PARTISIPASI DAN KEBERLANJUTAN EKOWISATA: APLIKASI MODEL PERSAMAAN STRUKTURAL PADA EKOWISATA DI KINTAMANI

June 12, 2017 | Author: I. Kencana | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA – Bali, 6 November 2014

PARTISIPASI DAN KEBERLANJUTAN EKOWISATA: APLIKASI MODEL PERSAMAAN STRUKTURAL PADA EKOWISATA DI KINTAMANI I Putu Eka N. Kencana Staf Pengajar Jurusan Matematika – Universitas Udayana Peneliti di Konsorsium Riset Pariwisata – Universitas Udayana E-mail: [email protected] ABSTRACT This research aimed to study the relationship between local participation and sustainable of ecotourism at Kintamani, Province of Bali. In detail, motivation of local people to take parts in designing ecotourism development in their area and motivation to take benefits from tourists’ activities were considered in this study. Meanwhile, sustainability of ecotourism at Kintamani under studied were reflected into three sub-latents i.e. economic benefits perceived by local people, cultural heritage, and environment conservation. Applying structural equation modeling (SEM) to model the problem, we found motivation to take benefits overcome motivation to take parts in ecotourism development. These motivations significantly affect local participation, and in turn, will significantly affects ecotourism sustainability. Keywords: ecotourism, Kintamani, structural modeling, sustainability 1. Pendahuluan Sebagai salah satu negara yang meletakkan pilar-pilar pembangunan pada industri pariwisata, Indonesia telah memiliki regulasi yang mengatur pembangunan pariwisata di tingkat nasional melalui Undang-undang nomor 10 tahun 2009. Pada undang-undang ini secara tegas dinyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional harus dilaksanakan secara sistematis, bertanggung jawab, terpadu, terencana, dan berkelanjutan, dan tidak mengabaikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup di masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup, serta kepentingan nasional [1]. Berbagai fakta empiris menunjukkan pariwisata memberikan manfaat positif terhadap perekonomian masyarakat di suatu negara. Perjalanan wisata yang dilakukan wisatawan mancanegara merupakan sumber devisa bagi banyak negara berkembang. Selain sebagai sumber devisa, pariwisata sebagai sebuah industri padat karya (labour intensive industry) telah terbukti mampu menciptakan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha melalui tumbuh dan berkembangnya industri rumah tangga, mikro, dan kecil di tempat-tempat aktivitas wisata berlangsung [2]. Pada Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terlihat semakin dominannya peran pariwisata dan ekonomi kreatif pada perekonomian Indonesia. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 3,90 persen dengan nilai absolut 9 120,87 juta US$ dan menduduki peringkat kelima setelah minyak dan gas bumi, batubara, minyak kelapa sawit, dan karet olahan [3]. Jumlah tenaga kerja yang terserap secara langsung atau tidak langsung pada sektor

1

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

pariwisata dan sektor ikutannya mencapai 9,77 juta orang, dengan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja nasional sebesar 8,81 persen. Meski telah disepakati bahwa kepariwisataan mampu memberikan manfaat positif pada perekonomian masyarakat, juga disadari adanya potensi manfaat negatif terhadap dimensi sosial-budaya dan kelestarian lingkungan akibat pengembangan kepariwisataan yang hanya mengedepankan kemanfaatan pada dimensi ekonomi [4], [5]. Sebagai misal, Untong et al. menyatakan adanya potensi komodifikasi dari artefak-artefak budaya masyarakat setempat [6]. Salah satu bentuk aktivitas kepariwisataan yang disepakati memiliki potensi kecil untuk menyebabkan gangguan pada dimensi sosial-budaya serta lingkungan adalah ekowisata. Istilah ekowisata mengemuka pada awal 1980-an, diintroduksi oleh CabellosLascurian, sebagai "traveling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plants and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in these area…” [7]. Sebagai salah bentuk kepariwisataan, pengembangan ekowisata di berbagai daerah di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dipicu meningkatnya keyakinan bahwa ekowisata merupakan aktivitas wisata yang selain memberikan manfaat ekonomis juga berperan pada peningkatan konservasi lingkungan. Meski demikian, terlepas dari berkembangnya ekowisata sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat dan konservasi lingkungan, sangat jarang peranserta masyarakat lokal pada perencanaan pengembangan dan tatakelola ekowisata di suatu wilayah diperhatikan. Hal ini seringkali bermuara pada ketidakberlanjutan ekowisata di suatu wilayah [8], [9]. Sebagai salah satu sentra kepariwisataan Bali, Kintamani yang berlokasi di Kabupaten Bangli sedang mengalami masa-masa suram dalam sejarah kepariwisataannya. Hal ini diduga belum optimalnya partisipasi masyarakat lokal dalam mewujudkan kepariwisataan Kintamani yang berkelanjutan. Beberapa fenomena yang mendukung dugaan ini antara lain berlangsungnya aktivitas penggalian pasir dan batu di kawasan sekitar Gunung Batur, prilaku pedagang acung (street vendor) yang menyebabkan wisatawan merasa kurang aman dan nyaman dalam menikmati panorama kaldera Batur, serta persaingan yang tidak sehat antarpelaku industri di daerah ini. Tujuan dari tulisan ini adalah mengetahui apakah partisipasi dari masyarakat lokal berpengaruh terhadap keberlanjutan ekowisata di Kintamani. Permasalahan ini didekati secara kuantitatif dengan model persamaan struktural (structural equation modeling/SEM) mengingat kedua konsep yang dikaji, partisipasi masyarakat dan keberlanjutan ekowisata, merupakan konsep-konsep laten yang tidak bisa diukur secara langsung. 2. Tinjauan Teoritis Partisipasi masyarakat merupakan sebuah proses di mana individu-individu dalam sebuah kelompok masyarakat mengambil bagian pada proses pengambilan keputusan institusi di mana individu-individu ini menjadi anggotanya, atau pada program-program yang dianggapnya berpengaruh pada kehidupannya, langsung dan atau tidak langsung [10]. Melalui pernyataan yang sederhana tetapi sarat makna, “citizen participation is citizen power”, Arnstein menyatakan bahwa partisipasi merupakan gambaran kekuatan masyarakat itu sendiri [11]. Merujuk kepada dua definisi tentang partisipasi masyarakat, maka bisa disintensis partisipasi tidak lain potensi kekuatan yang dimiliki masyarakat untuk memperbaiki nasibnya melalui peran yang diambilnya pada inisiatif pembangunan yang berlangsung di wilayahnya. Partisipasi masyarakat lokal dalam perencanaan dan implementasi ekowisata secara umum dapat dilihat setidaknya dari dua dimensi: (a) partisipasi masyarakat dalam proses 2

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

pengambilan keputusan, dan (b) partisipasi dalam menerima manfaat aktivitas ekowisata. Pada proses pengambilan keputusan, masyarakat dianjurkan memiliki kontrol atas sumber daya pariwisata, serta mempunyai inisiatif dan mampu membuat keputusan yang dapat mempengaruhi dan meningkatkan kualitas kehidupan mereka [12]-[14]. Partisipasi dari masyarakat dalam menerima manfaat pariwisata tercermin dari peningkatan pendapatan, pekerjaan, dan pengetahuannya tentang pariwisata dan kewirausahaan, disertai dengan meningkatnya kesadaran publik mengenai pariwisata. Meningkatnya kesadaran publik akan menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan nyaman bagi wisatawan dan mampu meningkatkan citra destinasi, yang bermuara pada bertambahnya manfaat dari kegiatan pariwisata bagi masyarakat [12]. Memperhatikan aktivitas ekowisata cenderung berlangsung di wilayah-wilayah yang dikonservasi dan pemanfaatannya diatur secara ketat oleh negara, usaha mewujudkan adanya partisipasi masyarakat tidak bisa dilakukan secara mudah [14]. Merujuk pada kondisi ini, diperlukan penjelasan yang tegas tentang pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) sebagai pariwisata di mana masyarakat memiliki kendali pada sumber-sumber daya tarik wisata. Terdapat beberapa pendapat yang menyatakan bahwa sejumlah besar pengembangan ekowisata keberlanjutannya tidak terjamin karena kurang diperhatikannya peranserta masyarakat lokal pada inisiatif perencanaan maupun pada aktivitas ekowisata [8], [9]. Studi yang dilakukan [14] mengenai partisipasi masyarakat pada pengembangan ekowisata di Thailand menunjukkan keterlibatan masyarakat lokal pada pengembangan ekowisata direpresentasikan dengan keikutsertaannya menjalankan ‘bisnis’ di bawah arahan dari institusi lokal. Keterlibatan masyarakat secara langsung melalui ‘bisnis’ yang dilakukannya menyebabkan mereka memperoleh manfaat ekonomis yang selanjutnya menggugah minat mereka untuk menjaga kelestarian alam dan fauna yang menurut pengamatannya digemari wisatawan. Demikian pula halnya dengan kebiasan-kebiasaan masyarakat sebagai representasi budaya, menjadi terlestarikan manakala terdapat persepsi bahwa kebiasaan tersebut dapat ‘mengundang’ kunjungan wisatawan. 3. Metode dan Konseptual Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di tiga desa di Kecamatan Kintamani yaitu Desa Abang Songan, Desa Abang Batudinding, dan Desa Suter. Pemilihan ketiga desa ini sebagai lokus penelitian didasari oleh telah berkembangnya aktivitas ekowisata di Desa Abang Songan, dan sedang direncanakan untuk mengembangkan ekowisata di kedua desa lainnya. Posisi ketiga desa yang bertetangga ini ada di sudut tenggara Danau Batur, di sepanjang ruas jalan antara Kintamani – Besakih; suatu rute perjalanan wisatawan. Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada responden penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah anggota masyarakat di ketiga desa. Jumlah responden secara purposif ditetapkan 60 orang yang terdistribusi secara merata di ketiga desa. Masyarakat desa yang terpilih sebagai responden ditetapkan secara acak. Masing-masing responden diberikan satu set pernyataan yang harus dipersepsikan dengan memilih salah satu dari lima opsi persepsi yang disediakan. Persepsi responden untuk setiap pernyataan atau item pada kuesioner dinyatakan pada skala Likert dengan 5 taraf, di mana persepsi paling negatif disimbulkan dengan angka 1 dan persepsi positif disimbulkan dengan angka 5. Sebelum digunakan, kuesioner diuji reliabilitas dan validitasnya. Validitas suatu variabel laten merujuk kepada kevalidan setiap item sebagai unsur pembangun laten atau contruct yang bersesuaian, sedangkan reliabilitas merupakan suatu ukuran yang menggambarkan tingkat keandalan (degree of reliability) sekumpulan item

3

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

merepresentasikan suatu variabel laten [15]. Sekumpulan indikator/item dianggap tingkat keandalan yang dapat dipercaya bila memiliki nilai koefisien Alpha Cronbach (α) – sebagai ukuran reliabilitas – bila lebih besar atau sama dengan 0,7 [16]. Sementara itu, sebuah item dinyatakan valid sebagai indikator laten jika memiliki nilai koefisien korelasi sekurang-kurangnya 0,3 dan memiliki tanda (sign) yang sama dengan nilai koefisien korelasi lainnya. Jika sebuah item memiliki koefisien korelasi yang kurang dari 0,3 tetapi memiliki tanda yang sama dengan koefisien korelasi lainnya dan nilai tersebut tidak menyimpang terlalu jauh dari nilai-nilai lainnya, peneliti bisa mempertahankannya. Selain itu, item tersebut sebaiknya dikeluarkan dari daftar item penyusun laten [17]. Data selanjutnya dianalisis menggunakan Partial Least Square Path Modeling (PLSPM). Metode statistik PLS-PM merupakan metode SEM berbasis komponen yang tidak mensyaratkan jumlah sampel yang banyak dan bisa digunakan pada laten dengan indikator formatif. Pada penelitian ini yang menjadi dasar pertimbangan penggunaan PLS berbasis komponen dan bukan SEM berbasis varian seperti AMOS atau LISREL adalah keterbatasan jumlah sampel yang tidak bisa dilakukan dengan menggunakan SEM berbasis peragam (covariance) [15]. Model konseptual yang dibangun pada penelitian ini direpresentasikan pada gambar 1:

Gambar 1. Model Konseptual Hubungan Partisipasi Masyarakat dengan Keberlanjutan Ekowisata

4. Hasil Penelitian dan Diskusi A. Profil Responden Secara deskriptif responden di ketiga desa didominasi laki-laki dengan persentase sebesar 94,8 persen dan telah tinggal di kawasan semenjak lahir. Pada variabel umur, 74,1 persen responden berada pada kelompok umur 35 – 54 tahun dengan kelompok pendidikan tertinggi yang diperoleh adalah SMA (49,1 persen), disusul pendidikan SMP (22,8 persen). Selain itu, lebih dari separuh responden (60,0 persen) bekerja sebagai 4

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

pegawai pemerintah/swasta dengan lokasi pekerjaan sebagian besar (70,0 persen) di desa yang sama dengan tempat tinggalnya. Hasil analisis deskriptif pada profil responden memperlihatkan kelayakan responden untuk menilai persepsi masyarakat di ketiga desa mengenai keberlanjutan ekowisata di wilayahnya baik. Hal ini didukung oleh fakta-fakta berikut: 1. Hampir seluruh responden lahir, besar, dan bertempat tinggal di desa bersangkutan. Hal ini memberikan keyakinan responden memiliki pengetahuan memadai tentang hal-hal yang berlangsung di desanya, termasuk pula pengembangan ekowisata dan partisipasi masyarakat pada pengembangan tersebut; 2. Dari sisi pandang tingkat pendidikan responden, memperhatikan sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SMA atau sarjana (64,8 persen), memberikan jaminan penilaian responden pada masing-masing item pernyataan dalam kuesioner cukup representatif dan bisa dipercaya; 3. Meskipun sebagian besar pekerjaan responden berlokasi di desa yang sama dengan tempat tinggalnya yang memperkecil peluang terjadinya interaksi antarkomunitas desa/wilayah lainnya, mengingat jenis pekerjaan sebagian besar responden adalah pegawai (pemerintah atau swasta); maka dapat diduga peluang interaksi tersebut diperbesar melalui karakteristik kerja responden yang cendrung memiliki mobilitas cukup tinggi, khususnya pada jenis pekerjaan pegawai swasta. B. Kelayakan Kuesioner Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini diperiksa validitas dan reliabilitasnya dengan melakukan pre-test pada 30 tokoh masyarakat dari luar lokasi penelitian tetapi masih berada di dalam wilayah Kecamatan Kintamani. Hasil yang diperoleh ditampilkan pada Tabel 1 dan 2 berikut: Tabel 1. Nilai Validitas dan Reliabilitas pada Laten Partisipasi Masyarakat ITEM Pernyataan (diringkas) X11 X12 X13

Kesiapan waktu berdiskusi Kesiapan memberikan saran Kesiapan finance sharing Kesiapan mengajak orang X14 lain berpartisipasi Kesiapan mendengarkan X15 pendapat orang lain Kemampuan memperoleh X21 keuntungan ekonomis Kesempatan memperoleh X22 keuntungan ekonomis Kemampuan mengelola X23 usaha ekowisata Kesempatan mengelola usaha X24 ekowisata Kemampuan dan kesempatan X25 mengawasi aktivitas ekowisata Alpha Cronbach

Rataan (Bila Dikeluarkan) 36,73 36,73 36,63

9,720 8,961 8,033

Korelasi Item-Total Dikoreksi 0,087 0,355 0,335

Nilai Alpha bila Dieliminasi 0,767 0,737 0,750

36,60

8,662

0,539

0,717

36,43

8,185

0,462

0,721

37,17

7,385

0,666

0,685

37,03

7,895

0,502

0,714

36,87

8,602

0,477

0,722

36,90

8,714

0,399

0,731

36,40

8,869

0,363

0,735

Ragam (Bila Dikeluarkan)

0,749

Sumber: Data Primer (2014), Diolah

5

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

Tabel 2. Nilai Validitas dan Reliabilitas pada Keberlanjutan Ekowisata ITEM Pernyataan (diringkas) Y11 Y12 Y13

Ada kesempatan kerja Ada kesempatan berusaha Tempat belajar berusaha Meningkatkan pendapatan Y14 rumah tangga Y15 Membina jaringan usaha Menguatnya pelestarian Y21 kesenian tradisional Menguatnya pelestarian Y22 bangunan tradisional Menguatnya pelestarian adat Y23 dan istiadat Berkurangnya kebiasaan Y31 merusak kelestarian alam Meningkatnya kepedulian Y32 pada lingkungan Meningkatnya kepedulian Y33 pada flora dan fauna Menyetujui adanya pararem Y34 tentang lingkungan Alpha Cronbach

Rataan (Bila Dikeluarkan) 46,30 46,37 46,07

19,941 19,551 20,409

Korelasi Item-Total Dikoreksi 0,680 0,700 0,826

Nilai Alpha bila Dieliminasi 0,876 0,875 0,870

46,07

20,892

0,835

0,871

46,27

20,340

0,781

0,871

46,03

21,137

0,644

0,879

45,77

22,185

0,429

0,889

45,80

22,234

0,370

0,893

46,23

20,185

0,697

0,875

46,20

21,683

0,458

0,889

46,27

20,478

0,675

0,876

45,57

23,771

0,147

0,901

Ragam (Bila Dikeluarkan)

0,890

Sumber: Data Primer (2014), Diolah

Pemeriksaan item-item penyusun variabel laten partisipasi masyarakat pada Tabel 1 dan Tabel 2 menunjukkan item X11 memiliki nilai korelasi hanya sebesar 0,087 dan item Y34 sebesar 0,147; jauh lebih kecil dari nilai kritis 0,3 yang dipersyaratkan. Mencermati hal ini, maka diputuskan untuk mengeliminasi kedua item dari model yang menyebabkan nilai koefisien Cronbach untuk laten partisipasi masyarakat dan keberlanjutan ekowisata berubah menjadi 0,767 dan 0,901; dua nilai yang lebih besar dari nilai kritis 0,7. C. Analisis Model Persamaan Struktural Data yang terkumpul setelah kuesioner reliabel dan item-itemnta tervalidasi dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak SmartPLS 3.0 dari Ringle et al. [18]. Pada gambar 1, partisipasi masyarakat dan keberlanjutan ekowisata merupakan laten-laten berderajat dua dengan partisipasi masyarakat diformasi oleh dua laten berderajat satu yaitu motif inisiatif dan motif tata kelola [19], keberlanjutan ekowisata direfleksikan dalam tiga laten berderajat satu yaitu manfaat ekonomi, pelestarian budaya, dan konservasi lingkungan. [20]. Hasil analisis dalam bentuk diagram SEM diperlihatkan pada gambar 2. Mencermati SEM terdiri dari 2 sub-model, yaitu: (a) outer atau measurement model, yang menggambarkan hubungan antara sebuah laten dengan indikator-indikatornya; dan (b) inner atau structural model, yang menggambarkan hubungan antarlaten dalam bangun model [21]-[23], hasil analisis harus diuraikan untuk untuk masing-masing sub-model: (a) Analisis Outer (Measurement) Model Pada gambar 2, terlihat kelima laten berderajat satu merupakan laten-laten dengan indikator reflektif. Jadi, analisis pada model pengukuran dilakukan dengan mengamati nilai-nilai factor loading dari masing-masing indikator. Proses bootstrap yang dilakukan 6

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

dengan menetapkan ukuran sub-sampel 500 yang diatur pada metode no sign change dan nilai sigfikansi uji 5 persen memperlihatkan seluruh indikator pada laten motif inisiatif signifikan. Loading terbesar teramati pada indikator X14 dan terkecil pada X12. Pada laten motif tata kelola, seluruh indikator juga memiliki nilai loading yang nyata pada taraf uji 5 persen. Loading terbesar serta terkecil masing-masing teramati pada indikator X21 dan terkecil pada X24. Pada ketiga laten orde satu lainnya juga memiliki nilai loading yang signifikan pada taraf uji 5 persen. Memperhatikan hasil analisis dari sub-model pengukuran ini yang memperlihatkan seluruh indikator memiliki nilai loading yang signifikan pada taraf uji 5 persen, maka analisis pada sub-model struktural atau inner model bisa dilanjutkan.

Gambar 2. Hasil Analisis Model

(b) Analisis Inner (Structural) Model Merujuk terminologi dari Jarvis et al. [21], terdapat lima laten orde satu (first order) yang terhubung dengan dua laten orde dua (second order) seperti terlihat pada gambar 2. Tabel 3 memberikan nilai koefisien jalur (path coefficients) dari hubungan antarlaten orde satu dengan orde dua pada model: Tabel 3. Nilai Path Coefficients pada Hubungan antara First Order dengan Second Order Latent Second Order Laten

Bentuk Hubungan

Partisipasi Masyarakat

Formatif

Keberlanjutan Ekowisata

Reflektif

First Order Latent Motif Inisiatif Motif Tatakelola Manfaat Ekonomi Pelestarian Budaya Konservasi Lingkungan

Original Sample 0,310 0,844 0,944 0,690 0,848

Standard Error 0,213 0,135 0,020 0,086 0,050

T Statistic 1,454 6,250 48,103 7,985 16,918

ns ** ** ** **

Sumber: Data Primer (2014), Diolah ns : tidak nyata pada taraf uji 5 persen ** : nyata pada taraf uji 1 persen

Tabel 3 menunjukkan terdapat sebuah jalur, yaitu pengaruh motif inisiatif terhadap partisipasi masyarakat yang tidak nyata. Empat jalur lainnya menunjukkan hubungan yang signifikan. Selain itu, pengaruh dari partisipasi masyarakat terhadap keberlanjutan ekowisata juga signifikan dengan koefisien jalur sebesar 0,599 (statistik T = 6,126). 7

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

Hasil penelitian memperlihatkan partisipasi masyarakat secara signifikan dibentuk oleh motif tata kelola dengan kemampuan pembentuk (formation power) yang lebih besar dibandingkan dengan motif inisiatif. Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan Wei et al. [23] yang meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat pada perkembangan pariwisata di Xingwen World Geopark, Cina. Secara empirik Wei et al. membuktikan meningkatnya peluang kerja yang bisa dimanfaatkan masyarakat dengan berkembangnya pariwisata di wilayahnya memiliki pengaruh hampir empat kali lebih besar dibandingkan dengan keinginan untuk berpartisipasi. Penelitian ini juga mengkonfirmasi pendapat yang menyatakan bahwa partisipasi masyarakat berpengaruh terhadap keberlanjutan ekowisata yang terefleksikan ke dalam tiga indikator yaitu manfaat ekonomi, manfaat pada pelestarian budaya, dan manfaat pada konservasi lingkungan. Ketiga indikator ini terefleksi secara signifikan, dengan manfaat ekonomi dan konservasi lingkungan merupakan dua sub-laten dengan koefisien jalur terbesar, masing-masing 0,944 dan 0,848; sedangkan manfaat pelestarian budaya memiliki koefisien jalur sebesar 0,690. Nilai ini secara empiris membuktikan bahwa keberlanjutan ekowisata di sebuah kawasan akan didominasi oleh manfaat ekonomi dan konservasi lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat. Temuan penelitian ini sejalan dengan teori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya [4], [7], [24] - [26] dan membantah hasil riset Garrod [8] yang menitikberatkan definisi ekowisata hanya pada kemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal dan mengabaikan partisipasi pada keberlanjutannya. 5. Simpulan dan Rekomendasi A. Simpulan Pada kajian mengenai hubungan antara partisipasi masyarakat dengan keberlanjutan ekowisata di Kintamani, beberapa hal bisa disimpulkan: 1. Partisipasi masyarakat Kintamani secara nyata hanya dipengaruhi motif tata kelola pada aktivitas kepariwisataan di wilayahnya. Motif inisiatif belum mampu berperan nyata dalam membangun partisipasi masyarakat; 2. Motif tatakelola yang memiliki kekuatan formasi lebih besar daripada motif inisiatif didominasi oleh keyakinan bahwa masyarakat memiliki kemampuan dan kesempatan untuk memperoleh keuntungan secara ekonomis. Meskipun demikian, masyarakat berpendapat kemampuan dan kesempatan untuk mengawasi aktivitas ekowisata di wilayahnya sebagai sebagai item dengan nilai refleksi terendah dari motif tatakelola; 3. Partisipasi secara meyakinkan mempengaruhi keberlanjutan ekowisata di Kintamani yang terefleksikan pada adanya manfaat secara ekonomis, konservasi lingkungan, dan manfaat pelestarian budaya yang dirasakan masyarakat lokal. Secara empiris terbukti manfaat ekonomis disusul oleh manfaat konservasi lingkungan sebagai dua sub-laten yang direfleksikan terbesar oleh keberlanjutan ekowisata di wilayah tersebut. B. Rekomendasi Mengingat vitalnya peranan partisipasi dalam mewujudkan keberlanjutan ekowisata di Kintamani, maka kepada para pengambil kebijakan dan peneliti lainnya disarankan beberapa hal berikut: 1. Memprioritaskan pembentukan aturan yang memungkinkan masyarakat lokal sebagai ‘pemilik wilayah’ melakukan pengawasan dan pengendalian aktivitas ekowisata yang tengah berlangsung. Pembentukan aturan harus dilengkapi dengan pelatihan kepada masyarakat lokal, khususnya pada pengelolaan ekowisata. Hal ini mencermati masih rendahnya kemampuan dan kesempatan masyarakat lokal untuk mengawasi aktivitas ekowisata di wilayahnya; 8

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

2. Para peneliti berikutnya disarankan melakukan riset longitudinal memperhatikan karakteristik ekowisata yang dinamis. Melalui riset berkelanjutan, dapat diketahui trend partisipasi, termasuk tingkatan partisipasi masyarakat; 3. Penelitian sejenis di daerah yang penduduknya lebih heterogen sangat dianjurkan mengingat masyarakat di lokasi penelitian ini cendrung homogen. Heterogenitas dari masyarakat diduga akan mempengaruhi partisipasi yang terbangun Daftar Pustaka [1] [2] [3]

[4] [5]

[6]

[7] [8] [9] [10]

[11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18]

RI, "Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009," Republik Indonesia, Jakarta, Undang-Undang 2009. ESCAP, "Bali Declaration on Sustainable Tourism Development," United Nations, New York, Report 2007. Biro Perencanaan dan Informasi, "Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2012," Sekretariat Jenderal , KEMENPAREKRAF Republik Indonesia, Jakarta, LAKIP 2013. Fariborz Aref, "The Effects of Tourism on Quality of Life: A Case Study of Shiraz, Iran," Life Science Journal, vol. 8, no. 2, pp. 26-30, 2011. L. S. Sebele, "Community-based tourism ventures, benefits and challenges: Khama Rhino Sanctuary Trust, Central District, Botswana," Tourism Management, vol. 31, p. 136=146, 2010. Akarapong Untong, Mingsarn Kaosa-ard, Vicente Ramos, Korawan Sangkakorn, and Javier Rey-Maquieria, "Factors Influencing Local Resident Support for Tourism Development: A Structural Equation Model," in The APTA Conference 2010, Macau, 2010. Mark B. Orams, "Towards a More Desirable Form of Ecotourism," Tourism Management, vol. 16, no. 1, pp. 3-8, 1995. Brian Garrod, "Local Participation in the Planning and Management of Ecotourism: A Revised Model Approach," Journal of Ecotourism, vol. 2, no. 1, pp. 33-53, 2003. Ghazala Mansuri and Vijayendra Rao, "Community-Based and -Driven Development: A Critical Review," The World Bank Research Observer, vol. 19, no. 1, pp. 1-39, 2004. Paul Florin and Abraham Wandersman, "An Introduction to Citizen Participation, Voluntary Organizations, and Community Development: Insights for Empowerment Through Research," American Journal of Community Psychology, vol. 18, no. 1, pp. 41-52, February 1990. Sherry R. Arnstein, "A Ladder of Citizen Participation," Journal of the American Planning Association, vol. 35, no. 4, pp. 216-224, 1969. Dallen J. Timothy, "Participatory Planning: a View of tourism in Indonesia," Annals of Tourism Research, vol. 26, pp. 371-391, 1999. Weibing Zhao and J. R. Brent Ritchie, "Tourism and Poverty Alleviation: An Integrative Research Framework," Current Issues in Tourism, vol. 10, pp. 119-143, 2007. Anucha Leksakundilok, "Ecotourism and Community-based Ecotourism in the Mekong Region," University of Sidney, Sidney, Working Paper # 10 1 86487 222 5, 2004. Joseph F. Hair, Rolph E. Anderson, Ronald L. Tatham, and William C. Black, Multivariate Data Analysis with Readings, 4th ed. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., 1995. Jum C. Nunnaly, "Psychometric Theory. 25 Years Ago and Now," Educational Researcher, vol. 4, no. 10, pp. 7-14;19-21, November 1975. Gilbert A. Churchill, Jr., "A Paradigm for Developing Better Measures of Marketing Constructs," Journal of Marketing Research, vol. 16, no. 1, pp. 64-73, February 1979. Christian Mark Ringle, Sven Wende, and Alexander Will. (2014) SmartPLS 3.0. [Online]. http://www.smartpls.de

9

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

[19] Masahiro Shoji, Keitaro Aoyagi, Ryuji Kasahara, and Yasuyuki Sawada, "Motives behind Community Participation: Evidence from Natural and Field Experiments in a Developing Country," JICA Research Institute, Tokyo, Working Paper No. 16 2010. [20] World Commission on Environment and Development, "Our Common Future," United Nation, New York, Report 1987. [21] Cheryl Burke Jarvis, Scott B. Mackenzie, and Philip M. Podsakoff, "A Critical Review of Construct Indicators and Measurement Model Misspecification in Marketing and Consumer Research," Journal of Consumer Research, vol. 30, pp. 199-218, 2003. [22] Jorg Henseler, Christian M. Ringle, and Rudolf R. Sinkovics, "The Use of Partial Least Squares Path Modeling in International Marketing," Advances in International Marketing, vol. 20, pp. 277-319, 2009. [23] Shui Wei, Xu Xueyi, Wei Yali, and Wang Xinggui, "Influencing factors of community participation in tourism development: A case study of Xingwen world Geopark," Journal of Geography and Regional Planning, vol. 5, no. 7, pp. 207-211, April 2012. [24] Richard W. Butler, "Tourism - an evolutionary perspective," in Tourism and Sustainable Development: Monitoring, Planning, Managing, J. G. Nelson, R. W. Butler, and G. Walls, Eds. Waterloo: Geography Publication Series # 52, 1993. [25] Keith W. Sproule, "Community-based Ecotourism Development: Identifying Partners in the Process," The Ecotourism Equation: Measuring the Impacts, pp. 233-250, 1998. [26] Potjana Suansri, Community Based Tourism Handbook. Bangkok: Responsible Ecological Social Tour, 2003. [27] Cevat Tosun, "Host Perception of Impacts: A Comparative Tourism Study," Annals of Tourism, vol. 29, no. 1, pp. 231-253, 2002. [28] Michel Tenenhaus, Vincenzo Esposito Vinzi, Yves-Marie Chatelin, and Carlo Lauro, "PLS path modeling," Computational Statistics & Data Analysis, vol. 48, pp. 159-205, 2005.

Ucapan Terima Kasih Riset ini sebagian dibiayai oleh Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua, Bali pada tahun anggaran 2014. Untuk itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada Ketua STP Nusa Dua, Bali yang telah membantu sehingga riset ini terlaksana. Kepada para responden di tiga desa lokasi penelitian yang telah memberikan data yang berharga, ucapan yang sama juga disampaikan.

10



Deskripsi

SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA – Bali, 6 November 2014

PARTISIPASI DAN KEBERLANJUTAN EKOWISATA: APLIKASI MODEL PERSAMAAN STRUKTURAL PADA EKOWISATA DI KINTAMANI I Putu Eka N. Kencana Staf Pengajar Jurusan Matematika – Universitas Udayana Peneliti di Konsorsium Riset Pariwisata – Universitas Udayana E-mail: [email protected] ABSTRACT This research aimed to study the relationship between local participation and sustainable of ecotourism at Kintamani, Province of Bali. In detail, motivation of local people to take parts in designing ecotourism development in their area and motivation to take benefits from tourists’ activities were considered in this study. Meanwhile, sustainability of ecotourism at Kintamani under studied were reflected into three sub-latents i.e. economic benefits perceived by local people, cultural heritage, and environment conservation. Applying structural equation modeling (SEM) to model the problem, we found motivation to take benefits overcome motivation to take parts in ecotourism development. These motivations significantly affect local participation, and in turn, will significantly affects ecotourism sustainability. Keywords: ecotourism, Kintamani, structural modeling, sustainability 1. Pendahuluan Sebagai salah satu negara yang meletakkan pilar-pilar pembangunan pada industri pariwisata, Indonesia telah memiliki regulasi yang mengatur pembangunan pariwisata di tingkat nasional melalui Undang-undang nomor 10 tahun 2009. Pada undang-undang ini secara tegas dinyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional harus dilaksanakan secara sistematis, bertanggung jawab, terpadu, terencana, dan berkelanjutan, dan tidak mengabaikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup di masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup, serta kepentingan nasional [1]. Berbagai fakta empiris menunjukkan pariwisata memberikan manfaat positif terhadap perekonomian masyarakat di suatu negara. Perjalanan wisata yang dilakukan wisatawan mancanegara merupakan sumber devisa bagi banyak negara berkembang. Selain sebagai sumber devisa, pariwisata sebagai sebuah industri padat karya (labour intensive industry) telah terbukti mampu menciptakan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha melalui tumbuh dan berkembangnya industri rumah tangga, mikro, dan kecil di tempat-tempat aktivitas wisata berlangsung [2]. Pada Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terlihat semakin dominannya peran pariwisata dan ekonomi kreatif pada perekonomian Indonesia. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 3,90 persen dengan nilai absolut 9 120,87 juta US$ dan menduduki peringkat kelima setelah minyak dan gas bumi, batubara, minyak kelapa sawit, dan karet olahan [3]. Jumlah tenaga kerja yang terserap secara langsung atau tidak langsung pada sektor

1

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

pariwisata dan sektor ikutannya mencapai 9,77 juta orang, dengan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja nasional sebesar 8,81 persen. Meski telah disepakati bahwa kepariwisataan mampu memberikan manfaat positif pada perekonomian masyarakat, juga disadari adanya potensi manfaat negatif terhadap dimensi sosial-budaya dan kelestarian lingkungan akibat pengembangan kepariwisataan yang hanya mengedepankan kemanfaatan pada dimensi ekonomi [4], [5]. Sebagai misal, Untong et al. menyatakan adanya potensi komodifikasi dari artefak-artefak budaya masyarakat setempat [6]. Salah satu bentuk aktivitas kepariwisataan yang disepakati memiliki potensi kecil untuk menyebabkan gangguan pada dimensi sosial-budaya serta lingkungan adalah ekowisata. Istilah ekowisata mengemuka pada awal 1980-an, diintroduksi oleh CabellosLascurian, sebagai "traveling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plants and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in these area…” [7]. Sebagai salah bentuk kepariwisataan, pengembangan ekowisata di berbagai daerah di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dipicu meningkatnya keyakinan bahwa ekowisata merupakan aktivitas wisata yang selain memberikan manfaat ekonomis juga berperan pada peningkatan konservasi lingkungan. Meski demikian, terlepas dari berkembangnya ekowisata sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat dan konservasi lingkungan, sangat jarang peranserta masyarakat lokal pada perencanaan pengembangan dan tatakelola ekowisata di suatu wilayah diperhatikan. Hal ini seringkali bermuara pada ketidakberlanjutan ekowisata di suatu wilayah [8], [9]. Sebagai salah satu sentra kepariwisataan Bali, Kintamani yang berlokasi di Kabupaten Bangli sedang mengalami masa-masa suram dalam sejarah kepariwisataannya. Hal ini diduga belum optimalnya partisipasi masyarakat lokal dalam mewujudkan kepariwisataan Kintamani yang berkelanjutan. Beberapa fenomena yang mendukung dugaan ini antara lain berlangsungnya aktivitas penggalian pasir dan batu di kawasan sekitar Gunung Batur, prilaku pedagang acung (street vendor) yang menyebabkan wisatawan merasa kurang aman dan nyaman dalam menikmati panorama kaldera Batur, serta persaingan yang tidak sehat antarpelaku industri di daerah ini. Tujuan dari tulisan ini adalah mengetahui apakah partisipasi dari masyarakat lokal berpengaruh terhadap keberlanjutan ekowisata di Kintamani. Permasalahan ini didekati secara kuantitatif dengan model persamaan struktural (structural equation modeling/SEM) mengingat kedua konsep yang dikaji, partisipasi masyarakat dan keberlanjutan ekowisata, merupakan konsep-konsep laten yang tidak bisa diukur secara langsung. 2. Tinjauan Teoritis Partisipasi masyarakat merupakan sebuah proses di mana individu-individu dalam sebuah kelompok masyarakat mengambil bagian pada proses pengambilan keputusan institusi di mana individu-individu ini menjadi anggotanya, atau pada program-program yang dianggapnya berpengaruh pada kehidupannya, langsung dan atau tidak langsung [10]. Melalui pernyataan yang sederhana tetapi sarat makna, “citizen participation is citizen power”, Arnstein menyatakan bahwa partisipasi merupakan gambaran kekuatan masyarakat itu sendiri [11]. Merujuk kepada dua definisi tentang partisipasi masyarakat, maka bisa disintensis partisipasi tidak lain potensi kekuatan yang dimiliki masyarakat untuk memperbaiki nasibnya melalui peran yang diambilnya pada inisiatif pembangunan yang berlangsung di wilayahnya. Partisipasi masyarakat lokal dalam perencanaan dan implementasi ekowisata secara umum dapat dilihat setidaknya dari dua dimensi: (a) partisipasi masyarakat dalam proses 2

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

pengambilan keputusan, dan (b) partisipasi dalam menerima manfaat aktivitas ekowisata. Pada proses pengambilan keputusan, masyarakat dianjurkan memiliki kontrol atas sumber daya pariwisata, serta mempunyai inisiatif dan mampu membuat keputusan yang dapat mempengaruhi dan meningkatkan kualitas kehidupan mereka [12]-[14]. Partisipasi dari masyarakat dalam menerima manfaat pariwisata tercermin dari peningkatan pendapatan, pekerjaan, dan pengetahuannya tentang pariwisata dan kewirausahaan, disertai dengan meningkatnya kesadaran publik mengenai pariwisata. Meningkatnya kesadaran publik akan menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan nyaman bagi wisatawan dan mampu meningkatkan citra destinasi, yang bermuara pada bertambahnya manfaat dari kegiatan pariwisata bagi masyarakat [12]. Memperhatikan aktivitas ekowisata cenderung berlangsung di wilayah-wilayah yang dikonservasi dan pemanfaatannya diatur secara ketat oleh negara, usaha mewujudkan adanya partisipasi masyarakat tidak bisa dilakukan secara mudah [14]. Merujuk pada kondisi ini, diperlukan penjelasan yang tegas tentang pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) sebagai pariwisata di mana masyarakat memiliki kendali pada sumber-sumber daya tarik wisata. Terdapat beberapa pendapat yang menyatakan bahwa sejumlah besar pengembangan ekowisata keberlanjutannya tidak terjamin karena kurang diperhatikannya peranserta masyarakat lokal pada inisiatif perencanaan maupun pada aktivitas ekowisata [8], [9]. Studi yang dilakukan [14] mengenai partisipasi masyarakat pada pengembangan ekowisata di Thailand menunjukkan keterlibatan masyarakat lokal pada pengembangan ekowisata direpresentasikan dengan keikutsertaannya menjalankan ‘bisnis’ di bawah arahan dari institusi lokal. Keterlibatan masyarakat secara langsung melalui ‘bisnis’ yang dilakukannya menyebabkan mereka memperoleh manfaat ekonomis yang selanjutnya menggugah minat mereka untuk menjaga kelestarian alam dan fauna yang menurut pengamatannya digemari wisatawan. Demikian pula halnya dengan kebiasan-kebiasaan masyarakat sebagai representasi budaya, menjadi terlestarikan manakala terdapat persepsi bahwa kebiasaan tersebut dapat ‘mengundang’ kunjungan wisatawan. 3. Metode dan Konseptual Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di tiga desa di Kecamatan Kintamani yaitu Desa Abang Songan, Desa Abang Batudinding, dan Desa Suter. Pemilihan ketiga desa ini sebagai lokus penelitian didasari oleh telah berkembangnya aktivitas ekowisata di Desa Abang Songan, dan sedang direncanakan untuk mengembangkan ekowisata di kedua desa lainnya. Posisi ketiga desa yang bertetangga ini ada di sudut tenggara Danau Batur, di sepanjang ruas jalan antara Kintamani – Besakih; suatu rute perjalanan wisatawan. Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada responden penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah anggota masyarakat di ketiga desa. Jumlah responden secara purposif ditetapkan 60 orang yang terdistribusi secara merata di ketiga desa. Masyarakat desa yang terpilih sebagai responden ditetapkan secara acak. Masing-masing responden diberikan satu set pernyataan yang harus dipersepsikan dengan memilih salah satu dari lima opsi persepsi yang disediakan. Persepsi responden untuk setiap pernyataan atau item pada kuesioner dinyatakan pada skala Likert dengan 5 taraf, di mana persepsi paling negatif disimbulkan dengan angka 1 dan persepsi positif disimbulkan dengan angka 5. Sebelum digunakan, kuesioner diuji reliabilitas dan validitasnya. Validitas suatu variabel laten merujuk kepada kevalidan setiap item sebagai unsur pembangun laten atau contruct yang bersesuaian, sedangkan reliabilitas merupakan suatu ukuran yang menggambarkan tingkat keandalan (degree of reliability) sekumpulan item

3

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

merepresentasikan suatu variabel laten [15]. Sekumpulan indikator/item dianggap tingkat keandalan yang dapat dipercaya bila memiliki nilai koefisien Alpha Cronbach (α) – sebagai ukuran reliabilitas – bila lebih besar atau sama dengan 0,7 [16]. Sementara itu, sebuah item dinyatakan valid sebagai indikator laten jika memiliki nilai koefisien korelasi sekurang-kurangnya 0,3 dan memiliki tanda (sign) yang sama dengan nilai koefisien korelasi lainnya. Jika sebuah item memiliki koefisien korelasi yang kurang dari 0,3 tetapi memiliki tanda yang sama dengan koefisien korelasi lainnya dan nilai tersebut tidak menyimpang terlalu jauh dari nilai-nilai lainnya, peneliti bisa mempertahankannya. Selain itu, item tersebut sebaiknya dikeluarkan dari daftar item penyusun laten [17]. Data selanjutnya dianalisis menggunakan Partial Least Square Path Modeling (PLSPM). Metode statistik PLS-PM merupakan metode SEM berbasis komponen yang tidak mensyaratkan jumlah sampel yang banyak dan bisa digunakan pada laten dengan indikator formatif. Pada penelitian ini yang menjadi dasar pertimbangan penggunaan PLS berbasis komponen dan bukan SEM berbasis varian seperti AMOS atau LISREL adalah keterbatasan jumlah sampel yang tidak bisa dilakukan dengan menggunakan SEM berbasis peragam (covariance) [15]. Model konseptual yang dibangun pada penelitian ini direpresentasikan pada gambar 1:

Gambar 1. Model Konseptual Hubungan Partisipasi Masyarakat dengan Keberlanjutan Ekowisata

4. Hasil Penelitian dan Diskusi A. Profil Responden Secara deskriptif responden di ketiga desa didominasi laki-laki dengan persentase sebesar 94,8 persen dan telah tinggal di kawasan semenjak lahir. Pada variabel umur, 74,1 persen responden berada pada kelompok umur 35 – 54 tahun dengan kelompok pendidikan tertinggi yang diperoleh adalah SMA (49,1 persen), disusul pendidikan SMP (22,8 persen). Selain itu, lebih dari separuh responden (60,0 persen) bekerja sebagai 4

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

pegawai pemerintah/swasta dengan lokasi pekerjaan sebagian besar (70,0 persen) di desa yang sama dengan tempat tinggalnya. Hasil analisis deskriptif pada profil responden memperlihatkan kelayakan responden untuk menilai persepsi masyarakat di ketiga desa mengenai keberlanjutan ekowisata di wilayahnya baik. Hal ini didukung oleh fakta-fakta berikut: 1. Hampir seluruh responden lahir, besar, dan bertempat tinggal di desa bersangkutan. Hal ini memberikan keyakinan responden memiliki pengetahuan memadai tentang hal-hal yang berlangsung di desanya, termasuk pula pengembangan ekowisata dan partisipasi masyarakat pada pengembangan tersebut; 2. Dari sisi pandang tingkat pendidikan responden, memperhatikan sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SMA atau sarjana (64,8 persen), memberikan jaminan penilaian responden pada masing-masing item pernyataan dalam kuesioner cukup representatif dan bisa dipercaya; 3. Meskipun sebagian besar pekerjaan responden berlokasi di desa yang sama dengan tempat tinggalnya yang memperkecil peluang terjadinya interaksi antarkomunitas desa/wilayah lainnya, mengingat jenis pekerjaan sebagian besar responden adalah pegawai (pemerintah atau swasta); maka dapat diduga peluang interaksi tersebut diperbesar melalui karakteristik kerja responden yang cendrung memiliki mobilitas cukup tinggi, khususnya pada jenis pekerjaan pegawai swasta. B. Kelayakan Kuesioner Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini diperiksa validitas dan reliabilitasnya dengan melakukan pre-test pada 30 tokoh masyarakat dari luar lokasi penelitian tetapi masih berada di dalam wilayah Kecamatan Kintamani. Hasil yang diperoleh ditampilkan pada Tabel 1 dan 2 berikut: Tabel 1. Nilai Validitas dan Reliabilitas pada Laten Partisipasi Masyarakat ITEM Pernyataan (diringkas) X11 X12 X13

Kesiapan waktu berdiskusi Kesiapan memberikan saran Kesiapan finance sharing Kesiapan mengajak orang X14 lain berpartisipasi Kesiapan mendengarkan X15 pendapat orang lain Kemampuan memperoleh X21 keuntungan ekonomis Kesempatan memperoleh X22 keuntungan ekonomis Kemampuan mengelola X23 usaha ekowisata Kesempatan mengelola usaha X24 ekowisata Kemampuan dan kesempatan X25 mengawasi aktivitas ekowisata Alpha Cronbach

Rataan (Bila Dikeluarkan) 36,73 36,73 36,63

9,720 8,961 8,033

Korelasi Item-Total Dikoreksi 0,087 0,355 0,335

Nilai Alpha bila Dieliminasi 0,767 0,737 0,750

36,60

8,662

0,539

0,717

36,43

8,185

0,462

0,721

37,17

7,385

0,666

0,685

37,03

7,895

0,502

0,714

36,87

8,602

0,477

0,722

36,90

8,714

0,399

0,731

36,40

8,869

0,363

0,735

Ragam (Bila Dikeluarkan)

0,749

Sumber: Data Primer (2014), Diolah

5

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

Tabel 2. Nilai Validitas dan Reliabilitas pada Keberlanjutan Ekowisata ITEM Pernyataan (diringkas) Y11 Y12 Y13

Ada kesempatan kerja Ada kesempatan berusaha Tempat belajar berusaha Meningkatkan pendapatan Y14 rumah tangga Y15 Membina jaringan usaha Menguatnya pelestarian Y21 kesenian tradisional Menguatnya pelestarian Y22 bangunan tradisional Menguatnya pelestarian adat Y23 dan istiadat Berkurangnya kebiasaan Y31 merusak kelestarian alam Meningkatnya kepedulian Y32 pada lingkungan Meningkatnya kepedulian Y33 pada flora dan fauna Menyetujui adanya pararem Y34 tentang lingkungan Alpha Cronbach

Rataan (Bila Dikeluarkan) 46,30 46,37 46,07

19,941 19,551 20,409

Korelasi Item-Total Dikoreksi 0,680 0,700 0,826

Nilai Alpha bila Dieliminasi 0,876 0,875 0,870

46,07

20,892

0,835

0,871

46,27

20,340

0,781

0,871

46,03

21,137

0,644

0,879

45,77

22,185

0,429

0,889

45,80

22,234

0,370

0,893

46,23

20,185

0,697

0,875

46,20

21,683

0,458

0,889

46,27

20,478

0,675

0,876

45,57

23,771

0,147

0,901

Ragam (Bila Dikeluarkan)

0,890

Sumber: Data Primer (2014), Diolah

Pemeriksaan item-item penyusun variabel laten partisipasi masyarakat pada Tabel 1 dan Tabel 2 menunjukkan item X11 memiliki nilai korelasi hanya sebesar 0,087 dan item Y34 sebesar 0,147; jauh lebih kecil dari nilai kritis 0,3 yang dipersyaratkan. Mencermati hal ini, maka diputuskan untuk mengeliminasi kedua item dari model yang menyebabkan nilai koefisien Cronbach untuk laten partisipasi masyarakat dan keberlanjutan ekowisata berubah menjadi 0,767 dan 0,901; dua nilai yang lebih besar dari nilai kritis 0,7. C. Analisis Model Persamaan Struktural Data yang terkumpul setelah kuesioner reliabel dan item-itemnta tervalidasi dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak SmartPLS 3.0 dari Ringle et al. [18]. Pada gambar 1, partisipasi masyarakat dan keberlanjutan ekowisata merupakan laten-laten berderajat dua dengan partisipasi masyarakat diformasi oleh dua laten berderajat satu yaitu motif inisiatif dan motif tata kelola [19], keberlanjutan ekowisata direfleksikan dalam tiga laten berderajat satu yaitu manfaat ekonomi, pelestarian budaya, dan konservasi lingkungan. [20]. Hasil analisis dalam bentuk diagram SEM diperlihatkan pada gambar 2. Mencermati SEM terdiri dari 2 sub-model, yaitu: (a) outer atau measurement model, yang menggambarkan hubungan antara sebuah laten dengan indikator-indikatornya; dan (b) inner atau structural model, yang menggambarkan hubungan antarlaten dalam bangun model [21]-[23], hasil analisis harus diuraikan untuk untuk masing-masing sub-model: (a) Analisis Outer (Measurement) Model Pada gambar 2, terlihat kelima laten berderajat satu merupakan laten-laten dengan indikator reflektif. Jadi, analisis pada model pengukuran dilakukan dengan mengamati nilai-nilai factor loading dari masing-masing indikator. Proses bootstrap yang dilakukan 6

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

dengan menetapkan ukuran sub-sampel 500 yang diatur pada metode no sign change dan nilai sigfikansi uji 5 persen memperlihatkan seluruh indikator pada laten motif inisiatif signifikan. Loading terbesar teramati pada indikator X14 dan terkecil pada X12. Pada laten motif tata kelola, seluruh indikator juga memiliki nilai loading yang nyata pada taraf uji 5 persen. Loading terbesar serta terkecil masing-masing teramati pada indikator X21 dan terkecil pada X24. Pada ketiga laten orde satu lainnya juga memiliki nilai loading yang signifikan pada taraf uji 5 persen. Memperhatikan hasil analisis dari sub-model pengukuran ini yang memperlihatkan seluruh indikator memiliki nilai loading yang signifikan pada taraf uji 5 persen, maka analisis pada sub-model struktural atau inner model bisa dilanjutkan.

Gambar 2. Hasil Analisis Model

(b) Analisis Inner (Structural) Model Merujuk terminologi dari Jarvis et al. [21], terdapat lima laten orde satu (first order) yang terhubung dengan dua laten orde dua (second order) seperti terlihat pada gambar 2. Tabel 3 memberikan nilai koefisien jalur (path coefficients) dari hubungan antarlaten orde satu dengan orde dua pada model: Tabel 3. Nilai Path Coefficients pada Hubungan antara First Order dengan Second Order Latent Second Order Laten

Bentuk Hubungan

Partisipasi Masyarakat

Formatif

Keberlanjutan Ekowisata

Reflektif

First Order Latent Motif Inisiatif Motif Tatakelola Manfaat Ekonomi Pelestarian Budaya Konservasi Lingkungan

Original Sample 0,310 0,844 0,944 0,690 0,848

Standard Error 0,213 0,135 0,020 0,086 0,050

T Statistic 1,454 6,250 48,103 7,985 16,918

ns ** ** ** **

Sumber: Data Primer (2014), Diolah ns : tidak nyata pada taraf uji 5 persen ** : nyata pada taraf uji 1 persen

Tabel 3 menunjukkan terdapat sebuah jalur, yaitu pengaruh motif inisiatif terhadap partisipasi masyarakat yang tidak nyata. Empat jalur lainnya menunjukkan hubungan yang signifikan. Selain itu, pengaruh dari partisipasi masyarakat terhadap keberlanjutan ekowisata juga signifikan dengan koefisien jalur sebesar 0,599 (statistik T = 6,126). 7

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

Hasil penelitian memperlihatkan partisipasi masyarakat secara signifikan dibentuk oleh motif tata kelola dengan kemampuan pembentuk (formation power) yang lebih besar dibandingkan dengan motif inisiatif. Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan Wei et al. [23] yang meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat pada perkembangan pariwisata di Xingwen World Geopark, Cina. Secara empirik Wei et al. membuktikan meningkatnya peluang kerja yang bisa dimanfaatkan masyarakat dengan berkembangnya pariwisata di wilayahnya memiliki pengaruh hampir empat kali lebih besar dibandingkan dengan keinginan untuk berpartisipasi. Penelitian ini juga mengkonfirmasi pendapat yang menyatakan bahwa partisipasi masyarakat berpengaruh terhadap keberlanjutan ekowisata yang terefleksikan ke dalam tiga indikator yaitu manfaat ekonomi, manfaat pada pelestarian budaya, dan manfaat pada konservasi lingkungan. Ketiga indikator ini terefleksi secara signifikan, dengan manfaat ekonomi dan konservasi lingkungan merupakan dua sub-laten dengan koefisien jalur terbesar, masing-masing 0,944 dan 0,848; sedangkan manfaat pelestarian budaya memiliki koefisien jalur sebesar 0,690. Nilai ini secara empiris membuktikan bahwa keberlanjutan ekowisata di sebuah kawasan akan didominasi oleh manfaat ekonomi dan konservasi lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat. Temuan penelitian ini sejalan dengan teori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya [4], [7], [24] - [26] dan membantah hasil riset Garrod [8] yang menitikberatkan definisi ekowisata hanya pada kemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal dan mengabaikan partisipasi pada keberlanjutannya. 5. Simpulan dan Rekomendasi A. Simpulan Pada kajian mengenai hubungan antara partisipasi masyarakat dengan keberlanjutan ekowisata di Kintamani, beberapa hal bisa disimpulkan: 1. Partisipasi masyarakat Kintamani secara nyata hanya dipengaruhi motif tata kelola pada aktivitas kepariwisataan di wilayahnya. Motif inisiatif belum mampu berperan nyata dalam membangun partisipasi masyarakat; 2. Motif tatakelola yang memiliki kekuatan formasi lebih besar daripada motif inisiatif didominasi oleh keyakinan bahwa masyarakat memiliki kemampuan dan kesempatan untuk memperoleh keuntungan secara ekonomis. Meskipun demikian, masyarakat berpendapat kemampuan dan kesempatan untuk mengawasi aktivitas ekowisata di wilayahnya sebagai sebagai item dengan nilai refleksi terendah dari motif tatakelola; 3. Partisipasi secara meyakinkan mempengaruhi keberlanjutan ekowisata di Kintamani yang terefleksikan pada adanya manfaat secara ekonomis, konservasi lingkungan, dan manfaat pelestarian budaya yang dirasakan masyarakat lokal. Secara empiris terbukti manfaat ekonomis disusul oleh manfaat konservasi lingkungan sebagai dua sub-laten yang direfleksikan terbesar oleh keberlanjutan ekowisata di wilayah tersebut. B. Rekomendasi Mengingat vitalnya peranan partisipasi dalam mewujudkan keberlanjutan ekowisata di Kintamani, maka kepada para pengambil kebijakan dan peneliti lainnya disarankan beberapa hal berikut: 1. Memprioritaskan pembentukan aturan yang memungkinkan masyarakat lokal sebagai ‘pemilik wilayah’ melakukan pengawasan dan pengendalian aktivitas ekowisata yang tengah berlangsung. Pembentukan aturan harus dilengkapi dengan pelatihan kepada masyarakat lokal, khususnya pada pengelolaan ekowisata. Hal ini mencermati masih rendahnya kemampuan dan kesempatan masyarakat lokal untuk mengawasi aktivitas ekowisata di wilayahnya; 8

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

2. Para peneliti berikutnya disarankan melakukan riset longitudinal memperhatikan karakteristik ekowisata yang dinamis. Melalui riset berkelanjutan, dapat diketahui trend partisipasi, termasuk tingkatan partisipasi masyarakat; 3. Penelitian sejenis di daerah yang penduduknya lebih heterogen sangat dianjurkan mengingat masyarakat di lokasi penelitian ini cendrung homogen. Heterogenitas dari masyarakat diduga akan mempengaruhi partisipasi yang terbangun Daftar Pustaka [1] [2] [3]

[4] [5]

[6]

[7] [8] [9] [10]

[11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18]

RI, "Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009," Republik Indonesia, Jakarta, Undang-Undang 2009. ESCAP, "Bali Declaration on Sustainable Tourism Development," United Nations, New York, Report 2007. Biro Perencanaan dan Informasi, "Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2012," Sekretariat Jenderal , KEMENPAREKRAF Republik Indonesia, Jakarta, LAKIP 2013. Fariborz Aref, "The Effects of Tourism on Quality of Life: A Case Study of Shiraz, Iran," Life Science Journal, vol. 8, no. 2, pp. 26-30, 2011. L. S. Sebele, "Community-based tourism ventures, benefits and challenges: Khama Rhino Sanctuary Trust, Central District, Botswana," Tourism Management, vol. 31, p. 136=146, 2010. Akarapong Untong, Mingsarn Kaosa-ard, Vicente Ramos, Korawan Sangkakorn, and Javier Rey-Maquieria, "Factors Influencing Local Resident Support for Tourism Development: A Structural Equation Model," in The APTA Conference 2010, Macau, 2010. Mark B. Orams, "Towards a More Desirable Form of Ecotourism," Tourism Management, vol. 16, no. 1, pp. 3-8, 1995. Brian Garrod, "Local Participation in the Planning and Management of Ecotourism: A Revised Model Approach," Journal of Ecotourism, vol. 2, no. 1, pp. 33-53, 2003. Ghazala Mansuri and Vijayendra Rao, "Community-Based and -Driven Development: A Critical Review," The World Bank Research Observer, vol. 19, no. 1, pp. 1-39, 2004. Paul Florin and Abraham Wandersman, "An Introduction to Citizen Participation, Voluntary Organizations, and Community Development: Insights for Empowerment Through Research," American Journal of Community Psychology, vol. 18, no. 1, pp. 41-52, February 1990. Sherry R. Arnstein, "A Ladder of Citizen Participation," Journal of the American Planning Association, vol. 35, no. 4, pp. 216-224, 1969. Dallen J. Timothy, "Participatory Planning: a View of tourism in Indonesia," Annals of Tourism Research, vol. 26, pp. 371-391, 1999. Weibing Zhao and J. R. Brent Ritchie, "Tourism and Poverty Alleviation: An Integrative Research Framework," Current Issues in Tourism, vol. 10, pp. 119-143, 2007. Anucha Leksakundilok, "Ecotourism and Community-based Ecotourism in the Mekong Region," University of Sidney, Sidney, Working Paper # 10 1 86487 222 5, 2004. Joseph F. Hair, Rolph E. Anderson, Ronald L. Tatham, and William C. Black, Multivariate Data Analysis with Readings, 4th ed. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., 1995. Jum C. Nunnaly, "Psychometric Theory. 25 Years Ago and Now," Educational Researcher, vol. 4, no. 10, pp. 7-14;19-21, November 1975. Gilbert A. Churchill, Jr., "A Paradigm for Developing Better Measures of Marketing Constructs," Journal of Marketing Research, vol. 16, no. 1, pp. 64-73, February 1979. Christian Mark Ringle, Sven Wende, and Alexander Will. (2014) SmartPLS 3.0. [Online]. http://www.smartpls.de

9

I Putu Eka N. Kencana

Partisipasi dan Keberlanjutan Ekowisata: Aplikasi Model …

[19] Masahiro Shoji, Keitaro Aoyagi, Ryuji Kasahara, and Yasuyuki Sawada, "Motives behind Community Participation: Evidence from Natural and Field Experiments in a Developing Country," JICA Research Institute, Tokyo, Working Paper No. 16 2010. [20] World Commission on Environment and Development, "Our Common Future," United Nation, New York, Report 1987. [21] Cheryl Burke Jarvis, Scott B. Mackenzie, and Philip M. Podsakoff, "A Critical Review of Construct Indicators and Measurement Model Misspecification in Marketing and Consumer Research," Journal of Consumer Research, vol. 30, pp. 199-218, 2003. [22] Jorg Henseler, Christian M. Ringle, and Rudolf R. Sinkovics, "The Use of Partial Least Squares Path Modeling in International Marketing," Advances in International Marketing, vol. 20, pp. 277-319, 2009. [23] Shui Wei, Xu Xueyi, Wei Yali, and Wang Xinggui, "Influencing factors of community participation in tourism development: A case study of Xingwen world Geopark," Journal of Geography and Regional Planning, vol. 5, no. 7, pp. 207-211, April 2012. [24] Richard W. Butler, "Tourism - an evolutionary perspective," in Tourism and Sustainable Development: Monitoring, Planning, Managing, J. G. Nelson, R. W. Butler, and G. Walls, Eds. Waterloo: Geography Publication Series # 52, 1993. [25] Keith W. Sproule, "Community-based Ecotourism Development: Identifying Partners in the Process," The Ecotourism Equation: Measuring the Impacts, pp. 233-250, 1998. [26] Potjana Suansri, Community Based Tourism Handbook. Bangkok: Responsible Ecological Social Tour, 2003. [27] Cevat Tosun, "Host Perception of Impacts: A Comparative Tourism Study," Annals of Tourism, vol. 29, no. 1, pp. 231-253, 2002. [28] Michel Tenenhaus, Vincenzo Esposito Vinzi, Yves-Marie Chatelin, and Carlo Lauro, "PLS path modeling," Computational Statistics & Data Analysis, vol. 48, pp. 159-205, 2005.

Ucapan Terima Kasih Riset ini sebagian dibiayai oleh Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua, Bali pada tahun anggaran 2014. Untuk itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada Ketua STP Nusa Dua, Bali yang telah membantu sehingga riset ini terlaksana. Kepada para responden di tiga desa lokasi penelitian yang telah memberikan data yang berharga, ucapan yang sama juga disampaikan.

10

Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.