HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DENGAN SIKAP PENCEGAHAN KANKER LEHER RAHIM PADA SISWI KELAS XII SMA NEGERI 02 SINTANG TAHUN 2014

December 11, 2017 | Author: Irma Kayai | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat





HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DENGAN SIKAP PENCEGAHAN KANKER LEHER RAHIM PADA SISWI KELAS XII SMA NEGERI 02 SINTANG TAHUN 2014


Profosal Penelitian
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan di Stik Muhammadiyah Pontianak


Di susun oleh : Kelompok 2
Idayati Irma .S.KayaiJuli AnggrainiKarmila Kristina EndangNeni RahmawatiMiharti Puji Mukti hartaniLiza AmeliaNurmalina
Idayati
Irma .S.Kayai
Juli Anggraini
Karmila
Kristina Endang
Neni Rahmawati
Miharti
Puji Mukti hartani
Liza Amelia
Nurmalina








PROGRAM KHUSUS S1 KEPERAWATAN KELAS SINTANG SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
MUHAMMADIYAH PONTIANAK
TAHUN 2014


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat,baik di dunia maupun di Indonesia. Di dunia 12% seluruh kematian disebabkan oleh kanker dan pembunuh nomor 2 setelah penyakit kardiovaskular. WHO dan Bank Dunia,2005 memperkirakan setiap tahun 12 juta orang diseluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia.Jika tidak dikendalikan,diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun 2030.Ironisnya kejadian ini akan terjadi lebih cepat di Negera miskin dan berkembang ( International Union Against Cancer/UICC,2009).
Sampai saat ini, kanker mulut rahim masih merupakan masalah kesehatan perempuan diIndonesia sehubungan dengan angka kejadian dan angka kematiannya yang tinggi.Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi, dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis penderita.Kanker mulut rahim adalah kanker terbanyak kelima pada wanita di seluruh dunia. Penyakit ini banyak terdapat pada wanita Amerika Latin, Afrika, dan negara-negara berkembang lainnya di Asia, termasuk Indonesia. Pada wanita-wanita Suriname keturanan Jawa, terdapat insidens yang lebih tinggi dibandingkan dengan keturunan etnis lainnya.Kanker mulut rahim di negara-negara maju menempati urutan keempat setelah kanker payudara, kolorektum, dan endometrium. Sedangkan di negara-negara sedang berkembang menempati urutan pertama. Di negara Amerika Serikat, kanker mulut rahim memiliki Age Specific Incidence Rate (ASR) yang khas, kurang lebih 20 kasus per 100.000 penduduk wanita per tahun.
Untuk wilayah ASEAN, insidens kanker serviks diSingapore sebesar 25,0 pada ras Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan Thailand sebesar 23,7 per 100.000 penduduk. Insidens dan angka kematian kanker serviks menurun selama beberapa dekade terakhir di AS. Hal ini karena skrining Pap menjadi lebih populer dan lesi serviks pre-invasif lebih sering dideteksi daripada kanker invasif. Diperkirakan terdapat 3.700 kematian akibat kanker serviks pada 2006.
Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40 ribu kasus baru kanker mulut rahim setiap tahunnya. Menurut data kanker berbasis patologi di 13 pusat laboratorium patologi, kanker serviks merupakan penyakit kanker yang memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia, yaitu lebih kurang 36%. Dari data 17 rumah sakit di Jakarta 1977, kanker serviks menduduki urutan pertama, yaitu 432 kasus di antara 918 kanker pada perempuan.
Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut,keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi, dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita.
Sesuai dengan etiologi infeksinya, wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Karena sel kolumnar serviks lebih peka terhadap metaplasia selama usia dewasa maka wanita yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan berisiko terkena kanker serviks lima kali lipat.Keduanya, baik usia saat pertama berhubungan maupun jumlah partner seksual, adalah faktor risiko kuat untuk terjadinya kanker serviks.
Dalam penelitian "HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER SERVIKS DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KANKER SERVIKS DI SMK KARTIKA 1 SURABAYA" pada Tahun 2010. Penelitian pada remaja putri kelas X, XI,XII. Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 orang. Dari hasil penelitian didapat suatu kesimpulan yaitu: 1) Tingkat pengetahuan siswa tentang kanker oleh siswa di SMK Kartika I Surabaya secara umum terhadap kanker serviks tergolong cukup sebesar 60% .2) Tingkat perilaku pencegahan kanker serviks oleh siswa di SMK Kartika I Surabaya secara umum terhadap kanker serviks tergolong kurang prosentase sebesar 4,29%. Tidak ada hubungan antara pengetahuan siswa tentang kanker serviks dengan perilaku pencegahan kanker serviks yang dilakukan siswa di SMK Kartika I Surabaya. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan diperoleh angka korelasi sebesar -0,172 (ANTI WIDAYANI,2010).

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian adalah :
" Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan remaja putrid dengan sikap pencegahan kanker leher rahim pada siswi kelas XII SMA Negeri 02 Sintang.

Tujuan
Tujuan Umum
Untuk membuktikan hubungan tingkat pengetahuan remaja putri dengan sikap pencegahan kanker leher rahim.
Tujuan Khusus
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Siswi Kelas XII SMA Negeri 02 Jakarta
Untuk Mengetahui Gambaran Sikap Pencegahan Kanker Leher Rahim Pada Remaja Putri Siswi Kelas XII SMA Negeri 02 Sintang
Membuktikan Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Dengan Sikap Pencegahan Kanker Leher Rahim


Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bermanfaat :
Bagi peneliti
Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman,dalam menjalankan penelitian dan menambah pengetahuan tentang kanker leher rahim.
Institusi pendidikan
Dapat dijadikan suatu rekomendasi dalam mempromosikan pencegahan penyakit kanker leher rahim.
Remaja putri
Untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang kanker leher rahim dan memotivasi untuk melakukan pencegahan kanker leher rahim.
Penelitian selanjutnya
Sebagai rujukan yang memperkaya hasil jawaban terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat,serta pendekatan yang bervariasi bagi penelitian selanjutnya .

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengetahuan
Pengertian
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benaratau berguna.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki (Wikipedia.org).
Dalam Notoatmodjo,2003 " pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu,dan ini terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia,yakni indera penglihatan,pendengaran,penciuman
rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperolah melalui mata dan telinga".
Menurut Notoatmojo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan sseseorang.Pengetahuan mencakup domain kognitif mempunyai enam tingkat yaitu: tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application), analisa (analysis), sintesis (syntesis) dan evaluasi (evaluation) (Soekidjo, Notoatmodjo, 2005,hlm.121-124).
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) : a).Perilaku tertutup (convert behavior) Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap .stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. b).Perilaku terbuka (overt behavior).Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.
Perilaku kesehatan lingkunganAdalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya.
Menurut Rogers dalam Notoatmodjo (2003) proses terbentuknya suatu perilaku baru adalah melewati tahap-tahap berikut ini,yaitu :
Awareness yaitu mengetahui terlebih dahulu stimulus,interest yaitu merasa tertarik terhadap stimulus obyek tersebut,evaluasi yaitu menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya,Trial yaitu subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai apa yang dikehendaki oleh stimulus, Adaption yaitu subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan,kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan domain di atas (Notoatmodjo,2003).
Sikap
Pengertian
Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, obyek atau isue. (Petty, cocopio, 1986 dalam Azwar S., 2000 : 6).
Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek (Soekidjo Notoatmojo, 1997 : 130).
Sikap adalah pandangan-pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai sikap objek tadi (Heri Purwanto, 1998: 62).



Komponen Sikap
Struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang yaitu (Azwar S., 2000 : 23):
Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh
individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang
dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini)
terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang controversial.
Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak / bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara
tertentu. Dan berkaitan dengan objek yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku.
Tingkatan Sikap
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni (Soekidjo Notoatmojo,1996 : 132), yaitu :
Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.
Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga, misalnya seorang mengajak ibu yang lain (tetangga, saudaranya, dsb) untuk menimbang anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi adalah suatu bukti bahwa si ibu telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak.
Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi. Misalnya seorang ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapatkan tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri.
Sifat Sikap
Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif (Heri Purwanto, 1998 : 63),yaitu :
Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu.
Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.
Ciri-ciri sikap
Ciri-ciri sikap adalah (Heri Purwanto, 1998 : 63), yaitu:
Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat ini membedakannnya dengan sifat motif-motif biogenis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.
Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.
Cara Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan sikap
seseorang. Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai obyek sikap yang hendak diungkap. Pernyataan sikap mungkin berisi atau mengatakan hal-hal yang positif mengenai obyek sikap, yaitu kalimatnya bersifat mendukung atau memihak pada obyek sikap. Pernyataan ini disebut dengan pernyataan yang favourable. Sebaliknya pernyataan sikap mungkin pula berisi hal-hal negatif mengenai obyek sikap yang bersifat tidak mendukung maupun kontra terhadap obyek sikap.
Pernyataan seperti ini disebut dengan pernyataan yang tidak favourabel. Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favorable dan tidak favorable dalam jumlah yang seimbang.
Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan tidak semua negatif yang seolah-olah isi skala memihak atau tidak mendukung sama sekali obyek sikap (Azwar, 2005).
Menurut Notoatmodjo( 2003),Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat/ pernyataan responden terhadap suatu obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis .Kemudian ditanyakan pendapat responden melalui kuesioner .
Likert's Summated Rating (LSR) adalah metode pengukuran sikap (attitude) yang banyak digunakan dalam penelitian sosial karena kesederhanaannya. LSR sangat bermanfaat untuk membandingkan skor sikap seseorang dengan distribusi skala dari sekelompok orang lainnya, serta untuk
melihat perkembangan atau perubahan sikap sebelum dan sesudah ekperimen atau kegiatan.
Tahap-tahap perancangan LSR adalah sebagai berikut:
Tentukan secara tegas sikap terhadap topik apa yang akan diukur. Contohnya, sikap para karyawan terhadap sistem pelatihan, sikap para pengusaha kecil terhadap realisasi pemberian kredit usaha, sikap mahasiswa terhadap liberalisasi perdagangan, dan sebagainya
Tentukan secara tegas Dimensi yang menyusun sikap tersebut. Dimensi tersebut pada dasarnya merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap yang menurut Likert terdiri dari dimensi kognitif (tahu atau tidak tahu), afektif (perasaan terhadap sesuatu), dan konatif (kecenderungan untuk bertingkat laku). Contoh lain, dimensi tingkat sosial ekonomi meliputi kekayaan, pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan
Susun pernyataan-pernyataan atau item yang merupakan alat pengukur dimensi yang menyusun sikap yang akan diukur sesuai dengan indikator. Banyaknya indiktor biasanya antara 30-40 item untuk sebuah sikap tertentu. Item-item yang disusun tersebut harus terdiri dari item positif dan item negatif. Item positif adalah pernyataan yang memberikan isyarat mendukung/menyokong topik yang sedang diukur, sedangkan item negatif sebaliknya, yaitu melawan topik. Item positif dan item negatif harus ditempatkan secara acak.Setiap item diberi pilihan respon yang bersifat tertutup (closed questionare). Banyaknya pilihan respon biasanya 3, 5, 7, 9, dan 11. Dalam prakteknya, jumlah pilihan respon yang paling banyak dipakai adalah 5. Alasannya adalah jika respon terlalu sedikit maka hasilnya terlalu kasar tetapi jika terlalu banyak maka responden sulit membedakannya. Kelima pilihan respon tersebut adalah: Sangat tidak setuju Tidak setuju Tidak ada pendapat Setuju Sangat setuju
Contoh:
Masuknya investor asing akan memperluas jaringan bisnis
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Investor asing akan menyebabkan eksploitasi sumber daya domestik
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Untuk setiap pilihan respon, jawaban diberikan skor dengan kriteria apabila item positif maka angka terbesar diletakkan pada sangat setuju sedangkan jika item negatif maka angka terbesar diletakkan pada sangat tidak setuju. Skor yang diberikan pada jawaban untuk setiap item kemudian dijumlahkan Skala likert akan digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan program pendidikan, yaitu dengan menganalisis persepsi peserta yang sudah mengikuti program pendidikan tersebut.
Skala tersebut terdiri dari 5 item sebagai berikut:
Program ini tidak menarik
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Metode mengajarnya baik
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Pendapat peserta tidak mendapatkan perhatian dalam program
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Program ini sangat baik untuk persiapan bekerja
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Program ini tidak sesuai dengan harapan saya
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Kuisoner tersebut bisa dianalisis jika membuat skor 1 sampai 5 untuk masing-masing respon dari setiap item. Misalkan kuisoner tersebut diisi oleh 5 responden yang dianggap sebagai sampel penelitian dengan hasil terlihat pada Tabel berikut. Berapa skor terkecil dan terbesar untuk satu orang responden dan total semua responden.. Saya memperoleh banyak pelajaran dari program ini
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap obyek sikap
antara lain :
Pengalaman Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis
atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini
antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
Pengaruh Kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita
terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota
masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman
individu-individu masyarakat asuhannya.
Media Massa
Dalam pemberitaan surat kabar mauoun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara obyekstif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
Faktor Emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. (Azwar, 2005).
Kanker Leher Rahim
Pengertian
Pengertian Kanker serviks sering dianggap sebagai suatu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi tertentu virus papilloma (HPV) manusia (Elizabet C, 2000 : 655)

Pengertian Kanker adalah suatu pertumbuhan sel-sel abnormal yang cenderung menginvasi jaringan disekitarnya dan menyebar ke tempat-tempat yang jauh (Elizabet C, 2000 : 96). Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel yang tidak normal (Anugerah W, 2005) .

Kanker serviks adalah kanker ginekologik yang biasanya tumbuh ke arah luar dan ke arah dalam sehingga menimbulkan pembesaran serviks ( Derek, 2002 : 68). 

Kanker leher rahim (serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina) (Susternada, 2007). 

Pengertian Kanker leher rahim (serviks) adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Yohanes R, 1999). 

Etiologi
Penyebab terjadinya kanker serviks sejauh ini belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker serviks : 
HPV (human papillomavirus) 
Merupakan virus penyebab kutil pada daerah genetal (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. HPV sering diduga sebagai penyebab terjadinya perubahan yang abnormal dari sel-sel leher rahim. (Susternada, 2007). 
Perokok 
Kandungan tembakau yang ada di dalam bahan dasar pembuatan rokok, merusak sistem kekebalan atau mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks. 
Pemakaian pil KB 
Kandungan estrogen dalam pil KB dapat memicu timbulnya kanker servik. (Susternada, 2007)
Menikah atau memulai aktivitas seksual pada usia muda (kurang dari 16 tahun) 
Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang menjalani hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan pada usia dibawah 16 tahun. Pada usia ini, sel-sel mukosa pada serviks wanita belum matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar. Termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sedangkan sifat sel sendiri selalu berubah setiap saat, mati dan tumbuh lagi. Karena ada rangsangan bisa saja sel yang tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker. (Erik T, 2005)
Berganti-ganti pasangan seksual (promiskuitas)
Penyebab kanker leher rahim, sebagian besar berasal dari kondisi lingkungan yang diperantarai oleh virus HPV. Virus itu ditularkan melalui hubungan seksual. Seorang wanita dapat tertular infeksi virus dari mitra seksualnya. Infeksi virus ini dapat tertular cepat melalui hubungan seksual multi pasangan. Oleh sebab itu penyakit ini sering disebut penyakit akibat hubungan seksual. Dan resikoterjadinya kanker leher rahim meningkat lebih dari 10x bila mitra seks 6 atau lebih. (Erik T, 2005) 
Melahirkan banyak anak (multiparitas) (Erik T, 2005 : 17-20) 
Jumlah kelahiran dengan jarak pendek 
Pada wanita yang bersalin (melahirkan) tentulah bagian kemaluan wanita yang merupakan jalan lahir dengan mudah akan terpapar oleh dunia luar, banyak hal terjadi selama proses persalinan secara tidak sadar virus bisa masuk sehingga mengakibatkan infeksi. Dikarenakan infeksi tersebut bisa mengakibatkan perubahan-perubahan pada sel-sel mukosa serviks (displasia) (Prawiroharjo,1999). Sama seperti pada paritas, persalinan yang terlalu dekat jaraknya, dapat mengakibatkan kerusakan pada sel-sel serviks. Jarak persalinan dapat menjadi factor risiko terhadap kesehatan ibu apabila melahirkan dengan jarak kurang dari 2 tahun (DEPKES.RI, 2002) 
Kebersihan vagina yang buruk 
Sosial ekonomi rendah sangat mempengaruhi seseorang dalan memperoleh pengetahuan. Mereka tidak tahu bahwa kurang menjaga kebersihan daerah kemaluan dapat mengakibatkan terjadinya kanker leher rahim, seharusnya vagina dibersihkan segera setelah melakukan hubungan intim. (Derek, 2001) 
Perlukaan mulut rahim yang tidak mendapat pengobatan yang tepat (Derek, 2001 : 68) 
Wanita yang suaminya tidak disunat (sirkumsisi), karena pada leher penis dihasilkan suatu zat yang disebut smegma. Pada smegma inilah ada sejenis virus yang gemar dan mudah berkembang biak yang bernama Human Papilloma Virus (HPV). HPV ini mempunyai sifat carcinogen, yaitu mampu mengubah sifat sel menjadi sel yang ganas atau kanker.
Golongan sosial ekonomi rendah 
Golongan sosial ekonomi rendah dapat dilihat dari pekerjaan mereka, apakah mereka bekerja sebagai buruh ataukah sebagai wanita tuna susila (berhubungan dengan virus HPV), ataukah dari sosial ekonomi tinggi. Beberapa penelitian terakhir memperkirakan kejadian kanker meningkat karena pengaruh gaya hidup
Defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, betacarotin/ retinol dihubungkan dengan peningkatan resiko kanker serviks. (FKUI, 2002 : 101-102) 
Gejala yang munculpada Kanker Serviks (Leher rahir)
Keputihan yang sulit sembuh dan disertai bau. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. (FKUI, 2000 : 399)
Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause.
Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak (Susternada, 2007)
Perdarahan setelah menopouse (Anugerah, 2007)

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut : 
Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan
Nyeri punggung, panggul dan tungkai
Dari vagina keluar air kemih (Susternada, 2007) 

Faktor Risiko
Hubungan Seksual
Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual. Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan antara riwayat hubungan seksual dan risiko penyakit ini.Sesuai dengan etiologi infeksinya, wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Karena sel kolumnar serviks lebih peka terhadap metaplasia selama usia dewasa maka wanita yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan berisiko terkena kanker serviks lima kali lipat.Keduanya, baik usia saat pertama berhubungan maupun jumlah partner seksual, adalah faktor risiko kuat untuk terjadinya kanker serviks.
Karakteristik Partner
Sirkumsisi pernah dipertimbangkan menjadi faktor pelindung, tetapi sekarang hanya dihubungkan dengan penurunan faktor risiko. Studi kasus kontrol menunjukkan bahwa pasien dengan kanker serviks lebih sering menjalani seks aktif dengan partner yang melakukan seks berulang kali. Selain itu, partner dari pria dengan kanker penis atau partner dari pria yang istrinya meninggal terkena kanker serviks juga akan meningkatkan risiko kanker serviks.
Riwayat Ginekologis
Walaupun usia menarke atau menopause tidak mempengaruhi risiko kanker serviks, hamil di usia muda dan jumlah kehamilan atau manajemen persalinan yang tidak tepat dapat pula meningkatkan risiko.
Dietilstilbesterol (DES)
Hubungan antara clear cell adenocarcinoma servik dan paparan DES in utero telah dibuktikan.
Agen Infeksius
Mutagen pada umumnya berasal dari agen-agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti Human Papilloma Virus (HPV) dan Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2) (Benedet 1998; Nuranna 2005).


Human Papilloma Virus (HPV)
Terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab neoplasia servikal. Karsinogenesis pada kanker serviks sudah dimulai sejak seseorang terinfeksi HPV yang merupakan faktor inisiator dari kanker serviks yang menyebabkan terjadinya gangguan sel serviks.
Ada bukti lain yaitu onkogenitas virus papiloma hewan; hubungan infeksi HPV serviks dengan kondiloma dan atipik koilositotik yang menunjukkan displasia ringan atau sedang; serta deteksi antigen HPV dan DNA dengan lesi servikal.
HPV tipe 6 dan 11 berhubungan erat dengan diplasia ringan yang sering regresi. HPV tipe 16 dan 18 dihubungkan dengan diplasia berat yang jarang regresi dan seringkali progresif menjadi karsinoma insitu. Infeksi Human Papilloma Virus persisten dapat berkembang menjadi neoplasia intraepitel serviks (NIS).
Seorang wanita dengan seksual aktif dapat terinfeksi oleh HPV risiko-tinggi dan 80% akan menjadi transien dan tidak akan berkembang menjadi NIS. HPV akan hilang dalam waktu 6-8 bulan. Dalam hal ini, respons antibodi terhadap HPV risiko-tinggi yang berperan. Dua puluh persen sisanya berkembang menjadi NID dan sebagian besar, yaitu 80%, virus menghilang, kemudian lesi juga menghilang. Oleh karena itu, yang berperan adalah cytotoxic T-cell. Sebanyak 20% dari yang terinfeksi virus tidak menghilang dan terjadi infeksi yang persisten. NIS akan bertahan atau NIS 1 akan berkembang menjadi NIS3, dan pada akhirnya sebagiannya lagi menjadi kanker invasif. HPV risiko rendah tidak berkembang menjadi NIS3 atau kanker invasif, tetapi menjadi NIS 1 dan beberapa menjadi NIS 2. Infeksi HPV risiko-rendah sendirian tidak pernah ditemukan pada NIS 3 atau karsinoma invasif.
Berdasarkan hasil program skrining berbasis populasi di Belanda, interval antara NIS 1 dan kanker invasif diperkirakan 12,7 tahun dan kalau dihitung dari infeksi HPV risiko-tinggi sampai terjadinya kanker adalah 15 tahun. Waktu yang panjang ini, di samping terkait dengan infeksi HPV risiko-tinggi persisten dan faktor imunologi (respons HPV-specific T-cell, presentasi antigen), juga diperlukan untuk terjadinya perubahan genom dari sel yang terinfeksi. Dalam hal, ini faktor onkogen E6 dan E7 dari HPV berperan dalam ketidakstabilan genetik sehingga terjadi perubahan fenotipe ganas.
Oncoprotein E6 dan E7 yang berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya degenerasi keganasan.Oncoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG p53 akan kehilangan fungsinya. Sementara itu, oncoprotein E7 akan mengikat TSG Rb. Ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel berjalan tanpa kontrol.
Virus Herpes Simpleks
Walaupun semua virus herpes simpleks tipe 2 (HPV-2) belum didemonstrasikan pada sel tumor, teknik hibridisasi insitu telah menunjukkan bahwa terdapat HSV RNA spesifik pada sampel jaringan wanita dengan displasia serviks. DNA sekuens juga telah diidentifikasi pada sel tumor dengan menggunakan DNA rekombinan.
Diperkirakan, 90% pasien dengan kanker serviks invasif dan lebih dari 60% pasien dengan neoplasia intraepitelial serviks (CIN) mempunyai antibodi terhadap virus.
Lain-lain
Infeksi trikomonas, sifilis, dan gonokokus ditemukan berhubungan dengan kanker serviks. Namun, infeksi ini dipercaya muncul akibat hubungan seksual dengan multipel partner dan tidak dipertimbangkan sebagai faktor risiko kanker serviks secara langsung.



Merokok
Saat ini terdapat data yang mendukung bahwa rokok sebagai penyebab kanker serviks dan hubungan antara merokok dengan kanker sel skuamosa pada serviks (bukan adenoskuamosa atau adenokarsinoma). Mekanisme kerja bisa langsung (aktivitas mutasi mukus serviks telah ditunjukkan pada perokok) atau melalui efek imunosupresif dari merokok. Bahan karsinogenik spesifik
dari tembakau dapat dijumpai dalam lendir dari mulut rahim pada wanita perokok. Bahan karsinogenik ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama infeksi HPV dapat mencetuskan transformasi keganasan.
Faktor Risiko yang Diperkirakan Kontrasepsi Oral
Risiko noninvasif dan invasif kanker serviks telah
menunjukkan hubungan dengan kontrasepsi oral.Bagaimanapun, penemuan ini hasilnya tidak selalu konsisten dan tidak semua studi dapat membenarkan perkiraan risiko dengan mengontrol pengaruh kegiatan seksual. Beberapa studi gagal dalam menunjukkan
beberapa hubungan dari salah satu studi, bahkan melaporkan proteksi terhadap penyakit yang invasif. Hubungan yang terakhir ini mungkin palsu dan menunjukkan deteksi adanya bias karena peningkatan skrining terhadap pengguna kontrasepsi. Beberapa studi lebih
lanjut kemudian memerlukan konfirmasi atau menyangkal observasi ini mengenai kontrasepsi oral.
Diet
Diet rendah karotenoid dan defisiensi asam folat juga
dimasukkan dalam faktor risiko kanker serviks.

Etnis dan Faktor Sosial
Wanita di kelas sosioekonomi yang paling rendah memiliki faktor risiko lima kali lebih besar daripada wanita di kelas yang paling tinggi. Hubungan ini mungkin dikacaukan oleh hubungan seksual dan akses ke sistem pelayanan kesehatan.Di Amerika Serikat, ras negro, hispanik, dan wanita Asia memiliki insiden kanker serviks yang lebih tinggi daripada wanita ras kulit putih. Perbedaan ini mungkin mencerminkan pengaruh sosioekonomi.
Pekerjaan
Sekarang ini, ketertarikan difokuskan pada pria yang pasangannya menderita kanker serviks. Diperkirakan bahwa paparan bahan tertentu dari suatu pekerjaan (debu, logam, bahan kimia, tar, atau oli mesin) dapat menjadi faktor risiko kanker serviks.
Klasifikasi Hispatologi
Secara histopatologi, kanker serviks terdiri atas berbagai jenis. Dua bentuk yang sering dijumpai adalah karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Sekitar 85% merupakan karsinoma serviks jenis skuamosa
(epidermoid), 10% jenis adenokarsinoma, serta 5% adalah jenis adenoskuamosa, clear cell, small cell, verucous, dan lain-lain.
Faktor Prognosis
Ketahanan hidup penderita pada kanker serviks stadium awal setelah histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis bergantung pada beberapa faktor:
Status KGB
Penderita tanpa metastasis ke KGB, memiliki 5-year survival rate (5-YSR) antara 85 – 90%. Bila didapatkan metastasis ke KGB maka 5-YSR antara 20 – 74%, bergantung pada jumlah, lokasi, dan ukuran metastasis.
Ukuran tumor
Penderita dengan ukuran tumor < 2 cm angka survivalnya 90% dan bila > 2 cm angka survival-nya menjadi 60%. Bila tumor primer > 4 cm, angka survival turun menjadi 40.Analisis dari GOG terhadap 645 penderita menunjukkan 94,6% tiga tahun bebas kanker untuk lesi yang tersembunyi; 85,5% untuk tumor < 3 cm; dan 68,4% bila tumor > 3 cm.
Invasi ke jaringan parametrium
Penderita dengan invasi kanker ke parametrium memiliki 5-YSR 69% dibandingkan 95% tanpa invasi.Bila invasi disertai KGB yang positif maka 5-YSR turun menjadi 39-42%.
Kedalaman invasi
Invasi < 1 cm memilki 5-YSR sekitar 90% dan akan turun menjadi 63 – 78% bila > 1 cm.
Ada tidaknya invasi ke lymph–vascular space Invasi ke lymph–vascular space sebagai faktor prognosis masih menjadi kontroversi. Beberapa laporan menyebutkan 50 – 70% 5-YSR bila didapatkan invasi ke lymph – vascular space dan 90% 5-YSR bila invasi tidak didapatkan. Akan tetapi, laporan lain mengatakan tidak ada perbedaan bermakna dengan adanya invasi atau tidak.

Gambaran Patologi Sebagai Faktor Prognosis
Histologi
Para ahli menemukan hubungan adenokarsinoma serviks dengan prognosis yang lebih buruk daripada karsinoma sel skuamous, khususnya pada pasien dengan limfonodus positif dan mempunyai interval rekurensi yang lebih pendek daripada karsinoma sel skuamous. Adenoma maligna, yaitu subtipe adenokarsinoma yang jarang dan berdiferensiasi jelek, diketahui berhubungan dengan prognosis yang jelek. Pada penelitian ditemukan bahwa hanya 25% pasien adenoma maligna stadium I dan II yang survive selama 3 tahun.
Diferensiasi dan Grade Histopatologi
Kepentingan prognosis dari diferensiasi kanker serviks
sampai saat ini masih diperdebatkan. Demikian pula sampai saat ini tidak ditemukan hubungan prognostik dengan grade kanker serviks. Bichel dkk., (1985) memakai sistem grading malignancy (MGS) untuk meneliti 275 biopsi karsinoma sel skuamous invasif. Sistem ini berdasarkan 8 parameter, di mana tiap grade dibagi atas 3 poin (tabel 2). Angka survival pada pasien dengan indeks MGS < 14 adalah lebih baik daripada indeks MGS> 14 (p=0,001). Tidak ditemukan hubungan antara skor MGS dengan stadium klinik pasien.
Reaksi Stromal
Seperti grading histologik, reaksi stroma pada kanker serviks mula-mula diperiksa untuk mengetahui radiosensitivitas tumor. Para ahli menemukan bahwa reaksi stroma merupakan faktor prognosis yang baik. Dilaporkan bahwa pasien dengan tumor yang mempunyai infiltrat limfosit padat dan uniform mempunyai prognosis yang lebih baik. Metastasis tumor hanya ditemukan pada pasien yang hanya mempunyai infiltrat sel eosinofil pada tumornya.


Umur
Telah banyak penelitian menemukan bahwa insidens kanker serviks pada usia muda makin meningkat dan tumor terlihat lebih agresif. Pada analisis retrospektif terhadap 2628 pasien, ditemukan bahwa insidens dan
derajat keganasan lebih tinggi pada kelompok usia muda. Selain itu, pada tiap penelitian ditemukan bahwa wanita muda mempunyai risiko metastasis limfonodus yang lebih besar. Insidens metastasis limfonodus pelvis
pada wanita muda meningkat dari 23% menjadi 40% selama periode 34 tahun (p=0,02), meskipun limfadenektomi yang makin banyak dilakukan juga mempengaruhi angka ini.

Pencegahan
Pencegahan memiliki arti yang sama dengan deteksi dini atas pencegahan sekunder, yaitu pemeriksaan atau tes yang dilakukan pada orang yang belum menunjukkan adanya gejala penyakit untuk menemukan penyakit yang belum terlihat atau masih berada pada stadium praklinik. Program pemeriksaan/skrining yang dianjurkan untuk kanker serviks (WHO): skrining pada setiap wanita minimal satu kali pada usia 35-40 tahun. Jika fasilitas tersedia, lakukan tiap 10 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Jika fasilitas tersedia lebih, lakukan tiap 5 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Ideal atau optimal, lakukan tiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.
Test PAP
Secara umum, kasus kanker mulut rahim dan kematian akibat kanker mulut rahim bisa dideteksi dengan mengetahui adanya perubahan pada daerah mulut rahim dengan cara pemeriksaan sitologi menggunakan tesPap.American College of Obstetrician and Gynecologists(ACOG), American Cancer Society (ACS), dan US Preventive Task Force (USPSTF) mengeluarkan panduan bahwa setiap wanita seharusnya melakukan tes Pap untuk skrining kanker mulut rahim saat 3 tahun pertama dimulainya aktivitas seksual atau saat usia 21 tahun. Karena tes ini mempunyai risiko false negatif sebesar 5-6%, Tes Pap
yang kedua seharusnya dilakukan satu tahun pemeriksaan yang pertama. Pada akhir tahun 1987, American Cancer Society mengubah kebijakan mengenai interval pemeriksaaan Tes Pap tiap tiga tahun setelah dua kali hasil negatif.Saat ini, sesuai dengan American College of Obstetry and Gynecology dan National Cancer Institute, dianjurkan pemeriksaan Tes Pap dan panggul setiap tahun terhadap semua wanita yang aktif secara seksual atau yang telah berusia 18 tahun. Setelah wanita tersebut mendapatkan tiga atau lebih Tes Pap normal, tes dapat dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang sesuai dengan yang dianjurkan dokter. Diperkirakan sebanyak 40% kanker serviks invasif dapat dicegah dengan skrining pap interval 3 tahun.

IVA
IVA merupakan tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka(asam asetat 2 %) dan larutan iosium lugol pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya adalah untukmelihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu metode skrining kanker mulut rahim.IVA tidak direkomendasikan pada wanita pascamenopause,karena daerah zona transisional seringkali terletak kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo. IVA positif bila ditemukan adanya area berwarna putih dan permukaannya meninggi dengan
batas yang jelas di sekitar zona transformasi.
Pencegahan Primer Menunda Onset Aktivitas Seksual
Menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara monogami akan mengurangi risiko kanker serviks secara signifikan.
Penggunaan Kontrasepsi Barier Dokter merekomendasikan kontrasepsi metode barier (kondom, diafragma, dan spermisida) yang berperan untuk proteksi terhadap agen virus. Penggunaan lateks lebih dianjurkan daripada kondom yang dibuat dari kulit kambing.
Penggunaan Vaksinasi HPV
Vaksinasi HPV yang diberikan kepada pasien bisa mengurangi infeksi Human Papiloma Virus, karena mempunyai kemampuan proteksi >90%. Tujuan dari vaksin propilaktik dan vaksin pencegah adalah untuk mencegah perkembangan infeksi HPV dan rangkaian dari event yang mengarah ke kanker serviks.
Kebanyakan vaksin adalah berdasarkan respons humoral dengan penghasilan antibodi yang menghancurkan virus sebelum ia menjadi intraseluler. Masa depan dari vaksin propilatik HPV sangat menjanjikan, namun penerimaan seluruh populasi heterogenous dengan tahap pendidikan berbeda dan kepercayaan kultur berbeda tetap dipersoalkan.
Sebagai tambahan, prevelansi tinggi infeksi HPV mengindikasikan bahwa akan butuh beberapa dekade untuk program imunisasi yang sukses dalam usaha mengurangi insiden kanker serviks.
Pencegahan Sekunder
Pencegahan Sekunder – Pasien Dengan Risiko Sedang
Hasil tes Pap yang negatif sebanyak tiga kali berturut-turut dengan selisih waktu antarpemeriksaan satu tahun dan atas petunjuk dokter sangat dianjurkan. Untuk pasien (atau partner hubungan seksual yang level aktivitasnya tidak diketahui), dianjurkan untuk melakukan tes Pap tiap tahun.
Pencegahan Sekunder – Pasien Dengan Risiko Tinggi
Pasien yang memulai hubungan seksual saat usia 75%,
Sedang jika skor nilai : 56-75%,rendah jika skor nilai :75. Dengan kode tabulasi data 3 cukup baik=Nilai 56-75 dengan kode tabulasi data 2. Kurang dari 56 dengan kode tabulasi data 1.














BAB IV
METODE PENELITIAN

Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi melalui pendekatan cross sectional,dimana pengumpulan data untuk variabel dependen dan variabel independen dilakukan bersamaan melalui instrument kuisioner.

Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi
Populasi adalah keseluruhan siswi kelas XII SMA Negeri 02 Sintang.
Sampel
Tekhnik pengambilan sampling adalah dengan cara accidental sampling yaitu dengan mengambil responden yang bersedia pada saat penelitian. Jumlah sampling di hitung berdasarkan rumus Notoatmodjo,2002. Jumlah sampling dihitung berdasarkan rumus Notoatmodjo karena populasi < dari 10000 responden.
N1 + N (d²)
N
1 + N (d²)
n=


keterangan :
n = perkiraan jumlah sampel
N = perkiraan besar sampel
d² = besarnya penyimpangan 5%(0,05)

n = 145 = 106,42
1+ 145+(0,05)
Jadi sampel dari jumlah populasi ialah 106 orang siswi kelas XII SMA Negeri 02 Sintang.
Kriteria inklusi
Siswi kelas XII SMA Negeri 02 Sintang yang bersedia menjadi responden penelitian .

Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 02 Sintang. Adapun alasan peneliti memilih tempat ini sebagai tempat penelitian karena melihat dari keberadaan SMA Negeri 02 Sintang yang berada di pusat ibu kota Kabupaten. Dimana jaringan tekhnologi semakin canggih dan lingkungan ibu kota kabupaten sangat besar dalam mempengaruhi pergaulan anak remaja khususnya SMA Negeri 02 Sintang dalam hal ini perilaku sex bebas. Karena salah satu faktor penyebab kanker leher rahim ialah hubungan sexsual pada usia dini (kurang dari 18 tahun) dan berganti-ganti pasangan,peneliti ingin mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap pencegahan kanker leher rahim dari siswi SMA Negeri 02 Sintang.

Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2014,dimana persiapan dimulai dari penyusunan profosal dibulan Oktober 2014.

Etika Penelitian
Penelitian ini hanya melibatkan sampel atau responden yang mau terlibat secara sadar dan tanpa paksaan.sebelum penelitian dilakukan ,peneliti telah menjelaskan tujuan,manfaat dan prosdur penelitian kepada responden.selanjutnya peneliti meminta persetujuan responden untuk menandatangani surat persetujuan menjadi responden. Dalam melakukan penelitian,peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini SMA Negeri 02 Sintang. Persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi :
Informed concent
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian, bila responden menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden.
Anonimity
Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama responden,tetapi lembaran tersebut diberikan kode .
Confidentially
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

Alat Pengumpul Data
Instrument dalam penelitian ini berupa daftar pertanyaan atau angket yang dibuat oleh peneliti. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang diukur,yaitu tingkat pengetahuan tentang kanker leher rahim dan sikap pencegahan kanker leher rahim. Untuk mengisi variabel tersebut peneliti menggunakan pertanyaan tertutup untuk mengukur tingkat pengetahuan dan untuk mengukur variabel sikap pencegahan.

Proses Pengumpulan Data
Dalam hal ini proses penggumpulan data dilakukan dengan cara:
Dalam mengidentifikasi responden dengan cara menanyakan kepada kepala humas SMA Negeri 02 Sintang mengenai populasi yang tersedia.
Peneliti menjelaskan kepada responden mengenai cara pengisian kuisioner serta memberika kesempatan bertanya bagi responden yang belum mengerti.
Memberikan lembar kuisioner terhadap responden dengan mengusahakan agar peneliti dengan responden tidak saling mempengaruhi.
Sebelum lembar kuisoner dikumpulkan,para responden diberi kesempatan untuk memeriksa kembali kelengkapan lembaran,dan jika masih ada responden yang belum lengkap,maka peneliti memberikan kesempatan kembali untuk melengkapi lembaran pada saat itu juga.
Jika kuisioner tersebut telah selesai dijawab,maka dikumpulkan kepada peneliti.

Pengolahan Data
Sebelum melakukan penganalisaan pada datayang telah didapat,peneliti terlebih dahulu melakukan bebrapa lengkah penting agar data yang didapat jelas hasilnya,yaitu :
Editing,untuk membuktikan bahwa data yang diperoleh telah lengkap serta dapat terbaca dengan baik dan jelas,yaitu dengan memeriksa kebenaran pengisian,ketepatan dokumen yang digunakan serta kelengkapannya.
Coding,merupakan proses memberi kode pada setiap variabel dengan tujuan untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi dan analisa data.
Tabulating, yaitu mengelompokkan data berdasarkan kategori yang telah ditentukan yang kemudian dilakukan tabulasi dengan cara : setiap kuisioner diberikan kode untuk keperluan analisis statistik dengan komputer.
Entry data,merupakan proses memasukan data kedalam computer untuk selanjutnya dilakukan analisis.
Cleaning data,sebelum dilakukan analisis dilakukan pembersihan data melaui program dikomputer agar terbebas dari kesalahan sebelum analisis.
Scoring terhadap tingkat pengetahuan dan sikap.

Analisa Data
Analisa univariat
Analisa ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel yang diteliti. Analisa untuk data ini adalah kategorik disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Pengujian masing-masing variabel dengan menggunakan tabel dan interprestasikan sesuai hasil yang diperoleh.
Analisa bivariat
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan diantara variable yang telah dipilih dari kelompok sampel sehingga diketahui perbedaan dan persamaan. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan prosedur pengujian statistic dan uji hipotesis . Dimana prinsip Hipotesis adalah melakukan perbandingan antara nilai sampel (data yang didapat dari penelitian) dengan nilai hipotesis yang diajukan. Variable dalam penelitian ini berjenis ordinal ordinal (kategorik)sehingga uji menggunakan chi square,dengan confident interval 95% dan α = 0,05.

Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu :
Memformulasikan ( hipotesis null dengan hipotesis alternative)
Memasukan frekuensi obseervasi (0) kedalam table silang
Menghitung frekuensi harapan
Melakukan uji chi square,khusus pada table 2x2 dengan rumus
X² = Ʃ (fo-fe)²
fe

Menghitung p value yaitu dengan membandingkan nilai X² hitung dengan X² tabel chi square .
Diambil keputusan dengan 2 hasil kemungkinan, yaitu p value< nilai α,berarti ada hubungan antara variable independen (tingkat pengetahuan) dengan variable dependen (sikap penceghan), tetapi bila p value > dari nilai α, berate tidak ada hubungan antara variable independen ( tingkat pengetahuan ) dengan variable dependen ( sikap pencegahan).




























DAFTAR PUSTAKA


British Journal of Cancer(2009).Differences in the risk of cervical cancer and human papillomavirus infection by education level,101,865-870.(Published online 4 August 2009).http//www.bjcancer.com.Diakses 29 Oktober 2014

Blog Pendidikan Indonesia (2013)Sarjanaku.com.
http://www.sarjanaku.com/2012/12/kanker-serviks-leher-rahim-pengertian.html. Diakses tanggal 29 Oktober 2014


Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.Di perbaharui 10 Oktober 2014 http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pengetahuan&redirect=no. Diakses tanggal 29 Oktober 2014

Anti.W (2010) SKRIPSI HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER SERVIKS DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KANKER SERVIKS DI SMK KARTIKA 1 SURABAYA.http://www.fk.unair.ac.id/attachments/1594_Anti%20W,%20S.pdf Diakses tanggal 29 Oktober 2014

Indonesian Journal of cancer (2009).Efidemiologi Kanker Servik.(dipublikasikan pada Juli-September 2009)http://indonesianjournalofcancer.org/2009/2009-no3-jul-sep/103-epidemiologi-kanker-serviks?catid=48%3Aliterature-study. Diakses tanggal 29 Oktober 2014







Deskripsi





HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DENGAN SIKAP PENCEGAHAN KANKER LEHER RAHIM PADA SISWI KELAS XII SMA NEGERI 02 SINTANG TAHUN 2014


Profosal Penelitian
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan di Stik Muhammadiyah Pontianak


Di susun oleh : Kelompok 2
Idayati Irma .S.KayaiJuli AnggrainiKarmila Kristina EndangNeni RahmawatiMiharti Puji Mukti hartaniLiza AmeliaNurmalina
Idayati
Irma .S.Kayai
Juli Anggraini
Karmila
Kristina Endang
Neni Rahmawati
Miharti
Puji Mukti hartani
Liza Amelia
Nurmalina








PROGRAM KHUSUS S1 KEPERAWATAN KELAS SINTANG SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
MUHAMMADIYAH PONTIANAK
TAHUN 2014


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat,baik di dunia maupun di Indonesia. Di dunia 12% seluruh kematian disebabkan oleh kanker dan pembunuh nomor 2 setelah penyakit kardiovaskular. WHO dan Bank Dunia,2005 memperkirakan setiap tahun 12 juta orang diseluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia.Jika tidak dikendalikan,diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun 2030.Ironisnya kejadian ini akan terjadi lebih cepat di Negera miskin dan berkembang ( International Union Against Cancer/UICC,2009).
Sampai saat ini, kanker mulut rahim masih merupakan masalah kesehatan perempuan diIndonesia sehubungan dengan angka kejadian dan angka kematiannya yang tinggi.Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi, dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis penderita.Kanker mulut rahim adalah kanker terbanyak kelima pada wanita di seluruh dunia. Penyakit ini banyak terdapat pada wanita Amerika Latin, Afrika, dan negara-negara berkembang lainnya di Asia, termasuk Indonesia. Pada wanita-wanita Suriname keturanan Jawa, terdapat insidens yang lebih tinggi dibandingkan dengan keturunan etnis lainnya.Kanker mulut rahim di negara-negara maju menempati urutan keempat setelah kanker payudara, kolorektum, dan endometrium. Sedangkan di negara-negara sedang berkembang menempati urutan pertama. Di negara Amerika Serikat, kanker mulut rahim memiliki Age Specific Incidence Rate (ASR) yang khas, kurang lebih 20 kasus per 100.000 penduduk wanita per tahun.
Untuk wilayah ASEAN, insidens kanker serviks diSingapore sebesar 25,0 pada ras Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan Thailand sebesar 23,7 per 100.000 penduduk. Insidens dan angka kematian kanker serviks menurun selama beberapa dekade terakhir di AS. Hal ini karena skrining Pap menjadi lebih populer dan lesi serviks pre-invasif lebih sering dideteksi daripada kanker invasif. Diperkirakan terdapat 3.700 kematian akibat kanker serviks pada 2006.
Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40 ribu kasus baru kanker mulut rahim setiap tahunnya. Menurut data kanker berbasis patologi di 13 pusat laboratorium patologi, kanker serviks merupakan penyakit kanker yang memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia, yaitu lebih kurang 36%. Dari data 17 rumah sakit di Jakarta 1977, kanker serviks menduduki urutan pertama, yaitu 432 kasus di antara 918 kanker pada perempuan.
Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut,keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi, dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita.
Sesuai dengan etiologi infeksinya, wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Karena sel kolumnar serviks lebih peka terhadap metaplasia selama usia dewasa maka wanita yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan berisiko terkena kanker serviks lima kali lipat.Keduanya, baik usia saat pertama berhubungan maupun jumlah partner seksual, adalah faktor risiko kuat untuk terjadinya kanker serviks.
Dalam penelitian "HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER SERVIKS DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KANKER SERVIKS DI SMK KARTIKA 1 SURABAYA" pada Tahun 2010. Penelitian pada remaja putri kelas X, XI,XII. Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 orang. Dari hasil penelitian didapat suatu kesimpulan yaitu: 1) Tingkat pengetahuan siswa tentang kanker oleh siswa di SMK Kartika I Surabaya secara umum terhadap kanker serviks tergolong cukup sebesar 60% .2) Tingkat perilaku pencegahan kanker serviks oleh siswa di SMK Kartika I Surabaya secara umum terhadap kanker serviks tergolong kurang prosentase sebesar 4,29%. Tidak ada hubungan antara pengetahuan siswa tentang kanker serviks dengan perilaku pencegahan kanker serviks yang dilakukan siswa di SMK Kartika I Surabaya. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan diperoleh angka korelasi sebesar -0,172 (ANTI WIDAYANI,2010).

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian adalah :
" Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan remaja putrid dengan sikap pencegahan kanker leher rahim pada siswi kelas XII SMA Negeri 02 Sintang.

Tujuan
Tujuan Umum
Untuk membuktikan hubungan tingkat pengetahuan remaja putri dengan sikap pencegahan kanker leher rahim.
Tujuan Khusus
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Siswi Kelas XII SMA Negeri 02 Jakarta
Untuk Mengetahui Gambaran Sikap Pencegahan Kanker Leher Rahim Pada Remaja Putri Siswi Kelas XII SMA Negeri 02 Sintang
Membuktikan Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Dengan Sikap Pencegahan Kanker Leher Rahim


Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bermanfaat :
Bagi peneliti
Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman,dalam menjalankan penelitian dan menambah pengetahuan tentang kanker leher rahim.
Institusi pendidikan
Dapat dijadikan suatu rekomendasi dalam mempromosikan pencegahan penyakit kanker leher rahim.
Remaja putri
Untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang kanker leher rahim dan memotivasi untuk melakukan pencegahan kanker leher rahim.
Penelitian selanjutnya
Sebagai rujukan yang memperkaya hasil jawaban terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat,serta pendekatan yang bervariasi bagi penelitian selanjutnya .

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengetahuan
Pengertian
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benaratau berguna.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki (Wikipedia.org).
Dalam Notoatmodjo,2003 " pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu,dan ini terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia,yakni indera penglihatan,pendengaran,penciuman
rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperolah melalui mata dan telinga".
Menurut Notoatmojo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan sseseorang.Pengetahuan mencakup domain kognitif mempunyai enam tingkat yaitu: tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application), analisa (analysis), sintesis (syntesis) dan evaluasi (evaluation) (Soekidjo, Notoatmodjo, 2005,hlm.121-124).
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) : a).Perilaku tertutup (convert behavior) Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap .stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. b).Perilaku terbuka (overt behavior).Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.
Perilaku kesehatan lingkunganAdalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya.
Menurut Rogers dalam Notoatmodjo (2003) proses terbentuknya suatu perilaku baru adalah melewati tahap-tahap berikut ini,yaitu :
Awareness yaitu mengetahui terlebih dahulu stimulus,interest yaitu merasa tertarik terhadap stimulus obyek tersebut,evaluasi yaitu menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya,Trial yaitu subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai apa yang dikehendaki oleh stimulus, Adaption yaitu subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan,kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan domain di atas (Notoatmodjo,2003).
Sikap
Pengertian
Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, obyek atau isue. (Petty, cocopio, 1986 dalam Azwar S., 2000 : 6).
Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek (Soekidjo Notoatmojo, 1997 : 130).
Sikap adalah pandangan-pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai sikap objek tadi (Heri Purwanto, 1998: 62).



Komponen Sikap
Struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang yaitu (Azwar S., 2000 : 23):
Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh
individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang
dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini)
terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang controversial.
Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak / bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara
tertentu. Dan berkaitan dengan objek yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku.
Tingkatan Sikap
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni (Soekidjo Notoatmojo,1996 : 132), yaitu :
Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.
Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga, misalnya seorang mengajak ibu yang lain (tetangga, saudaranya, dsb) untuk menimbang anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi adalah suatu bukti bahwa si ibu telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak.
Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi. Misalnya seorang ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapatkan tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri.
Sifat Sikap
Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif (Heri Purwanto, 1998 : 63),yaitu :
Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu.
Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.
Ciri-ciri sikap
Ciri-ciri sikap adalah (Heri Purwanto, 1998 : 63), yaitu:
Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat ini membedakannnya dengan sifat motif-motif biogenis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.
Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.
Cara Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan sikap
seseorang. Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai obyek sikap yang hendak diungkap. Pernyataan sikap mungkin berisi atau mengatakan hal-hal yang positif mengenai obyek sikap, yaitu kalimatnya bersifat mendukung atau memihak pada obyek sikap. Pernyataan ini disebut dengan pernyataan yang favourable. Sebaliknya pernyataan sikap mungkin pula berisi hal-hal negatif mengenai obyek sikap yang bersifat tidak mendukung maupun kontra terhadap obyek sikap.
Pernyataan seperti ini disebut dengan pernyataan yang tidak favourabel. Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favorable dan tidak favorable dalam jumlah yang seimbang.
Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan tidak semua negatif yang seolah-olah isi skala memihak atau tidak mendukung sama sekali obyek sikap (Azwar, 2005).
Menurut Notoatmodjo( 2003),Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat/ pernyataan responden terhadap suatu obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis .Kemudian ditanyakan pendapat responden melalui kuesioner .
Likert's Summated Rating (LSR) adalah metode pengukuran sikap (attitude) yang banyak digunakan dalam penelitian sosial karena kesederhanaannya. LSR sangat bermanfaat untuk membandingkan skor sikap seseorang dengan distribusi skala dari sekelompok orang lainnya, serta untuk
melihat perkembangan atau perubahan sikap sebelum dan sesudah ekperimen atau kegiatan.
Tahap-tahap perancangan LSR adalah sebagai berikut:
Tentukan secara tegas sikap terhadap topik apa yang akan diukur. Contohnya, sikap para karyawan terhadap sistem pelatihan, sikap para pengusaha kecil terhadap realisasi pemberian kredit usaha, sikap mahasiswa terhadap liberalisasi perdagangan, dan sebagainya
Tentukan secara tegas Dimensi yang menyusun sikap tersebut. Dimensi tersebut pada dasarnya merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap yang menurut Likert terdiri dari dimensi kognitif (tahu atau tidak tahu), afektif (perasaan terhadap sesuatu), dan konatif (kecenderungan untuk bertingkat laku). Contoh lain, dimensi tingkat sosial ekonomi meliputi kekayaan, pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan
Susun pernyataan-pernyataan atau item yang merupakan alat pengukur dimensi yang menyusun sikap yang akan diukur sesuai dengan indikator. Banyaknya indiktor biasanya antara 30-40 item untuk sebuah sikap tertentu. Item-item yang disusun tersebut harus terdiri dari item positif dan item negatif. Item positif adalah pernyataan yang memberikan isyarat mendukung/menyokong topik yang sedang diukur, sedangkan item negatif sebaliknya, yaitu melawan topik. Item positif dan item negatif harus ditempatkan secara acak.Setiap item diberi pilihan respon yang bersifat tertutup (closed questionare). Banyaknya pilihan respon biasanya 3, 5, 7, 9, dan 11. Dalam prakteknya, jumlah pilihan respon yang paling banyak dipakai adalah 5. Alasannya adalah jika respon terlalu sedikit maka hasilnya terlalu kasar tetapi jika terlalu banyak maka responden sulit membedakannya. Kelima pilihan respon tersebut adalah: Sangat tidak setuju Tidak setuju Tidak ada pendapat Setuju Sangat setuju
Contoh:
Masuknya investor asing akan memperluas jaringan bisnis
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Investor asing akan menyebabkan eksploitasi sumber daya domestik
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Untuk setiap pilihan respon, jawaban diberikan skor dengan kriteria apabila item positif maka angka terbesar diletakkan pada sangat setuju sedangkan jika item negatif maka angka terbesar diletakkan pada sangat tidak setuju. Skor yang diberikan pada jawaban untuk setiap item kemudian dijumlahkan Skala likert akan digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan program pendidikan, yaitu dengan menganalisis persepsi peserta yang sudah mengikuti program pendidikan tersebut.
Skala tersebut terdiri dari 5 item sebagai berikut:
Program ini tidak menarik
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Metode mengajarnya baik
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Pendapat peserta tidak mendapatkan perhatian dalam program
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Program ini sangat baik untuk persiapan bekerja
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Program ini tidak sesuai dengan harapan saya
[ ] Sangat setuju
[ ] Setuju
[ ] Tidak ada pendapat
[ ] Tidak setuju
[ ] Sangat tidak setuju
Kuisoner tersebut bisa dianalisis jika membuat skor 1 sampai 5 untuk masing-masing respon dari setiap item. Misalkan kuisoner tersebut diisi oleh 5 responden yang dianggap sebagai sampel penelitian dengan hasil terlihat pada Tabel berikut. Berapa skor terkecil dan terbesar untuk satu orang responden dan total semua responden.. Saya memperoleh banyak pelajaran dari program ini
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap obyek sikap
antara lain :
Pengalaman Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis
atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini
antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
Pengaruh Kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita
terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota
masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman
individu-individu masyarakat asuhannya.
Media Massa
Dalam pemberitaan surat kabar mauoun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara obyekstif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
Faktor Emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. (Azwar, 2005).
Kanker Leher Rahim
Pengertian
Pengertian Kanker serviks sering dianggap sebagai suatu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi tertentu virus papilloma (HPV) manusia (Elizabet C, 2000 : 655)

Pengertian Kanker adalah suatu pertumbuhan sel-sel abnormal yang cenderung menginvasi jaringan disekitarnya dan menyebar ke tempat-tempat yang jauh (Elizabet C, 2000 : 96). Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel yang tidak normal (Anugerah W, 2005) .

Kanker serviks adalah kanker ginekologik yang biasanya tumbuh ke arah luar dan ke arah dalam sehingga menimbulkan pembesaran serviks ( Derek, 2002 : 68). 

Kanker leher rahim (serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina) (Susternada, 2007). 

Pengertian Kanker leher rahim (serviks) adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Yohanes R, 1999). 

Etiologi
Penyebab terjadinya kanker serviks sejauh ini belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker serviks : 
HPV (human papillomavirus) 
Merupakan virus penyebab kutil pada daerah genetal (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. HPV sering diduga sebagai penyebab terjadinya perubahan yang abnormal dari sel-sel leher rahim. (Susternada, 2007). 
Perokok 
Kandungan tembakau yang ada di dalam bahan dasar pembuatan rokok, merusak sistem kekebalan atau mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks. 
Pemakaian pil KB 
Kandungan estrogen dalam pil KB dapat memicu timbulnya kanker servik. (Susternada, 2007)
Menikah atau memulai aktivitas seksual pada usia muda (kurang dari 16 tahun) 
Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang menjalani hubungan seks pada usia remaja, paling rawan bila dilakukan pada usia dibawah 16 tahun. Pada usia ini, sel-sel mukosa pada serviks wanita belum matang. Artinya, masih rentan terhadap rangsangan sehingga tidak siap menerima rangsangan dari luar. Termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Karena masih rentan, sel-sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sedangkan sifat sel sendiri selalu berubah setiap saat, mati dan tumbuh lagi. Karena ada rangsangan bisa saja sel yang tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker. (Erik T, 2005)
Berganti-ganti pasangan seksual (promiskuitas)
Penyebab kanker leher rahim, sebagian besar berasal dari kondisi lingkungan yang diperantarai oleh virus HPV. Virus itu ditularkan melalui hubungan seksual. Seorang wanita dapat tertular infeksi virus dari mitra seksualnya. Infeksi virus ini dapat tertular cepat melalui hubungan seksual multi pasangan. Oleh sebab itu penyakit ini sering disebut penyakit akibat hubungan seksual. Dan resikoterjadinya kanker leher rahim meningkat lebih dari 10x bila mitra seks 6 atau lebih. (Erik T, 2005) 
Melahirkan banyak anak (multiparitas) (Erik T, 2005 : 17-20) 
Jumlah kelahiran dengan jarak pendek 
Pada wanita yang bersalin (melahirkan) tentulah bagian kemaluan wanita yang merupakan jalan lahir dengan mudah akan terpapar oleh dunia luar, banyak hal terjadi selama proses persalinan secara tidak sadar virus bisa masuk sehingga mengakibatkan infeksi. Dikarenakan infeksi tersebut bisa mengakibatkan perubahan-perubahan pada sel-sel mukosa serviks (displasia) (Prawiroharjo,1999). Sama seperti pada paritas, persalinan yang terlalu dekat jaraknya, dapat mengakibatkan kerusakan pada sel-sel serviks. Jarak persalinan dapat menjadi factor risiko terhadap kesehatan ibu apabila melahirkan dengan jarak kurang dari 2 tahun (DEPKES.RI, 2002) 
Kebersihan vagina yang buruk 
Sosial ekonomi rendah sangat mempengaruhi seseorang dalan memperoleh pengetahuan. Mereka tidak tahu bahwa kurang menjaga kebersihan daerah kemaluan dapat mengakibatkan terjadinya kanker leher rahim, seharusnya vagina dibersihkan segera setelah melakukan hubungan intim. (Derek, 2001) 
Perlukaan mulut rahim yang tidak mendapat pengobatan yang tepat (Derek, 2001 : 68) 
Wanita yang suaminya tidak disunat (sirkumsisi), karena pada leher penis dihasilkan suatu zat yang disebut smegma. Pada smegma inilah ada sejenis virus yang gemar dan mudah berkembang biak yang bernama Human Papilloma Virus (HPV). HPV ini mempunyai sifat carcinogen, yaitu mampu mengubah sifat sel menjadi sel yang ganas atau kanker.
Golongan sosial ekonomi rendah 
Golongan sosial ekonomi rendah dapat dilihat dari pekerjaan mereka, apakah mereka bekerja sebagai buruh ataukah sebagai wanita tuna susila (berhubungan dengan virus HPV), ataukah dari sosial ekonomi tinggi. Beberapa penelitian terakhir memperkirakan kejadian kanker meningkat karena pengaruh gaya hidup
Defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, betacarotin/ retinol dihubungkan dengan peningkatan resiko kanker serviks. (FKUI, 2002 : 101-102) 
Gejala yang munculpada Kanker Serviks (Leher rahir)
Keputihan yang sulit sembuh dan disertai bau. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. (FKUI, 2000 : 399)
Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause.
Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak (Susternada, 2007)
Perdarahan setelah menopouse (Anugerah, 2007)

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut : 
Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan
Nyeri punggung, panggul dan tungkai
Dari vagina keluar air kemih (Susternada, 2007) 

Faktor Risiko
Hubungan Seksual
Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual. Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan antara riwayat hubungan seksual dan risiko penyakit ini.Sesuai dengan etiologi infeksinya, wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Karena sel kolumnar serviks lebih peka terhadap metaplasia selama usia dewasa maka wanita yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan berisiko terkena kanker serviks lima kali lipat.Keduanya, baik usia saat pertama berhubungan maupun jumlah partner seksual, adalah faktor risiko kuat untuk terjadinya kanker serviks.
Karakteristik Partner
Sirkumsisi pernah dipertimbangkan menjadi faktor pelindung, tetapi sekarang hanya dihubungkan dengan penurunan faktor risiko. Studi kasus kontrol menunjukkan bahwa pasien dengan kanker serviks lebih sering menjalani seks aktif dengan partner yang melakukan seks berulang kali. Selain itu, partner dari pria dengan kanker penis atau partner dari pria yang istrinya meninggal terkena kanker serviks juga akan meningkatkan risiko kanker serviks.
Riwayat Ginekologis
Walaupun usia menarke atau menopause tidak mempengaruhi risiko kanker serviks, hamil di usia muda dan jumlah kehamilan atau manajemen persalinan yang tidak tepat dapat pula meningkatkan risiko.
Dietilstilbesterol (DES)
Hubungan antara clear cell adenocarcinoma servik dan paparan DES in utero telah dibuktikan.
Agen Infeksius
Mutagen pada umumnya berasal dari agen-agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti Human Papilloma Virus (HPV) dan Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2) (Benedet 1998; Nuranna 2005).


Human Papilloma Virus (HPV)
Terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab neoplasia servikal. Karsinogenesis pada kanker serviks sudah dimulai sejak seseorang terinfeksi HPV yang merupakan faktor inisiator dari kanker serviks yang menyebabkan terjadinya gangguan sel serviks.
Ada bukti lain yaitu onkogenitas virus papiloma hewan; hubungan infeksi HPV serviks dengan kondiloma dan atipik koilositotik yang menunjukkan displasia ringan atau sedang; serta deteksi antigen HPV dan DNA dengan lesi servikal.
HPV tipe 6 dan 11 berhubungan erat dengan diplasia ringan yang sering regresi. HPV tipe 16 dan 18 dihubungkan dengan diplasia berat yang jarang regresi dan seringkali progresif menjadi karsinoma insitu. Infeksi Human Papilloma Virus persisten dapat berkembang menjadi neoplasia intraepitel serviks (NIS).
Seorang wanita dengan seksual aktif dapat terinfeksi oleh HPV risiko-tinggi dan 80% akan menjadi transien dan tidak akan berkembang menjadi NIS. HPV akan hilang dalam waktu 6-8 bulan. Dalam hal ini, respons antibodi terhadap HPV risiko-tinggi yang berperan. Dua puluh persen sisanya berkembang menjadi NID dan sebagian besar, yaitu 80%, virus menghilang, kemudian lesi juga menghilang. Oleh karena itu, yang berperan adalah cytotoxic T-cell. Sebanyak 20% dari yang terinfeksi virus tidak menghilang dan terjadi infeksi yang persisten. NIS akan bertahan atau NIS 1 akan berkembang menjadi NIS3, dan pada akhirnya sebagiannya lagi menjadi kanker invasif. HPV risiko rendah tidak berkembang menjadi NIS3 atau kanker invasif, tetapi menjadi NIS 1 dan beberapa menjadi NIS 2. Infeksi HPV risiko-rendah sendirian tidak pernah ditemukan pada NIS 3 atau karsinoma invasif.
Berdasarkan hasil program skrining berbasis populasi di Belanda, interval antara NIS 1 dan kanker invasif diperkirakan 12,7 tahun dan kalau dihitung dari infeksi HPV risiko-tinggi sampai terjadinya kanker adalah 15 tahun. Waktu yang panjang ini, di samping terkait dengan infeksi HPV risiko-tinggi persisten dan faktor imunologi (respons HPV-specific T-cell, presentasi antigen), juga diperlukan untuk terjadinya perubahan genom dari sel yang terinfeksi. Dalam hal, ini faktor onkogen E6 dan E7 dari HPV berperan dalam ketidakstabilan genetik sehingga terjadi perubahan fenotipe ganas.
Oncoprotein E6 dan E7 yang berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya degenerasi keganasan.Oncoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG p53 akan kehilangan fungsinya. Sementara itu, oncoprotein E7 akan mengikat TSG Rb. Ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel berjalan tanpa kontrol.
Virus Herpes Simpleks
Walaupun semua virus herpes simpleks tipe 2 (HPV-2) belum didemonstrasikan pada sel tumor, teknik hibridisasi insitu telah menunjukkan bahwa terdapat HSV RNA spesifik pada sampel jaringan wanita dengan displasia serviks. DNA sekuens juga telah diidentifikasi pada sel tumor dengan menggunakan DNA rekombinan.
Diperkirakan, 90% pasien dengan kanker serviks invasif dan lebih dari 60% pasien dengan neoplasia intraepitelial serviks (CIN) mempunyai antibodi terhadap virus.
Lain-lain
Infeksi trikomonas, sifilis, dan gonokokus ditemukan berhubungan dengan kanker serviks. Namun, infeksi ini dipercaya muncul akibat hubungan seksual dengan multipel partner dan tidak dipertimbangkan sebagai faktor risiko kanker serviks secara langsung.



Merokok
Saat ini terdapat data yang mendukung bahwa rokok sebagai penyebab kanker serviks dan hubungan antara merokok dengan kanker sel skuamosa pada serviks (bukan adenoskuamosa atau adenokarsinoma). Mekanisme kerja bisa langsung (aktivitas mutasi mukus serviks telah ditunjukkan pada perokok) atau melalui efek imunosupresif dari merokok. Bahan karsinogenik spesifik
dari tembakau dapat dijumpai dalam lendir dari mulut rahim pada wanita perokok. Bahan karsinogenik ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama infeksi HPV dapat mencetuskan transformasi keganasan.
Faktor Risiko yang Diperkirakan Kontrasepsi Oral
Risiko noninvasif dan invasif kanker serviks telah
menunjukkan hubungan dengan kontrasepsi oral.Bagaimanapun, penemuan ini hasilnya tidak selalu konsisten dan tidak semua studi dapat membenarkan perkiraan risiko dengan mengontrol pengaruh kegiatan seksual. Beberapa studi gagal dalam menunjukkan
beberapa hubungan dari salah satu studi, bahkan melaporkan proteksi terhadap penyakit yang invasif. Hubungan yang terakhir ini mungkin palsu dan menunjukkan deteksi adanya bias karena peningkatan skrining terhadap pengguna kontrasepsi. Beberapa studi lebih
lanjut kemudian memerlukan konfirmasi atau menyangkal observasi ini mengenai kontrasepsi oral.
Diet
Diet rendah karotenoid dan defisiensi asam folat juga
dimasukkan dalam faktor risiko kanker serviks.

Etnis dan Faktor Sosial
Wanita di kelas sosioekonomi yang paling rendah memiliki faktor risiko lima kali lebih besar daripada wanita di kelas yang paling tinggi. Hubungan ini mungkin dikacaukan oleh hubungan seksual dan akses ke sistem pelayanan kesehatan.Di Amerika Serikat, ras negro, hispanik, dan wanita Asia memiliki insiden kanker serviks yang lebih tinggi daripada wanita ras kulit putih. Perbedaan ini mungkin mencerminkan pengaruh sosioekonomi.
Pekerjaan
Sekarang ini, ketertarikan difokuskan pada pria yang pasangannya menderita kanker serviks. Diperkirakan bahwa paparan bahan tertentu dari suatu pekerjaan (debu, logam, bahan kimia, tar, atau oli mesin) dapat menjadi faktor risiko kanker serviks.
Klasifikasi Hispatologi
Secara histopatologi, kanker serviks terdiri atas berbagai jenis. Dua bentuk yang sering dijumpai adalah karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Sekitar 85% merupakan karsinoma serviks jenis skuamosa
(epidermoid), 10% jenis adenokarsinoma, serta 5% adalah jenis adenoskuamosa, clear cell, small cell, verucous, dan lain-lain.
Faktor Prognosis
Ketahanan hidup penderita pada kanker serviks stadium awal setelah histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis bergantung pada beberapa faktor:
Status KGB
Penderita tanpa metastasis ke KGB, memiliki 5-year survival rate (5-YSR) antara 85 – 90%. Bila didapatkan metastasis ke KGB maka 5-YSR antara 20 – 74%, bergantung pada jumlah, lokasi, dan ukuran metastasis.
Ukuran tumor
Penderita dengan ukuran tumor < 2 cm angka survivalnya 90% dan bila > 2 cm angka survival-nya menjadi 60%. Bila tumor primer > 4 cm, angka survival turun menjadi 40.Analisis dari GOG terhadap 645 penderita menunjukkan 94,6% tiga tahun bebas kanker untuk lesi yang tersembunyi; 85,5% untuk tumor < 3 cm; dan 68,4% bila tumor > 3 cm.
Invasi ke jaringan parametrium
Penderita dengan invasi kanker ke parametrium memiliki 5-YSR 69% dibandingkan 95% tanpa invasi.Bila invasi disertai KGB yang positif maka 5-YSR turun menjadi 39-42%.
Kedalaman invasi
Invasi < 1 cm memilki 5-YSR sekitar 90% dan akan turun menjadi 63 – 78% bila > 1 cm.
Ada tidaknya invasi ke lymph–vascular space Invasi ke lymph–vascular space sebagai faktor prognosis masih menjadi kontroversi. Beberapa laporan menyebutkan 50 – 70% 5-YSR bila didapatkan invasi ke lymph – vascular space dan 90% 5-YSR bila invasi tidak didapatkan. Akan tetapi, laporan lain mengatakan tidak ada perbedaan bermakna dengan adanya invasi atau tidak.

Gambaran Patologi Sebagai Faktor Prognosis
Histologi
Para ahli menemukan hubungan adenokarsinoma serviks dengan prognosis yang lebih buruk daripada karsinoma sel skuamous, khususnya pada pasien dengan limfonodus positif dan mempunyai interval rekurensi yang lebih pendek daripada karsinoma sel skuamous. Adenoma maligna, yaitu subtipe adenokarsinoma yang jarang dan berdiferensiasi jelek, diketahui berhubungan dengan prognosis yang jelek. Pada penelitian ditemukan bahwa hanya 25% pasien adenoma maligna stadium I dan II yang survive selama 3 tahun.
Diferensiasi dan Grade Histopatologi
Kepentingan prognosis dari diferensiasi kanker serviks
sampai saat ini masih diperdebatkan. Demikian pula sampai saat ini tidak ditemukan hubungan prognostik dengan grade kanker serviks. Bichel dkk., (1985) memakai sistem grading malignancy (MGS) untuk meneliti 275 biopsi karsinoma sel skuamous invasif. Sistem ini berdasarkan 8 parameter, di mana tiap grade dibagi atas 3 poin (tabel 2). Angka survival pada pasien dengan indeks MGS < 14 adalah lebih baik daripada indeks MGS> 14 (p=0,001). Tidak ditemukan hubungan antara skor MGS dengan stadium klinik pasien.
Reaksi Stromal
Seperti grading histologik, reaksi stroma pada kanker serviks mula-mula diperiksa untuk mengetahui radiosensitivitas tumor. Para ahli menemukan bahwa reaksi stroma merupakan faktor prognosis yang baik. Dilaporkan bahwa pasien dengan tumor yang mempunyai infiltrat limfosit padat dan uniform mempunyai prognosis yang lebih baik. Metastasis tumor hanya ditemukan pada pasien yang hanya mempunyai infiltrat sel eosinofil pada tumornya.


Umur
Telah banyak penelitian menemukan bahwa insidens kanker serviks pada usia muda makin meningkat dan tumor terlihat lebih agresif. Pada analisis retrospektif terhadap 2628 pasien, ditemukan bahwa insidens dan
derajat keganasan lebih tinggi pada kelompok usia muda. Selain itu, pada tiap penelitian ditemukan bahwa wanita muda mempunyai risiko metastasis limfonodus yang lebih besar. Insidens metastasis limfonodus pelvis
pada wanita muda meningkat dari 23% menjadi 40% selama periode 34 tahun (p=0,02), meskipun limfadenektomi yang makin banyak dilakukan juga mempengaruhi angka ini.

Pencegahan
Pencegahan memiliki arti yang sama dengan deteksi dini atas pencegahan sekunder, yaitu pemeriksaan atau tes yang dilakukan pada orang yang belum menunjukkan adanya gejala penyakit untuk menemukan penyakit yang belum terlihat atau masih berada pada stadium praklinik. Program pemeriksaan/skrining yang dianjurkan untuk kanker serviks (WHO): skrining pada setiap wanita minimal satu kali pada usia 35-40 tahun. Jika fasilitas tersedia, lakukan tiap 10 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Jika fasilitas tersedia lebih, lakukan tiap 5 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Ideal atau optimal, lakukan tiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.
Test PAP
Secara umum, kasus kanker mulut rahim dan kematian akibat kanker mulut rahim bisa dideteksi dengan mengetahui adanya perubahan pada daerah mulut rahim dengan cara pemeriksaan sitologi menggunakan tesPap.American College of Obstetrician and Gynecologists(ACOG), American Cancer Society (ACS), dan US Preventive Task Force (USPSTF) mengeluarkan panduan bahwa setiap wanita seharusnya melakukan tes Pap untuk skrining kanker mulut rahim saat 3 tahun pertama dimulainya aktivitas seksual atau saat usia 21 tahun. Karena tes ini mempunyai risiko false negatif sebesar 5-6%, Tes Pap
yang kedua seharusnya dilakukan satu tahun pemeriksaan yang pertama. Pada akhir tahun 1987, American Cancer Society mengubah kebijakan mengenai interval pemeriksaaan Tes Pap tiap tiga tahun setelah dua kali hasil negatif.Saat ini, sesuai dengan American College of Obstetry and Gynecology dan National Cancer Institute, dianjurkan pemeriksaan Tes Pap dan panggul setiap tahun terhadap semua wanita yang aktif secara seksual atau yang telah berusia 18 tahun. Setelah wanita tersebut mendapatkan tiga atau lebih Tes Pap normal, tes dapat dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang sesuai dengan yang dianjurkan dokter. Diperkirakan sebanyak 40% kanker serviks invasif dapat dicegah dengan skrining pap interval 3 tahun.

IVA
IVA merupakan tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka(asam asetat 2 %) dan larutan iosium lugol pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya adalah untukmelihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu metode skrining kanker mulut rahim.IVA tidak direkomendasikan pada wanita pascamenopause,karena daerah zona transisional seringkali terletak kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo. IVA positif bila ditemukan adanya area berwarna putih dan permukaannya meninggi dengan
batas yang jelas di sekitar zona transformasi.
Pencegahan Primer Menunda Onset Aktivitas Seksual
Menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara monogami akan mengurangi risiko kanker serviks secara signifikan.
Penggunaan Kontrasepsi Barier Dokter merekomendasikan kontrasepsi metode barier (kondom, diafragma, dan spermisida) yang berperan untuk proteksi terhadap agen virus. Penggunaan lateks lebih dianjurkan daripada kondom yang dibuat dari kulit kambing.
Penggunaan Vaksinasi HPV
Vaksinasi HPV yang diberikan kepada pasien bisa mengurangi infeksi Human Papiloma Virus, karena mempunyai kemampuan proteksi >90%. Tujuan dari vaksin propilaktik dan vaksin pencegah adalah untuk mencegah perkembangan infeksi HPV dan rangkaian dari event yang mengarah ke kanker serviks.
Kebanyakan vaksin adalah berdasarkan respons humoral dengan penghasilan antibodi yang menghancurkan virus sebelum ia menjadi intraseluler. Masa depan dari vaksin propilatik HPV sangat menjanjikan, namun penerimaan seluruh populasi heterogenous dengan tahap pendidikan berbeda dan kepercayaan kultur berbeda tetap dipersoalkan.
Sebagai tambahan, prevelansi tinggi infeksi HPV mengindikasikan bahwa akan butuh beberapa dekade untuk program imunisasi yang sukses dalam usaha mengurangi insiden kanker serviks.
Pencegahan Sekunder
Pencegahan Sekunder – Pasien Dengan Risiko Sedang
Hasil tes Pap yang negatif sebanyak tiga kali berturut-turut dengan selisih waktu antarpemeriksaan satu tahun dan atas petunjuk dokter sangat dianjurkan. Untuk pasien (atau partner hubungan seksual yang level aktivitasnya tidak diketahui), dianjurkan untuk melakukan tes Pap tiap tahun.
Pencegahan Sekunder – Pasien Dengan Risiko Tinggi
Pasien yang memulai hubungan seksual saat usia 75%,
Sedang jika skor nilai : 56-75%,rendah jika skor nilai :75. Dengan kode tabulasi data 3 cukup baik=Nilai 56-75 dengan kode tabulasi data 2. Kurang dari 56 dengan kode tabulasi data 1.














BAB IV
METODE PENELITIAN

Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi melalui pendekatan cross sectional,dimana pengumpulan data untuk variabel dependen dan variabel independen dilakukan bersamaan melalui instrument kuisioner.

Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi
Populasi adalah keseluruhan siswi kelas XII SMA Negeri 02 Sintang.
Sampel
Tekhnik pengambilan sampling adalah dengan cara accidental sampling yaitu dengan mengambil responden yang bersedia pada saat penelitian. Jumlah sampling di hitung berdasarkan rumus Notoatmodjo,2002. Jumlah sampling dihitung berdasarkan rumus Notoatmodjo karena populasi < dari 10000 responden.
N1 + N (d²)
N
1 + N (d²)
n=


keterangan :
n = perkiraan jumlah sampel
N = perkiraan besar sampel
d² = besarnya penyimpangan 5%(0,05)

n = 145 = 106,42
1+ 145+(0,05)
Jadi sampel dari jumlah populasi ialah 106 orang siswi kelas XII SMA Negeri 02 Sintang.
Kriteria inklusi
Siswi kelas XII SMA Negeri 02 Sintang yang bersedia menjadi responden penelitian .

Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 02 Sintang. Adapun alasan peneliti memilih tempat ini sebagai tempat penelitian karena melihat dari keberadaan SMA Negeri 02 Sintang yang berada di pusat ibu kota Kabupaten. Dimana jaringan tekhnologi semakin canggih dan lingkungan ibu kota kabupaten sangat besar dalam mempengaruhi pergaulan anak remaja khususnya SMA Negeri 02 Sintang dalam hal ini perilaku sex bebas. Karena salah satu faktor penyebab kanker leher rahim ialah hubungan sexsual pada usia dini (kurang dari 18 tahun) dan berganti-ganti pasangan,peneliti ingin mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap pencegahan kanker leher rahim dari siswi SMA Negeri 02 Sintang.

Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2014,dimana persiapan dimulai dari penyusunan profosal dibulan Oktober 2014.

Etika Penelitian
Penelitian ini hanya melibatkan sampel atau responden yang mau terlibat secara sadar dan tanpa paksaan.sebelum penelitian dilakukan ,peneliti telah menjelaskan tujuan,manfaat dan prosdur penelitian kepada responden.selanjutnya peneliti meminta persetujuan responden untuk menandatangani surat persetujuan menjadi responden. Dalam melakukan penelitian,peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini SMA Negeri 02 Sintang. Persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi :
Informed concent
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian, bila responden menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden.
Anonimity
Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama responden,tetapi lembaran tersebut diberikan kode .
Confidentially
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

Alat Pengumpul Data
Instrument dalam penelitian ini berupa daftar pertanyaan atau angket yang dibuat oleh peneliti. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang diukur,yaitu tingkat pengetahuan tentang kanker leher rahim dan sikap pencegahan kanker leher rahim. Untuk mengisi variabel tersebut peneliti menggunakan pertanyaan tertutup untuk mengukur tingkat pengetahuan dan untuk mengukur variabel sikap pencegahan.

Proses Pengumpulan Data
Dalam hal ini proses penggumpulan data dilakukan dengan cara:
Dalam mengidentifikasi responden dengan cara menanyakan kepada kepala humas SMA Negeri 02 Sintang mengenai populasi yang tersedia.
Peneliti menjelaskan kepada responden mengenai cara pengisian kuisioner serta memberika kesempatan bertanya bagi responden yang belum mengerti.
Memberikan lembar kuisioner terhadap responden dengan mengusahakan agar peneliti dengan responden tidak saling mempengaruhi.
Sebelum lembar kuisoner dikumpulkan,para responden diberi kesempatan untuk memeriksa kembali kelengkapan lembaran,dan jika masih ada responden yang belum lengkap,maka peneliti memberikan kesempatan kembali untuk melengkapi lembaran pada saat itu juga.
Jika kuisioner tersebut telah selesai dijawab,maka dikumpulkan kepada peneliti.

Pengolahan Data
Sebelum melakukan penganalisaan pada datayang telah didapat,peneliti terlebih dahulu melakukan bebrapa lengkah penting agar data yang didapat jelas hasilnya,yaitu :
Editing,untuk membuktikan bahwa data yang diperoleh telah lengkap serta dapat terbaca dengan baik dan jelas,yaitu dengan memeriksa kebenaran pengisian,ketepatan dokumen yang digunakan serta kelengkapannya.
Coding,merupakan proses memberi kode pada setiap variabel dengan tujuan untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi dan analisa data.
Tabulating, yaitu mengelompokkan data berdasarkan kategori yang telah ditentukan yang kemudian dilakukan tabulasi dengan cara : setiap kuisioner diberikan kode untuk keperluan analisis statistik dengan komputer.
Entry data,merupakan proses memasukan data kedalam computer untuk selanjutnya dilakukan analisis.
Cleaning data,sebelum dilakukan analisis dilakukan pembersihan data melaui program dikomputer agar terbebas dari kesalahan sebelum analisis.
Scoring terhadap tingkat pengetahuan dan sikap.

Analisa Data
Analisa univariat
Analisa ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel yang diteliti. Analisa untuk data ini adalah kategorik disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Pengujian masing-masing variabel dengan menggunakan tabel dan interprestasikan sesuai hasil yang diperoleh.
Analisa bivariat
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan diantara variable yang telah dipilih dari kelompok sampel sehingga diketahui perbedaan dan persamaan. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan prosedur pengujian statistic dan uji hipotesis . Dimana prinsip Hipotesis adalah melakukan perbandingan antara nilai sampel (data yang didapat dari penelitian) dengan nilai hipotesis yang diajukan. Variable dalam penelitian ini berjenis ordinal ordinal (kategorik)sehingga uji menggunakan chi square,dengan confident interval 95% dan α = 0,05.

Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu :
Memformulasikan ( hipotesis null dengan hipotesis alternative)
Memasukan frekuensi obseervasi (0) kedalam table silang
Menghitung frekuensi harapan
Melakukan uji chi square,khusus pada table 2x2 dengan rumus
X² = Ʃ (fo-fe)²
fe

Menghitung p value yaitu dengan membandingkan nilai X² hitung dengan X² tabel chi square .
Diambil keputusan dengan 2 hasil kemungkinan, yaitu p value< nilai α,berarti ada hubungan antara variable independen (tingkat pengetahuan) dengan variable dependen (sikap penceghan), tetapi bila p value > dari nilai α, berate tidak ada hubungan antara variable independen ( tingkat pengetahuan ) dengan variable dependen ( sikap pencegahan).




























DAFTAR PUSTAKA


British Journal of Cancer(2009).Differences in the risk of cervical cancer and human papillomavirus infection by education level,101,865-870.(Published online 4 August 2009).http//www.bjcancer.com.Diakses 29 Oktober 2014

Blog Pendidikan Indonesia (2013)Sarjanaku.com.
http://www.sarjanaku.com/2012/12/kanker-serviks-leher-rahim-pengertian.html. Diakses tanggal 29 Oktober 2014


Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.Di perbaharui 10 Oktober 2014 http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pengetahuan&redirect=no. Diakses tanggal 29 Oktober 2014

Anti.W (2010) SKRIPSI HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER SERVIKS DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KANKER SERVIKS DI SMK KARTIKA 1 SURABAYA.http://www.fk.unair.ac.id/attachments/1594_Anti%20W,%20S.pdf Diakses tanggal 29 Oktober 2014

Indonesian Journal of cancer (2009).Efidemiologi Kanker Servik.(dipublikasikan pada Juli-September 2009)http://indonesianjournalofcancer.org/2009/2009-no3-jul-sep/103-epidemiologi-kanker-serviks?catid=48%3Aliterature-study. Diakses tanggal 29 Oktober 2014





Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.