JAKARTA-Sebelum melenggang menjadi

November 20, 2017 | Author: General Affair | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat


JAKARTA- Sebelum melenggang menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko
Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mengungkapkan visi misinya jika
terpilih menjadi pemimpin negara.

Kini Jokowi-JK sudah resmi dilantik menjadi presiden dan wakil presiden.
Akankah mereka menepati janjinya sewaktu kampanye lalu? Catatan ini akan
mengingatkan kita kembali akan janji-janji mereka.

Berdasarkan visi-misi, Jokowi-JK memilih untuk menggunakan kata-kata
kemandirian ekonomi dan berdaya saing. Dalam hal kemiskinan dan
ketimpangan, Jokowi-JK menargetkan penurunan angka kemiskinan sebesar 5-6
persen.

Dalam bidang pertanian dan Pangan, Jokowi-JK juga mempunyai program yakni,
pemberantasan mafia impor dan pendistribusian aset terhadap petani. Mereka
juga mencanangkan membangun perumahan untuk buruh di kawasan industri.

Dalam bidang energi, khususnya dalam hal konsumsi BBM, Jokowi-JK berjanji
untuk mengurangi subsidi BBM. Namun, terdapat perbedaan dalam hal
pengimplementasiannya. Jokowi-JK lebih mengedepankan konversi BBM kepada
gas dalam bidang transportasi, dan merealokasikan sebagian subsidi BBM ke
penyediaan biofuel.

Dalam hal utang dan pembiayaan pembangunan, Jokowi-JK berkeinginan untuk
mengurangi utang secara bertahap dan menggunakan utang hanya untuk
membiayai pengeluaran pemerintah yang produktif.

Bidang selanjutnya adalah bidang mengenai pasar tradisional. Jokowi-JK
mempunyai program yakni memprioritaskan akses modal bagi UMKM dan
pendampingan ekonomi. Selain itu, Jokowi-JK mempunyai program untuk
merenovasi lima ribu pasar tradisional yang berumur lebih dari 25 tahun.

Dalam hal pemekaraan daerah, Jokowi-JK mempunyai program menata dan
peninjauan kembali daerah administrasi. Dalam bidang perbankan, Jokowi-JK
yakni seperti kebijakan untuk membatasi penjualan saham bank nasional
kepada asing dan peraturan yang lebih ketat untuk menghidari konglomerasi.

Selain itu terdapat kebijakan untuk mengimplementasikan asas resiprokal dan
mendukung perbankan nasional dalam menghadapi ASEAN Free Trade Area. Jokowi-
JK juga mempunyai program untuk membangun bank khusus pertanian.

Kemudian membahas mengenai program-progam tersebut, Jokowi-JK berorientasi
kepada pembangunan yang bersifat mental, salah satu program tersebut adalah
revolusi mental.

Dan berikut visi misi atau janji Jokowi-JK pada saat kampanye sebagaimana
yang dirangkum Okezonedari berbagai sumber.

1. Pendidikan

Di sektor pendidikan, Jokowi menekankan pada revolusi mental. Menurutnya,
revolusi mental akan efektif bila diawali dari jenjang sekolah, terutama
pendidikan dasar. Menurutnya, siswa SD seharusnya mendapatkan materi
tentang pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, pendidikan etika
sebesar 80 persen. Sementara itu, ilmu pengetahuan cukup 20 persen saja.

"Jangan terbalik seperti sekarang. Sekarang ini anak-anak yang kecil
dijejali dengan Matematika, Fisika, Kimia, IPS. Sehingga yang namanya
etika, perilaku, moralitas tidak disiapkan pada posisi dasar," kata Jokowi.

Selain itu, ia juga ingin meningkatkan jumlah SMK. Menurutnya, negara-
negara industri maju seperti Jepang, Korea, dan Jerman adalah negara-negara
yang punya banyak SMK.

"Peningkatan jumlah SMK adalah salah satu yang penting. Karena keterampilan
semua ada di sana. Karena di situ ada teknologi, di situ ada keterampilan,
di situ ada. skill yang dibangun," ucap Jokowi.

2. Pertanian

Di sektor pertanian, Jokowi menilai, Indonesia kehilangan orientasi untuk
membangun sektor ini. Indonesia, kata dia, tak pernah lagi memunculkan
varietas-varietas unggul. Bahkan, menurut Jokowi, satu hektar lahan
pertanian di Indonesia hanya dapat menghasilkan maksimal 4,5 ton, sementara
di negara lain bisa mencapai 8-9 ton.

Selain itu, Jokowi juga menyoroti banyaknya lahan-lahan pertanian yang
terkonversi menjadi perumahan, industri, dan pertambangan. Menurutnya, hal
tersebut adalah kesalahan karena Indonesia saat ini membutuhkan banyak
lahan untuk sawah dan ladang baru. Tak hanya itu, ujarnya, infrastruktur
pendukung lahan pertanian seperti waduk dan bendungan juga harus
diperbanyak.

3. Kelautan

Di bidang kelautan, Jokowi menyoroti kalah bersaingnya nelayan-nelayan
lokal karena ketertinggalan dalam bidang teknogi dibanding nelayan-nelayan
asing. Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu penyebab melonjaknya harga
ikan di pasaran.

"Kapal-kapal negara lain yang masuk ke laut kita sudah komplet. Ada kapal
sepuluh, yang sembilan nangkap, yang satunya untuk pengalengan. Langsung
dikalengkan. Kenapa kita tidak bisa seperti itu. Padahal sebenarnya bisa,"
kata Jokowi.

Ia berjanji, jika terpilih sebagai presiden akan menyediakan kapal-kapal
modern untuk para nelayan, yang disertai dengan pelatihan bagi para
nelayan.

"APBN kita gede banget, hampir Rp1.700 triliun. Berapa sih biaya beli
kapal? Murah sekali. Dan berikan nelayan pelatihan, jangan yang gratisan
karena itu tidak mendidik. Saya paling tidak setuju dengan yang gratisan,"
ujarnya.

4. Energi

Di bidang energi, Jokowi menyoroti besarnya subsidi BBM dan subsidi
listrik. Menurutnya, daripada terus-terusan memberikan subsidi BBM, lebih
baik memaksimalkan gas dan batubara yang jauh lebih murah.

"Contohnya untuk listrik. Subsidi listrik itu mencapai Rp 70 triliun. Tapi
kenapa listrik pakai BBM, kenapa tidak pakai batubara?" kata Jokowi.

Jokowi mencurigai, selama ini ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan
dari besarnya subsidi BBM dan listrik. Hal itu yang dinilaiya menjadi
penyebab dilakukannya kebijakan yang sebenarnya lebih banyak merugikan kas
APBN itu.

5. Infrastruktur

Di bidang infrastruktur, Jokowi menyoroti masih kurangnya pengembangan
infrastruktur di laut, pengembangan bandara, maupun penambahan jalur kereta
api. Untuk infrastruktur laut, ia menilai, jika dapat dimaksimalkan, maka
ke depannya tidak ada lagi ketimpangan harga antara daerah yang satu dengan
yang lain.

Ia mengistilahkan konsep pembagunan infrastruktur laut yang akan ia lakukan
dengan istilah "tol laut". Menurutnya, tol laut adalah penyediaan kapal-
kapal berukuran besar untuk pengangkutan antarpulau dalam waktu yang
sesering mungkin.

"Jadi tol laut ini modalnya hanya kapal. Bukan bangun tol di atas laut.
Jadi tol laut itu pengangkutan pakai kapal dari pelabuhan ke pelabuhan,
tapi bolak-balik. Ini akan mempermudah manajemen distribusi logistik,
sehingga harga-harganya akan lebih murah," kata Jokowi.

Jokowi menjelaskan bahwa tol laut adalah konsep distribusi jalur laut yang
menghubungkan lima pelabuhan besar, yakni Pelabuhan Belawan (Medan),
Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar, dan Sorong
(Papua Barat).

6. Administrasi Birokrasi

Jokowi menutup pemaparan visi dan misinya dengan program pembenahan di
bidang administrasi dan birokrasi. Ia berjanji, bila terpilih, akan segera
menerapkan sistem elektronik dan jalur online dalam hal pengadaan barang
dan jasa di seluruh institusi pemerintah, termasuk dalam hal pengawasannya.
Sistem tersebut adalah sistem yang saat ini diterapkannya di lingkungan
pemerintah provinsi DKI Jakarta.

"Kita harus menerapkan e-budgeting, e-purchasing, e-catalogue, e-audit,
pajak online, IMB online. Kita online-kan semua. Jadi tidak ada lagi
'ketema-ketemu', supaya 'amplop-amplopan' hilang," katanya.

Itulah sederet janji Jokowi-JK untuk menjadikan negara ini lebih baik. Mari
kita awasi bersama.

Profil Biodata Jokowi Joko Widodo – Sejarah Perjalanan Hidup Jokowi. Sejak
menjabat Walikota pada 2005, Jokowi memang langsung menjadi buah bibir dan
kini menjadi personal brand tersendiri. Sehingga tidak heran jika
masyarakat kita yang ingin lebih mengenal tentang Biografi Joko Widodo atau
Profile lengkap Jokowi.
Joko Widodo atau yang lebih akrab di sapa Jokowi adalah salah satu orang
yang terpilih menjadi "10 Tokoh 2008 Oleh Majalah Tempo.
Dalam sejah Pendidikan dan Karier Politik , Joko Widodo meraih gelar
insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan
diri sebagai wali kota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang
berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat
ia terpilih.
Pesan Sponsor


Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan
olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang
sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.
Di tahun 2012 ini, Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta
yang berpasangan dengan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama. Hitung cepat yang
dilakukan sejumlah lembaga survei pada hari pemilihan, 11 Juli 2012 dan
sehari setelah itu mengunggulkan namanya sebagai pemenang. Pasangan Jokowi
– Ahok ini diunggulkan memenangi pemilukada DKI 2012.
Selama memimpin kota solo, di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami
perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui
slogan Kota Solo yaitu "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang
dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu
merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak
untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada
investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi
langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan
masyarakat.
Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya,
dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak
setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia
mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan
Dunia dan diterima pada tahun 2006.
Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah
Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007
Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang
diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk
dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008
diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.
Sejumlah keputusan kontroversial namun berpihak kepada masyarakat Solo,
kerap diambilnya. Salah satunya menata Solo tanpa kekerasan. Belakangan, ia
kembali jadi perbincangan setelah menggunakan mobil Esemka karya siswa SMK.
Nah,,, untuk lebih mengenal jauh profile lengkap jokowi atau biodata
jokowidodo lengkap, berikut DB share perjalanan hidup Jokowi yang dirangkum
dari berbagi sumber di internet, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca
semua. Silakan di simak baik-baik.

Sejarah Perjalanan hidup Jokowi atau Joko Widodo

Saya terlahir dengan nama asli Joko Widodo. Tetapi ketika masih aktif
menangani bisnis mebel dan punya buyer asal Prancis, Michl Romaknan, ia
mengaku bingung. Pasalnya Michl yang membeli mebel dari Jepara, Semarang,
dan Surabaya selalu bertemu orang bernama Joko. Eh, begitu di Solo, bertemu
saya yang juga disapa Joko. Untuk membedakan dengan Joko-Joko yang lain, ia
menyapa saya dengan nama Jokowi.
Saya tidak keberatan dengan sapaan itu, malah senang. Seperti ada personal
brand tersendiri. Apalagi nama itu terdengar seperti nama petenis dunia,
Djokovic. Ha ha ha…Sejak 1991 nama Jokowi saya pakai. Nama yang tertera di
kartu nama saya, ya, Jokowi. Bahkan sampai menjadi walikota pun nama saya
tetap Jokowi. Penggantian nama itu tanpa membuat tumpengan, lho. Ha ha ha…
Sebenarnya menjadi walikota bukanlah cita-cita masa kecil saya. Waktu kecil
saya justru bercita-cita jadi tukang kayu. Bagaimana tidak, saya memang
tumbuh di lingkungan tukang kayu. Bapak saya, Noto Mihardjo, seorang
penjual kayu dan bambu di bantaran kali Karanganyar, Solo. Jangan
membayangkan Bapak saya itu pengusaha kayu besar, ya. Kecil saja usahanya
karena cuma penjual kayu gergajian. Jadi bisa dibayangkan tho , saya bukan
berasal dari keluarga kaya. Saya berasal dari keluarga kelas bawah, bahkan
bawah sekali.
Tumbuh di Bantaran Kali
Sebagai keluarga penjual kayu, saya tumbuh menjadi anak yang terbiasa hidup
sulit. Kadang sulit makan, mbayar sekolah juga kerap kesulitan biaya.
Sayang, rumah masa kecil saya kini sudah digusur, jadi tidak bisa dilihat
untuk mengenang seperti apa kehidupan saya dulu.
Dan seperti anak kecil pada umumnya, saya juga suka sekali main. Tetapi
saya tidak tergolong anak yang nakal. Nglidhig (bandel, Red. ) iya, tapi
nakal tidak. Dulu, saya suka mandi di sungai di belakang rumah. Cari telur
bebek di dekat-dekat sungai. Kalau enggak dapat, ya, cari terus sampai
dapat. Memancing ikan, main layang-layang, main sepak bola, ya, di
sepanjang sungai. Dulu sungainya masih lebar, beda dengan sekarang yang
sudah banyak dibangun rumah.
Oh ya, saya lahir di Solo 21 Juni 1961 sebagai anak sulung dari empat
bersaudara. Tiga adik saya perempuan. Karena saya paling besar, saya sering
membantu Ibu, Sujiatmi, mengasuh adik-adik. Kadang mengantar mereka
sekolah. Kalau mereka ada masalah dengan pekerjaan rumah, saya juga
membantu mereka. Bahkan ketika adik-adik beranjak besar, saat ada masalah
dengan pacarnya, saya turut membantu memecahkan masalahnya.
Yang pantas saya kenang dan banggakan adalah, nilai sekolah saya selalu
bagus. Kalau enggak juara satu, ya, juara umum lah. Padahal belajar saja
saya tidak pernah, lho. Masa SMP hingga SMA saya lalui tanpa hal yang
istimewa. Di luar jam sekolah saya membantu orangtua, misalnya menagih
pembayaran kepada pelanggan yang membeli kayu atau menaikkan kayu yang
sudah dibeli orang ke atas gerobak atau becak.
Selepas SMA saya meneruskan kuliah ke Jurusan Teknologi Kayu, Fakultas
Kehutanan, Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1985. Saya bisa kuliah
atas kebaikan keluarga besar Bapak dan Ibu yang mampu membiayai kuliah.
Bahkan Kakek juga ikut membantu dengan menjual sapinya. Intinya, banyak
orang membantu saya. Selama kuliah, saya kos di Yogyakarta. Seminggu atau
sebulan sekali pulang ke Solo naik bus. Rumah kosnya cari yang murah,
karena itu sempat pindah sampai lima kali.
Nah, sejak tingkat satu saya sudah mulai pacaran dengan gadis cantik nan
sederhana yang bernama Iriana. Dia teman adik saya yang sering bermain ke
rumah, jadi kami sering bertemu. Sejak kenal Iriana, saya tak pernah pindah
ke lain hati sampai akhirnya kami menikah pada 24 Desember 1986.
Setelah selesai kuliah pada 1985, saya lalu bekerja di sebuah BUMN di Aceh
selama 1,5 tahun. Kemudian saya menikahi Iriana. Kini kami dikaruniai tiga
buah hati, Gibran Rakabumi (25), Kahiyang Ayu (21), dan Kaesang Pangarep
(17).
Jadi Eksportir
Saya memutuskan berhenti kerja dari BUMN dan pulang ke Solo untuk merintis
bisnis mebel dengan modal minus. Artinya, saya harus pinjam uang ke bank.
Agunannya, sertifikat tanah milik orangtua. Risiko yang harus saya
tanggung, jika tidak bisa mengembalikan uang berarti tanah melayang. Tetapi
sejak dulu saya orangnya optimis, karena untuk memulai satu pekerjaan
modalnya hanya itu. Selain optimis, saya juga menyertainya dengan kerja
keras. Sembilan tahun lamanya saya kerja dari pagi hingga pagi lagi karena
merasa tak punya apa-apa.
Saya rasa, sebagian besar orang Solo tahu tempat usaha saya dulu seperti
apa. Dimulai dari sewa tempat yang terbuat dari gedheg (anyaman bambu, Red.
) kecil. Waktu itu saya baru mampu mempekerjakan tiga tenaga, sehingga
mulai dari masah kayu hingga membuat konstruksi dan nyemprot mebel, saya
lakukan sendiri. Sampai kini pun, misalnya, saya disuruh membuat mebel
dengan mesin yang amat sederhana hingga mesin modern, ya, masih bisa.
Urusan marketing pun saya lakukan sendiri.
Saya kerja melebihi jam kerja orang lain. Kalau enggak percaya, tanya saja
istri saya. Kadang saya sampai tidur di pabrik untuk menyelesaikan
pekerjaan. Ini saya lakukan selama sembilan tahun! Buat saya, kesempatannya
hanya itu. Kalau tidak saya pergunakan dengan baik, habislah saya.
Oh, ya, saat itu saya baru punya satu anak. Karena sering tidur di pabrik,
saya jadi jarang membimbing anak belajar atau membantu mengerjakan PR-nya.
Tetapi antar-jemput anak ke sekolah masih bisa saya lakukan. Selama itu
pula istri menemani saya jatuh bangun merintis bisnis. Dulu, rambutnya
sering kotor terkena serbuk gergaji kayu karena dia juga sering menemani
saya hingga malam hari di pabrik.
Mebel paling awal yang saya buat adalah bedroom set . Dulu jualannya hanya
di Solo saja. Setelah tiga tahun berjalan, saya sudah mulai bisa
mengekspor. Perjuangan saya menjadi eksportir dimulai dari menjadi anak
angkat Perum Gas Negara. Saya mengenal Perum Gas Negara melalui
Desperindag. Saat itu saya diikutkan dalam kualifikasi sehingga bisa
mendapatkan "bapak angkat". Begitulah Tuhan memberi jalan.
Awalnya oleh Perum Gas Negara saya dipinjami deposito untuk modal pinjam
uang ke bank. Semula saya hanya akan dipinjami Rp 50 juta. Saya bilang,
"Maaf, saya ingin bikin 'nasi'. Kalau cuma dipinjami Rp 50 juta, 'bubur'
saja tidak akan jadi. Saya tidak mau." Setelah itu saya tunjukkan rencana
kerja saya kepada mereka. Akhirnya mereka percaya dan mau meminjami lebih.
Saat itu tahun 1996, saya berhasil meminjam uang yang kalau sekarang
nilainya sekitar Rp 600 juta. Saya diberi target, setelah dua tahun saya
harus bisa ekspor. Ternyata baru enam bulan saya sudah mampu mengekspor.
Utang pun mampu saya lunasi dalam waktu tiga tahun. Malah tahun berikutnya
saya dapat pinjaman lebih besar lagi.
Pertama kali menjadi eksportir, tiga bulan saya baru kirim satu kontainer,
ha ha ha… Setelah rajin ikut pameran, dalam satu bulan sudah ada permintaan
18 kontainer. Awalnya saya ikut pameran di Jakarta, lalu ke Singapura dan
akhirnya ke Eropa, Amerika Eropa Timur, dan Timur Tengah. Rasanya semua
benua sudah saya datangi. Pokoknya kalau ada pasar baru, sudah dipastikan
saya bisa masuk. Hasilnya, hampir semua negara jadi tujuan ekspor usaha
mebel saya.
Setelah sampai di skala itu pun saya masih tetap terjun langsung ke
lapangan. Saya punya prinsip, selalu menerima order yang masuk. Kalau tak
mampu saya tangani, akan saya 'lempar' ke teman-teman, tapi tetap saya yang
pegang kontrol. Keputusan-keputusan seperti ini memang harus dihitung
matang dengan detail plus-minus risikonya. Tak bisa diputuskan di belakang
meja, karena bisa keliru.
Nah, sejak saya jadi walikota, bisnis mebel kemudian ditangani adik saya,
sebab ketiga anak saya belum ada yang tertarik ke dunia mebel. Si sulung
Gibran yang saya sekolahkan di bidang marketing di Singapura dan Australia
justru tertarik ke bisnis katering. Walau sedikit kecewa, tapi saya bangga
dia berhasi dengan usaha pilihannya.
Calon Walikota
Di kalangan tukang kayu, nama saya memang dikenal. Tetapi ketika
mencalonkan diri sebagai calon walikota, tak ada yang mengenal siapa
Jokowi. Jujur, keinginan mencalonkan diri ini tidak datang dari diri
pribadi, tapi didorong-dorong teman-teman di Asmindo (Jokowi adalah Ketua
Asmindo periode 2002-2005, yang anggotanya para pebisnis kayu dan mebel,
Red. ). Merekalah yang meminta saya terjun ke dunia politik. Jadi ketika
kemudian benar-benar jadi walikota, bagi saya itu 'kecelakaan' karena tidak
ada persiapan sama sekali, ha ha ha…
Kendati demikian, sebelum akhirnya nyalon saya membuat kalkulasi yang
matang. Peta lapangannya saya hitung dan kuasai. Untuk apa nyalon walikota
kalau untuk kalah? Saya akhirnya bersedia maju, ya, untuk menang. Hasil
kalkulasi saya, kesempatan menang ketika itu 50 persen. Semisal bila
hasilnya 30 persen, saya tidak akan mau maju.
Saya merasa optimis karena saat itu calon lain banyak-banyakan pasang
gambar billboard , sementara saya memilih door to door . Saya dan Pak Rudy
(FX Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo sekarang, Red. ) mendatangi sendiri
warga dari RT ke RT. Hampir setiap hari seperti itu. Yang kira-kira
termasuk 'pasar' saya, saya masuki. Saya sodorkan visi-misi saya menjadi
walikota. Ketika bertemu warga, saya ajak mereka bicara. Dari sini saya
tahu apakah orang itu mendukung saya atau tidak.
Kepada warga pula, ketika itu saya menawarkan tiga hal. Yakni soal
perbaikan kesehatan, pendidikan, dan penataan kota. Saya memang merasa
penataan Kota Solo semrawut, tidak rapi dan tertata. Kawasan kumuh ada di
semua titik. Pedagang kaki lima bertebaran di mana-mana sehingga pasar
tradisional melimpah ke jalan. Becek, bau dan kotor.
Karier Jokowi sebagai pejabat publik semakin bersinar di masa jabatannya
yang kedua (2010-2015). Konsekuensinya, ia semakin sibuk sehingga tak bisa
lagi 'menghilang' dari Solo selama akhir pekan, sebagaimana dulu rutin ia
lakukan. Beruntung, Jokowi punya cara jitu untuk refreshing , yakni nonton
konser musik cadas kesukaannya. Ia juga masih berharap bisa 'ngilang'
setelah tidak menjabat walikota. Mungkinkah itu bisa dilakukan, mengingat
banyak pihak menginginkan ia menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta?
Izinkan saya mengulang sedikit kisah masa remaja saya. Seperti remaja
lainnya, saya juga memiliki hobi. Kebetulan hobi saya sejak duduk di SMAN 6
Solo adalah mendengarkan musik rock. Grup-grup musik rock yang saya suka
misalnya Sepultura, Led Zeplin, Deep Purple, Metallica, Palm Desert,
Linkink Park, dan Lamb of God. Banyak lah. Mau nyebut 100 grup rock juga
bisa, ha ha ha. Intinya grup-grup rock lama, saya suka.
Hobi mendengarkan dan nonton pertunjukan musik itu terus berlanjut hingga
saya duduk di Fakultas Kehutanan, bahkan sampai sekarang. Bedanya, bila
zaman SMA atau kuliah saya hanya bisa memburu nonton konser musik rock di
Jogja dan Solo, sekarang saya bisa mengejar nonton sampai ke Jakarta atau
Singapura. Hitung-hitung refreshing lah. Masak ngurusi pekerjaan terus,
kan, pusing. Kalau bisa pun, saya ingin mengundang grup musik rock ke Solo.
Saya ingin nonton pertunjukan mereka bersama masyarakat Solo.
Begitu kesengsemnya pada musik rock, dulu saya juga pernah ikut-ikutan
memanjangkan rambut hingga sepunggung. Biar keren seperti para pemusik
idola saya. Foto masa muda saya yang berambut gondrong juga masih saya
simpan. Tapi maaf, ya, saya tidak mau mempublikasikannya kendati sudah
banyak media yang meminta. Malu, ah! Sekarang kalau ingat masa-masa
gondrong itu, saya suka jadi malu sendiri. Anak sulung saya sempat ikut-
ikutan gondrong seperti saya di masa muda. Anehnya, saat melihat dia
gondrong, saya kok, jadi jijik, ya, ha ha ha.
Bila ada yang bertanya kenapa saya suka musik rock, ini jawabannya. Musik
rock atau musik metal itu memberi semangat. Yang namanya pemimpin, ya,
harus seperti itu. Harus berani mendobrak, memberi semangat kepada
rakyatnya. Jangan sampai pemimpin lagunya mellow . Bukan berarti saya tidak
suka musik klenengan dan keroncong, lho. Saya juga suka. Nyatanya saya
sekarang terpilih jadi Pembina Hamkri (Himpunan Artis Musik Keroncong
Indonesia) Solo. Tapi koleksi musik saya yang terbanyak, ya, musik rock.
Nah, lalu bagaimana gaya pacaran saya dengan ibunya anak-anak? Wah, ya,
tidak bisa pacaran ke mana-mana. Paling banter makan bakso yang murah-murah
saja. Hidup kami dulu, kan, serba sederhana.
Diplomasi Makan Siang
Di awal masa jabatan saya yang pertama, masyarakat Solo belum percaya
kepada saya. Maklum, sosok saya baru saja mereka kenal. Karena itu saya
seringkali saya mengumpulkan masyarakat untuk berdialog guna mendengarkan
aspirasi mereka. Untuk dialog semacam itu, saya lebih suka datang sendiri
dan tidak mewakilkan staf. Kalau diwakilkan lalu, misalnya, staf saya
bermental ABS (asal bapak senang), kan, repot. Bisa keliru ambil keputusan.
Awalnya, dialog selalu berjalan alot. Isinya orang marah-marah dan mencaci.
Kalau dimasukkan hati, ya, sakit dan membuat pusing. Jadi saya dengarkan
dan catat saja apa kemauan mereka. Saya juga punya cara tersendiri untuk
berdialog dan menjalin kepercayaan dengan para pedagang kaki lima (PKL)
yang akan saya relokasi ke tempat yang lebih baik dan nguwongake
(memanusiakan, Red. ) mereka. Itu semua demi melaksanakan janji saya dalam
melakukan penataan kota.
Awalnya, mereka saya undang makan siang di rumah dinas saya. Tidak mudah
meyakinkan para PKL tentang program penataan kota. Hari ini diajak makan
siang, besoknya malah timbul kecurigaan. Spanduk berisi caci-maki
bermunculan di depan rumah. Ada yang bertuliskan "Pertahankan sampai titik
darah penghabisan!" dan disertai bambu runcing. Saya tidak ambil hati.
Malahan saya ajak mereka makan siang lagi.
Saya mengerti kekhawatiran mereka yang di masa lalu sering dibohongi
pemimpinnya. Mereka takut setelah digusur, tempat lama akan saya jadikan
mal. Diplomasi makan siang itu terus saya lakukan hingga jamuan makan yang
ke-54, saya melihat sudah saatnya mengatakan bahwa mereka, ratusan pedagang
klithikan di Banjarsari itu, akan saya relokasi ke tempat yang baru.
Ternyata tidak ada yang membantah.
Kenapa saya memakai 'diplomasi' makan siang? Setiap kepala daerah di mana
pun, kan, punya anggaran untuk menjamu tamu di APBD-nya. Nah, menurut saya
yang namanya tamu kepala daerah itu bukan cuma pejabat tinggi. Pedagang
kaki lima atau pedagang pasar juga tamu saya, jadi mereka berhak saya jamu
makan siang. Kini apabila saya hendak memindahkan pedagang kaki lima atau
pedagang pasar, cukup 3-4 kali makan siang sambil berdialog, semuanya
beres.
Saya memang tidak mau ada penggusuran dengan tindak kekerasan atau
pemukulan seperti di kota lain. Karena itulah, waktu itu saya justru
menempatkan kepala satpol perempuan. Kenapa tidak? Saya ingin menunjukkan
bahwa perempuan juga bisa jadi komandannya satpol. Meskipun posisi itu baru
saja saya ganti laki-laki, he he he.
Terhitung ada 23 lokasi PKL yang saya pindahkan ke tempat yang lebih baik.
Jujur, saya tidak bisa memenuhi semua keinginan mereka. Misalnya mereka
minta pelebaran jalan 9 meter, saya hanya bisa memberi 6 meter. Yang
penting ada komunikasi.
Agar PKL tidak kehilangan pembeli di tempat yang baru, saya memakai cara
unik. Di hari pindahan, saya siapkan 54 truk khusus. Mereka dikirab dengan
baju keraton ke pasar yang baru. Ini sebagai cara promosi agar orang tahu
ada pasar baru yang buka. Yang terpenting, saya ingin ngowongake mereka.
Mengangkat mereka ke level yang lebih baik dengan status yang lebih legal.
Ini, kan, dari informal menjadi formal, tho ? Kini sudah 17 pasar
tradisional yang dibangun kembali.
Masyarakat itu hanya perlu diajak berkomunikasi. Menurut saya, pemimpin
daerah harus mau nungging . Mendengarkan suara akar rumput, mendengarkan
penderitaan masyarakatnya. Keluhan masyarakat itu harus dimengerti agar
mereka tahu posisi kita ada di mana. Saya pun sadar betul, membangun
kepercayaan memang butuh proses. Ini dilihat antara kata dan perbuatan,
jangan cuma ngomong doang. Selama tujuh tahun memimpin Solo, bisa dihitung
dengan jari berapa kali saya pidato. Saya diberi posisi sebagai walikota
untuk bekerja, bukan pidato.
Walikota Teladan
(Berkat gaya kepemimpinannya yang aspiratif, Jokowi menang telak atas
rivalnya Eddy Wirabhumi-Supradi Kertamenawi pada Pemilukada 2010. Ia pun
kembali menjabat sebagai Walikota Solo periode 2010-2015.
Sepanjang perbincangan dengan NOVA, Jokowi memperlihatkan slide suasana
Kota Solo sebelum dan sesudah ditata olehnya. Bagaimana dulu pedagang pasar
tradisional tumpah hingga ke jalan raya. Di bawah komandonya, titik kota
yang dulu kumuh itu berhasil dirapikan dan dibangun pasar yang bersih dan
tertata. Pedagang harus berjualan di dalam pasar tanpa dipungut bayaran,
kecuali retribusi Rp 2.500 per hari.
Jokowi juga memperlihatkan kondisi ruangan pelayanan KTP dan ruang tamu di
kantornya yang semula "berantakan", padahal ia harus mendatangkan investor
ke kotanya. Ruang tamu untuk para investor dan pelayanan KTP itu lantas ia
"sulap" menjadi serupa lobby sebuah bank, ada layar sentuh yang berisi
prosedur dan tata-cara berinvestasi. PNS yang melayani para investor ia
beri seragam jas biru, bukan busana PNS warna cokelat kakhi. Pelayanan KTP
pun dipermudah dan dipercepat.
Selama lima tahun kepemimpinannya Jokowi memenuhi janjinya, bukan saja
menata kota tetapi juga memutus mata rantai kemiskinan dengan meluncurkan
dana untuk biaya pendidikan dan kesehatan. Termasuk program perbaikan gizi
anak serta menekan angka kematian ibu dan anak pasca persalinan. Inovasi
itulah yang akhirnya membuahkan penghargaan sebagai Walikota Teladan dari
Mendagri pada April 2011)
Saya sadar, anak-anak adalah aset masa depan bangsa. Karena itu saya
memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu agar
bisa terus sekolah. Menurut saya, satu-satunya yang bisa memutus tali
kemiskinan adalah pendidikan. Karena itu saya kemudian menawarkan solusi
membuat kartu Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) dari
jenjang SD hingga SMA.
Untuk anak yang memperoleh kartu Platinum, ia akan memperoleh seragam,
buku, beasiswa dan sepatu gratis. Sementara pemegang kartu Gold bisa
membayar sekolah setengahnya saja. Sementara ini memang hanya berlaku untuk
sekolah tertentu karena anggarannya belum cukup, masih diotak-atik. Ada
juga pemegang kartu Silver untuk siswa dari keluarga mampu yang bersekolah
di Kota Solo pada jenjang SD/MI Negeri serta SMP/MTs Negeri dan jenjang
SDLB, SMPLB Negeri dan SMALB Swasta.
Saya juga mengeluarkan kartu Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta
(PKMS). Kartu ini bisa dipakai untuk berobat gratis di 12 rumah sakit dan
17 Puskesmas, termasuk untuk terapi kanker seperti kemoterapi dan cuci
darah. Jenisnya sama, Silver dan Gold. Silver untuk yang miskin "ragu-ragu"
atau tidak jelas kemiskinannya, Gold untuk masyarakat yang sudah jelas
miskin. Kartu PKMS sudah sekitar 4 tahun lalu diluncurkan, sementara kartu
BPMKS baru dua tahun ini.
Dua jenis kartu ini hanya ada di Solo. Biayanya saya ambilkan dari APBD.
Asal tahu saja, ya, dulu untuk jaminan kesehatan anggarannya hanya Rp 1,4
M. Setelah ada kartu, saya siapkan Rp 19 M. Dulu untuk beasiswa pendidikan
hanya ada dana Rp 3,4 M. Sekarang Rp 23 M. Insya Allah cukup.
Saya juga menaruh perhatian khusus pada masalah kesehatan ibu dan anak.
Dulu anggaran untuk perbaikan gizi anak hanya Rp 41 juta, sekarang Rp 1,4
M. Naiknya berapa kali lipat, coba? Saya tahu anak itu masa depan kita,
jadi harus digarap sejak dini, salah satunya dengan program makanan
tambahan di sekolah. Semua sistem ini hanya ribet di awalnya. Setelah
ketemu metodenya dan berjalan, mudah saja.
Itulah sedikit banyak tentang perjalanan hidup joko widodo serta profile
dan biodata Jokowi, semoga dapat menambah pengetahuan para pembaca semua
khususnya tentang Jokowi.
* Dirangkum dari berbagai sumber



Gaya Kepemimpinan Jokowi Bawa Terobosan Politik

Monday, 20 October 2014, 16:00 WIB
Komentar : 0



themarketeers

Walikota Solo Jokowi
A+" Reset " A-
REPUBLIKA.CO.ID,MANADO--Gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo dipredikasi
mampu membawa terobosan politik.

"Gaya komunikasi politik Jokowi berhasil melunakkan para elit politik dari
kalangan koalisi Merah Putih.
Itu pertanda bahwa presiden ketujuh itu memiliki gaya kepemimpinan
tersendiri dalam melakukan terobosan politik," kata pengamat antropologi
politik dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Mahyudin Damis,
Senin (20/10).
Gaya kepemimpinan seperti itu, menurutnya, sangat dibutuhkan bangsa saat
ini setelah masyarakat terbelah dalam Pilpres beberapa waktu lalu.

Jokowi juga dinilainya menyadari betul pentingnya kebersamaan dari para
elit politik dan berbagai elemen bangsa dalam mengatasi permasalahan
politik, hukum, HAM dan lainnya.

Komunikasi politik itu juga menegaskan bahwa Jokowi tidak berada dibawah
bayang-bayang Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri sebagaimana
diasumsikan oleh sebagian publik selama ini.

"Pastilah ibu Megawati sadar betul bahwa pemerintahan Jokowi ke depan akan
mampu membawa bangsa ini semakin maju dan rakyat Indonesia terbebas dari
kemiskinan, kebodohan dan mendapat pelayanan kesehatan dengan memadai,"
kata Mahyudin.



Analisis Komposisi Kabinet Kerja Jokowi-JK

REP " 26 October 2014 " 23:38 Dibaca: 844 Komentar: 0
1
Setelah sempat ditunda, Presiden Jokowi Widodo akhirnya mengumumkan siapa
saja yang terpilih menjadi pembantunya. Ada sejumlah wajah lama yang
mengisi pos kementerian. Ada juga wajah baru yang sebelumnya diprediksi
kuat menduduki posisi menteri.
Komposisi Kabinet Kerja yang baru diumumkan pada Minggu sore (26/10/2014)
menarik untuk dianalisis. Bagaimanapun, komposisi kabinet merupakan jawaban
atas sekian banyak harapan yang diamanahkan rakyat pemilih kepada Jokowi-
JK. Hak prerogatif yang melekat pada Presiden Joko Widodo menempatkan
dirinya sebagai sosok sentral dan strategis dalam menentukan nama-nama yang
kelak diajaknya "bekerja" dalam kabinet.
Terhitung ada delapan menteri perempuan yang dipercaya Jokowi dan JK
sebagai pembantunya. Para perempuan ini datang dari pelbagai latar
belakang. Mulai dari politisi, akademisi, birokrat karir, hingga praktisi
atau pelaku bisnis. Sisi menarik dari menteri perempuan dalam Kabinet Kerja
ini adalah ditunjuknya Yohana Yambise selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak serta Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan
Perikanan. Yohana menjadi perempuan pertama dari Papua yang diberi
kepercayaan duduk di kursi menteri. Adapun Susi menjadi menteri yang hanya
berijazah SMP.
Keputusan Presiden Jokowi menunjuk Susi merupakan terobosan tersendiri.
Jejak akademik sepertinya dikecualikan saat Jokowi melakukan fit and proper
test. Di sini, selaku presiden, Jokowi lebih melihat rekam jejak Susi
sebagai pengusaha bidang perikanan dan penerbangan. Susi memang dikenal
sukses dengan bisnis ikannya yang dilabeli Susi Brand. Kepak bisnisnya juga
diakui lewat Susi Air. Raihan ijazah akademik rupanya tak membatasi ruang
gerak Susi untuk bisa mandiri secara ekonomi.
Unsur keterwakilan
Kabinet Kerja Jokowi dan JK kali ini berasal dari enam unsur, yaitu:
politisi, praktisi, akademisi, birokrat karir, teknokrat, serta
purnawirawan. Jumlah dan persentase keterwakilan unsur bisa dilihat pada
grafik berikut.


Sebanyak 38% pos menteri diisi oleh para politisi. Jumlah ini tergolong
moderat. Porsi para menteri yang datang dari luar politisi lebih dominan.
Persentasenya mencapai 62%. Dengan komposisi ini Presiden Jokowi ingin
menunjukkan kepada publik bahwa dirinya tak sekadar bagi-bagi kursi menteri
kepada Parpol yang mendukungnya. Meski tetap harus diakui skema pembagian
kursi toh harus ada. Mengingat tak ada makan siang yang gratis di ranah
politik.
Jatah kursi menteri untuk masing-masing Parpol
Parpol pendukung jelas mendapat jatah kursi. Hanura dan Nasdem masing-
masing sukses menempatkan dua politisinya. Sementara PDIP dan PKB masing-
masing mengisi empat pos kementerian. Bagi PKB, jatah kursi menteri kali
ini tergolong banyak.
Di atas kertas PKB hanya mendapat empat kursi menteri. Namun dari hasil
penelusuran, ada enam kader NU yang duduk di kabinet. Empat menteri dari
PKB jelas merupakan kader NU. Adapun dua kader NU lainnya adalah Lukman
Hakim Saifuddin selaku Menag dan M. Nasir yang dipercaya sebagai Menristek
dan Pendidikan Tinggi.
Dugaan publik untuk menjadi Puan Maharani sebagai menteri rupanya terbukti.
Putri Megawati yang meraup suara terbanyak di Dapil V Jateng ini mendapat
jatah sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Jabatan Menko ini
merupakan jabatan menteri senior. Di usianya yang tergolong muda, politisi
PDIP ini seolah ditantang bekerja dan berlari bersama Jokowi. Penunjukan
Puan sebagai menteri merupakan langkah politis untuk menunjukkan kiprahnya
yang berdampak pada popularitasnya kelak. Bila selama ini Puan banyak
berada di parlemen, kini Puan berkesempatan menjajal diri di ranah
eksekutif. Muncul tanya, mengapa harus Puan? Tentu para elit PDIP punya
serangkaian alasan penting atas penunjukannya.
Hal mencolok lain dari Kabinet Kerja ini adalah jumlah unsur militer yang
tergolong sedikit. Hanya ada dua menteri yang berstatus purnawirawan.
Yakni, Ryamizard Ryacudu selaku Menhan serta Tedjo Edy Purdjianto yang
dipilih sebagai Menko Polhukam. Jabatan Menhan yang di masa SBY dipegang
oleh sosok sipil kini dikembalikan kepada sosok yang berlatar belakang
militer. Sementara, posisi Menko Polhukam tetap mengandalkan purnwirawan
jenderal.
Wajah lama
Dari ke-34 nama yang dipilih, Presiden Jokowi hanya menyisakan satu menteri
di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dialah Lukman Hakim Saifuddin.
Sesuai perkiraan, Lukman tetap ditugaskan menggawangi Kementerian Agama
atau Kemenag. Pilihan terhadap Lukman sekaligus menepis isu yang sempat
beredar pada masa kampanye. Isu itu menyebut, kelak Menag berasal dari
golongan Syiah jika PDI Perjuangan yang mengendalikan pemerintahan.
Terbukti, isu itu sebatas perkiraan yang tak berujung bukti pada saat
susunan Kabinet Kerja diumumkan.
Selain menyodorkan wajah baru, hadir pula wajah lama dalam Kabinet Jokowi-
JK. Ada tiga nama lama yang dulu pernah mengisi kabinet di era sebelumnya.
Mereka ialah: Khofifah Indar Parawansa, Rini M. Soemarno, dan Sofyan
Djalil. Nama pertama pernah dipercaya menjadi menteri di era pemerintahan
Abdurrahman Wahid-Megawati Soekarno Putri (1999-2001) sebagai Menteri
Negara Pemberdayaan Perempuan. Adapun Rini sempat menjabat sebagai Menteri
Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) di era pemerintahan Megawati-
Hamzah Haz (2001-2004).
Setelah satu dekade lebih absen dari hiruk pikuk pemerintahan, kedua
perempuan ini kembali ke lingkaran kekuasaan dan dipercaya membantu Jokowi-
JK. Rini mendapatkan pos baru sebagai Menteri Negara BUMN. Lulusan Amerika
Serikat dan eksekutif Astra Indonesia ini memang dikenal piawai mengurusi
sektor ekonomi dan perdagangan. Penunjukan Rini sudah diprediksi, mengingat
dialah yang ditunjuk menjadi Ketua Tim Transisi. Artinya, Rini sudah
berkeringat di masa peralihan pemerintahan dari SBY kepada Jokowi.
Di luar itu, Rini Soemarno juga dikenal sangat dekat dengan Ketua Umum PDIP
Megawati Soekarno Putri. Dalam beberapa acara resmi, Rini terlihat selalu
duduk berdekatan dengan Megawati. Saat melawat ke luar negeri, Rini kerap
menemani Megawati yang kala itu menduduki kursi kepresidenan.
Kursi menteri bagi Khofifah tak diperolehnya secara gratis. Di masa
kampanye Pilpres 2014 lalu, Khofifah boleh dibilang merupakan jenderal
lapangan di wilayah Jawa Timur. Massanya tersebar. Maklum, Khofifah adalah
Ketua Umum Muslimat NU. Sebuah organisasi otonom (Ortom) di bawah NU.
Selama ini, Khofifah dikenal sebagai aktivis NU yang mau turun ke bawah
untuk menyapa basis pendukungnya secara langsung.
Kekuatan itulah yang dimanfaatkan untuk menggalang dukungan bagi Jokowi-JK
melalui jejaring pengajian ibu-ibu di kalangan nahdliyin. Keringat yang
menetes dari kerja kerasnya di lapangan, kembali mengantarkan Khofifah
menjadi Menteri Sosial di era Jokowi-JK.
Masuknya kembali nama Sofyan Djalil ke kabinet tidak lepas dari peran Jusuf
Kalla. Sebelum menjabat menteri di era SBY-JK (2004-2009) Sofyan memang
dikenal sebagai aktivis Lembang 9. Keberhasilan JK menjadi Wapres pada 2004
lalu ikut mengantarkan Sofyan sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika
(Oktober 2004 hingga Mei 2007). Gelombang reshuffle kabinet malah
mengantarkan aktivitas Pelajar Islam Indonesia (PII) kelahiran Aceh ini
menjadi Menteri Negara BUMN (2007-2009).
Peran barunya inilah yang memberinya kesempatan bersentuhan langsung dengan
kebijakan ekonomi pemerintah. Selaku Meneg BUMN, Sofyan otomatis menjadi
anggota Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK). Dalam Kabinet Kerja,
Sofyan dipercaya menjadi Menko Perekonomian. Sebuah jabatan menteri senior
yang sebelumnya dijabat oleh Hatta Radjasa.
Di luar keempat nama di atas, ada wajah lama yang sudah surut dari sorotan
media. Dialah Ryamizard Ryacudu. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)
ini sempat dikenal sebagai jenderal tempur. Pungkas menjabat KSAD pada 2004
lalu, sang jenderal ditugaskan sebagai staf ahli Panglima TNI. Padahal
sebelumnya, nama jenderal kelahiran Palembang Sumsel ini sempat
dinominasikan sebagai Panglima TNI. Jabatan panglima batal direngkuh
Ryamizard. Dalam Kabinet Kerja, Ryamizard masuk ke dalam deretan wajah
lama. Selama lima tahun ke depan Ryamizard dipercaya sebagai Menteri
Pertahanan menggantikan Purnomo Yusgiantoro.
Tentu publik berharap, aksi berlari yang dilakukan para menteri yang
ditunjuk Jokowi saat dikenalkan tak berhenti di depan layar kaca semata.
Negara ini butuh orang yang mau bekerja. Mau kerja saja tidak cukup.
Dibutuhkan pula orang-orang jujur yang bernyali mengubah situasi. Selamat
bekerja.
"N"Jabatan "Nama "Unsur "
"o" " " "
"1"Menteri Sekretaris "Pratikno "Akademisi "
" "Negara " " "
"2"Kepala Bappenas "Andrinof Chaniago"Akademisi "
"3"Menko Bidang "Indroyono Soesilo"Birokrat karir "
" "Kemaritiman " " "
"4"Menteri Perhubungan "Ignasius Jonan "Teknokrat "
"5"Menteri Kelautan dan "Susi Pudjiastuti "Praktisi (Pengusaha) "
" "Perikanan " " "
"6"Menteri Pariwisata "Arief Yahya "Teknokrat "
"7"Menteri ESDM "Sudirman Said "Praktisi "
"8"Menko Polhukam "Tedjo Edy "Purnawirawan "
" " "Purdjianto " "
"9"Menteri Dalam Negeri "Tjahjo Kumolo "Politisi PDIP "
"1"Menteri Luar Negeri "Retno Lestari "Birokrat karir "
"0" "Priansari M. " "
"1"Menteri Pertahanan "Ryamizard Ryacudu"Purnawirawan "
"1" " " "
"1"Menteri Hukum dan HAM "Yasonna H Laoly "Politisi PDIP "
"2" " " "
"1"Menteri Kominfo "Rudiantara "Teknokrat "
"3" " " "
"1"Menteri PAN "Yuddy Chrisnandi "Politisi Hanura "
"4" " " "
"1"Menko Perekonomian "Sofyan Djalil "Praktisi "
"5" " " "
"1"Menteri Keuangan "Bambang "Akademisi "
"6" "Brodjonegoro " "
"1"Menteri BUMN "Rini M Soemarno "Praktisi "
"7" " " "
"1"Menteri Koperasi dan "A.A. Gede Ngurah "Politisi PDIP "
"8"UKM "Puspayoga " "
"1"Menteri Perindustrian "Saleh Husin "Politisi Hanura "
"9" " " "
"2"Menteri Perdagangan "Rahmat Gobel "Praktisi (Pengusaha) "
"0" " " "
"2"Menteri Pertanian "Amran Sulaiman "Praktisi (Pengusaha) "
"1" " " "
"2"Menteri Ketenagakerjaan"Hanif Dhakiri "Politisi PKB "
"2" " " "
"2"Menteri PU dan Pera "Basuki "Birokrat karir "
"3" "Hadimuljono " "
"2"Menteri LH & Kehutanan "Siti Nurbaya "Politisi Nasdem "
"4" " " "
"2"Menteri Agraria dan "Ferry Mursyidan "Politisi Nasdem "
"5"Tata Ruang "Baldan " "
"2"Menko Pembangunan MK "Puan Maharani "Politisi PDIP "
"6" " " "
"2"Menteri Agama "Lukman Hakim "Politisi PPP "
"7" "Saifuddin " "
"2"Menteri Kesehatan "Nila F Moeloek "Akademisi "
"8" " " "
"2"Menteri Sosial "Khofifah Indar "Politisi PKB "
"9" "Parawansa " "
"3"Menteri Pemberdayaan "Yohana Yambise "Akademisi "
"0"Perempuan & PA " " "
"3"Menteri Kebudayaan dan "Anies Baswedan "Akademisi "
"1"Dikdasmen " " "
"3"Menristek dan Dikti "M. Nasir "Akademisi "
"2" " " "
"3"Menteri Pemuda dan "Imam Nahrawi "Politisi PKB "
"3"Olahraga " " "
"3"Menteri Desa, PDT dan "Marwan Jafar "Politisi PKB "
"4"Transmigrasi " " "



Analisis Gaya Kepemimpinan Prabowo vs Jokowi

Koran SINDO

Kamis, 5 Juni 2014 12:46 WIB



Pasangan Capres-Cawapres 2014. (SINDOphoto).

MENJELANG Pilpres 2014, kepemimpinan menjadi topik yang menarik untuk
dibahas. Seluruh rakyat Indonesia akan mengambil bagian dalam menentukan
nasib bangsa Indonesia dalam lima tahun ke depan dengan memilih siapa yang
akan menjadi pemimpinnya (baca presiden).

Pada intinya memilih pemimpin adalah memilih karakter. Jika melihat visi
dan misi sudah jelas isinya pasti bagus semua. Karena itu, karakter akan
menjadi pembeda (differentiator) dari seorang pemimpin atas pemimpin
lainnya. Akan ada dua jenis pemilih yaitu pemilih emosional dan rasional.

Pemilih emosional adalah pemilih dengan fanatisme tinggi. Termasuk dalam
kelompok pemilih ini adalah para pendukung fanatik, anggota partai
pendukung, dan kelompok masyarakat akar rumput. Adapun kelompok pemilih
rasional adalah kelompok yang menentukan pilihannya berdasarkan
pertimbangan dan analisis tertentu.

Kelompok ini sering disebut sebagai swing voterkarena pilihan mereka bisa
berubah, bergantung pada analisis dan informasi yang diperoleh tentang
kandidat yang menjadi alternatif pilihannya. Diyakini kelompok pemilih ini
yang akan menjadi penentu kemenangan kandidat yang bertarung pada pilpres
nanti.

Semua pemimpin pasti memiliki karisma. Kendati demikian, latar belakang
budaya, pendidikan, pengalaman, dan wawasan akan membentuk karakter seorang
pemimpin dan menjadikan karisma kepemimpinan yang berbeda antara pemimpin
yang satu dan lain.

Dalam teori kepemimpinan, karisma didefinisikan sebagai kualitas khusus
dari seorang pemimpin yang memiliki tujuan, kekuatan, dan determinasi yang
luar biasa yang membedakannya dari pemimpin lain (Dubrin: 2012).

Karisma mengandung arti yang positif dan menunjukkan kualitas dari seorang
pemimpin yang membuatnya dikehendaki banyak orang untuk dipimpin olehnya.
Dalam hal ini terdapat dua tipe pemimpin karismatik (Dubrin: 2012) yaitu:
Pertama, socialized charismatic, seorang pemimpin yang menggunakan
kekuatannya untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Tipe pemimpin ini biasanya akan membawa nilai-nilai yang dipegang
pengikutnya sejalan dengan nilainilai yang dipegangnya. Kedua, personalized
charismatic, tipe pemimpin yang didominasi tujuan dan visi personalnya.

Tipe pemimpin ini sangat menitikberatkan tujuan dan keyakinan pribadinya
kepada pengikutnya dan dia akan mendukung pengikutnya tersebut untuk
membawanya kepada tujuan dan visi yang diyakininya tersebut. Terlepas dari
kedua jenis pemimpin karismatik tersebut di atas, ada beberapa
karakteristik seorang pemimpin karismatik.

Apa saja karakteristiknya dan di mana keunggulan Prabowo serta Jokowi pada
setiap karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama,
seorang pemimpin karismatik umumnya visionary, dia memiliki gambaran yang
jelas akan dibawa ke mana organisasi yang dia pimpin dan dia tahu bagaimana
untuk mencapainya. Menurut pengamatan saya, Prabowo unggul di aspek ini
dibandingkan Jokowi. Kedua, pemimpin karismatik juga mempunyai kemampuan
yang luar biasa dalam seni berkomunikasi (masterful communication skill).

Untuk memberikan inspirasi kepada pengikutnya, pemimpin karismatik akan
menggunakan bahasa yang penuh variasi dan warna dengan berbagai analogi dan
metafora yang memikat. Lagilagi Prabowo terlihat lebih unggul dibandingkan
Jokowi pada area ini.

Ketiga, karakteristik lain dari pemimpin karismatik adalah kemampuannya
untuk memberi inspirasi dan kepercayaan (ability to inspire and trust).
Pengikutnya sangat mempercayai integritas pemimpin karismatik dan mereka
berani mempertaruhkan kariernya untuk mencapai visi dari pemimpinnya.

Prabowo maupun Jokowi sama- sama unggul di poin ini. Keempat, pemimpin
karismatik juga bisa membuat pengikutnya merasa yakin dan memiliki
kemampuan (able to make group member feel capable). Ini biasanya dilakukan
dengan memberikan pengikutnya beberapa proyek yang relatif lebih mudah bagi
pengikutnya untuk meraih keberhasilan. Ini akan membangun rasa percaya diri
dan keinginan pengikutnya untuk mendapatkan tugas yang lebih menantang.
Baik Prabowo maupun Jokowi mempunyai keunggulan di area ini.

Kelima, pemimpin karismatik menunjukkan energi yang luar biasa dan selalu
cepat mengambil tindakan (demonstrate energy and action orientation).
Mereka juga menjadi model tentang bagaimana menyelesaikan hal tepat pada
waktunya. Di area ini Jokowi lebih unggul dibandingkan Prabowo.

Banyak contoh yang ditunjukkannya saat menjabat sebagai wali kota Solo
maupun gubernur DKI Jakarta. Keenam, sangat ekspresif dan hangat (emotional
expressiveness and warmth) juga menjadi satu ciri pemimpin karismatik.
Mereka begitu mudah meluapkan ekspresi dan perasaannya, mereka juga sangat
hangat dan penuh perhatian.

Terlihat Jokowi juga unggul pada aspek ini dibandingkan Prabowo. Keluwesan
dan kesederhanaannya sangat memudahkan Jokowi dalam berkomunikasi dan
meluapkan ekspresi kepada masyarakatnya. Ketujuh, suka terhadap tantangan
dan risiko romanticize risk) juga menjadi salah satu ciri yang menonjol
dari pemimpin karismatik.

Tanpa tantangan dan risiko hidup, mereka terasa hampa dan kosong.
Tantangan dan risiko yang membuat kehidupan pemimpin karismatik menjadi
dinamis dan energik. Dengan segala latar belakang pengalaman dan perjalanan
hidupnya, terlihat Prabowo unggul di aspek ini dibandingkan dengan Jokowi.

Segala risiko sudah pernah dihadapi Prabowo, mulai dari peperangan, krisis
politik dan kepemimpinan tingkat nasional, sampai karier militer yang
dipertaruhkan telah dilaluinya. Terbukti Prabowo mampu melampaui semua masa
sulit tersebut hingga saat ini. Kedelapan, pemimpin karismatik juga senang
dengan sesuatu yang tidak biasa.

Segala ide, gagasan, atau strategi yang mereka lontarkan selalu berbeda
dari pendapat umum (unconventional strategies) dan mereka sangat percaya
hal tersebut dapat memberikan sukses baginya dan pengikutnya. Prabowo dan
Jokowi mempunyai keunggulan yang sama di aspek ini.

Kesembilan, keinginan untuk menonjolkan dan mempromosikan diri sendiri
(self-promoting personality) juga menjadi ciri dari pemimpin karismatik.
Mereka selalu ingin menunjukkan kepada pengikutnya betapa pentingnya dia
bagi pengikutnya. Sebagai seorang charismatic personal , Prabowo terlihat
lebih menonjol di aspek ini.

Kesepuluh, karakteristik lainnya adalah kebiasaan untuk menantang dan
menguji rasa percaya diri dari tim atau pengikutnya (courage your self-
confidence) dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Prabowo terlihat
lebih unggul atas Jokowi untuk aspek ini. Jadi siapakah yang akan anda
pilih pada tanggal 9 Juli nanti?

Yang jelas, tidak ada pemimpin yang benar-benar ideal, sama dengan
ungkapan tidak ada manusia yang sempurna. Kendati demikian, biasanya ada
batas-batas tertentu yang bisa ditoleransi oleh para pemilih terhadap
pemimpin-pemimpin mereka atas sedikit kelemahan yang dimiliki oleh
pemimpinnya.

Pada akhirnya apa yang bisa diberikan oleh seorang pemimpin kepada
pengikutnya dan manfaat apa yang dirasakan oleh para pengikutnya atas
kepemimpinan dari pimpinannya yang akan menjadi tolok ukur dan key
performance indicator keberhasilan seorang pemimpin.


Deskripsi


JAKARTA- Sebelum melenggang menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko
Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mengungkapkan visi misinya jika
terpilih menjadi pemimpin negara.

Kini Jokowi-JK sudah resmi dilantik menjadi presiden dan wakil presiden.
Akankah mereka menepati janjinya sewaktu kampanye lalu? Catatan ini akan
mengingatkan kita kembali akan janji-janji mereka.

Berdasarkan visi-misi, Jokowi-JK memilih untuk menggunakan kata-kata
kemandirian ekonomi dan berdaya saing. Dalam hal kemiskinan dan
ketimpangan, Jokowi-JK menargetkan penurunan angka kemiskinan sebesar 5-6
persen.

Dalam bidang pertanian dan Pangan, Jokowi-JK juga mempunyai program yakni,
pemberantasan mafia impor dan pendistribusian aset terhadap petani. Mereka
juga mencanangkan membangun perumahan untuk buruh di kawasan industri.

Dalam bidang energi, khususnya dalam hal konsumsi BBM, Jokowi-JK berjanji
untuk mengurangi subsidi BBM. Namun, terdapat perbedaan dalam hal
pengimplementasiannya. Jokowi-JK lebih mengedepankan konversi BBM kepada
gas dalam bidang transportasi, dan merealokasikan sebagian subsidi BBM ke
penyediaan biofuel.

Dalam hal utang dan pembiayaan pembangunan, Jokowi-JK berkeinginan untuk
mengurangi utang secara bertahap dan menggunakan utang hanya untuk
membiayai pengeluaran pemerintah yang produktif.

Bidang selanjutnya adalah bidang mengenai pasar tradisional. Jokowi-JK
mempunyai program yakni memprioritaskan akses modal bagi UMKM dan
pendampingan ekonomi. Selain itu, Jokowi-JK mempunyai program untuk
merenovasi lima ribu pasar tradisional yang berumur lebih dari 25 tahun.

Dalam hal pemekaraan daerah, Jokowi-JK mempunyai program menata dan
peninjauan kembali daerah administrasi. Dalam bidang perbankan, Jokowi-JK
yakni seperti kebijakan untuk membatasi penjualan saham bank nasional
kepada asing dan peraturan yang lebih ketat untuk menghidari konglomerasi.

Selain itu terdapat kebijakan untuk mengimplementasikan asas resiprokal dan
mendukung perbankan nasional dalam menghadapi ASEAN Free Trade Area. Jokowi-
JK juga mempunyai program untuk membangun bank khusus pertanian.

Kemudian membahas mengenai program-progam tersebut, Jokowi-JK berorientasi
kepada pembangunan yang bersifat mental, salah satu program tersebut adalah
revolusi mental.

Dan berikut visi misi atau janji Jokowi-JK pada saat kampanye sebagaimana
yang dirangkum Okezonedari berbagai sumber.

1. Pendidikan

Di sektor pendidikan, Jokowi menekankan pada revolusi mental. Menurutnya,
revolusi mental akan efektif bila diawali dari jenjang sekolah, terutama
pendidikan dasar. Menurutnya, siswa SD seharusnya mendapatkan materi
tentang pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, pendidikan etika
sebesar 80 persen. Sementara itu, ilmu pengetahuan cukup 20 persen saja.

"Jangan terbalik seperti sekarang. Sekarang ini anak-anak yang kecil
dijejali dengan Matematika, Fisika, Kimia, IPS. Sehingga yang namanya
etika, perilaku, moralitas tidak disiapkan pada posisi dasar," kata Jokowi.

Selain itu, ia juga ingin meningkatkan jumlah SMK. Menurutnya, negara-
negara industri maju seperti Jepang, Korea, dan Jerman adalah negara-negara
yang punya banyak SMK.

"Peningkatan jumlah SMK adalah salah satu yang penting. Karena keterampilan
semua ada di sana. Karena di situ ada teknologi, di situ ada keterampilan,
di situ ada. skill yang dibangun," ucap Jokowi.

2. Pertanian

Di sektor pertanian, Jokowi menilai, Indonesia kehilangan orientasi untuk
membangun sektor ini. Indonesia, kata dia, tak pernah lagi memunculkan
varietas-varietas unggul. Bahkan, menurut Jokowi, satu hektar lahan
pertanian di Indonesia hanya dapat menghasilkan maksimal 4,5 ton, sementara
di negara lain bisa mencapai 8-9 ton.

Selain itu, Jokowi juga menyoroti banyaknya lahan-lahan pertanian yang
terkonversi menjadi perumahan, industri, dan pertambangan. Menurutnya, hal
tersebut adalah kesalahan karena Indonesia saat ini membutuhkan banyak
lahan untuk sawah dan ladang baru. Tak hanya itu, ujarnya, infrastruktur
pendukung lahan pertanian seperti waduk dan bendungan juga harus
diperbanyak.

3. Kelautan

Di bidang kelautan, Jokowi menyoroti kalah bersaingnya nelayan-nelayan
lokal karena ketertinggalan dalam bidang teknogi dibanding nelayan-nelayan
asing. Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu penyebab melonjaknya harga
ikan di pasaran.

"Kapal-kapal negara lain yang masuk ke laut kita sudah komplet. Ada kapal
sepuluh, yang sembilan nangkap, yang satunya untuk pengalengan. Langsung
dikalengkan. Kenapa kita tidak bisa seperti itu. Padahal sebenarnya bisa,"
kata Jokowi.

Ia berjanji, jika terpilih sebagai presiden akan menyediakan kapal-kapal
modern untuk para nelayan, yang disertai dengan pelatihan bagi para
nelayan.

"APBN kita gede banget, hampir Rp1.700 triliun. Berapa sih biaya beli
kapal? Murah sekali. Dan berikan nelayan pelatihan, jangan yang gratisan
karena itu tidak mendidik. Saya paling tidak setuju dengan yang gratisan,"
ujarnya.

4. Energi

Di bidang energi, Jokowi menyoroti besarnya subsidi BBM dan subsidi
listrik. Menurutnya, daripada terus-terusan memberikan subsidi BBM, lebih
baik memaksimalkan gas dan batubara yang jauh lebih murah.

"Contohnya untuk listrik. Subsidi listrik itu mencapai Rp 70 triliun. Tapi
kenapa listrik pakai BBM, kenapa tidak pakai batubara?" kata Jokowi.

Jokowi mencurigai, selama ini ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan
dari besarnya subsidi BBM dan listrik. Hal itu yang dinilaiya menjadi
penyebab dilakukannya kebijakan yang sebenarnya lebih banyak merugikan kas
APBN itu.

5. Infrastruktur

Di bidang infrastruktur, Jokowi menyoroti masih kurangnya pengembangan
infrastruktur di laut, pengembangan bandara, maupun penambahan jalur kereta
api. Untuk infrastruktur laut, ia menilai, jika dapat dimaksimalkan, maka
ke depannya tidak ada lagi ketimpangan harga antara daerah yang satu dengan
yang lain.

Ia mengistilahkan konsep pembagunan infrastruktur laut yang akan ia lakukan
dengan istilah "tol laut". Menurutnya, tol laut adalah penyediaan kapal-
kapal berukuran besar untuk pengangkutan antarpulau dalam waktu yang
sesering mungkin.

"Jadi tol laut ini modalnya hanya kapal. Bukan bangun tol di atas laut.
Jadi tol laut itu pengangkutan pakai kapal dari pelabuhan ke pelabuhan,
tapi bolak-balik. Ini akan mempermudah manajemen distribusi logistik,
sehingga harga-harganya akan lebih murah," kata Jokowi.

Jokowi menjelaskan bahwa tol laut adalah konsep distribusi jalur laut yang
menghubungkan lima pelabuhan besar, yakni Pelabuhan Belawan (Medan),
Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar, dan Sorong
(Papua Barat).

6. Administrasi Birokrasi

Jokowi menutup pemaparan visi dan misinya dengan program pembenahan di
bidang administrasi dan birokrasi. Ia berjanji, bila terpilih, akan segera
menerapkan sistem elektronik dan jalur online dalam hal pengadaan barang
dan jasa di seluruh institusi pemerintah, termasuk dalam hal pengawasannya.
Sistem tersebut adalah sistem yang saat ini diterapkannya di lingkungan
pemerintah provinsi DKI Jakarta.

"Kita harus menerapkan e-budgeting, e-purchasing, e-catalogue, e-audit,
pajak online, IMB online. Kita online-kan semua. Jadi tidak ada lagi
'ketema-ketemu', supaya 'amplop-amplopan' hilang," katanya.

Itulah sederet janji Jokowi-JK untuk menjadikan negara ini lebih baik. Mari
kita awasi bersama.

Profil Biodata Jokowi Joko Widodo – Sejarah Perjalanan Hidup Jokowi. Sejak
menjabat Walikota pada 2005, Jokowi memang langsung menjadi buah bibir dan
kini menjadi personal brand tersendiri. Sehingga tidak heran jika
masyarakat kita yang ingin lebih mengenal tentang Biografi Joko Widodo atau
Profile lengkap Jokowi.
Joko Widodo atau yang lebih akrab di sapa Jokowi adalah salah satu orang
yang terpilih menjadi "10 Tokoh 2008 Oleh Majalah Tempo.
Dalam sejah Pendidikan dan Karier Politik , Joko Widodo meraih gelar
insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan
diri sebagai wali kota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang
berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat
ia terpilih.
Pesan Sponsor


Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan
olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang
sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.
Di tahun 2012 ini, Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta
yang berpasangan dengan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama. Hitung cepat yang
dilakukan sejumlah lembaga survei pada hari pemilihan, 11 Juli 2012 dan
sehari setelah itu mengunggulkan namanya sebagai pemenang. Pasangan Jokowi
– Ahok ini diunggulkan memenangi pemilukada DKI 2012.
Selama memimpin kota solo, di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami
perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui
slogan Kota Solo yaitu "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang
dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu
merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak
untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada
investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi
langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan
masyarakat.
Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya,
dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak
setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia
mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan
Dunia dan diterima pada tahun 2006.
Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah
Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007
Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang
diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk
dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008
diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.
Sejumlah keputusan kontroversial namun berpihak kepada masyarakat Solo,
kerap diambilnya. Salah satunya menata Solo tanpa kekerasan. Belakangan, ia
kembali jadi perbincangan setelah menggunakan mobil Esemka karya siswa SMK.
Nah,,, untuk lebih mengenal jauh profile lengkap jokowi atau biodata
jokowidodo lengkap, berikut DB share perjalanan hidup Jokowi yang dirangkum
dari berbagi sumber di internet, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca
semua. Silakan di simak baik-baik.

Sejarah Perjalanan hidup Jokowi atau Joko Widodo

Saya terlahir dengan nama asli Joko Widodo. Tetapi ketika masih aktif
menangani bisnis mebel dan punya buyer asal Prancis, Michl Romaknan, ia
mengaku bingung. Pasalnya Michl yang membeli mebel dari Jepara, Semarang,
dan Surabaya selalu bertemu orang bernama Joko. Eh, begitu di Solo, bertemu
saya yang juga disapa Joko. Untuk membedakan dengan Joko-Joko yang lain, ia
menyapa saya dengan nama Jokowi.
Saya tidak keberatan dengan sapaan itu, malah senang. Seperti ada personal
brand tersendiri. Apalagi nama itu terdengar seperti nama petenis dunia,
Djokovic. Ha ha ha…Sejak 1991 nama Jokowi saya pakai. Nama yang tertera di
kartu nama saya, ya, Jokowi. Bahkan sampai menjadi walikota pun nama saya
tetap Jokowi. Penggantian nama itu tanpa membuat tumpengan, lho. Ha ha ha…
Sebenarnya menjadi walikota bukanlah cita-cita masa kecil saya. Waktu kecil
saya justru bercita-cita jadi tukang kayu. Bagaimana tidak, saya memang
tumbuh di lingkungan tukang kayu. Bapak saya, Noto Mihardjo, seorang
penjual kayu dan bambu di bantaran kali Karanganyar, Solo. Jangan
membayangkan Bapak saya itu pengusaha kayu besar, ya. Kecil saja usahanya
karena cuma penjual kayu gergajian. Jadi bisa dibayangkan tho , saya bukan
berasal dari keluarga kaya. Saya berasal dari keluarga kelas bawah, bahkan
bawah sekali.
Tumbuh di Bantaran Kali
Sebagai keluarga penjual kayu, saya tumbuh menjadi anak yang terbiasa hidup
sulit. Kadang sulit makan, mbayar sekolah juga kerap kesulitan biaya.
Sayang, rumah masa kecil saya kini sudah digusur, jadi tidak bisa dilihat
untuk mengenang seperti apa kehidupan saya dulu.
Dan seperti anak kecil pada umumnya, saya juga suka sekali main. Tetapi
saya tidak tergolong anak yang nakal. Nglidhig (bandel, Red. ) iya, tapi
nakal tidak. Dulu, saya suka mandi di sungai di belakang rumah. Cari telur
bebek di dekat-dekat sungai. Kalau enggak dapat, ya, cari terus sampai
dapat. Memancing ikan, main layang-layang, main sepak bola, ya, di
sepanjang sungai. Dulu sungainya masih lebar, beda dengan sekarang yang
sudah banyak dibangun rumah.
Oh ya, saya lahir di Solo 21 Juni 1961 sebagai anak sulung dari empat
bersaudara. Tiga adik saya perempuan. Karena saya paling besar, saya sering
membantu Ibu, Sujiatmi, mengasuh adik-adik. Kadang mengantar mereka
sekolah. Kalau mereka ada masalah dengan pekerjaan rumah, saya juga
membantu mereka. Bahkan ketika adik-adik beranjak besar, saat ada masalah
dengan pacarnya, saya turut membantu memecahkan masalahnya.
Yang pantas saya kenang dan banggakan adalah, nilai sekolah saya selalu
bagus. Kalau enggak juara satu, ya, juara umum lah. Padahal belajar saja
saya tidak pernah, lho. Masa SMP hingga SMA saya lalui tanpa hal yang
istimewa. Di luar jam sekolah saya membantu orangtua, misalnya menagih
pembayaran kepada pelanggan yang membeli kayu atau menaikkan kayu yang
sudah dibeli orang ke atas gerobak atau becak.
Selepas SMA saya meneruskan kuliah ke Jurusan Teknologi Kayu, Fakultas
Kehutanan, Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1985. Saya bisa kuliah
atas kebaikan keluarga besar Bapak dan Ibu yang mampu membiayai kuliah.
Bahkan Kakek juga ikut membantu dengan menjual sapinya. Intinya, banyak
orang membantu saya. Selama kuliah, saya kos di Yogyakarta. Seminggu atau
sebulan sekali pulang ke Solo naik bus. Rumah kosnya cari yang murah,
karena itu sempat pindah sampai lima kali.
Nah, sejak tingkat satu saya sudah mulai pacaran dengan gadis cantik nan
sederhana yang bernama Iriana. Dia teman adik saya yang sering bermain ke
rumah, jadi kami sering bertemu. Sejak kenal Iriana, saya tak pernah pindah
ke lain hati sampai akhirnya kami menikah pada 24 Desember 1986.
Setelah selesai kuliah pada 1985, saya lalu bekerja di sebuah BUMN di Aceh
selama 1,5 tahun. Kemudian saya menikahi Iriana. Kini kami dikaruniai tiga
buah hati, Gibran Rakabumi (25), Kahiyang Ayu (21), dan Kaesang Pangarep
(17).
Jadi Eksportir
Saya memutuskan berhenti kerja dari BUMN dan pulang ke Solo untuk merintis
bisnis mebel dengan modal minus. Artinya, saya harus pinjam uang ke bank.
Agunannya, sertifikat tanah milik orangtua. Risiko yang harus saya
tanggung, jika tidak bisa mengembalikan uang berarti tanah melayang. Tetapi
sejak dulu saya orangnya optimis, karena untuk memulai satu pekerjaan
modalnya hanya itu. Selain optimis, saya juga menyertainya dengan kerja
keras. Sembilan tahun lamanya saya kerja dari pagi hingga pagi lagi karena
merasa tak punya apa-apa.
Saya rasa, sebagian besar orang Solo tahu tempat usaha saya dulu seperti
apa. Dimulai dari sewa tempat yang terbuat dari gedheg (anyaman bambu, Red.
) kecil. Waktu itu saya baru mampu mempekerjakan tiga tenaga, sehingga
mulai dari masah kayu hingga membuat konstruksi dan nyemprot mebel, saya
lakukan sendiri. Sampai kini pun, misalnya, saya disuruh membuat mebel
dengan mesin yang amat sederhana hingga mesin modern, ya, masih bisa.
Urusan marketing pun saya lakukan sendiri.
Saya kerja melebihi jam kerja orang lain. Kalau enggak percaya, tanya saja
istri saya. Kadang saya sampai tidur di pabrik untuk menyelesaikan
pekerjaan. Ini saya lakukan selama sembilan tahun! Buat saya, kesempatannya
hanya itu. Kalau tidak saya pergunakan dengan baik, habislah saya.
Oh, ya, saat itu saya baru punya satu anak. Karena sering tidur di pabrik,
saya jadi jarang membimbing anak belajar atau membantu mengerjakan PR-nya.
Tetapi antar-jemput anak ke sekolah masih bisa saya lakukan. Selama itu
pula istri menemani saya jatuh bangun merintis bisnis. Dulu, rambutnya
sering kotor terkena serbuk gergaji kayu karena dia juga sering menemani
saya hingga malam hari di pabrik.
Mebel paling awal yang saya buat adalah bedroom set . Dulu jualannya hanya
di Solo saja. Setelah tiga tahun berjalan, saya sudah mulai bisa
mengekspor. Perjuangan saya menjadi eksportir dimulai dari menjadi anak
angkat Perum Gas Negara. Saya mengenal Perum Gas Negara melalui
Desperindag. Saat itu saya diikutkan dalam kualifikasi sehingga bisa
mendapatkan "bapak angkat". Begitulah Tuhan memberi jalan.
Awalnya oleh Perum Gas Negara saya dipinjami deposito untuk modal pinjam
uang ke bank. Semula saya hanya akan dipinjami Rp 50 juta. Saya bilang,
"Maaf, saya ingin bikin 'nasi'. Kalau cuma dipinjami Rp 50 juta, 'bubur'
saja tidak akan jadi. Saya tidak mau." Setelah itu saya tunjukkan rencana
kerja saya kepada mereka. Akhirnya mereka percaya dan mau meminjami lebih.
Saat itu tahun 1996, saya berhasil meminjam uang yang kalau sekarang
nilainya sekitar Rp 600 juta. Saya diberi target, setelah dua tahun saya
harus bisa ekspor. Ternyata baru enam bulan saya sudah mampu mengekspor.
Utang pun mampu saya lunasi dalam waktu tiga tahun. Malah tahun berikutnya
saya dapat pinjaman lebih besar lagi.
Pertama kali menjadi eksportir, tiga bulan saya baru kirim satu kontainer,
ha ha ha… Setelah rajin ikut pameran, dalam satu bulan sudah ada permintaan
18 kontainer. Awalnya saya ikut pameran di Jakarta, lalu ke Singapura dan
akhirnya ke Eropa, Amerika Eropa Timur, dan Timur Tengah. Rasanya semua
benua sudah saya datangi. Pokoknya kalau ada pasar baru, sudah dipastikan
saya bisa masuk. Hasilnya, hampir semua negara jadi tujuan ekspor usaha
mebel saya.
Setelah sampai di skala itu pun saya masih tetap terjun langsung ke
lapangan. Saya punya prinsip, selalu menerima order yang masuk. Kalau tak
mampu saya tangani, akan saya 'lempar' ke teman-teman, tapi tetap saya yang
pegang kontrol. Keputusan-keputusan seperti ini memang harus dihitung
matang dengan detail plus-minus risikonya. Tak bisa diputuskan di belakang
meja, karena bisa keliru.
Nah, sejak saya jadi walikota, bisnis mebel kemudian ditangani adik saya,
sebab ketiga anak saya belum ada yang tertarik ke dunia mebel. Si sulung
Gibran yang saya sekolahkan di bidang marketing di Singapura dan Australia
justru tertarik ke bisnis katering. Walau sedikit kecewa, tapi saya bangga
dia berhasi dengan usaha pilihannya.
Calon Walikota
Di kalangan tukang kayu, nama saya memang dikenal. Tetapi ketika
mencalonkan diri sebagai calon walikota, tak ada yang mengenal siapa
Jokowi. Jujur, keinginan mencalonkan diri ini tidak datang dari diri
pribadi, tapi didorong-dorong teman-teman di Asmindo (Jokowi adalah Ketua
Asmindo periode 2002-2005, yang anggotanya para pebisnis kayu dan mebel,
Red. ). Merekalah yang meminta saya terjun ke dunia politik. Jadi ketika
kemudian benar-benar jadi walikota, bagi saya itu 'kecelakaan' karena tidak
ada persiapan sama sekali, ha ha ha…
Kendati demikian, sebelum akhirnya nyalon saya membuat kalkulasi yang
matang. Peta lapangannya saya hitung dan kuasai. Untuk apa nyalon walikota
kalau untuk kalah? Saya akhirnya bersedia maju, ya, untuk menang. Hasil
kalkulasi saya, kesempatan menang ketika itu 50 persen. Semisal bila
hasilnya 30 persen, saya tidak akan mau maju.
Saya merasa optimis karena saat itu calon lain banyak-banyakan pasang
gambar billboard , sementara saya memilih door to door . Saya dan Pak Rudy
(FX Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo sekarang, Red. ) mendatangi sendiri
warga dari RT ke RT. Hampir setiap hari seperti itu. Yang kira-kira
termasuk 'pasar' saya, saya masuki. Saya sodorkan visi-misi saya menjadi
walikota. Ketika bertemu warga, saya ajak mereka bicara. Dari sini saya
tahu apakah orang itu mendukung saya atau tidak.
Kepada warga pula, ketika itu saya menawarkan tiga hal. Yakni soal
perbaikan kesehatan, pendidikan, dan penataan kota. Saya memang merasa
penataan Kota Solo semrawut, tidak rapi dan tertata. Kawasan kumuh ada di
semua titik. Pedagang kaki lima bertebaran di mana-mana sehingga pasar
tradisional melimpah ke jalan. Becek, bau dan kotor.
Karier Jokowi sebagai pejabat publik semakin bersinar di masa jabatannya
yang kedua (2010-2015). Konsekuensinya, ia semakin sibuk sehingga tak bisa
lagi 'menghilang' dari Solo selama akhir pekan, sebagaimana dulu rutin ia
lakukan. Beruntung, Jokowi punya cara jitu untuk refreshing , yakni nonton
konser musik cadas kesukaannya. Ia juga masih berharap bisa 'ngilang'
setelah tidak menjabat walikota. Mungkinkah itu bisa dilakukan, mengingat
banyak pihak menginginkan ia menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta?
Izinkan saya mengulang sedikit kisah masa remaja saya. Seperti remaja
lainnya, saya juga memiliki hobi. Kebetulan hobi saya sejak duduk di SMAN 6
Solo adalah mendengarkan musik rock. Grup-grup musik rock yang saya suka
misalnya Sepultura, Led Zeplin, Deep Purple, Metallica, Palm Desert,
Linkink Park, dan Lamb of God. Banyak lah. Mau nyebut 100 grup rock juga
bisa, ha ha ha. Intinya grup-grup rock lama, saya suka.
Hobi mendengarkan dan nonton pertunjukan musik itu terus berlanjut hingga
saya duduk di Fakultas Kehutanan, bahkan sampai sekarang. Bedanya, bila
zaman SMA atau kuliah saya hanya bisa memburu nonton konser musik rock di
Jogja dan Solo, sekarang saya bisa mengejar nonton sampai ke Jakarta atau
Singapura. Hitung-hitung refreshing lah. Masak ngurusi pekerjaan terus,
kan, pusing. Kalau bisa pun, saya ingin mengundang grup musik rock ke Solo.
Saya ingin nonton pertunjukan mereka bersama masyarakat Solo.
Begitu kesengsemnya pada musik rock, dulu saya juga pernah ikut-ikutan
memanjangkan rambut hingga sepunggung. Biar keren seperti para pemusik
idola saya. Foto masa muda saya yang berambut gondrong juga masih saya
simpan. Tapi maaf, ya, saya tidak mau mempublikasikannya kendati sudah
banyak media yang meminta. Malu, ah! Sekarang kalau ingat masa-masa
gondrong itu, saya suka jadi malu sendiri. Anak sulung saya sempat ikut-
ikutan gondrong seperti saya di masa muda. Anehnya, saat melihat dia
gondrong, saya kok, jadi jijik, ya, ha ha ha.
Bila ada yang bertanya kenapa saya suka musik rock, ini jawabannya. Musik
rock atau musik metal itu memberi semangat. Yang namanya pemimpin, ya,
harus seperti itu. Harus berani mendobrak, memberi semangat kepada
rakyatnya. Jangan sampai pemimpin lagunya mellow . Bukan berarti saya tidak
suka musik klenengan dan keroncong, lho. Saya juga suka. Nyatanya saya
sekarang terpilih jadi Pembina Hamkri (Himpunan Artis Musik Keroncong
Indonesia) Solo. Tapi koleksi musik saya yang terbanyak, ya, musik rock.
Nah, lalu bagaimana gaya pacaran saya dengan ibunya anak-anak? Wah, ya,
tidak bisa pacaran ke mana-mana. Paling banter makan bakso yang murah-murah
saja. Hidup kami dulu, kan, serba sederhana.
Diplomasi Makan Siang
Di awal masa jabatan saya yang pertama, masyarakat Solo belum percaya
kepada saya. Maklum, sosok saya baru saja mereka kenal. Karena itu saya
seringkali saya mengumpulkan masyarakat untuk berdialog guna mendengarkan
aspirasi mereka. Untuk dialog semacam itu, saya lebih suka datang sendiri
dan tidak mewakilkan staf. Kalau diwakilkan lalu, misalnya, staf saya
bermental ABS (asal bapak senang), kan, repot. Bisa keliru ambil keputusan.
Awalnya, dialog selalu berjalan alot. Isinya orang marah-marah dan mencaci.
Kalau dimasukkan hati, ya, sakit dan membuat pusing. Jadi saya dengarkan
dan catat saja apa kemauan mereka. Saya juga punya cara tersendiri untuk
berdialog dan menjalin kepercayaan dengan para pedagang kaki lima (PKL)
yang akan saya relokasi ke tempat yang lebih baik dan nguwongake
(memanusiakan, Red. ) mereka. Itu semua demi melaksanakan janji saya dalam
melakukan penataan kota.
Awalnya, mereka saya undang makan siang di rumah dinas saya. Tidak mudah
meyakinkan para PKL tentang program penataan kota. Hari ini diajak makan
siang, besoknya malah timbul kecurigaan. Spanduk berisi caci-maki
bermunculan di depan rumah. Ada yang bertuliskan "Pertahankan sampai titik
darah penghabisan!" dan disertai bambu runcing. Saya tidak ambil hati.
Malahan saya ajak mereka makan siang lagi.
Saya mengerti kekhawatiran mereka yang di masa lalu sering dibohongi
pemimpinnya. Mereka takut setelah digusur, tempat lama akan saya jadikan
mal. Diplomasi makan siang itu terus saya lakukan hingga jamuan makan yang
ke-54, saya melihat sudah saatnya mengatakan bahwa mereka, ratusan pedagang
klithikan di Banjarsari itu, akan saya relokasi ke tempat yang baru.
Ternyata tidak ada yang membantah.
Kenapa saya memakai 'diplomasi' makan siang? Setiap kepala daerah di mana
pun, kan, punya anggaran untuk menjamu tamu di APBD-nya. Nah, menurut saya
yang namanya tamu kepala daerah itu bukan cuma pejabat tinggi. Pedagang
kaki lima atau pedagang pasar juga tamu saya, jadi mereka berhak saya jamu
makan siang. Kini apabila saya hendak memindahkan pedagang kaki lima atau
pedagang pasar, cukup 3-4 kali makan siang sambil berdialog, semuanya
beres.
Saya memang tidak mau ada penggusuran dengan tindak kekerasan atau
pemukulan seperti di kota lain. Karena itulah, waktu itu saya justru
menempatkan kepala satpol perempuan. Kenapa tidak? Saya ingin menunjukkan
bahwa perempuan juga bisa jadi komandannya satpol. Meskipun posisi itu baru
saja saya ganti laki-laki, he he he.
Terhitung ada 23 lokasi PKL yang saya pindahkan ke tempat yang lebih baik.
Jujur, saya tidak bisa memenuhi semua keinginan mereka. Misalnya mereka
minta pelebaran jalan 9 meter, saya hanya bisa memberi 6 meter. Yang
penting ada komunikasi.
Agar PKL tidak kehilangan pembeli di tempat yang baru, saya memakai cara
unik. Di hari pindahan, saya siapkan 54 truk khusus. Mereka dikirab dengan
baju keraton ke pasar yang baru. Ini sebagai cara promosi agar orang tahu
ada pasar baru yang buka. Yang terpenting, saya ingin ngowongake mereka.
Mengangkat mereka ke level yang lebih baik dengan status yang lebih legal.
Ini, kan, dari informal menjadi formal, tho ? Kini sudah 17 pasar
tradisional yang dibangun kembali.
Masyarakat itu hanya perlu diajak berkomunikasi. Menurut saya, pemimpin
daerah harus mau nungging . Mendengarkan suara akar rumput, mendengarkan
penderitaan masyarakatnya. Keluhan masyarakat itu harus dimengerti agar
mereka tahu posisi kita ada di mana. Saya pun sadar betul, membangun
kepercayaan memang butuh proses. Ini dilihat antara kata dan perbuatan,
jangan cuma ngomong doang. Selama tujuh tahun memimpin Solo, bisa dihitung
dengan jari berapa kali saya pidato. Saya diberi posisi sebagai walikota
untuk bekerja, bukan pidato.
Walikota Teladan
(Berkat gaya kepemimpinannya yang aspiratif, Jokowi menang telak atas
rivalnya Eddy Wirabhumi-Supradi Kertamenawi pada Pemilukada 2010. Ia pun
kembali menjabat sebagai Walikota Solo periode 2010-2015.
Sepanjang perbincangan dengan NOVA, Jokowi memperlihatkan slide suasana
Kota Solo sebelum dan sesudah ditata olehnya. Bagaimana dulu pedagang pasar
tradisional tumpah hingga ke jalan raya. Di bawah komandonya, titik kota
yang dulu kumuh itu berhasil dirapikan dan dibangun pasar yang bersih dan
tertata. Pedagang harus berjualan di dalam pasar tanpa dipungut bayaran,
kecuali retribusi Rp 2.500 per hari.
Jokowi juga memperlihatkan kondisi ruangan pelayanan KTP dan ruang tamu di
kantornya yang semula "berantakan", padahal ia harus mendatangkan investor
ke kotanya. Ruang tamu untuk para investor dan pelayanan KTP itu lantas ia
"sulap" menjadi serupa lobby sebuah bank, ada layar sentuh yang berisi
prosedur dan tata-cara berinvestasi. PNS yang melayani para investor ia
beri seragam jas biru, bukan busana PNS warna cokelat kakhi. Pelayanan KTP
pun dipermudah dan dipercepat.
Selama lima tahun kepemimpinannya Jokowi memenuhi janjinya, bukan saja
menata kota tetapi juga memutus mata rantai kemiskinan dengan meluncurkan
dana untuk biaya pendidikan dan kesehatan. Termasuk program perbaikan gizi
anak serta menekan angka kematian ibu dan anak pasca persalinan. Inovasi
itulah yang akhirnya membuahkan penghargaan sebagai Walikota Teladan dari
Mendagri pada April 2011)
Saya sadar, anak-anak adalah aset masa depan bangsa. Karena itu saya
memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu agar
bisa terus sekolah. Menurut saya, satu-satunya yang bisa memutus tali
kemiskinan adalah pendidikan. Karena itu saya kemudian menawarkan solusi
membuat kartu Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) dari
jenjang SD hingga SMA.
Untuk anak yang memperoleh kartu Platinum, ia akan memperoleh seragam,
buku, beasiswa dan sepatu gratis. Sementara pemegang kartu Gold bisa
membayar sekolah setengahnya saja. Sementara ini memang hanya berlaku untuk
sekolah tertentu karena anggarannya belum cukup, masih diotak-atik. Ada
juga pemegang kartu Silver untuk siswa dari keluarga mampu yang bersekolah
di Kota Solo pada jenjang SD/MI Negeri serta SMP/MTs Negeri dan jenjang
SDLB, SMPLB Negeri dan SMALB Swasta.
Saya juga mengeluarkan kartu Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta
(PKMS). Kartu ini bisa dipakai untuk berobat gratis di 12 rumah sakit dan
17 Puskesmas, termasuk untuk terapi kanker seperti kemoterapi dan cuci
darah. Jenisnya sama, Silver dan Gold. Silver untuk yang miskin "ragu-ragu"
atau tidak jelas kemiskinannya, Gold untuk masyarakat yang sudah jelas
miskin. Kartu PKMS sudah sekitar 4 tahun lalu diluncurkan, sementara kartu
BPMKS baru dua tahun ini.
Dua jenis kartu ini hanya ada di Solo. Biayanya saya ambilkan dari APBD.
Asal tahu saja, ya, dulu untuk jaminan kesehatan anggarannya hanya Rp 1,4
M. Setelah ada kartu, saya siapkan Rp 19 M. Dulu untuk beasiswa pendidikan
hanya ada dana Rp 3,4 M. Sekarang Rp 23 M. Insya Allah cukup.
Saya juga menaruh perhatian khusus pada masalah kesehatan ibu dan anak.
Dulu anggaran untuk perbaikan gizi anak hanya Rp 41 juta, sekarang Rp 1,4
M. Naiknya berapa kali lipat, coba? Saya tahu anak itu masa depan kita,
jadi harus digarap sejak dini, salah satunya dengan program makanan
tambahan di sekolah. Semua sistem ini hanya ribet di awalnya. Setelah
ketemu metodenya dan berjalan, mudah saja.
Itulah sedikit banyak tentang perjalanan hidup joko widodo serta profile
dan biodata Jokowi, semoga dapat menambah pengetahuan para pembaca semua
khususnya tentang Jokowi.
* Dirangkum dari berbagai sumber



Gaya Kepemimpinan Jokowi Bawa Terobosan Politik

Monday, 20 October 2014, 16:00 WIB
Komentar : 0



themarketeers

Walikota Solo Jokowi
A+" Reset " A-
REPUBLIKA.CO.ID,MANADO--Gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo dipredikasi
mampu membawa terobosan politik.

"Gaya komunikasi politik Jokowi berhasil melunakkan para elit politik dari
kalangan koalisi Merah Putih.
Itu pertanda bahwa presiden ketujuh itu memiliki gaya kepemimpinan
tersendiri dalam melakukan terobosan politik," kata pengamat antropologi
politik dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Mahyudin Damis,
Senin (20/10).
Gaya kepemimpinan seperti itu, menurutnya, sangat dibutuhkan bangsa saat
ini setelah masyarakat terbelah dalam Pilpres beberapa waktu lalu.

Jokowi juga dinilainya menyadari betul pentingnya kebersamaan dari para
elit politik dan berbagai elemen bangsa dalam mengatasi permasalahan
politik, hukum, HAM dan lainnya.

Komunikasi politik itu juga menegaskan bahwa Jokowi tidak berada dibawah
bayang-bayang Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri sebagaimana
diasumsikan oleh sebagian publik selama ini.

"Pastilah ibu Megawati sadar betul bahwa pemerintahan Jokowi ke depan akan
mampu membawa bangsa ini semakin maju dan rakyat Indonesia terbebas dari
kemiskinan, kebodohan dan mendapat pelayanan kesehatan dengan memadai,"
kata Mahyudin.



Analisis Komposisi Kabinet Kerja Jokowi-JK

REP " 26 October 2014 " 23:38 Dibaca: 844 Komentar: 0
1
Setelah sempat ditunda, Presiden Jokowi Widodo akhirnya mengumumkan siapa
saja yang terpilih menjadi pembantunya. Ada sejumlah wajah lama yang
mengisi pos kementerian. Ada juga wajah baru yang sebelumnya diprediksi
kuat menduduki posisi menteri.
Komposisi Kabinet Kerja yang baru diumumkan pada Minggu sore (26/10/2014)
menarik untuk dianalisis. Bagaimanapun, komposisi kabinet merupakan jawaban
atas sekian banyak harapan yang diamanahkan rakyat pemilih kepada Jokowi-
JK. Hak prerogatif yang melekat pada Presiden Joko Widodo menempatkan
dirinya sebagai sosok sentral dan strategis dalam menentukan nama-nama yang
kelak diajaknya "bekerja" dalam kabinet.
Terhitung ada delapan menteri perempuan yang dipercaya Jokowi dan JK
sebagai pembantunya. Para perempuan ini datang dari pelbagai latar
belakang. Mulai dari politisi, akademisi, birokrat karir, hingga praktisi
atau pelaku bisnis. Sisi menarik dari menteri perempuan dalam Kabinet Kerja
ini adalah ditunjuknya Yohana Yambise selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak serta Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan
Perikanan. Yohana menjadi perempuan pertama dari Papua yang diberi
kepercayaan duduk di kursi menteri. Adapun Susi menjadi menteri yang hanya
berijazah SMP.
Keputusan Presiden Jokowi menunjuk Susi merupakan terobosan tersendiri.
Jejak akademik sepertinya dikecualikan saat Jokowi melakukan fit and proper
test. Di sini, selaku presiden, Jokowi lebih melihat rekam jejak Susi
sebagai pengusaha bidang perikanan dan penerbangan. Susi memang dikenal
sukses dengan bisnis ikannya yang dilabeli Susi Brand. Kepak bisnisnya juga
diakui lewat Susi Air. Raihan ijazah akademik rupanya tak membatasi ruang
gerak Susi untuk bisa mandiri secara ekonomi.
Unsur keterwakilan
Kabinet Kerja Jokowi dan JK kali ini berasal dari enam unsur, yaitu:
politisi, praktisi, akademisi, birokrat karir, teknokrat, serta
purnawirawan. Jumlah dan persentase keterwakilan unsur bisa dilihat pada
grafik berikut.


Sebanyak 38% pos menteri diisi oleh para politisi. Jumlah ini tergolong
moderat. Porsi para menteri yang datang dari luar politisi lebih dominan.
Persentasenya mencapai 62%. Dengan komposisi ini Presiden Jokowi ingin
menunjukkan kepada publik bahwa dirinya tak sekadar bagi-bagi kursi menteri
kepada Parpol yang mendukungnya. Meski tetap harus diakui skema pembagian
kursi toh harus ada. Mengingat tak ada makan siang yang gratis di ranah
politik.
Jatah kursi menteri untuk masing-masing Parpol
Parpol pendukung jelas mendapat jatah kursi. Hanura dan Nasdem masing-
masing sukses menempatkan dua politisinya. Sementara PDIP dan PKB masing-
masing mengisi empat pos kementerian. Bagi PKB, jatah kursi menteri kali
ini tergolong banyak.
Di atas kertas PKB hanya mendapat empat kursi menteri. Namun dari hasil
penelusuran, ada enam kader NU yang duduk di kabinet. Empat menteri dari
PKB jelas merupakan kader NU. Adapun dua kader NU lainnya adalah Lukman
Hakim Saifuddin selaku Menag dan M. Nasir yang dipercaya sebagai Menristek
dan Pendidikan Tinggi.
Dugaan publik untuk menjadi Puan Maharani sebagai menteri rupanya terbukti.
Putri Megawati yang meraup suara terbanyak di Dapil V Jateng ini mendapat
jatah sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Jabatan Menko ini
merupakan jabatan menteri senior. Di usianya yang tergolong muda, politisi
PDIP ini seolah ditantang bekerja dan berlari bersama Jokowi. Penunjukan
Puan sebagai menteri merupakan langkah politis untuk menunjukkan kiprahnya
yang berdampak pada popularitasnya kelak. Bila selama ini Puan banyak
berada di parlemen, kini Puan berkesempatan menjajal diri di ranah
eksekutif. Muncul tanya, mengapa harus Puan? Tentu para elit PDIP punya
serangkaian alasan penting atas penunjukannya.
Hal mencolok lain dari Kabinet Kerja ini adalah jumlah unsur militer yang
tergolong sedikit. Hanya ada dua menteri yang berstatus purnawirawan.
Yakni, Ryamizard Ryacudu selaku Menhan serta Tedjo Edy Purdjianto yang
dipilih sebagai Menko Polhukam. Jabatan Menhan yang di masa SBY dipegang
oleh sosok sipil kini dikembalikan kepada sosok yang berlatar belakang
militer. Sementara, posisi Menko Polhukam tetap mengandalkan purnwirawan
jenderal.
Wajah lama
Dari ke-34 nama yang dipilih, Presiden Jokowi hanya menyisakan satu menteri
di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dialah Lukman Hakim Saifuddin.
Sesuai perkiraan, Lukman tetap ditugaskan menggawangi Kementerian Agama
atau Kemenag. Pilihan terhadap Lukman sekaligus menepis isu yang sempat
beredar pada masa kampanye. Isu itu menyebut, kelak Menag berasal dari
golongan Syiah jika PDI Perjuangan yang mengendalikan pemerintahan.
Terbukti, isu itu sebatas perkiraan yang tak berujung bukti pada saat
susunan Kabinet Kerja diumumkan.
Selain menyodorkan wajah baru, hadir pula wajah lama dalam Kabinet Jokowi-
JK. Ada tiga nama lama yang dulu pernah mengisi kabinet di era sebelumnya.
Mereka ialah: Khofifah Indar Parawansa, Rini M. Soemarno, dan Sofyan
Djalil. Nama pertama pernah dipercaya menjadi menteri di era pemerintahan
Abdurrahman Wahid-Megawati Soekarno Putri (1999-2001) sebagai Menteri
Negara Pemberdayaan Perempuan. Adapun Rini sempat menjabat sebagai Menteri
Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) di era pemerintahan Megawati-
Hamzah Haz (2001-2004).
Setelah satu dekade lebih absen dari hiruk pikuk pemerintahan, kedua
perempuan ini kembali ke lingkaran kekuasaan dan dipercaya membantu Jokowi-
JK. Rini mendapatkan pos baru sebagai Menteri Negara BUMN. Lulusan Amerika
Serikat dan eksekutif Astra Indonesia ini memang dikenal piawai mengurusi
sektor ekonomi dan perdagangan. Penunjukan Rini sudah diprediksi, mengingat
dialah yang ditunjuk menjadi Ketua Tim Transisi. Artinya, Rini sudah
berkeringat di masa peralihan pemerintahan dari SBY kepada Jokowi.
Di luar itu, Rini Soemarno juga dikenal sangat dekat dengan Ketua Umum PDIP
Megawati Soekarno Putri. Dalam beberapa acara resmi, Rini terlihat selalu
duduk berdekatan dengan Megawati. Saat melawat ke luar negeri, Rini kerap
menemani Megawati yang kala itu menduduki kursi kepresidenan.
Kursi menteri bagi Khofifah tak diperolehnya secara gratis. Di masa
kampanye Pilpres 2014 lalu, Khofifah boleh dibilang merupakan jenderal
lapangan di wilayah Jawa Timur. Massanya tersebar. Maklum, Khofifah adalah
Ketua Umum Muslimat NU. Sebuah organisasi otonom (Ortom) di bawah NU.
Selama ini, Khofifah dikenal sebagai aktivis NU yang mau turun ke bawah
untuk menyapa basis pendukungnya secara langsung.
Kekuatan itulah yang dimanfaatkan untuk menggalang dukungan bagi Jokowi-JK
melalui jejaring pengajian ibu-ibu di kalangan nahdliyin. Keringat yang
menetes dari kerja kerasnya di lapangan, kembali mengantarkan Khofifah
menjadi Menteri Sosial di era Jokowi-JK.
Masuknya kembali nama Sofyan Djalil ke kabinet tidak lepas dari peran Jusuf
Kalla. Sebelum menjabat menteri di era SBY-JK (2004-2009) Sofyan memang
dikenal sebagai aktivis Lembang 9. Keberhasilan JK menjadi Wapres pada 2004
lalu ikut mengantarkan Sofyan sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika
(Oktober 2004 hingga Mei 2007). Gelombang reshuffle kabinet malah
mengantarkan aktivitas Pelajar Islam Indonesia (PII) kelahiran Aceh ini
menjadi Menteri Negara BUMN (2007-2009).
Peran barunya inilah yang memberinya kesempatan bersentuhan langsung dengan
kebijakan ekonomi pemerintah. Selaku Meneg BUMN, Sofyan otomatis menjadi
anggota Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK). Dalam Kabinet Kerja,
Sofyan dipercaya menjadi Menko Perekonomian. Sebuah jabatan menteri senior
yang sebelumnya dijabat oleh Hatta Radjasa.
Di luar keempat nama di atas, ada wajah lama yang sudah surut dari sorotan
media. Dialah Ryamizard Ryacudu. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)
ini sempat dikenal sebagai jenderal tempur. Pungkas menjabat KSAD pada 2004
lalu, sang jenderal ditugaskan sebagai staf ahli Panglima TNI. Padahal
sebelumnya, nama jenderal kelahiran Palembang Sumsel ini sempat
dinominasikan sebagai Panglima TNI. Jabatan panglima batal direngkuh
Ryamizard. Dalam Kabinet Kerja, Ryamizard masuk ke dalam deretan wajah
lama. Selama lima tahun ke depan Ryamizard dipercaya sebagai Menteri
Pertahanan menggantikan Purnomo Yusgiantoro.
Tentu publik berharap, aksi berlari yang dilakukan para menteri yang
ditunjuk Jokowi saat dikenalkan tak berhenti di depan layar kaca semata.
Negara ini butuh orang yang mau bekerja. Mau kerja saja tidak cukup.
Dibutuhkan pula orang-orang jujur yang bernyali mengubah situasi. Selamat
bekerja.
"N"Jabatan "Nama "Unsur "
"o" " " "
"1"Menteri Sekretaris "Pratikno "Akademisi "
" "Negara " " "
"2"Kepala Bappenas "Andrinof Chaniago"Akademisi "
"3"Menko Bidang "Indroyono Soesilo"Birokrat karir "
" "Kemaritiman " " "
"4"Menteri Perhubungan "Ignasius Jonan "Teknokrat "
"5"Menteri Kelautan dan "Susi Pudjiastuti "Praktisi (Pengusaha) "
" "Perikanan " " "
"6"Menteri Pariwisata "Arief Yahya "Teknokrat "
"7"Menteri ESDM "Sudirman Said "Praktisi "
"8"Menko Polhukam "Tedjo Edy "Purnawirawan "
" " "Purdjianto " "
"9"Menteri Dalam Negeri "Tjahjo Kumolo "Politisi PDIP "
"1"Menteri Luar Negeri "Retno Lestari "Birokrat karir "
"0" "Priansari M. " "
"1"Menteri Pertahanan "Ryamizard Ryacudu"Purnawirawan "
"1" " " "
"1"Menteri Hukum dan HAM "Yasonna H Laoly "Politisi PDIP "
"2" " " "
"1"Menteri Kominfo "Rudiantara "Teknokrat "
"3" " " "
"1"Menteri PAN "Yuddy Chrisnandi "Politisi Hanura "
"4" " " "
"1"Menko Perekonomian "Sofyan Djalil "Praktisi "
"5" " " "
"1"Menteri Keuangan "Bambang "Akademisi "
"6" "Brodjonegoro " "
"1"Menteri BUMN "Rini M Soemarno "Praktisi "
"7" " " "
"1"Menteri Koperasi dan "A.A. Gede Ngurah "Politisi PDIP "
"8"UKM "Puspayoga " "
"1"Menteri Perindustrian "Saleh Husin "Politisi Hanura "
"9" " " "
"2"Menteri Perdagangan "Rahmat Gobel "Praktisi (Pengusaha) "
"0" " " "
"2"Menteri Pertanian "Amran Sulaiman "Praktisi (Pengusaha) "
"1" " " "
"2"Menteri Ketenagakerjaan"Hanif Dhakiri "Politisi PKB "
"2" " " "
"2"Menteri PU dan Pera "Basuki "Birokrat karir "
"3" "Hadimuljono " "
"2"Menteri LH & Kehutanan "Siti Nurbaya "Politisi Nasdem "
"4" " " "
"2"Menteri Agraria dan "Ferry Mursyidan "Politisi Nasdem "
"5"Tata Ruang "Baldan " "
"2"Menko Pembangunan MK "Puan Maharani "Politisi PDIP "
"6" " " "
"2"Menteri Agama "Lukman Hakim "Politisi PPP "
"7" "Saifuddin " "
"2"Menteri Kesehatan "Nila F Moeloek "Akademisi "
"8" " " "
"2"Menteri Sosial "Khofifah Indar "Politisi PKB "
"9" "Parawansa " "
"3"Menteri Pemberdayaan "Yohana Yambise "Akademisi "
"0"Perempuan & PA " " "
"3"Menteri Kebudayaan dan "Anies Baswedan "Akademisi "
"1"Dikdasmen " " "
"3"Menristek dan Dikti "M. Nasir "Akademisi "
"2" " " "
"3"Menteri Pemuda dan "Imam Nahrawi "Politisi PKB "
"3"Olahraga " " "
"3"Menteri Desa, PDT dan "Marwan Jafar "Politisi PKB "
"4"Transmigrasi " " "



Analisis Gaya Kepemimpinan Prabowo vs Jokowi

Koran SINDO

Kamis, 5 Juni 2014 12:46 WIB



Pasangan Capres-Cawapres 2014. (SINDOphoto).

MENJELANG Pilpres 2014, kepemimpinan menjadi topik yang menarik untuk
dibahas. Seluruh rakyat Indonesia akan mengambil bagian dalam menentukan
nasib bangsa Indonesia dalam lima tahun ke depan dengan memilih siapa yang
akan menjadi pemimpinnya (baca presiden).

Pada intinya memilih pemimpin adalah memilih karakter. Jika melihat visi
dan misi sudah jelas isinya pasti bagus semua. Karena itu, karakter akan
menjadi pembeda (differentiator) dari seorang pemimpin atas pemimpin
lainnya. Akan ada dua jenis pemilih yaitu pemilih emosional dan rasional.

Pemilih emosional adalah pemilih dengan fanatisme tinggi. Termasuk dalam
kelompok pemilih ini adalah para pendukung fanatik, anggota partai
pendukung, dan kelompok masyarakat akar rumput. Adapun kelompok pemilih
rasional adalah kelompok yang menentukan pilihannya berdasarkan
pertimbangan dan analisis tertentu.

Kelompok ini sering disebut sebagai swing voterkarena pilihan mereka bisa
berubah, bergantung pada analisis dan informasi yang diperoleh tentang
kandidat yang menjadi alternatif pilihannya. Diyakini kelompok pemilih ini
yang akan menjadi penentu kemenangan kandidat yang bertarung pada pilpres
nanti.

Semua pemimpin pasti memiliki karisma. Kendati demikian, latar belakang
budaya, pendidikan, pengalaman, dan wawasan akan membentuk karakter seorang
pemimpin dan menjadikan karisma kepemimpinan yang berbeda antara pemimpin
yang satu dan lain.

Dalam teori kepemimpinan, karisma didefinisikan sebagai kualitas khusus
dari seorang pemimpin yang memiliki tujuan, kekuatan, dan determinasi yang
luar biasa yang membedakannya dari pemimpin lain (Dubrin: 2012).

Karisma mengandung arti yang positif dan menunjukkan kualitas dari seorang
pemimpin yang membuatnya dikehendaki banyak orang untuk dipimpin olehnya.
Dalam hal ini terdapat dua tipe pemimpin karismatik (Dubrin: 2012) yaitu:
Pertama, socialized charismatic, seorang pemimpin yang menggunakan
kekuatannya untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Tipe pemimpin ini biasanya akan membawa nilai-nilai yang dipegang
pengikutnya sejalan dengan nilainilai yang dipegangnya. Kedua, personalized
charismatic, tipe pemimpin yang didominasi tujuan dan visi personalnya.

Tipe pemimpin ini sangat menitikberatkan tujuan dan keyakinan pribadinya
kepada pengikutnya dan dia akan mendukung pengikutnya tersebut untuk
membawanya kepada tujuan dan visi yang diyakininya tersebut. Terlepas dari
kedua jenis pemimpin karismatik tersebut di atas, ada beberapa
karakteristik seorang pemimpin karismatik.

Apa saja karakteristiknya dan di mana keunggulan Prabowo serta Jokowi pada
setiap karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama,
seorang pemimpin karismatik umumnya visionary, dia memiliki gambaran yang
jelas akan dibawa ke mana organisasi yang dia pimpin dan dia tahu bagaimana
untuk mencapainya. Menurut pengamatan saya, Prabowo unggul di aspek ini
dibandingkan Jokowi. Kedua, pemimpin karismatik juga mempunyai kemampuan
yang luar biasa dalam seni berkomunikasi (masterful communication skill).

Untuk memberikan inspirasi kepada pengikutnya, pemimpin karismatik akan
menggunakan bahasa yang penuh variasi dan warna dengan berbagai analogi dan
metafora yang memikat. Lagilagi Prabowo terlihat lebih unggul dibandingkan
Jokowi pada area ini.

Ketiga, karakteristik lain dari pemimpin karismatik adalah kemampuannya
untuk memberi inspirasi dan kepercayaan (ability to inspire and trust).
Pengikutnya sangat mempercayai integritas pemimpin karismatik dan mereka
berani mempertaruhkan kariernya untuk mencapai visi dari pemimpinnya.

Prabowo maupun Jokowi sama- sama unggul di poin ini. Keempat, pemimpin
karismatik juga bisa membuat pengikutnya merasa yakin dan memiliki
kemampuan (able to make group member feel capable). Ini biasanya dilakukan
dengan memberikan pengikutnya beberapa proyek yang relatif lebih mudah bagi
pengikutnya untuk meraih keberhasilan. Ini akan membangun rasa percaya diri
dan keinginan pengikutnya untuk mendapatkan tugas yang lebih menantang.
Baik Prabowo maupun Jokowi mempunyai keunggulan di area ini.

Kelima, pemimpin karismatik menunjukkan energi yang luar biasa dan selalu
cepat mengambil tindakan (demonstrate energy and action orientation).
Mereka juga menjadi model tentang bagaimana menyelesaikan hal tepat pada
waktunya. Di area ini Jokowi lebih unggul dibandingkan Prabowo.

Banyak contoh yang ditunjukkannya saat menjabat sebagai wali kota Solo
maupun gubernur DKI Jakarta. Keenam, sangat ekspresif dan hangat (emotional
expressiveness and warmth) juga menjadi satu ciri pemimpin karismatik.
Mereka begitu mudah meluapkan ekspresi dan perasaannya, mereka juga sangat
hangat dan penuh perhatian.

Terlihat Jokowi juga unggul pada aspek ini dibandingkan Prabowo. Keluwesan
dan kesederhanaannya sangat memudahkan Jokowi dalam berkomunikasi dan
meluapkan ekspresi kepada masyarakatnya. Ketujuh, suka terhadap tantangan
dan risiko romanticize risk) juga menjadi salah satu ciri yang menonjol
dari pemimpin karismatik.

Tanpa tantangan dan risiko hidup, mereka terasa hampa dan kosong.
Tantangan dan risiko yang membuat kehidupan pemimpin karismatik menjadi
dinamis dan energik. Dengan segala latar belakang pengalaman dan perjalanan
hidupnya, terlihat Prabowo unggul di aspek ini dibandingkan dengan Jokowi.

Segala risiko sudah pernah dihadapi Prabowo, mulai dari peperangan, krisis
politik dan kepemimpinan tingkat nasional, sampai karier militer yang
dipertaruhkan telah dilaluinya. Terbukti Prabowo mampu melampaui semua masa
sulit tersebut hingga saat ini. Kedelapan, pemimpin karismatik juga senang
dengan sesuatu yang tidak biasa.

Segala ide, gagasan, atau strategi yang mereka lontarkan selalu berbeda
dari pendapat umum (unconventional strategies) dan mereka sangat percaya
hal tersebut dapat memberikan sukses baginya dan pengikutnya. Prabowo dan
Jokowi mempunyai keunggulan yang sama di aspek ini.

Kesembilan, keinginan untuk menonjolkan dan mempromosikan diri sendiri
(self-promoting personality) juga menjadi ciri dari pemimpin karismatik.
Mereka selalu ingin menunjukkan kepada pengikutnya betapa pentingnya dia
bagi pengikutnya. Sebagai seorang charismatic personal , Prabowo terlihat
lebih menonjol di aspek ini.

Kesepuluh, karakteristik lainnya adalah kebiasaan untuk menantang dan
menguji rasa percaya diri dari tim atau pengikutnya (courage your self-
confidence) dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Prabowo terlihat
lebih unggul atas Jokowi untuk aspek ini. Jadi siapakah yang akan anda
pilih pada tanggal 9 Juli nanti?

Yang jelas, tidak ada pemimpin yang benar-benar ideal, sama dengan
ungkapan tidak ada manusia yang sempurna. Kendati demikian, biasanya ada
batas-batas tertentu yang bisa ditoleransi oleh para pemilih terhadap
pemimpin-pemimpin mereka atas sedikit kelemahan yang dimiliki oleh
pemimpinnya.

Pada akhirnya apa yang bisa diberikan oleh seorang pemimpin kepada
pengikutnya dan manfaat apa yang dirasakan oleh para pengikutnya atas
kepemimpinan dari pimpinannya yang akan menjadi tolok ukur dan key
performance indicator keberhasilan seorang pemimpin.
Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.