Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

December 11, 2017 | Author: Helda Amalia | Category: Operations Management
Share Embed


Deskripsi Singkat

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

1 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

More

Next Blog» [email protected]

Dashboard

hubungan antara mrp, mrp ii, erp, jit, dan toc

wednesday, july 05, 2006

about me

Hubungan Antara MRP, MRP II, JIT, ERP, dan TOC

annisa.w View my complete profile

Kelompok : 1. Almira Rachmi L2H 303 570 2. Annisa Wulandari L2H 303 571

links

3. Dini Megasari L2H 303 585

Google News

4. Shinta Marithyanti L2H 303 608

Edit-Me Edit-Me

previous posts

HUBUNGAN MRP, MRP II, JIT, ERP dan TOC Pendahuluan - Proses industri harus dipandang sebagai suatu perbaikan

Hubungan Antara MRP, MRP II, JIT, ERP, dan TOC

terus menerus (continous inmprovement), yang dimulai dari sederet siklus

sejak

adanya

pengembangan

ide-ide

produk,

untuk

proses

menghasilkan

produksi,

sampai

suatu

produk,

archives

kepada

July 2006

distribusi

konsumen. Seterusnya, berdasarkan informasi sebagai umpan balik yang dikumpulkan

dari

mengembangkan

pengguna ide-ide

produk

untuk

(pelanggan)

menciptakan

itu

produk

kita

dapat

baru

atau

memperbaiki produk lama beserta proses produksi yang ada saat ini. Pengembangan

suatu

industri

manufacturing

memerlukan

perbaikan

reformasi bisnis modern yang mencakup keseluruhan sistem industri dari kedatangan material sampai distribusi kepada konsumen dan desain ulang produk untuk masa mendatang. Sistem manajemen industri tradisional memperlakukan

departemen

pemasaran

sebagai

departemen

yang

bertugas sekedar menjual produk dan mengelola administrasi penjualan. Kondisi ini diperparah lagi dengan departemen Production Planning and Inventory Control (PPIC) yang berfungsi sekedar untuk menyetujui dan mengeluarkan

pesanan

produksi,

tanpa

berpesan

penting

dalam

peningkatan efisiensi, kualitas, daya saing dan lain-lainya, sehingga tampak

adanya

kesenjangan

komunikasi

yang

bertanggung

jawab

memberikan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan pelanggan. Oleh karena itu perusahaan menerapkan strategi sistem perencanaan dan pengendalian manufacturing untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi pada proses manufaktur nanti. Strategi-strategi yang digunakan oleh perusahaan untuk melakukan continous improvement antara lain

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

2 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

MRP, MRP II, ERP, Just In Time maupun TOC. MRP (Material Requirement Planning) - adalah suatu metode untuk menentukan apa, kapan dan berapa jumlah komponen dan material yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dari suatu perencanaan produksi. Input untuk MRP 1. Master production schedule (MPS) MPS adalah pembuatan jadwal secara terperinci tentang material atau komponen yang harus tersedia untuk membuat suatu produk. 2. BOM (Bill Of Material), adalah sebuah daftar jumlah komponen, campuran bahan, dan bahan baku yang diperlukan untuk membuat suatu produk. 3. Ketersediaan Persediaan. Berbagai pengetahuan mengenai apa yang ada dalam persediaan merupakan hasil dari manajemen persediaan yang baik, 4. Order pembelian yang sudah jatuh waktu. Pada saat pesanan pembelian dibuat, catatan mengenai pesanan-pesanan itu dan tanggal pengiriman terjadwal harus tersedia di bagian produksi sehingga pelaksanaan MRP dapat efektif. 5. Lead times, berapa lama waktu untuk mendapatkan komponen. Pada metode MRP terdapat beberapa hal yang mendasar, yaitu : 1. Permintaan material bersifat tergantung (dependent) 2. Filosofi pemesanan sesuai permintaan 3. Ramalan/perkiraan berdasarkan Master Prouction Schedule 4. Konsep pengawasan meliputi semua item 5. Lot sizing bersifat beragam 6. Memenuhi kebutuhan produksi 7. Tipe persediaan adalah bahan mentah atau setengah jadi Keuntungan MRP 1. Investasi persediaan dapat ditekan serendah mungkin 2. Perencanaan dapat dilakukan secara detail dan dapat berubah sesuai keadaan 3. Penyediaan data untuk masa mendatang dengan basis tiap item 4. Pengontrolan persediaan dapat dilakukan setiap saat 5. Jumlah pemesanan berdasarkan kebutuhan 6. Fokus pada waktu kebutuhan material STUKTUR MRP Kebanyakan system MRP terkomputerisasi, analisisnya bersifat langsung dan serupa antara system terkomputerisasi satu dengan laainnya, yang mabana strukturnya terlihat pada gambar berikut: JUST IN TIME (JIT) - Merupakan falsafah pemecahan masalah yang berkelanjutan dan memang harus dihadapi yang dapat menyebabkan sesuatu terbuang percuma. Karena banyak manfaat dari JIT maka konsep ini sangat penting untuk dipelajari. JIT adalah suatu filosofi yang dikembangkan oleh Taiichi Ohno yang diterapkan dalam sistem produksi Toyota Motor Company di Jepang yang menekankan pemborosan dan segala sesuatu yang tidak memberi nilai tambah dengan menyediakan sumber daya pada tempat dan waktu yang tepat. Filosofi meliputi suatu penekanan atas pengurangan biaya setup, small lotsizes, sistem tarik, level produksi, dan penghapusan waste. JIT adalah suatu filosofi manajemen yang bekerja keras untuk menghapuskan barang sisa pabrikasi dengan melakukan produksi pada tempat dan waktu

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

3 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

yang tepat. Barang sisa diakibatkan oleh manapun aktivitas yang menambahkan biaya tanpa menambahkan nilai, seperti perpindahan dan menyimpan. Sistem JIT ini akan mengakibatkan persediaan lebih sedikit, jumlah pekerja lebih sedikit, dan biaya produksi yang lebih rendah serta produk dapat diserahkan ke pelanggan tepat waktu. Terdapat tiga prinsip utama just in time dalam pengendalian kualitas, yaitu output yang bebas cacat adalah lebih penting daripada output itu sendiri, segala kesalahan dan kerusakan dapat dicegah, dan tindakan pencegahan adalah lebih murah daripada pekerjaan mengulang. Roger G. Schroeder, mendefinisikan tujuan sistem just in time adalah memperbaiki laba dan hasil investasi melalui pengurangan biaya, penurunan sediaan, dan perbaikan mutu. Sarana untuk mencapai tujuan ini adalah menghilangkan pemborosan dan melibatkan para pekerja di dalam proses produksi Yang

dilakukan

dalam

JIT

adalah

pengurangan

kesia-siaan

dan

pengurangan variabilitas. 1. Pengurangan Kesia-siaan Kesia-siaan dalam proses produksi barang maupun jasa adalah pemberian penjelasan mengenai sesuatu yang tidak menambah nilai produk, baik yang disimpan, diperiksa, terlambah diproduksi, mengantre maupun yang rusak. Lebih jauh lagi, setiap kegiatan yang menurut konsumen tidak menambah nilai produk merupakan suatu kesia-siaan. JIT mempercepat proses produksi sehingga memungkinkan penghantaran produk kepada konsumen

lebih

cepat

dan

persediaan

dalam

prosespun

menurun

jumlahnya, sehingga memungkinkan pemanfaatan yang lebih produktif pada asset yang sebelumnya disimpan dalam persediaan. 2. Pengurangan Variabilitas Menurut konsep JIT, untuk menjalankan pergerakan bahan baku maka manajer mengurangi variabilitas yang disebabkan factor internal maupun eksternal.Variabilitas adalah setiap penyimpangan dari proses optimal yang mengantarkan produk sempurna tepat waktu setiap saat. Semakin kecil variabilitas semakin kecil pula kesia-siaan yang terjadi. Kebanyakan, terjadinya variabilitas timbul karena perusahaan mentolerir kesia-siaan, atau karena manajemen yang jelek, yang diantaranya dapat dirinci sebagai berikut: 1. Karyawan, fasilitas dan pemasok memproduksi unit-unit produk yang tidak sesuai dengan standar, terlambat atau jumlah tidak sesuai. 2. Engineering drawing atau spesifikasi tidak akurat. 3. Bagian produksi mencoba memproduksi sebelum spesifikasi lengkap. 4. Permintaan konsumen tidak diketahui. Walaupun ada beberapa penyebab variabilitas, seringkali variabilitas tidak terlihat karena persediaan menyembunyikan masalah. Oleh karena itu konsep JIT diperlukan. Oleh karena itu konsep yang mendasari JIT adalah system “tarik” yaitu memproduksi satu unit lalu ditarik ke tempat yang memerlukannya pada saat diperlukan. Banyak perusahaan masih menggerakkan bahan baku melalui fasilitas dengan cara “dorong” yaitu pesanan ditumpuk di departemen pemrosesan agar dapat dikerjakan pada setiap ada kesempatan. Jadi bahan baku didorong ke stasiun kerja hulu tanpa memandang persediaan sumber daya. Sistem tarik dan dorong merupakan antitesis dari konsep JIT. FAKTOR KUNCI SUKSES DALAM JUST IN TIME Dengan memperhatikan ilustrasi berupa penjelasan konsep JIT menunjang

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

4 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

tercapainya Keunggulan kompetitif maka dapat disimpulkan bahwa ada tujuh factor kesuksesan JIT yaitu: 1. Suppliers Hal-hal yang harus diperhatikan adalah: Kedatangan material dan produk akhir termasuk kesia-siaan, Pembeli dan pemasok membentuk kemitraan, Kemitraan JIT mengeliminir (Kegiatan yang tidak penting, Persediaan dalam perjalanan, Pemasok yang jelek) 2. Layout Tata letak memungkinkan pengurangan kesia-siaan yang lain, yaitu pergerakan. Misalnya pergerakan bahan baku maupun manusia menjadi fleksibel. JIT mempersyaratkan: a. Sel kerja untuk product family. b. Pergerakan atau perubahan mesin. c. Jarak yang pendek. d. Tempat yang kecil untuk persediaan. e. Pengiriman langsung ke area kerja. 3. Inventory Persediaan dalam system produksi dan distribusi sering dadakan untuk berjaga-jaga. Tehnik persediaan yang efektif memerlukan Just In Time bukan Just In Case. Persediaan Just In Time merupakan persediaan minimal yang diperlukan untuk mempertahankan operasi system yang sempurna yaitu jumlah yang tepat tiba pada saat yang diperlukan bukan sebelum atau sesudah. 4. Schedulling Jadwal yang efektif dikomunikasikan di dalam organisasi dan kepada pemasok, maka akan sangat mendukung penerapan JIT. Penjadwalan yang lebih baik juga meningkatkan kemampuan untuk memenuhi pesanan konsumen., menurunkan persediaan dan mengurangi barang dalam proses. JIT mensyaratkan: a. Mengkomunikasikan penjadwakan kepada supplier. b. Jadwal bertingkat. c. Menekankan bagian dari skedul paling dekat dengan jatuh tempo. d. lot kecil. e. Tehnik Kanban. 5. Preventive Maintenance Pemeliharaan dilakukan dalam rangka untuk menjaga hal-hal yang diinginkan supaya tidak terjadi atau tindakan pencegahan. Misalnya dengan cara pemeliharaan rutin pada fasilitas yang digunaka, maupun pelatihan karyawan secara terus-menerus agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. MRP II (Manufacturing Resources Planning) - Merupakan suatu sistem

informasi

terintegrasi

yang

mengkoordinasikan

pemasaran,

manufacturing, pembelian dan rekayasa melalui pengadopsian rencana produksi serta melalui penggunaan satu data base terintegrasi guna merencanakan dan memperbaharui aktivitas dalam sistem industri modern secara keseluruhan. Sistem MRP II mencakup dan mengintegrasikan semua aspek bisnis dari persuahaan industri manufaktur, sejak perencanaan strategik bisnis pada tingkat

manajemen

puncak

sampai

perencanaan

dan

pengendalian

terperinci pada tingkat manajemen menengah dan supervisor, kemudian memberikan umpan balik kepada tingkat manajerial diatasnya. dimulai dari peramalan permintaan dan diaplikasikan ke perencanaan strategik bisnis. Perencanaan strategik bisnis mengendalikan keputusan manufacturing terutama yang terkait dengan manajemen produksi dan inventori. Didalam melakukan perencanaan produksi dan inventori perusahaan industri modern melakukan langkah-langkah utama, yaitu mengumpulkan data yang

relevan

dengan

perencanaan

produksi,

mengembangkan

data

tersebut, menentukan kapasitas produksi dan melakukan partnership meeting yang terutama membicarakan isu-isu penting/khusus. Dari rencana produksi, yang mengacu kepada rencana permintaan dibuat

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

5 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

rencana kebutuhan sumber daya, yang implementasinya tertuang dalam Penjadwalan Produksi Induk (Master Production Scheduling - MPS). Aktivitas

yang

dilakukan

dalam

MPS

seperti

menyediakan

atau

memberikan input utama kepada sistem perencanaan kebutuhan material dan kapasitas, merupakan perencana prioritas bagi industri modern dalam perencana kebutuhan material, karena dalam mendesain MPS faktorfaktor

lingkungan

perencanaan,

manufacturing,

waktu tunggu

struktur

produk dan

produk

produk

(BOM)

horizon

time fences, ikut

menentukan proses penyusunannya, sehingga format tampilan MPS, merupakan masukan bagi penyusunan MRP. MRP II merupakan perluasan dari MRP dan merupakan perencanaan seluruh resources yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan Variasinya meliputi Service Requirements Planning (SRP) Business Requirements Planning (BRP) Distribution Requirements Planning (DRP)

ERP (Enterprise Resource Planning) System - merupakan software yang mengintegrasikan semua departemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam satu sistem komputer yang dapat melayani semua kebutuhan perusahaan, keuangan.

baik

dari

Meski

departemen

kebutuhannya

penjualan, berbeda,

HRD,

produksi

ERP

harus

atau

mampu

memenuhinya. Satu syarat yang tidak boleh ditawar-tawar lagi adalah terintegrasi,

yang

menggabungkan

berbagai

kebutuhan

pada

satu

software dalam satu logical database, sehingga memudahkan semua departemen

berbagi

merupakan

sistem

informasi

manufaktur

maupun

informasi jasa

dan

berkomunikasi.

Selain

yang

diperuntukkan

bagi

yang

berperan

itu

ERP

perusahan

mengintegrasikan

dan

mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. ERP berkembang dari (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evolusi dari Material Requirement Planning (MRP) yang berkembang sebelumnya. Sistem ERP secara

modular

biasanya

mengangani

proses

manufaktur,

logistik,

distribusi, persediaan (inventory), pengapalan, invoice dan akunting perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen kualitas dan sumber daya manusia. ERP sering disebut

sebagai

Back

Office

System

yang

mengindikasikan

bahwa

pelanggan dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini. Keuntungan dari ERP adalah untuk integrasi data keuangan, standarisasi proses operasi dan standarisasi data dan informasi. Keuntungan lain yang bisa diukur dengan menggunakan ERP adalah penurunan inventori, penurunan

tenaga

kerja

secara

total,

peningkatan

service

level,

peningkatan kontrol keuangan, penurunan waktu yang di butuhkan untuk mendapatkan informasi. Software ERP yang saat ini beredar, baik yang berlisensi bayar maupun open source antara lain SAP, JDE, BAAN, MFGPro, Protean dan Compiere. Teori pembatas (Teory of Constraint/TOC) - Filosofi manajemen yang dikembangkan oleh Dr. Eliyahu M. Goldratt seorang ahli psikis Israel. TOC Berbasis pada pernyatan bahwa ada pembatas atau kelemahan atau area kritis

yang

akan

kinerja/performasi

menghambat untuk

pergerakan

ditingkatkan,

maju

suatu

suatu

proses.Jika

organisasi

harus

mengidentifikasi pembatasnya, mengeksploitasi pembatasnya di dalam langkah pendek dan di dalam waktu yang lebih lama, mencari jalan untuk mengatasi pembatas-pembatas (sumber daya yang dibatasi). Hal ini

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

6 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

dituangkan Goldratt pada buku karangannya ”The Goal” Ada 5 langkah untuk menjalankan TOC 1. Identifikasi constraint 2. putuskan bagaimana mengeksploitasi constraint 3. Jabarkan dan sinkronisasikan semua hal untuk membuat keputusan 4. Tingkatkan kinerja constraint 5. Jika dari langkah 1 sampai 4 ada yang berubah, ulangi kembali dari langkah 1 Ke 5 langkah tersebut biasanya disebut ‘5 step of TOC’ dan merupakan prinsip dasar dalam mengembangkan solusi TOC secara generik, yang mencakup pengelolaan proses, inventori, rantai supply, pengembangan produk. Teori pembatasnya terdiri dari : 1. Mengidentifikasi sistem pembatas  tidak ada peningkatan yang mungkin kecuali kalau pembatas atau hubungan yang sangat lemah ditemukan. 2. Memutuskan bagaimana cara mengeksploitasi sistem pembatas  membuat pembatas seefektif mungkin. 3. Tetap memperhatikan bagian-bagian lain yang mempengaruhi pembatas  tetap memperhatikan bagian lain dari sistem yang mendukung pembatas, sekalipun ini mengurangi efisiensi sumber daya yang bukan merupakan pembatas. 4. Menaikkan sistem pembatas  pengembangan kapasitas pembatas untuk mendapatkan level performansi yang lebih tinggi. 5. Jika suatu pembatas sudah terselesaikan maka lanjutjan kembali ke cara pertama yaitu mengidentifikasi pembatas-pembatas lain guna proses peningkatan berkelanjutan.

Tujuan dari TOC : 1. Meningkatkan throughput. 2. Menekan inventori 3. Mempertahankan atau menghilangkan biaya operasi.

Hubungan antara MRP, MRP II, ERP, JIT dan TOC MRP dapat dinyatakan sebagai teknik perencanaan dan penjadwalan, sedangkan JIT dapat dinyatakan sebagai cara menggerakkan bahan baku secara cepat. Kedua konsep tersebut dapat diintegrasikan secara efektif dengan melalui: 1. Tahap pertama, paket MRP dikurangi misalnya yang semula mingguan menjadi harian atau jam-jaman. Paket dalam hal ini diartikan sebagai unit waktu dalam system MRP. 2. Tahap kedua, rencana penerimaan yang merupakan bagian rencana pemesanan perusahaan dalam system MRP dikomunikasikan melalui perakitan untuk tujuan produksi secara berurutan. 3. Tahap ketiga, pergerakan persediaan di pabrik berdasarkan JIT. 4. Tahap keempat, setelah produksi selesai, dipindahkan ke persediaan seperti biasa. Penerimaan produk ini menurunkan jumlah yang dibutuhakan untuk rencana pemesanan selanjutnya pada system MRP. 5. Tahap terakhir menggunakan back flush yang berarti menggunakan bill ogf

material

untuk

mengurangi

persediaan,

berdasarkan

pada

penyelesaian produksi suatu produk. Penggabungan MRP dan JIT menghasilkan jadwal utama yang baik dan gambaran kebutuhan yang akurat dari system MRP dan penurunan

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

7 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

persediaan barang dalam proses. Meski demikian, penggunaan system MRP dengan paket kecil saja sudah bisa sangat efektifdalam mengurangi persediaan. MRP sistem adalah jantung dari Enterprises requirement Planning (ERP). Walaupun sesungguhnya ERP hanyalah sebuah istilah baru bagi MRP pada tahun-tahun terakhir ini. Prospek MRP dan MRP II Melakukan koordinasi strategi perusahaan di antara departemen/area fungsional Memberikan respon yang cepat terhadap what-if questions pada berbagai level rinci BOM, modul-modul pembelian, dan customer order entry adalah persyaratan standar dalam Manufacturing Information Systems Membangun kepercayaan (trust), teamwork dan keputusan yang lebih baik Perencanaan cash-flow dan proyesi profit/cost

Hubungan antara MRP, MRP II, ERP, JIT, maupun TOC Ketiganya merupakan suatu metodologi fabrikasi / filosofi manajemen pengontrolan sistem manufaktur yang diterapkan pada sebuah perusahaan dengan tujuan utamanya adalah menyelesaikan permasalahan manufaktur yang

terjadi

pada

suatu

perusahaan

guna

melakukan

continous

improvement. Tetapi perbedaan dari kelima filosofi tersebut adalah pada cara

menyelesaikan

masalah.

Ada

yang

dengan

cara

mengurangi

pemborosan (waste elimination) baik dalam material/barang, biaya, maupun waktu yang berkaitan dengan proses manufaktur, ada yang mengidentifikasi pembatas-pembatas yang menghalangi kemajuan suatu proses, dan ada yang mengatur sistem perencanaan produksi baik menggunakan cara konvensional maupun modern. Referensi : http://www.nofieiman.com http://www.bpic.co.uk http://www.ashland.edu http://www.library.usu.ac.id http://www.it.bond.edu http://en.wikipedia.org http://www.tocforme.com http://library.usu.ac.id/download/fe/D0000631.html

posted by annisa.w at 6:15 pm | 0 comments

11/23/2014 11:53 PM



Deskripsi

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

1 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

More

Next Blog» [email protected]

Dashboard

hubungan antara mrp, mrp ii, erp, jit, dan toc

wednesday, july 05, 2006

about me

Hubungan Antara MRP, MRP II, JIT, ERP, dan TOC

annisa.w View my complete profile

Kelompok : 1. Almira Rachmi L2H 303 570 2. Annisa Wulandari L2H 303 571

links

3. Dini Megasari L2H 303 585

Google News

4. Shinta Marithyanti L2H 303 608

Edit-Me Edit-Me

previous posts

HUBUNGAN MRP, MRP II, JIT, ERP dan TOC Pendahuluan - Proses industri harus dipandang sebagai suatu perbaikan

Hubungan Antara MRP, MRP II, JIT, ERP, dan TOC

terus menerus (continous inmprovement), yang dimulai dari sederet siklus

sejak

adanya

pengembangan

ide-ide

produk,

untuk

proses

menghasilkan

produksi,

sampai

suatu

produk,

archives

kepada

July 2006

distribusi

konsumen. Seterusnya, berdasarkan informasi sebagai umpan balik yang dikumpulkan

dari

mengembangkan

pengguna ide-ide

produk

untuk

(pelanggan)

menciptakan

itu

produk

kita

dapat

baru

atau

memperbaiki produk lama beserta proses produksi yang ada saat ini. Pengembangan

suatu

industri

manufacturing

memerlukan

perbaikan

reformasi bisnis modern yang mencakup keseluruhan sistem industri dari kedatangan material sampai distribusi kepada konsumen dan desain ulang produk untuk masa mendatang. Sistem manajemen industri tradisional memperlakukan

departemen

pemasaran

sebagai

departemen

yang

bertugas sekedar menjual produk dan mengelola administrasi penjualan. Kondisi ini diperparah lagi dengan departemen Production Planning and Inventory Control (PPIC) yang berfungsi sekedar untuk menyetujui dan mengeluarkan

pesanan

produksi,

tanpa

berpesan

penting

dalam

peningkatan efisiensi, kualitas, daya saing dan lain-lainya, sehingga tampak

adanya

kesenjangan

komunikasi

yang

bertanggung

jawab

memberikan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan pelanggan. Oleh karena itu perusahaan menerapkan strategi sistem perencanaan dan pengendalian manufacturing untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi pada proses manufaktur nanti. Strategi-strategi yang digunakan oleh perusahaan untuk melakukan continous improvement antara lain

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

2 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

MRP, MRP II, ERP, Just In Time maupun TOC. MRP (Material Requirement Planning) - adalah suatu metode untuk menentukan apa, kapan dan berapa jumlah komponen dan material yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dari suatu perencanaan produksi. Input untuk MRP 1. Master production schedule (MPS) MPS adalah pembuatan jadwal secara terperinci tentang material atau komponen yang harus tersedia untuk membuat suatu produk. 2. BOM (Bill Of Material), adalah sebuah daftar jumlah komponen, campuran bahan, dan bahan baku yang diperlukan untuk membuat suatu produk. 3. Ketersediaan Persediaan. Berbagai pengetahuan mengenai apa yang ada dalam persediaan merupakan hasil dari manajemen persediaan yang baik, 4. Order pembelian yang sudah jatuh waktu. Pada saat pesanan pembelian dibuat, catatan mengenai pesanan-pesanan itu dan tanggal pengiriman terjadwal harus tersedia di bagian produksi sehingga pelaksanaan MRP dapat efektif. 5. Lead times, berapa lama waktu untuk mendapatkan komponen. Pada metode MRP terdapat beberapa hal yang mendasar, yaitu : 1. Permintaan material bersifat tergantung (dependent) 2. Filosofi pemesanan sesuai permintaan 3. Ramalan/perkiraan berdasarkan Master Prouction Schedule 4. Konsep pengawasan meliputi semua item 5. Lot sizing bersifat beragam 6. Memenuhi kebutuhan produksi 7. Tipe persediaan adalah bahan mentah atau setengah jadi Keuntungan MRP 1. Investasi persediaan dapat ditekan serendah mungkin 2. Perencanaan dapat dilakukan secara detail dan dapat berubah sesuai keadaan 3. Penyediaan data untuk masa mendatang dengan basis tiap item 4. Pengontrolan persediaan dapat dilakukan setiap saat 5. Jumlah pemesanan berdasarkan kebutuhan 6. Fokus pada waktu kebutuhan material STUKTUR MRP Kebanyakan system MRP terkomputerisasi, analisisnya bersifat langsung dan serupa antara system terkomputerisasi satu dengan laainnya, yang mabana strukturnya terlihat pada gambar berikut: JUST IN TIME (JIT) - Merupakan falsafah pemecahan masalah yang berkelanjutan dan memang harus dihadapi yang dapat menyebabkan sesuatu terbuang percuma. Karena banyak manfaat dari JIT maka konsep ini sangat penting untuk dipelajari. JIT adalah suatu filosofi yang dikembangkan oleh Taiichi Ohno yang diterapkan dalam sistem produksi Toyota Motor Company di Jepang yang menekankan pemborosan dan segala sesuatu yang tidak memberi nilai tambah dengan menyediakan sumber daya pada tempat dan waktu yang tepat. Filosofi meliputi suatu penekanan atas pengurangan biaya setup, small lotsizes, sistem tarik, level produksi, dan penghapusan waste. JIT adalah suatu filosofi manajemen yang bekerja keras untuk menghapuskan barang sisa pabrikasi dengan melakukan produksi pada tempat dan waktu

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

3 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

yang tepat. Barang sisa diakibatkan oleh manapun aktivitas yang menambahkan biaya tanpa menambahkan nilai, seperti perpindahan dan menyimpan. Sistem JIT ini akan mengakibatkan persediaan lebih sedikit, jumlah pekerja lebih sedikit, dan biaya produksi yang lebih rendah serta produk dapat diserahkan ke pelanggan tepat waktu. Terdapat tiga prinsip utama just in time dalam pengendalian kualitas, yaitu output yang bebas cacat adalah lebih penting daripada output itu sendiri, segala kesalahan dan kerusakan dapat dicegah, dan tindakan pencegahan adalah lebih murah daripada pekerjaan mengulang. Roger G. Schroeder, mendefinisikan tujuan sistem just in time adalah memperbaiki laba dan hasil investasi melalui pengurangan biaya, penurunan sediaan, dan perbaikan mutu. Sarana untuk mencapai tujuan ini adalah menghilangkan pemborosan dan melibatkan para pekerja di dalam proses produksi Yang

dilakukan

dalam

JIT

adalah

pengurangan

kesia-siaan

dan

pengurangan variabilitas. 1. Pengurangan Kesia-siaan Kesia-siaan dalam proses produksi barang maupun jasa adalah pemberian penjelasan mengenai sesuatu yang tidak menambah nilai produk, baik yang disimpan, diperiksa, terlambah diproduksi, mengantre maupun yang rusak. Lebih jauh lagi, setiap kegiatan yang menurut konsumen tidak menambah nilai produk merupakan suatu kesia-siaan. JIT mempercepat proses produksi sehingga memungkinkan penghantaran produk kepada konsumen

lebih

cepat

dan

persediaan

dalam

prosespun

menurun

jumlahnya, sehingga memungkinkan pemanfaatan yang lebih produktif pada asset yang sebelumnya disimpan dalam persediaan. 2. Pengurangan Variabilitas Menurut konsep JIT, untuk menjalankan pergerakan bahan baku maka manajer mengurangi variabilitas yang disebabkan factor internal maupun eksternal.Variabilitas adalah setiap penyimpangan dari proses optimal yang mengantarkan produk sempurna tepat waktu setiap saat. Semakin kecil variabilitas semakin kecil pula kesia-siaan yang terjadi. Kebanyakan, terjadinya variabilitas timbul karena perusahaan mentolerir kesia-siaan, atau karena manajemen yang jelek, yang diantaranya dapat dirinci sebagai berikut: 1. Karyawan, fasilitas dan pemasok memproduksi unit-unit produk yang tidak sesuai dengan standar, terlambat atau jumlah tidak sesuai. 2. Engineering drawing atau spesifikasi tidak akurat. 3. Bagian produksi mencoba memproduksi sebelum spesifikasi lengkap. 4. Permintaan konsumen tidak diketahui. Walaupun ada beberapa penyebab variabilitas, seringkali variabilitas tidak terlihat karena persediaan menyembunyikan masalah. Oleh karena itu konsep JIT diperlukan. Oleh karena itu konsep yang mendasari JIT adalah system “tarik” yaitu memproduksi satu unit lalu ditarik ke tempat yang memerlukannya pada saat diperlukan. Banyak perusahaan masih menggerakkan bahan baku melalui fasilitas dengan cara “dorong” yaitu pesanan ditumpuk di departemen pemrosesan agar dapat dikerjakan pada setiap ada kesempatan. Jadi bahan baku didorong ke stasiun kerja hulu tanpa memandang persediaan sumber daya. Sistem tarik dan dorong merupakan antitesis dari konsep JIT. FAKTOR KUNCI SUKSES DALAM JUST IN TIME Dengan memperhatikan ilustrasi berupa penjelasan konsep JIT menunjang

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

4 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

tercapainya Keunggulan kompetitif maka dapat disimpulkan bahwa ada tujuh factor kesuksesan JIT yaitu: 1. Suppliers Hal-hal yang harus diperhatikan adalah: Kedatangan material dan produk akhir termasuk kesia-siaan, Pembeli dan pemasok membentuk kemitraan, Kemitraan JIT mengeliminir (Kegiatan yang tidak penting, Persediaan dalam perjalanan, Pemasok yang jelek) 2. Layout Tata letak memungkinkan pengurangan kesia-siaan yang lain, yaitu pergerakan. Misalnya pergerakan bahan baku maupun manusia menjadi fleksibel. JIT mempersyaratkan: a. Sel kerja untuk product family. b. Pergerakan atau perubahan mesin. c. Jarak yang pendek. d. Tempat yang kecil untuk persediaan. e. Pengiriman langsung ke area kerja. 3. Inventory Persediaan dalam system produksi dan distribusi sering dadakan untuk berjaga-jaga. Tehnik persediaan yang efektif memerlukan Just In Time bukan Just In Case. Persediaan Just In Time merupakan persediaan minimal yang diperlukan untuk mempertahankan operasi system yang sempurna yaitu jumlah yang tepat tiba pada saat yang diperlukan bukan sebelum atau sesudah. 4. Schedulling Jadwal yang efektif dikomunikasikan di dalam organisasi dan kepada pemasok, maka akan sangat mendukung penerapan JIT. Penjadwalan yang lebih baik juga meningkatkan kemampuan untuk memenuhi pesanan konsumen., menurunkan persediaan dan mengurangi barang dalam proses. JIT mensyaratkan: a. Mengkomunikasikan penjadwakan kepada supplier. b. Jadwal bertingkat. c. Menekankan bagian dari skedul paling dekat dengan jatuh tempo. d. lot kecil. e. Tehnik Kanban. 5. Preventive Maintenance Pemeliharaan dilakukan dalam rangka untuk menjaga hal-hal yang diinginkan supaya tidak terjadi atau tindakan pencegahan. Misalnya dengan cara pemeliharaan rutin pada fasilitas yang digunaka, maupun pelatihan karyawan secara terus-menerus agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. MRP II (Manufacturing Resources Planning) - Merupakan suatu sistem

informasi

terintegrasi

yang

mengkoordinasikan

pemasaran,

manufacturing, pembelian dan rekayasa melalui pengadopsian rencana produksi serta melalui penggunaan satu data base terintegrasi guna merencanakan dan memperbaharui aktivitas dalam sistem industri modern secara keseluruhan. Sistem MRP II mencakup dan mengintegrasikan semua aspek bisnis dari persuahaan industri manufaktur, sejak perencanaan strategik bisnis pada tingkat

manajemen

puncak

sampai

perencanaan

dan

pengendalian

terperinci pada tingkat manajemen menengah dan supervisor, kemudian memberikan umpan balik kepada tingkat manajerial diatasnya. dimulai dari peramalan permintaan dan diaplikasikan ke perencanaan strategik bisnis. Perencanaan strategik bisnis mengendalikan keputusan manufacturing terutama yang terkait dengan manajemen produksi dan inventori. Didalam melakukan perencanaan produksi dan inventori perusahaan industri modern melakukan langkah-langkah utama, yaitu mengumpulkan data yang

relevan

dengan

perencanaan

produksi,

mengembangkan

data

tersebut, menentukan kapasitas produksi dan melakukan partnership meeting yang terutama membicarakan isu-isu penting/khusus. Dari rencana produksi, yang mengacu kepada rencana permintaan dibuat

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

5 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

rencana kebutuhan sumber daya, yang implementasinya tertuang dalam Penjadwalan Produksi Induk (Master Production Scheduling - MPS). Aktivitas

yang

dilakukan

dalam

MPS

seperti

menyediakan

atau

memberikan input utama kepada sistem perencanaan kebutuhan material dan kapasitas, merupakan perencana prioritas bagi industri modern dalam perencana kebutuhan material, karena dalam mendesain MPS faktorfaktor

lingkungan

perencanaan,

manufacturing,

waktu tunggu

struktur

produk dan

produk

produk

(BOM)

horizon

time fences, ikut

menentukan proses penyusunannya, sehingga format tampilan MPS, merupakan masukan bagi penyusunan MRP. MRP II merupakan perluasan dari MRP dan merupakan perencanaan seluruh resources yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan Variasinya meliputi Service Requirements Planning (SRP) Business Requirements Planning (BRP) Distribution Requirements Planning (DRP)

ERP (Enterprise Resource Planning) System - merupakan software yang mengintegrasikan semua departemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam satu sistem komputer yang dapat melayani semua kebutuhan perusahaan, keuangan.

baik

dari

Meski

departemen

kebutuhannya

penjualan, berbeda,

HRD,

produksi

ERP

harus

atau

mampu

memenuhinya. Satu syarat yang tidak boleh ditawar-tawar lagi adalah terintegrasi,

yang

menggabungkan

berbagai

kebutuhan

pada

satu

software dalam satu logical database, sehingga memudahkan semua departemen

berbagi

merupakan

sistem

informasi

manufaktur

maupun

informasi jasa

dan

berkomunikasi.

Selain

yang

diperuntukkan

bagi

yang

berperan

itu

ERP

perusahan

mengintegrasikan

dan

mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. ERP berkembang dari (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evolusi dari Material Requirement Planning (MRP) yang berkembang sebelumnya. Sistem ERP secara

modular

biasanya

mengangani

proses

manufaktur,

logistik,

distribusi, persediaan (inventory), pengapalan, invoice dan akunting perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen kualitas dan sumber daya manusia. ERP sering disebut

sebagai

Back

Office

System

yang

mengindikasikan

bahwa

pelanggan dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini. Keuntungan dari ERP adalah untuk integrasi data keuangan, standarisasi proses operasi dan standarisasi data dan informasi. Keuntungan lain yang bisa diukur dengan menggunakan ERP adalah penurunan inventori, penurunan

tenaga

kerja

secara

total,

peningkatan

service

level,

peningkatan kontrol keuangan, penurunan waktu yang di butuhkan untuk mendapatkan informasi. Software ERP yang saat ini beredar, baik yang berlisensi bayar maupun open source antara lain SAP, JDE, BAAN, MFGPro, Protean dan Compiere. Teori pembatas (Teory of Constraint/TOC) - Filosofi manajemen yang dikembangkan oleh Dr. Eliyahu M. Goldratt seorang ahli psikis Israel. TOC Berbasis pada pernyatan bahwa ada pembatas atau kelemahan atau area kritis

yang

akan

kinerja/performasi

menghambat untuk

pergerakan

ditingkatkan,

maju

suatu

suatu

proses.Jika

organisasi

harus

mengidentifikasi pembatasnya, mengeksploitasi pembatasnya di dalam langkah pendek dan di dalam waktu yang lebih lama, mencari jalan untuk mengatasi pembatas-pembatas (sumber daya yang dibatasi). Hal ini

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

6 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

dituangkan Goldratt pada buku karangannya ”The Goal” Ada 5 langkah untuk menjalankan TOC 1. Identifikasi constraint 2. putuskan bagaimana mengeksploitasi constraint 3. Jabarkan dan sinkronisasikan semua hal untuk membuat keputusan 4. Tingkatkan kinerja constraint 5. Jika dari langkah 1 sampai 4 ada yang berubah, ulangi kembali dari langkah 1 Ke 5 langkah tersebut biasanya disebut ‘5 step of TOC’ dan merupakan prinsip dasar dalam mengembangkan solusi TOC secara generik, yang mencakup pengelolaan proses, inventori, rantai supply, pengembangan produk. Teori pembatasnya terdiri dari : 1. Mengidentifikasi sistem pembatas  tidak ada peningkatan yang mungkin kecuali kalau pembatas atau hubungan yang sangat lemah ditemukan. 2. Memutuskan bagaimana cara mengeksploitasi sistem pembatas  membuat pembatas seefektif mungkin. 3. Tetap memperhatikan bagian-bagian lain yang mempengaruhi pembatas  tetap memperhatikan bagian lain dari sistem yang mendukung pembatas, sekalipun ini mengurangi efisiensi sumber daya yang bukan merupakan pembatas. 4. Menaikkan sistem pembatas  pengembangan kapasitas pembatas untuk mendapatkan level performansi yang lebih tinggi. 5. Jika suatu pembatas sudah terselesaikan maka lanjutjan kembali ke cara pertama yaitu mengidentifikasi pembatas-pembatas lain guna proses peningkatan berkelanjutan.

Tujuan dari TOC : 1. Meningkatkan throughput. 2. Menekan inventori 3. Mempertahankan atau menghilangkan biaya operasi.

Hubungan antara MRP, MRP II, ERP, JIT dan TOC MRP dapat dinyatakan sebagai teknik perencanaan dan penjadwalan, sedangkan JIT dapat dinyatakan sebagai cara menggerakkan bahan baku secara cepat. Kedua konsep tersebut dapat diintegrasikan secara efektif dengan melalui: 1. Tahap pertama, paket MRP dikurangi misalnya yang semula mingguan menjadi harian atau jam-jaman. Paket dalam hal ini diartikan sebagai unit waktu dalam system MRP. 2. Tahap kedua, rencana penerimaan yang merupakan bagian rencana pemesanan perusahaan dalam system MRP dikomunikasikan melalui perakitan untuk tujuan produksi secara berurutan. 3. Tahap ketiga, pergerakan persediaan di pabrik berdasarkan JIT. 4. Tahap keempat, setelah produksi selesai, dipindahkan ke persediaan seperti biasa. Penerimaan produk ini menurunkan jumlah yang dibutuhakan untuk rencana pemesanan selanjutnya pada system MRP. 5. Tahap terakhir menggunakan back flush yang berarti menggunakan bill ogf

material

untuk

mengurangi

persediaan,

berdasarkan

pada

penyelesaian produksi suatu produk. Penggabungan MRP dan JIT menghasilkan jadwal utama yang baik dan gambaran kebutuhan yang akurat dari system MRP dan penurunan

11/23/2014 11:53 PM

Hubungan Antara MRP, MRP II, ERP, JIT, dan TOC

7 of 7

http://sisman-annisa.blogspot.com/

persediaan barang dalam proses. Meski demikian, penggunaan system MRP dengan paket kecil saja sudah bisa sangat efektifdalam mengurangi persediaan. MRP sistem adalah jantung dari Enterprises requirement Planning (ERP). Walaupun sesungguhnya ERP hanyalah sebuah istilah baru bagi MRP pada tahun-tahun terakhir ini. Prospek MRP dan MRP II Melakukan koordinasi strategi perusahaan di antara departemen/area fungsional Memberikan respon yang cepat terhadap what-if questions pada berbagai level rinci BOM, modul-modul pembelian, dan customer order entry adalah persyaratan standar dalam Manufacturing Information Systems Membangun kepercayaan (trust), teamwork dan keputusan yang lebih baik Perencanaan cash-flow dan proyesi profit/cost

Hubungan antara MRP, MRP II, ERP, JIT, maupun TOC Ketiganya merupakan suatu metodologi fabrikasi / filosofi manajemen pengontrolan sistem manufaktur yang diterapkan pada sebuah perusahaan dengan tujuan utamanya adalah menyelesaikan permasalahan manufaktur yang

terjadi

pada

suatu

perusahaan

guna

melakukan

continous

improvement. Tetapi perbedaan dari kelima filosofi tersebut adalah pada cara

menyelesaikan

masalah.

Ada

yang

dengan

cara

mengurangi

pemborosan (waste elimination) baik dalam material/barang, biaya, maupun waktu yang berkaitan dengan proses manufaktur, ada yang mengidentifikasi pembatas-pembatas yang menghalangi kemajuan suatu proses, dan ada yang mengatur sistem perencanaan produksi baik menggunakan cara konvensional maupun modern. Referensi : http://www.nofieiman.com http://www.bpic.co.uk http://www.ashland.edu http://www.library.usu.ac.id http://www.it.bond.edu http://en.wikipedia.org http://www.tocforme.com http://library.usu.ac.id/download/fe/D0000631.html

posted by annisa.w at 6:15 pm | 0 comments

11/23/2014 11:53 PM

Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.