Makalah Tentang Anak Jalanan

November 8, 2017 | Author: Fitria Astuti | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

Tugas Individu Tentang Anak Jalanan
Mata Kuliah "Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus"





Disusun Oleh :


Nama : Fitria Puji Astuti
Nim : 0602512021
Prodi : PAUD 2012




Fakultas Psikologi dan Pendidikan
Universitas Al Azhar Indonesia
Pendahuluan
Anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Umumnya mereka berasal dari keluarga yang ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif.
Ketika mereka dewasa, besar kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan. Tanpa adanya upaya apapun, maka kita telah berperan serta menjadikan anak-anak sebagai korban tak berkesudahan. Menghapus stigmatisasi di atas menjadi sangat penting. Sebenarnya anak-anak jalanan hanyalah korban dari konflik keluarga, komunitas jalanan, dan korban kebijakan ekonomi permerintah yang memberatkan rakyat. Untuk itu kampanye perlindungan terhadap anak jalanan perlu dilakukan secara terus menerus setidaknya untuk mendorong pihak-pihak di luar anak jalanan agar menghentikan aksi-aksi kekerasan terhadap anak jalanan. Sesuai konvensi hak anak-anak yang dicetuskan oleh PBB (Convention on the Rights of the Child), sebagaimana telah diratifikasi dengan Keppres nomor 36 tahun 1990, menyatakan bahwa karena belum matangnya fisik dan mental anak-anak, maka mereka memerlukan perhatian dan perlindungan. Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia merupakan persoalansosial yang komplek. Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas, dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi "masalah" bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat dan negara. Namun, perhatian terhadap nasibanak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif. Padahal mereka adalahsaudara kita. Mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi manusia dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah.
Begitu pula kiranya anak jalanan yang memerlukan perhatian dan perlindungan terhadap hak-haknya sebagai anak bangsa untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.Melihat isi dari pasal 31 ayat 1 tersebut sangat bertolak belakang dengan yang dialami anak jalanan. Mereka hampir tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pengajaran. Ironisnya di tengah pendidikan bagi anak jalanan yang terabaikan, DPR justru berencana mendirikan gedung baru yang megah dengan alasan "kinerja". Sepertinya akan lebih bijak apabila dana tersebut digunakan untuk mendirikan sekolah untuk anak jalanan, memberikan honor bagi pengajar, dan penyediaan sarana belajar mengajar untuk mereka. Akan tetapi di balik hal tersebut kita patut bangga karena kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pendidikan justru semakin tinggi. Hal ini dibuktikan dari banyaknya masyarakat yang mengabdikan diri sebagai pengajar di sanggar yang telah didirikan.
















Karakteristik dan Perkembangan Sosial Emosional
Karakteristik anak jalanan terbagi dua yaitu:

a. Ciri fisik
- Warna kulit kusam
- Rambut kemerahan
- Kebanyakan berbadan kurus
- Pakaian tidak terurus

b. Ciri psikis
- Mobilitas tinggi
- Acuh tak uacuh
- Penuh curiga
- Sangat sensistif berwatak keras
- Kreative
- Semangat hidup tinggi
- Berani tanggung resiko
- Mandiri

Psikososial anak jalanan :
Keadaan saat ini sangat memprihatinkan karena anak yangrentan turun ke jalan lebih dari 20 kali lipat jumlah nya dibandingkan dengan anak jalanan itu sendiri. Anak jalanan perempuan jauh lebih buruk posisinya karena pasti akan menerima berbagai kekerasan atau bahkan pelecehan seksual. Karena anak jalanan lebih banyak berinteraksi dengan kerasnyahidup dijalan dan mencari uang, itu berdampak pada perkembangan psikososial nya dan tumbuh menjadi anak yang keras, liar, dan terkenal tidak bisa diatur. Usia anak jalanan biasanya masih dalamusia sekolah dimana usia sekolah termasuk ke dalam tahapan psikososial yang mampu menghasilkan karya, dapat dan melatih interaksi yang baik, dapat berprestasi dalam sekolah, serta dapat menggali ilmu dengan kemauan sendiri. Tahap ini merupakan tahap anak membuat konsep diri mereka sendiri. Jika tahap ini terlewatkan terjadi masalah Psikososial. Masalah Psikososial adalah masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai
Pengaruh timbal balik, sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa.
Pelyanan Pendidikan

Sebenarnya anak jalanan tidak berbeda dengan anak yang lainnya, mereka juga mempunyai potensi dan bakat. Pada masa anak-anak seperti itu otak yang memuat 100-200 milyar sel otak siap dikembangkan serta diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi. Pada perkembangan otak manusia mencapai kapasitas 50 % pada masa anak usia dini. Kita telah benar-benar melupakan hak anak-anak untuk bermain, bersekolah, dan hidup sebagaimana lazimnya anak-anak lainnya. Mereka dipaksa orang tua untuk merasakan getirnya kehidupan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif .
Mengkaitkan kandungan hak-hak anak sebagaimana yang tercantum dalam KHA dengan realitas yang ada, maka akan terlihat suatu kesenjangan yang cukup tinggi. Penghormatan negara atas hak-hak anak jalanan dinilai masih sangat minim, bahkan pada kebijakan-kebijakan tertentu seperti razia-razia yang sarat dengan nuansa kekerasan, negara kerapkali dinilai melakukan pelanggaran terhadap hak-hak anak (jalanan). Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam rangka memenuhi hak-hak anak jalanan harus senantiasa ditingkatkan. Hal ini mengingat anak sebagai aset dan generasi penerus bangsa. Salahsatunya adalah dengan meningkatkan pelayanan pendidikan bagi anak-anak jalanan. Pendidikan yang dimaksudkan disini adalah pendidikan formal sebagaimana yang dicanangkan pemerintah dalam Gerakan Wajib Belajar 9 tahun dan tentu saja dengan biaya pendidikan gratis atau murah bagi anak-anak jalanan yang memiliki keluarga miskin.
Pendidikan Pada anak jalanan mungkin ini tidak terlihat sebagai suatu yang penting. Para anak jalanan lebih memilih untuk mencari uang dibandingkan dengan bersekolah. Karena dorongan kebutuhan hidup mereka yang mewajibkan mereka untuk mencari uang untuk dapa bertahan hidup. Maka dari itulah pendidikan yang didapat oleh anak jalanan sangatlah rendah dan dapat dikatakan anak jalanan ini tidak mendapatkan pendidikan secara baik sesuai konvensi hak anak-anak yang dicetuskan oleh PBB (Convention on the Rights of the Child), sebagaimana telah diratifikasi dengan Keppres nomor 36 tahun 1990, menyatakan bahwa karena belum matangnya fisik dan mental anak-anak, maka mereka memerlukan perhatian dan perlindungan. Begitu pula kiranya anak jalanan yang memerlukan perhatian dan perlindungan terhadap hak-haknya sebagai anak bangsa untuk memperoleh pendidikan dengan baik sesuai dengan pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
Melihat isi dari pasal 31 ayat 1 tersebut sangat bertolak belakang dengan yang dialami anak jalanan. Mereka hampir tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pengajaran. Dan akibatnya, perilaku negatif dan kriminal yang timbul di kalangan anak jalanan tersebut. Anak jalanan hidup dan berada dalam situasi sosial yang terdiri dari berbagai setting. Setting pertama adalah lingkungan sosial yang terdiri dari keluarga , sekolah dan masyarakat.
Pendidikan di kalangan anak jalanan ironisnya sangat sedikit atau dapat dikatakan tidak layak. Msesikpun telah diatur dalam Pasal 9 ayat (1) UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan; "Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya". Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa. Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta seperti nasi tanpa lauk,menjadi kering hambar, tak menarik.
Inilah yang menjadi faktor berkembangnya anak jalanan di Indonesia dan pada masa dewasa para anak jalanan ini tidak dapat bersaing dengan anak-anak yang lain. Persaingan ini berpandangan bahwa setiap orang harus diberi kesempatan yang sama untuk bersaing. Namun pada kenyataannya pada persaingan in anak-anak jalanan hanya memiliki sedikit kesempatan karena kurangnya kemampuan dan pendidikan yang diterima leh anak jalanan ini.
Rumah Sebenarnya anak jalanan tidak berbeda dengan anak yang lainnya, mereka juga mempunyai potensi dan bakat. Pada masa anak-anak seperti itu otak yang memuat 100-200 milyar sel otak siap dikembangkan serta diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi. Pada perkembangan otak manusia mencapai kapasitas 50 % pada masa anak usia dini. Kita telah benar-benar melupakan hak anak-anak untuk bermain, bersekolah, dan hidup sebagaimana lazimnya anak-anak lainnya. Mereka dipaksa orang tua untuk merasakan getirnya kehidupan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif .
Mengkaitkan kandungan hak-hak anak sebagaimana yang tercantum dalam KHA dengan realitas yang ada, maka akan terlihat suatu kesenjangan yang cukup tinggi. Penghormatan negara atas hak-hak anak jalanan dinilai masih sangat minim, bahkan pada kebijakan-kebijakan tertentu seperti razia-razia yang sarat dengan nuansa kekerasan, negara kerapkali dinilai melakukan pelanggaran terhadap hak-hak anak (jalanan). Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam rangka memenuhi hak-hak anak jalanan harus senantiasa ditingkatkan. Hal ini mengingat anak sebagai aset dan generasi penerus bangsa. Salahsatunya adalah dengan meningkatkan pelayanan pendidikan bagi anak-anak jalanan. Pendidikan yang dimaksudkan disini adalah pendidikan formal sebagaimana yang dicanangkan pemerintah dalam Gerakan Wajib Belajar 9 tahun dan tentu saja dengan biaya pendidikan gratis atau murah bagi anak-anak jalanan yang memiliki keluarga miskin.
Pendidikan Pada anak jalanan mungkin ini tidak terlihat sebagai suatu yang penting. Para anak jalanan lebih memilih untuk mencari uang dibandingkan dengan bersekolah. Karena dorongan kebutuhan hidup mereka yang mewajibkan mereka untuk mencari uang untuk dapa bertahan hidup. Maka dari itulah pendidikan yang didapat oleh anak jalanan sangatlah rendah dan dapat dikatakan anak jalanan ini tidak mendapatkan pendidikan secara baik sesuai konvensi hak anak-anak yang dicetuskan oleh PBB (Convention on the Rights of the Child), sebagaimana telah diratifikasi dengan Keppres nomor 36 tahun 1990, menyatakan bahwa karena belum matangnya fisik dan mental anak-anak, maka mereka memerlukan perhatian dan perlindungan. Begitu pula kiranya anak jalanan yang memerlukan perhatian dan perlindungan terhadap hak-haknya sebagai anak bangsa untuk memperoleh pendidikan dengan baik sesuai dengan pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
Melihat isi dari pasal 31 ayat 1 tersebut sangat bertolak belakang dengan yang dialami anak jalanan. Mereka hampir tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pengajaran. Dan akibatnya, perilaku negatif dan kriminal yang timbul di kalangan anak jalanan tersebut. Anak jalanan hidup dan berada dalam situasi sosial yang terdiri dari berbagai setting. Setting pertama adalah lingkungan sosial yang terdiri dari keluarga , sekolah dan masyarakat.
Pendidikan di kalangan anak jalanan ironisnya sangat sedikit atau dapat dikatakan tidak layak. Msesikpun telah diatur dalam Pasal 9 ayat (1) UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan; "Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya". Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa. Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta seperti nasi tanpa lauk,menjadi kering hambar, tak menarik.
Inilah yang menjadi faktor berkembangnya anak jalanan di Indonesia dan pada masa dewasa para anak jalanan ini tidak dapat bersaing dengan anak-anak yang lain. Persaingan ini berpandangan bahwa setiap orang harus diberi kesempatan yang sama untuk bersaing. Namun pada kenyataannya pada persaingan in anak-anak jalanan hanya memiliki sedikit kesempatan karena kurangnya kemampuan dan pendidikan yang diterima leh anak jalanan ini.
Rumah Singgah
Rumah singgah sebagai tempat pemusatan sementara yang bersifat non formal, dimana anak-anak bertemu untuk memperoleh informasi dan pembinaan awal sebelum dirujuk ke dalam proses pembinaan lebih lanjut .rumah singgah didefinisikan sebagai perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka. Rumah singgah merupakan proses non formal yang memberikan suasana pusat resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma di masyarakat. Tujuan dibentuknya rumah singgah adalah resosialisasi yaitu membentuk kembali sikap dan prilaku anak yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dan memberikan pendidikan dini untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi masyarakat yang produktif.
Dalam resosialisasi kepada anak jalanan, para tutor menggunakan prinsip perkawanan dan kesejajaran. Meskipun mereka anak-anak, pengalaman dijalanan telah membuat mereka matang. Resosialisasi menghindari pola instruksi dan memberikan masukan-masukan terus-menerus dimana anak sebagai objek. Anak jalana ditempatkan sebagai subjek atas perubahan yang akan terjadi pada dirinya.prinsip yang berlaku adalah para tutor dengan anak jalanan berdiskusi untuk merumuskan kegiatan, memberikan pertimbangan, dan menyemangati upaya yang dipilih. Pada akhir rsosialisasi, anak jalanan diharapkan sudah mampu menolong dirinya sendiri.
Seperti contohnya Andi Suhandi yang beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai "The Young Heroes" oleh sebuah acara televisi ternama. Ia berhasil mendirikan sanggar pendidikan bagi anak jalanan, yang telah menampung banyak anak jalanan dan sebagian dari mereka telah bersekolah di sekolah formal dan berprestasi. Meskipun pada awalnya Andi mengalami kesulitan akan tetapi kesulitan tersebut dapat dilalui berkat kesabaran dan kerja kerasanya. Hasilnya anak-anaknya berhasil membawa pulang Tropi Walikota Juara 1 untuk tulis puisi yang bertema anak jalanan dan Juara 2 lomba baca puisi, serta berhasil meraih Juara 1 lomba teater pada 2009.
Jadi, sebenarnya apabila anak jalanan tersebut dibina dengan baik, mereka memiliki potensi yang tidak kalah dengan anak pada umumnya. Anak jalanan perlu dirangkul untuk mendapatkan haknya memperoleh pendidikan dan tidak selalu dipandang sebelah mata.
Peran dan fungsi rumah singgah bagi program pemberdayaan anak jalanan sangat penting. Secara ringkas fungsi rumah singgah antara lain :
Sebagai tempat perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan yang kerap menimpa anak jalanan dari kekerasan dan prilaku penyimpangan seksual ataupun berbagai bentuk kekerasan lainnya.
Rehabilitasi, yaitu mengembalikan dan menanamkan fungsi sosial anak.
Sebagai akses terhadap pelayanan, yaitu sebagai persinggahan sementara anak jalanan dan sekaligus akses kepada berbagai pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dll. Lokasi rumah singgah harus berada ditengah-tengah masyarakat agar memudahkan proses pendidikan dini, penanaman norma dan resosialisasi bagi anak jalanan.
Mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan atau k panti dan lembaga pengganti lainnya jika diperlukan
Memberikan alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi warga masyarakat yang produktif dan mandiri.










Penelitian Terkait
Pada tingkat mikro, kehadiran anak jalanan di Kota Bandung sangat erat kaitannya dengan "situasi anak dan keluarganya". Situasi anak dan keluarga yang berpengaruh terhadap munculnya fenomena anak jalanan meliputi; pertama, perlakuan salah dan ketidak-mampuan orangtua/keluarga dalam menyediakan kebutuhan dasar bagi anak akibat dari kondisi kemiskinan. Kedua,anak yang lari dari orang tua atau keluarganya karena perceraian orang tua, konflik dalam keluarga, penolakan anak oleh orangtua, dan kondisi terpisah dari orang tua atau kehilangan orangtua. Keluhan orang tua anak jalanan terhadap anaknya yang mengatakan bahwa kehidupan sangat susah, tidak punya biaya untuk sekolah atau doktrin-doktrin bahwa anak harus bertanggung jawab untuk membantu ekonomi keluarga mempunyai pengaruh signifikan terhadap pemikiran anak untuk membantu orang tua dalam mendapatkan penghasilan.
Berbagai perilaku anak dalam mendapatkan penghasilan di jalanan, diarahkan atau diajarkan oleh orang tua atau kakak mereka. Dalam hal ini, orang tua/ibu bapak dan kakaknya menjadi "mentor" bagi anak atau adiknya dalam melakukan difersifikasi perubahan perilaku dalam aktivitasnya mendapatkan penghasilan di jalanan.Orang tua mempunyai kontribusi dalam menentukan keberadaan anak di jalanan. Sebagian besar dari orang tua yang anaknya berada di jalanan tidak peka terhadap kebutuhan atau hak-hak anak mereka, tidak peka dan tidak peduli terhadap resiko kehidupan jalanan bagi anak, dan tidak berusaha keras melindungi anak dari kehidupan jalanan.
Anak yang lari/keluar dari keluarga/orang tuanya melakukan proses pembelajaran sosial di jalanan tentang cara mempertahankan hidup dan mendapatkan penghasilan. Mereka melakukan komunikasi dan proses pembelajaran sosial cara mendapatkan penghasilan di jalanan dari teman atau dari orang-orang yang telah lama berada di jalanan.Orang tua tidak menyadari dan tidak tahu bahwa sesungguhnya pilihan melibatkan anak dalam pemenuhan ekonomi keluarga merupakan pelanggaran hak anak dan sangat membayakan bagi perkembangan anak-anak mereka.
Pada tingkat mezo, kehadiran anak jalanan berhubungan dengan kekurangan sumber informal dilingkungan keluarga besar dan masyarakat yang dapat memberikan dukungan atau kekuatan pada keluarga anak yang bermasalah. Pada tingkat makro, keberadaan anak jalanan berkaitan dengan kesenjangan struktu rekonomi. Terdapat 6 perubahan perilaku yang dilakukan anak jalanan dalam aktivitasnya mendapatkan penghasilan, yaitu; (1) ketika anak jalanan belum bisa berjalan dan berusia kurang dari 3 tahun; (2) ketika anak jalanan sudah dapat berjalan (usia 3 –5 tahun); (3) ketika anak jalanan berusia 6 –8 tahun; (4) ketika anak jalanan berusia 9 –12 tahun; (5) ketika anak jalanan berusia 13 –15 tahun; dan (6) ketika anak jalanan berusia 16 –18 tahun.





























Daftar Pustaka

http://www.slideshare.net/fitriapastuti9/savedfiles?s_title=pendidikan-dan-anak-jalanan&user_login=rampard08
http://www.smeru.or.id/report/other/cpsp/Ppt%20Day%202/Theme3%20Kalasan1/Suharma_ppt_bahasa.pdf

http://maulodonk221027.blogspot.com/2012/06/faktor-faktor-yang-menyebabkan.html
http://saveanakjalnan.blogspot.com/2012/12/masalah-anak-jalanan-di-ibu-kota.html

http://tiana-simanjuntak.blogspot.com/2011/08/makalah-isbd-perilaku-sosial-anak.html






Deskripsi

Tugas Individu Tentang Anak Jalanan
Mata Kuliah "Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus"





Disusun Oleh :


Nama : Fitria Puji Astuti
Nim : 0602512021
Prodi : PAUD 2012




Fakultas Psikologi dan Pendidikan
Universitas Al Azhar Indonesia
Pendahuluan
Anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan phsykis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya. Umumnya mereka berasal dari keluarga yang ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif.
Ketika mereka dewasa, besar kemungkinan mereka akan menjadi salah satu pelaku kekerasan. Tanpa adanya upaya apapun, maka kita telah berperan serta menjadikan anak-anak sebagai korban tak berkesudahan. Menghapus stigmatisasi di atas menjadi sangat penting. Sebenarnya anak-anak jalanan hanyalah korban dari konflik keluarga, komunitas jalanan, dan korban kebijakan ekonomi permerintah yang memberatkan rakyat. Untuk itu kampanye perlindungan terhadap anak jalanan perlu dilakukan secara terus menerus setidaknya untuk mendorong pihak-pihak di luar anak jalanan agar menghentikan aksi-aksi kekerasan terhadap anak jalanan. Sesuai konvensi hak anak-anak yang dicetuskan oleh PBB (Convention on the Rights of the Child), sebagaimana telah diratifikasi dengan Keppres nomor 36 tahun 1990, menyatakan bahwa karena belum matangnya fisik dan mental anak-anak, maka mereka memerlukan perhatian dan perlindungan. Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia merupakan persoalansosial yang komplek. Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas, dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi "masalah" bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat dan negara. Namun, perhatian terhadap nasibanak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif. Padahal mereka adalahsaudara kita. Mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi manusia dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah.
Begitu pula kiranya anak jalanan yang memerlukan perhatian dan perlindungan terhadap hak-haknya sebagai anak bangsa untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.Melihat isi dari pasal 31 ayat 1 tersebut sangat bertolak belakang dengan yang dialami anak jalanan. Mereka hampir tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pengajaran. Ironisnya di tengah pendidikan bagi anak jalanan yang terabaikan, DPR justru berencana mendirikan gedung baru yang megah dengan alasan "kinerja". Sepertinya akan lebih bijak apabila dana tersebut digunakan untuk mendirikan sekolah untuk anak jalanan, memberikan honor bagi pengajar, dan penyediaan sarana belajar mengajar untuk mereka. Akan tetapi di balik hal tersebut kita patut bangga karena kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pendidikan justru semakin tinggi. Hal ini dibuktikan dari banyaknya masyarakat yang mengabdikan diri sebagai pengajar di sanggar yang telah didirikan.
















Karakteristik dan Perkembangan Sosial Emosional
Karakteristik anak jalanan terbagi dua yaitu:

a. Ciri fisik
- Warna kulit kusam
- Rambut kemerahan
- Kebanyakan berbadan kurus
- Pakaian tidak terurus

b. Ciri psikis
- Mobilitas tinggi
- Acuh tak uacuh
- Penuh curiga
- Sangat sensistif berwatak keras
- Kreative
- Semangat hidup tinggi
- Berani tanggung resiko
- Mandiri

Psikososial anak jalanan :
Keadaan saat ini sangat memprihatinkan karena anak yangrentan turun ke jalan lebih dari 20 kali lipat jumlah nya dibandingkan dengan anak jalanan itu sendiri. Anak jalanan perempuan jauh lebih buruk posisinya karena pasti akan menerima berbagai kekerasan atau bahkan pelecehan seksual. Karena anak jalanan lebih banyak berinteraksi dengan kerasnyahidup dijalan dan mencari uang, itu berdampak pada perkembangan psikososial nya dan tumbuh menjadi anak yang keras, liar, dan terkenal tidak bisa diatur. Usia anak jalanan biasanya masih dalamusia sekolah dimana usia sekolah termasuk ke dalam tahapan psikososial yang mampu menghasilkan karya, dapat dan melatih interaksi yang baik, dapat berprestasi dalam sekolah, serta dapat menggali ilmu dengan kemauan sendiri. Tahap ini merupakan tahap anak membuat konsep diri mereka sendiri. Jika tahap ini terlewatkan terjadi masalah Psikososial. Masalah Psikososial adalah masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai
Pengaruh timbal balik, sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa.
Pelyanan Pendidikan

Sebenarnya anak jalanan tidak berbeda dengan anak yang lainnya, mereka juga mempunyai potensi dan bakat. Pada masa anak-anak seperti itu otak yang memuat 100-200 milyar sel otak siap dikembangkan serta diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi. Pada perkembangan otak manusia mencapai kapasitas 50 % pada masa anak usia dini. Kita telah benar-benar melupakan hak anak-anak untuk bermain, bersekolah, dan hidup sebagaimana lazimnya anak-anak lainnya. Mereka dipaksa orang tua untuk merasakan getirnya kehidupan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif .
Mengkaitkan kandungan hak-hak anak sebagaimana yang tercantum dalam KHA dengan realitas yang ada, maka akan terlihat suatu kesenjangan yang cukup tinggi. Penghormatan negara atas hak-hak anak jalanan dinilai masih sangat minim, bahkan pada kebijakan-kebijakan tertentu seperti razia-razia yang sarat dengan nuansa kekerasan, negara kerapkali dinilai melakukan pelanggaran terhadap hak-hak anak (jalanan). Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam rangka memenuhi hak-hak anak jalanan harus senantiasa ditingkatkan. Hal ini mengingat anak sebagai aset dan generasi penerus bangsa. Salahsatunya adalah dengan meningkatkan pelayanan pendidikan bagi anak-anak jalanan. Pendidikan yang dimaksudkan disini adalah pendidikan formal sebagaimana yang dicanangkan pemerintah dalam Gerakan Wajib Belajar 9 tahun dan tentu saja dengan biaya pendidikan gratis atau murah bagi anak-anak jalanan yang memiliki keluarga miskin.
Pendidikan Pada anak jalanan mungkin ini tidak terlihat sebagai suatu yang penting. Para anak jalanan lebih memilih untuk mencari uang dibandingkan dengan bersekolah. Karena dorongan kebutuhan hidup mereka yang mewajibkan mereka untuk mencari uang untuk dapa bertahan hidup. Maka dari itulah pendidikan yang didapat oleh anak jalanan sangatlah rendah dan dapat dikatakan anak jalanan ini tidak mendapatkan pendidikan secara baik sesuai konvensi hak anak-anak yang dicetuskan oleh PBB (Convention on the Rights of the Child), sebagaimana telah diratifikasi dengan Keppres nomor 36 tahun 1990, menyatakan bahwa karena belum matangnya fisik dan mental anak-anak, maka mereka memerlukan perhatian dan perlindungan. Begitu pula kiranya anak jalanan yang memerlukan perhatian dan perlindungan terhadap hak-haknya sebagai anak bangsa untuk memperoleh pendidikan dengan baik sesuai dengan pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
Melihat isi dari pasal 31 ayat 1 tersebut sangat bertolak belakang dengan yang dialami anak jalanan. Mereka hampir tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pengajaran. Dan akibatnya, perilaku negatif dan kriminal yang timbul di kalangan anak jalanan tersebut. Anak jalanan hidup dan berada dalam situasi sosial yang terdiri dari berbagai setting. Setting pertama adalah lingkungan sosial yang terdiri dari keluarga , sekolah dan masyarakat.
Pendidikan di kalangan anak jalanan ironisnya sangat sedikit atau dapat dikatakan tidak layak. Msesikpun telah diatur dalam Pasal 9 ayat (1) UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan; "Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya". Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa. Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta seperti nasi tanpa lauk,menjadi kering hambar, tak menarik.
Inilah yang menjadi faktor berkembangnya anak jalanan di Indonesia dan pada masa dewasa para anak jalanan ini tidak dapat bersaing dengan anak-anak yang lain. Persaingan ini berpandangan bahwa setiap orang harus diberi kesempatan yang sama untuk bersaing. Namun pada kenyataannya pada persaingan in anak-anak jalanan hanya memiliki sedikit kesempatan karena kurangnya kemampuan dan pendidikan yang diterima leh anak jalanan ini.
Rumah Sebenarnya anak jalanan tidak berbeda dengan anak yang lainnya, mereka juga mempunyai potensi dan bakat. Pada masa anak-anak seperti itu otak yang memuat 100-200 milyar sel otak siap dikembangkan serta diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi. Pada perkembangan otak manusia mencapai kapasitas 50 % pada masa anak usia dini. Kita telah benar-benar melupakan hak anak-anak untuk bermain, bersekolah, dan hidup sebagaimana lazimnya anak-anak lainnya. Mereka dipaksa orang tua untuk merasakan getirnya kehidupan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif .
Mengkaitkan kandungan hak-hak anak sebagaimana yang tercantum dalam KHA dengan realitas yang ada, maka akan terlihat suatu kesenjangan yang cukup tinggi. Penghormatan negara atas hak-hak anak jalanan dinilai masih sangat minim, bahkan pada kebijakan-kebijakan tertentu seperti razia-razia yang sarat dengan nuansa kekerasan, negara kerapkali dinilai melakukan pelanggaran terhadap hak-hak anak (jalanan). Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam rangka memenuhi hak-hak anak jalanan harus senantiasa ditingkatkan. Hal ini mengingat anak sebagai aset dan generasi penerus bangsa. Salahsatunya adalah dengan meningkatkan pelayanan pendidikan bagi anak-anak jalanan. Pendidikan yang dimaksudkan disini adalah pendidikan formal sebagaimana yang dicanangkan pemerintah dalam Gerakan Wajib Belajar 9 tahun dan tentu saja dengan biaya pendidikan gratis atau murah bagi anak-anak jalanan yang memiliki keluarga miskin.
Pendidikan Pada anak jalanan mungkin ini tidak terlihat sebagai suatu yang penting. Para anak jalanan lebih memilih untuk mencari uang dibandingkan dengan bersekolah. Karena dorongan kebutuhan hidup mereka yang mewajibkan mereka untuk mencari uang untuk dapa bertahan hidup. Maka dari itulah pendidikan yang didapat oleh anak jalanan sangatlah rendah dan dapat dikatakan anak jalanan ini tidak mendapatkan pendidikan secara baik sesuai konvensi hak anak-anak yang dicetuskan oleh PBB (Convention on the Rights of the Child), sebagaimana telah diratifikasi dengan Keppres nomor 36 tahun 1990, menyatakan bahwa karena belum matangnya fisik dan mental anak-anak, maka mereka memerlukan perhatian dan perlindungan. Begitu pula kiranya anak jalanan yang memerlukan perhatian dan perlindungan terhadap hak-haknya sebagai anak bangsa untuk memperoleh pendidikan dengan baik sesuai dengan pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
Melihat isi dari pasal 31 ayat 1 tersebut sangat bertolak belakang dengan yang dialami anak jalanan. Mereka hampir tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pengajaran. Dan akibatnya, perilaku negatif dan kriminal yang timbul di kalangan anak jalanan tersebut. Anak jalanan hidup dan berada dalam situasi sosial yang terdiri dari berbagai setting. Setting pertama adalah lingkungan sosial yang terdiri dari keluarga , sekolah dan masyarakat.
Pendidikan di kalangan anak jalanan ironisnya sangat sedikit atau dapat dikatakan tidak layak. Msesikpun telah diatur dalam Pasal 9 ayat (1) UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan; "Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya". Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa. Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta seperti nasi tanpa lauk,menjadi kering hambar, tak menarik.
Inilah yang menjadi faktor berkembangnya anak jalanan di Indonesia dan pada masa dewasa para anak jalanan ini tidak dapat bersaing dengan anak-anak yang lain. Persaingan ini berpandangan bahwa setiap orang harus diberi kesempatan yang sama untuk bersaing. Namun pada kenyataannya pada persaingan in anak-anak jalanan hanya memiliki sedikit kesempatan karena kurangnya kemampuan dan pendidikan yang diterima leh anak jalanan ini.
Rumah Singgah
Rumah singgah sebagai tempat pemusatan sementara yang bersifat non formal, dimana anak-anak bertemu untuk memperoleh informasi dan pembinaan awal sebelum dirujuk ke dalam proses pembinaan lebih lanjut .rumah singgah didefinisikan sebagai perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka. Rumah singgah merupakan proses non formal yang memberikan suasana pusat resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma di masyarakat. Tujuan dibentuknya rumah singgah adalah resosialisasi yaitu membentuk kembali sikap dan prilaku anak yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dan memberikan pendidikan dini untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi masyarakat yang produktif.
Dalam resosialisasi kepada anak jalanan, para tutor menggunakan prinsip perkawanan dan kesejajaran. Meskipun mereka anak-anak, pengalaman dijalanan telah membuat mereka matang. Resosialisasi menghindari pola instruksi dan memberikan masukan-masukan terus-menerus dimana anak sebagai objek. Anak jalana ditempatkan sebagai subjek atas perubahan yang akan terjadi pada dirinya.prinsip yang berlaku adalah para tutor dengan anak jalanan berdiskusi untuk merumuskan kegiatan, memberikan pertimbangan, dan menyemangati upaya yang dipilih. Pada akhir rsosialisasi, anak jalanan diharapkan sudah mampu menolong dirinya sendiri.
Seperti contohnya Andi Suhandi yang beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai "The Young Heroes" oleh sebuah acara televisi ternama. Ia berhasil mendirikan sanggar pendidikan bagi anak jalanan, yang telah menampung banyak anak jalanan dan sebagian dari mereka telah bersekolah di sekolah formal dan berprestasi. Meskipun pada awalnya Andi mengalami kesulitan akan tetapi kesulitan tersebut dapat dilalui berkat kesabaran dan kerja kerasanya. Hasilnya anak-anaknya berhasil membawa pulang Tropi Walikota Juara 1 untuk tulis puisi yang bertema anak jalanan dan Juara 2 lomba baca puisi, serta berhasil meraih Juara 1 lomba teater pada 2009.
Jadi, sebenarnya apabila anak jalanan tersebut dibina dengan baik, mereka memiliki potensi yang tidak kalah dengan anak pada umumnya. Anak jalanan perlu dirangkul untuk mendapatkan haknya memperoleh pendidikan dan tidak selalu dipandang sebelah mata.
Peran dan fungsi rumah singgah bagi program pemberdayaan anak jalanan sangat penting. Secara ringkas fungsi rumah singgah antara lain :
Sebagai tempat perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan yang kerap menimpa anak jalanan dari kekerasan dan prilaku penyimpangan seksual ataupun berbagai bentuk kekerasan lainnya.
Rehabilitasi, yaitu mengembalikan dan menanamkan fungsi sosial anak.
Sebagai akses terhadap pelayanan, yaitu sebagai persinggahan sementara anak jalanan dan sekaligus akses kepada berbagai pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dll. Lokasi rumah singgah harus berada ditengah-tengah masyarakat agar memudahkan proses pendidikan dini, penanaman norma dan resosialisasi bagi anak jalanan.
Mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan atau k panti dan lembaga pengganti lainnya jika diperlukan
Memberikan alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi warga masyarakat yang produktif dan mandiri.










Penelitian Terkait
Pada tingkat mikro, kehadiran anak jalanan di Kota Bandung sangat erat kaitannya dengan "situasi anak dan keluarganya". Situasi anak dan keluarga yang berpengaruh terhadap munculnya fenomena anak jalanan meliputi; pertama, perlakuan salah dan ketidak-mampuan orangtua/keluarga dalam menyediakan kebutuhan dasar bagi anak akibat dari kondisi kemiskinan. Kedua,anak yang lari dari orang tua atau keluarganya karena perceraian orang tua, konflik dalam keluarga, penolakan anak oleh orangtua, dan kondisi terpisah dari orang tua atau kehilangan orangtua. Keluhan orang tua anak jalanan terhadap anaknya yang mengatakan bahwa kehidupan sangat susah, tidak punya biaya untuk sekolah atau doktrin-doktrin bahwa anak harus bertanggung jawab untuk membantu ekonomi keluarga mempunyai pengaruh signifikan terhadap pemikiran anak untuk membantu orang tua dalam mendapatkan penghasilan.
Berbagai perilaku anak dalam mendapatkan penghasilan di jalanan, diarahkan atau diajarkan oleh orang tua atau kakak mereka. Dalam hal ini, orang tua/ibu bapak dan kakaknya menjadi "mentor" bagi anak atau adiknya dalam melakukan difersifikasi perubahan perilaku dalam aktivitasnya mendapatkan penghasilan di jalanan.Orang tua mempunyai kontribusi dalam menentukan keberadaan anak di jalanan. Sebagian besar dari orang tua yang anaknya berada di jalanan tidak peka terhadap kebutuhan atau hak-hak anak mereka, tidak peka dan tidak peduli terhadap resiko kehidupan jalanan bagi anak, dan tidak berusaha keras melindungi anak dari kehidupan jalanan.
Anak yang lari/keluar dari keluarga/orang tuanya melakukan proses pembelajaran sosial di jalanan tentang cara mempertahankan hidup dan mendapatkan penghasilan. Mereka melakukan komunikasi dan proses pembelajaran sosial cara mendapatkan penghasilan di jalanan dari teman atau dari orang-orang yang telah lama berada di jalanan.Orang tua tidak menyadari dan tidak tahu bahwa sesungguhnya pilihan melibatkan anak dalam pemenuhan ekonomi keluarga merupakan pelanggaran hak anak dan sangat membayakan bagi perkembangan anak-anak mereka.
Pada tingkat mezo, kehadiran anak jalanan berhubungan dengan kekurangan sumber informal dilingkungan keluarga besar dan masyarakat yang dapat memberikan dukungan atau kekuatan pada keluarga anak yang bermasalah. Pada tingkat makro, keberadaan anak jalanan berkaitan dengan kesenjangan struktu rekonomi. Terdapat 6 perubahan perilaku yang dilakukan anak jalanan dalam aktivitasnya mendapatkan penghasilan, yaitu; (1) ketika anak jalanan belum bisa berjalan dan berusia kurang dari 3 tahun; (2) ketika anak jalanan sudah dapat berjalan (usia 3 –5 tahun); (3) ketika anak jalanan berusia 6 –8 tahun; (4) ketika anak jalanan berusia 9 –12 tahun; (5) ketika anak jalanan berusia 13 –15 tahun; dan (6) ketika anak jalanan berusia 16 –18 tahun.





























Daftar Pustaka

http://www.slideshare.net/fitriapastuti9/savedfiles?s_title=pendidikan-dan-anak-jalanan&user_login=rampard08
http://www.smeru.or.id/report/other/cpsp/Ppt%20Day%202/Theme3%20Kalasan1/Suharma_ppt_bahasa.pdf

http://maulodonk221027.blogspot.com/2012/06/faktor-faktor-yang-menyebabkan.html
http://saveanakjalnan.blogspot.com/2012/12/masalah-anak-jalanan-di-ibu-kota.html

http://tiana-simanjuntak.blogspot.com/2011/08/makalah-isbd-perilaku-sosial-anak.html




Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.