PROPOSAL PENELITIAN JUMLAH SEL DARAH PUTIH DAN DIFFRENSIASI LEUKOSIT PADA AYAM BROILER DENGAN PEMBERIAN HORMON TESTOSTERON DOSIS BERTINGKAT

October 9, 2017 | Author: Sato Adil | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

PROPOSAL PENELITIAN
JUMLAH SEL DARAH PUTIH DAN DIFFRENSIASI LEUKOSIT PADA AYAM BROILER DENGAN PEMBERIAN HORMON TESTOSTERON DOSIS BERTINGKAT



Santa Nova A.Siburian
B04090022

















FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014




PROPOSAL PENELITIAN
JUMLAH SEL DARAH PUTIH DAN DIFFERENSIASI LEUKOSIT PADA AYAM BROILER DENGAN PEMBERIAN HORMON LEUKOSIT DOSIS BERTINGKAT







Santa Nova A. Siburian
B04090022













FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014





Judul Penelitian : Jumlah Sel Darah Putih dan Differensiasi Leukosit pada Ayam
Broiler dengan Pemberian Hormon Testosteron Dosis Bertingkat
Nama Mahasiswa : Santa Nova A. Siburian
NRP : B04090022






Disetujui Oleh:

Pembimbing I Dosen Pembimbing II


Dr.drh. Aryani Sismin S, M.Sc drh Andryanto, MSi
19600914 198603 2 001 19820104 200604 1 006

Diketahui Oleh:
drh.Agus Setyiono, MS, PhD, APVet
Wakil Dekan Fakultas KedokteranHewan















DAFTAR ISI

PENDAHULUAN .....................................................................................................................1
Latar Belakang ..............................................................................................................1
Tujuan Penelitian ..........................................................................................................2
Manfaat Penelitian ........................................................................................................2
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................................3
Ayam Broiler ................................................................................................................3
Darah ............................................................................................................................4
Leukosit ........................................................................................................................5
Netrofil .........................................................................................................................5
Eosinofil .......................................................................................................................6
Basofil ..........................................................................................................................7
Limfosit ........................................................................................................................8
Monosit ........................................................................................................................9
Hormon Testosteron ..................................................................................................10
Fisiologis Stress ..........................................................................................................11
METODE PENELITIAN ........................................................................................................12
Waktu dan Tempat Penelitian ....................................................................................12
Tahap Persiapan ........................................................................................................12
Alat dan Bahan .........................................................................................................12
Metode Penelitian .....................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................15














PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ayam broiler adalah ayam peliharaan ayam peliharaan yang banyak diternakkan di Indonesia karena nilai ekonominya. Dagig ayam broiler sebagai pemenuhan protein sangat disukai masyarakat. Pemeliharaan ayam broiler yang tidak sulit dan permodalan yang relatif murah jika dibandingkan memelihara ternak ruminansia menjadi keunggulan ayam broiler untuk diternakkan. Faktor- faktor lain yang menyebabkan ayam broiler menjadi primadoma peternak adalah perputaran modal relatif lebih cepat ,pertumbuhan bobot badan yang cepat, pemanenan daging broiler yang cepat yaitu pada umur 5-6 minggu, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas, perlengkapan kandang dan ketersediaan pakan yang baik di pasaran, serta bila dibandingan dengan ayam kampung dan ternak unggas lainnya, ayam broler mempunyai daging yang empuk , kulit halus dan lunak, ujung tulang dada lunak, serta dada lebar dengan timbunan daging dan lemak yang baik (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Komposisi daging ayam broiler tersusun antara lain oleh air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Secara garis besar kadar masing-masing nutrien dalam daging dalam persen adalah 75% terdiri dari air, 20% protein, dan 5% lemak, karbohidrat, mineral (Khotimah, 2002).

Pemeliharaan ayam broiler sebagai pemenuhan protein hewani menjadikan kesehatan ayam sangat penting untuk diperhatikan. Peternak sering menggunakan growth promoting factor untuk mempercepat laju pertumbuhan ayam broiler. Salah satu contoh contoh produk growth promoting factor yang dipakai peternak adalah hormon steroid seperti hormon testosteron. Hormon testosteron ini berpenting dalam karakteristik klamin sekunder. Selain memiliki efek androgenik, testosteron memiliki efek anabolik terhadap massa otot dan hemopeitik (Bain 2010). Testosteron disentesis oleh kolestrol. Zat tersebut diangkut diantara jaringan yang terikat pada lipoprotein terutama chyclomikron-chyclomikron dan lipoprotein dengan densitas rendah (Low Density lipoprotein/LDL). Kolesterol yang tidak diperlukan akan dikeluarkan bersama-sama dengan feses dalam bentuk garam-garam empedu dan dalam hormon-hormon steroid netral (Mayes et al., 1992). Respons terhadap pemberian hormon testosteron berkaitan dengan dosis pemberian. Penentuan dosis dipengaruhi oleh keadaan fisiologis spesies. Variasi di setiap spesies dipengaruhi umur, jenis kelamin, status kelamin, status reproduksi, jenis organ, serta musim (Rusiono 2007). Batas maksimum residu testosteron propionat untuk ayam broiler diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) No.: 01-6366-2000 yaitu, 0.006 mg/kg (BSN 2000).
Preparat hormon testosteron jarang digunakan dalam bentuk obat pada peternakan ayam broiler. Pada penelitian ini , ayam broiler diberi hormon testosteron untuk melihat gambaran sel darah putih dan differensiasinya. Sel darah putih berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap agen asing penyebab penyakit. Sel darah putih atau leukosit dibagi dalam dua golongan yaitu, leukosit bergranul dan leukosit tidak bergranul. Leukosit atau sel darah putih berasal dari bahasa Yunani leuco artinya putih dan cyte artinya sel (Dharmawan, 2002). Leukosit merupakan unit yang mobil / aktif dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit ini dibentuk sebagian di sumsum tulang dan sebagian lagi di jaringan limfe yang kemudian diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan (Guyton, 1997). Leukosit bergranul terdiri dari eosinofil, basofil, dan neutrofil dan leukosit tidak bergranul terdiri dari monosit dan limfosit dan sel plasma. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan (Effendi, Z., 2003). Jumlah leukosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, pakan, lingkungan, hormon, obat dan penyakit. Pakan yang kekurangan asam folat akan mengakibatkan penurunan jumlah leukosit . Penelitian ini menggunakan testosteron dengan dosis 1, 2, dan 4 mg per ekor yang diberikan 1 kali dalam 2 hari.


Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon testosteron terhadap gambaran leukosit beserta differensiasinya,yaitu basofil, neutrofil, basofil ,monosit dan limfosit ayam broiler yang diberi preparat hormon testosteron dengan dosisi bertingkat.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi pengaruh pemberian hormon testosteron dengan dosis bertingkat terhadapgambaran leukosit ayam broiler yang berguna untuk pengobatan penyakit yang berkaitan dengan leukosit .





















TINJAUAN PUSTAKA

Ayam Broiler
Broiler adalah ayam peliharaan yang dimanfaatkan sebagai ayam pedaging. Ayam broiler mampu memproduksi daging secara optimal dengan hanya mengkonsumsi ransum dalam jumlah relatif sedikit. Ayam broiler merupakan jenis ayam yang telah mengalami pemuliaan sehingga menjadi ayam pedaging yang unggul, mempuyai bentuk, ukuran dan warna yang seragam (Muchtadi dan Sugiono 1989). Ayam ini pertama kali dikenal pada
periode menjelang 1980-an, walaupun galur murninya baru diketahui sejak tahun 1960-an (Rasyaf 1993). Ayam broiler yang berusia enam minggu sudah sama dengan ayam kampung dewasa 8 bulan, yaitu mencapai bobot 2kg. Ciri dari ayam broiler ini adalah ukuran badan relatif besar, padat, kompak, dan berdaging penuh. Jumlah telur sedikit, bergerak lambat, tenang dan lebih lambat mengalami dewasa kelamin.Ayam broiler jantan atau betina dipanen pada umur 5-6 minggu (Kartasudjana dan Suprajatna 2006). Menurut Indro (2004), ayam broiler merupakan hasil rekayasa genetika yang dihasilkan dengan mengawinkan sekelompok ayam dalam satu keluarga ,dan dipilih dari ayam yang pertumbuhan badannya paling cepat. Ayam ini mampu membentuk 1 kg atau lebih daging dalam waktu 30 hari dan mencapai 1,5 kg daging dalam tempo 40 hari . Adapun jenis ayam pedaging ini antara lain Brahma Putra, Cochin China, Cornish dan Sussex (Sudaryani dan Santosa 2002).
Menurut Scott et al., (1982) pemeliharaan broiler dibedakan menjadi tiga fase, yakni 0 - 2 minggu, (fase "prestater"), umur 2 - 6 minggu, (fase "starter grower"), dan umur 6 minggu sampai dipasarkan (fase "finisher"). Rasyaf (1995) menyatakan dalam beternak broiler dikenal dua masa pemeliharaan, yaitu masa pemeliharaan awal atau "starter" yaitu anak ayam yang berumur 1 hari sampai 3 minggu dimana merupakan masa sampai saat anak broiler sudah kuat untuk hidup layak dan cara pemeliharaan akhir "finisher" yaitu bila anak ayam berumur lebih dari 3 minggu dimana pada akhir periode inilah ayam siap dipotong dan dijual. Pemilihan fase pemeliharaan dilakukan karena adanya kecepatan pertumbuhan sehingga menyebabkan perbedaan macam pakan dan tata laksana pemeliharaan.
Pada pakan ayam perlu ditambahkan asam amino, karena sebagian besar dari pakan ayam terdiri dari biji-bijian yang biasanya kurang akan lisin dan metionin (Anggorodi, 1985) sehingga zat-zat makanan ini harus ditambahkan dalam ransum untuk mencapai keseimbangan asam amino. Lisin merupakan salah satu asam amino yang harus ada dalam ransum dan tidak dapat disintesis dalam tubuh sebagaimana mestinya untuk pertumbuhan normal (Tillman et al., 1989). Rasyaf menyatakan bahwa tidak semua bahan penyusun ransum mempunyai kandungan asam amino esensial yang cukup, terutama miskin lisin, metionin dan triptofan. Ransum ayam yang kekurangan lisin menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi terhambat (Anderson dan Wamick, 1967). Holshemer (1993) menyatakan bahwa peningkatan kandungan asam amino dalam ransum ternyata menurunkan jumlah lemak abdomen, angka FCR, meningkatkan berat badan dan daging dada.
Daging ayam broiler lebih digemari masyarakat daripada daging yang lainnya, karena daging ayam mudah dimasak. Ditambah masa pertumbuhan dan pemeliharaannya pendek. Sebagai bahan pangan daging unggas tersusun atas komponen-komponen bahan pangan seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Kadar masing-masing tersebut besarnya berbeda tergantung dari jenis atau ras dan jenis kelamin unggas tersebut. Karkas atau daging adalah bagian tubuh unggas setelah dipotong, dihilangkan bulunya dikurangi kepala, kaki, dan isi perut (Hadiwiyoto, 1983), sedangkan menurut Rasyaf (1995) karkas ayam adalah hasil pemotongan ayam setelah dipisahkan dari darah, bulu, kaki, kepala dan organ dalam kecuali jantung, hati dan empedal (Siregar,dkk.1982).

Hormon Testosteron
Testosteron adalah hormon steroid tipe androgen yang disentesis oelh testis, ovarium, dan korteks adrenal jantan dan betina (Granner 2009; Pramayadi et al. 2008). Testosteron terbentuk dari reduksi androstenedion di posisi C17 (Granner 2009). Hormon testosteron memiliki struktur kimia 4 struktur rantai yang terdiri dari tiga 6-rantai karbon dan satu 5-rantai karbon (Kersey et al.2012). Hormon testosteron yang diproduksi akan disekresikan dalam darah , terutama dalam protein plasma untuk menuju targetnya sehingga menghasilkan respon fisiologis (Hiller-Stumhofel dan Barktke 1998).Testosteron dibawa ke dalam sirkulasi oleh steroid-binding globulin seperti α globulin, sisanya bersirkulasi secara bebas. Testosteron secara bebas akan mwemasuki target ketika enzim di dalam sitoplasma diubah menjadi dihidrotestosteron (Hafez et al.2000). Efek testosteron dapat dikategorikan menjadi lima yaitu, efek tehadap sistem reproduksi sebelum kelahiran, efek terhadap jaringan tertentu setelah kelahiran , efek yang berhubungan dengan reproduksi , efek terhadap karakteristik kelamin sekunder, serta aksi nonreproduksi lainnya. Testosteron memiliki banyak rute pemberian seperti oral, parenteral, implan subkutan, bukal serta intradermal (Kersey et al. 2012).

Darah
Darah adalah substansi tubuh yang mengedarkan berbagai macam zat yang dibutuhkan oleh tubuh, pada umumnya komposisi darah terdiri dari sel darah (sel darah merah dan sel darah putih), platelet (keping darah), dan cairan plasma (Kay 1998), cairan plasma ini akan menjadi serum jika dihilangkan fibrinogen. Zat pembentuk darah itu sendiri adalah eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan platelet (trombosit) pada unggas (Bacha & Bacha 2000). Darah berfungsi dalam transportasi gas, nutrisi, sisa metabolik, hormon, anti bodi, zat kimia, ion, dan zat lainnya yang berasal dari sel-sel tubuh (Eroschenko 2008).
Komponen darah terdiri dari sel darah merah yang berfungsi dalam transport O2 dan berperan penting dalam keseimbangan pH. Sel darah putih yang dibagi menjadi neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit yang berperan dalam sistem kekebalan. Platelet (trombosit) yang dibutuhkan dalam proses hemostasis. Plasma (cairan darah) yang di dalamnya terkandung elektrolit, nutrisi, metabolit, vitamin, hormon, gas, dan protein (Despopoulos & Sirbernagl 2003). Beberapa kasus juga menunjukkan kalau morfologi sel darah merah memberikan petunjuk tentang penyakit yang mematikan, begitu juga dengan pemeriksaan sel darah putih di bawah mikroskop (Provan &Krentz 2002). Gambaran hematologi (jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, niali hematokrit , dan differensiasi leukosit) pada ayam juga dipengaruhi oleh umur ayam (Talebi et al.2005).


Leukosit
Leukosit yang juga disebut sel darah putih adalah unit yang bergerak aktif dari sistem pertahanan tubuh.Leukosit terbagi menjadi granulosit ( ntrofil, basofil,eosinofil), agranulosit (limfosit, monosit), dan sel plasma. Leukosit ini sebahian dibentuk dalam tulang (granulosit, monosit dan sebagian dari limfosit) dan sebagiaan lagi di jaringan limfa (limfosit dan dan sel plasma) (Guyton & Hall 2006).
Leukosit berfungsi sebagai pertahanan tubuh, melawan infeksi secara langsung dan toksin yang dihasilkan akan dinetralisir oleh antibodi yang berada dalam plasma darah. Apabila jaringan mengalami cidera atau adanya infeksi oleh mikroorganisme ,maka akan terjadi serangkaian proses reaksi antigen-antibody yang dapat memusnahkan mikroorganismetersebut. Sel darh yang bertanggung jawab terhadap proses peradangan adalah leukosit (Hartono 1989).

Pembentukan Leukosit (Leukositopoiesis)
Pembentukan leukosit pada masa prenatal terjadi dalam hati, ginjal dan sumsum tulang merah (Bacha& Bacha 2000). Pada awalnya pembentukan darah diawali dari differensiasi stem sel menjadi myeloblast dan prolimfosit, kemudian myeloblast akan memcah menjadi 2 bagian, yaitu promyelosit dan monosit myelosit. Promyeolosit akan berdifferensiasi lagi menjadi 3 bagian pembentuk sel-sel granulosit (basofil,eosinofil ,dan neutrofil), sedangkan monosit myeolosit akan membentuk monosit , serta prolimfosit berdiffrensiasi menjadi limfosit . Gambar skema pembentukan sel darah putih disajikan pada gambar 2 .





Neutrofil
Neutrofil banyak terdapat dalam sel darah putih, memiliki granul pada sitoplsmanya dan nukleus yang berlobus-lobus. Granulnya berwarna ungu atau pink yang sulit dilihat melalui mikroskop cahaya, yang berakibat sitoplasma seperti terlihat bersih atau kosong. Siklusnya memiliki beberapa lobus yang dihubungkan oleh garis kromatin. Neutrofil berjumlah sekitar 60 - 70% dari jumlah total leukosit (Ereschenko 2008). Neutrofil muda dapat dijumpai pada preparat ulas darah perifer. Nukleusnya berbentuk melengkung atau menyerupai huruf U (Bacha & Bacha 2000)
Neutrofil memiliki fungsi dalam proses fagositosis infeksi kuman patogen seperti bakteri atau zat asing (seperti kristal asam urea yang dapat ditemukan pada sendi lutut). Setiap material asing yang difagosit akan didegredasi oleh granul lisosom yang ada di dalam neutrofil melalui enzim lisozim dan myeloperoxidase (Narayanan & Peerschke 2001). Neutrofil dikenal sebagai makrofag dengan aktifitas amoeboid dan fagositosis yang tinggi karena daya tarik dan aktifasi bahan kemotaksis. Apabila terjadi peradangan, maka neutrofil mampu keluar dari sel pembuluh darah menuju tempat infeksi untuk fagositosis mikroorganisme. Selain itu, neutrofil juga mempunyai berbagai enzim protease yang aktif pada pH asam yang berada dalam vakuola lisosom sitoplasma, yang akan ditumpahkan ke dalam fagolisosom yang juga mempunyai pH asam, untuk melisiskan hasil fagositosis (Dellman & Brown 1992). Pada terjadinya proses peradangan akut neutrofil dalam jumlah banyak akan bermigrasi ke dalam jaringan untuk membantu proses peradangan (Wresdiati 2002).


Eosinofil
Nukleus eosinofil hampir meneyerupai nukleus neutrofil, tetapi mempunyai jumlah lobus yang lebih sedikit. Sitoplasmanya berwarna biru pucat sampai abu-abu. Sedangkan warna granulnya bervariasi dari oranye, pink, atau merah (Bacha & Bacha 2000). Eosinofil mudah dikenali pada preparat ulas melalui sitoplasmanya dengan granul yang jelas, besar, dan berwarna eosinofilik (pink). Nukleusnya memiliki 2 lobus, tetapi terkadang ditemukan lagi lobus ketiganya yang berukuran kecil. Eosinofil berjumlah sekitar 2 – 4% dari jumlah total leukosit (Ereschenko 2008).
Eosinofil diduga berperan dalam detoksikasi histamin dengan histaminase dan serotonin yang dihasilkan oleh sel mast. Peningkatan jumlah eosinofil terjadi pada kasus alergi,asma bronkial, penyakit kulit, dan penyakit parasit (Hartono 1989). Eosinofil membunuh parasit melalui beberapa cara: 1) dengan melepaskan enzim hidrolitik dari granul yang dimodifikasi lisosom; 2) melepaskan bentuk oksigen yang sangat reaktif dan sangat mematikan untuk parasit; 3) melepaskan polipeptida yang sanagt larvasidal dari granulnya (Guyton & Hall 2006). Eosinofil dapat berperan dalam memakan (fagositosis) kompleks antigen-antibodi, tetapi tidak memakan mikroorganisme atau benda-benda asing (Wresdiati 2002).



Basofil
Leukosit dengan persentase terkecil adalah basofil, yaitu sekitar 0.5-3%. Sehingga jarang ditemukan pada preparat ulas darah. Bentuk nukleus basofil berubah-ubah, berlobus-lobus , atau bersegmen –segmen. Karena nukleusnya yang memiliki bentukbervariasi , basofil juga disebut leukosit polimorfonukleus , namun sebutan ini lebih sering untuk neutrofil (Bacha& Bacha 2000). Granul pada basofil tidak sebanyak granul pada eosinofil , tetapi memilki ukuran lebih bervariasi , sedikit padat, dan berwarna biru gelap atau cokelat(Eroschenko 2008).
Basofilmemiliki bebrapa fungsi penting, namun bebrapadiantaranya belum diketahui dengan pasti. Butir granul basofil mengandung heparin, histamin, khondroitin sulfat, serotonin, dan beberapa faktor kemotaktik(Hartono 1989). Bahan-bahan ini dapat menyebabkan timbulnya alergi (Guyton &Hall 2006).Pada permukaan sel basofil terdapat reseptor antibodi/ imunoglobin (Ig E). Pada reaksi imun , antigen akan berikatan dengan antibodi tersebut pada permukaan sel absofil . Hal ini akan mengakibatkan granul sel basofil pecahdan mensekresikan bahan aktifnya yang berfungsi meningkatkan permeabilitas dan vasodilatasi pembuluh darah dan reaksi hipersensitivitas kulit pada gigitan serangga (Wresdiyati 2002).



Limfosit
Limfosit merupakan leukosit yang berukuran antara 6- 15 um dan diklasifikasikan menjadi limfosit kecil, sedang dan besar. Limfosit mempunyainukleus yang relatif besar serta dikelilingi oleh sitoplasma (Frandson 1986). Limfosit kecil memiliki ukuran nukleus yang besar dan sitoplasmayangkecil, limfosit besar memilikinukleus yang kecil dan sitoplasma yang lebih besar ukurannya dibandingkan limfosit kecil (Bacha& Bacha 2000). Limfosit berjumlah 20-30% dari total jumlah leukosit. Kebanyakan limfosit yang berada dalam darah adalah limfosit kecil (Eroschenko 2008).
Limfosit berperan dalam proses kekbalan dalam pembentukan antibodi khusus (Wresdiyati 2002). Populasi limfosit dalam aliran darah mencakup tiga tipe sel , yaitu limfosit T, limfosit B, dan limfosit Nul. Limfosit T berperan dalam imunitas selular, yaitu melindungi tubuh karena limfosit T cytoyoxic akan merusak sel yang telah diinfeksi virus dan populasinya sekitar 70-75% dari seluruh limfosit. Limfosit B populasi sekitar 10-12% dan dapat membentuk sel-sel plasma yang menghasilkan antibodi . Limfosit Nul populasi sekitar 10 – 15% (Hartono 1989).


Monosit
Monosit adalah leukosit agrunolsit yang memiliki bentuk terbesar diantara yang lainnya. Nukleusnya bervariasi dengan bentuk oval cekung atau menyerupai tapal kuda dan lebih terlihat dengan pewarnaan daripada nukleus limfosit , sedangkan limfosit lebih basofilik. Monosit terdapat sebanyak 3-8% dalam leukosit darah (Eroschenko 2008).
Monosit dapat mencapai tingkat dewasa pada saat monosit telah berubah menjadi makrofag, monosit akan berubah menjadi makrofag bila terjadi infeksi yang membuat monosit bermigrasi keluar dari pembuluh darah dan masuk kedalam jaringan. Makrofag banyak tersebar dalam organ –organ penting tubuh , seperti pada sinusoid hati (sel Kupfer), sumsum tulang ,alveoliparu-paru, lapisan serosa usus, sinus limpa, limfonodus, kulit (selLangerhans), sinovial (sel Synovial A), otak (mikroglia), atau lapisan endotel (misalnya glomelurus ginjal), (Despopoulus & Sibenagl 2003). Selain berperan sebagai makrofag, monosit penting dalam respon imunologi (Dellman & Brown 1992).
Monosit mempunyai enzim yang berguna untuk membantu proses fagosit runtuhan sel jaringan dari reaksi peradangan yang kronik.Monosit jaringan atau makrofag mempunyai kemampuan fagositosis yang lebih hebat dan neutrofil , yang bahkan mampu untuk menfagosit 100 sel bakteri (Guyton & Hall 2006).


Fisiologi Stress
Stress adalah respon tubuh non spesifik terhadap setiap tuntutan beban (Hiwari 2001). Dengan kata lain, perubahan yang terjadi disekitar tubuh akan membuat tubuh mengadakan berbagai proses penyesuaian untuk mempertahankan bentuk dan fungsi alat-alat tubuh. Gejala stress muncul jika perubahan yang terjadi telah melewati ambang yang ditolerir tubuh. Menurut Borrel (2001), stress merupakan kondisi secara umum yang berupa ancaman terhadap hewan sehingga tubuh perlu menyesuaikan terhadap kondisi tersebut. Selama proses penyesuaian terhadap kondisi stress terjadi perubahan kondisi fisiologis dan tingkah laku hewan sampai proses adaptasi tercapai terhadap perubahan yang terjadi . Stress yang berlangsung dalam waktu lama dapat mengakibatkan penurunan efektivitas sistem imun , sistem saraf, dan endokrin (Fowler 1999).
Pada saat terjadinya cekaman stress , tubuh akan merespon dengan mensekresikan katekolamin (efineprin dan norefineprin) dari medula adrenal sebagai respon aktif tubuh mempersiapkan diri mengatasi stress , contohnya dengan cara meningkatkan curah jantung dan meningkatkan tekanan darah ( Borrel 2001). Otak merespon stress dengan memberi rangsangan terhadap saraf yang dapat mengaktifkan sekresi corticotropin –relasing hormon (CRH) yang terdapat pada inti paraventricular hipotalamus(Johnson et al 1992). Menurut Robert & Robert (1996), CRH dapat merangsang hoipofisa anterior untuk mensekresikan adenocorticotropin hormon (ACTH) yang kemudian dapat merangsangkorteks adrenal untuk mensekresikan kortisol. Meningkatnya kortisol dalamplasmaakanmengakibatkan jumlah leukosit menurunkan kembali kadar kortisol tersebut (Weiss & Wardrop 2010). Sekresi kortisol dapat menstimulasi pembentukan neutrofil dalam tulang dan menurunkan mitosis limfosit (Chastain & Ganjam 1986). Menurut Kannan et al. (2000) dilaporkan bhawa indeks stress dapat ditentukandari perbandinganantara persentase netrofildan persentase limfosit (N:L ratio), pada hewan yang mengalami stress selalu mempunyairasio N: L diatas 1,5 .


MATERI DAN METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei- Juni 2012. Pemeliharaan dan pengambilan sampel dilakukan di Kandang Hewan Coba Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Pembacaan sampel di bawah mikroskop dilakukan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Materi Penelitian
Penelitian ini menggunakan 16 ekor ayam broiler berumur satu hari/ day old chick (DOC) yang dipelihara hingga umur 14 hari sebelum diberi perlakuan. Bahan lain yang digunakan adalah air, pakan , sekam, vaksin Newcastle disease (ND), Na Cl 0.9%, serta testosteron. Kandang yang digunakan dengan sistem litter yang beralas sekam padi sebanyak 4 petak dan diberi lampu penerangan saat malam diberi tripleks atau karton pembatas menjadi 4 bagian. Peralatan lain yang digunakan adalah gelas ukur, syringe 1 ml, kapas beralkohol, masker dan sarung tangan, ice box , tabung, tempat pakan ,tempat minum , alat tulis,objek glass, zat warna, tisu, mikroskop dan counter.
Metode Penelitian
Pengambilan darah diawali dengan mengapuskan kapas beralkohol pada sayap ayam dekat venaaxilaris sebanayk 0,5- 1ml. .Darah yang sudah diambil dalam dysposible syringe 1 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberikan EDTA sebagai antikoagulan. Darah ditempatkan dalam ice box dan diperiksa lanjut di laboratorium dengan menggunakan mikroskop.
Membuat Sediaan Apus Darah dan Differensiasi BDP
Darah diteteskan pada ujung salah satu objek glass yang telah disediakan kemudianulas dengan objek glass yang lain kemudian, dikeringkan dan difiksasi selama 5 menit dalam metanol. Setelah difiksasi , direndam dalam zat warna Giemsa selama 30 menit kemudian dicuci dengan air mengalir secara perlahan-lahan untuk menghilangkan sisa zat warna yang tak ikut mewarnai sediaan, sediaan apus darah kemudian dikeringkan.
Sediaan apus darah yang telah diberi pewarna kemudiaan diamati di bawah mikroskop denagn perbesaran objektif 100x dan okuler 10 x untuk menghitung jumlah differensiasi sel darah putih hingga jumlah total yang teramati mencapai jumlah 100. Setelah dilakukan presentase differensiasi leukosit, nilai absolut dari masing-masing jenis leukosit ditentukan dengan cara mengaliakn presentase tersebut denagn jumlah total leukosit (Cunin & Basswert 2006).
Menghitung Jumlah Sel Darah Putih
Darah diisap menggunakan pipet leukosit dan aspiratornya sampai batas garis 0,5 kemudian dialnjutkan dengan penambahan larutan pengencer turk sampai batas garis 11. Campuran dalam pipet ini dihogenkan dengan mengocok pipet membentuk angka 8 . Campuran yang sudah homogen tersebut diteteskan ke dalam kamar hitung denagn cara menempelkan ujung pipet pada pertemuan anatara dasar kamar hitung yang ditutup denagn cover glass. Penghitungan butir-butir darah putih dilakukan pada kelima kotak yang terletak diagonal pada 4 bujur sangkar besar disudut kamar hitung hasilnay x 50 butir / mm3 darah (Curnin & Bassert 2006).

Rancangan Percobaan
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) (Gazper, 1991) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan dianalisis dengan analisi ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan.























DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, Triyantini, dan H. Setianto. 1991. Kualitas Fisik Karkas Broiler (Studi Kasusdi Empat Ibukota Propisi Pulau Jawa). Prosiding Seminar Pengembangan Peternakan dalam Menunjang Pembangunan Ekonomi Nasional. Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwekerto. Hlm. 31-35.
Agustina, Laily dan Sri Purwanti. Ilmu Nutrisi Unggas. Lembaga Pengembangan Sumberdaya Peternakan (IDICUS), Makassar.
BainJ.2010. Testosterone and aging male: to treat or not to treat?.Maturitas.66(2010): 16-22.
Borrel EH. 2001. The Biologyof Stress and its application to l ivestock housing and
transportation assesmnet. Journal of animal science. http:www.jas.fass.org [10 September2014].
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2000. Batas maksimum cemaran mikroba dan batas maksimum
Cemaran mikroba dan batas maksimum residu dalam bahan makanan asal hewan [internet].
[diunduh 2014 November 7].Tersedia dari: http:// pphp.deptan.go.id.
Chastain CB & Ganjam VK. 1986. Clinical Endocrinology of Companion Animals.
Philadelpia: Lea & Febriger.
Curnin DM & Bassert JM. 2006. Clinical Textbook for Veterinary Techinicians 6th Ed.
United State of America: Elsier Saunders.
Despopoulos A& Silbernagl S. 2003. Color Atlas of Phisiology 5th Edition. New York :
Thieme..
Dellman HD & Brown EM> 1992. Buku Teks Histologi Veteriner Edisi ke -3. R. Hartono
Penerjemah: Jakarta : Universitas Indonesia.
Eroschenko VP. 2008. Di Fiore's Atlas of Histology with Functional Correlations 11th Ed.
Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.
Fowler ME .1999. Zoo and Wild Animal Medicine 4th Ed. Philadelphia : W.B. saunders
Coumpany .
Frandson RD.1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Yogyakarta : Gajah Mada
Univesity Press.
Granner DK.2009. Keragamansistem endokrin. Di dalam :Murray RK, Granner DK, Rodwell
VW, eitor. Biokimia harper. Penerbit BU, penerjemah. Jakarta (ID): EGC. Terjemahan dari : Harper's Ilustrated Biochemestry. Ed ke-27.
Guyton AC & Hall JE.2006. Textbook of Medical Physiology 11th Ed. Philadelphia :
Elsevier Inc.
Hafez ESE, jaenudeen MR, Rosnina Y. 2000. Reproduction in Farm Animals. Edisi ke-7.
Philadephia (US) :Lippincott Williams &Wilkins.
Hartono. 1989. Histology Veteriner. Departemen Jenderal Kebudayaan , Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor.
Hawari D. 2001. Manajemen Stress, Cemas, dan Depresi . Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Hernandez RJ , Kravitz L. 2003. The mystery of skeletal muscle hypertrophy. ACSM's Health
Fitness J. 7 : 18-22.
Hiller-Stumhofel S, Barkte A. 1998. The endocrine system. Alcohol Health & Research World. 22(3):
153-164.
Johnson et al. 1992. Mechanism of stress: a Dynamic overview of hormonal and behavioral
Homeostasis. Neurosci.Biobehav.
Kay Ian. 1998. Introduction to Animal Physiology . New York: BIOS Scientific Publisher
Ltd.
Kersey RD, Eliot DL, Goldberg L, Kanayama G, Leone JE, Pavlovich M, Pope HG. 2012.
Nationla Athletic Trainers' Ascosiation position statement : anabolic – androgenic steroids. J of Athletic Training. 47(5): 567-588. Doi: 10.4085/1062-6050-47.5.08
Narayanan Sheshadri &Peerschkee Ellinor IB.2001. Biochemical Hematology of Platelets
and Leukoscytes. New York.0065-2423/01.
Provan D & Krentz A. 2002. Oxford Handbook of Clinical and Laboratory Investigation.
New York: Oxford University Press.
Robert AR & Robert SO.1996. Exercise Phisiology: exercise, performance, and clinical
application. Missouri: Mosby.
Rudiono D. 2007. Pengaruh hormon testosteron dan umur terhadap perkembangan otot pada otot
kambing kacang betina. J of anim Prod. 9(2):59-66.
Suprajatna E, Atmomarsono U, Kartasudjana R. 2005. Ilmu Dasar ternak Unggas. Depok (ID) :
Penyebar Swadaya.
Talebi A, rezaei SA, Chai RR, Sahraei R. 2005. Comparative Studies on Haematological
Values of Broiler Strains (Ross, Cobb, arbor-acres and Arian). International J of Poultry Sci . 4(8):573-579.
StafUnit Fisiologi[FKH –IPB] Fakultas Kedopkteran Hewan –Institut Pertanian Bogor. 2012.
Penuntun Praktikum Fisiologi. Bogor(ID) : FKH IPB.
Wresdiyati Tutik.2002. Seri Diktat Kuliah Histologi Veteriner Jaringan Ikat. Bogor.






.









Deskripsi

PROPOSAL PENELITIAN
JUMLAH SEL DARAH PUTIH DAN DIFFRENSIASI LEUKOSIT PADA AYAM BROILER DENGAN PEMBERIAN HORMON TESTOSTERON DOSIS BERTINGKAT



Santa Nova A.Siburian
B04090022

















FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014




PROPOSAL PENELITIAN
JUMLAH SEL DARAH PUTIH DAN DIFFERENSIASI LEUKOSIT PADA AYAM BROILER DENGAN PEMBERIAN HORMON LEUKOSIT DOSIS BERTINGKAT







Santa Nova A. Siburian
B04090022













FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014





Judul Penelitian : Jumlah Sel Darah Putih dan Differensiasi Leukosit pada Ayam
Broiler dengan Pemberian Hormon Testosteron Dosis Bertingkat
Nama Mahasiswa : Santa Nova A. Siburian
NRP : B04090022






Disetujui Oleh:

Pembimbing I Dosen Pembimbing II


Dr.drh. Aryani Sismin S, M.Sc drh Andryanto, MSi
19600914 198603 2 001 19820104 200604 1 006

Diketahui Oleh:
drh.Agus Setyiono, MS, PhD, APVet
Wakil Dekan Fakultas KedokteranHewan















DAFTAR ISI

PENDAHULUAN .....................................................................................................................1
Latar Belakang ..............................................................................................................1
Tujuan Penelitian ..........................................................................................................2
Manfaat Penelitian ........................................................................................................2
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................................3
Ayam Broiler ................................................................................................................3
Darah ............................................................................................................................4
Leukosit ........................................................................................................................5
Netrofil .........................................................................................................................5
Eosinofil .......................................................................................................................6
Basofil ..........................................................................................................................7
Limfosit ........................................................................................................................8
Monosit ........................................................................................................................9
Hormon Testosteron ..................................................................................................10
Fisiologis Stress ..........................................................................................................11
METODE PENELITIAN ........................................................................................................12
Waktu dan Tempat Penelitian ....................................................................................12
Tahap Persiapan ........................................................................................................12
Alat dan Bahan .........................................................................................................12
Metode Penelitian .....................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................15














PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ayam broiler adalah ayam peliharaan ayam peliharaan yang banyak diternakkan di Indonesia karena nilai ekonominya. Dagig ayam broiler sebagai pemenuhan protein sangat disukai masyarakat. Pemeliharaan ayam broiler yang tidak sulit dan permodalan yang relatif murah jika dibandingkan memelihara ternak ruminansia menjadi keunggulan ayam broiler untuk diternakkan. Faktor- faktor lain yang menyebabkan ayam broiler menjadi primadoma peternak adalah perputaran modal relatif lebih cepat ,pertumbuhan bobot badan yang cepat, pemanenan daging broiler yang cepat yaitu pada umur 5-6 minggu, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas, perlengkapan kandang dan ketersediaan pakan yang baik di pasaran, serta bila dibandingan dengan ayam kampung dan ternak unggas lainnya, ayam broler mempunyai daging yang empuk , kulit halus dan lunak, ujung tulang dada lunak, serta dada lebar dengan timbunan daging dan lemak yang baik (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Komposisi daging ayam broiler tersusun antara lain oleh air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Secara garis besar kadar masing-masing nutrien dalam daging dalam persen adalah 75% terdiri dari air, 20% protein, dan 5% lemak, karbohidrat, mineral (Khotimah, 2002).

Pemeliharaan ayam broiler sebagai pemenuhan protein hewani menjadikan kesehatan ayam sangat penting untuk diperhatikan. Peternak sering menggunakan growth promoting factor untuk mempercepat laju pertumbuhan ayam broiler. Salah satu contoh contoh produk growth promoting factor yang dipakai peternak adalah hormon steroid seperti hormon testosteron. Hormon testosteron ini berpenting dalam karakteristik klamin sekunder. Selain memiliki efek androgenik, testosteron memiliki efek anabolik terhadap massa otot dan hemopeitik (Bain 2010). Testosteron disentesis oleh kolestrol. Zat tersebut diangkut diantara jaringan yang terikat pada lipoprotein terutama chyclomikron-chyclomikron dan lipoprotein dengan densitas rendah (Low Density lipoprotein/LDL). Kolesterol yang tidak diperlukan akan dikeluarkan bersama-sama dengan feses dalam bentuk garam-garam empedu dan dalam hormon-hormon steroid netral (Mayes et al., 1992). Respons terhadap pemberian hormon testosteron berkaitan dengan dosis pemberian. Penentuan dosis dipengaruhi oleh keadaan fisiologis spesies. Variasi di setiap spesies dipengaruhi umur, jenis kelamin, status kelamin, status reproduksi, jenis organ, serta musim (Rusiono 2007). Batas maksimum residu testosteron propionat untuk ayam broiler diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) No.: 01-6366-2000 yaitu, 0.006 mg/kg (BSN 2000).
Preparat hormon testosteron jarang digunakan dalam bentuk obat pada peternakan ayam broiler. Pada penelitian ini , ayam broiler diberi hormon testosteron untuk melihat gambaran sel darah putih dan differensiasinya. Sel darah putih berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap agen asing penyebab penyakit. Sel darah putih atau leukosit dibagi dalam dua golongan yaitu, leukosit bergranul dan leukosit tidak bergranul. Leukosit atau sel darah putih berasal dari bahasa Yunani leuco artinya putih dan cyte artinya sel (Dharmawan, 2002). Leukosit merupakan unit yang mobil / aktif dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit ini dibentuk sebagian di sumsum tulang dan sebagian lagi di jaringan limfe yang kemudian diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan (Guyton, 1997). Leukosit bergranul terdiri dari eosinofil, basofil, dan neutrofil dan leukosit tidak bergranul terdiri dari monosit dan limfosit dan sel plasma. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan (Effendi, Z., 2003). Jumlah leukosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, pakan, lingkungan, hormon, obat dan penyakit. Pakan yang kekurangan asam folat akan mengakibatkan penurunan jumlah leukosit . Penelitian ini menggunakan testosteron dengan dosis 1, 2, dan 4 mg per ekor yang diberikan 1 kali dalam 2 hari.


Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon testosteron terhadap gambaran leukosit beserta differensiasinya,yaitu basofil, neutrofil, basofil ,monosit dan limfosit ayam broiler yang diberi preparat hormon testosteron dengan dosisi bertingkat.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi pengaruh pemberian hormon testosteron dengan dosis bertingkat terhadapgambaran leukosit ayam broiler yang berguna untuk pengobatan penyakit yang berkaitan dengan leukosit .





















TINJAUAN PUSTAKA

Ayam Broiler
Broiler adalah ayam peliharaan yang dimanfaatkan sebagai ayam pedaging. Ayam broiler mampu memproduksi daging secara optimal dengan hanya mengkonsumsi ransum dalam jumlah relatif sedikit. Ayam broiler merupakan jenis ayam yang telah mengalami pemuliaan sehingga menjadi ayam pedaging yang unggul, mempuyai bentuk, ukuran dan warna yang seragam (Muchtadi dan Sugiono 1989). Ayam ini pertama kali dikenal pada
periode menjelang 1980-an, walaupun galur murninya baru diketahui sejak tahun 1960-an (Rasyaf 1993). Ayam broiler yang berusia enam minggu sudah sama dengan ayam kampung dewasa 8 bulan, yaitu mencapai bobot 2kg. Ciri dari ayam broiler ini adalah ukuran badan relatif besar, padat, kompak, dan berdaging penuh. Jumlah telur sedikit, bergerak lambat, tenang dan lebih lambat mengalami dewasa kelamin.Ayam broiler jantan atau betina dipanen pada umur 5-6 minggu (Kartasudjana dan Suprajatna 2006). Menurut Indro (2004), ayam broiler merupakan hasil rekayasa genetika yang dihasilkan dengan mengawinkan sekelompok ayam dalam satu keluarga ,dan dipilih dari ayam yang pertumbuhan badannya paling cepat. Ayam ini mampu membentuk 1 kg atau lebih daging dalam waktu 30 hari dan mencapai 1,5 kg daging dalam tempo 40 hari . Adapun jenis ayam pedaging ini antara lain Brahma Putra, Cochin China, Cornish dan Sussex (Sudaryani dan Santosa 2002).
Menurut Scott et al., (1982) pemeliharaan broiler dibedakan menjadi tiga fase, yakni 0 - 2 minggu, (fase "prestater"), umur 2 - 6 minggu, (fase "starter grower"), dan umur 6 minggu sampai dipasarkan (fase "finisher"). Rasyaf (1995) menyatakan dalam beternak broiler dikenal dua masa pemeliharaan, yaitu masa pemeliharaan awal atau "starter" yaitu anak ayam yang berumur 1 hari sampai 3 minggu dimana merupakan masa sampai saat anak broiler sudah kuat untuk hidup layak dan cara pemeliharaan akhir "finisher" yaitu bila anak ayam berumur lebih dari 3 minggu dimana pada akhir periode inilah ayam siap dipotong dan dijual. Pemilihan fase pemeliharaan dilakukan karena adanya kecepatan pertumbuhan sehingga menyebabkan perbedaan macam pakan dan tata laksana pemeliharaan.
Pada pakan ayam perlu ditambahkan asam amino, karena sebagian besar dari pakan ayam terdiri dari biji-bijian yang biasanya kurang akan lisin dan metionin (Anggorodi, 1985) sehingga zat-zat makanan ini harus ditambahkan dalam ransum untuk mencapai keseimbangan asam amino. Lisin merupakan salah satu asam amino yang harus ada dalam ransum dan tidak dapat disintesis dalam tubuh sebagaimana mestinya untuk pertumbuhan normal (Tillman et al., 1989). Rasyaf menyatakan bahwa tidak semua bahan penyusun ransum mempunyai kandungan asam amino esensial yang cukup, terutama miskin lisin, metionin dan triptofan. Ransum ayam yang kekurangan lisin menyebabkan pertumbuhan ayam menjadi terhambat (Anderson dan Wamick, 1967). Holshemer (1993) menyatakan bahwa peningkatan kandungan asam amino dalam ransum ternyata menurunkan jumlah lemak abdomen, angka FCR, meningkatkan berat badan dan daging dada.
Daging ayam broiler lebih digemari masyarakat daripada daging yang lainnya, karena daging ayam mudah dimasak. Ditambah masa pertumbuhan dan pemeliharaannya pendek. Sebagai bahan pangan daging unggas tersusun atas komponen-komponen bahan pangan seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Kadar masing-masing tersebut besarnya berbeda tergantung dari jenis atau ras dan jenis kelamin unggas tersebut. Karkas atau daging adalah bagian tubuh unggas setelah dipotong, dihilangkan bulunya dikurangi kepala, kaki, dan isi perut (Hadiwiyoto, 1983), sedangkan menurut Rasyaf (1995) karkas ayam adalah hasil pemotongan ayam setelah dipisahkan dari darah, bulu, kaki, kepala dan organ dalam kecuali jantung, hati dan empedal (Siregar,dkk.1982).

Hormon Testosteron
Testosteron adalah hormon steroid tipe androgen yang disentesis oelh testis, ovarium, dan korteks adrenal jantan dan betina (Granner 2009; Pramayadi et al. 2008). Testosteron terbentuk dari reduksi androstenedion di posisi C17 (Granner 2009). Hormon testosteron memiliki struktur kimia 4 struktur rantai yang terdiri dari tiga 6-rantai karbon dan satu 5-rantai karbon (Kersey et al.2012). Hormon testosteron yang diproduksi akan disekresikan dalam darah , terutama dalam protein plasma untuk menuju targetnya sehingga menghasilkan respon fisiologis (Hiller-Stumhofel dan Barktke 1998).Testosteron dibawa ke dalam sirkulasi oleh steroid-binding globulin seperti α globulin, sisanya bersirkulasi secara bebas. Testosteron secara bebas akan mwemasuki target ketika enzim di dalam sitoplasma diubah menjadi dihidrotestosteron (Hafez et al.2000). Efek testosteron dapat dikategorikan menjadi lima yaitu, efek tehadap sistem reproduksi sebelum kelahiran, efek terhadap jaringan tertentu setelah kelahiran , efek yang berhubungan dengan reproduksi , efek terhadap karakteristik kelamin sekunder, serta aksi nonreproduksi lainnya. Testosteron memiliki banyak rute pemberian seperti oral, parenteral, implan subkutan, bukal serta intradermal (Kersey et al. 2012).

Darah
Darah adalah substansi tubuh yang mengedarkan berbagai macam zat yang dibutuhkan oleh tubuh, pada umumnya komposisi darah terdiri dari sel darah (sel darah merah dan sel darah putih), platelet (keping darah), dan cairan plasma (Kay 1998), cairan plasma ini akan menjadi serum jika dihilangkan fibrinogen. Zat pembentuk darah itu sendiri adalah eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan platelet (trombosit) pada unggas (Bacha & Bacha 2000). Darah berfungsi dalam transportasi gas, nutrisi, sisa metabolik, hormon, anti bodi, zat kimia, ion, dan zat lainnya yang berasal dari sel-sel tubuh (Eroschenko 2008).
Komponen darah terdiri dari sel darah merah yang berfungsi dalam transport O2 dan berperan penting dalam keseimbangan pH. Sel darah putih yang dibagi menjadi neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit yang berperan dalam sistem kekebalan. Platelet (trombosit) yang dibutuhkan dalam proses hemostasis. Plasma (cairan darah) yang di dalamnya terkandung elektrolit, nutrisi, metabolit, vitamin, hormon, gas, dan protein (Despopoulos & Sirbernagl 2003). Beberapa kasus juga menunjukkan kalau morfologi sel darah merah memberikan petunjuk tentang penyakit yang mematikan, begitu juga dengan pemeriksaan sel darah putih di bawah mikroskop (Provan &Krentz 2002). Gambaran hematologi (jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, niali hematokrit , dan differensiasi leukosit) pada ayam juga dipengaruhi oleh umur ayam (Talebi et al.2005).


Leukosit
Leukosit yang juga disebut sel darah putih adalah unit yang bergerak aktif dari sistem pertahanan tubuh.Leukosit terbagi menjadi granulosit ( ntrofil, basofil,eosinofil), agranulosit (limfosit, monosit), dan sel plasma. Leukosit ini sebahian dibentuk dalam tulang (granulosit, monosit dan sebagian dari limfosit) dan sebagiaan lagi di jaringan limfa (limfosit dan dan sel plasma) (Guyton & Hall 2006).
Leukosit berfungsi sebagai pertahanan tubuh, melawan infeksi secara langsung dan toksin yang dihasilkan akan dinetralisir oleh antibodi yang berada dalam plasma darah. Apabila jaringan mengalami cidera atau adanya infeksi oleh mikroorganisme ,maka akan terjadi serangkaian proses reaksi antigen-antibody yang dapat memusnahkan mikroorganismetersebut. Sel darh yang bertanggung jawab terhadap proses peradangan adalah leukosit (Hartono 1989).

Pembentukan Leukosit (Leukositopoiesis)
Pembentukan leukosit pada masa prenatal terjadi dalam hati, ginjal dan sumsum tulang merah (Bacha& Bacha 2000). Pada awalnya pembentukan darah diawali dari differensiasi stem sel menjadi myeloblast dan prolimfosit, kemudian myeloblast akan memcah menjadi 2 bagian, yaitu promyelosit dan monosit myelosit. Promyeolosit akan berdifferensiasi lagi menjadi 3 bagian pembentuk sel-sel granulosit (basofil,eosinofil ,dan neutrofil), sedangkan monosit myeolosit akan membentuk monosit , serta prolimfosit berdiffrensiasi menjadi limfosit . Gambar skema pembentukan sel darah putih disajikan pada gambar 2 .





Neutrofil
Neutrofil banyak terdapat dalam sel darah putih, memiliki granul pada sitoplsmanya dan nukleus yang berlobus-lobus. Granulnya berwarna ungu atau pink yang sulit dilihat melalui mikroskop cahaya, yang berakibat sitoplasma seperti terlihat bersih atau kosong. Siklusnya memiliki beberapa lobus yang dihubungkan oleh garis kromatin. Neutrofil berjumlah sekitar 60 - 70% dari jumlah total leukosit (Ereschenko 2008). Neutrofil muda dapat dijumpai pada preparat ulas darah perifer. Nukleusnya berbentuk melengkung atau menyerupai huruf U (Bacha & Bacha 2000)
Neutrofil memiliki fungsi dalam proses fagositosis infeksi kuman patogen seperti bakteri atau zat asing (seperti kristal asam urea yang dapat ditemukan pada sendi lutut). Setiap material asing yang difagosit akan didegredasi oleh granul lisosom yang ada di dalam neutrofil melalui enzim lisozim dan myeloperoxidase (Narayanan & Peerschke 2001). Neutrofil dikenal sebagai makrofag dengan aktifitas amoeboid dan fagositosis yang tinggi karena daya tarik dan aktifasi bahan kemotaksis. Apabila terjadi peradangan, maka neutrofil mampu keluar dari sel pembuluh darah menuju tempat infeksi untuk fagositosis mikroorganisme. Selain itu, neutrofil juga mempunyai berbagai enzim protease yang aktif pada pH asam yang berada dalam vakuola lisosom sitoplasma, yang akan ditumpahkan ke dalam fagolisosom yang juga mempunyai pH asam, untuk melisiskan hasil fagositosis (Dellman & Brown 1992). Pada terjadinya proses peradangan akut neutrofil dalam jumlah banyak akan bermigrasi ke dalam jaringan untuk membantu proses peradangan (Wresdiati 2002).


Eosinofil
Nukleus eosinofil hampir meneyerupai nukleus neutrofil, tetapi mempunyai jumlah lobus yang lebih sedikit. Sitoplasmanya berwarna biru pucat sampai abu-abu. Sedangkan warna granulnya bervariasi dari oranye, pink, atau merah (Bacha & Bacha 2000). Eosinofil mudah dikenali pada preparat ulas melalui sitoplasmanya dengan granul yang jelas, besar, dan berwarna eosinofilik (pink). Nukleusnya memiliki 2 lobus, tetapi terkadang ditemukan lagi lobus ketiganya yang berukuran kecil. Eosinofil berjumlah sekitar 2 – 4% dari jumlah total leukosit (Ereschenko 2008).
Eosinofil diduga berperan dalam detoksikasi histamin dengan histaminase dan serotonin yang dihasilkan oleh sel mast. Peningkatan jumlah eosinofil terjadi pada kasus alergi,asma bronkial, penyakit kulit, dan penyakit parasit (Hartono 1989). Eosinofil membunuh parasit melalui beberapa cara: 1) dengan melepaskan enzim hidrolitik dari granul yang dimodifikasi lisosom; 2) melepaskan bentuk oksigen yang sangat reaktif dan sangat mematikan untuk parasit; 3) melepaskan polipeptida yang sanagt larvasidal dari granulnya (Guyton & Hall 2006). Eosinofil dapat berperan dalam memakan (fagositosis) kompleks antigen-antibodi, tetapi tidak memakan mikroorganisme atau benda-benda asing (Wresdiati 2002).



Basofil
Leukosit dengan persentase terkecil adalah basofil, yaitu sekitar 0.5-3%. Sehingga jarang ditemukan pada preparat ulas darah. Bentuk nukleus basofil berubah-ubah, berlobus-lobus , atau bersegmen –segmen. Karena nukleusnya yang memiliki bentukbervariasi , basofil juga disebut leukosit polimorfonukleus , namun sebutan ini lebih sering untuk neutrofil (Bacha& Bacha 2000). Granul pada basofil tidak sebanyak granul pada eosinofil , tetapi memilki ukuran lebih bervariasi , sedikit padat, dan berwarna biru gelap atau cokelat(Eroschenko 2008).
Basofilmemiliki bebrapa fungsi penting, namun bebrapadiantaranya belum diketahui dengan pasti. Butir granul basofil mengandung heparin, histamin, khondroitin sulfat, serotonin, dan beberapa faktor kemotaktik(Hartono 1989). Bahan-bahan ini dapat menyebabkan timbulnya alergi (Guyton &Hall 2006).Pada permukaan sel basofil terdapat reseptor antibodi/ imunoglobin (Ig E). Pada reaksi imun , antigen akan berikatan dengan antibodi tersebut pada permukaan sel absofil . Hal ini akan mengakibatkan granul sel basofil pecahdan mensekresikan bahan aktifnya yang berfungsi meningkatkan permeabilitas dan vasodilatasi pembuluh darah dan reaksi hipersensitivitas kulit pada gigitan serangga (Wresdiyati 2002).



Limfosit
Limfosit merupakan leukosit yang berukuran antara 6- 15 um dan diklasifikasikan menjadi limfosit kecil, sedang dan besar. Limfosit mempunyainukleus yang relatif besar serta dikelilingi oleh sitoplasma (Frandson 1986). Limfosit kecil memiliki ukuran nukleus yang besar dan sitoplasmayangkecil, limfosit besar memilikinukleus yang kecil dan sitoplasma yang lebih besar ukurannya dibandingkan limfosit kecil (Bacha& Bacha 2000). Limfosit berjumlah 20-30% dari total jumlah leukosit. Kebanyakan limfosit yang berada dalam darah adalah limfosit kecil (Eroschenko 2008).
Limfosit berperan dalam proses kekbalan dalam pembentukan antibodi khusus (Wresdiyati 2002). Populasi limfosit dalam aliran darah mencakup tiga tipe sel , yaitu limfosit T, limfosit B, dan limfosit Nul. Limfosit T berperan dalam imunitas selular, yaitu melindungi tubuh karena limfosit T cytoyoxic akan merusak sel yang telah diinfeksi virus dan populasinya sekitar 70-75% dari seluruh limfosit. Limfosit B populasi sekitar 10-12% dan dapat membentuk sel-sel plasma yang menghasilkan antibodi . Limfosit Nul populasi sekitar 10 – 15% (Hartono 1989).


Monosit
Monosit adalah leukosit agrunolsit yang memiliki bentuk terbesar diantara yang lainnya. Nukleusnya bervariasi dengan bentuk oval cekung atau menyerupai tapal kuda dan lebih terlihat dengan pewarnaan daripada nukleus limfosit , sedangkan limfosit lebih basofilik. Monosit terdapat sebanyak 3-8% dalam leukosit darah (Eroschenko 2008).
Monosit dapat mencapai tingkat dewasa pada saat monosit telah berubah menjadi makrofag, monosit akan berubah menjadi makrofag bila terjadi infeksi yang membuat monosit bermigrasi keluar dari pembuluh darah dan masuk kedalam jaringan. Makrofag banyak tersebar dalam organ –organ penting tubuh , seperti pada sinusoid hati (sel Kupfer), sumsum tulang ,alveoliparu-paru, lapisan serosa usus, sinus limpa, limfonodus, kulit (selLangerhans), sinovial (sel Synovial A), otak (mikroglia), atau lapisan endotel (misalnya glomelurus ginjal), (Despopoulus & Sibenagl 2003). Selain berperan sebagai makrofag, monosit penting dalam respon imunologi (Dellman & Brown 1992).
Monosit mempunyai enzim yang berguna untuk membantu proses fagosit runtuhan sel jaringan dari reaksi peradangan yang kronik.Monosit jaringan atau makrofag mempunyai kemampuan fagositosis yang lebih hebat dan neutrofil , yang bahkan mampu untuk menfagosit 100 sel bakteri (Guyton & Hall 2006).


Fisiologi Stress
Stress adalah respon tubuh non spesifik terhadap setiap tuntutan beban (Hiwari 2001). Dengan kata lain, perubahan yang terjadi disekitar tubuh akan membuat tubuh mengadakan berbagai proses penyesuaian untuk mempertahankan bentuk dan fungsi alat-alat tubuh. Gejala stress muncul jika perubahan yang terjadi telah melewati ambang yang ditolerir tubuh. Menurut Borrel (2001), stress merupakan kondisi secara umum yang berupa ancaman terhadap hewan sehingga tubuh perlu menyesuaikan terhadap kondisi tersebut. Selama proses penyesuaian terhadap kondisi stress terjadi perubahan kondisi fisiologis dan tingkah laku hewan sampai proses adaptasi tercapai terhadap perubahan yang terjadi . Stress yang berlangsung dalam waktu lama dapat mengakibatkan penurunan efektivitas sistem imun , sistem saraf, dan endokrin (Fowler 1999).
Pada saat terjadinya cekaman stress , tubuh akan merespon dengan mensekresikan katekolamin (efineprin dan norefineprin) dari medula adrenal sebagai respon aktif tubuh mempersiapkan diri mengatasi stress , contohnya dengan cara meningkatkan curah jantung dan meningkatkan tekanan darah ( Borrel 2001). Otak merespon stress dengan memberi rangsangan terhadap saraf yang dapat mengaktifkan sekresi corticotropin –relasing hormon (CRH) yang terdapat pada inti paraventricular hipotalamus(Johnson et al 1992). Menurut Robert & Robert (1996), CRH dapat merangsang hoipofisa anterior untuk mensekresikan adenocorticotropin hormon (ACTH) yang kemudian dapat merangsangkorteks adrenal untuk mensekresikan kortisol. Meningkatnya kortisol dalamplasmaakanmengakibatkan jumlah leukosit menurunkan kembali kadar kortisol tersebut (Weiss & Wardrop 2010). Sekresi kortisol dapat menstimulasi pembentukan neutrofil dalam tulang dan menurunkan mitosis limfosit (Chastain & Ganjam 1986). Menurut Kannan et al. (2000) dilaporkan bhawa indeks stress dapat ditentukandari perbandinganantara persentase netrofildan persentase limfosit (N:L ratio), pada hewan yang mengalami stress selalu mempunyairasio N: L diatas 1,5 .


MATERI DAN METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei- Juni 2012. Pemeliharaan dan pengambilan sampel dilakukan di Kandang Hewan Coba Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Pembacaan sampel di bawah mikroskop dilakukan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Materi Penelitian
Penelitian ini menggunakan 16 ekor ayam broiler berumur satu hari/ day old chick (DOC) yang dipelihara hingga umur 14 hari sebelum diberi perlakuan. Bahan lain yang digunakan adalah air, pakan , sekam, vaksin Newcastle disease (ND), Na Cl 0.9%, serta testosteron. Kandang yang digunakan dengan sistem litter yang beralas sekam padi sebanyak 4 petak dan diberi lampu penerangan saat malam diberi tripleks atau karton pembatas menjadi 4 bagian. Peralatan lain yang digunakan adalah gelas ukur, syringe 1 ml, kapas beralkohol, masker dan sarung tangan, ice box , tabung, tempat pakan ,tempat minum , alat tulis,objek glass, zat warna, tisu, mikroskop dan counter.
Metode Penelitian
Pengambilan darah diawali dengan mengapuskan kapas beralkohol pada sayap ayam dekat venaaxilaris sebanayk 0,5- 1ml. .Darah yang sudah diambil dalam dysposible syringe 1 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberikan EDTA sebagai antikoagulan. Darah ditempatkan dalam ice box dan diperiksa lanjut di laboratorium dengan menggunakan mikroskop.
Membuat Sediaan Apus Darah dan Differensiasi BDP
Darah diteteskan pada ujung salah satu objek glass yang telah disediakan kemudianulas dengan objek glass yang lain kemudian, dikeringkan dan difiksasi selama 5 menit dalam metanol. Setelah difiksasi , direndam dalam zat warna Giemsa selama 30 menit kemudian dicuci dengan air mengalir secara perlahan-lahan untuk menghilangkan sisa zat warna yang tak ikut mewarnai sediaan, sediaan apus darah kemudian dikeringkan.
Sediaan apus darah yang telah diberi pewarna kemudiaan diamati di bawah mikroskop denagn perbesaran objektif 100x dan okuler 10 x untuk menghitung jumlah differensiasi sel darah putih hingga jumlah total yang teramati mencapai jumlah 100. Setelah dilakukan presentase differensiasi leukosit, nilai absolut dari masing-masing jenis leukosit ditentukan dengan cara mengaliakn presentase tersebut denagn jumlah total leukosit (Cunin & Basswert 2006).
Menghitung Jumlah Sel Darah Putih
Darah diisap menggunakan pipet leukosit dan aspiratornya sampai batas garis 0,5 kemudian dialnjutkan dengan penambahan larutan pengencer turk sampai batas garis 11. Campuran dalam pipet ini dihogenkan dengan mengocok pipet membentuk angka 8 . Campuran yang sudah homogen tersebut diteteskan ke dalam kamar hitung denagn cara menempelkan ujung pipet pada pertemuan anatara dasar kamar hitung yang ditutup denagn cover glass. Penghitungan butir-butir darah putih dilakukan pada kelima kotak yang terletak diagonal pada 4 bujur sangkar besar disudut kamar hitung hasilnay x 50 butir / mm3 darah (Curnin & Bassert 2006).

Rancangan Percobaan
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) (Gazper, 1991) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan dianalisis dengan analisi ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan.























DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, Triyantini, dan H. Setianto. 1991. Kualitas Fisik Karkas Broiler (Studi Kasusdi Empat Ibukota Propisi Pulau Jawa). Prosiding Seminar Pengembangan Peternakan dalam Menunjang Pembangunan Ekonomi Nasional. Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwekerto. Hlm. 31-35.
Agustina, Laily dan Sri Purwanti. Ilmu Nutrisi Unggas. Lembaga Pengembangan Sumberdaya Peternakan (IDICUS), Makassar.
BainJ.2010. Testosterone and aging male: to treat or not to treat?.Maturitas.66(2010): 16-22.
Borrel EH. 2001. The Biologyof Stress and its application to l ivestock housing and
transportation assesmnet. Journal of animal science. http:www.jas.fass.org [10 September2014].
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2000. Batas maksimum cemaran mikroba dan batas maksimum
Cemaran mikroba dan batas maksimum residu dalam bahan makanan asal hewan [internet].
[diunduh 2014 November 7].Tersedia dari: http:// pphp.deptan.go.id.
Chastain CB & Ganjam VK. 1986. Clinical Endocrinology of Companion Animals.
Philadelpia: Lea & Febriger.
Curnin DM & Bassert JM. 2006. Clinical Textbook for Veterinary Techinicians 6th Ed.
United State of America: Elsier Saunders.
Despopoulos A& Silbernagl S. 2003. Color Atlas of Phisiology 5th Edition. New York :
Thieme..
Dellman HD & Brown EM> 1992. Buku Teks Histologi Veteriner Edisi ke -3. R. Hartono
Penerjemah: Jakarta : Universitas Indonesia.
Eroschenko VP. 2008. Di Fiore's Atlas of Histology with Functional Correlations 11th Ed.
Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.
Fowler ME .1999. Zoo and Wild Animal Medicine 4th Ed. Philadelphia : W.B. saunders
Coumpany .
Frandson RD.1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Yogyakarta : Gajah Mada
Univesity Press.
Granner DK.2009. Keragamansistem endokrin. Di dalam :Murray RK, Granner DK, Rodwell
VW, eitor. Biokimia harper. Penerbit BU, penerjemah. Jakarta (ID): EGC. Terjemahan dari : Harper's Ilustrated Biochemestry. Ed ke-27.
Guyton AC & Hall JE.2006. Textbook of Medical Physiology 11th Ed. Philadelphia :
Elsevier Inc.
Hafez ESE, jaenudeen MR, Rosnina Y. 2000. Reproduction in Farm Animals. Edisi ke-7.
Philadephia (US) :Lippincott Williams &Wilkins.
Hartono. 1989. Histology Veteriner. Departemen Jenderal Kebudayaan , Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor.
Hawari D. 2001. Manajemen Stress, Cemas, dan Depresi . Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Hernandez RJ , Kravitz L. 2003. The mystery of skeletal muscle hypertrophy. ACSM's Health
Fitness J. 7 : 18-22.
Hiller-Stumhofel S, Barkte A. 1998. The endocrine system. Alcohol Health & Research World. 22(3):
153-164.
Johnson et al. 1992. Mechanism of stress: a Dynamic overview of hormonal and behavioral
Homeostasis. Neurosci.Biobehav.
Kay Ian. 1998. Introduction to Animal Physiology . New York: BIOS Scientific Publisher
Ltd.
Kersey RD, Eliot DL, Goldberg L, Kanayama G, Leone JE, Pavlovich M, Pope HG. 2012.
Nationla Athletic Trainers' Ascosiation position statement : anabolic – androgenic steroids. J of Athletic Training. 47(5): 567-588. Doi: 10.4085/1062-6050-47.5.08
Narayanan Sheshadri &Peerschkee Ellinor IB.2001. Biochemical Hematology of Platelets
and Leukoscytes. New York.0065-2423/01.
Provan D & Krentz A. 2002. Oxford Handbook of Clinical and Laboratory Investigation.
New York: Oxford University Press.
Robert AR & Robert SO.1996. Exercise Phisiology: exercise, performance, and clinical
application. Missouri: Mosby.
Rudiono D. 2007. Pengaruh hormon testosteron dan umur terhadap perkembangan otot pada otot
kambing kacang betina. J of anim Prod. 9(2):59-66.
Suprajatna E, Atmomarsono U, Kartasudjana R. 2005. Ilmu Dasar ternak Unggas. Depok (ID) :
Penyebar Swadaya.
Talebi A, rezaei SA, Chai RR, Sahraei R. 2005. Comparative Studies on Haematological
Values of Broiler Strains (Ross, Cobb, arbor-acres and Arian). International J of Poultry Sci . 4(8):573-579.
StafUnit Fisiologi[FKH –IPB] Fakultas Kedopkteran Hewan –Institut Pertanian Bogor. 2012.
Penuntun Praktikum Fisiologi. Bogor(ID) : FKH IPB.
Wresdiyati Tutik.2002. Seri Diktat Kuliah Histologi Veteriner Jaringan Ikat. Bogor.






.







Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.