Jenis-jenis perkecambahan

July 21, 2017 | Author: Andik Setyawan | Category: Sains dan Teknologi
Share Embed


Deskripsi Singkat

Jenis-Jenis Perkeczmbhan
LAPORAN PRAKTIKUM


Oleh :
KEL. 5 / GOL. B
1. Andik Setyawan (141510501058)
2. Moh. Abu Amar (141510501087)
3. Chrisman Susanto (141510501188)
4. Miftahul Ulum (141510501164)
5. Firdha Rafiandani (141510501022)
6. Devi Viddhianty (141510501053)






PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
LABORATURIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014




BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman adalah organisme eukariotik multiseluler dengan kemampuan untuk
menghasilkan makanan mereka sendiri dengan proses fotosintesis. Salah satu
ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan pada tanaman
terjadi karena adanya pertambahan ukuran (volume) yang irreversible (tidak
dapat balik) yang disebabkan adanya pertambahan jumlah sel melalui proses
pembelahan sel secara mitosis pada titik tumbuh dan pembesaran dari tiap-
tiap sel. Sedangkan perkembangan merupakan spesialisasi sel sel menjadi
struktur dan fungsi tertentu. Perkembangan tidak dapat dinyatakan dengan
ukuran, tetapi dapat dinyatakan dengan perubahan bentuk dan tingkat
kedewasaan.
Pertambahan ukuran sel pada tanaman merupakan suatu tanda-tanda bahwa
tumbuhan tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dari pertambahan
sel yang menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan pada tanaman terdapat
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Faktor-
faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan suatu tanaman yaitu
faktor eksternal meliputi iklim, edapik, biologis. Sedangkan faktor
internal meliputi ketahan terhadap iklim, laju proses laju fotosintesis,
proses respirasi, proses asimilasi, kapasitas menyimpan cadangan makanan.
Pertumbuhan tanaman diawali dengan terjadinya zygote, terbentuknya
embrio, diikuti dengan pembelahan dan pengembangan sel, sampai terjadinya
proses perkecambahan dari biji. Setelah biji berkecambah, maka seterusnya
tanaman akan tumbuh dan berkembang, pertumbuhan bibit diikuti dengan
pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tanaman. Akhir dari siklus hidup
tanaman ditandai dengan senescence dan akhirnya tanaman akan mati.


1. Tujuan
Untuk memahami dan mengerti jenis-jenis pertumbuhan tanaman dan dapat
membedakan berdasarkan morfologi dan fungsinya.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada materil
sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan
kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari ada menjadi
tidak ada, dari kecil menjadi besar dari sedikit menjadi banyak, dari
sempit menjadi luas, Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif
yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman, terdiri
atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif (Allvanialista, 2013).
Pertumbuhan terjadi selama siklus hidup tanaman yang bersifat tak
terbalikkan (irreversible). Pertambahan besar ataupun bertambahan berat
tanaman atau bagian tanaman akibat adanya penambahan unsur-unsur struktural
yang baru. Peningkatan ukuran tanaman yang tidak akan kembali akibat
pembelahan dan penambahan sel. Perkembangan di artikan sebagai proses
perubahan secara kualitatif atau mengikuti pertumbuhan tanaman/bagian-
bagiannya. (Syamsussabri, 2013)
Pada tanaman, pertumbuhan di mulai dari proses perkecambahan benih
yang berupah biji, Benih adalah bahan genetik yang membawa sifat-sifat
diwariskan melintasi batas batas generasi (Gbadamosi, 2013). Sebutir biji
matang terbungkus oleh lapisan pelindung, yaitu testa, yang pada
permukaannya dijumpai satu lubang kecil, mikropil dan satu lampang (scar),
hilum yang menandakan tempat menempelnya biji pada plasenta di dinding
buah. Di dalam testa terdapat satu tumbuhan embrio dan cadangan makanan
yang tersimpan, baik di luar embrio sebagai endosparma maupun (lebih umum)
di dalam embrio sendiri pada keping biji (Hamdan, 2012). Jika biji
terlempar dari tumbuhan induknya, embrio merupakan dengan ujung akar dan
ujung pucuknya. Embrio tanaman dikotil tersusun atas satu akar muda
(radikula), calon pucuk (plumula), dua daun biji (kotiledon) dan poros
embrio yang karena terdapat di bawah garis tempat kotiledon menempel
disebut hypo. Hipokotil bersambungan dengan dengan radikula di ujung
bawahnya dan plumula di ujung atasnya. (Goldsworty, 1984)
Perkecambahan benih terutama bergantung pada air, oksigen, suhu dan
pada benih tanaman tertentu juga dipengaruhi oleh cahaya. Perkecambahan
dapat terjadi apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi karena
masuknya air kedalam biji melalui proses imbibisi (Mustika, 2010). Kulit
benih yang permeabel memungkinkan air dan gas dapat masuk. Imbibisi
merupakan peristiwa migrasi molekul-molekul air ke suatu zat lain yang
mempunyai pori-pori cukup besar sehingga mampu melewatkan molekul-molekul
air, kemudian molekul air tersebut menetap di dalam zat tersebut. Air
memegang peranan yang terpenting dalam proses perkecambahan biji karena
merupakan salah satu faktor untuk berlangsungnya proses perkecambahan.
Proses imbibisi air oleh benih sangat dipengaruhi oleh komposisi kimia
benih, permeabilitas benih dan jumlah air yang tersedia, baik air dalam
bentuk cairan maupun uap air disekitar benih. (Juhanda, dkk, 2013)
Pada dasarnya proses imbibisi yang terjadi di dalam biji tumbuhan
meliputi dua proses yang berjalan bersama-sama yaitu proses difusi dan
osmosis. Dikatakan proses difusi karena air bergerak dari larutan yang
lebih rendah konsentrasinya di luar biji, masuk ke dalam zat di dalam biji
yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi sedangkan proses osmosis tidak lain
terjadi karena kulit biji bersifat permeabel terhadap molekul-molekul,
sehingga air dapat masuk ke dalam biji melalui pori-pori yang ada di dalam
kulit biji. Pada Imbibisi tidak ada keterlibatan membran, seperti pada
osmosis. Imbibisi terjadi karena permukaan struktur-struktur mikroskopik
dalam sel tumbuhan seperti selulosa, butir pati, protein dan bahan lainnya
menarik dan memegang molekul-molekul air dengan gaya tarik antar molekul.
Dengan kata lain imbibisi terjadi oleh potential matrik (Asaf, 2014)
Apabila proses imbibisi sudah optimal, dimulailah perkecambahan. Pada
kondisi pertubuhan yang cocok, satu biji yang hidup akan berkecambah dan
menghasilkan satu tumbuhan muda atau kecambah. Gejala luar pertaman dari
kecambah adalah pecahnya testa di daerah mikropil dan dari situ muncul
radikula yang kemudan menancap ke tanah dan tancapan menjadi kuat dengan
munculnya rambut akar (Jalaluddin 2011), Perkecambahan dan pertumbuhan biji
adalah tahapan yang paling rentan dari tanaman. Pada waktu yang bersamaan
ketika radikula timbul, mulailah pertumbuhan aktif pada bagian embrio
lainnya. Jika bagian yang tumbuh ini adalah hipokotil, plumula dan
kotiledon yang masih terbungkus testa akan terangsang ke atas permukaan
tanah dan kotiledon itu akan segera mengembang sebagai struktur daun
pertama. Sering kali kotiledon itu berubah menjadi hijau dan berfungsi
sebagai daun yang berfotosintesis. (Seyed Nader, 2013). kotiledon kecambah
jarak menjadi sangat besar dan tampak seperti daun sejati. Pada beberapa
biji endosparma, misalnya kacang buncis (phaseolus vulgaris), kotiledonnya
terisi penuh oleh cadangan makanan yang tersimpan, sehingga pada waktu
cadangan makanan ini habis, kecambah telah cukup pertumbuhannya, sehingga
dapat berdiri sendiri dan kotiledon ini layu serta rontok. (Erma, 2010).
Berdasarkan letak kotiledonnya, perkecambahan dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu epigeal dan hipogeal. Tipe perkecambahanya yang hipokotilnya
memanjang dikatakan perkecambahan epigeal (di atas tanah), sebab
kotiledonnya terangkat ke atas permukaan tanah. Perkecambahan kacang uci
(Vigna unguiculata), jarak dan labu adalah contoh-contoh perkecambahan
epigeal. Sebaliknya jika bagian tumbuh aktif ketika radikula muncul ialah
epikotil (yaitu poros batang dari plumula yang berada di atas kotiledon
tetapi di dawah daun sejati pertama) seperti pada hiris atau gude (cajanus
cajan) dan citrus spp., kotiledon tetap berada di bawah tanah. Sebelum
plumula mencapai permukaan tanah, kotiledon membungkuk ke bawah seperti
kail, sehingga meristem pucuknya yang rapuh itu terarah kebawah dan
terhindar dari gesekkan denagn pertikel tanah. Ketika sampai ke permukaan
tanah, plumula itu meluruskan diri dan tumbuh menjadi pucuk kotiledonnya
mengerut ketika kandungan makanan habis. Tipe perkecambaha yang epikotilnya
memanjang di sebut hipogeal (di bawah tanah). Perkecambahan hipogeal
mungkin jarang dijumpai dari pada perkecambahan epigeal. (Loveless, 1983)
Perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi:
tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat
perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen,
dan cahaya. (Panahi, 2012). Dormansi adalah suatu keadaan pertumbuhan yang
tertunda atau keadaan istirahat, merupakan kondisi yang berlangsung selama
suatu periode yang tidak terbatas walaupun berada dalam keadaan yang
menguntungkan untuk perkecambahan, dormansi terjadi disebabkan oleh faktor
luar (eksternal) dan faktor dalam (internal). Faktor-faktor yang
menyebabkan dormansi pada biji adalah tidak sempurnanya embrio (rudimetery
embrio), embrio yang belum matang secara fisiologis, kulit biji yang tebal
(tahan terhadap gerakan mekanis), kulit biji impermeable, dan adanya zat
penghambat (inhibitor) untuk perkecambahan. perkembangan kulit biji
impermeabel berpengaruh secara langsung terhadap fase istirahat (dormansi).
Kulit biji impermeabel bagi biji yang sedang mengalami dormansi, dapat
mereduksi kandungan oksigen yang ada dalam biji, sehingga dalam keadaan
anaerobik, terjadi sintesa zat penghambat tumbuh (Indriyati, 2012).


BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu Dan Tempat
Pelaksanaan praktikum fisiologi tumbuhan dilaksanakan pada hari Minggu,
17 september 2014 pada pukul 07.00-selesai. Bertempat di Laboratorium
Fisiologi Tumbuhan, Gedung Jurusan Agronomi, Universitas Jember.


3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Benih tanaman monokotil epigeal (kacang tanah)
2. Benih tanaman monotil hypogeal (jagung)
3. Benih tanaman dikotil epigeal (Kedelai)
4. Benih tanaman dikotil hypogeal (kacang polong)
5. Media tanam (pasir)

3.2.2 Alat
1. Bak perkecambahan
2. Beaker glass
3. Kertas Label
4. Handsprayer

3.3 Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengisi bak perkecambahan dengan bahan tanam hingga ½ bagian dari tinggi
bak perkecambahan
3. Membuat lajur secara berurutan denagn menandai mengunakan kertas label
pada setiap jenis benih dan pengulangannya.
4. Merendam benih pada air dalam beaker glass selama 15 menit.
5. Menanam benih pada bak perkecambahan
6. Melakukan perawatan dan pemeliharaan setiap hari
7. Melakukan pengamatan ahir
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Jenis Pertumbuhan Tanaman Monokotil
No "Jenis Tanaman "UL "Gambar "Panjang Hipokotil (cm) "Panjang Epikotil
(cm) "Panjang Kecambah (cm) " "1 "Jagung
(Tanaman Monokotil Hipogeal) "1 " "3 "- "3,3 " " " "2 " "2,7 "- "3,2 "
" " "3 " "2,7 "1,1 "3,8 " " " "4 " "2 "- "2,5 " " " "5 " "1 "- "1,8 " " "
"6 " "0,6 "0,5 "1,1 " " " "7 " "2,2 "- "2,9 " " " "8 " "2,1 "0,3 "2,4 " " "
"9 " "3,8 "0,2 "4 " " " "1o " "2,4 "0,3 "2,7 " "
Tabel 2. Jenis Pertumbuhan Tanaman Dikotil
No "Jenis Tanaman "UL "Gambar "Panjang Hipokotil (cm) "Panjang Epikotil
(cm) "Panjang Kecambah (cm) " "1 "Kacang Polong
(Tanaman Dikotil epigeal) "1 " "28 "3 "34 " " " "2 " "6 "- "8,5 " " "
"3 " "28,8 "4,5 "33,3 " " " "4 " "8,1 "- "10,6 " " " "5 " "7 "- "8,8 " " "
"6 " "6,6 "- "7,7 " " " "7 " "4,8 "- "6,3 " " " "8 " "1,7 "- "3,2 " " " "9
" "6,7 "- "7,9 " " " "10 " "3,6 "- "4,7 " "2 "Kacang Tanah (Tanaman Dikotil
Epigeal) "1 " "3,1 "- "4,3 " " " "2 " "3,2 "- "4,0 " " " "3 " "2,2 "-
"3,7 " " " "4 " "0,5 "- "1,8 " " " "5 " "2,5 "- "3,7 " " " "6 " "1,8 "- "3
" " " "7 " "0,9 "- "2,3 " " " "8 " "3,1 "- "4 " " " "9 " "2,1 "- "3,3 " " "
"10 " "2,1 "- "3,4 " "3 "Kedelai (Tanaman Dikotil Epigeal) "1 " "10,3
"- "11,5 " " " "2 " "5,4 "- "6,6 " " " "3 " "0,6 "- "1,6 " " " "4 " "1,2 "-
"2,4 " " " "5 " "5,7 "- "6,7 " " " "6 " "11,3 "- "12,5 " " " "7 " "- "- "-
" " " "8 " "- "- "- " " " "9 " "- "- "- " " " "10 " "1,2 "- "2,3 " "
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Data
Berdasarkan hasil data yang diperoleh dari praktikum, dapat diketahui
bahwa komoditas yang digunakan sebagai bahan praktikum tentang jenis-jenis
pertumbuhan tanaman terdiri dari tanaman dikotil dan monokotil. Dari masing-
masing komoditas tersebut dilakukan 10 ulangan. Tanaman monokotil yang
digunakan pada praktikum adalah tanaman dengan tipe perkecambahan hipogeal,
yaitu jagung.
Pada perkecambahan jagung bagian tumbuh yang aktif ketika radikula
muncul adalah epikotil (yaitu poros batang dari plumula yang berada di atas
kotiledon tetapi di dawah daun sejati pertama). kotiledon tetap berada di
bawah tanah. Sebelum plumula mencapai permukaan tanah, kotiledon membungkuk
ke bawah seperti kail, sehingga meristem pucuknya yang rapuh itu terarah
kebawah dan terhindar dari gesekkan dengan partikel tanah. Ketika sampai
ke permukaan tanah, plumula itu meluruskan diri dan tumbuh menjadi pucuk
kotiledonnya mengerut ketika kandungan makanan habis (Loveless, 1983).
Sepuluh biji yang ditanam masing-masing pertumbuhan kecambahnya mengalami
perbedaan, perkecambahan yang paling tinggi adalah pada ulangan ke 9.
Ulangan ke 9 panjang hipokotil 3,8 cm, panjang epikotil 0,2 cm. Pada
ulangan 1,2,3,4,5,6,7,8,10 benih tetap tumbuh, tetapi tidak maksimal. Benih
yang tidak tumbuh atau tumbuh degan kurang baik dikarenakan lemah pada
proses penyerapan terutama pada media tumbuh di sekitarnya (Anisa, 2011).
Pada tabel yang kedua jenis tanaman yang termasuk tanaman dikotil
dengan tipe perkecambahan epigeal adalah tanaman kacang polong, kacang
tanah dan kedelai. Merupakan perkecambahan epigeal karena hipokotilnya
memanjang, sehingga kotiledonnya terangkat ke atas permukaan tanah
(Loveless, 1983). Pada perkecambahan benih kacang polong kecambah yang
tumbuh normal hanya pada ulangan 1 dan 3. Ulangan ke 1 panjang hipokotil 28
cm, panjang epikotil 3 cm. Ulangan ke 3 dengan panjang hipokotil 28,8 cm,
panjang epikotil 4,5 cm. sedang panjang kecambah terpendek pada ulangan ke
10 dengan panjang hipokotil 3,6 cm, epikotil tidak tumbuh. Pada ulangan ke
2,4,5,6,7,8 hanya hipokotilnya saja yang tumbuh. Itu menunjukkan bahwa
tanaman yang tumbuh normal hanya pada ulangan ke 1 dan 3.
Pada perkecambahan jenis tanaman kacang tanah pertumbuhan hanya terjadi
pada hipokotilnya. kecambah terpanjang adalah pada ulangan ke 2 dengan
panjang hipokotil 3,2 cm, panjang epikotil 0. Pertumbuhan kecambah tersebut
menunjukkan bahwa keseluruhan dari biji tanaman kacang tanah mulai dari
ulangan ke 1 sampai ke 10 tidak ada yang mampu tumbuh dengan baik karena
hanya hipokotilnya saja yang tumbuh. Pada pertumbuhan kecambah biji kedelai
pertumbuhan kecambah terpanjang adalah pada ulangan ke 6 dengan panjang
hipokotil 11,3 cm, panjang epikotil 0. Pertumbuhan pada tanaman kedelai
sama dengan kacang tanah yang hanya tumbuh pada hipokotilnya saja. Meskipun
kacang tanah dan kedelai mampu berkecambah hampir semuanya tetapi
pertumbuhannya tidak sebaik kacang polong. Berdasarkan tabel 2, meskipun
sudah selama satu minggu namun semua epikotil dari kacang tanah dan kedelai
belum tumbuh.
Benih dari jenis tanaman jagung, kacang polong, kacang tanah, dan
kedelai yang dalam proses penanaman dan pemeliharaannya sama dengan waktu
dan media tanam yang sama, menghasilkan pertumbuhan kecambah yang berbeda.
Hal itu menujukkan Perbedaan pada proses perkecambahan dipengaruhi oleh
kualitas dari benih yang ditanam itu sendiri. Benih dengan ukuran cukup
besar dan berisi (Bernas) memiliki kemampuan menyerap air lebih baik di
bandingkan benih yang lebih kecil dan tidak berisi sehingga proses
perkecambahannya akan lebih cepat, selain itu jumlah cadangan makanan yang
terdapat didalam biji mempengaruhi pertumbuhan plumula dan radikulannya.
Semakin banyak cadangan makanan yang terdapat didalamnya maka akan semakin
mempercepat proses perkecambahannya atau mempercepat pertumbuhan plumula
dan radikula tersebut.


4.2.3 Proses Fisiologis Perkecambahan
Proses perkecambahan secara fisiologi melalui 3 tahapan yaitu imbibisi,
pengaktifan proses metabolisme, dan perkecambahan. Imbibisi, proses
imbibisi dilakukan dengan cara merendam biji pada air dalam waktu beberapa
menit, imbibisi dilakukan untuk melunakkan kulit biji dan mempercepat
pengembangan embrio dan endosperm, dalam tahap ini kadar air yang semula 25-
35 % naik menjadi 50-60 %, hal ini mengakibatkan pecahnya kulit biji,
selain itu sebagai fasilitas masuknya oksigen ke dalam biji, biji yang
berkecambah memerlukan suhu
10-40 0C. Pengaktifan proses metabolisme, Peningkatan laju respirasi akibat
imbibisi akan mengaktifkan enzim-enzim yang terdapat didalamnya sehinga
terjadi proses perombakan makanan (katabolisme). Enzim-enzim yang berperan
adalah enzim hidrolitik seperti: α amylase dan β amylase yang mertombak
pati menjadi gula (glukosa, fruktosa, dan sukrosa), ribonuklease yang
merombak ribonukleotida endo-α-glukanase, glukan fosfatase yang merombak
senyawa yang mengandung P, lipase yang merombak lemak menjadi glycerine dan
asam lemak, dan protease yang merombak senyawa protein menjadi asam amino.
Proses perombakan makanan melalui dua proses yaitu katabolisme karbohidrat
dan metabolisme lemak. Katabolisme karbohidrot bertujuan untuk membentuk
protoplasma dan organel sel baru. Metabolisme lemak bertujuan untuk
merombak enzim lipase dan enzim lainnya sehingga mendorong inisiasi
pertumbuhan embrio (Aprilya, 2011).
Perkecambahan, merupakan tahapan yang terjadi pada akhir tahap
pengaktifan. Tahapan ini merupakan akibat dari proses pembentukan sel-sel
baru pada embrio, yang akan diikuti proses deferensiasi sel-sel, sehingga
terbentuk plumula yang merupakan bakal batang dan daun, serta radikula yang
merupakan bakal akar. Kedua bagian ini akan bertambah besar. Benih padi
dikatakan telah berkecambah apabila radikula telah tampak keluar menembus
koleorhiza diikuti oleh munculnya koleoptil yang membungkus daun, Dalam
keadaan terendam, maka yang muncul lebih dahulu adalah koleoptil dan
kemudian diikuti oleh koleorhiza (manurung, 2009).

4.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan
Perkecambahan suatu tanaman tidak lepas oleh pengaruh beberapa faktor,
diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
berhubungan dengan kondisi benih yang dikecambahkan, sedangkan faktor
eksternal lebih berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat tumbuh tanaman
itu sendiri. Faktor internal meliputi :
Tingkat kemasakan benih, Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan
fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum
memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum
sempurna. Ukuran benih, Benih yang berukuran besar dan berat mengandung
cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil.
Dormansi, Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup
tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum
dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan. Penghambat
perkecambahan, penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran
inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan
nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik
atau menghambat laju respirasi (Soetopo, 2010).
Faktor eksternal yang mempengaruhi proses perkecambahan suatu tanaman
antara lain air, suhu, oksigen, cahaya, dan medium. air merupakan syarat
penting berlangsungnya perkecambahan. Pertumbuhan benih tidak akan dimulai
bila air yang terserap masuk kedalam benih belum mencapai 80% sampai 90%
serata dibutuhkan kadar air benih 30% sampai 50%. Suhu, Suhu optimal adalah
yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana
presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu
antara 26.5 sd 35°C.
Oksigen, Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat
disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan
energi panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses
perkecambahan benih.
Cahaya, Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya bervariasi
tergantung pada jenis tanaman. Adapun besar pengaruh cahanya terhadap
perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya
penyinaran. Menurut Adriance and Brison dalam Sutopo (2010) pengaruh cahaya
terhadap perkecambahan benih dapat dibagi atas 4 golongan yaitu golongan
yang memerlukan cahaya mutlak, golongan yang memerlukan cahaya untuk
mempercepat perkecambahan, golongan dimana cahaya dapat menghambat
perkecambahan, serta golongan dimana benih dapat berkecambah baik pada
tempat gelap maupun ada cahaya. Medium, Medium yang baik untuk
perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai
kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama
cendawan. Pengujian viabilitas benih dapat digunakan media antara lain
substrat kertas, pasir dan tanah.


BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pengamatan di ketahui bahwa perkecambahan di dasarkan
letak kotiledonnya di bagi menjadi 2 : Hipogeal (jagung) dan Epigeal
(Kacang polong, kacang tanah, kedelai).
2. Proses perkecambahan pada tanaman melalui 3 tahap, yakni: perembesan air
ke dalam benih (imbibisi), pengaktifan proses metabolism dan
perkecambahan.
3. Terdapat perbedaan pertumbuhan diantara biji-biji yang di tanam yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal meliputi Tingkat kemasakan benih, ukuran
benih, dormasi, penghambat kecambah. sedangkan faktor eksternal meliputi
air, cahaya, oksigen, suhu, kelembaban dan media tanam.


2. Saran
Praktikan atau mahasiswa seharusnya mengetahui dan mencari berbagai
informasi mengenai pertumbuhan suatu tanaman dan proses-proses yang terjadi
didalamnya. Sehingga Masalah-masalah yang terjadi dalam proses pertumbuhan
dapat dicegah jika mengerti proses-proses atau hal-hal yang berkaitan
dengan perkecambahan tanaman. Pengetahuan yang didapat dapat memudahkan
kita dalam membudidayakan suatu tanaman.


DAFTAR PUSTAKA
Adinugraha, Hamdan A., dkk. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Tunas pada
Bibit Nyamplung Hasil Pembiakan Dengan Teknik Sambungan. Pemuliaan
Tanaman Hutan, 6 (2): 2-3.

E. Gbadamosi Alaba. 2013. Germination Biology of Picralima nitida (Stapf)
under Pretreatments. Greener Journal of Biological Sciences, 3(1) : 1-
3.

Goldsworthy, Peter R. and N.M. Fisher. 1984. Fisiologi Tanaman Budaya
Tropik. Terjemahan oleh Ir. Tohari, MSc. Ph.D. dan Dr. Ir.
Soedharoedjian.1992. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Haryanti, Sri. Dkk. 2009. Pengaruh Kolkisin Terhadap Pertumbuhan, Ukuran
Sel, Metafase Dan Kandungan Protein Biji Pada Kacang Hijau. Jurnal
Penelitian Sains Dan Teknologi, 10 (2): 3-4.

Husain, I., dan Rully T. 2012. Pematahan Dormansi Benih Kemiri (Aleurites
moluccana, L. Willd) yang Direndam dengan Zat Pengatur Tumbuh Organik
Basmingro dan Pengaruhnya terhadap Viabilitas Benih . JATT, 1(2): 1-3.

Jalaluddin, M., and Maria H. 2011. Effect of Adding Inorganic, Organic and
Microbial Fertilizers on Seed Germination and Seedling Growth of
Sunflower. Pak. J. Bot, 43(6): 1-3.

Juhanda, Yayuk N., dan Ermawati. 2013. Pengaruh Skarifikasi pada Pola
Imbibisi dan Perkecambahan Benih Saga Manis (Abruss precatorius L.).
Agrotek Tropika, 1(1): 2-3.

Loveless, A.R. 1983. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik
Jilid 2. Terjemahan oleh Kuswata Kartawinata, Ph.D., Sarkat
Danimihardjo, M.Sc. dan Usep Soetisna, Ph.D. 1989. Jakarta: Gramedia.

Masniawati A., dkk. 2013. Identifikasi Cendawan Terbawa pada Benih Padi
Lokal Aromatik Pulu Mandoti, Pulu Pinjan, dan Pare Lambau asal
Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Manasir,1(1):1-2.

Mosavian, Seyed N., and Morteza Eshraghi N. 2013. The effects of seed size
and salinity on seed germination characteristic in wheat (var.
Chamran). International Journal of Farming and Allied Sciences, 2 (2):
1-3.

Panehi, F., at all. 2012. The Effects of Salinity and Temperature on Some
Germination Characteristics of Salsola arbuscula. World Applied
Sciences Journal, 19 (4): 1-2.
Prihastanti, Erma. 2010. Perkecambahan Biji dan Pertumbuhan Semai
Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.). Buletin Anatomi dan
Fisiologi, 18(1):2-3.

Syamsussabri. M. 2012. Konsep Dasar Pertumbuhan Dan Perkembangan Peserta
Didik. perkembangan, 1(1) :1-3.

R. D. Lasmadi, S. S. Malalantang, Rustandi, dan S. D. Anis. 2013.
Pertumbuhan dan Perkembangan Rumput Gajah Dwarf (Pennisetum Purpureum
Cv. Mott) Yang Diberi Pupuk Organik Hasil Fermentasi EM4. Jurnal
Zootek, 32(5): 158-171.


Deskripsi

Jenis-Jenis Perkeczmbhan
LAPORAN PRAKTIKUM


Oleh :
KEL. 5 / GOL. B
1. Andik Setyawan (141510501058)
2. Moh. Abu Amar (141510501087)
3. Chrisman Susanto (141510501188)
4. Miftahul Ulum (141510501164)
5. Firdha Rafiandani (141510501022)
6. Devi Viddhianty (141510501053)






PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
LABORATURIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014




BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman adalah organisme eukariotik multiseluler dengan kemampuan untuk
menghasilkan makanan mereka sendiri dengan proses fotosintesis. Salah satu
ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan pada tanaman
terjadi karena adanya pertambahan ukuran (volume) yang irreversible (tidak
dapat balik) yang disebabkan adanya pertambahan jumlah sel melalui proses
pembelahan sel secara mitosis pada titik tumbuh dan pembesaran dari tiap-
tiap sel. Sedangkan perkembangan merupakan spesialisasi sel sel menjadi
struktur dan fungsi tertentu. Perkembangan tidak dapat dinyatakan dengan
ukuran, tetapi dapat dinyatakan dengan perubahan bentuk dan tingkat
kedewasaan.
Pertambahan ukuran sel pada tanaman merupakan suatu tanda-tanda bahwa
tumbuhan tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dari pertambahan
sel yang menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan pada tanaman terdapat
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Faktor-
faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan suatu tanaman yaitu
faktor eksternal meliputi iklim, edapik, biologis. Sedangkan faktor
internal meliputi ketahan terhadap iklim, laju proses laju fotosintesis,
proses respirasi, proses asimilasi, kapasitas menyimpan cadangan makanan.
Pertumbuhan tanaman diawali dengan terjadinya zygote, terbentuknya
embrio, diikuti dengan pembelahan dan pengembangan sel, sampai terjadinya
proses perkecambahan dari biji. Setelah biji berkecambah, maka seterusnya
tanaman akan tumbuh dan berkembang, pertumbuhan bibit diikuti dengan
pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tanaman. Akhir dari siklus hidup
tanaman ditandai dengan senescence dan akhirnya tanaman akan mati.


1. Tujuan
Untuk memahami dan mengerti jenis-jenis pertumbuhan tanaman dan dapat
membedakan berdasarkan morfologi dan fungsinya.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada materil
sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan
kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari ada menjadi
tidak ada, dari kecil menjadi besar dari sedikit menjadi banyak, dari
sempit menjadi luas, Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif
yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman, terdiri
atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif (Allvanialista, 2013).
Pertumbuhan terjadi selama siklus hidup tanaman yang bersifat tak
terbalikkan (irreversible). Pertambahan besar ataupun bertambahan berat
tanaman atau bagian tanaman akibat adanya penambahan unsur-unsur struktural
yang baru. Peningkatan ukuran tanaman yang tidak akan kembali akibat
pembelahan dan penambahan sel. Perkembangan di artikan sebagai proses
perubahan secara kualitatif atau mengikuti pertumbuhan tanaman/bagian-
bagiannya. (Syamsussabri, 2013)
Pada tanaman, pertumbuhan di mulai dari proses perkecambahan benih
yang berupah biji, Benih adalah bahan genetik yang membawa sifat-sifat
diwariskan melintasi batas batas generasi (Gbadamosi, 2013). Sebutir biji
matang terbungkus oleh lapisan pelindung, yaitu testa, yang pada
permukaannya dijumpai satu lubang kecil, mikropil dan satu lampang (scar),
hilum yang menandakan tempat menempelnya biji pada plasenta di dinding
buah. Di dalam testa terdapat satu tumbuhan embrio dan cadangan makanan
yang tersimpan, baik di luar embrio sebagai endosparma maupun (lebih umum)
di dalam embrio sendiri pada keping biji (Hamdan, 2012). Jika biji
terlempar dari tumbuhan induknya, embrio merupakan dengan ujung akar dan
ujung pucuknya. Embrio tanaman dikotil tersusun atas satu akar muda
(radikula), calon pucuk (plumula), dua daun biji (kotiledon) dan poros
embrio yang karena terdapat di bawah garis tempat kotiledon menempel
disebut hypo. Hipokotil bersambungan dengan dengan radikula di ujung
bawahnya dan plumula di ujung atasnya. (Goldsworty, 1984)
Perkecambahan benih terutama bergantung pada air, oksigen, suhu dan
pada benih tanaman tertentu juga dipengaruhi oleh cahaya. Perkecambahan
dapat terjadi apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi karena
masuknya air kedalam biji melalui proses imbibisi (Mustika, 2010). Kulit
benih yang permeabel memungkinkan air dan gas dapat masuk. Imbibisi
merupakan peristiwa migrasi molekul-molekul air ke suatu zat lain yang
mempunyai pori-pori cukup besar sehingga mampu melewatkan molekul-molekul
air, kemudian molekul air tersebut menetap di dalam zat tersebut. Air
memegang peranan yang terpenting dalam proses perkecambahan biji karena
merupakan salah satu faktor untuk berlangsungnya proses perkecambahan.
Proses imbibisi air oleh benih sangat dipengaruhi oleh komposisi kimia
benih, permeabilitas benih dan jumlah air yang tersedia, baik air dalam
bentuk cairan maupun uap air disekitar benih. (Juhanda, dkk, 2013)
Pada dasarnya proses imbibisi yang terjadi di dalam biji tumbuhan
meliputi dua proses yang berjalan bersama-sama yaitu proses difusi dan
osmosis. Dikatakan proses difusi karena air bergerak dari larutan yang
lebih rendah konsentrasinya di luar biji, masuk ke dalam zat di dalam biji
yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi sedangkan proses osmosis tidak lain
terjadi karena kulit biji bersifat permeabel terhadap molekul-molekul,
sehingga air dapat masuk ke dalam biji melalui pori-pori yang ada di dalam
kulit biji. Pada Imbibisi tidak ada keterlibatan membran, seperti pada
osmosis. Imbibisi terjadi karena permukaan struktur-struktur mikroskopik
dalam sel tumbuhan seperti selulosa, butir pati, protein dan bahan lainnya
menarik dan memegang molekul-molekul air dengan gaya tarik antar molekul.
Dengan kata lain imbibisi terjadi oleh potential matrik (Asaf, 2014)
Apabila proses imbibisi sudah optimal, dimulailah perkecambahan. Pada
kondisi pertubuhan yang cocok, satu biji yang hidup akan berkecambah dan
menghasilkan satu tumbuhan muda atau kecambah. Gejala luar pertaman dari
kecambah adalah pecahnya testa di daerah mikropil dan dari situ muncul
radikula yang kemudan menancap ke tanah dan tancapan menjadi kuat dengan
munculnya rambut akar (Jalaluddin 2011), Perkecambahan dan pertumbuhan biji
adalah tahapan yang paling rentan dari tanaman. Pada waktu yang bersamaan
ketika radikula timbul, mulailah pertumbuhan aktif pada bagian embrio
lainnya. Jika bagian yang tumbuh ini adalah hipokotil, plumula dan
kotiledon yang masih terbungkus testa akan terangsang ke atas permukaan
tanah dan kotiledon itu akan segera mengembang sebagai struktur daun
pertama. Sering kali kotiledon itu berubah menjadi hijau dan berfungsi
sebagai daun yang berfotosintesis. (Seyed Nader, 2013). kotiledon kecambah
jarak menjadi sangat besar dan tampak seperti daun sejati. Pada beberapa
biji endosparma, misalnya kacang buncis (phaseolus vulgaris), kotiledonnya
terisi penuh oleh cadangan makanan yang tersimpan, sehingga pada waktu
cadangan makanan ini habis, kecambah telah cukup pertumbuhannya, sehingga
dapat berdiri sendiri dan kotiledon ini layu serta rontok. (Erma, 2010).
Berdasarkan letak kotiledonnya, perkecambahan dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu epigeal dan hipogeal. Tipe perkecambahanya yang hipokotilnya
memanjang dikatakan perkecambahan epigeal (di atas tanah), sebab
kotiledonnya terangkat ke atas permukaan tanah. Perkecambahan kacang uci
(Vigna unguiculata), jarak dan labu adalah contoh-contoh perkecambahan
epigeal. Sebaliknya jika bagian tumbuh aktif ketika radikula muncul ialah
epikotil (yaitu poros batang dari plumula yang berada di atas kotiledon
tetapi di dawah daun sejati pertama) seperti pada hiris atau gude (cajanus
cajan) dan citrus spp., kotiledon tetap berada di bawah tanah. Sebelum
plumula mencapai permukaan tanah, kotiledon membungkuk ke bawah seperti
kail, sehingga meristem pucuknya yang rapuh itu terarah kebawah dan
terhindar dari gesekkan denagn pertikel tanah. Ketika sampai ke permukaan
tanah, plumula itu meluruskan diri dan tumbuh menjadi pucuk kotiledonnya
mengerut ketika kandungan makanan habis. Tipe perkecambaha yang epikotilnya
memanjang di sebut hipogeal (di bawah tanah). Perkecambahan hipogeal
mungkin jarang dijumpai dari pada perkecambahan epigeal. (Loveless, 1983)
Perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi:
tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat
perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen,
dan cahaya. (Panahi, 2012). Dormansi adalah suatu keadaan pertumbuhan yang
tertunda atau keadaan istirahat, merupakan kondisi yang berlangsung selama
suatu periode yang tidak terbatas walaupun berada dalam keadaan yang
menguntungkan untuk perkecambahan, dormansi terjadi disebabkan oleh faktor
luar (eksternal) dan faktor dalam (internal). Faktor-faktor yang
menyebabkan dormansi pada biji adalah tidak sempurnanya embrio (rudimetery
embrio), embrio yang belum matang secara fisiologis, kulit biji yang tebal
(tahan terhadap gerakan mekanis), kulit biji impermeable, dan adanya zat
penghambat (inhibitor) untuk perkecambahan. perkembangan kulit biji
impermeabel berpengaruh secara langsung terhadap fase istirahat (dormansi).
Kulit biji impermeabel bagi biji yang sedang mengalami dormansi, dapat
mereduksi kandungan oksigen yang ada dalam biji, sehingga dalam keadaan
anaerobik, terjadi sintesa zat penghambat tumbuh (Indriyati, 2012).


BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu Dan Tempat
Pelaksanaan praktikum fisiologi tumbuhan dilaksanakan pada hari Minggu,
17 september 2014 pada pukul 07.00-selesai. Bertempat di Laboratorium
Fisiologi Tumbuhan, Gedung Jurusan Agronomi, Universitas Jember.


3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Benih tanaman monokotil epigeal (kacang tanah)
2. Benih tanaman monotil hypogeal (jagung)
3. Benih tanaman dikotil epigeal (Kedelai)
4. Benih tanaman dikotil hypogeal (kacang polong)
5. Media tanam (pasir)

3.2.2 Alat
1. Bak perkecambahan
2. Beaker glass
3. Kertas Label
4. Handsprayer

3.3 Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengisi bak perkecambahan dengan bahan tanam hingga ½ bagian dari tinggi
bak perkecambahan
3. Membuat lajur secara berurutan denagn menandai mengunakan kertas label
pada setiap jenis benih dan pengulangannya.
4. Merendam benih pada air dalam beaker glass selama 15 menit.
5. Menanam benih pada bak perkecambahan
6. Melakukan perawatan dan pemeliharaan setiap hari
7. Melakukan pengamatan ahir
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Jenis Pertumbuhan Tanaman Monokotil
No "Jenis Tanaman "UL "Gambar "Panjang Hipokotil (cm) "Panjang Epikotil
(cm) "Panjang Kecambah (cm) " "1 "Jagung
(Tanaman Monokotil Hipogeal) "1 " "3 "- "3,3 " " " "2 " "2,7 "- "3,2 "
" " "3 " "2,7 "1,1 "3,8 " " " "4 " "2 "- "2,5 " " " "5 " "1 "- "1,8 " " "
"6 " "0,6 "0,5 "1,1 " " " "7 " "2,2 "- "2,9 " " " "8 " "2,1 "0,3 "2,4 " " "
"9 " "3,8 "0,2 "4 " " " "1o " "2,4 "0,3 "2,7 " "
Tabel 2. Jenis Pertumbuhan Tanaman Dikotil
No "Jenis Tanaman "UL "Gambar "Panjang Hipokotil (cm) "Panjang Epikotil
(cm) "Panjang Kecambah (cm) " "1 "Kacang Polong
(Tanaman Dikotil epigeal) "1 " "28 "3 "34 " " " "2 " "6 "- "8,5 " " "
"3 " "28,8 "4,5 "33,3 " " " "4 " "8,1 "- "10,6 " " " "5 " "7 "- "8,8 " " "
"6 " "6,6 "- "7,7 " " " "7 " "4,8 "- "6,3 " " " "8 " "1,7 "- "3,2 " " " "9
" "6,7 "- "7,9 " " " "10 " "3,6 "- "4,7 " "2 "Kacang Tanah (Tanaman Dikotil
Epigeal) "1 " "3,1 "- "4,3 " " " "2 " "3,2 "- "4,0 " " " "3 " "2,2 "-
"3,7 " " " "4 " "0,5 "- "1,8 " " " "5 " "2,5 "- "3,7 " " " "6 " "1,8 "- "3
" " " "7 " "0,9 "- "2,3 " " " "8 " "3,1 "- "4 " " " "9 " "2,1 "- "3,3 " " "
"10 " "2,1 "- "3,4 " "3 "Kedelai (Tanaman Dikotil Epigeal) "1 " "10,3
"- "11,5 " " " "2 " "5,4 "- "6,6 " " " "3 " "0,6 "- "1,6 " " " "4 " "1,2 "-
"2,4 " " " "5 " "5,7 "- "6,7 " " " "6 " "11,3 "- "12,5 " " " "7 " "- "- "-
" " " "8 " "- "- "- " " " "9 " "- "- "- " " " "10 " "1,2 "- "2,3 " "
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Data
Berdasarkan hasil data yang diperoleh dari praktikum, dapat diketahui
bahwa komoditas yang digunakan sebagai bahan praktikum tentang jenis-jenis
pertumbuhan tanaman terdiri dari tanaman dikotil dan monokotil. Dari masing-
masing komoditas tersebut dilakukan 10 ulangan. Tanaman monokotil yang
digunakan pada praktikum adalah tanaman dengan tipe perkecambahan hipogeal,
yaitu jagung.
Pada perkecambahan jagung bagian tumbuh yang aktif ketika radikula
muncul adalah epikotil (yaitu poros batang dari plumula yang berada di atas
kotiledon tetapi di dawah daun sejati pertama). kotiledon tetap berada di
bawah tanah. Sebelum plumula mencapai permukaan tanah, kotiledon membungkuk
ke bawah seperti kail, sehingga meristem pucuknya yang rapuh itu terarah
kebawah dan terhindar dari gesekkan dengan partikel tanah. Ketika sampai
ke permukaan tanah, plumula itu meluruskan diri dan tumbuh menjadi pucuk
kotiledonnya mengerut ketika kandungan makanan habis (Loveless, 1983).
Sepuluh biji yang ditanam masing-masing pertumbuhan kecambahnya mengalami
perbedaan, perkecambahan yang paling tinggi adalah pada ulangan ke 9.
Ulangan ke 9 panjang hipokotil 3,8 cm, panjang epikotil 0,2 cm. Pada
ulangan 1,2,3,4,5,6,7,8,10 benih tetap tumbuh, tetapi tidak maksimal. Benih
yang tidak tumbuh atau tumbuh degan kurang baik dikarenakan lemah pada
proses penyerapan terutama pada media tumbuh di sekitarnya (Anisa, 2011).
Pada tabel yang kedua jenis tanaman yang termasuk tanaman dikotil
dengan tipe perkecambahan epigeal adalah tanaman kacang polong, kacang
tanah dan kedelai. Merupakan perkecambahan epigeal karena hipokotilnya
memanjang, sehingga kotiledonnya terangkat ke atas permukaan tanah
(Loveless, 1983). Pada perkecambahan benih kacang polong kecambah yang
tumbuh normal hanya pada ulangan 1 dan 3. Ulangan ke 1 panjang hipokotil 28
cm, panjang epikotil 3 cm. Ulangan ke 3 dengan panjang hipokotil 28,8 cm,
panjang epikotil 4,5 cm. sedang panjang kecambah terpendek pada ulangan ke
10 dengan panjang hipokotil 3,6 cm, epikotil tidak tumbuh. Pada ulangan ke
2,4,5,6,7,8 hanya hipokotilnya saja yang tumbuh. Itu menunjukkan bahwa
tanaman yang tumbuh normal hanya pada ulangan ke 1 dan 3.
Pada perkecambahan jenis tanaman kacang tanah pertumbuhan hanya terjadi
pada hipokotilnya. kecambah terpanjang adalah pada ulangan ke 2 dengan
panjang hipokotil 3,2 cm, panjang epikotil 0. Pertumbuhan kecambah tersebut
menunjukkan bahwa keseluruhan dari biji tanaman kacang tanah mulai dari
ulangan ke 1 sampai ke 10 tidak ada yang mampu tumbuh dengan baik karena
hanya hipokotilnya saja yang tumbuh. Pada pertumbuhan kecambah biji kedelai
pertumbuhan kecambah terpanjang adalah pada ulangan ke 6 dengan panjang
hipokotil 11,3 cm, panjang epikotil 0. Pertumbuhan pada tanaman kedelai
sama dengan kacang tanah yang hanya tumbuh pada hipokotilnya saja. Meskipun
kacang tanah dan kedelai mampu berkecambah hampir semuanya tetapi
pertumbuhannya tidak sebaik kacang polong. Berdasarkan tabel 2, meskipun
sudah selama satu minggu namun semua epikotil dari kacang tanah dan kedelai
belum tumbuh.
Benih dari jenis tanaman jagung, kacang polong, kacang tanah, dan
kedelai yang dalam proses penanaman dan pemeliharaannya sama dengan waktu
dan media tanam yang sama, menghasilkan pertumbuhan kecambah yang berbeda.
Hal itu menujukkan Perbedaan pada proses perkecambahan dipengaruhi oleh
kualitas dari benih yang ditanam itu sendiri. Benih dengan ukuran cukup
besar dan berisi (Bernas) memiliki kemampuan menyerap air lebih baik di
bandingkan benih yang lebih kecil dan tidak berisi sehingga proses
perkecambahannya akan lebih cepat, selain itu jumlah cadangan makanan yang
terdapat didalam biji mempengaruhi pertumbuhan plumula dan radikulannya.
Semakin banyak cadangan makanan yang terdapat didalamnya maka akan semakin
mempercepat proses perkecambahannya atau mempercepat pertumbuhan plumula
dan radikula tersebut.


4.2.3 Proses Fisiologis Perkecambahan
Proses perkecambahan secara fisiologi melalui 3 tahapan yaitu imbibisi,
pengaktifan proses metabolisme, dan perkecambahan. Imbibisi, proses
imbibisi dilakukan dengan cara merendam biji pada air dalam waktu beberapa
menit, imbibisi dilakukan untuk melunakkan kulit biji dan mempercepat
pengembangan embrio dan endosperm, dalam tahap ini kadar air yang semula 25-
35 % naik menjadi 50-60 %, hal ini mengakibatkan pecahnya kulit biji,
selain itu sebagai fasilitas masuknya oksigen ke dalam biji, biji yang
berkecambah memerlukan suhu
10-40 0C. Pengaktifan proses metabolisme, Peningkatan laju respirasi akibat
imbibisi akan mengaktifkan enzim-enzim yang terdapat didalamnya sehinga
terjadi proses perombakan makanan (katabolisme). Enzim-enzim yang berperan
adalah enzim hidrolitik seperti: α amylase dan β amylase yang mertombak
pati menjadi gula (glukosa, fruktosa, dan sukrosa), ribonuklease yang
merombak ribonukleotida endo-α-glukanase, glukan fosfatase yang merombak
senyawa yang mengandung P, lipase yang merombak lemak menjadi glycerine dan
asam lemak, dan protease yang merombak senyawa protein menjadi asam amino.
Proses perombakan makanan melalui dua proses yaitu katabolisme karbohidrat
dan metabolisme lemak. Katabolisme karbohidrot bertujuan untuk membentuk
protoplasma dan organel sel baru. Metabolisme lemak bertujuan untuk
merombak enzim lipase dan enzim lainnya sehingga mendorong inisiasi
pertumbuhan embrio (Aprilya, 2011).
Perkecambahan, merupakan tahapan yang terjadi pada akhir tahap
pengaktifan. Tahapan ini merupakan akibat dari proses pembentukan sel-sel
baru pada embrio, yang akan diikuti proses deferensiasi sel-sel, sehingga
terbentuk plumula yang merupakan bakal batang dan daun, serta radikula yang
merupakan bakal akar. Kedua bagian ini akan bertambah besar. Benih padi
dikatakan telah berkecambah apabila radikula telah tampak keluar menembus
koleorhiza diikuti oleh munculnya koleoptil yang membungkus daun, Dalam
keadaan terendam, maka yang muncul lebih dahulu adalah koleoptil dan
kemudian diikuti oleh koleorhiza (manurung, 2009).

4.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan
Perkecambahan suatu tanaman tidak lepas oleh pengaruh beberapa faktor,
diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
berhubungan dengan kondisi benih yang dikecambahkan, sedangkan faktor
eksternal lebih berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat tumbuh tanaman
itu sendiri. Faktor internal meliputi :
Tingkat kemasakan benih, Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan
fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum
memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum
sempurna. Ukuran benih, Benih yang berukuran besar dan berat mengandung
cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil.
Dormansi, Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup
tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum
dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan. Penghambat
perkecambahan, penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran
inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan
nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik
atau menghambat laju respirasi (Soetopo, 2010).
Faktor eksternal yang mempengaruhi proses perkecambahan suatu tanaman
antara lain air, suhu, oksigen, cahaya, dan medium. air merupakan syarat
penting berlangsungnya perkecambahan. Pertumbuhan benih tidak akan dimulai
bila air yang terserap masuk kedalam benih belum mencapai 80% sampai 90%
serata dibutuhkan kadar air benih 30% sampai 50%. Suhu, Suhu optimal adalah
yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana
presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu
antara 26.5 sd 35°C.
Oksigen, Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat
disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan
energi panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses
perkecambahan benih.
Cahaya, Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya bervariasi
tergantung pada jenis tanaman. Adapun besar pengaruh cahanya terhadap
perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya
penyinaran. Menurut Adriance and Brison dalam Sutopo (2010) pengaruh cahaya
terhadap perkecambahan benih dapat dibagi atas 4 golongan yaitu golongan
yang memerlukan cahaya mutlak, golongan yang memerlukan cahaya untuk
mempercepat perkecambahan, golongan dimana cahaya dapat menghambat
perkecambahan, serta golongan dimana benih dapat berkecambah baik pada
tempat gelap maupun ada cahaya. Medium, Medium yang baik untuk
perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai
kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama
cendawan. Pengujian viabilitas benih dapat digunakan media antara lain
substrat kertas, pasir dan tanah.


BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pengamatan di ketahui bahwa perkecambahan di dasarkan
letak kotiledonnya di bagi menjadi 2 : Hipogeal (jagung) dan Epigeal
(Kacang polong, kacang tanah, kedelai).
2. Proses perkecambahan pada tanaman melalui 3 tahap, yakni: perembesan air
ke dalam benih (imbibisi), pengaktifan proses metabolism dan
perkecambahan.
3. Terdapat perbedaan pertumbuhan diantara biji-biji yang di tanam yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal meliputi Tingkat kemasakan benih, ukuran
benih, dormasi, penghambat kecambah. sedangkan faktor eksternal meliputi
air, cahaya, oksigen, suhu, kelembaban dan media tanam.


2. Saran
Praktikan atau mahasiswa seharusnya mengetahui dan mencari berbagai
informasi mengenai pertumbuhan suatu tanaman dan proses-proses yang terjadi
didalamnya. Sehingga Masalah-masalah yang terjadi dalam proses pertumbuhan
dapat dicegah jika mengerti proses-proses atau hal-hal yang berkaitan
dengan perkecambahan tanaman. Pengetahuan yang didapat dapat memudahkan
kita dalam membudidayakan suatu tanaman.


DAFTAR PUSTAKA
Adinugraha, Hamdan A., dkk. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Tunas pada
Bibit Nyamplung Hasil Pembiakan Dengan Teknik Sambungan. Pemuliaan
Tanaman Hutan, 6 (2): 2-3.

E. Gbadamosi Alaba. 2013. Germination Biology of Picralima nitida (Stapf)
under Pretreatments. Greener Journal of Biological Sciences, 3(1) : 1-
3.

Goldsworthy, Peter R. and N.M. Fisher. 1984. Fisiologi Tanaman Budaya
Tropik. Terjemahan oleh Ir. Tohari, MSc. Ph.D. dan Dr. Ir.
Soedharoedjian.1992. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Haryanti, Sri. Dkk. 2009. Pengaruh Kolkisin Terhadap Pertumbuhan, Ukuran
Sel, Metafase Dan Kandungan Protein Biji Pada Kacang Hijau. Jurnal
Penelitian Sains Dan Teknologi, 10 (2): 3-4.

Husain, I., dan Rully T. 2012. Pematahan Dormansi Benih Kemiri (Aleurites
moluccana, L. Willd) yang Direndam dengan Zat Pengatur Tumbuh Organik
Basmingro dan Pengaruhnya terhadap Viabilitas Benih . JATT, 1(2): 1-3.

Jalaluddin, M., and Maria H. 2011. Effect of Adding Inorganic, Organic and
Microbial Fertilizers on Seed Germination and Seedling Growth of
Sunflower. Pak. J. Bot, 43(6): 1-3.

Juhanda, Yayuk N., dan Ermawati. 2013. Pengaruh Skarifikasi pada Pola
Imbibisi dan Perkecambahan Benih Saga Manis (Abruss precatorius L.).
Agrotek Tropika, 1(1): 2-3.

Loveless, A.R. 1983. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik
Jilid 2. Terjemahan oleh Kuswata Kartawinata, Ph.D., Sarkat
Danimihardjo, M.Sc. dan Usep Soetisna, Ph.D. 1989. Jakarta: Gramedia.

Masniawati A., dkk. 2013. Identifikasi Cendawan Terbawa pada Benih Padi
Lokal Aromatik Pulu Mandoti, Pulu Pinjan, dan Pare Lambau asal
Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Manasir,1(1):1-2.

Mosavian, Seyed N., and Morteza Eshraghi N. 2013. The effects of seed size
and salinity on seed germination characteristic in wheat (var.
Chamran). International Journal of Farming and Allied Sciences, 2 (2):
1-3.

Panehi, F., at all. 2012. The Effects of Salinity and Temperature on Some
Germination Characteristics of Salsola arbuscula. World Applied
Sciences Journal, 19 (4): 1-2.
Prihastanti, Erma. 2010. Perkecambahan Biji dan Pertumbuhan Semai
Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.). Buletin Anatomi dan
Fisiologi, 18(1):2-3.

Syamsussabri. M. 2012. Konsep Dasar Pertumbuhan Dan Perkembangan Peserta
Didik. perkembangan, 1(1) :1-3.

R. D. Lasmadi, S. S. Malalantang, Rustandi, dan S. D. Anis. 2013.
Pertumbuhan dan Perkembangan Rumput Gajah Dwarf (Pennisetum Purpureum
Cv. Mott) Yang Diberi Pupuk Organik Hasil Fermentasi EM4. Jurnal
Zootek, 32(5): 158-171.
Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.