Laporan ekologi Luas Minimal Kuadrat

November 20, 2017 | Author: E. Setyobudi | Category: Plant Ecology, Ecology, Ekologi
Share Embed


Deskripsi Singkat








PENENTUAN LUAS MINIMAL KUADRAT KOMUNITAS HERBA
DI KEBUN WISATA TINJOMOYO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktikum Ekologi Tahun Ajaran 2014/2015
Dosen Pengampu : Drs. Nugroho Edi Kartiyono, M.Si
Drs. F. Putut Marten, M.Si




Oleh,
Idaliani Prikadiastuti (4401412118)
Elin Rahmawati (4401412003)
Elita Anggraini Setyobudi (4401412054)
Hilda Afiani (4401412097)



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

PENENTUAN LUAS MINIMAL KUADRAT KOMUNITAS HERBA DI KEBUN WISATA TINJOMOYO
Tujuan
Untuk menentukan luas minimal kuadrat suatu komunitas tumbuhan herba di Kebun Wisata Tinjomoyo.
Dasar Teori
Ekologi adalah ilmu pengetahuan yang termasuk salah satu cabang biologi. Ekologi mempelajari saling hubungan antara organisme satu dengan organisme lainnya dalam satu populasi dan populasi lainnya, serta saling hubungan antara organisme dengan faktor-faktor fisik dari lingkungannya. Sehubungan dengan uraian sebelumnya, maka dapat dinyatakan ekologi hewan dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan anatara hewan dengan lingkungannya. Ekologi hewan menyangkut 3 aspek pokok yaitu deskriptif yaitu menyangkut pengetahuan tentang cara hidup hewan, kuantitatif memberikan informasi yang menyangkut tentang ukuran-ukuran kondisi lingkungan dan batas-batas toleransi hewan terhadap fluktuasi faktor lingkungan, dan analitik-sintetik menganalisis lingkungan beserta pengaruhnya dengan cara memvariasikan kondisi faktor tertentu di bawah kondisi faktor lain yang terkontrol. Dalam mempelajari ilmu ekologi kita akan membahas tentang individu, populasi, komunitas, ekosistem, biosfer (Susanto, 2000).
Keanekaragaman hayati khususnya tanaman atau tumbuhan yang berada di selatan wilayah Indonesia, biasanya menjadi salah satu sumber pokok kehidupan para petani sebagai mata pencahariannya. Upaya pemanfaatan tanaman atau tumbuhan bagi masyarakat terlebih dahulu diadakan inventarisasi dengan tujuan mengetahui potensi fungsi, peranan dan manfaat yang ada dari bagian organ dari tanaman. Beberapa tipe lahan memiliki berbagai fungsi ekologis, terutama dalam menyimpan keanekaragaman hayati. Belukar merupakan lahan yang diberakan dan mengalami suksesi dengan masuknya jenis-jenis tumbuhan secara alami mulai dari komponen pionir hingga suksesi lanjut. Keanekaragaman jenis anakan pohon di agrofores dapat mendekati keanekaragaman pohon di hutan (Indriyanto.2006).
Vegetasi atau komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (species richness), jumlah spesies yang mereka miliki. Mereka juga berbeda dalam hubungannya dengan kelimpahan relatif (relative abundance) spesies. Beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies yang jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang sama dengan spesies yang semuanya umum ditemukan (Campbell,2004).
Dalam mempelajari komunitas tumbuhan kita tidak dapat melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati komunitas, terutama area cukup luas. Oleh karena itu, kita dapat melakukan penelitian di sebagian area komunitas tersebut dengan syarat bagian tersebut dapat mewakili sebagian komunitas yang ada.
Untuk memahami luas,metode manapun yang di pakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus di sesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat.(Anwar,1995).
Luas daerah dalam satuan kecil yaitu komunitas atau vegetasi yang sangat bervariasi keadaannya. Keberadaannya merupakan himpunan dan spesies populasi yang sangat berinteraksi dengan banyak faktor lingkungan yang khas untuk setiap vegetasi, cara mengamati komunitas atau vegetasi tersebut dan berapa banyak sampel yang harus di amati sehingga dikatakan representatif bila di dalamnya terdapat semua atau sebaagian besar jenis tumbuhan yang membentuk komunitas atau vegetasi tersebut. Daerah minimal yang mencerminkan kekayaan. Komunitas atau vegetasi disebut luas jumlah kuadrat minimum (Syafei,1990).
Suatu metode untuk menentukan luas minimal suatu daerah disebut luas minimal. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui minimal jumlah petak contoh. Sejumlah sampel dikatakan representive bila didalamnya terdapat semua atau sebagian besar jenis tanaman pembentuk komunitas atau vegetasi tersebut (Odum, 1993).
Luas minimum atau kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas petak contoh yang digunakan.
Ukuran plot minimal dapat ditentukan dengan cara survey pendahuluan untuk menentukan ukuran luas plot minimal. menentukan luas minimal plot dapat dilakukan dengan cara membuat kurva luas minimal terlebih dahulu. untuk bentuk plot persegi dimulai dengan membuat sebuah plot (bidang datar) persegi pada satu tegakan dengan kuadrat (luas) terkecil, misalnya untuk lapangan rumput adalah 25 x 25 Cm2, selanjutnya dicatat spesies tumbuhan yang ada dalam kuadrat terkecil. kemudian kuadrat diperluas dua kali luas semula dan kemudian penambahan spesies baru yang terdapat di dalam kuadrat luasan di catat (Suprianto, 2001)
Bentuk sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran dengan luas tertentu. Hal ini tergantung pada bentuk vegetasi. Berdasarkan metode pantauan luas minimum akan dapat di tentukan luas kuadrat yang di perlukan untuk setiap bentuk vegetasi tadi. Untuk setiap plot yang di sebarkan di lakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan dan frekuensi. Variabel kerimbunan dan kerapatan di tentukan berdasarkan luas kerapatan. Dari spesies yang di temukan dari sejumlah kuadrat yang di buat (Rahardjanto, 2001)
Alat dan Bahan
Meteran
Tali raffia
Alat tulis
Cara Kerja
Menentukan pusat distribusi tumbuhan pada area Kebun Wisata Tinjomoyo untuk meletakkan plot bersarang.
Meletakkan plot pertama pada pusat distribusi berukuran (1 x 1) m
Mencatat semua jenis tumbuhan yang berada dalam kuadrat tersebut.
Memperlus kuadrat yang telah di buat menjadi dua kali semula.
Mencatat kembali penambahan jenis tumbuhan pada ukuran (1x1; 1x2; 2x2; 2x4; 4x4; 4x8; 8x8; 8x16; 16x16) m.
Menghentikan perluasan plot hingga tidak dijumpai adanya penambahan spesies baru.
Mencatat hasil pengamatan pada tabel yang telah disediakan
Membuat gambar grafik hubungan antara luas kuadrat dengan jumlah spesies pada setiap perluasan kuadrat.
Menentukan luas minimal kuadrat berdasarkan grafik dengan ketentuan sebagai berikut:
Luas minimal sebagai absis (sumbu y)
Jumlah spesies sebagai ordinat (sumbu x)
Menentukan 10% luas maksimal
Menentukan 10% jumlah spesies maksimal
Menarik garis singgung pada kurva yang sejajar resultan tersebut.
Kemudian menarik garis absis yang sejajar ordinat dari titik singgungnya, maka didapat hasil luas minimum kuadrat dalam m2.
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan terlampir.
Analisis Data
Analisis data terlampir.
Pembahasan
Beragamnya makluk hidup yang hidup pada suatu lingkungan terutama untuk jenis tumbuhan maka mengharuskan kita untuk melakukan penelitian guna mengetahui jumlah keragaman komunitas pada suatu populasi tertentu tanpa harus mengukur atau bahkan memilah jenis-jenis tanaman satu persatu (Syafei,1990).Penelitian ini menggunakan metode kuadrat, yaitu bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya (Syafei, 1990).
Berdasarkan hasil pengamatan, pada setiap penambahan plot selalu ada penambahan spesies hingga pada plot ke 9 sudah tidak ada penambahan spesies. Jenis tumbuhan yang ditemukanantara lain: Mimosa pudica, Spesies A, Spesies B, Spesies C, Phylantus Niruri, Spesies D, Euphorbia hirta, Spesies E, Spesies F, Oxalis sp,. Spesies G, Spesies H, Spesies I, Spesies J, Spesies K, Dichrocepala integrifolia, dan Spesies L, Aderatum conyzoides, Physalis angulata, Achalypha australis, Spesies M, Spesies N, dimana secara keseluruhan ditemukan 22 spesies.
Luas minimum kuadratmerupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada area tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada area tersebut maka makin luas petak contoh yang digunakan makin luas petak contoh yang digunakan.
Dari data hasil praktikum, dilakukan pengolahan dan analisis dengan kurva dan didapat angka luas minimum kuadrat pada area Kebun Wisata Tinjomoyo yaitu 33 m2.Angka luas minimum kuadrat ini tentunya dipengaruhi oleh jumlah spesies yang hadir.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah adalah iklim, keragaman habitat, ukuran. Fluktuasi iklim yang musiman merupakan faktor penting dalam membagi keragaman spesies. Suhu maksimum yang ekstrim, persediaan air, dan sebagainya yang menimbulkan kemacetan ekologis (bottleck) yang membatasi jumlah spesies yang dapat hidup secara tetap di suatu daerah. Habitat dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang keragamannya lebih besar di bandingkan habitat yang lebih seragam.Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies di bandingkan dengan daerah yang sempit. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies secara kasaradalah kuantitatif. Rumus umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari daerah lain maka daerah itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar (Harun, 1993).



Kesimpulan
Luas minimum kuadrat pada area Kebun Wisata Tinjomoyo adalah 33 m2. Pada perluasan terbesar yaitu (16x16) m didapat jumlah spesies sebanyak 22 spesies.

Daftar Pustaka
Anwar. 1995.Biologi Lingkungan. Bandung: Ganexa exact..
Campbell, Neil A, Dkk. 2013.Biologi Edisi Kelima Jilid III. Jakarta: Erlangga
Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Jakarta: Bina Pustaka.
Indriyanto. 2006.Ekologi Hutan. Jakarta : Bumi Aksara.
Odum, Eugene P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta:UGM University Press.
Rahardjanto, Abdul Kadir. 2005. Buku Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang : UMM Press
Suprianto, Bambang. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Bandung: UPI
Susanto, Pudyo. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Malang: PPGSM
Syafei, Eden Surasana. 1990.Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press

Lampiran I
Hasil pengamatan
PLOT
UKURAN(m)
Penambahan Spesies
komulatifspesies
1
1x1
1. Mimosa pudica
2. Spesies A
3. Spesies B
4. Spesies C
5. Spesies D
5
2
1x2
Phylantus Niruri
Achalypha australis
Spesies E
7
3
2x2
Euphorbia hirta
Aderatum conyzoides
Spesies F

8
4
2x4
Physalis angulata
Spesies G
Spesies H
10
5
4x4
1. Oxalis sp
2. Spesies I
13
6
4x8
1. Spesies J
2. Spesies K
15
7
8x8
Spesies L
Spesies M
17
8
8x16
Dichrocepalaintegrifolia
Spesies N
22




Lampiran 2
Luas minimal kuadrat berdasarkan grafik dengan ketentuan sebagai berikut:
Luas minimal sebagai absis (sumbu y)
Jumlah spesies sebagai ordinat (sumbu x)
10% luas adalah (16x16) x 0,1 = 25,6 m
10% jumlah spesies adalah 22 x 0,1 = 2,2
Setelah itu, ditarik garis singgung pada kurva yang sejajar resultan tersebut.
Kemudian dari titik singgungnya ditarik garis absis yang sejajar ordinat, maka didapat hasil luas minimum kuadrat 33 m2.

5




Deskripsi








PENENTUAN LUAS MINIMAL KUADRAT KOMUNITAS HERBA
DI KEBUN WISATA TINJOMOYO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktikum Ekologi Tahun Ajaran 2014/2015
Dosen Pengampu : Drs. Nugroho Edi Kartiyono, M.Si
Drs. F. Putut Marten, M.Si




Oleh,
Idaliani Prikadiastuti (4401412118)
Elin Rahmawati (4401412003)
Elita Anggraini Setyobudi (4401412054)
Hilda Afiani (4401412097)



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

PENENTUAN LUAS MINIMAL KUADRAT KOMUNITAS HERBA DI KEBUN WISATA TINJOMOYO
Tujuan
Untuk menentukan luas minimal kuadrat suatu komunitas tumbuhan herba di Kebun Wisata Tinjomoyo.
Dasar Teori
Ekologi adalah ilmu pengetahuan yang termasuk salah satu cabang biologi. Ekologi mempelajari saling hubungan antara organisme satu dengan organisme lainnya dalam satu populasi dan populasi lainnya, serta saling hubungan antara organisme dengan faktor-faktor fisik dari lingkungannya. Sehubungan dengan uraian sebelumnya, maka dapat dinyatakan ekologi hewan dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan anatara hewan dengan lingkungannya. Ekologi hewan menyangkut 3 aspek pokok yaitu deskriptif yaitu menyangkut pengetahuan tentang cara hidup hewan, kuantitatif memberikan informasi yang menyangkut tentang ukuran-ukuran kondisi lingkungan dan batas-batas toleransi hewan terhadap fluktuasi faktor lingkungan, dan analitik-sintetik menganalisis lingkungan beserta pengaruhnya dengan cara memvariasikan kondisi faktor tertentu di bawah kondisi faktor lain yang terkontrol. Dalam mempelajari ilmu ekologi kita akan membahas tentang individu, populasi, komunitas, ekosistem, biosfer (Susanto, 2000).
Keanekaragaman hayati khususnya tanaman atau tumbuhan yang berada di selatan wilayah Indonesia, biasanya menjadi salah satu sumber pokok kehidupan para petani sebagai mata pencahariannya. Upaya pemanfaatan tanaman atau tumbuhan bagi masyarakat terlebih dahulu diadakan inventarisasi dengan tujuan mengetahui potensi fungsi, peranan dan manfaat yang ada dari bagian organ dari tanaman. Beberapa tipe lahan memiliki berbagai fungsi ekologis, terutama dalam menyimpan keanekaragaman hayati. Belukar merupakan lahan yang diberakan dan mengalami suksesi dengan masuknya jenis-jenis tumbuhan secara alami mulai dari komponen pionir hingga suksesi lanjut. Keanekaragaman jenis anakan pohon di agrofores dapat mendekati keanekaragaman pohon di hutan (Indriyanto.2006).
Vegetasi atau komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (species richness), jumlah spesies yang mereka miliki. Mereka juga berbeda dalam hubungannya dengan kelimpahan relatif (relative abundance) spesies. Beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies yang jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang sama dengan spesies yang semuanya umum ditemukan (Campbell,2004).
Dalam mempelajari komunitas tumbuhan kita tidak dapat melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati komunitas, terutama area cukup luas. Oleh karena itu, kita dapat melakukan penelitian di sebagian area komunitas tersebut dengan syarat bagian tersebut dapat mewakili sebagian komunitas yang ada.
Untuk memahami luas,metode manapun yang di pakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus di sesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat.(Anwar,1995).
Luas daerah dalam satuan kecil yaitu komunitas atau vegetasi yang sangat bervariasi keadaannya. Keberadaannya merupakan himpunan dan spesies populasi yang sangat berinteraksi dengan banyak faktor lingkungan yang khas untuk setiap vegetasi, cara mengamati komunitas atau vegetasi tersebut dan berapa banyak sampel yang harus di amati sehingga dikatakan representatif bila di dalamnya terdapat semua atau sebaagian besar jenis tumbuhan yang membentuk komunitas atau vegetasi tersebut. Daerah minimal yang mencerminkan kekayaan. Komunitas atau vegetasi disebut luas jumlah kuadrat minimum (Syafei,1990).
Suatu metode untuk menentukan luas minimal suatu daerah disebut luas minimal. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui minimal jumlah petak contoh. Sejumlah sampel dikatakan representive bila didalamnya terdapat semua atau sebagian besar jenis tanaman pembentuk komunitas atau vegetasi tersebut (Odum, 1993).
Luas minimum atau kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas petak contoh yang digunakan.
Ukuran plot minimal dapat ditentukan dengan cara survey pendahuluan untuk menentukan ukuran luas plot minimal. menentukan luas minimal plot dapat dilakukan dengan cara membuat kurva luas minimal terlebih dahulu. untuk bentuk plot persegi dimulai dengan membuat sebuah plot (bidang datar) persegi pada satu tegakan dengan kuadrat (luas) terkecil, misalnya untuk lapangan rumput adalah 25 x 25 Cm2, selanjutnya dicatat spesies tumbuhan yang ada dalam kuadrat terkecil. kemudian kuadrat diperluas dua kali luas semula dan kemudian penambahan spesies baru yang terdapat di dalam kuadrat luasan di catat (Suprianto, 2001)
Bentuk sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran dengan luas tertentu. Hal ini tergantung pada bentuk vegetasi. Berdasarkan metode pantauan luas minimum akan dapat di tentukan luas kuadrat yang di perlukan untuk setiap bentuk vegetasi tadi. Untuk setiap plot yang di sebarkan di lakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan dan frekuensi. Variabel kerimbunan dan kerapatan di tentukan berdasarkan luas kerapatan. Dari spesies yang di temukan dari sejumlah kuadrat yang di buat (Rahardjanto, 2001)
Alat dan Bahan
Meteran
Tali raffia
Alat tulis
Cara Kerja
Menentukan pusat distribusi tumbuhan pada area Kebun Wisata Tinjomoyo untuk meletakkan plot bersarang.
Meletakkan plot pertama pada pusat distribusi berukuran (1 x 1) m
Mencatat semua jenis tumbuhan yang berada dalam kuadrat tersebut.
Memperlus kuadrat yang telah di buat menjadi dua kali semula.
Mencatat kembali penambahan jenis tumbuhan pada ukuran (1x1; 1x2; 2x2; 2x4; 4x4; 4x8; 8x8; 8x16; 16x16) m.
Menghentikan perluasan plot hingga tidak dijumpai adanya penambahan spesies baru.
Mencatat hasil pengamatan pada tabel yang telah disediakan
Membuat gambar grafik hubungan antara luas kuadrat dengan jumlah spesies pada setiap perluasan kuadrat.
Menentukan luas minimal kuadrat berdasarkan grafik dengan ketentuan sebagai berikut:
Luas minimal sebagai absis (sumbu y)
Jumlah spesies sebagai ordinat (sumbu x)
Menentukan 10% luas maksimal
Menentukan 10% jumlah spesies maksimal
Menarik garis singgung pada kurva yang sejajar resultan tersebut.
Kemudian menarik garis absis yang sejajar ordinat dari titik singgungnya, maka didapat hasil luas minimum kuadrat dalam m2.
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan terlampir.
Analisis Data
Analisis data terlampir.
Pembahasan
Beragamnya makluk hidup yang hidup pada suatu lingkungan terutama untuk jenis tumbuhan maka mengharuskan kita untuk melakukan penelitian guna mengetahui jumlah keragaman komunitas pada suatu populasi tertentu tanpa harus mengukur atau bahkan memilah jenis-jenis tanaman satu persatu (Syafei,1990).Penelitian ini menggunakan metode kuadrat, yaitu bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya (Syafei, 1990).
Berdasarkan hasil pengamatan, pada setiap penambahan plot selalu ada penambahan spesies hingga pada plot ke 9 sudah tidak ada penambahan spesies. Jenis tumbuhan yang ditemukanantara lain: Mimosa pudica, Spesies A, Spesies B, Spesies C, Phylantus Niruri, Spesies D, Euphorbia hirta, Spesies E, Spesies F, Oxalis sp,. Spesies G, Spesies H, Spesies I, Spesies J, Spesies K, Dichrocepala integrifolia, dan Spesies L, Aderatum conyzoides, Physalis angulata, Achalypha australis, Spesies M, Spesies N, dimana secara keseluruhan ditemukan 22 spesies.
Luas minimum kuadratmerupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada area tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada area tersebut maka makin luas petak contoh yang digunakan makin luas petak contoh yang digunakan.
Dari data hasil praktikum, dilakukan pengolahan dan analisis dengan kurva dan didapat angka luas minimum kuadrat pada area Kebun Wisata Tinjomoyo yaitu 33 m2.Angka luas minimum kuadrat ini tentunya dipengaruhi oleh jumlah spesies yang hadir.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah adalah iklim, keragaman habitat, ukuran. Fluktuasi iklim yang musiman merupakan faktor penting dalam membagi keragaman spesies. Suhu maksimum yang ekstrim, persediaan air, dan sebagainya yang menimbulkan kemacetan ekologis (bottleck) yang membatasi jumlah spesies yang dapat hidup secara tetap di suatu daerah. Habitat dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang keragamannya lebih besar di bandingkan habitat yang lebih seragam.Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies di bandingkan dengan daerah yang sempit. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies secara kasaradalah kuantitatif. Rumus umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari daerah lain maka daerah itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar (Harun, 1993).



Kesimpulan
Luas minimum kuadrat pada area Kebun Wisata Tinjomoyo adalah 33 m2. Pada perluasan terbesar yaitu (16x16) m didapat jumlah spesies sebanyak 22 spesies.

Daftar Pustaka
Anwar. 1995.Biologi Lingkungan. Bandung: Ganexa exact..
Campbell, Neil A, Dkk. 2013.Biologi Edisi Kelima Jilid III. Jakarta: Erlangga
Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Jakarta: Bina Pustaka.
Indriyanto. 2006.Ekologi Hutan. Jakarta : Bumi Aksara.
Odum, Eugene P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta:UGM University Press.
Rahardjanto, Abdul Kadir. 2005. Buku Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang : UMM Press
Suprianto, Bambang. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Bandung: UPI
Susanto, Pudyo. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Malang: PPGSM
Syafei, Eden Surasana. 1990.Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press

Lampiran I
Hasil pengamatan
PLOT
UKURAN(m)
Penambahan Spesies
komulatifspesies
1
1x1
1. Mimosa pudica
2. Spesies A
3. Spesies B
4. Spesies C
5. Spesies D
5
2
1x2
Phylantus Niruri
Achalypha australis
Spesies E
7
3
2x2
Euphorbia hirta
Aderatum conyzoides
Spesies F

8
4
2x4
Physalis angulata
Spesies G
Spesies H
10
5
4x4
1. Oxalis sp
2. Spesies I
13
6
4x8
1. Spesies J
2. Spesies K
15
7
8x8
Spesies L
Spesies M
17
8
8x16
Dichrocepalaintegrifolia
Spesies N
22




Lampiran 2
Luas minimal kuadrat berdasarkan grafik dengan ketentuan sebagai berikut:
Luas minimal sebagai absis (sumbu y)
Jumlah spesies sebagai ordinat (sumbu x)
10% luas adalah (16x16) x 0,1 = 25,6 m
10% jumlah spesies adalah 22 x 0,1 = 2,2
Setelah itu, ditarik garis singgung pada kurva yang sejajar resultan tersebut.
Kemudian dari titik singgungnya ditarik garis absis yang sejajar ordinat, maka didapat hasil luas minimum kuadrat 33 m2.

5


Lihat lebih banyak...

Komentar

We're moving the hosting, the preview may show error, this will be automatically reload again in 15 seconds to resolve this.
Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.