PENGARUH TINGKAT KESEHATAN BANK TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA INDUSTRI PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

November 8, 2017 | Author: Ade Panjaitan | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

PENGARUH TINGKAT KESEHATAN BANK TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA INDUSTRI PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA Erwinargo Ismanto Jurusan Manajemen, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya [email protected] ABSTRACT This research using the Kruskal-Wallis test to test the presence or absence of the influence of bank soundness to profit growth. This study uses two variables, namely the health of banks and profit growth. Bank soundness variables refer to the provisions of Bank Indonesia through Bank Indonesia Circular Letter No. 6/23/DPNP May 31, 2004 on the evaluation of the bank based on the CAMEL aspect Capital (CAR), Asset (APB and PPAP), Management (ROA), Earning (ROA) and Liquidity (LDR) and then the bank can be classified according to the criteria of the bank. Meanwhile, earnings growth variables using the model to determine ΔNII repricing of the sample banks. The results using the Kruskal-Wallis test showed that the effect on the health of banks profit growth. Keywords: Net Interest Income, Bank Soundness

PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan Lembaga keuangan bank atau yang lazim dikenal dengan bank dapat didefinisikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat dalam bentuk kredit atau lainnya serta memberikan jasa bank yang lain (Kasmir, 2008:11). Dari definisi tersebut, dapat diintisarikan bahwa bank memiliki tiga aktivitas utama yaitu melakukan penghimpunan dana, melakukan penyaluran dana dan memberikan jasa bank lainnya seperti pendanaan dan jasa–jasa lain yang memiliki andil dalam kelancaran mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian. Uraian tersebut juga menunjukan bahwa bank berperan sebagai lembaga intermediasi keuangan antara pihak yang memiliki dana berlebih (surplus unit) dan bersedia menempatkan dananya dalam bentuk simpanan dengan pihak yang membutuhkan dana (deficit unit) serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar aliran lalu lintas pembayaran (Saunders dan Cournett, 2011:5). Aktivitas penghimpunan dana menunjukan adanya peran penting bank mengelola dana masyarakat dengan mengandalkan kepercayaan masyarakat sehingga sudah semestinya tingkat kesehatan bank perlu dipelihara. Kinerja bank dapat diukur melalui tingkat kesehatan bank yang sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, dianalisis dengan menggunakan rasio CAMEL yang kemudian diperingkat berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, dan apabila dikategorikan sebagai bank sehat berarti bank memiliki kinerja yang baik dimana akan memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat sehingga bank mampu menjalankan perannya sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif (Hapsari,2006). Menurut Saunders dkk (2011:205), terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan dari tingkat suku bunga, akan tetapi strategi dan kebijakan moneter dari Bank Sentral adalah yang paling besar dan langsung mempengaruhi pergerakan tingkat suku bunga yang kemudian dapat berpengaruh terhadap biaya pendanaan dan imbal hasil dari aset milik institusi keuangan. Whalen dan Thomson (1988) dalam Wilopo (2001) menemukan bahwa rasio keuangan CAMEL cukup akurat dalam menyusun rating bank. Di Indonesia, Almilia dan Herdiningtyas (2005) melakukan penelitian berupa analisa rasio CAMEL terhadap prediksi kondisi bermasalah pada lembaga perbankan di Indonesia menduga bahwa rasio keuangan CAMEL memiliki daya klasifikasi atau daya prediksi untuk kondisi bank yang mengalami kesulitan keuangan dan bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 83,3 persen dan dengan tingkat akurasi penelitian sebesar 93,1 persen. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hapsari (2006) mengidentifikasi bahwa adanya pengaruh signifikan positif antara capital, asset (kredit), asset (aktiva produktif) dan liquidity terhadap pertumbuhan laba. Berdasarkan latar belakang masalah yang menunjukan adanya prediksi terhadap ada atau tidak adanya hubungan antara pertumbuhan laba dengan tingkat kesehatan bank, maka berikut ini diajukan penelitian dengan judul Pengaruh Tingkat Kesehatan Bank terhadap Pertumbuhan Laba pada Industri Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang permasalahan, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: apakah tingkat kesehatan bank berpengaruh terhadap pertumbuhan laba? Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai, yaitu untuk mengetahui ada atau tidak adanya pengaruh tingkat kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba.



2    TINJAUAN PUSTAKA Landasan Teori 1. Tingkat Kesehatan Bank Menurut Triandaru dan Budisantoso (2007:51), kesehatan bank dapat dipahami sebagai kemampuan dari suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi berbagai kewajiban yang dimilikinya dengan baik yaitu sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. Kemampuan dari suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal yang dimaksudkan oleh Triandaru dkk (2007:51) meliputi: 1. Memiliki kemampuan dalam menghimpun dana, baik yang berasal dari masyarakat, lembaga lain, dan modal sendiri 2. Memiliki kemampuan dalam mengelola dana 3. Memiliki kemampuan dalam menyalurkan dana kepada masyarakat (deficit unit) 4. Memiliki kemampuan dalam memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal, dan pihak lain yang berkepentingan 5. Memiliki itikad baik dalam pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku Penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan faktor penilaian terhadap faktor-faktor yang terkandung dalam CAMELS, meliputi aspek permodalan (capital), kualitas aset (asset quality), manajemen (management), rentabilitas (earning), likuiditas (liquidity), dan sensitivitas terhadap resiko pasar (sensitivityto market risk). Penilaian tingkat kesehatan bank yang mencakup aspek-aspek tersebut ditinjau dari sisi rasio keuangan dapat dijelaskan sebagai berikut (Kasmir, 2008:185): 1. Capital (Permodalan) Salah satu penilaian aspek permodalan adalah dengan menggunakan metode CAR yang dihitung dengan membandingkan modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). 2. Asset (Kualitas Aset) Penilaian pada aspek kualitas aset didasarkan pada kualitas aktiva yang dimiliki bank. Rasio yang diukur pada aspek kualitas aset terdiri dari dua macam yaitu: (1) rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif (APB) dan (2) rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif yang diklasifikasikan (PPAP). 3. Management (Manajemen) Penilaian pada aspek manajemen pada dasarnya bersifat kualitatif dengan diajukannya pertanyaan mengenai manajemen bank. Penilaian kuantitatif pada aspek manajemen dapat dihitung dari rasio-rasio efisiensi usaha yaitu rasio BOPO. 4. Earning (Rentabilitas) Penilaian pada aspek rentabilitas didasarkan dari kemampuan bank dalam menciptakan laba. Penilaian pada aspek rentabilitas didasarkan pada rasio laba terhadap total aset (ROA). 5. Liquidity (Likuiditas) Penilaian pada aspek likuiditas didasarkan pada tujuan untuk menilai tingkat likuiditas suatu bank. Penilaian pada aspek likuiditas didasarkan pada rasio antara kredit terhadap dana yang diterima oleh bank (LDR). 2. Pertumbuhan Laba Kasmir (2008:5) menjelaskan bahwa bank memperoleh keuntungan yang didapat dari selisih antara bunga pinjaman dengan bunga simpanan yang disebut dengan spread based, dimana spread based pada umumnya dihasilkan oleh bank yang melakukan operasional perbankan berdasarkan pada prinsip konvensional. Informasi laba yang disajikan dalam laporan keuangan merupakan fokus kinerja perusahaan yang penting karena laba mengindikasikan sejauh mana perusahaan mampu secara efektif mengelola penerimaan dengan pengorbanan berbagai sumber daya (Sapariyah, 2010). Pertumbuhan laba berupa ΔNII dapat diukur dengan menggunakan model repricing. Menurut Saunders dkk (2011:208), repricing model adalah sebuah model sederhana dengan konsep dasar berupa nilai buku (book value) yang melibatkan analisis arus kas secara akuntansi. Pendekatan repricing gap sendiri dimaksudkan pada konsep berupa perbedaan antara asset dimana suku bunganya diasumsikan akan berubah selama beberapa periode mendatang (rate sensitive assets) dan liabilities dimana suku bunganya diasumsikan akan berubah selama beberapa periode mendatang (rate sensitive liabilities). Menurut Djinarto (2000:22), hal ini terjadi karena pada dasarnya, dalam neraca suatu bank terdapat beberapa pos tertentu yang peka terhadap perubahan tingkat bunga, dimana pospos tersebut berada di asset maupun liability (rate sensitive asset dan rate sensitive liability). Apabila pos-pos tersebut tidak dikelola dengan baik, sementara kepekaan dari asset dan liability terhadap resiko perubahan suku bunga merupakan penyebab terpengaruhnya pendapatan bunga bank, maka pendapatan neto bunga atau net interest income akan menurun, misalnya pinjaman non prioritas yang ada di sisi asset dan deposito di liability (Djinarto, 2000:22).

   

3    Menurut Djinarto (2000:25), dengan melakukan Asset and Liabilities Management (ALMA) menggunakan repricing model maka bank dapat mengelola resiko perubahan tingkat bunga dalam hubungannya dengan kesenjangan posisi untuk tujuan repricing structure pada kedua sisi neraca (asset and liability), memaksimalkan pendapatan bunga (net interest income) sambil tetap pada tingkat resiko yang bisa ditolerir, dan menata struktur neraca untuk mencapai hasil maksimal dalam kaitannya dengan arah perubahan tingkat bunga yang mungkin terjadi. Rerangka Berpikir Berdasarkan penjelasan tersebut, maka rerangka berpikir yang dibahas dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Kesehatan Bank Rasio CAMEL Sehat

Cukup Sehat

Kurang Sehat

Tidak Sehat

Pertumbuhan Laba

Hipotesis Berdasarkan penelitian terdahulu dan landasan teori yang telah diuraikan diatas, maka disusun hipotesis penelitian yaitu tingkat kesehatan bank berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pengujian yang menganalisis hubungan antara variabel penelitian. Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan hipotesis yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak adanya hubungan antara pertumbuhan laba dengan tingkat kesehatan bank. Definisi Operasional Variabel 1. Capital Adequacy Ratio (CAR) CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah dari seluruh aktiva yang dimiliki oleh suatu bank yang mengandung resiko seperti kredit, penyertaan, surat berharga dan tagihan pada bank lain, ikut dibiayai dari modal sendiri disamping memperoleh dana-dana dari sumber yang ada diluar bank (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: CAR

Total Modal x100% ATMR

2. Rasio Aktiva Produktif Bermasalah (APB) Rasio APB adalah rasio yang digunakan untuk menggambarkan sejauh mana kemampuan dari manajemen bank dalam usahanya mengelola aktiva produktif bermasalah terhadap total aktiva produktif (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: APB

aktiva produktif bermasalah x100% total aktiva produktif

3. Rasio Pemenuhan PPAP Rasio Pemenuhan PPAP adalah rasio yang menunjukan kemampuan dari manajemen bank dalam menentukan besaran daripada PPAP yang telah dibentuk terhadap PPAP yang pada dasarnya wajib dibentuk (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: Pemenuhan PPAP

PPAP yang telah dibentuk x100% PPAP wajib dibentuk

4. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Rasio BOPO adalah rasio efisiensi usaha yang membandingkan antara biaya operasional terhadap pendapatan operasional guna mendapatkan gambaran mengenai kemampuan dari pihak manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: BOPO

Biaya Operasional x100% Pendapatan Operasional

5. Return on Assets (ROA) Rasio Return on Asstes atau ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari manajemen bank dalam memperoleh keuntungan berupa laba sebelum pajak yang dihasilkan dari total aset bank bersangkutan (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: ROA

Laba Sebelum Pajak x100% Rata Rata Total Aset

   

4    6. Loan to Deposit Ratio (LDR) Rasio Loan to Deposit Ratio atau LDR adalah rasio yang dapat menjelaskan kemampuan dari suatu bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber yang dianggap likuid (Dendawijaya, 2009:116). Rasio ini dihitung sebagai berikut: LDR

Jumlah Kredit Yang Diberikan Dana Pihak Ketiga

7. Pertumbuhan Laba (∆NII) Variabel penelitian pertumbuhan laba menggunakan repricing model. Repricing model dapat menunjukan adanya perubahan net interest income (ΔNII) dengan melibatkan pendekatan repricing gap (RSA-RSL) dengan diikuti penyesuaian terhadap perubahan tingkat suku bunga yang memiliki dampak pada asset maupun liabilities (ΔR). Rasio ini dihitung sebagai berikut: ∆NII

RSA

RSL . ∆R

Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel dan Teknik Analisis Data Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan dalam industri perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2011. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representif dengan kriteria sebagai berikut: 1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2011. 2. Perusahaan perbankan yang menerbitkan laporan keuangan minimal selama periode pengamatan tahun 20082011. 3. Perusahaan perbankan yang menerbitkan laporan keuangan dengan informasi laba selama periode pengamatan pada tahun 2008-2011. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang dapat digunakan oleh peneliti dalam rangka meneliti ada atau tidak adanya pengaruh tingkat kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba adalah dengan menggunakan ANOVA atau Kruskal-Wallis test karena variabel dependent yaitu pertumbuhan laba diukur dengan skala rasio, sedangkan variabel independent yaitu tingkat kesehatan bank diukur dengan skala ordinal (kategorial). Uji Anova pada dasarnya memiliki tujuan yaitu untuk menguji apakah rata-rata lebih dari dua sampel berbeda secara signifikan atau tidak (Harinaldi, 2005:192). Uji Anova sendiri memiliki beberapa asumsi yaitu menggunakan data variabel penelitian yang berdistribusi normal, memiliki varians yang sama dari populasi yang ada dan sampel tidak memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain. Adapun kriteria pengujian hipotesis berupa kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis dengan menggunakan uji ANOVA adalah sebagai berikut: 1. Jika nilai F hitung > F tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima atau jika nilai probabilitas F < α, maka H0 ditolak dan H1 diterima. 2. Jika nilai F hitung < F tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak atau jika nilai probabilitas F > α, maka maka H0 diterima dan H1 ditolak. Uji Kruskal-Wallis memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui apakah sampel-sampel yang ada berasal dari populasi yang memiliki mean yang sama (Harinaldi, 2005:239). Uji Kruskal-Wallis memiliki asumsi yang berbeda dengan uji Anova yaitu data variabel penelitian yang digunakan dapat berupa data yang tidak berdistribusi normal. Adapun kriteria pengujian hipotesis berupa kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis adalah sebagai berikut: 1. Jika nilai χ2 hitung > χ2 tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima atau jika nilai probabilitas Kruskal-Wallis < α, maka H0 ditolak dan H1 diterima. 2. Jika nilai χ2 hitung < χ2 tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak atau jika nilai probabilitas Kruskal-Wallis > α, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Pengujian Hipotesis Dalam penelitian ini, pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis melalui dua variabel penelitian yaitu variabel tingkat kesehatan bank dan pertumbuhan laba. Pada penelitian ini, peneliti memilih menggunakan uji Kruskal-Wallis daripada Anova karena terdapat asumsi Anova yang tidak terpenuhi dimana data variabel penelitian yang digunakan adalah data yang tidak berdistribusi normal. Berikut adalah output Kruskal-Wallis:

   

5    Ranks Tingkat Kesehatan Bank Pertumbuhan Laba Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Total

N 83 6 3 92

Mean Rank 48,96 18,17 35,00

Test Statisticsa,b

Chi-Square df Asymp. Sig.

Pertumbuhan Laba 8,019 2 ,018

a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: Tingkat Kesehatan Bank

Hasil output SPSS menunjukan bahwa nilai χ2 adalah 8,019 dengan nilai probabilitas sebesar 0,018 (1,8%). Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis pada uji Kruskal-Wallis dimana jika nilai probabilitas < α, maka H0 ditolak dan H1 diterima, sebaliknya jika nilai probabilitas > α, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Pada penelitian ini, nilai probabilitas Kruskal-Wallis sebesar 0,001 < α (0,05) menunjukan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. PEMBAHASAN Sebagaimana bank didefinisikan sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan kemudian menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya serta memberikan jasa bank lainnya mengindikasikan bahwa bank memiliki tiga aktivitas utama yaitu aktivitas penghimpunan dana, aktivitas penyaluran dana serta memberikan jasa bank lainnya. Tiga aktivitas utama bank tersebut memberi gambaran mengenai peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan, yang memediasi antara pihak surplus unit dan deficit unit. Peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan dapat diilustrasikan melalui neraca institusi keuangan, tepatnya melalui dua bagian utama neraca institusi keuangan yaitu asset dan liability. Gambaran umum pada sisi liability institusi keuangan adalah sebagai sisi pendanaan perbankan, yaitu pendanaan yang berasal dari aktivitas penghimpunan dana oleh pihak surplus unit dalam bentuk simpanan yang kemudian dimediasi kepada pihak deficit unit melalui aktivitas penyaluran dana dalam bentuk loan atau pinjaman. Dari sisi pendanaan/liability menunjukan adanya peran penting bank dalam mengelola dana masyarakat dalam bentuk simpanan, sehingga sudah semestinya tingkat kesehatan bank penting untuk dipelihara. Menurut Hapsari (2006), kinerja bank dapat diukur melalui tingkat kesehatan bank, dimana tingkat kesehatan bank itu sendiri akan dievaluasi berdasarkan ketentuan Bank Indonesia terkait dengan evaluasi aspek Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity (CAMEL) yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan kriteria kesehatan bank yaitu sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat. Pada bank yang sehat, berarti bank tersebut memiliki kinerja bank yang melalui evaluasi CAMEL dinyatakan memiliki kinerja yang baik. Pada bank yang sehat dengan kinerja yang baik mampu memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat yang merupakan kunci utama dalam bisnis perbankan sedemikian rupa baiknya, sehingga bank mampu menjalankan peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif dan dan mampu menghasilkan laba. Sebaliknya, pada bank yang tidak sehat, berarti bank tersebut tidak memiliki kinerja yang baik dari sisi Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity sehingga kurang memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat yang mana merupakan modal utama berupa kelangsungan hidup dari suatu bank dalam menjalankan bisnis perbankan, karena deposan cenderung enggan menanggung resiko atas simpanan (deposito) atas uang yang dimiliki terhadap kemungkinan pailitnya suatu bank karena memiliki kinerja yang tidak baik, dan akibatnya bank tidak mampu menjalankan peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif sehingga bank tidak mampu menghasilkan laba yang optimal. Kondisi yang demikian mendukung adanya hubungan antara pertumbuhan laba dengan tingkat kesehatan bank. SIMPULAN Pengujian dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukan nilai probabilitas sebesar 0,018 (1,8%) yang artinya terdapat hubungan antara pertumbuhan laba dengan tingkat kesehatan bank pada industri perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pada bank yang sehat, berarti bank tersebut memiliki kinerja yang baik sehingga mampu memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat sedemikian rupa baiknya dan bank mampu menjalankan peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif dan dan mampu menghasilkan laba.

   

6    Sebaliknya, pada bank yang tidak sehat, berarti bank tersebut tidak memiliki kinerja yang baik, sehingga kurang memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat yang akibatnya bank tidak mampu menjalankan peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif sehingga bank tidak mampu menghasilkan laba yang optimal. Saran Penelitian 1. Penelitian yang selanjutnya dapat memperpanjang tahun pengamatan sehingga dapat meningkatkan jumlah sampel penelitian dan mampu meningkatkan distribusi dan akurasi data dengan lebih baik. 2. Pemilihan sampel sebaiknya tidak hanya terbatas pada perusahaan yang terdaftar di BEI saja, melainkan dapat menggunakan data seluruh bank yang ada di sektor perbankan Indonesia. 3. Penelitian selanjutnya dapat mengklasifikasikan terlebih dahulu status kepemilikan daripada bank karena perbedaan status kepemilikan memungkinkan adanya perbedaan sistem tata kelola dan perolehan laba dari bank. Keterbatasan Penelitian 1. Periode penelitian relatif singkat yaitu tahun 2008-2011. 2. Sampel penelitian relatif kecil karena hanya mengambil sampel dari perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 3. Tidak adanya klasifikasi status kepemilikan bank. Terima kasih kepada Drs. Ec. Yulius Koesworo, MM., dan Drs. Ec. N Agus Sunarjanto, MM., selaku dosen pembimbing 1 dan pembimbing 2 yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing dan memberikan pengarahan yang sangat berguna dalam penulisan artikel ini.

REFERENSI Almilia, Luciana Spica., dan Herdiningtyas, Winny., 2005, Analisa Rasio CAMEL Terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah Pada Lembaga Perbankan Periode 2000-2002. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Vol.7 No.2, Nopember 2005. Dendawijaya, Lukman., 2009, Manajemen Perbankan, Edisi Kedua, Jakarta: Ghalia Indonesia. Djinarto, Bambang., 2000, Banking Asset Liability Management: Perencanaan, Strategi, Pengawasan, dan Pengelolaan Dana, Edisi Pertama, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hapsari, Nesti., 2006, Pengaruh Tingkat Kesehatan Bank Terhadap Pertumbuhan Laba Masa Mendatang Pada Perusahaan Sektor Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Universitas Diponegoro. Harinaldi., 2005, Prinsip-Prinsip Statistik Untuk Teknik Dan Sains, Jakarta: Penerbit Erlangga. Kasmir., 2008, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi Revisi 2008, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Sapariyah, Rina Ani., 2010, Pengaruh Rasio Capital, Asset, Earning dan Liquidity Terhadap Pertumbuhan Laba Perbankan Di Indonesia (Studi Empiris Pada Perbankan Di Indonesia). Jurnal STIE AUB Surakarta. Saunders, Anthony., dan Cornett, Marcia Milton., 2011, Financial Institution Management: A Risk Management Approach, Seventh Edition, Mc Graw Hill. Triandaru, Sigit., dan Budisantoso, Totok., 2007, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain, Edisi Kedua, Jakarta: Salemba Empat. Wilopo., 2001, Prediksi Kebangkrutan Bank. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 4, No. 2, Hlm. 184-198.

   



Deskripsi

PENGARUH TINGKAT KESEHATAN BANK TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA INDUSTRI PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA Erwinargo Ismanto Jurusan Manajemen, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya [email protected] ABSTRACT This research using the Kruskal-Wallis test to test the presence or absence of the influence of bank soundness to profit growth. This study uses two variables, namely the health of banks and profit growth. Bank soundness variables refer to the provisions of Bank Indonesia through Bank Indonesia Circular Letter No. 6/23/DPNP May 31, 2004 on the evaluation of the bank based on the CAMEL aspect Capital (CAR), Asset (APB and PPAP), Management (ROA), Earning (ROA) and Liquidity (LDR) and then the bank can be classified according to the criteria of the bank. Meanwhile, earnings growth variables using the model to determine ΔNII repricing of the sample banks. The results using the Kruskal-Wallis test showed that the effect on the health of banks profit growth. Keywords: Net Interest Income, Bank Soundness

PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan Lembaga keuangan bank atau yang lazim dikenal dengan bank dapat didefinisikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat dalam bentuk kredit atau lainnya serta memberikan jasa bank yang lain (Kasmir, 2008:11). Dari definisi tersebut, dapat diintisarikan bahwa bank memiliki tiga aktivitas utama yaitu melakukan penghimpunan dana, melakukan penyaluran dana dan memberikan jasa bank lainnya seperti pendanaan dan jasa–jasa lain yang memiliki andil dalam kelancaran mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian. Uraian tersebut juga menunjukan bahwa bank berperan sebagai lembaga intermediasi keuangan antara pihak yang memiliki dana berlebih (surplus unit) dan bersedia menempatkan dananya dalam bentuk simpanan dengan pihak yang membutuhkan dana (deficit unit) serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar aliran lalu lintas pembayaran (Saunders dan Cournett, 2011:5). Aktivitas penghimpunan dana menunjukan adanya peran penting bank mengelola dana masyarakat dengan mengandalkan kepercayaan masyarakat sehingga sudah semestinya tingkat kesehatan bank perlu dipelihara. Kinerja bank dapat diukur melalui tingkat kesehatan bank yang sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, dianalisis dengan menggunakan rasio CAMEL yang kemudian diperingkat berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, dan apabila dikategorikan sebagai bank sehat berarti bank memiliki kinerja yang baik dimana akan memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat sehingga bank mampu menjalankan perannya sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif (Hapsari,2006). Menurut Saunders dkk (2011:205), terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan dari tingkat suku bunga, akan tetapi strategi dan kebijakan moneter dari Bank Sentral adalah yang paling besar dan langsung mempengaruhi pergerakan tingkat suku bunga yang kemudian dapat berpengaruh terhadap biaya pendanaan dan imbal hasil dari aset milik institusi keuangan. Whalen dan Thomson (1988) dalam Wilopo (2001) menemukan bahwa rasio keuangan CAMEL cukup akurat dalam menyusun rating bank. Di Indonesia, Almilia dan Herdiningtyas (2005) melakukan penelitian berupa analisa rasio CAMEL terhadap prediksi kondisi bermasalah pada lembaga perbankan di Indonesia menduga bahwa rasio keuangan CAMEL memiliki daya klasifikasi atau daya prediksi untuk kondisi bank yang mengalami kesulitan keuangan dan bank yang mengalami kebangkrutan sebesar 83,3 persen dan dengan tingkat akurasi penelitian sebesar 93,1 persen. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hapsari (2006) mengidentifikasi bahwa adanya pengaruh signifikan positif antara capital, asset (kredit), asset (aktiva produktif) dan liquidity terhadap pertumbuhan laba. Berdasarkan latar belakang masalah yang menunjukan adanya prediksi terhadap ada atau tidak adanya hubungan antara pertumbuhan laba dengan tingkat kesehatan bank, maka berikut ini diajukan penelitian dengan judul Pengaruh Tingkat Kesehatan Bank terhadap Pertumbuhan Laba pada Industri Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang permasalahan, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: apakah tingkat kesehatan bank berpengaruh terhadap pertumbuhan laba? Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai, yaitu untuk mengetahui ada atau tidak adanya pengaruh tingkat kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba.



2    TINJAUAN PUSTAKA Landasan Teori 1. Tingkat Kesehatan Bank Menurut Triandaru dan Budisantoso (2007:51), kesehatan bank dapat dipahami sebagai kemampuan dari suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi berbagai kewajiban yang dimilikinya dengan baik yaitu sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. Kemampuan dari suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal yang dimaksudkan oleh Triandaru dkk (2007:51) meliputi: 1. Memiliki kemampuan dalam menghimpun dana, baik yang berasal dari masyarakat, lembaga lain, dan modal sendiri 2. Memiliki kemampuan dalam mengelola dana 3. Memiliki kemampuan dalam menyalurkan dana kepada masyarakat (deficit unit) 4. Memiliki kemampuan dalam memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal, dan pihak lain yang berkepentingan 5. Memiliki itikad baik dalam pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku Penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan faktor penilaian terhadap faktor-faktor yang terkandung dalam CAMELS, meliputi aspek permodalan (capital), kualitas aset (asset quality), manajemen (management), rentabilitas (earning), likuiditas (liquidity), dan sensitivitas terhadap resiko pasar (sensitivityto market risk). Penilaian tingkat kesehatan bank yang mencakup aspek-aspek tersebut ditinjau dari sisi rasio keuangan dapat dijelaskan sebagai berikut (Kasmir, 2008:185): 1. Capital (Permodalan) Salah satu penilaian aspek permodalan adalah dengan menggunakan metode CAR yang dihitung dengan membandingkan modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). 2. Asset (Kualitas Aset) Penilaian pada aspek kualitas aset didasarkan pada kualitas aktiva yang dimiliki bank. Rasio yang diukur pada aspek kualitas aset terdiri dari dua macam yaitu: (1) rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif (APB) dan (2) rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif yang diklasifikasikan (PPAP). 3. Management (Manajemen) Penilaian pada aspek manajemen pada dasarnya bersifat kualitatif dengan diajukannya pertanyaan mengenai manajemen bank. Penilaian kuantitatif pada aspek manajemen dapat dihitung dari rasio-rasio efisiensi usaha yaitu rasio BOPO. 4. Earning (Rentabilitas) Penilaian pada aspek rentabilitas didasarkan dari kemampuan bank dalam menciptakan laba. Penilaian pada aspek rentabilitas didasarkan pada rasio laba terhadap total aset (ROA). 5. Liquidity (Likuiditas) Penilaian pada aspek likuiditas didasarkan pada tujuan untuk menilai tingkat likuiditas suatu bank. Penilaian pada aspek likuiditas didasarkan pada rasio antara kredit terhadap dana yang diterima oleh bank (LDR). 2. Pertumbuhan Laba Kasmir (2008:5) menjelaskan bahwa bank memperoleh keuntungan yang didapat dari selisih antara bunga pinjaman dengan bunga simpanan yang disebut dengan spread based, dimana spread based pada umumnya dihasilkan oleh bank yang melakukan operasional perbankan berdasarkan pada prinsip konvensional. Informasi laba yang disajikan dalam laporan keuangan merupakan fokus kinerja perusahaan yang penting karena laba mengindikasikan sejauh mana perusahaan mampu secara efektif mengelola penerimaan dengan pengorbanan berbagai sumber daya (Sapariyah, 2010). Pertumbuhan laba berupa ΔNII dapat diukur dengan menggunakan model repricing. Menurut Saunders dkk (2011:208), repricing model adalah sebuah model sederhana dengan konsep dasar berupa nilai buku (book value) yang melibatkan analisis arus kas secara akuntansi. Pendekatan repricing gap sendiri dimaksudkan pada konsep berupa perbedaan antara asset dimana suku bunganya diasumsikan akan berubah selama beberapa periode mendatang (rate sensitive assets) dan liabilities dimana suku bunganya diasumsikan akan berubah selama beberapa periode mendatang (rate sensitive liabilities). Menurut Djinarto (2000:22), hal ini terjadi karena pada dasarnya, dalam neraca suatu bank terdapat beberapa pos tertentu yang peka terhadap perubahan tingkat bunga, dimana pospos tersebut berada di asset maupun liability (rate sensitive asset dan rate sensitive liability). Apabila pos-pos tersebut tidak dikelola dengan baik, sementara kepekaan dari asset dan liability terhadap resiko perubahan suku bunga merupakan penyebab terpengaruhnya pendapatan bunga bank, maka pendapatan neto bunga atau net interest income akan menurun, misalnya pinjaman non prioritas yang ada di sisi asset dan deposito di liability (Djinarto, 2000:22).

   

3    Menurut Djinarto (2000:25), dengan melakukan Asset and Liabilities Management (ALMA) menggunakan repricing model maka bank dapat mengelola resiko perubahan tingkat bunga dalam hubungannya dengan kesenjangan posisi untuk tujuan repricing structure pada kedua sisi neraca (asset and liability), memaksimalkan pendapatan bunga (net interest income) sambil tetap pada tingkat resiko yang bisa ditolerir, dan menata struktur neraca untuk mencapai hasil maksimal dalam kaitannya dengan arah perubahan tingkat bunga yang mungkin terjadi. Rerangka Berpikir Berdasarkan penjelasan tersebut, maka rerangka berpikir yang dibahas dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Kesehatan Bank Rasio CAMEL Sehat

Cukup Sehat

Kurang Sehat

Tidak Sehat

Pertumbuhan Laba

Hipotesis Berdasarkan penelitian terdahulu dan landasan teori yang telah diuraikan diatas, maka disusun hipotesis penelitian yaitu tingkat kesehatan bank berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pengujian yang menganalisis hubungan antara variabel penelitian. Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan hipotesis yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak adanya hubungan antara pertumbuhan laba dengan tingkat kesehatan bank. Definisi Operasional Variabel 1. Capital Adequacy Ratio (CAR) CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah dari seluruh aktiva yang dimiliki oleh suatu bank yang mengandung resiko seperti kredit, penyertaan, surat berharga dan tagihan pada bank lain, ikut dibiayai dari modal sendiri disamping memperoleh dana-dana dari sumber yang ada diluar bank (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: CAR

Total Modal x100% ATMR

2. Rasio Aktiva Produktif Bermasalah (APB) Rasio APB adalah rasio yang digunakan untuk menggambarkan sejauh mana kemampuan dari manajemen bank dalam usahanya mengelola aktiva produktif bermasalah terhadap total aktiva produktif (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: APB

aktiva produktif bermasalah x100% total aktiva produktif

3. Rasio Pemenuhan PPAP Rasio Pemenuhan PPAP adalah rasio yang menunjukan kemampuan dari manajemen bank dalam menentukan besaran daripada PPAP yang telah dibentuk terhadap PPAP yang pada dasarnya wajib dibentuk (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: Pemenuhan PPAP

PPAP yang telah dibentuk x100% PPAP wajib dibentuk

4. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Rasio BOPO adalah rasio efisiensi usaha yang membandingkan antara biaya operasional terhadap pendapatan operasional guna mendapatkan gambaran mengenai kemampuan dari pihak manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: BOPO

Biaya Operasional x100% Pendapatan Operasional

5. Return on Assets (ROA) Rasio Return on Asstes atau ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari manajemen bank dalam memperoleh keuntungan berupa laba sebelum pajak yang dihasilkan dari total aset bank bersangkutan (Almilia dkk, 2005). Rasio ini dihitung sebagai berikut: ROA

Laba Sebelum Pajak x100% Rata Rata Total Aset

   

4    6. Loan to Deposit Ratio (LDR) Rasio Loan to Deposit Ratio atau LDR adalah rasio yang dapat menjelaskan kemampuan dari suatu bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber yang dianggap likuid (Dendawijaya, 2009:116). Rasio ini dihitung sebagai berikut: LDR

Jumlah Kredit Yang Diberikan Dana Pihak Ketiga

7. Pertumbuhan Laba (∆NII) Variabel penelitian pertumbuhan laba menggunakan repricing model. Repricing model dapat menunjukan adanya perubahan net interest income (ΔNII) dengan melibatkan pendekatan repricing gap (RSA-RSL) dengan diikuti penyesuaian terhadap perubahan tingkat suku bunga yang memiliki dampak pada asset maupun liabilities (ΔR). Rasio ini dihitung sebagai berikut: ∆NII

RSA

RSL . ∆R

Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel dan Teknik Analisis Data Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan dalam industri perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2011. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representif dengan kriteria sebagai berikut: 1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2011. 2. Perusahaan perbankan yang menerbitkan laporan keuangan minimal selama periode pengamatan tahun 20082011. 3. Perusahaan perbankan yang menerbitkan laporan keuangan dengan informasi laba selama periode pengamatan pada tahun 2008-2011. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang dapat digunakan oleh peneliti dalam rangka meneliti ada atau tidak adanya pengaruh tingkat kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba adalah dengan menggunakan ANOVA atau Kruskal-Wallis test karena variabel dependent yaitu pertumbuhan laba diukur dengan skala rasio, sedangkan variabel independent yaitu tingkat kesehatan bank diukur dengan skala ordinal (kategorial). Uji Anova pada dasarnya memiliki tujuan yaitu untuk menguji apakah rata-rata lebih dari dua sampel berbeda secara signifikan atau tidak (Harinaldi, 2005:192). Uji Anova sendiri memiliki beberapa asumsi yaitu menggunakan data variabel penelitian yang berdistribusi normal, memiliki varians yang sama dari populasi yang ada dan sampel tidak memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain. Adapun kriteria pengujian hipotesis berupa kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis dengan menggunakan uji ANOVA adalah sebagai berikut: 1. Jika nilai F hitung > F tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima atau jika nilai probabilitas F < α, maka H0 ditolak dan H1 diterima. 2. Jika nilai F hitung < F tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak atau jika nilai probabilitas F > α, maka maka H0 diterima dan H1 ditolak. Uji Kruskal-Wallis memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui apakah sampel-sampel yang ada berasal dari populasi yang memiliki mean yang sama (Harinaldi, 2005:239). Uji Kruskal-Wallis memiliki asumsi yang berbeda dengan uji Anova yaitu data variabel penelitian yang digunakan dapat berupa data yang tidak berdistribusi normal. Adapun kriteria pengujian hipotesis berupa kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis adalah sebagai berikut: 1. Jika nilai χ2 hitung > χ2 tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima atau jika nilai probabilitas Kruskal-Wallis < α, maka H0 ditolak dan H1 diterima. 2. Jika nilai χ2 hitung < χ2 tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak atau jika nilai probabilitas Kruskal-Wallis > α, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Pengujian Hipotesis Dalam penelitian ini, pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis melalui dua variabel penelitian yaitu variabel tingkat kesehatan bank dan pertumbuhan laba. Pada penelitian ini, peneliti memilih menggunakan uji Kruskal-Wallis daripada Anova karena terdapat asumsi Anova yang tidak terpenuhi dimana data variabel penelitian yang digunakan adalah data yang tidak berdistribusi normal. Berikut adalah output Kruskal-Wallis:

   

5    Ranks Tingkat Kesehatan Bank Pertumbuhan Laba Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Total

N 83 6 3 92

Mean Rank 48,96 18,17 35,00

Test Statisticsa,b

Chi-Square df Asymp. Sig.

Pertumbuhan Laba 8,019 2 ,018

a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: Tingkat Kesehatan Bank

Hasil output SPSS menunjukan bahwa nilai χ2 adalah 8,019 dengan nilai probabilitas sebesar 0,018 (1,8%). Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis pada uji Kruskal-Wallis dimana jika nilai probabilitas < α, maka H0 ditolak dan H1 diterima, sebaliknya jika nilai probabilitas > α, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Pada penelitian ini, nilai probabilitas Kruskal-Wallis sebesar 0,001 < α (0,05) menunjukan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. PEMBAHASAN Sebagaimana bank didefinisikan sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan kemudian menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya serta memberikan jasa bank lainnya mengindikasikan bahwa bank memiliki tiga aktivitas utama yaitu aktivitas penghimpunan dana, aktivitas penyaluran dana serta memberikan jasa bank lainnya. Tiga aktivitas utama bank tersebut memberi gambaran mengenai peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan, yang memediasi antara pihak surplus unit dan deficit unit. Peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan dapat diilustrasikan melalui neraca institusi keuangan, tepatnya melalui dua bagian utama neraca institusi keuangan yaitu asset dan liability. Gambaran umum pada sisi liability institusi keuangan adalah sebagai sisi pendanaan perbankan, yaitu pendanaan yang berasal dari aktivitas penghimpunan dana oleh pihak surplus unit dalam bentuk simpanan yang kemudian dimediasi kepada pihak deficit unit melalui aktivitas penyaluran dana dalam bentuk loan atau pinjaman. Dari sisi pendanaan/liability menunjukan adanya peran penting bank dalam mengelola dana masyarakat dalam bentuk simpanan, sehingga sudah semestinya tingkat kesehatan bank penting untuk dipelihara. Menurut Hapsari (2006), kinerja bank dapat diukur melalui tingkat kesehatan bank, dimana tingkat kesehatan bank itu sendiri akan dievaluasi berdasarkan ketentuan Bank Indonesia terkait dengan evaluasi aspek Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity (CAMEL) yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan kriteria kesehatan bank yaitu sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat. Pada bank yang sehat, berarti bank tersebut memiliki kinerja bank yang melalui evaluasi CAMEL dinyatakan memiliki kinerja yang baik. Pada bank yang sehat dengan kinerja yang baik mampu memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat yang merupakan kunci utama dalam bisnis perbankan sedemikian rupa baiknya, sehingga bank mampu menjalankan peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif dan dan mampu menghasilkan laba. Sebaliknya, pada bank yang tidak sehat, berarti bank tersebut tidak memiliki kinerja yang baik dari sisi Capital, Asset, Management, Earning dan Liquidity sehingga kurang memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat yang mana merupakan modal utama berupa kelangsungan hidup dari suatu bank dalam menjalankan bisnis perbankan, karena deposan cenderung enggan menanggung resiko atas simpanan (deposito) atas uang yang dimiliki terhadap kemungkinan pailitnya suatu bank karena memiliki kinerja yang tidak baik, dan akibatnya bank tidak mampu menjalankan peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif sehingga bank tidak mampu menghasilkan laba yang optimal. Kondisi yang demikian mendukung adanya hubungan antara pertumbuhan laba dengan tingkat kesehatan bank. SIMPULAN Pengujian dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukan nilai probabilitas sebesar 0,018 (1,8%) yang artinya terdapat hubungan antara pertumbuhan laba dengan tingkat kesehatan bank pada industri perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pada bank yang sehat, berarti bank tersebut memiliki kinerja yang baik sehingga mampu memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat sedemikian rupa baiknya dan bank mampu menjalankan peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif dan dan mampu menghasilkan laba.

   

6    Sebaliknya, pada bank yang tidak sehat, berarti bank tersebut tidak memiliki kinerja yang baik, sehingga kurang memperoleh dukungan dan kepercayaan dari masyarakat yang akibatnya bank tidak mampu menjalankan peran bank sebagai lembaga intermediasi keuangan secara efektif sehingga bank tidak mampu menghasilkan laba yang optimal. Saran Penelitian 1. Penelitian yang selanjutnya dapat memperpanjang tahun pengamatan sehingga dapat meningkatkan jumlah sampel penelitian dan mampu meningkatkan distribusi dan akurasi data dengan lebih baik. 2. Pemilihan sampel sebaiknya tidak hanya terbatas pada perusahaan yang terdaftar di BEI saja, melainkan dapat menggunakan data seluruh bank yang ada di sektor perbankan Indonesia. 3. Penelitian selanjutnya dapat mengklasifikasikan terlebih dahulu status kepemilikan daripada bank karena perbedaan status kepemilikan memungkinkan adanya perbedaan sistem tata kelola dan perolehan laba dari bank. Keterbatasan Penelitian 1. Periode penelitian relatif singkat yaitu tahun 2008-2011. 2. Sampel penelitian relatif kecil karena hanya mengambil sampel dari perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 3. Tidak adanya klasifikasi status kepemilikan bank. Terima kasih kepada Drs. Ec. Yulius Koesworo, MM., dan Drs. Ec. N Agus Sunarjanto, MM., selaku dosen pembimbing 1 dan pembimbing 2 yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing dan memberikan pengarahan yang sangat berguna dalam penulisan artikel ini.

REFERENSI Almilia, Luciana Spica., dan Herdiningtyas, Winny., 2005, Analisa Rasio CAMEL Terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah Pada Lembaga Perbankan Periode 2000-2002. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Vol.7 No.2, Nopember 2005. Dendawijaya, Lukman., 2009, Manajemen Perbankan, Edisi Kedua, Jakarta: Ghalia Indonesia. Djinarto, Bambang., 2000, Banking Asset Liability Management: Perencanaan, Strategi, Pengawasan, dan Pengelolaan Dana, Edisi Pertama, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hapsari, Nesti., 2006, Pengaruh Tingkat Kesehatan Bank Terhadap Pertumbuhan Laba Masa Mendatang Pada Perusahaan Sektor Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Universitas Diponegoro. Harinaldi., 2005, Prinsip-Prinsip Statistik Untuk Teknik Dan Sains, Jakarta: Penerbit Erlangga. Kasmir., 2008, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi Revisi 2008, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Sapariyah, Rina Ani., 2010, Pengaruh Rasio Capital, Asset, Earning dan Liquidity Terhadap Pertumbuhan Laba Perbankan Di Indonesia (Studi Empiris Pada Perbankan Di Indonesia). Jurnal STIE AUB Surakarta. Saunders, Anthony., dan Cornett, Marcia Milton., 2011, Financial Institution Management: A Risk Management Approach, Seventh Edition, Mc Graw Hill. Triandaru, Sigit., dan Budisantoso, Totok., 2007, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain, Edisi Kedua, Jakarta: Salemba Empat. Wilopo., 2001, Prediksi Kebangkrutan Bank. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 4, No. 2, Hlm. 184-198.

   

Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.