Makalah Manajemen Waktu

September 11, 2017 | Author: Rizki Apriliawati | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

1







BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah
Waktu tak pernah lepas dari setiap kehidupan manusia. Dari mulai manusia dilahirkan hingga nantinya kembali ke dalam tanah, sang waktulah yang akan selalu ada menemani.
Sering sekali kita mendengar pepatah "Waktu adalah Uang" dimana hal ini berarti kita harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena waktu sama berharganya dengan uang. Namun pada prakteknya manusia sering merasa tidak puas dengan 24 jam yang telah diberikan dalam sehari. Entah karena kepadatan jadwal yang mereka miliki atau karena kurangnya pengaturan waktu yang mereka terapkan, sehingga mereka tidak bisa meng-handle semua agenda yang harus diselesaikan dan yang terjadi bukan mereka yang mengendalikan waktu tetapi waktu yang mengendalikan mereka. Masalah ini merupakan salah satu masalah utama yang dialami oleh para mahasiswa.
Sebagai mahasiswa kita dituntut untuk menjadi insan yang aktif, baik aktif dalam berorganisasi maupun dalam memenuhi kewajiban menuntut ilmu demi memajukan bangsa. Ironisnya, masih banyak sekali mahasiswa yang merasa hidupnya dikejar berbagai macam deadline tugas, mulai dari tugas akademis maupun tugas organisasi. Terkadang hal ini membuat sebagian dari mereka merasa terbebani dan akhirnya berakibat buruk pada salah satu bagian dari kehidupan mereka atau bisa dibilang hidupnya menjadi tidak seimbang. Dampak-dampak itu antara lain turunnya nilai akademis mereka, kurangnya waktu tidur, mahasiswa banyak yang tidak mengikuti organisasi sehingga menjadi dikucilkan, dan masih banyak lagi dampak yang lain. Namun tak jarang pula ditemui mahasiswa yang dapat mempertahankan semua kegiatan akademis dan nonakademis-nya dengan seimbang. Mahasiswa seperti inilah yang menjadi idaman banyak orang, dan tentunya ini bisa terwujud apabila kita memiliki pengaturan waktu yang baik.
Pengaturan waktu terbilang sangat penting terutama bagi pelajar dan mahasiswa. Tanpa pengaturan waktu yang baik, waktu yang ada akan terbuang sia-sia karena dipakai untuk mendahulukan kegiatan-kegiatan yang terbilang kurang penting, sedangkan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih penting malah tidak terselesaikan dengan baik. Inilah yang membuat kita merasa hidup kita selalu dikejar oleh deadline. Namun disamping itu, dalam mengatur waktu terhadap jadwal kegiatan yang ada tidak bisa dilakukan secara asal, pengaturan waktu juga harus didasari dengan kedisiplinan dalam melaksanakan jadwal tersebut sehingga tercipta keefektifan kerja yang berdampak pada kehidupan sosial dan akademik pada pribadi itu sendiri.
Dengan menyadari pentingnya penerapan pengaturan waktu pada mahasiswa, kami melakukan penelitan sehubungan dengan pengaturan waktu dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan akademik mahasiswa, terutama mahasiswa TPB ITB.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah disebutkan sebelumnya, maka muncul beberapa pertanyaan seperti:
Apa itu pengaturan waktu?
Bagaimana keadaan kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB?
Bagaimana praktik pengaturan waktu pada mahasiswa TPB ITB?
Bagaimana pengaruh pengaturan waktu terhadap kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB?

Ruang Lingkup Kajian
Untuk menjawab rumusan masalah di atas perlu pengkajian beberapa pokok, yaitu:
pengaturan waktu dan keefektifannya,
kondisi kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB,
praktik pengaturan waktu pada mahasiswa TPB ITB,
pengaruh pengaturan waktu pada kehidupan sosial dan akademik mahasiswa TPB ITB.
Kajian melingkupi mahasiswa TPB ITB tahun ajaran 2012/2013 yang terdiri dari 12 fakultas yaitu : FTSL, FTI, FMIPA, FTMD, FTTM, FITB, FSRD, SAPPK, SF, SBM, SITH, dan STEI.

Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai melalui penulisan laporan penelitian ini ialah:
menjelaskan apa yang dimaksud dengan pengaturan waktu,
menjelaskan kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB secara umum,
memaparkan pengaruh pengaturan waktu pada kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB.

Hipotesis
Pengaturan waktu yang baik dan efektif diduga akan berdampak baik pula pada kehidupan sosial serta akademis mahasiswa.

Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode
Metode penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu mendeskripsikan data baik dari literatur maupun dari lapangan kemudian dianalisis. Sehubungan dengan itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penyusunan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode kuisioner yang disebarkan kepada ±100 mahasiswa TPB Institut Teknologi Bandung.

Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, ruang lingkup kajian, tujuan penulisan, hipotesis, metode dan teknik pengumpulan data, dan sistematika penulisan.
BAB II Deskripsi masalah yang terdiri atas pengertian pengaturan waktu, fungsi pengaturan waktu, manfaat pengaturan waktu, dan keefektifan pengaturan waktu
BAB III Pembahasan yang terdiri atas kehidupan sosial akademis mahasiswa ITB, praktik penerapan pengaturan waktu pada mahasiswa ITB, dan pengaruh pengaturan waktu terhadap kehidupan sosial akademis mahasiswa ITB.
BAB IV Penutup yang terdiri atas simpulan dan saran.







BAB II
DESKRIPSI MASALAH


Pengertian Pengaturan Waktu
"The analysis of how working hours are spent and the prioritization of tasks in order to maximize personal efficiency in the workplace." (Collins English Dictionary). Dari kutipan tersebut, pengaturan waktu merupakan analisis terhadap bagaimana seseorang menggunakan waktu kerjanya dan skala prioritas terhadap tugas-tugasnya untuk meningkatkan efesiensi kerja orang tersebut.
Pengaturan waktu di sini berarti penggunaan waktu yang baik dan efisien serta kaitannya dengan skala prioritas kegiatan seorang individu. Bukan sekadar menyusun jadwal kesehariannya, tapi juga untuk melaksanakan jadwal tersebut dengan baik dan efektif sehingga hasil dari setiap pekerjaan yang didapat bisa maksimal. Apalah guna penyusunan jadwal jika ternyata semua hasil dari pekerjaan tidak sesuai harapan.


"Time management involves determining what one should do by setting goals, deciding which events are the most important and realizing that other activities will have to be scheduled around them (prioritizing), making decisions about how much time to allow for certain tasks (time estimation), adjusting to the unexpected (problem solving), reconsidering goals and priorities on a regular basis (evaluation), and observing patterns and trends in behavior." (Crutsinger, 1994)
"Time management involves determining what one should do by setting goals, deciding which events are the most important and realizing that other activities will have to be scheduled around them (prioritizing), making decisions about how much time to allow for certain tasks (time estimation), adjusting to the unexpected (problem solving), reconsidering goals and priorities on a regular basis (evaluation), and observing patterns and trends in behavior." (Crutsinger, 1994)




Pengaturan waktu juga bisa diartikan sebagai langkah menentukan apa yang harus dilakukan berdasarkan tujuan, memutuskan peristiwa yang paling penting dan membuat skala prioritas, membuat keputusan tentang berapa banyak waktu untuk memungkinkan tugas-tugas tertentu (estimasi waktu) , membiasakan dengan adanya pemecahan masalah, mempertimbangkan kembali tujuan dan prioritas secara teratur (evaluasi), dan menumbuhkan kebiasaan perilaku seseorang.
Atau secara singkat pengaturan waktu adalah pemanfaatan waktu yang sebaik-baiknya dengan menitik beratkan atas kemampuan diri sendiri untuk dapat merencanakan, mengatur dan mengontrol waktu sehingga mendapatkan hasil sesuai dengan harapan.
Waktu yang kita miliki dapat dikatakan sangatlah singkat sedangkan pekerjaan yang seharusnya diselesaikan semakin bertambah kian hari. Penelitian di USA menyebutkan dari usia rata-rata 72 tahun, hanya 20% dari total usia yang digunakan secara efektif untuk bekerja dan mengejar impian. Maka dari itu pengaturan waktu sangatlah dibutuhkan agar pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan lebih efektif menggunakan skala prioritas.
Fungsi Pengaturan Waktu
"Time management used so that someone can do their task and target effectively." (Schuler, 1979). Kutipan ini menjelaskan salah satu fungsi pengaturan waktu bagi seseorang agar dapat menyelesaikan tugas dan targetnya dengan efektif. Dengan adanya pengaturan waktu, setiap tugas akan terkontrol baik dari segi waktu maupun keoptimalan hasil dari tugas tersebut, sehingga tidak akan terjadi penumpukan dan ketidakoptimalan dalam penyelesaian tugas-tugas.
Skala prioritas juga diperlukan dalam pengaturan waktu. Perlu diatur mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting. Hal ini bertujuan agar tidak berlarut-larut dalam satu pekerjaan yang sebenarnya kurang penting dan meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya penting.
Dengan demikian seseorang diharapkan bisa mengelompokkan seluruh kegiatan mereka berdasarkan tingkat kepentingan dan tingkat mendesaknya kegiatan tersebut, atau dalam kata lain mereka bisa berkata "Ya" pada suatu pekerjaan yang benar-benar penting dan mendesak serta berkata "Tidak" pada pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak.
Di lain sisi, dalam mengerjakan pekerjaan penting itu kita juga harus mempunyai batasan waktu agar pekerjaan tersebut tidak dikerjakan secara berlarut-larut dan menghabiskan banyak waktu. Dengan menerapkan pengaturan waktu inilah kita bisa mulai mengorganisir kegiatan kita sehingga pekerjaan yang penting dapat diselesaikan secara optimal.

Manfaat Pengaturan Waktu
"Time management has also been characterized as a habit developed only through determination and practice" (Simpson, 1978), "As prioritizing and respecting those priorities" (Soucie, 1986), "And as setting priorities and scheduling tasks" (Jordan et al., 1989). Pengaturan waktu diartikan sebagai kebiasaan yang dikembangkan melalui penentuan dan latihan sebagai prioritas dan menjalankan prioritas tersebut serta membuat jadwal pelaksanaan prioritas tersebut .
Pengaturan waktu yang efektif, secara tidak langsung dapat melatih kedisiplinan dalam diri orang tersebut. Sehingga dapat membudayakan budaya tertib dan teratur. Selain itu, menerapkan pengaturan waktu secara berkala juga berarti sama dengan menumbuhkan kebiasaan baru dalam diri seseorang. Sesorang yang menerapkan pengaturan waktu dengan efektif akan menjadi pribadi yang lebih menghargai waktu dan juga bisa memanfaatkan waktu dengan efektif dan efisien. Dengan demikian individu itu bisa menjadi lebih produktif karena ia tahu bagaimana caranya menggunakan waktu dengan baik dan efisien untuk semua pekerjaannya sehingga pekerjaan yang dapat diselesaikan bisa lebih banyak atau lebih cepat dibanding individu yang tidak menerapkan pengaturan waktu.
Tidak hanya itu saja, pengaturan waktu dapat membiasakan seseorang untuk mempunyai rencana cadangan jika rencana awal yang ia miliki tidak berjalan sesuai dengan rencana. Sehingga nantinya ia akan lebih mudah mencari pemecahan masalah atas suatu kejadian diluar rencana, ini bisa terjadi karena seseorang tersebut telah biasa mempunyai banyak rencana.

Keefektifan Pengaturan Waktu
Dalam melaksanakan pengaturan waktu, diperlukan kedisiplinan untuk melaksanakan jadwal yang sudah dibuat sebelumnya. Semaksimal apapun suatu jadwal dibuat tetap akan percuma apabila tidak didasari dengan kemauan untuk melaksanakan jadwal tersebut.
Hal yang harus diperhatikan selanjutnya agar dapat melaksanakan keefektifan pengaturan waktu adalah menentukan skala prioritas. Seringkali hal ini menjadi penghambat dalam melaksanakan pengaturan waktu. Seseorang harus dapat menentukan dan memilah suatu pekerjaan yang hendak ia lakukan sesuai dengan kepentingan dari masalah tersebut, sangat pentingkah, sangat mendesakkah, atau malah tidak penting dan tidak mendesak. Dari pemilahan prioritas itulah dapat diambil kesimpulan pekerjaan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Dalam prakteknya bisa dengan membuat matriks pengaturan waktu terhadap semua kegiatan yang kita miliki, seperti pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Matriks pengaturan waktu.(sumber: http://www.empowernetwork.com)
Gambar 2.1 Matriks pengaturan waktu.
(sumber: http://www.empowernetwork.com)
Dengan membuat matriks pengaturan waktu tersebut, pekerjaan seseorang akan terorganisir dengan baik serta dapat diselesaikan sesuai dengan tenggat waktu yang dialokasikan dan hasilnya-pun akan lebih optimal. Dengan pengaturan waktu seseorang akan lebih menghargai waktu sehingga nantinya ia dapat mempunyai waktu istirahat yang lebih banyak. Ia tidak akan merasa bahwa pekerjaannya terlalu banyak dan tidak mungkin dikerjakan sesuai batas waktu yang telah ditentukan karena ia telah menyusun semua pekerjaan dengan baik serta telah terbiasa melakukannya dengan benar. Sehingga pengaturan waktu mempunyai keefektifan yang tinggi dalam mengatur kesehariaan seseorang agar dapat berjalan dengan baik.












BAB III
PEMBAHASAN


Kehidupan Sosial dan Akademis Mahasiswa ITB
Mahasiswa, terdiri dari kata Maha dan Siswa dimana kedua kata ini membentuk arti orang-orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi hanyalah syarat administratif menjadi mahasiswa, tetapi menjadi mahasiswa mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri.
Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata per kata, Mahasiswa adalah Seorang agen pembawa perubahan. Menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat bangsa di berbagai belahan dunia.
Sebagai mahasiswa berbagai macam label pun disandang, ada beberapa macam label yang melekat pada diri mahasiswa, misalnya:
Direct Of Change, mahasiswa bisa melakukan perubahan langsung karena SDMnya yangg banyak.
Agent Of Change, mahasiswa agent perubahan, maksudnya sumber daya alam untuk melakukan perubahan.
Iron Stock, sumber daya manusia dari mahasiswa itu tidak akan pernah habis.
Moral Force, mahasiswa adalah kumpulan orang yangg memiliki moral yang baik.
Social Control, mahasiswa ialah pengontrol kehidupan sosial, contoh mengontrol kehidupan sosial yang dilakukan masyarakat.
Namun secara garis besar, setidaknya ada 3 peran dan fungsi yang sangat penting bagi mahasiwa, yaitu :
Pertama, peranan moral, dunia kampus merupakan dunia di mana setiap mahasiswa dengan bebas memilih kehidupan yang mereka mau. Disinilah dituntut suatu tanggung jawab moral terhadap diri masing-masing sebagai individu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kedua, adalah peranan sosial. Selain tanggung jawab individu, mahasiswa juga memiliki peranan sosial, yaitu bahwa keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Ketiga, adalah peranan intelektual. Mahasiswa sebagai orang yang disebut-sebut sebagai insan intelek haruslah dapat mewujudkan status tersebut dalam ranah kehidupan nyata. Dalam arti menyadari betul bahwa fungsi dasar mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitas yang ia miliki selama menjalani pendidikan.
Dari ketiga peran penting tersebut, mari kita lihat kaitannya dengan kehidupan mahasiswa di ITB. Yang pertama, kehidupan akademis yang berkaitan dengan peranan intelektual. Seperti yang telah kita ketahui dari pengertian mahasiswa diatas, mahasiswa adalah insan intelek yang dituntut untuk menimba ilmu demi masa depan bangsa ini. Di tangan mahasiswa-lah nasib bangsa ini kedepannya dibawa. Oleh sebab itu, demi mewujudkan tujuan tersebut tugas utama kita sebagai mahasiswa adalah belajar dan belajar.
Menuntut ilmu di ITB bukanlah hal yang mudah dari mulai pelajarannya, tugas-tugasnya, asistensinya dan masih banyak kegiatan akademis yang lain yang menuntut profesionalitas seorang mahasiswa agar dapat menyelesaikan semua tanggungannya itu. Di samping menyelesaikan semua tanggungan, kita juga harus dapat bersaing dengan putra-putri terbaik bangsa lainnya agar tetap bisa berprestasi di kampus ini. Cara untuk dapat menumbuhkan profesionalitas inilah yang kemudian menjadi pembahasan kami kali ini.
Selain kehidupan akademis, terdapat pula kehidupan sosial kampus. Peranan moral dan peranan sosial tergolong peran yang akan mendukung kehidupan sosial kampus. Mahasiswa ITB berasal dari daerah yang berbeda-beda menyebabkan budaya dan latar belakang yang berbeda-beda pula bagi tiap individu. Inilah motivasi awal agar kita bisa segera beradaptasi dan mencari teman sebanyak-banyaknya di lingkungan yang baru ini. Dengan adanya interaksi antar individu ini, maka muncul kehidupan sosial.
Di kampus tercinta ini terdapat banyak sekali media untuk bersosialisasi, yang pertama adalah unit kegiatan mahasiswa. Jumlah unit di ITB kurang lebih sekitar 81 buah dan terbagi menjadi beberapa rumpun seperti rumpun keagamaan, seni budaya, olahraga, pendidikan, dan masih banyak lagi. Setiap rumpun memiliki motivasi dan tujuan yang berbeda dari mulai meningkatkan keimanan, mengembangkan bakat dan minat yang kita miliki, berolahraga, dan tidak lupa sambil belajar berorganisasi.
Selain unit terdapat pula himpunan mahasiswa jurusan. Jumlah himpunan di ITB sebanyak jumlah program studi di kampus ini, yaitu sebanyak 29 buah. Setiap himpunan memiliki ciri dan karakteristik khas sesuai dengan program studinya masing-masing. Berbeda dengan unit, himpunan berfungsi sebagai tempat berkumpul seluruh mahasiswa pada program studi tertentu dimana dengan adanya himpunan ini mahasiswa jadi lebih mengenal satu sama lain baik dengan teman satu angkatannya maupun dengan mahasiswa angkatan di atas dan di bawah mereka.
Budaya yang sudah terbentuk di kampus ini sendiri adalah seorang mahasiswa biasanya mengikuti paling sedikit 1 unit dan juga diwajibkan untuk ikut dalam himpunan. Selain itu, mahasiswa yang tidak mengikuti unit (non-unit) atau atau tidak mengikuti himpunan (non-himpunan) biasanya dikucilkan di lingkungannya atau terkenal dengan sebutan ansos yang merupakan kependekan dari anti sosial.
Mahasiswa tidak dapat disebut dengan mahasiswa berprestasi apabila mahasiswa itu hanya berprestasi dalam bidang non-akademis atau dalam bidang akademis saja. Mahasiswa berprestasi adalah mahasiswa yang unggul dalam bidang akademis dan non-akademis atau bisa dibilang mahasiswa yang balance dalam semua aspek pendidikan.
Sebagai mahasiswa ITB yang baik tentunya kita harus mengikuti budaya yang berlaku di kampus ini, yaitu disamping menuntut ilmu kita juga dituntut untuk berlatih berorganisasi baik di unit maupun di himpunan. Untuk menjadi aktif di seluruh kegiatan tersebut tentunya bukanlah hal yang mudah. Setiap kegiatan tersebut pasti membebani tugas dengan spesifikasi dan deadline yang bermacam-macam bahkan tidak jarang ditemukan deadline beberapa tugas dalam satu waktu yang bersamaan.
Inilah yang selalu menjadi masalah utama mahasiswa ITB, disaat mereka ingin menjadi aktif dalam semua aspek pendidikan namun karena kurangnya profesionalitas dalam diri mereka, yang terjadi malah semua kegiatan dan tugasnya terbengkalai dan akhirnya menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri, sehingga hasilnya mereka malah tidak bisa menyeimbangkan semua kegiatannya atau bahkan tidak mendapatkan apapun dari semua kegiatan itu.
Salah satu akibat utama terjadinya hal ini adalah karena kurangnya pengaturan waktu dalam diri mereka, oleh sebab itu kami mencoba menganalisis bagaimana praktik pengaturan waktu bagi mahasiswa ITB apakah sudah dilakukan secara efektif atau belum, juga menganalisis apa saja manfaat yang mereka rasakan setelah mempraktikan pengaturan waktu ini.

Praktik Penerapan Pengaturan Waktu pada Mahasiswa ITB
Tugas, kegiatan kemahasiswaan,dan kehidupan sosial, seperti sudah dijelaskan sebelumnya memang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Mahasiswa dituntut agar dapat mengatur waktu dengan baik agar semua pekerjaannya dapat diselesaikan tepat waktu. Jika mahasiswa tidak terbiasa membagi waktunya maka kegiatan dan pekerjaannya akan menumpuk dan berantakan seiring berjalannya waktu dan tentu saja suatu hari akan ada keadaan dimana mahasiswa merasa dikejar deadline. Karena itu penulis mengumpulkan data pada hari ke berapa mahasiswa mengerjakan tugasnya untuk mengetahui penggunaan waktu pada mahasiswa. Hasilnya ialah sebagai berikut:
GRAFIK 1
PRESENTASE WAKTU PENGERJAAN TUGAS

Sampel di atas di atas diambil dari 100 orang mahasiswa S1 tingkat pertama di Institut Teknologi Bandung. Sampel diambil dari mahasiswa tingkat pertama karena pada keadaan ini mahasiswa masih menyesuikan dirinya dengan kondisi kampus. Pada tahap ini perbedaan antara tingkat SMA dan perguruan tinggi saat kentara, terutama mengenai tugas yang diberikan dan tentunya pentingnya mengatur waktu.
Berdasarkan hasil kuesioner diperoleh data 35 % responden mengerjakan tugas mereka pada hari ke-6 setelah tugas diberikan. Seringkali mahasiswa tingkat pertama di ITB mengalami penumpukan tugas, seolah tugas yang harus mereka kerjakan sangat banyak, padahal sebenarnya hal ini diakibatkan karena kebiasaan mereka yang mengerjakan tugas pada H-1 atau 6 hari setelah tugas dikerjakan. Dari sampel tersebut hanya 5% responden yang mengerjakan tugas pada hari ke 1 setelah tugas dikerjakan atau H-6 . Hal ini menunjukan pengaturan waktu yang dilakukan mahasiswa tingkat pertama ITB belum efektif. Apalagi dari responden ada yang mengerjakan pada hari-H saat tugas dikumpulkan dan menurut hasil persentase ialah 9%, artinya 9 dari 100 orang mengerjakan tugas pada hari saat tugas itu dikumpulkan . Selanjutnya hasil dari kuesioner di atas diperkuat dengan adanya kuesioner kedua mengenai "Apakah Anda pernah merasa deadline mengejar Anda ? " . Hasilnya ialah:




GRAFIK 2
RESPON MAHASISWA TERHADAP DEADLINE

56% responden mengatakan deadline pernah mereka rasakan, 39% tidak pernah merasa dikejar deadline, dan 5% lainnya mengatakan kadang-kadang mereka dihantui deadline. Bagaimana tidak mereka merasa begitu banyak tugas yang mengejar mereka padahal sebenarnya merekalah yang menunda tugas yang diberikan. Maka dari itu pengaturan waktu sangatlah penting untuk menghadapi tugas yang jumlahnya tidak sedikit di masa perguruan tinggi ini.
Selanjutnya mahasiswa tingkat pertama ini sering merasa waktu seminggu untuk jarak interval ujian tengah semester sangat kurang mengingat materi yang diujikan dalam setiap UTS tidaklah sedikit. Karena itulah penulis juga mengedarkan kuesioner untuk mengetahui "berapa frekuensi belajar mahasiswa tingkat satu ini di luar mengerjakan tugas?". Grafik di bawah ini ialah hasil dari kuisioner yang diedarkan terhadap 100 responden mahasiswa tingkat 1 di ITB.




GRAFIK 3
INTENSITAS WAKTU BELAJAR DILUAR JAM PELAJARAN

Intensitas belajar dalam sehari di luar tugas menunjukan persiapan yang responden lakukan untuk menghadapi ujian. Mengapa demikian ? Karena dengan belajar secara rutin dalam sehari tentunya materi yang akan diujikan dalam UTS akan terasa tidak terlalu banyak. Pada saat H-7 menjelang masa ujian mahasiswa hanya perlu mengulas materi yang pernah dipelajari. Dari hasil kuisioner diketahui kurang dari 20% yang belajar selama lebih dari 4 jam. Rata-rata, belajar selama 2-4 jam dalam sehari. Bahkan lebih dari 10 responden tidak pernah belajar selain untuk mengerjakan tugas/ujian dan kurang lebih 25% lainnya belajar kurang dari 2 jam perhari.
Belajar di luar mengerjakan tugas/ujian juga menunjukan produktivitas dari mahasiswa. Responden yang belajar selama lebih dari 4 jam dalam sehari dapat dikatakan produktivitasnya tinggi dalam belajar. Mereka dapat mengatur waktu mereka dengan optimal untuk belajar, terbukti dari alokasi waktu untuk hal tersebut.
Tentunya mahasiswa yang mengalokasikan waktu belajarnya lebih banyak dari yang lain, persentase keberhasilan dalam hal akademik akan lebih tinggi dibanding mahasiswa yang memberikan alokasi sedikit waktu untuk belajar. Kegiatan yang diikuti mahasiswa selain kuliah di dalam kelas juga dapat menjadi penghambatnya sedikitnya waktu yang dialokasikan untuk belajar di luar kelas. Jika sudah demikian maka prioritas menjadi sangatlah penting, mahasiswa dituntut untuk menentukan hal terpenting yang perlu dilakukan.

Hubungan Pengaturan Waktu dengan Kehidupan Sosial Akademis Mahasiswa ITB
Dengan pengaturan waktu yang baik maka semua aktivitas akan berjalan dengan baik. Begitu juga dengan segala tugas yang diberikan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan menentukan jadwal terstruktur berdasarkan prioritas, mahasiswa akan menjadi mudah mengerjakan pekerjaannya. Melakukan pengaturan waktu merupakan kebiasaan yang perlu dikembangkan, dengan melakukannya secara terus-menerus maka hal tersebut dapat tumbuh menjadi kebiasaan. Dan tentu saja kebiasaan tersebut akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa.
Seperti sudah disebutkan, kegiatan mahasiwa tidak hanya belajar di dalam kelas tetapi juga di luar kelas seperti belajar berorganisasi melalui Unit atau Himpunan. Tentunya mahasiswa harus mampu membagi waktunya untuk melakukan kedua kegiatan mereka yaitu akademik dan sosial agar nantinya mahasiswa ini dapat dikatakan sukses.
Mahasiswa yang dapat mengatur waktunya dengan baik dan efektif maka kehidupan sosial-akademisnya akan berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan yang berarti. Begitu juga sebaliknya, mahasiswa yang kurang cakap dalam melakukan pengaturan waktu secara efektif, kehidupan sosial-akademisnya akan banyak mengalami gangguan.


















BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Dari data-data yang telah dikumpulkan penulis, maka dapat disimpulkan bahwa :
Pengaturan waktu adalah cara agar seseorang dapat memanfaatkan waktunya dengan baik sehingga tanggungan-tanggunan yang mereka punya dapat terselesaikan tanpa harus merasa dibayang-bayangi oleh deadline.
Terdapat 3 peranan utama mahasiswa yaitu peranan moral, peranan sosial dan peranan intelektual.
Mahasiswa sebagai insan akademis seharusnya sadar akan kewajibannya terhadap waktu dan menerapkan pengaturan waktu yang baik dan efektif. Namun, pada kenyataannya, masih banyak ditemukan mahasiswa yang seringkali menjadi deadliner yang mengerjakan dan mengumpulkan tugas di batas waktu pengumpulan.
Praktek pengaturan waktu pada mahasiswa ITB dinilai belum begitu efektif. Dibuktikan dari hasil kuisoner yang mengatakan bahwa mahasiswa ITB masih sering menunda-nunda pekerjaan mereka sehingga menyebabkan sebagian besar dari mereka merasa selalu dikejar oleh deadline.
Manfaat yang dapat diperoleh dari manajemen waktu yang baik adalah sebagai berikut :
Membantu individu dalam membuat prioritas pekerjaan.
Mengurangi kecenderungan untuk menunda.
Membantu individu menghindari "tabrakan waktu".
Memberi individu kebebasan dan kendali.
Menjadikan hidup yang seimbang dan selaras.
Individu dapat merencanakan tujuan atau cita-cita yang dikehendaki.
Menjadikan individu menjadi lebih produktif.
Membantu mengevaluasi kemajuan individu tersebut.

Saran
Setelah melakukan penelitian, penulis menyarankan untuk :
Seorang individu seharusnya mempunyai perencanaan akan kegiatan yang ia lakukan. Perencanaan yang baik meliputi :
Penetapan sasaran.
Penetapan sumber daya yang diperlukan.
Penentukan penanggungjawab.
Penyusunan langkah tindakan.
Penjadwalan langkah tindakan.
Memilih kemungkinkan pencapaian sasaran sesuai tanggal yang diinginkan.
Menyiapkan titik-titik pengukuran hasil & peninjauan kembali
Menetapkan prioritas dengan metode abc (sesuai matriks pengaturan waktu):
A = harus dilakukan dan mempunyai batas waktu yang mendesak
B = sebaiknya dilakukan sehingga dapat meningkatkan kinerja
namun tidak mutlak perlu serta tidak menyangkut batas waktu
C = baik bila dilakukan tetapi dapat ditunda, dihapuskan atau
dijadwalkan pada waktu lowong
Seorang individu seharusnya mempunyai kesadaran yang tinggi akan waktu. Tidak hanya mengetahui karakteristik dari waktu, namun juga dapat memaknai secara mendalam karakteristik waktu itu sendiri sehingga dapat memanfaatkan waktu yang berharga denagn semaksimal mungkin.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Manajemen Waktu, Cara Meningkatkan Efektivitas Waktu Anda. dari http://cessee.com/2012/10/20/manajemen-waktu-cara-meningkatkan-efektivitas-waktu-anda.html (16 April 2013)
Anonim.Arti Mahasiswa . http://www.slideshare.net/harrypottertwilight/arti-mahasiswa (14 April 2013 )
Chakim, M Lutfi. 2012. Mahasiswa serta Peran dan Fungsinya.
http://lutfichakim.blogspot.com/2012/04/mahasiswa-serta-peran-dan-fungsinya.html (13 April 2013)
Mayo Clinic Staf . Time management: Tips to reduce stress and improve productivity. .http://www.mayoclinic.com/health/time-management/wl00048 (15 April 2013)
Zerihun ,Temesgen Belayneh ,& S.Murali Krishna. "A Few Techniques for Time Management". 2012 .Journal of Business Management & Social Sciences Research : Mekelle University ,Vol. 1 , No.3, December 2012
http://borjournals.com/Research_papers/Dec_2012/1065%20M.pdf diunduh tanggal 15 April 2013 pukul 21.15














LAMPIRAN














LAMPIRAN A
LAMPIRAN A
























LAMPIRAN B
LAMPIRAN B
























LAMPIRAN C
LAMPIRAN C










































































LAMPIRAN D
LAMPIRAN D










































































LAMPIRAN E
LAMPIRAN E
























LAMPIRAN F
LAMPIRAN F
























RIWAYAT PENULIS


Ratri Dyah Palupi, lahir di Kebumen pada 3 Desember 1994. Menyelesaikan studinya di kota asal hingga tingkat menengah atas yaitu TK Mekarsari, SDN Tanjungsari, SMP N 1 Kebumen, dan SMA N 1 Kebumen. Kini, anak ke-3 dari pasangan Agus Rahayu dan Sri Romiatun yang mempunyai hobi browsing dan membaca novel ini tercatat sebagai mahasiswi S1 Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung angkatan 2012.

Ivy Febrianti Putri, gadis yang biasa disapa Ivy ini lahir di Jakarta pada tanggal 14 Februari 1994. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang harmonis dan humoris. Setelah lulus dari SD Islam Dian Didaktika, ia melanjutkan studinya di SMP Negeri 96 Jakarta dan kemudian bersekolah di SMA negeri 34 Jakarta. Kesenangannya terhadap dunia kuliner dan kewirausahaan mulai terlihat ketika menginjak bangku SMP. Ia kerap menjual coklat yang diolah sendiri kepada teman-temannya. Namun, akibat sibuk dengan studinya, usaha itupun sempat terhenti. Kini, dengan dukungan dari kedua kakaknya, anak ketiga dari 3 bersaudara ini berhasil membuka usaha makanan ringan lewat media sosial di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan di ITB.

Rizki Apriliawati, gadis yang kerap disapa Iki atau Ikay ini lahir di Jakarta, 20 April 1994. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang sering pindah-pindah menyebabkan anak ke-2 dari 3 bersaudara ini menyelesaikan studi sekolah dasar dan menengah di kota yang berbeda-beda yaitu TK Bunda Asuh Nanda Bandung, SD Islam PB. Soedirman Jakarta, SMP Al-azhar 14 Semarang, dan SMA Negeri 3 Semarang. Anak dari pasangan Widawati dan Moch Amin ini dikenal supel dan senang berolahraga. Kini ia tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB.

5%
3%
10%
12%
26%
35%
9%
56%
39%
5%



Deskripsi

1







BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah
Waktu tak pernah lepas dari setiap kehidupan manusia. Dari mulai manusia dilahirkan hingga nantinya kembali ke dalam tanah, sang waktulah yang akan selalu ada menemani.
Sering sekali kita mendengar pepatah "Waktu adalah Uang" dimana hal ini berarti kita harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena waktu sama berharganya dengan uang. Namun pada prakteknya manusia sering merasa tidak puas dengan 24 jam yang telah diberikan dalam sehari. Entah karena kepadatan jadwal yang mereka miliki atau karena kurangnya pengaturan waktu yang mereka terapkan, sehingga mereka tidak bisa meng-handle semua agenda yang harus diselesaikan dan yang terjadi bukan mereka yang mengendalikan waktu tetapi waktu yang mengendalikan mereka. Masalah ini merupakan salah satu masalah utama yang dialami oleh para mahasiswa.
Sebagai mahasiswa kita dituntut untuk menjadi insan yang aktif, baik aktif dalam berorganisasi maupun dalam memenuhi kewajiban menuntut ilmu demi memajukan bangsa. Ironisnya, masih banyak sekali mahasiswa yang merasa hidupnya dikejar berbagai macam deadline tugas, mulai dari tugas akademis maupun tugas organisasi. Terkadang hal ini membuat sebagian dari mereka merasa terbebani dan akhirnya berakibat buruk pada salah satu bagian dari kehidupan mereka atau bisa dibilang hidupnya menjadi tidak seimbang. Dampak-dampak itu antara lain turunnya nilai akademis mereka, kurangnya waktu tidur, mahasiswa banyak yang tidak mengikuti organisasi sehingga menjadi dikucilkan, dan masih banyak lagi dampak yang lain. Namun tak jarang pula ditemui mahasiswa yang dapat mempertahankan semua kegiatan akademis dan nonakademis-nya dengan seimbang. Mahasiswa seperti inilah yang menjadi idaman banyak orang, dan tentunya ini bisa terwujud apabila kita memiliki pengaturan waktu yang baik.
Pengaturan waktu terbilang sangat penting terutama bagi pelajar dan mahasiswa. Tanpa pengaturan waktu yang baik, waktu yang ada akan terbuang sia-sia karena dipakai untuk mendahulukan kegiatan-kegiatan yang terbilang kurang penting, sedangkan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih penting malah tidak terselesaikan dengan baik. Inilah yang membuat kita merasa hidup kita selalu dikejar oleh deadline. Namun disamping itu, dalam mengatur waktu terhadap jadwal kegiatan yang ada tidak bisa dilakukan secara asal, pengaturan waktu juga harus didasari dengan kedisiplinan dalam melaksanakan jadwal tersebut sehingga tercipta keefektifan kerja yang berdampak pada kehidupan sosial dan akademik pada pribadi itu sendiri.
Dengan menyadari pentingnya penerapan pengaturan waktu pada mahasiswa, kami melakukan penelitan sehubungan dengan pengaturan waktu dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan akademik mahasiswa, terutama mahasiswa TPB ITB.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah disebutkan sebelumnya, maka muncul beberapa pertanyaan seperti:
Apa itu pengaturan waktu?
Bagaimana keadaan kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB?
Bagaimana praktik pengaturan waktu pada mahasiswa TPB ITB?
Bagaimana pengaruh pengaturan waktu terhadap kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB?

Ruang Lingkup Kajian
Untuk menjawab rumusan masalah di atas perlu pengkajian beberapa pokok, yaitu:
pengaturan waktu dan keefektifannya,
kondisi kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB,
praktik pengaturan waktu pada mahasiswa TPB ITB,
pengaruh pengaturan waktu pada kehidupan sosial dan akademik mahasiswa TPB ITB.
Kajian melingkupi mahasiswa TPB ITB tahun ajaran 2012/2013 yang terdiri dari 12 fakultas yaitu : FTSL, FTI, FMIPA, FTMD, FTTM, FITB, FSRD, SAPPK, SF, SBM, SITH, dan STEI.

Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai melalui penulisan laporan penelitian ini ialah:
menjelaskan apa yang dimaksud dengan pengaturan waktu,
menjelaskan kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB secara umum,
memaparkan pengaruh pengaturan waktu pada kehidupan sosial dan akademis mahasiswa TPB ITB.

Hipotesis
Pengaturan waktu yang baik dan efektif diduga akan berdampak baik pula pada kehidupan sosial serta akademis mahasiswa.

Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode
Metode penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu mendeskripsikan data baik dari literatur maupun dari lapangan kemudian dianalisis. Sehubungan dengan itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penyusunan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode kuisioner yang disebarkan kepada ±100 mahasiswa TPB Institut Teknologi Bandung.

Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, ruang lingkup kajian, tujuan penulisan, hipotesis, metode dan teknik pengumpulan data, dan sistematika penulisan.
BAB II Deskripsi masalah yang terdiri atas pengertian pengaturan waktu, fungsi pengaturan waktu, manfaat pengaturan waktu, dan keefektifan pengaturan waktu
BAB III Pembahasan yang terdiri atas kehidupan sosial akademis mahasiswa ITB, praktik penerapan pengaturan waktu pada mahasiswa ITB, dan pengaruh pengaturan waktu terhadap kehidupan sosial akademis mahasiswa ITB.
BAB IV Penutup yang terdiri atas simpulan dan saran.







BAB II
DESKRIPSI MASALAH


Pengertian Pengaturan Waktu
"The analysis of how working hours are spent and the prioritization of tasks in order to maximize personal efficiency in the workplace." (Collins English Dictionary). Dari kutipan tersebut, pengaturan waktu merupakan analisis terhadap bagaimana seseorang menggunakan waktu kerjanya dan skala prioritas terhadap tugas-tugasnya untuk meningkatkan efesiensi kerja orang tersebut.
Pengaturan waktu di sini berarti penggunaan waktu yang baik dan efisien serta kaitannya dengan skala prioritas kegiatan seorang individu. Bukan sekadar menyusun jadwal kesehariannya, tapi juga untuk melaksanakan jadwal tersebut dengan baik dan efektif sehingga hasil dari setiap pekerjaan yang didapat bisa maksimal. Apalah guna penyusunan jadwal jika ternyata semua hasil dari pekerjaan tidak sesuai harapan.


"Time management involves determining what one should do by setting goals, deciding which events are the most important and realizing that other activities will have to be scheduled around them (prioritizing), making decisions about how much time to allow for certain tasks (time estimation), adjusting to the unexpected (problem solving), reconsidering goals and priorities on a regular basis (evaluation), and observing patterns and trends in behavior." (Crutsinger, 1994)
"Time management involves determining what one should do by setting goals, deciding which events are the most important and realizing that other activities will have to be scheduled around them (prioritizing), making decisions about how much time to allow for certain tasks (time estimation), adjusting to the unexpected (problem solving), reconsidering goals and priorities on a regular basis (evaluation), and observing patterns and trends in behavior." (Crutsinger, 1994)




Pengaturan waktu juga bisa diartikan sebagai langkah menentukan apa yang harus dilakukan berdasarkan tujuan, memutuskan peristiwa yang paling penting dan membuat skala prioritas, membuat keputusan tentang berapa banyak waktu untuk memungkinkan tugas-tugas tertentu (estimasi waktu) , membiasakan dengan adanya pemecahan masalah, mempertimbangkan kembali tujuan dan prioritas secara teratur (evaluasi), dan menumbuhkan kebiasaan perilaku seseorang.
Atau secara singkat pengaturan waktu adalah pemanfaatan waktu yang sebaik-baiknya dengan menitik beratkan atas kemampuan diri sendiri untuk dapat merencanakan, mengatur dan mengontrol waktu sehingga mendapatkan hasil sesuai dengan harapan.
Waktu yang kita miliki dapat dikatakan sangatlah singkat sedangkan pekerjaan yang seharusnya diselesaikan semakin bertambah kian hari. Penelitian di USA menyebutkan dari usia rata-rata 72 tahun, hanya 20% dari total usia yang digunakan secara efektif untuk bekerja dan mengejar impian. Maka dari itu pengaturan waktu sangatlah dibutuhkan agar pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan lebih efektif menggunakan skala prioritas.
Fungsi Pengaturan Waktu
"Time management used so that someone can do their task and target effectively." (Schuler, 1979). Kutipan ini menjelaskan salah satu fungsi pengaturan waktu bagi seseorang agar dapat menyelesaikan tugas dan targetnya dengan efektif. Dengan adanya pengaturan waktu, setiap tugas akan terkontrol baik dari segi waktu maupun keoptimalan hasil dari tugas tersebut, sehingga tidak akan terjadi penumpukan dan ketidakoptimalan dalam penyelesaian tugas-tugas.
Skala prioritas juga diperlukan dalam pengaturan waktu. Perlu diatur mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting. Hal ini bertujuan agar tidak berlarut-larut dalam satu pekerjaan yang sebenarnya kurang penting dan meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya penting.
Dengan demikian seseorang diharapkan bisa mengelompokkan seluruh kegiatan mereka berdasarkan tingkat kepentingan dan tingkat mendesaknya kegiatan tersebut, atau dalam kata lain mereka bisa berkata "Ya" pada suatu pekerjaan yang benar-benar penting dan mendesak serta berkata "Tidak" pada pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak.
Di lain sisi, dalam mengerjakan pekerjaan penting itu kita juga harus mempunyai batasan waktu agar pekerjaan tersebut tidak dikerjakan secara berlarut-larut dan menghabiskan banyak waktu. Dengan menerapkan pengaturan waktu inilah kita bisa mulai mengorganisir kegiatan kita sehingga pekerjaan yang penting dapat diselesaikan secara optimal.

Manfaat Pengaturan Waktu
"Time management has also been characterized as a habit developed only through determination and practice" (Simpson, 1978), "As prioritizing and respecting those priorities" (Soucie, 1986), "And as setting priorities and scheduling tasks" (Jordan et al., 1989). Pengaturan waktu diartikan sebagai kebiasaan yang dikembangkan melalui penentuan dan latihan sebagai prioritas dan menjalankan prioritas tersebut serta membuat jadwal pelaksanaan prioritas tersebut .
Pengaturan waktu yang efektif, secara tidak langsung dapat melatih kedisiplinan dalam diri orang tersebut. Sehingga dapat membudayakan budaya tertib dan teratur. Selain itu, menerapkan pengaturan waktu secara berkala juga berarti sama dengan menumbuhkan kebiasaan baru dalam diri seseorang. Sesorang yang menerapkan pengaturan waktu dengan efektif akan menjadi pribadi yang lebih menghargai waktu dan juga bisa memanfaatkan waktu dengan efektif dan efisien. Dengan demikian individu itu bisa menjadi lebih produktif karena ia tahu bagaimana caranya menggunakan waktu dengan baik dan efisien untuk semua pekerjaannya sehingga pekerjaan yang dapat diselesaikan bisa lebih banyak atau lebih cepat dibanding individu yang tidak menerapkan pengaturan waktu.
Tidak hanya itu saja, pengaturan waktu dapat membiasakan seseorang untuk mempunyai rencana cadangan jika rencana awal yang ia miliki tidak berjalan sesuai dengan rencana. Sehingga nantinya ia akan lebih mudah mencari pemecahan masalah atas suatu kejadian diluar rencana, ini bisa terjadi karena seseorang tersebut telah biasa mempunyai banyak rencana.

Keefektifan Pengaturan Waktu
Dalam melaksanakan pengaturan waktu, diperlukan kedisiplinan untuk melaksanakan jadwal yang sudah dibuat sebelumnya. Semaksimal apapun suatu jadwal dibuat tetap akan percuma apabila tidak didasari dengan kemauan untuk melaksanakan jadwal tersebut.
Hal yang harus diperhatikan selanjutnya agar dapat melaksanakan keefektifan pengaturan waktu adalah menentukan skala prioritas. Seringkali hal ini menjadi penghambat dalam melaksanakan pengaturan waktu. Seseorang harus dapat menentukan dan memilah suatu pekerjaan yang hendak ia lakukan sesuai dengan kepentingan dari masalah tersebut, sangat pentingkah, sangat mendesakkah, atau malah tidak penting dan tidak mendesak. Dari pemilahan prioritas itulah dapat diambil kesimpulan pekerjaan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Dalam prakteknya bisa dengan membuat matriks pengaturan waktu terhadap semua kegiatan yang kita miliki, seperti pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Matriks pengaturan waktu.(sumber: http://www.empowernetwork.com)
Gambar 2.1 Matriks pengaturan waktu.
(sumber: http://www.empowernetwork.com)
Dengan membuat matriks pengaturan waktu tersebut, pekerjaan seseorang akan terorganisir dengan baik serta dapat diselesaikan sesuai dengan tenggat waktu yang dialokasikan dan hasilnya-pun akan lebih optimal. Dengan pengaturan waktu seseorang akan lebih menghargai waktu sehingga nantinya ia dapat mempunyai waktu istirahat yang lebih banyak. Ia tidak akan merasa bahwa pekerjaannya terlalu banyak dan tidak mungkin dikerjakan sesuai batas waktu yang telah ditentukan karena ia telah menyusun semua pekerjaan dengan baik serta telah terbiasa melakukannya dengan benar. Sehingga pengaturan waktu mempunyai keefektifan yang tinggi dalam mengatur kesehariaan seseorang agar dapat berjalan dengan baik.












BAB III
PEMBAHASAN


Kehidupan Sosial dan Akademis Mahasiswa ITB
Mahasiswa, terdiri dari kata Maha dan Siswa dimana kedua kata ini membentuk arti orang-orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi hanyalah syarat administratif menjadi mahasiswa, tetapi menjadi mahasiswa mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri.
Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata per kata, Mahasiswa adalah Seorang agen pembawa perubahan. Menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat bangsa di berbagai belahan dunia.
Sebagai mahasiswa berbagai macam label pun disandang, ada beberapa macam label yang melekat pada diri mahasiswa, misalnya:
Direct Of Change, mahasiswa bisa melakukan perubahan langsung karena SDMnya yangg banyak.
Agent Of Change, mahasiswa agent perubahan, maksudnya sumber daya alam untuk melakukan perubahan.
Iron Stock, sumber daya manusia dari mahasiswa itu tidak akan pernah habis.
Moral Force, mahasiswa adalah kumpulan orang yangg memiliki moral yang baik.
Social Control, mahasiswa ialah pengontrol kehidupan sosial, contoh mengontrol kehidupan sosial yang dilakukan masyarakat.
Namun secara garis besar, setidaknya ada 3 peran dan fungsi yang sangat penting bagi mahasiwa, yaitu :
Pertama, peranan moral, dunia kampus merupakan dunia di mana setiap mahasiswa dengan bebas memilih kehidupan yang mereka mau. Disinilah dituntut suatu tanggung jawab moral terhadap diri masing-masing sebagai individu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kedua, adalah peranan sosial. Selain tanggung jawab individu, mahasiswa juga memiliki peranan sosial, yaitu bahwa keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Ketiga, adalah peranan intelektual. Mahasiswa sebagai orang yang disebut-sebut sebagai insan intelek haruslah dapat mewujudkan status tersebut dalam ranah kehidupan nyata. Dalam arti menyadari betul bahwa fungsi dasar mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitas yang ia miliki selama menjalani pendidikan.
Dari ketiga peran penting tersebut, mari kita lihat kaitannya dengan kehidupan mahasiswa di ITB. Yang pertama, kehidupan akademis yang berkaitan dengan peranan intelektual. Seperti yang telah kita ketahui dari pengertian mahasiswa diatas, mahasiswa adalah insan intelek yang dituntut untuk menimba ilmu demi masa depan bangsa ini. Di tangan mahasiswa-lah nasib bangsa ini kedepannya dibawa. Oleh sebab itu, demi mewujudkan tujuan tersebut tugas utama kita sebagai mahasiswa adalah belajar dan belajar.
Menuntut ilmu di ITB bukanlah hal yang mudah dari mulai pelajarannya, tugas-tugasnya, asistensinya dan masih banyak kegiatan akademis yang lain yang menuntut profesionalitas seorang mahasiswa agar dapat menyelesaikan semua tanggungannya itu. Di samping menyelesaikan semua tanggungan, kita juga harus dapat bersaing dengan putra-putri terbaik bangsa lainnya agar tetap bisa berprestasi di kampus ini. Cara untuk dapat menumbuhkan profesionalitas inilah yang kemudian menjadi pembahasan kami kali ini.
Selain kehidupan akademis, terdapat pula kehidupan sosial kampus. Peranan moral dan peranan sosial tergolong peran yang akan mendukung kehidupan sosial kampus. Mahasiswa ITB berasal dari daerah yang berbeda-beda menyebabkan budaya dan latar belakang yang berbeda-beda pula bagi tiap individu. Inilah motivasi awal agar kita bisa segera beradaptasi dan mencari teman sebanyak-banyaknya di lingkungan yang baru ini. Dengan adanya interaksi antar individu ini, maka muncul kehidupan sosial.
Di kampus tercinta ini terdapat banyak sekali media untuk bersosialisasi, yang pertama adalah unit kegiatan mahasiswa. Jumlah unit di ITB kurang lebih sekitar 81 buah dan terbagi menjadi beberapa rumpun seperti rumpun keagamaan, seni budaya, olahraga, pendidikan, dan masih banyak lagi. Setiap rumpun memiliki motivasi dan tujuan yang berbeda dari mulai meningkatkan keimanan, mengembangkan bakat dan minat yang kita miliki, berolahraga, dan tidak lupa sambil belajar berorganisasi.
Selain unit terdapat pula himpunan mahasiswa jurusan. Jumlah himpunan di ITB sebanyak jumlah program studi di kampus ini, yaitu sebanyak 29 buah. Setiap himpunan memiliki ciri dan karakteristik khas sesuai dengan program studinya masing-masing. Berbeda dengan unit, himpunan berfungsi sebagai tempat berkumpul seluruh mahasiswa pada program studi tertentu dimana dengan adanya himpunan ini mahasiswa jadi lebih mengenal satu sama lain baik dengan teman satu angkatannya maupun dengan mahasiswa angkatan di atas dan di bawah mereka.
Budaya yang sudah terbentuk di kampus ini sendiri adalah seorang mahasiswa biasanya mengikuti paling sedikit 1 unit dan juga diwajibkan untuk ikut dalam himpunan. Selain itu, mahasiswa yang tidak mengikuti unit (non-unit) atau atau tidak mengikuti himpunan (non-himpunan) biasanya dikucilkan di lingkungannya atau terkenal dengan sebutan ansos yang merupakan kependekan dari anti sosial.
Mahasiswa tidak dapat disebut dengan mahasiswa berprestasi apabila mahasiswa itu hanya berprestasi dalam bidang non-akademis atau dalam bidang akademis saja. Mahasiswa berprestasi adalah mahasiswa yang unggul dalam bidang akademis dan non-akademis atau bisa dibilang mahasiswa yang balance dalam semua aspek pendidikan.
Sebagai mahasiswa ITB yang baik tentunya kita harus mengikuti budaya yang berlaku di kampus ini, yaitu disamping menuntut ilmu kita juga dituntut untuk berlatih berorganisasi baik di unit maupun di himpunan. Untuk menjadi aktif di seluruh kegiatan tersebut tentunya bukanlah hal yang mudah. Setiap kegiatan tersebut pasti membebani tugas dengan spesifikasi dan deadline yang bermacam-macam bahkan tidak jarang ditemukan deadline beberapa tugas dalam satu waktu yang bersamaan.
Inilah yang selalu menjadi masalah utama mahasiswa ITB, disaat mereka ingin menjadi aktif dalam semua aspek pendidikan namun karena kurangnya profesionalitas dalam diri mereka, yang terjadi malah semua kegiatan dan tugasnya terbengkalai dan akhirnya menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri, sehingga hasilnya mereka malah tidak bisa menyeimbangkan semua kegiatannya atau bahkan tidak mendapatkan apapun dari semua kegiatan itu.
Salah satu akibat utama terjadinya hal ini adalah karena kurangnya pengaturan waktu dalam diri mereka, oleh sebab itu kami mencoba menganalisis bagaimana praktik pengaturan waktu bagi mahasiswa ITB apakah sudah dilakukan secara efektif atau belum, juga menganalisis apa saja manfaat yang mereka rasakan setelah mempraktikan pengaturan waktu ini.

Praktik Penerapan Pengaturan Waktu pada Mahasiswa ITB
Tugas, kegiatan kemahasiswaan,dan kehidupan sosial, seperti sudah dijelaskan sebelumnya memang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Mahasiswa dituntut agar dapat mengatur waktu dengan baik agar semua pekerjaannya dapat diselesaikan tepat waktu. Jika mahasiswa tidak terbiasa membagi waktunya maka kegiatan dan pekerjaannya akan menumpuk dan berantakan seiring berjalannya waktu dan tentu saja suatu hari akan ada keadaan dimana mahasiswa merasa dikejar deadline. Karena itu penulis mengumpulkan data pada hari ke berapa mahasiswa mengerjakan tugasnya untuk mengetahui penggunaan waktu pada mahasiswa. Hasilnya ialah sebagai berikut:
GRAFIK 1
PRESENTASE WAKTU PENGERJAAN TUGAS

Sampel di atas di atas diambil dari 100 orang mahasiswa S1 tingkat pertama di Institut Teknologi Bandung. Sampel diambil dari mahasiswa tingkat pertama karena pada keadaan ini mahasiswa masih menyesuikan dirinya dengan kondisi kampus. Pada tahap ini perbedaan antara tingkat SMA dan perguruan tinggi saat kentara, terutama mengenai tugas yang diberikan dan tentunya pentingnya mengatur waktu.
Berdasarkan hasil kuesioner diperoleh data 35 % responden mengerjakan tugas mereka pada hari ke-6 setelah tugas diberikan. Seringkali mahasiswa tingkat pertama di ITB mengalami penumpukan tugas, seolah tugas yang harus mereka kerjakan sangat banyak, padahal sebenarnya hal ini diakibatkan karena kebiasaan mereka yang mengerjakan tugas pada H-1 atau 6 hari setelah tugas dikerjakan. Dari sampel tersebut hanya 5% responden yang mengerjakan tugas pada hari ke 1 setelah tugas dikerjakan atau H-6 . Hal ini menunjukan pengaturan waktu yang dilakukan mahasiswa tingkat pertama ITB belum efektif. Apalagi dari responden ada yang mengerjakan pada hari-H saat tugas dikumpulkan dan menurut hasil persentase ialah 9%, artinya 9 dari 100 orang mengerjakan tugas pada hari saat tugas itu dikumpulkan . Selanjutnya hasil dari kuesioner di atas diperkuat dengan adanya kuesioner kedua mengenai "Apakah Anda pernah merasa deadline mengejar Anda ? " . Hasilnya ialah:




GRAFIK 2
RESPON MAHASISWA TERHADAP DEADLINE

56% responden mengatakan deadline pernah mereka rasakan, 39% tidak pernah merasa dikejar deadline, dan 5% lainnya mengatakan kadang-kadang mereka dihantui deadline. Bagaimana tidak mereka merasa begitu banyak tugas yang mengejar mereka padahal sebenarnya merekalah yang menunda tugas yang diberikan. Maka dari itu pengaturan waktu sangatlah penting untuk menghadapi tugas yang jumlahnya tidak sedikit di masa perguruan tinggi ini.
Selanjutnya mahasiswa tingkat pertama ini sering merasa waktu seminggu untuk jarak interval ujian tengah semester sangat kurang mengingat materi yang diujikan dalam setiap UTS tidaklah sedikit. Karena itulah penulis juga mengedarkan kuesioner untuk mengetahui "berapa frekuensi belajar mahasiswa tingkat satu ini di luar mengerjakan tugas?". Grafik di bawah ini ialah hasil dari kuisioner yang diedarkan terhadap 100 responden mahasiswa tingkat 1 di ITB.




GRAFIK 3
INTENSITAS WAKTU BELAJAR DILUAR JAM PELAJARAN

Intensitas belajar dalam sehari di luar tugas menunjukan persiapan yang responden lakukan untuk menghadapi ujian. Mengapa demikian ? Karena dengan belajar secara rutin dalam sehari tentunya materi yang akan diujikan dalam UTS akan terasa tidak terlalu banyak. Pada saat H-7 menjelang masa ujian mahasiswa hanya perlu mengulas materi yang pernah dipelajari. Dari hasil kuisioner diketahui kurang dari 20% yang belajar selama lebih dari 4 jam. Rata-rata, belajar selama 2-4 jam dalam sehari. Bahkan lebih dari 10 responden tidak pernah belajar selain untuk mengerjakan tugas/ujian dan kurang lebih 25% lainnya belajar kurang dari 2 jam perhari.
Belajar di luar mengerjakan tugas/ujian juga menunjukan produktivitas dari mahasiswa. Responden yang belajar selama lebih dari 4 jam dalam sehari dapat dikatakan produktivitasnya tinggi dalam belajar. Mereka dapat mengatur waktu mereka dengan optimal untuk belajar, terbukti dari alokasi waktu untuk hal tersebut.
Tentunya mahasiswa yang mengalokasikan waktu belajarnya lebih banyak dari yang lain, persentase keberhasilan dalam hal akademik akan lebih tinggi dibanding mahasiswa yang memberikan alokasi sedikit waktu untuk belajar. Kegiatan yang diikuti mahasiswa selain kuliah di dalam kelas juga dapat menjadi penghambatnya sedikitnya waktu yang dialokasikan untuk belajar di luar kelas. Jika sudah demikian maka prioritas menjadi sangatlah penting, mahasiswa dituntut untuk menentukan hal terpenting yang perlu dilakukan.

Hubungan Pengaturan Waktu dengan Kehidupan Sosial Akademis Mahasiswa ITB
Dengan pengaturan waktu yang baik maka semua aktivitas akan berjalan dengan baik. Begitu juga dengan segala tugas yang diberikan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan menentukan jadwal terstruktur berdasarkan prioritas, mahasiswa akan menjadi mudah mengerjakan pekerjaannya. Melakukan pengaturan waktu merupakan kebiasaan yang perlu dikembangkan, dengan melakukannya secara terus-menerus maka hal tersebut dapat tumbuh menjadi kebiasaan. Dan tentu saja kebiasaan tersebut akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa.
Seperti sudah disebutkan, kegiatan mahasiwa tidak hanya belajar di dalam kelas tetapi juga di luar kelas seperti belajar berorganisasi melalui Unit atau Himpunan. Tentunya mahasiswa harus mampu membagi waktunya untuk melakukan kedua kegiatan mereka yaitu akademik dan sosial agar nantinya mahasiswa ini dapat dikatakan sukses.
Mahasiswa yang dapat mengatur waktunya dengan baik dan efektif maka kehidupan sosial-akademisnya akan berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan yang berarti. Begitu juga sebaliknya, mahasiswa yang kurang cakap dalam melakukan pengaturan waktu secara efektif, kehidupan sosial-akademisnya akan banyak mengalami gangguan.


















BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Dari data-data yang telah dikumpulkan penulis, maka dapat disimpulkan bahwa :
Pengaturan waktu adalah cara agar seseorang dapat memanfaatkan waktunya dengan baik sehingga tanggungan-tanggunan yang mereka punya dapat terselesaikan tanpa harus merasa dibayang-bayangi oleh deadline.
Terdapat 3 peranan utama mahasiswa yaitu peranan moral, peranan sosial dan peranan intelektual.
Mahasiswa sebagai insan akademis seharusnya sadar akan kewajibannya terhadap waktu dan menerapkan pengaturan waktu yang baik dan efektif. Namun, pada kenyataannya, masih banyak ditemukan mahasiswa yang seringkali menjadi deadliner yang mengerjakan dan mengumpulkan tugas di batas waktu pengumpulan.
Praktek pengaturan waktu pada mahasiswa ITB dinilai belum begitu efektif. Dibuktikan dari hasil kuisoner yang mengatakan bahwa mahasiswa ITB masih sering menunda-nunda pekerjaan mereka sehingga menyebabkan sebagian besar dari mereka merasa selalu dikejar oleh deadline.
Manfaat yang dapat diperoleh dari manajemen waktu yang baik adalah sebagai berikut :
Membantu individu dalam membuat prioritas pekerjaan.
Mengurangi kecenderungan untuk menunda.
Membantu individu menghindari "tabrakan waktu".
Memberi individu kebebasan dan kendali.
Menjadikan hidup yang seimbang dan selaras.
Individu dapat merencanakan tujuan atau cita-cita yang dikehendaki.
Menjadikan individu menjadi lebih produktif.
Membantu mengevaluasi kemajuan individu tersebut.

Saran
Setelah melakukan penelitian, penulis menyarankan untuk :
Seorang individu seharusnya mempunyai perencanaan akan kegiatan yang ia lakukan. Perencanaan yang baik meliputi :
Penetapan sasaran.
Penetapan sumber daya yang diperlukan.
Penentukan penanggungjawab.
Penyusunan langkah tindakan.
Penjadwalan langkah tindakan.
Memilih kemungkinkan pencapaian sasaran sesuai tanggal yang diinginkan.
Menyiapkan titik-titik pengukuran hasil & peninjauan kembali
Menetapkan prioritas dengan metode abc (sesuai matriks pengaturan waktu):
A = harus dilakukan dan mempunyai batas waktu yang mendesak
B = sebaiknya dilakukan sehingga dapat meningkatkan kinerja
namun tidak mutlak perlu serta tidak menyangkut batas waktu
C = baik bila dilakukan tetapi dapat ditunda, dihapuskan atau
dijadwalkan pada waktu lowong
Seorang individu seharusnya mempunyai kesadaran yang tinggi akan waktu. Tidak hanya mengetahui karakteristik dari waktu, namun juga dapat memaknai secara mendalam karakteristik waktu itu sendiri sehingga dapat memanfaatkan waktu yang berharga denagn semaksimal mungkin.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Manajemen Waktu, Cara Meningkatkan Efektivitas Waktu Anda. dari http://cessee.com/2012/10/20/manajemen-waktu-cara-meningkatkan-efektivitas-waktu-anda.html (16 April 2013)
Anonim.Arti Mahasiswa . http://www.slideshare.net/harrypottertwilight/arti-mahasiswa (14 April 2013 )
Chakim, M Lutfi. 2012. Mahasiswa serta Peran dan Fungsinya.
http://lutfichakim.blogspot.com/2012/04/mahasiswa-serta-peran-dan-fungsinya.html (13 April 2013)
Mayo Clinic Staf . Time management: Tips to reduce stress and improve productivity. .http://www.mayoclinic.com/health/time-management/wl00048 (15 April 2013)
Zerihun ,Temesgen Belayneh ,& S.Murali Krishna. "A Few Techniques for Time Management". 2012 .Journal of Business Management & Social Sciences Research : Mekelle University ,Vol. 1 , No.3, December 2012
http://borjournals.com/Research_papers/Dec_2012/1065%20M.pdf diunduh tanggal 15 April 2013 pukul 21.15














LAMPIRAN














LAMPIRAN A
LAMPIRAN A
























LAMPIRAN B
LAMPIRAN B
























LAMPIRAN C
LAMPIRAN C










































































LAMPIRAN D
LAMPIRAN D










































































LAMPIRAN E
LAMPIRAN E
























LAMPIRAN F
LAMPIRAN F
























RIWAYAT PENULIS


Ratri Dyah Palupi, lahir di Kebumen pada 3 Desember 1994. Menyelesaikan studinya di kota asal hingga tingkat menengah atas yaitu TK Mekarsari, SDN Tanjungsari, SMP N 1 Kebumen, dan SMA N 1 Kebumen. Kini, anak ke-3 dari pasangan Agus Rahayu dan Sri Romiatun yang mempunyai hobi browsing dan membaca novel ini tercatat sebagai mahasiswi S1 Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung angkatan 2012.

Ivy Febrianti Putri, gadis yang biasa disapa Ivy ini lahir di Jakarta pada tanggal 14 Februari 1994. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang harmonis dan humoris. Setelah lulus dari SD Islam Dian Didaktika, ia melanjutkan studinya di SMP Negeri 96 Jakarta dan kemudian bersekolah di SMA negeri 34 Jakarta. Kesenangannya terhadap dunia kuliner dan kewirausahaan mulai terlihat ketika menginjak bangku SMP. Ia kerap menjual coklat yang diolah sendiri kepada teman-temannya. Namun, akibat sibuk dengan studinya, usaha itupun sempat terhenti. Kini, dengan dukungan dari kedua kakaknya, anak ketiga dari 3 bersaudara ini berhasil membuka usaha makanan ringan lewat media sosial di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan di ITB.

Rizki Apriliawati, gadis yang kerap disapa Iki atau Ikay ini lahir di Jakarta, 20 April 1994. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang sering pindah-pindah menyebabkan anak ke-2 dari 3 bersaudara ini menyelesaikan studi sekolah dasar dan menengah di kota yang berbeda-beda yaitu TK Bunda Asuh Nanda Bandung, SD Islam PB. Soedirman Jakarta, SMP Al-azhar 14 Semarang, dan SMA Negeri 3 Semarang. Anak dari pasangan Widawati dan Moch Amin ini dikenal supel dan senang berolahraga. Kini ia tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB.

5%
3%
10%
12%
26%
35%
9%
56%
39%
5%

Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.