IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN MAKALAH IJTIHAD DALAM BINGKAI HUKUM ISLAM

December 27, 2017 | Author: Abd Rosyid | Category: Ijtihad dalam bingkai hukum islam
Share Embed


Deskripsi Singkat

MAKALAH IJTIHAD DALAM BINGKAI HUKUM ISLAM Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Ushul Fiqih” Yang Dibimbing Oleh : KH. Mujami‟ Abd. Musyfi, Lc.

Disusun Oleh : Abd. Rasyid Asal : Bondowoso No Absen : 01 Program : Intensif NIMKO : 2011.4.037.0101.1.01443 TARBIYAH/ PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH AL AMIEN (IDIA) PRENDUAN SUMENEP MADURA 2012-2013 IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 1

BAB I PENDAHULUAN Al-Qur‟an dan sunnah merupakan sumber hukum Islam yang pertama dan utama bagi kaum muslim. Al-Qur‟an merupakan pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, yang berisi aturan-aturan atau hukum-hukum yang bersifat global, karena agama islam merupakan agama yang universal. Lebih lanjut penjelasan Al-Qur‟an di jabarkan oleh As-Sunnah. Namun seiring berkembang dan semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat manusia, sering sekali penyelesaian suatu permasalahan tidak ditemukan penyelesaiiannya di dalam Al-Qur‟an. Untuk itu perlu dilakukan ijtihad untuk menentukan hukum islam yang benar, yang tidak bertentangan dengan akidah dan syariat yang tetap berpatokan pada sumber utama yaitu Al-Qur‟an.

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ijtihad Secar etimologi, ijtihad diambil dari kata al-jahd atau al-juhd, yang berarti al-masyaqat (kesulita dan kesusaha) dan ath-thaqat (kesanggupan dan kemampuan) , dalam al qur‟an disebutkan dalam surat at taubah ayat 79 yang artinya : “… dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan” Ijtihad adalah masdar dari fiil madzi ijtahada. Penambahan hamzah dan ta’ pada kata ja-ha’-da menjadi ijtahada pada wazan ifta’ala berarti “usaha itu lebih sungguh-sungguh”. Dengan demikian ijtihad berarti usaha maksimal untuk mendapatkan atau memperoleh sesuatu. Sebaliknya, suatu usaha yang dilakukan tidak maksimal dan tidak menggunakan daya upaya yang keras tidak disebut ijtihad, melainkan daya nalar biasa , ar-ra’y atau at-tafkir. Dalam istilah fuqaha‟ (para pakar hukum islam), pada umumnya, ijtihad dibicarakan dalam buku ushul fiqih, pembicaraannya sering dikaitkan dengan dengan hadits yang menjelaskan Mu‟adz Ibnu Jabal ketika diutus keyaman. Pada hadits tersebut ada kat-kata ajtahidu ra’yu.1 Adapun definisi ijtihad secara terminology cukup beragam dikemukakan oleh ulama‟ ushul fiqih sebagai berikut yang artinya : “Ijtihad adalah aktifitas memperoleh pengetahuan (istimbath) hukum syara’ dari dalil terperinci dalam syari’at.” Denga kata lain ijtihad adalah pengarahan segala kesanggupan seorang faqih (pakar fiqih islam) untuk memperoleh pengetahuan tentang hukum sesuatu malalui dalil syara‟ (agama). Dalam istilah inila, ijtihad lebih banyak dikenal dan digunakan

1

Rachmat Syafiie, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung : Pustaka Setia. Hal.98

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 3

bahkan banyak para fuqaha yang menegaskan bahwa ijtihad itu bisa dilakukan dibidang fiqih.2 Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist. Ijtihad dijadikan sebagai sumber hukum islam yang ketiga sesudah AlQur‟an dan As-Sunnah. Menurut bahasa, ijtihad berasal dari bahasa Arab Al-jahd atau al-juhd yang berarti la-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan akth-thaqat (kesanggupan dan kemampuan). Dalam al-Quran disebutkan: “..walladzi lam yajidu illa juhdahum..” (at-taubah:79) artinya: “… Dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan”(at-taubah:79) Dari uraian definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih), bukan yang lain. 2. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar‟i, yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i‟tiqadi atau hukum khuluqi, 3. Status hukum syar‟i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. Lalu, masalah seperti apa yang dilakukan secara ijtihad? Masalah apapun, selama tidak ada dalilnya secara pasti baik didalam Al-Qur‟an atau As-Sunnah. Masalah yang sudah jelas hukumnya seperti shalat, zakat, haji, dan puasa tidak boleh di ijtihadkan lagi. Tetapi bagaimana dengan masalah bayi tabung, keluarga 2

ibid

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 4

berencana, Shalat di kapal laut atau pesawat? Itulah diantaranya yang harus diijtihadkan. Kemudian apakah dibolehkan kita berijtihad pada masa sekaran? Tentu saja boleh, bahkan di anjurkan. Nabi Muhammad sendiri berkata: Artinya: ”Apabila seorang hakim di dalam menghukum berijtihad, lalu ijtihadnya itu benar, maka ia mendapat dua pahala. Apabila salah ijtihadnya, maka ia memperoleh satu pahala” B. Dasar Hukum Ijtihad. Ijtihad bisa dipandang sebagai salah satu metode untuk menggali hukum isalm. Yang menjadi landasan dibolehkannya ijtihad benyak sekali, baik melalui pernyataan yang jelas maupun berdasarkan isyarat, diantaranya:3 1. Firman Allah dalam Al qur‟an surat An Nisa‟ ayat 105 yang artinya : “sesungguhnya kami turunkan kitab kepadamu secara hd\ak, agar dapat menghukumi di antara manusia dengan apa yang Allah mengetahui kepadamu” 2. adanya keterangan dari sunnah yang membolehkan berijtihad, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Umar yang artinya : “jika seorang hakim menghakimi sesuatu, dan benar, maka ia mendapat dua, dan jika ia salah mendapat satu pahala” C. Macam-Macam Ijtihad Dikalangan ulama, terjadi perbedaan pendapat mengenai masalah ijtihad. Imam syafi‟I menyamakan ijtihad dengan qiyas, yakni dua nama, tapi maksudnya satu. Dia tidak mengakui ra‟yu yang didasarkan pada ihtihsan atau maslahah mursalah. Sementara itu, para ulama lainnya memiliki pandangan lebih luas tentang ijtihad. Menurut mereka, ijtihad itu mencakup ra‟yu, qiyas, dan akal. Dr. dawalibi membagi ijtihad menjadi tiga bagian, yang sebagiannya sesuai dengan pendapat Asy-Syatibi dalam kitab Al-muwafaqat, yaitu :4 a) ijtihad l batani, yaitu ijtihadd untuk menjelaskan hukum-hukum syara‟ dari nash. b) Ijtihad al qiyashi, yaitu ijtihad terhadap permasalahan yang tidak terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah dengan meteode qiyash.

3 4

Ibid,h.103 Ibid,h.104

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 5

c) Ijtihad al istishlah, yaitu ijtihad terhadap permasalahan yang tidak terdapat dalam al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan ra’yu berdasarkan kaidah istishlah C. Jenis-jenis ijtihad Antara Lain5 1. Ijma‟ Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat. 2. Qiyâs. Maksud dari Qiyas adalah Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik persamaan diantara keduanya. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu persamaan diantaranya. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam Al-Qur'an atau Hadis dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (iladh). 2.

Istihsân

Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih), hanya karena dia merasa hal itu adalah benar. Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya. Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat orang banyak.Merupakan tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan atau tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya. 3. Mushalat murshalah Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskhnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan. 4. Sududz Dzariah

5

http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 6

Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentinagn umat. 5. Istishab Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya. 6. Urf Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis. D. Hukum Melakukan Ijtihad. Menurut para ulama, bagi seseorang yang sudah memenuhi syarat-syarat yang harus dimiliki oleh para mujtahid maka hukum melakukan ijtihad adalh sebagai berikut :6 1. Orang tersebut dihukumi fardhu „ain untukberijtihad apabila ada permasalah yamg menimpa dirinya, dan harus mengamalkan hasil dari ijtihadnya dan tidak boleh taqlid kepada orang lain. Karena hukum ijtihad itu sama halnya dengan hukum Allah terhadap permasalahan yang ia yakini bahwa hal itu termasuk hukum Allah. 2. Juga dihukumi Fardhu „ain jika ditanyakan tentang suatu permasalahn yang belum ada hukumnya, karena jika tidak segera dijawab, dikhawatirkan akan terjadi kesalahn dalam melaksanakna hukum tersebut atau habis waktunya dalam mengetahui kejadian tersebut. 3. Dihukumi fardhu kifayah . jika permasalahan yang diajukan kepadanya tidak dikhawatirkan akan habis waktunya, atau ada orang lain selain dirinya yang sama-sama memenuhi syarat sebagai mujtahid. 4. Dihukumi sunah apabila ber-ijtihad terhadap permasalahan yang baru, baik ditanya ataupun tidakn.

6

Ibid, h, 108

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 7

5. Dihukumi haram apabila ber-ijtihad terhadap permasalahan yang sudah ditetapkan secara qath‟I,sehingga hasil ijtihadnya itu bertentangan dengan dalil syara‟.

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 8

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari. Dari uraian definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 4. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih), bukan yang lain. 5. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar‟i, yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i‟tiqadi atau hukum khuluqi, 6. Status hukum syar‟i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni.

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 9

DAFTAR PUSTAKA 

Syafi‟ie, Rachmat, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung : Pustaka Setia, 2010



http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 10



Deskripsi

MAKALAH IJTIHAD DALAM BINGKAI HUKUM ISLAM Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Ushul Fiqih” Yang Dibimbing Oleh : KH. Mujami‟ Abd. Musyfi, Lc.

Disusun Oleh : Abd. Rasyid Asal : Bondowoso No Absen : 01 Program : Intensif NIMKO : 2011.4.037.0101.1.01443 TARBIYAH/ PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH AL AMIEN (IDIA) PRENDUAN SUMENEP MADURA 2012-2013 IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 1

BAB I PENDAHULUAN Al-Qur‟an dan sunnah merupakan sumber hukum Islam yang pertama dan utama bagi kaum muslim. Al-Qur‟an merupakan pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, yang berisi aturan-aturan atau hukum-hukum yang bersifat global, karena agama islam merupakan agama yang universal. Lebih lanjut penjelasan Al-Qur‟an di jabarkan oleh As-Sunnah. Namun seiring berkembang dan semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat manusia, sering sekali penyelesaian suatu permasalahan tidak ditemukan penyelesaiiannya di dalam Al-Qur‟an. Untuk itu perlu dilakukan ijtihad untuk menentukan hukum islam yang benar, yang tidak bertentangan dengan akidah dan syariat yang tetap berpatokan pada sumber utama yaitu Al-Qur‟an.

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ijtihad Secar etimologi, ijtihad diambil dari kata al-jahd atau al-juhd, yang berarti al-masyaqat (kesulita dan kesusaha) dan ath-thaqat (kesanggupan dan kemampuan) , dalam al qur‟an disebutkan dalam surat at taubah ayat 79 yang artinya : “… dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan” Ijtihad adalah masdar dari fiil madzi ijtahada. Penambahan hamzah dan ta’ pada kata ja-ha’-da menjadi ijtahada pada wazan ifta’ala berarti “usaha itu lebih sungguh-sungguh”. Dengan demikian ijtihad berarti usaha maksimal untuk mendapatkan atau memperoleh sesuatu. Sebaliknya, suatu usaha yang dilakukan tidak maksimal dan tidak menggunakan daya upaya yang keras tidak disebut ijtihad, melainkan daya nalar biasa , ar-ra’y atau at-tafkir. Dalam istilah fuqaha‟ (para pakar hukum islam), pada umumnya, ijtihad dibicarakan dalam buku ushul fiqih, pembicaraannya sering dikaitkan dengan dengan hadits yang menjelaskan Mu‟adz Ibnu Jabal ketika diutus keyaman. Pada hadits tersebut ada kat-kata ajtahidu ra’yu.1 Adapun definisi ijtihad secara terminology cukup beragam dikemukakan oleh ulama‟ ushul fiqih sebagai berikut yang artinya : “Ijtihad adalah aktifitas memperoleh pengetahuan (istimbath) hukum syara’ dari dalil terperinci dalam syari’at.” Denga kata lain ijtihad adalah pengarahan segala kesanggupan seorang faqih (pakar fiqih islam) untuk memperoleh pengetahuan tentang hukum sesuatu malalui dalil syara‟ (agama). Dalam istilah inila, ijtihad lebih banyak dikenal dan digunakan

1

Rachmat Syafiie, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung : Pustaka Setia. Hal.98

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 3

bahkan banyak para fuqaha yang menegaskan bahwa ijtihad itu bisa dilakukan dibidang fiqih.2 Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist. Ijtihad dijadikan sebagai sumber hukum islam yang ketiga sesudah AlQur‟an dan As-Sunnah. Menurut bahasa, ijtihad berasal dari bahasa Arab Al-jahd atau al-juhd yang berarti la-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan akth-thaqat (kesanggupan dan kemampuan). Dalam al-Quran disebutkan: “..walladzi lam yajidu illa juhdahum..” (at-taubah:79) artinya: “… Dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan”(at-taubah:79) Dari uraian definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih), bukan yang lain. 2. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar‟i, yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i‟tiqadi atau hukum khuluqi, 3. Status hukum syar‟i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. Lalu, masalah seperti apa yang dilakukan secara ijtihad? Masalah apapun, selama tidak ada dalilnya secara pasti baik didalam Al-Qur‟an atau As-Sunnah. Masalah yang sudah jelas hukumnya seperti shalat, zakat, haji, dan puasa tidak boleh di ijtihadkan lagi. Tetapi bagaimana dengan masalah bayi tabung, keluarga 2

ibid

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 4

berencana, Shalat di kapal laut atau pesawat? Itulah diantaranya yang harus diijtihadkan. Kemudian apakah dibolehkan kita berijtihad pada masa sekaran? Tentu saja boleh, bahkan di anjurkan. Nabi Muhammad sendiri berkata: Artinya: ”Apabila seorang hakim di dalam menghukum berijtihad, lalu ijtihadnya itu benar, maka ia mendapat dua pahala. Apabila salah ijtihadnya, maka ia memperoleh satu pahala” B. Dasar Hukum Ijtihad. Ijtihad bisa dipandang sebagai salah satu metode untuk menggali hukum isalm. Yang menjadi landasan dibolehkannya ijtihad benyak sekali, baik melalui pernyataan yang jelas maupun berdasarkan isyarat, diantaranya:3 1. Firman Allah dalam Al qur‟an surat An Nisa‟ ayat 105 yang artinya : “sesungguhnya kami turunkan kitab kepadamu secara hd\ak, agar dapat menghukumi di antara manusia dengan apa yang Allah mengetahui kepadamu” 2. adanya keterangan dari sunnah yang membolehkan berijtihad, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Umar yang artinya : “jika seorang hakim menghakimi sesuatu, dan benar, maka ia mendapat dua, dan jika ia salah mendapat satu pahala” C. Macam-Macam Ijtihad Dikalangan ulama, terjadi perbedaan pendapat mengenai masalah ijtihad. Imam syafi‟I menyamakan ijtihad dengan qiyas, yakni dua nama, tapi maksudnya satu. Dia tidak mengakui ra‟yu yang didasarkan pada ihtihsan atau maslahah mursalah. Sementara itu, para ulama lainnya memiliki pandangan lebih luas tentang ijtihad. Menurut mereka, ijtihad itu mencakup ra‟yu, qiyas, dan akal. Dr. dawalibi membagi ijtihad menjadi tiga bagian, yang sebagiannya sesuai dengan pendapat Asy-Syatibi dalam kitab Al-muwafaqat, yaitu :4 a) ijtihad l batani, yaitu ijtihadd untuk menjelaskan hukum-hukum syara‟ dari nash. b) Ijtihad al qiyashi, yaitu ijtihad terhadap permasalahan yang tidak terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah dengan meteode qiyash.

3 4

Ibid,h.103 Ibid,h.104

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 5

c) Ijtihad al istishlah, yaitu ijtihad terhadap permasalahan yang tidak terdapat dalam al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan ra’yu berdasarkan kaidah istishlah C. Jenis-jenis ijtihad Antara Lain5 1. Ijma‟ Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat. 2. Qiyâs. Maksud dari Qiyas adalah Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik persamaan diantara keduanya. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu persamaan diantaranya. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam Al-Qur'an atau Hadis dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (iladh). 2.

Istihsân

Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih), hanya karena dia merasa hal itu adalah benar. Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya. Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat orang banyak.Merupakan tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan atau tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada sebelumnya. 3. Mushalat murshalah Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskhnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan. 4. Sududz Dzariah

5

http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 6

Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentinagn umat. 5. Istishab Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya. 6. Urf Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis. D. Hukum Melakukan Ijtihad. Menurut para ulama, bagi seseorang yang sudah memenuhi syarat-syarat yang harus dimiliki oleh para mujtahid maka hukum melakukan ijtihad adalh sebagai berikut :6 1. Orang tersebut dihukumi fardhu „ain untukberijtihad apabila ada permasalah yamg menimpa dirinya, dan harus mengamalkan hasil dari ijtihadnya dan tidak boleh taqlid kepada orang lain. Karena hukum ijtihad itu sama halnya dengan hukum Allah terhadap permasalahan yang ia yakini bahwa hal itu termasuk hukum Allah. 2. Juga dihukumi Fardhu „ain jika ditanyakan tentang suatu permasalahn yang belum ada hukumnya, karena jika tidak segera dijawab, dikhawatirkan akan terjadi kesalahn dalam melaksanakna hukum tersebut atau habis waktunya dalam mengetahui kejadian tersebut. 3. Dihukumi fardhu kifayah . jika permasalahan yang diajukan kepadanya tidak dikhawatirkan akan habis waktunya, atau ada orang lain selain dirinya yang sama-sama memenuhi syarat sebagai mujtahid. 4. Dihukumi sunah apabila ber-ijtihad terhadap permasalahan yang baru, baik ditanya ataupun tidakn.

6

Ibid, h, 108

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 7

5. Dihukumi haram apabila ber-ijtihad terhadap permasalahan yang sudah ditetapkan secara qath‟I,sehingga hasil ijtihadnya itu bertentangan dengan dalil syara‟.

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 8

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari. Dari uraian definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 4. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih), bukan yang lain. 5. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar‟i, yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i‟tiqadi atau hukum khuluqi, 6. Status hukum syar‟i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni.

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 9

DAFTAR PUSTAKA 

Syafi‟ie, Rachmat, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung : Pustaka Setia, 2010



http://id.wikipedia.org/wiki/Ijtihad

IJTIHAD/FIQIH/IDIA PRENDUAN

Page 10

Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.