adalah suatu proses yang dapat menumbuhkan perasaan
seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi
secara obyektif, melalui kepatuhannya menjalankan peraturan
organisasi.

Sanksi indisipliner dilakukan untuk mengarahkan dan memperbaiki
perilaku pegawai dan bukan untuk menyakiti.
Tindakan disipliner hanya dilakukan pada pegawai yang tidak dapat
mendisiplinkan diri, menentang/tidak dapat mematuhi praturan/prosedur
organisasi. Melemahnya disiplin kerja akan mempengaruhi moral pegawai
maupun pelayanan pasen secara langsung, oleh karena itu tindakan
koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan harus segera
diatasi oleh semua komponen yang terlibat dalam organisasi.


Pengembangan Disiplin


Asumsi : Tidak ada orang yang sempurna, oleh sebab itu setiap individu
diizinkan untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan
tersebut. Tindakan koreksi dilakukan apabila individu tidak dapat
mematuhi peraturan sesuai standar minimal atau tidak dapat meningkatkan
tujuan organisasi.


PRINSIP-PRINSIP Disiplin


1. Pemimpin mempunyai prilaku positif
Untuk dapat menjalankan disiplin yang baik dan benar, seorang
pemimpin harus dapat menjadi role model/panutan bagi
bawahannya. Oleh karena itu seorang pimpinan harus dapat
mempertahankan perilaku yang positif sesuai dengan harapan staf.


2. Penelitian yang Cermat
Dampak dari tindakan indisipliner cukup serius, pimpinan harus
memahami akibatnya. Data dikumpulkan secara faktual, dapatkan informasi
dari staf yang lain, tanyakan secara pribadi rangkaian pelanggaran
yang telah dilakukan, analisa, dan bila perlu minta pendapat dari
pimpinan lainnya.


3. Kesegeraan
Pimpinan harus peka terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh
bawahan sesegera mungkin dan harus diatasi dengan cara yang
bijaksana. Karena, bila dibiarkan menjadi kronis, pelaksanaan disiplin
yang akan ditegakkan dapat dianggap lemah, tidak jelas, dan akan
mempengaruhi hubungan kerja dalam organisasi tersebut.

4. Lindungi Kerahasiaan (privacy)
Tindakan indisipliner akan mempengaruhi ego staf, oleh karena itu akan
lebih baik apabila permasalahan didiskusikan secara pribadi, pada ruangan
tersendiri dengan suasana yang rileks dan tenang. Kerahasiaan harus
tetap dijaga karena mungkin dapat mempengaruhi masa depannya .

5. Fokus pada Masalah.
Pimpinan harus dapat melakukan penekanan pada kesalahan yang
dilakukan bawahan dan bukan pada pribadinya, kemukakan bahwa kesalahan
yang dilakukan tidak dapat dibenarkan.

6. Peraturan Dijalankan Secara Konsisten
Peraturan dijalankan secara konsisten, tanpa pilih kasih. Setiap
pegawai yang bersalah harus dibina sehingga mereka tidak merasa dihukum
dan dapat menerima sanksi yang dilakukan secara wajar.



7. Fleksibel
Tindakan disipliner ditetapkan apabila seluruh informasi tentang
pegawai telah di analisa dan dipertimbangkan. Hal yang menjadi
pertimbangan antara lain adalah tingkat kesalahannya, prestasi pekerjaan
yang lalu, tingkat kemampuannya dan pengaruhnya terhadap organisasi

8. Mengandung Nasihat
Jelaskan secara bijaksana bahwa pelanggaran yang dilakukan tidak dapat
diterima. File pegawai yang berisi catatan khusus dapat digunakan
sebagai acuan, sehingga mereka dapat memahami kesalahannya.

9. Tindakan Konstruktif
Pimpinan harus yakin bahwa bawahan telah memahami perilakunya
bertentangan dengan tujuan organisasi dan jelaskan kembali pentingnya
peraturan untuk staf maupun organisasi. Upayakan agar staf dapat
merubah perilakunya sehingga tindakan indisipliner tidak terulang
lagi.

10. Follow Up (Evaluasi)

Pimpinan harus secara cermat mengawasi dan menetapkan apakah
perilaku bawahan sudah berubah. Apabila perilaku bawahan tidak berubah,
pimpinan harus melihat kembali penyebabnya dan mengevaluasi kembali
batasan akhir tindakan indisipliner.




TUJUAN disiplin


Difokuskan untuk mengoreksi penampilan kerja agar peraturan kerja
dapat diberlakukan secara konsisten. Tidak bersifat menghakimi dalam
memberlakukan hukuman atas tindakan indisipliner.





TINDAKAN INdisiplinER



Bimbingan
Teguran Secara Lisan







Skors
Teguran Secara Tertulis





Teguran Secara Lisan

Teguran secara lisan terbatas dalam hal mengingatkan perawat
untuk kesalahan yang kecil dan baru pertama kali dilakukan. Sebagai suatu
tindakan koreksi, biasanya teguran dilakukan secara pribadi dengan
cara yang bersahabat dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi
lingkungan. Bantu bawahan untuk membuat keputusan agar tidak mengulangi
kesalahannya. Buat catatan khusus bahwa perawat telah melakukan
konsultasi, catat waktu, tempat, dan permasalahannya, serta kesimpulan
konsultasi. Dokumen dimasukkan kedalam file pribadi perawat.


Teguran Secara Tertulis

Teguran secara tertulis dilakukan apabila pelanggaran diulangi
kembali, tidak menunjukan perbaikan atau pelanggarannya cukup serius.
Dalam teguran secara tertulis, harus dicantumkan nama pegawai, nama
pimpinan, permasalahannya, rencana perbaikan, dan batas waktu perbaikan
serta konsekwensi nya apabila pelanggaran diulangi. Bawahan harus
membaca dan memahami sanksi yang diberikan dan disepakati bersama.
Dokumen dimasukan ke dalam file pribadi pegawai dan tembusannya
diberikan kepada yang bersangkutan. Sanksi biasanya disesuaikan dengan
kebijakan institusi atau organisasi setempat.


Keputusan Terakhir/Skors

Keputusan terakhir atau terminasi dilakukan karena pimpinan
melihat bahwa kesalahan yang dilakukan oleh bawahan sudah sangat
serius dan selama batas waktu perbaikan perilaku bawahan tidak
memperlihatkan perubahan. Keputusan terakhir biasanya dilakukan dengan
melibatkan pimpinan organisasi/Departemen. Keputusan terakhir /skors
dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada tingkat kesalahannya
maupun kebijakan dari institusi / organisasi. Antara lain adalah :
Penurunan pangkat, mutasi, penundaan kenaikan pangkat / berkala,
penurunan insentif, tidak diperkenankan bekerja untuk jangka waktu pendek
, jangka waktu panjang, atau akhirnya diberhentikan / dikeluarkan.


IMPLEMENTASI PROSEDUR disiplin




Persiapan
Tangung jawab yang dilanggar sebagai bukti..


Objektif
Pelanggaran yang dilakukan harus diteliti dengan cermat
, dengan bukti yang nyata, sebelum tindakan disipliner yang
dilakukan.
Tindakan indisipliner harus dilakukan dengan adil.
Seleksi yang adil tidak pilih kasih.

Kerahasiaan
Catatan harus dijaga kerahasiaannya.
Wawancara dilakukan dengan rileks diruangan tertutup
dan tenang.
Hormati hak individu, beri kesempatan untuk mengemukakan
pendapat.
Diskusikan masalahnya bukan pribadinya.




Modifikasi Perilaku


Dapatkah perilaku bawahan dirubah oleh perubahan perilaku pimpinan ?
Apakah perilaku pimpinan dapat digunakan sebagai contoh yang baik
dan layak ditiru oleh bawahannya ?

Ada beberapa cara yang dapat digunakan pimpinan untuk
menstimulasi bawahan agar dapat merubah perilaku yang kurang baik
kearah yang lebih baik sehingga peningkatan kinerja sesuai standar dapat
dicapai:



Penguatan yang positif
Penguatan positif akan meningkatkan kemungkinan individu untuk
mengulangi kembali tindakan yang diharapkan. Hal ini dapat dilakukan
dengan segera memberikan pujian terhadap hal positif yang dilakukan
bawahan .
Contoh :
" Anda telah mengumpulkan informasi yang berharga selama
anda
mewawancarai Tn. Saroja "
" Saya sangat menghargai perawat yang menghadiri
pertemuan ini "

Hal lain yang dapat digunakan untuk menstimulasi bawahan adalah
dengan memberikan umpan balik, seperti : perhatian, hadiah, tugas khusus,
naik jabatan, pujian, senyuman dan lain-lain. Pengakuan adalah salah
satu penguatan yang mudah dilakukan disamping murah. Oleh karena itu
seorang pemimpin harus mengetahui dan memahami bentuk dorongan seperti
apa yang perlu diberikan pada setiap bawahan dalam berbagai situasi.







KASUS DISIPLIN


Zr. Ana Seorang Kepala Ruangan Bedah Anak, terkejut karena pada jam
01.00 pagi dini hari, kepala jaga menelpon bahwa salah satu pasien usia 4
tahun telah meninggal, setelah diberikan Sonde Fooding oleh salah satu
perawat dinas malam (Zr. Ati). Sementara semua perawat yang berdinas di
ruang Bedah tersebut, telah mengikuti penataran 1 tahun yang lalu tentang
memberikan Sonde Fooding (Naso gastrie tube).

Diskusikan dalam Kelompok :
1. Bila anda sebagai Zr.A, hal apa yang pertama-tama harus dilakukan ?
2. Gunakan pemecahan masalah di atas dengan langkah-langkah
pendisiplinan.


KESIMPULAN




Disiplin kerja sangat penting digunakan sebagai arahan untuk
membentuk dan melatih seseorang melakukan sesuatu menjadi baik, dan
merupakan proses untuk menumbuhkan perasaan seseorang dalam
mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi secara objektif
melalui kepatuhannya manjalankan peraturan organisasi.
Koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan harus segera
diatasi dan dilakukan oleh semua komponen yang terlibat dalam
organisasi. Karena melemahnya disiplin kerja dalam organisasi akan
secara langsung mempengaruhi moral pegawai maupun terhadap pelayanan yang
diberikan.
Sanksi indisipliner dilakukan untuk mengarahkan dan memperbaiki
perilaku pegawai dan bukan untuk menyakiti, oleh karena itu harus
dilakukan secara adil dan bijaksana.





EVALUASI

1. Apakah pengertian Disiplin ?
2. Apa tujuan Disiplin bagi saudara ?
3. Sebutkan prinsip-prinsip dalam menetapkan tindakan Indisipliner ?
4. Sebutkan tahapan-tahapan tindakan Indisipliner ?
5. Sebutkan contoh tindakan Modifikasi Perilaku ?





KEPUSTAKAAN


Armstrong , M. (1991) A Hand Book on personnel Management Practice ( 4th
ed), London Hogan Page.

Marriner,A.T. (1995) ,Nursing Management and Leadership ( 5th ed), Mosby
St Louis, Baltimore.

Hastings,J. (1999), Discipline At Workpart One of The Informal Process,
Nursing Management, 6 (5), 20-23
Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.