Mementaskan Drama tidak Sekadar Mencari Angka Drama

December 27, 2017 | Author: Alim m | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat



Mementaskan Drama tidak Sekadar Mencari Angka
Drama, sebuah materi pelajaran yang secara eksplisit tertulis di standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) kelas XI Bahasa Indonesia SMA semester gasal dan genap. Mementaskan drama tidak hanya bermain sandiwara. Ada banyak nilai terkandung dari sebuah pementasan drama. Nilai perjuangan, nilai kebersamaan, kesejajaran, dan tentu saja nilai pendidikan.
Mementaskan bukan hanya menuliskan suatu kalimat berangkai dan membahas masalah tertentu, melainkan juga sebuah pekerjaan yang tampak 'ringan' tapi 'berat.' Menulis esai membutuhkan keluasan wawasan pengarang dan kemampuan menyampaikan gagasan-gagasan tersebut hingga tampak 'bernyawa.'
Menulis esai yang saya tugaskan kepada siswa saya di SMA Negeri 1 Purworejo lebih dari sekadar ungkapan di atas. Para siswa, saya minta untuk membaca dan memilih puisi lebih dahulu. Harapannya, tingkat apresiasi dan kepekaan siswa akan meningkat seiring jiwa dan nyawa puisi yang diinterpretasikan. Ketika apresiasi tersebut didapat, ide akan muncul. Mereka diharapkan mampu berkontemplasi terhadap nilai-nilai dan kondisi sekitar berdasarkan ide tersebut. Akibatnya, sifat kritis yang positif akan tumbuh. Ketika hal ini diimplementasikan dalam keterampilan menulis, tulisan yang dihasilkan dapat diprediksi akan menjadi tulisan kritis dari sudut pandang subjektif namun objektif. Tulisan esai mereka dikatakan objektif sebab tulisan mereka buah karya dari sebuah 'kontemplasi.'Tataran menulis yang luar biasa menurut saya.
Tidak hanya hal itu, tetapi juga nilai moral yang ingin saya utamakan. Zaman sekarang, kita dimanjakan oleh sajian berupa gambar, video, dan tulisan yang dapat diakses dan didapat dengan mudah. Zaman serba internet ini memudahkan siswa dan guru dalam mencari hal yang mereka butuhkan. Esai di dunia maya pun, tersaji sangat banyak. Tinggal klick, di-copy, dan disunting sebentar, akan menjadi tulisan berkelas. Saya pun menyadari, zaman sekarang ini sangat sulit mencari tulisan dan ide yang asli. Tulisan para blogger atau penulis di internet pun mungkin juga mengambil tulisan orang lain. Saya juga tidak munafik bahwa saya pun pernah melakukan hal tersebut, copy paste. Hanya saja, saya berusaha menerapkan kaidah 'copy paste' sesuai aturan penulisan. Hal inilah yang ingin saya tularkan pada siswa saya. Saya ingin mengajak siswa saya menjadi orang yang dapat 'menulis.' Jika tulisan mereka ada yang copy paste, saya ingin mereka menjadi pribadi yang tahu diri. Nilai inilah yang ingin saya bangun. Bukan nilai normatif 9-10. Bukan nilai dengan predikat sangat memuaskan. Bukan sekadar nilai pelengkap laporan hasil belajar. Nilai kejujuran dan penghargaan hak orang lainlah yang mudah-mudahan tercapai. Semoga! ( Salam sukses, Sunardi, gurumu:bagi yang mau mengakui)

085292970027
Latihan:

Buatlah sebuah paragraf dengan memperhatikan kohesi, koherensi, ejaan, dan tata tulis yang benar dengan topik ciri-ciri esai yang baik. Selamat mencoba!
Perhatikan Contoh berikut:

Pendidikan karakter bangsa menjadi topik yang aktual dalam dunia pendidikan. Lulusan sebuah lembaga pendidikan diharapkan menjadi pribadi yang berkarakter. Salah satu ciri pribadi berkarakter yaitu santun. Santun adalah halus dan baik budi bahasanya, tingkah lakunya, sopan, sabar, dan tenang (M. Furqon Hidayatullah, 2010: 85). Pendapat tersebut dipertegas oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional, Dodi Nandika, pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2011 bahwa secara harfiah karakter memiliki makna mengukir dengan cara multidimensi( Suara Merdeka, 3 Mei 2011). Namun, yang paling penting adalah habituasi (pembiasaan) ke siswa yaitu dengan membiasakan tersenyum, respect to others, bersikap baik di kelas dan di luar kelas, dan yang terpenting adalah proses itu terbiasakan. Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh (www.kemdiknas.go.id) juga telah merumuskan kebijakan agar siswa bisa lebih cinta tanah air, sopan santun, dan memiliki intelektual serta rasa ingin tahu (curiousity). Dapat dikatakan, pendidikan karakter tidak harus dituangkan dalam mata pelajaran secara khusus, tapi diimplementasikan dalam setiap mata pelajaran dan budaya di sekolah.














Beberapa kasus pernah terjadi sebagai dampak negatif penggunaan facebook. Dalam artikel "Bahasa Menunjukkan Bangsa" yang dimuat di media Kipprah, Sunardi (2009: 23) mengungkapkan bahwa penggunaaan bahasa anak muda di facebook sering menyimpang dari kaidah dan kesopanan. Komnas Perlindungan Anak (PA) mencatat, dari 100 laporan pengaduan dampak facebook, 60 kasus berkaitan dengan penggunaan bahasa yang tidak baik oleh anak (Kompas.com, 17 Februari 2010). Empat siswa SMAN 4 Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dikeluarkan dari sekolah. Mereka dituduh menghina salah seorang guru wanita di sekolah itu melalui jejaring sosial facebook (Kompas.com, 15 Februari 2010). Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menyayangkan penggunaan bahasa kasar dalam komunikasi di situs jejaring sosial (news.okezone.com).


Sudut pandang, gagasan





Deskripsi



Mementaskan Drama tidak Sekadar Mencari Angka
Drama, sebuah materi pelajaran yang secara eksplisit tertulis di standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) kelas XI Bahasa Indonesia SMA semester gasal dan genap. Mementaskan drama tidak hanya bermain sandiwara. Ada banyak nilai terkandung dari sebuah pementasan drama. Nilai perjuangan, nilai kebersamaan, kesejajaran, dan tentu saja nilai pendidikan.
Mementaskan bukan hanya menuliskan suatu kalimat berangkai dan membahas masalah tertentu, melainkan juga sebuah pekerjaan yang tampak 'ringan' tapi 'berat.' Menulis esai membutuhkan keluasan wawasan pengarang dan kemampuan menyampaikan gagasan-gagasan tersebut hingga tampak 'bernyawa.'
Menulis esai yang saya tugaskan kepada siswa saya di SMA Negeri 1 Purworejo lebih dari sekadar ungkapan di atas. Para siswa, saya minta untuk membaca dan memilih puisi lebih dahulu. Harapannya, tingkat apresiasi dan kepekaan siswa akan meningkat seiring jiwa dan nyawa puisi yang diinterpretasikan. Ketika apresiasi tersebut didapat, ide akan muncul. Mereka diharapkan mampu berkontemplasi terhadap nilai-nilai dan kondisi sekitar berdasarkan ide tersebut. Akibatnya, sifat kritis yang positif akan tumbuh. Ketika hal ini diimplementasikan dalam keterampilan menulis, tulisan yang dihasilkan dapat diprediksi akan menjadi tulisan kritis dari sudut pandang subjektif namun objektif. Tulisan esai mereka dikatakan objektif sebab tulisan mereka buah karya dari sebuah 'kontemplasi.'Tataran menulis yang luar biasa menurut saya.
Tidak hanya hal itu, tetapi juga nilai moral yang ingin saya utamakan. Zaman sekarang, kita dimanjakan oleh sajian berupa gambar, video, dan tulisan yang dapat diakses dan didapat dengan mudah. Zaman serba internet ini memudahkan siswa dan guru dalam mencari hal yang mereka butuhkan. Esai di dunia maya pun, tersaji sangat banyak. Tinggal klick, di-copy, dan disunting sebentar, akan menjadi tulisan berkelas. Saya pun menyadari, zaman sekarang ini sangat sulit mencari tulisan dan ide yang asli. Tulisan para blogger atau penulis di internet pun mungkin juga mengambil tulisan orang lain. Saya juga tidak munafik bahwa saya pun pernah melakukan hal tersebut, copy paste. Hanya saja, saya berusaha menerapkan kaidah 'copy paste' sesuai aturan penulisan. Hal inilah yang ingin saya tularkan pada siswa saya. Saya ingin mengajak siswa saya menjadi orang yang dapat 'menulis.' Jika tulisan mereka ada yang copy paste, saya ingin mereka menjadi pribadi yang tahu diri. Nilai inilah yang ingin saya bangun. Bukan nilai normatif 9-10. Bukan nilai dengan predikat sangat memuaskan. Bukan sekadar nilai pelengkap laporan hasil belajar. Nilai kejujuran dan penghargaan hak orang lainlah yang mudah-mudahan tercapai. Semoga! ( Salam sukses, Sunardi, gurumu:bagi yang mau mengakui)

085292970027
Latihan:

Buatlah sebuah paragraf dengan memperhatikan kohesi, koherensi, ejaan, dan tata tulis yang benar dengan topik ciri-ciri esai yang baik. Selamat mencoba!
Perhatikan Contoh berikut:

Pendidikan karakter bangsa menjadi topik yang aktual dalam dunia pendidikan. Lulusan sebuah lembaga pendidikan diharapkan menjadi pribadi yang berkarakter. Salah satu ciri pribadi berkarakter yaitu santun. Santun adalah halus dan baik budi bahasanya, tingkah lakunya, sopan, sabar, dan tenang (M. Furqon Hidayatullah, 2010: 85). Pendapat tersebut dipertegas oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional, Dodi Nandika, pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2011 bahwa secara harfiah karakter memiliki makna mengukir dengan cara multidimensi( Suara Merdeka, 3 Mei 2011). Namun, yang paling penting adalah habituasi (pembiasaan) ke siswa yaitu dengan membiasakan tersenyum, respect to others, bersikap baik di kelas dan di luar kelas, dan yang terpenting adalah proses itu terbiasakan. Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh (www.kemdiknas.go.id) juga telah merumuskan kebijakan agar siswa bisa lebih cinta tanah air, sopan santun, dan memiliki intelektual serta rasa ingin tahu (curiousity). Dapat dikatakan, pendidikan karakter tidak harus dituangkan dalam mata pelajaran secara khusus, tapi diimplementasikan dalam setiap mata pelajaran dan budaya di sekolah.














Beberapa kasus pernah terjadi sebagai dampak negatif penggunaan facebook. Dalam artikel "Bahasa Menunjukkan Bangsa" yang dimuat di media Kipprah, Sunardi (2009: 23) mengungkapkan bahwa penggunaaan bahasa anak muda di facebook sering menyimpang dari kaidah dan kesopanan. Komnas Perlindungan Anak (PA) mencatat, dari 100 laporan pengaduan dampak facebook, 60 kasus berkaitan dengan penggunaan bahasa yang tidak baik oleh anak (Kompas.com, 17 Februari 2010). Empat siswa SMAN 4 Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dikeluarkan dari sekolah. Mereka dituduh menghina salah seorang guru wanita di sekolah itu melalui jejaring sosial facebook (Kompas.com, 15 Februari 2010). Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menyayangkan penggunaan bahasa kasar dalam komunikasi di situs jejaring sosial (news.okezone.com).


Sudut pandang, gagasan



Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.