PENENTUAN KADAR FORMALIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL

November 8, 2017 | Author: Pebri Utami | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

PENENTUAN KADAR FORMALIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL



I. TUJUAN

Menetapkan kadar formalin dengan metode spektrofotometri visibel.



II. DASAR TEORI
1. Formalin
Formalin atau larutan formaldehida merupakan larutan yang
mengandung formaldehida dan metanol sebagai stabilisator. Kadar
formaldehida (CH2O) tidak kurang dari 34% dan tidak lebih dari 38%.
Formalin berupa cairan jernih, tidak berwarna atau hampir tidak
berwarna, dan bau menusuk. Formalin dapat dicampur dengan air dan dengan
etanol (95%) P (Depkes RI, 1979). Bobot tiap milliliter adalah 1,08
gram. Dapat bercampur dengan air dan alkohol, tetapi tidak bercampur
dengan kloroform dan eter. Titik didih formalin adalah 96oC (Windholz,
1976). Berikut adalah gambar dari struktur kimia formalin yaitu:









Uji formalin dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.
Secara kualitatif dapat dilakukan dengan KMnO4, sedangkan secara
kuantitatif dapat dilakukan dengan spektrofotometri menggunakan larutan
Nash (Amin, 2011).










Nash (1953) memperkenalkan metode kolorimetri ke dalam analisis kimia
untuk HCHO (formaldehid). Metode ini berdasarkan pada reaksi Hantzsch
dari formaldehid dengan asetilaseton atau 2,4-pentanadion dalam ammonia
untuk membentuk hasil warna kuning dari 3,5-diasetil-1,4-dihidrolutidin
(DDL) (Li et al, 2007).
Formalin dapat bereaksi membentuk warna dengan pereaksi
Nash pada metode analisis formalin. Analisis spektrofotometer visibel
dapat dijadikan sebagai metode standar untuk pengujian formalin
(Dolaria, dkk., 2007).Berikut ini reaksi formalin dengan pereaksi nash :
























2. Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis
spektroskopik yang memakai sumber radiasi elektromagnetik UV dekat (190-
380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen
spektrofotometer. Radiasi UV jauh (100-190 nm) tidak digunakan, sebab
pada daerah radiasi tersebut diabsorpsi oleh udara. Adakalanya
spektrofotometer UV-Vis yang beredar memberikan rentang pengukuran
panjang gelombang 190-1100 nm. Hal ini perlu diperhatikan sebab di atas
panjang gelombang 780 nm merupakan daerah radiasi infra merah.
Karenanya, pengukuran di atas panjang gelombang 780 nm harus menggunakan
detektor dengan kualitas sensitif terhadap radiasi inframerah (Mulja dan
Suharman, 1995).
Spektrofotometri UV-VIS termasuk salah satu metode analisis
instrumental yang frekuensi penggunaannya paling banyak dalam
laboratorium analisis. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi
elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga
spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif
dibandingkan kualitatif (Gandjar dan Rohman, 2007).
Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari
Hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = - log T = - log It / Io = ε . b . C
Dimana :
A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur
T = Transmitansi
I0 = Intensitas sinar masuk
It = Intensitas sinar yang diteruskan
ε = Koefisien ekstingsi
b = Tebal kuvet yang digunakan
C = Konsentrasi dari sampel
(Gandjar dan Rohman, 2012)
Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang
diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan
konsentrasi larutan. Dalam Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan
yaitu:
- Sinar yang digunakan dianggap monokromatis.
- Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas
yang sama.
- Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak bergantung terhadap
yang lain dalam larutan tersebut.
- Tidak terjadi peristiwa fluoresensi atau fosforisensi.
- Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.
(Gandjar dan Rohman, 2007)
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan
spektrofotometri UV-Vis terutama untuk senyawa yang semula tidak
berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visible karena
senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang
berwarna (Gandjar dan Rohman, 2012). Beberapa tahapan yang harus
diperhatikan meliputi:
1. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis
Hal ini diperlukan bila senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada
daerah tersebut. Senyawa harus diubah atau direaksikan dengan
pereaksi tertentu dengan syarat reaksinya selektif dan sensitive,
reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel, serta hasil reaksi
stabil dalam jangka waktu yang lama. Keselektifan dapat dinaikkan
dengan mengatur pH, pemakaian masking agent, atau penggunaan teknik
ekstraksi (Gandjar dan Rohman, 2012).
2. Waktu operasional
Cara ini biasanya digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau
pembentukan warna. Tujuannya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran
yang stabil (Gandjar dan Rohman, 2012).
3. Pemilihan panjang gelombang
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah
panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Alasan
digunakannya panjang gelombang maksimal adalah pada panjang gelombang
ini kepekaannya maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada
kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi, serta juka
dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh
pemasangan ulang panjang gelombang akan sangat kecil (Gandjar dan
Rohman, 2012).
4. Pembuatan kurva baku
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan
berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan
berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan
hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). Bila hukum
Lambert-Beer terpenuhi, maka kurva baku berupa garis lurus (Gandjar
dan Rohman, 2012).
5. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2
sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan.
Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T
adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik) (Gandjar dan Rohman,
2012).











Gambar 1. Plot Hukum Lambert-Beer (Gandjar dan Rohman, 2007)
Penyebab kesalahan sistematik yang sering terjadi dalam analisis
menggunakan spektrofotometer adalah:
a. Serapan oleh pelarut
Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko, yaitu larutan yang
berisi matrik selain komponen yang akan dianalisis.
b. Serapan oleh kuvet
Kuvet yang biasa digunakan adalah dari bahan gelas atau kuarsa.
Dibandingkan dengan kuvet dari bahan gelas, kuvet kuarsa memberikan
kualitas yang lebih baik, namun tentu saja harganya jauh lebih mahal.
Serapan oleh kuvet ini diatasi dengan penggunaan jenis, ukuran, dan
bahan kuvet yang sama untuk tempat blangko dan sampel (Tahir, 2008) .
c. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat
rendah atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan
konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang
digunakan. (melalui pengenceran atau pemekatan). Sama seperti pHmeter,
untuk mengatasi kesalahan pada pemakaian spektrofotometer UV-Vis maka
perlu dilakukan kalibrasi. Kalibrasi dalam spektrofotometer UV-Vis
dilakukan dengan menggunakan blangko:
Setting nilai absorbansi = 0
Setting nilai transmitansi = 100 %
Penentuan kalibrasi dilakukan dengan mengikuti prosedur sebagai berikut:
a. Dilakukan dengan larutan blangko (berisi pelarut murni yang
digunakan dalam sampel) dengan kuvet yang sama.
b. Setiap perubahan panjang gelombang diusahakan dilakukan proses
kalibrasi.
c. Proses kalibrasi pada pengukuran dalam waktu yang lama untuk satu
macam panjang gelombang, dilakukan secara periodik selang waktu
per 30 menit.
Dengan adanya proses kalibrasi pada spektrofotometer UV-Vis ini maka
akan membantu pemakai untuk memperoleh hasil yang akurat dan presisi
(Tahir, 2008).


III. ALAT DAN BAHAN

1. Alat

a. Pipet ukur
b. Gelas beaker
c. Pipet tetes
d. Labu ukur
e. Botol vial
f. Kuvet
g. Ballfiller
h. Spektrofotometer UV-visibel
2. Bahan

a. Larutan formalin 37%b/v
b. Aquadest
c. Amonium asetat ( NH4CH3COO)
d. Asam asetat (CH3COOH)
e. Asetil aseton


IV. PERHITUNGAN

4.1 Perhitungan pembuatan pereaksi Nash
Pereaksi Nash yang dibuat sejumlah 50 ml, sehingga jumlah masing –
masing bahan adalah :
a. Amonium asetat = x 15 gr = 7,5 gr
b. Asam Asetat = x 0,3 ml = 0,15 ml
c. Asetil Aseton = x 0,2 ml = 0,1 ml
d. Aquadest = x 100 ml = add 50 ml


2. Pembuatan 10 mL Larutan Stok Formalin 2% b/v
Dik :
Larutan formalin yang tersedia = 37% b/v
Konsentrasi yang diperlukan = 2% b/v
Volume larutan yang diperlukan = 10 mL
Dit : Volume larutan formalin 37% b/v yang diambil = ….. ?
M1V1 = M2V2
37 % V1 = 2 % . 10 ml
V1 =
V1 = 0,54 mL

4.3 Pembuatan 10 mL larutan Formalin 100 µg/mL dari larutan formalin 2%
b/v

Dik :

Konsentrasi formalin = 2% b/v

Volume larutan formalin 100 µg/ml yang diperlukan = 10 mL

2 % b/v = 2 gram/100 ml = 2 x 104 (g/ml

Dit : Volume larutan formalin 2% b/v yang diambil = ….. ?

Jawab :

C1V1 = C2V2

2 x 104 µg/ml V1 = 100 µg/ml x 10 ml
V1 =
V1 = 0,05 ml

4. Perhitungan konsentrasi setiap larutan standar
Diketahui :
Vlarutan stok formalin standar1 = 0,1 mL
Vlarutan stok formalin standar2 = 0,2 mL
Vlarutan stok formalin standar 3 = 0,3 mL
Vlarutan stok formalin standar 4 = 0,4 mL
Vlarutan stok formalin standar 5 = 0,5 mL
Vmasing-masing larutan = 5 mL
Clarutan stok formalin = 100 µg/mL
Ditanya : C (konsentrasi) masing-masing larutan seri = …?
Jawab :
- Untuk standar 1
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100 µg/mL x 0,1 mL = Clarutan formalin standar 1 x 5 mL
Clarutan standar formalin standar 1 =

= 2 µg/mL

- Untuk standar 2
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100 µg/mL x 0,2 mL = Clarutan formalin standar 2 x 5 mL
Clarutanstandar formalin standar 2 =

= 4 µg/mL
- Untuk standar 3
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100 µg/mL x 0,3 mL = Clarutan formalin standar 3 x 5 mL
Clarutanstandar formalin standar 3 =

= 6 µg/mL
- Untuk standar 4
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100µg/mL x 0,4 mL = Clarutan formalin standar 4 x 5 mL
` Clarutanstandar formalin standar 4 =


= 8 µg/mL
- Untuk standar 5
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100 µg/mL x 0,5 mL = Clarutanformalin standar 5 x 5
mL
Clarutan standar formalin standar 5 =

= 10 µg/mL
5. Pembuatan Larutan Sampel Formalin

Diketahui:
Clarutan stok formalin = 10 µg/mL
V larutan stok formalin yang digunakan = 0,35 mL
V larutan formalin yang ingin dibuat = 5 mL
Ditanya : C larutan stok formalin yang digunakan = …?
Jawab :
CstokFormalin x Vstok Formalin = ClarutanFormalin x V
larutanFormalin
100 µg/mL x 0,35 mL = ClarutanFormalin x 5 mL
CstokFormalin =
= 7µg/mL


V. PELAKSANAAN PERCOBAAN

1. Prosedur Kerja
1. Pembuatan Larutan Formalin 2% b/v dari larutan Formalin 37%
b/v
Diambil 0,54 mL larutan formalin 2% b/v dengan pipet volume.
Dimasukkan kedalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan aquadest hingga
tanda batas dan digojog hingga homogen.
2. Pembuatan Larutan Stok Baku Formalin 100 µg/mL
Larutan formalin 2% b/v diambil sebanyak 0,05 mL menggunakan pipet
volume dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Ditambahkan akuades
hingga tanda batas kemudian digojog hingga homogen.
5.1.3 Pembuatan Pereaksi Nash
Ditimbang 7,5 gram Ammonium Asetat (NH4CH3COO) dan dimasukkan dalam
beaker glass. Ditambahkan 0,15 mL Asam Asetat (CH3COOH) dan 0,1 mL
Asetil Aseton Dilarutkan dengan Aquadest hingga larut dan dimasukkan
ke dalam labu ukur 50 mL Ditambahkan akuades hingga volume 50 mL dan
digojog hingga homogen. Dimasukkan kedalam botol kaca gelap serta
dibungkus dengan aluminium foil.
5.1.4 Pembuatan Larutan Standar
Dipipet masing-masing 0,1 mL, 0,2 mL, 0,3 mL, 0,4 mL dan 0,5 mL
larutan formalin 100 µg/mL lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL,
ditambahkan akuades sampai batas 5 mL. Kemudian masing-masing larutan
dimasukkan ke dalam 5 buah vial yang berbeda. Dari masing-masing vial
tersebut dipipet 1 mL, dimasukkan ke dalam vial baru, dan ditambahkan
dengan 2 mL pereaksi Nash dan 2 mL akuades. Didiamkan kurang lebih
selama 30 menit.
5.1.5 Pembuatan Larutan Sampel Formalin
Sebanyak 0,35 mL larutan stok baku formalin 100 µg/mL dipipet,
kemudian ditempatkan pada labu ukur 5 mL. Ditambahkan akuades hingga
tanda batas dan digojog. Larutan sampel kemudian ditampung pada botol
vial. Diambil 1 ml larutan sampel dan ditambahkan 2 ml pereaksi Nash
dan 2 ml akuades. Didiamkan kurang lebih selama 30 menit.
5.1.6 Penentuan Kadar Formalin
Diukur absorbansi salah satu larutan standar pada rentang panjang
gelombang 352 nm - 451 nm, ditentukan panjang gelombang maksimumnya
dan dilakukan pengukuran absorbansi masing-masing seri larutan standar
pada panjang gelombang maksimum kemudian dibuat kurva kalibrasi dan
persamaan regresi liniernya. Ditetapkan kadar sampel formalin dengan
mengukur absorbansinya secara spektrofotometri visibel. Diukur
absorbansi sampel formalin pada panjang gelombang maksimumnya.
Ditetapkan kadar formalin dengan memanfaatkan persamaan regresi linear
dari 5 variasi larutan standar dan dihitung persentase perolehan
kembali.


2. Skema Kerja

1. Pembuatan Latutan Formalin 2% b/v dari larutan 37% b/v



















2. Pembuatan Larutan Stok Baku Formalin 100 µg/mL































3. Pembuatan Pereaksi Nash


































4. Pembuatan Larutan Standar












































5. Pembuatan Larutan Sampel Formalin




















5.2.6 Penentuan Kadar Formalin































































DAFTAR PUSTAKA



Amin, A. 2011. Identifikasi Formalin Dalam Produk Mie Basah Dan Tahu Dengan
Metode Kualitatif Larutan KMnO4. Jurnal Tasimak. Vol. II(1). Hal. 15-
24.

Budiarti, A dkk . 2009. Pengaruh Perendaman Dalam Air Hangat Terhadap
Kandungan Formalin pada Mie Basah dari Tiga Produsen yang Dijual di
Pasar Johar Semarang. Jurnal Ilmu Farmasi dan Ilmu Klinik. Vol VI(1).
Hal 1-6.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.

Dolaria, dkk. 2007. Uji Validasi pada Analisis Formalin Menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis. (Cited: 19 April 2014). Available from:
http//:www.61076167.pdf.

Gandjar, I. G. dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar

Gandjar, I. G. dan A. Rohman. 2012. Analisis Obat Secara Spektrofotometri
dan Kromatografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hayat, M.A. 2000. Principles and Techniques of Electron Microscopy :
Biological Applications, Fourth Edition. Amerika: Cambridge
University Press.

Li, Q., P. Sritharathikhun and S. Motomizu. 2007. Development of Novel
Reagent for Hantzsch Reaction for the Determination of Formaldehyde
by Spectrophotometry and Fluorometry. Analytical Sciences. Vol. 23.
Hal. 413-417.

Mulja, Muhammad dan Suharman. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya:
Airlangga University Press

Tahir, Iqmal. 2008. Arti Penting Kalibrasi Pada Proses Pengukuran Analitik
: Aplikasi Pada Penggunaan pHmeter dan Spektrofotometer UV-Vis. Medan
: Universitas Sumatera Utara

Windholz, Martha. 1976. The Merck Index : Encyclopedia of Chemicals, Drugs,
and Biologicals. 9th edition. White house Station, NJ, USA : Merck &
Co.,Inc.

-----------------------
Gambar 2.1. Struktur Formalin (Hayat, 2000).



Gambar 2.2. Reaksi Hantzsch (Li et al, 2007)



Gambar 3. Reaksi formalin dengan pereaksi nash (Budiarti dkk, 2009)



Diambil 0,54 mL larutan formalin 2% b/v dengan pipet volume


Ditambahkan akuades hingga 10 mL ke dalam labu ukur, digojog sampai homogen



Larutan formalin 2% b/v diambil sebanyak 0,05 mL menggunakan pipet volume





Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Ditambahkan akuades hingga tanda batas
kemudian digojog hingga homogen.




Ditimbang 7,5 gram ammonium Asetat (NH4CH3COO), dimasukkan ke dalam beaker
glass





Ditambahkan 0,15 mL Asam Asetat (CH3COOH) DAN 0,1 mL Asetil Aseton



Diencerkan dengan akuades hingga 50 mL dan digojog sampai homogen




Dibuat 5 variasi kadar larutan standar








Diambil larutan stok baku sebanyak 0,1 mL; 0,2 mL; 0,3 mL; 0,4 mL; 0,5
mL








Diambil 1 ml larutan standar masing-masing ditambahkan 2 ml pereaksi Nash
dan 2 ml akuades. Didiamkan kurang lebih selama 30 menit.





Dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL, ditambahkan dengan akuades hingga tanda
batas








Dipipet sebanyak 0,35 mL larutan stok baku formalin 100 µg/mL





Ditempatkan pada labu ukur 5 mL, ditambahkan akuades hingga tanda batas dan
digojog. Larutan ditampung pada vial





Dipipet 1 ml larutan sampel dan ditambahkan 2 ml pereaksi Nash dan 2 ml
akuades





Didiamkan kurang lebih selama 30 menit.





Diukur absorbansi salah satu larutan standar pada rentang panjang gelombang
352 nm - 451 nm dengan spektrofotometer UV-Vis



Ditentukan panjang gelombang maksimumnya dan dilakukan pengukuran
absorbansi masing-masing seri larutan standar pada panjang gelombang
[email protected]? Š —Ÿ ( *
ïâÎÁ´¨œ?¨?ÁmYE4E!h+äCJOJQJaJmHnHu'h¬ThäCJOJQJaJmHnHu'h¬Th¬TCJOJQJa
JmHnHu'hähäCJOJQJaJmHnHuhL0çhL0çCJOJQJaJh˜LæCJOJQJaJh+äCJOJQJaJhL0
çCJOJQJaJhpt¶5?CJOJQJaJh6z5?CJOJQJaJ'h6zh6z5?CJOJQmaksimum



Dibuat kurva kalibrasi larutan standar dan persamaan regresi liniernya



Dilakukan pengukuran absorbansi larutan sampel pada panjang gelombang
maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis



Dihitung kadar sampel berdasarkan nilai absorbansi sampel dan persamaan
regresi linier larutan standar



Dihitung nilai persentase perolehan kembali


Deskripsi

PENENTUAN KADAR FORMALIN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL



I. TUJUAN

Menetapkan kadar formalin dengan metode spektrofotometri visibel.



II. DASAR TEORI
1. Formalin
Formalin atau larutan formaldehida merupakan larutan yang
mengandung formaldehida dan metanol sebagai stabilisator. Kadar
formaldehida (CH2O) tidak kurang dari 34% dan tidak lebih dari 38%.
Formalin berupa cairan jernih, tidak berwarna atau hampir tidak
berwarna, dan bau menusuk. Formalin dapat dicampur dengan air dan dengan
etanol (95%) P (Depkes RI, 1979). Bobot tiap milliliter adalah 1,08
gram. Dapat bercampur dengan air dan alkohol, tetapi tidak bercampur
dengan kloroform dan eter. Titik didih formalin adalah 96oC (Windholz,
1976). Berikut adalah gambar dari struktur kimia formalin yaitu:









Uji formalin dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.
Secara kualitatif dapat dilakukan dengan KMnO4, sedangkan secara
kuantitatif dapat dilakukan dengan spektrofotometri menggunakan larutan
Nash (Amin, 2011).










Nash (1953) memperkenalkan metode kolorimetri ke dalam analisis kimia
untuk HCHO (formaldehid). Metode ini berdasarkan pada reaksi Hantzsch
dari formaldehid dengan asetilaseton atau 2,4-pentanadion dalam ammonia
untuk membentuk hasil warna kuning dari 3,5-diasetil-1,4-dihidrolutidin
(DDL) (Li et al, 2007).
Formalin dapat bereaksi membentuk warna dengan pereaksi
Nash pada metode analisis formalin. Analisis spektrofotometer visibel
dapat dijadikan sebagai metode standar untuk pengujian formalin
(Dolaria, dkk., 2007).Berikut ini reaksi formalin dengan pereaksi nash :
























2. Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis
spektroskopik yang memakai sumber radiasi elektromagnetik UV dekat (190-
380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen
spektrofotometer. Radiasi UV jauh (100-190 nm) tidak digunakan, sebab
pada daerah radiasi tersebut diabsorpsi oleh udara. Adakalanya
spektrofotometer UV-Vis yang beredar memberikan rentang pengukuran
panjang gelombang 190-1100 nm. Hal ini perlu diperhatikan sebab di atas
panjang gelombang 780 nm merupakan daerah radiasi infra merah.
Karenanya, pengukuran di atas panjang gelombang 780 nm harus menggunakan
detektor dengan kualitas sensitif terhadap radiasi inframerah (Mulja dan
Suharman, 1995).
Spektrofotometri UV-VIS termasuk salah satu metode analisis
instrumental yang frekuensi penggunaannya paling banyak dalam
laboratorium analisis. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi
elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga
spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif
dibandingkan kualitatif (Gandjar dan Rohman, 2007).
Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari
Hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = - log T = - log It / Io = ε . b . C
Dimana :
A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur
T = Transmitansi
I0 = Intensitas sinar masuk
It = Intensitas sinar yang diteruskan
ε = Koefisien ekstingsi
b = Tebal kuvet yang digunakan
C = Konsentrasi dari sampel
(Gandjar dan Rohman, 2012)
Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang
diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan
konsentrasi larutan. Dalam Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan
yaitu:
- Sinar yang digunakan dianggap monokromatis.
- Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas
yang sama.
- Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak bergantung terhadap
yang lain dalam larutan tersebut.
- Tidak terjadi peristiwa fluoresensi atau fosforisensi.
- Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.
(Gandjar dan Rohman, 2007)
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan
spektrofotometri UV-Vis terutama untuk senyawa yang semula tidak
berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visible karena
senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang
berwarna (Gandjar dan Rohman, 2012). Beberapa tahapan yang harus
diperhatikan meliputi:
1. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis
Hal ini diperlukan bila senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada
daerah tersebut. Senyawa harus diubah atau direaksikan dengan
pereaksi tertentu dengan syarat reaksinya selektif dan sensitive,
reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel, serta hasil reaksi
stabil dalam jangka waktu yang lama. Keselektifan dapat dinaikkan
dengan mengatur pH, pemakaian masking agent, atau penggunaan teknik
ekstraksi (Gandjar dan Rohman, 2012).
2. Waktu operasional
Cara ini biasanya digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau
pembentukan warna. Tujuannya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran
yang stabil (Gandjar dan Rohman, 2012).
3. Pemilihan panjang gelombang
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah
panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Alasan
digunakannya panjang gelombang maksimal adalah pada panjang gelombang
ini kepekaannya maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada
kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi, serta juka
dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh
pemasangan ulang panjang gelombang akan sangat kecil (Gandjar dan
Rohman, 2012).
4. Pembuatan kurva baku
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan
berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan
berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan
hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). Bila hukum
Lambert-Beer terpenuhi, maka kurva baku berupa garis lurus (Gandjar
dan Rohman, 2012).
5. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2
sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan.
Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T
adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik) (Gandjar dan Rohman,
2012).











Gambar 1. Plot Hukum Lambert-Beer (Gandjar dan Rohman, 2007)
Penyebab kesalahan sistematik yang sering terjadi dalam analisis
menggunakan spektrofotometer adalah:
a. Serapan oleh pelarut
Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko, yaitu larutan yang
berisi matrik selain komponen yang akan dianalisis.
b. Serapan oleh kuvet
Kuvet yang biasa digunakan adalah dari bahan gelas atau kuarsa.
Dibandingkan dengan kuvet dari bahan gelas, kuvet kuarsa memberikan
kualitas yang lebih baik, namun tentu saja harganya jauh lebih mahal.
Serapan oleh kuvet ini diatasi dengan penggunaan jenis, ukuran, dan
bahan kuvet yang sama untuk tempat blangko dan sampel (Tahir, 2008) .
c. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat
rendah atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan
konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang
digunakan. (melalui pengenceran atau pemekatan). Sama seperti pHmeter,
untuk mengatasi kesalahan pada pemakaian spektrofotometer UV-Vis maka
perlu dilakukan kalibrasi. Kalibrasi dalam spektrofotometer UV-Vis
dilakukan dengan menggunakan blangko:
Setting nilai absorbansi = 0
Setting nilai transmitansi = 100 %
Penentuan kalibrasi dilakukan dengan mengikuti prosedur sebagai berikut:
a. Dilakukan dengan larutan blangko (berisi pelarut murni yang
digunakan dalam sampel) dengan kuvet yang sama.
b. Setiap perubahan panjang gelombang diusahakan dilakukan proses
kalibrasi.
c. Proses kalibrasi pada pengukuran dalam waktu yang lama untuk satu
macam panjang gelombang, dilakukan secara periodik selang waktu
per 30 menit.
Dengan adanya proses kalibrasi pada spektrofotometer UV-Vis ini maka
akan membantu pemakai untuk memperoleh hasil yang akurat dan presisi
(Tahir, 2008).


III. ALAT DAN BAHAN

1. Alat

a. Pipet ukur
b. Gelas beaker
c. Pipet tetes
d. Labu ukur
e. Botol vial
f. Kuvet
g. Ballfiller
h. Spektrofotometer UV-visibel
2. Bahan

a. Larutan formalin 37%b/v
b. Aquadest
c. Amonium asetat ( NH4CH3COO)
d. Asam asetat (CH3COOH)
e. Asetil aseton


IV. PERHITUNGAN

4.1 Perhitungan pembuatan pereaksi Nash
Pereaksi Nash yang dibuat sejumlah 50 ml, sehingga jumlah masing –
masing bahan adalah :
a. Amonium asetat = x 15 gr = 7,5 gr
b. Asam Asetat = x 0,3 ml = 0,15 ml
c. Asetil Aseton = x 0,2 ml = 0,1 ml
d. Aquadest = x 100 ml = add 50 ml


2. Pembuatan 10 mL Larutan Stok Formalin 2% b/v
Dik :
Larutan formalin yang tersedia = 37% b/v
Konsentrasi yang diperlukan = 2% b/v
Volume larutan yang diperlukan = 10 mL
Dit : Volume larutan formalin 37% b/v yang diambil = ….. ?
M1V1 = M2V2
37 % V1 = 2 % . 10 ml
V1 =
V1 = 0,54 mL

4.3 Pembuatan 10 mL larutan Formalin 100 µg/mL dari larutan formalin 2%
b/v

Dik :

Konsentrasi formalin = 2% b/v

Volume larutan formalin 100 µg/ml yang diperlukan = 10 mL

2 % b/v = 2 gram/100 ml = 2 x 104 (g/ml

Dit : Volume larutan formalin 2% b/v yang diambil = ….. ?

Jawab :

C1V1 = C2V2

2 x 104 µg/ml V1 = 100 µg/ml x 10 ml
V1 =
V1 = 0,05 ml

4. Perhitungan konsentrasi setiap larutan standar
Diketahui :
Vlarutan stok formalin standar1 = 0,1 mL
Vlarutan stok formalin standar2 = 0,2 mL
Vlarutan stok formalin standar 3 = 0,3 mL
Vlarutan stok formalin standar 4 = 0,4 mL
Vlarutan stok formalin standar 5 = 0,5 mL
Vmasing-masing larutan = 5 mL
Clarutan stok formalin = 100 µg/mL
Ditanya : C (konsentrasi) masing-masing larutan seri = …?
Jawab :
- Untuk standar 1
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100 µg/mL x 0,1 mL = Clarutan formalin standar 1 x 5 mL
Clarutan standar formalin standar 1 =

= 2 µg/mL

- Untuk standar 2
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100 µg/mL x 0,2 mL = Clarutan formalin standar 2 x 5 mL
Clarutanstandar formalin standar 2 =

= 4 µg/mL
- Untuk standar 3
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100 µg/mL x 0,3 mL = Clarutan formalin standar 3 x 5 mL
Clarutanstandar formalin standar 3 =

= 6 µg/mL
- Untuk standar 4
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100µg/mL x 0,4 mL = Clarutan formalin standar 4 x 5 mL
` Clarutanstandar formalin standar 4 =


= 8 µg/mL
- Untuk standar 5
Cstok formalin x Vstok formalin = Clarutan formalin x
Vlarutan formalin
100 µg/mL x 0,5 mL = Clarutanformalin standar 5 x 5
mL
Clarutan standar formalin standar 5 =

= 10 µg/mL
5. Pembuatan Larutan Sampel Formalin

Diketahui:
Clarutan stok formalin = 10 µg/mL
V larutan stok formalin yang digunakan = 0,35 mL
V larutan formalin yang ingin dibuat = 5 mL
Ditanya : C larutan stok formalin yang digunakan = …?
Jawab :
CstokFormalin x Vstok Formalin = ClarutanFormalin x V
larutanFormalin
100 µg/mL x 0,35 mL = ClarutanFormalin x 5 mL
CstokFormalin =
= 7µg/mL


V. PELAKSANAAN PERCOBAAN

1. Prosedur Kerja
1. Pembuatan Larutan Formalin 2% b/v dari larutan Formalin 37%
b/v
Diambil 0,54 mL larutan formalin 2% b/v dengan pipet volume.
Dimasukkan kedalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan aquadest hingga
tanda batas dan digojog hingga homogen.
2. Pembuatan Larutan Stok Baku Formalin 100 µg/mL
Larutan formalin 2% b/v diambil sebanyak 0,05 mL menggunakan pipet
volume dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Ditambahkan akuades
hingga tanda batas kemudian digojog hingga homogen.
5.1.3 Pembuatan Pereaksi Nash
Ditimbang 7,5 gram Ammonium Asetat (NH4CH3COO) dan dimasukkan dalam
beaker glass. Ditambahkan 0,15 mL Asam Asetat (CH3COOH) dan 0,1 mL
Asetil Aseton Dilarutkan dengan Aquadest hingga larut dan dimasukkan
ke dalam labu ukur 50 mL Ditambahkan akuades hingga volume 50 mL dan
digojog hingga homogen. Dimasukkan kedalam botol kaca gelap serta
dibungkus dengan aluminium foil.
5.1.4 Pembuatan Larutan Standar
Dipipet masing-masing 0,1 mL, 0,2 mL, 0,3 mL, 0,4 mL dan 0,5 mL
larutan formalin 100 µg/mL lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL,
ditambahkan akuades sampai batas 5 mL. Kemudian masing-masing larutan
dimasukkan ke dalam 5 buah vial yang berbeda. Dari masing-masing vial
tersebut dipipet 1 mL, dimasukkan ke dalam vial baru, dan ditambahkan
dengan 2 mL pereaksi Nash dan 2 mL akuades. Didiamkan kurang lebih
selama 30 menit.
5.1.5 Pembuatan Larutan Sampel Formalin
Sebanyak 0,35 mL larutan stok baku formalin 100 µg/mL dipipet,
kemudian ditempatkan pada labu ukur 5 mL. Ditambahkan akuades hingga
tanda batas dan digojog. Larutan sampel kemudian ditampung pada botol
vial. Diambil 1 ml larutan sampel dan ditambahkan 2 ml pereaksi Nash
dan 2 ml akuades. Didiamkan kurang lebih selama 30 menit.
5.1.6 Penentuan Kadar Formalin
Diukur absorbansi salah satu larutan standar pada rentang panjang
gelombang 352 nm - 451 nm, ditentukan panjang gelombang maksimumnya
dan dilakukan pengukuran absorbansi masing-masing seri larutan standar
pada panjang gelombang maksimum kemudian dibuat kurva kalibrasi dan
persamaan regresi liniernya. Ditetapkan kadar sampel formalin dengan
mengukur absorbansinya secara spektrofotometri visibel. Diukur
absorbansi sampel formalin pada panjang gelombang maksimumnya.
Ditetapkan kadar formalin dengan memanfaatkan persamaan regresi linear
dari 5 variasi larutan standar dan dihitung persentase perolehan
kembali.


2. Skema Kerja

1. Pembuatan Latutan Formalin 2% b/v dari larutan 37% b/v



















2. Pembuatan Larutan Stok Baku Formalin 100 µg/mL































3. Pembuatan Pereaksi Nash


































4. Pembuatan Larutan Standar












































5. Pembuatan Larutan Sampel Formalin




















5.2.6 Penentuan Kadar Formalin































































DAFTAR PUSTAKA



Amin, A. 2011. Identifikasi Formalin Dalam Produk Mie Basah Dan Tahu Dengan
Metode Kualitatif Larutan KMnO4. Jurnal Tasimak. Vol. II(1). Hal. 15-
24.

Budiarti, A dkk . 2009. Pengaruh Perendaman Dalam Air Hangat Terhadap
Kandungan Formalin pada Mie Basah dari Tiga Produsen yang Dijual di
Pasar Johar Semarang. Jurnal Ilmu Farmasi dan Ilmu Klinik. Vol VI(1).
Hal 1-6.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.

Dolaria, dkk. 2007. Uji Validasi pada Analisis Formalin Menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis. (Cited: 19 April 2014). Available from:
http//:www.61076167.pdf.

Gandjar, I. G. dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar

Gandjar, I. G. dan A. Rohman. 2012. Analisis Obat Secara Spektrofotometri
dan Kromatografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hayat, M.A. 2000. Principles and Techniques of Electron Microscopy :
Biological Applications, Fourth Edition. Amerika: Cambridge
University Press.

Li, Q., P. Sritharathikhun and S. Motomizu. 2007. Development of Novel
Reagent for Hantzsch Reaction for the Determination of Formaldehyde
by Spectrophotometry and Fluorometry. Analytical Sciences. Vol. 23.
Hal. 413-417.

Mulja, Muhammad dan Suharman. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya:
Airlangga University Press

Tahir, Iqmal. 2008. Arti Penting Kalibrasi Pada Proses Pengukuran Analitik
: Aplikasi Pada Penggunaan pHmeter dan Spektrofotometer UV-Vis. Medan
: Universitas Sumatera Utara

Windholz, Martha. 1976. The Merck Index : Encyclopedia of Chemicals, Drugs,
and Biologicals. 9th edition. White house Station, NJ, USA : Merck &
Co.,Inc.

-----------------------
Gambar 2.1. Struktur Formalin (Hayat, 2000).



Gambar 2.2. Reaksi Hantzsch (Li et al, 2007)



Gambar 3. Reaksi formalin dengan pereaksi nash (Budiarti dkk, 2009)



Diambil 0,54 mL larutan formalin 2% b/v dengan pipet volume


Ditambahkan akuades hingga 10 mL ke dalam labu ukur, digojog sampai homogen



Larutan formalin 2% b/v diambil sebanyak 0,05 mL menggunakan pipet volume





Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Ditambahkan akuades hingga tanda batas
kemudian digojog hingga homogen.




Ditimbang 7,5 gram ammonium Asetat (NH4CH3COO), dimasukkan ke dalam beaker
glass





Ditambahkan 0,15 mL Asam Asetat (CH3COOH) DAN 0,1 mL Asetil Aseton



Diencerkan dengan akuades hingga 50 mL dan digojog sampai homogen




Dibuat 5 variasi kadar larutan standar








Diambil larutan stok baku sebanyak 0,1 mL; 0,2 mL; 0,3 mL; 0,4 mL; 0,5
mL








Diambil 1 ml larutan standar masing-masing ditambahkan 2 ml pereaksi Nash
dan 2 ml akuades. Didiamkan kurang lebih selama 30 menit.





Dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL, ditambahkan dengan akuades hingga tanda
batas








Dipipet sebanyak 0,35 mL larutan stok baku formalin 100 µg/mL





Ditempatkan pada labu ukur 5 mL, ditambahkan akuades hingga tanda batas dan
digojog. Larutan ditampung pada vial





Dipipet 1 ml larutan sampel dan ditambahkan 2 ml pereaksi Nash dan 2 ml
akuades





Didiamkan kurang lebih selama 30 menit.





Diukur absorbansi salah satu larutan standar pada rentang panjang gelombang
352 nm - 451 nm dengan spektrofotometer UV-Vis



Ditentukan panjang gelombang maksimumnya dan dilakukan pengukuran
absorbansi masing-masing seri larutan standar pada panjang gelombang
[email protected]? Š —Ÿ ( *
ïâÎÁ´¨œ?¨?ÁmYE4E!h+äCJOJQJaJmHnHu'h¬ThäCJOJQJaJmHnHu'h¬Th¬TCJOJQJa
JmHnHu'hähäCJOJQJaJmHnHuhL0çhL0çCJOJQJaJh˜LæCJOJQJaJh+äCJOJQJaJhL0
çCJOJQJaJhpt¶5?CJOJQJaJh6z5?CJOJQJaJ'h6zh6z5?CJOJQmaksimum



Dibuat kurva kalibrasi larutan standar dan persamaan regresi liniernya



Dilakukan pengukuran absorbansi larutan sampel pada panjang gelombang
maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis



Dihitung kadar sampel berdasarkan nilai absorbansi sampel dan persamaan
regresi linier larutan standar



Dihitung nilai persentase perolehan kembali
Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.