Respon AS Terhadap Pematokan Nilai Tukar Yuan oleh China

December 8, 2017 | Author: Fauzan Munif | Category: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

7



Dikutip dari http://www.indonesiafinancetoday.com/read/15571/China-Tuding-Amerika-Serikat-Picu-Perang-Dagang pada 29 Desember 2013, pukul 19.22 WIB.
www.cencus.gov
Dikutip dari http://www.census.gov/foreign-trade/statistics/highlights/top/top1312cm.html . pada 21 Mei 2014. Pukul 12.59.
. dikutip dari http://www.census.gov/foreign-trade/statistics/highlights/top/top1312cm.html . pada 20 May 2014. Pukul 23.15 WIB.
Dikutip dari http://www.indonesiafinancetoday.com/read/15571/China-Tuding-Amerika-Serikat-Picu-Perang-Dagang pada 29 Desember 2013, pukul 19.22 WIB.
Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4#.U3tsstKSyrQ pada 29 Desember 2013, pukul 19.35 WIB.
Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4 pada 29 Desember 2013, pukul 19.50 WIB.
. dikutip dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/03/07/09241849/China.Tak.Mau.Tunduk . pada 18 Mei 2014. Pukul 16.24 WIB
. di kutip dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/08/16/16015150/Yuan.Terus.Catatkan.Rekor . pada 21 Mei 2014. Pukul 16.54 WIB
. dikutip dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/03/07/09241849/China.Tak.Mau.Tunduk . pada 21 Mei 2014. Pukul 17.08 WIB.
. Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4 pada 21 Mei 2014, pukul 17.15 WIB.
Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4 pada 29 Desember 2013, pukul 19.50 WIB.
Per Desember 2013
Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4 pada 29 Desember 2013, pukul 19.50 WIB.


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai Negara adikuasa AS memang tidak akan pernah berhenti berkonflik dengan Negara-negara lain. Jika kita lihat dalam sejarahnya penyebab AS menjadi Negara super power pada saat ini adalah karna kemenangan AS melawan Uni Soviet pada perang dingin yang menyebabkan bubarnya Negara tersebut. Pasca perang dingin dapat kita katakan bahwa tidak ada lagi Negara yang mampu menandingi AS dari sektor militer maupun ekonomi sampai sekarang. Tetapi saat ini fakta tersebut berubah, karena saat ini AS memiliki musuh baru yaitu China.
Hubungan antara kedua negara yakni China dan AS mulai memasuki babak baru dan semakin menegang. China dan AS memang sering berselisih dan berbeda pendapat tentang berbagai hal, seperti masalah ekonomi. Perselisihan tersebut cenderung memburuk. Ditambah lagi dengan pertumbuhan pesat perekonomian China saat ini dan ambisinya untuk menjadi negara adidaya. Hal itu membuat AS khawatir akan dominasi perekonomiannya di dunia saat ini. AS khawatir jika nanti dominasi perekonomian dunia akan dikuasai oleh China.
Salah satu pemicu konlfik ekonomi kedua negara tersebut adalah upaya AS untuk menyeimbangkan nilai tukar mata uang China dengan pasar global. Upaya tersebut ditolak oleh China. Bahkan Bank Sentral China People's Bank of China menyatakan bahwa pembahasan atas rancangan undang-undang terkait nilai tukar mata uang yuan di Senat AS hanya akan melahirkan perang dagang antar kedua negara. Pemerintah China juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut justru akan memperparah proses pemulihan ekonomi global.
Namun pemerintah AS tetap berupaya menekan pemerintah China agar merubah kebijakannya terhadap harga nilai tukar Yuan agar seimbang dengan harga pasar. Karena jika tidak tentu akan sangat merugikan AS. Barang-barang produksi AS akan sangat sulit bersaing di pasar global dengan barang barang produksi China. Karena dengan adanya pematokan nilai tukar Yuan tersebut harga produk ekspor dari AS akan lebih mahal ketimbang barang dari China yang sangat murah. Bahkan, barang-barang produksi AS sendiri kurang di minati di negaranya. Masyarakat AS lebih suka membeli produk dari China karena lebih murah. Perhatikan diagram berikut :


Dari diagram tersebut dapat kita lihat ketimpangan antara ekspor impor AS dengan China. Memang angka ekspor AS ke China setiap tahun meningkat, tetapi disisi lain ekspor China ke AS juga meningkat setiap tahun. Hal tersebut sangat merugikan AS karena barang-barang impor dari China sangat laku dipasaran AS sedangkan barang produksi AS tidak laku di pasaran China.
Rank
Country
Deficit
1
China
-24.5
2
Japan
-6.0
3
Germany
-5.9
4
Mexico
-4.2
5
Canada
-3.4
6
Saudi Arabia
-2.8
7
Italy
-2.0
8
Ireland
-1.8
i9
Vietnam
-1.7
10
Venezuela
-1.6

Bahkan badan sensus AS mencatat per Desember 2013 defisit perdagangan AS dengan China adalah -24.5. Lalu diikuti oleh peringkat kedua yaitu Jepang sebesar -6. Yang mengejutkan adalah jarak atara defisit dagang dari China dan Jepang lebih dari empat kali lipat. Disini dapat kita lihat bahwa terjadi ketimpangan lagi di defisit perdagangan AS. Oleh karena itu AS merasa perlu untuk menekan pemerintah jepang agar merubah kebijakannya terhadap pematokan nilai tukar Yan.
Berikut adalah daftar 15 besar ekspor impor AS per Desember 2013 :
Rank
Country
Exports
Imports
Total Trade
Percent of Total Trade
---
Total, All Countries
130.9
182.3
313.2
100.0%
---
Total, Top 15 Countries
90.4
139.6
230.1
73.5%
1
China
13.1
37.6
50.6
16.2%
2
Canada
23.3
26.7
50.0
16.0%
3
Mexico
18.0
22.1
40.1
12.8%
4
Japan
5.3
11.3
16.5
5.3%
5
Germany
3.6
9.5
13.2
4.2%
6
South Korea
3.9
4.7
8.7
2.8%
7
United Kingdom
3.4
4.4
7.7
2.5%
8
France
2.8
4.1
6.9
2.2%
9
Saudi Arabia
2.0
4.8
6.8
2.2%
10
Brazil
3.7
2.2
5.9
1.9%
11
Taiwan
2.4
3.0
5.4
1.7%
12
Netherlands
3.4
1.4
4.7
1.5%
13
Italy
1.4
3.4
4.7
1.5%
14
India
1.6
3.0
4.6
1.5%
15
Belgium
2.6
1.5
4.2
1.3%

Respon AS
Sudah kita lihat diatas bahwa latar belakang permasalahan defisit AS dengan China salah satunya karena adanya pematokan nilai tukar Yuan oleh pemerintah China. Dengan adanya peatokan tersebut pemerintah AS tidak hanya tinggal diam saja, karena pematokan nilai tukar Yuan tersebut sangat berpengaruh terhadap perekonomian AS.
Pada awal 2010 AS berupaya untuk menekan pemerintah China agar menyeimbangkan nilai tukar mata uang China dengan pasar global. Tetapi, upaya tersebut ditolak oleh China. Bahkan Bank Sentral China People's Bank of China menyatakan bahwa pembahasan atas rancangan undang-undang terkait nilai tukar mata uang yuan di Senat AS hanya akan melahirkan perang dagang antar kedua negara. Pemerintah china juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut justru akan memperparah proses pemulihan ekonomi global.
Lalu dengan adanya penolakan tersebut, pada pertengahan 2010 senat AS mengeluarkan RUU yang akan menetapkan pajak tinggi pada produk-produk China yang akan masuk ke AS. Para pengamat politik AS mengatakan bahwa kebijakan tersebut hanya akan memperparah perselisihan dagang antara AS dan China. Penaikan pajak tersebut diberlakukan pada sektor impor baja, ban, dan otomotif dari China. Tetapi, banyak pihak mengatakan bahwa kenaikan pajak tesebut tidak akan mempengaruhi produk-produk impor dari China lainnya.
Dapat dipastikan bahwa kebijakan AS terhadap nilai tukar mata uang yuan tersebut akan menuai protes keras dari China. Juru bicara Kementrian perdagangan China Yao Jian mengatakan bahwa RUU tersebut tidak akan menghilangkan defisit dagang antara AS dan China. Dia juga membantah anggapan bahwa China dengan sengaja mencurangi aktifitas perdagangan internasional dengan mematok nilai yuan. Dengan menghambat arus perdagangan dengan China, dirinya justru menganggap bahwa dengan meloloskan RUU tersebut AS telah melanggar ketentuan yang telah dibuat oleh World Trade Organization (WTO).
Dengan adanya permasalahan dagang ini juga China melakukan berbagai kebijakan mengenai produk-produk impor dari AS yang akan masuk ke China. Produk-produk dari AS sangat sulit di pasarkan di China tetapi China dengan teknologinya saat ini sudah dapat meniru produk-produk dari AS. Dan ternyata produk buatan negeri sendiri tersebut ternyata lebih diminati oleh rakyatnya ketimbang produk dari AS. Bahkan saat ini produk-produk China sudah banyak diminati di berbagai negara lainya. Hal itu dikarnakan untuk sebuah produk yang sama, harga dari produk China ternyata lebih murah jika dibandingkan dengan produk dari AS.






BAB II
Analisa RAM
Setelah kita melihat latar belakang di atas mengenai defisit perdagangan AS yaitu salah satunya karena adanya pematokan nilai tukar Yuan oleh pemerintah China. Sebuah pertanyaanpun muncul, mengapa pemerintah AS perlu untuk menekan pemerintah China untuk merubah kebijakannya tersebut? Jawaban sederhananya adalah karena AS memiliki National Interest agar perekonomian AS kembali berjaya.
"Leader"InputOutputNational PowerNational InterestsSTATE
"Leader"


Input
Output
National Power
National Interests
STATE


Menurut model analisa Rational Actor Model (RAM), input dari permasalahan defisit AS adalah pematokan nilai tukar Yuan yang berdampak besar pada perekonomian AS. Sedangkan National Interest yang mempengaruhi leader agar mengeluarkan kebijakannya adalah karena ingin menstabilkan kembali perekonomian AS di pasar global. Lalu National Power adalah pandangan terhadap kekuatan ekonomi AS yang kuat. Dimana seperti yang kita ketahui kekuatan perekonomian AS sampai saat ini masih diakui sebagai yang terkuat dan AS juga tidak ingin kekuatan ekonomi AS dimata dunia tergantikan oleh keuatan ekonomi baru China. Dan outputnya adalah untuk menstabilkan defisit dagang AS salah satunya dengan cara menstabilkan nilai tukar Yuan di pasar global.
Definisi Permasalahan
Permasalahan muncul saat AS melihat adanya pematokan nilai tukar mata uang Yuan secara sengaja oleh pemerintah China. Pematokan tersebut berdampak terhadap perekonomian AS yang menyebabkan defisit dagang antara AS dan China sebesar -24.5. Tetapi tuduhan AS ditolak oleh pemerintah China yang diwakili oleh Gubernur Bank Central China Zhou Xiaochuan. Beliau mengatakan bahwa stabilitas kurs yuan adalah prioritas utama.(6/3/2010). Pemerintah China merasa perlu untuk menentukan nilai kurs yuan karena stabilitas kurs mata uang adalah salah satu esensi dari kestabilan ekonomi.
Goal
Dengan adanya masalah pematokan nilai tukar yuan yang berdampak pada defisit perdagangan AS dan China dan juga berdampak pada perdagangan AS dipasar global dimana produk-produk ekspor AS menjadi tidak laku karena lebih mahal dari pada produk-produk ekspor China yang harganya jauh lebih murah. Lalu yang menjadi tujuan AS adalah untuk menguatkan kembali perekonomian AS agar tidak tersaingi oleh China.
Alternatives
Demi mencapai tujuan diatas memang tidak banyak yang bisa dilakukan AS untuk merespon defisit dagang AS dan Chna tersebut. Karena permasalahan utamanya ada pada pematokan nilai tukar yuan oleh pemerintah China, sehingga meyulitkan AS untuk menentukan kebijakan apa yang harus AS lakukan. Terdapat beberapa alternative kebijakan :
Alternative pertama, melobby pemerintah China agar merubah kebijakannya terhadap pematokan nilai tukar yuan. Pembahasan mengenai kebijakan ini sudah dibicarakan sejak awal 2010 namun upaya AS ditolak oleh pemerintah China. Pada 2011 Wapres AS Joe Biden akan menekan China untuk merevaluasi yuan.
Alternative kedua, menetapkan pajak tinggi kepada produk-produk ekspor China yang akan masuk ke AS, yang bertujuan untuk menekan jumlah impor produk dari China agar produk local lebih diminati. Pada awal 2010 Presiden AS Barack Obama mengatakan bahwa AS akan bertindak lebih tegas terhadap produk ekspor China. Bahkan pada 2011 Presiden Barack Obama diberi wewenang oleh Senat AS untuk menaikkan pajak produk ekspor China.
Alternative ketiga adalah do nothing atau tidak melakukan apa-apa. Tentu saja pilihan ini adalah pilihan yang paling buruk, karena jika AS tidak melakukan apa-apa terhadap permasalahan ini maka angka defisit dagang antara AS dan China akan terus membengkak yang tentunya akan sangat merugikan perekonomian AS.
Choise
Dari alternative kebijakan diatas tentu tidak akan terlalu mempengaruhi perekonomian China, namun setidaknya AS melakukan tindakan yang akan menguatkan kembali perekonomian negaranya. Kebijakan yang sudah dilakukan As adalah menekan pemerintah China agar merubah kebijakannya mengenai pematokan nilai tukar yuan dan membuat RUU mengenai penetapan pajak tinggi pada produk ekspor China.
Tetapi RUU mengenai penetapan pajak tinggi tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak. Karena dengan meloloskan RUU tersebut AS dianggap telah melanggar peraturan yang sudah di tetapkan World Trade Organization (WTO). Para pengamat politik AS mengatakan bahwa kebijakan tersebut hanya akan memperparah perselisihan dagang antara AS dan China. Juru bicara Kementrian perdagangan China Yao Jian mengatakan bahwa RUU tersebut tidak akan menghilangkan defisit dagang antara AS dan China. Dia juga membantah anggapan bahwa China dengan sengaja mencurangi aktifitas perdagangan internasional dengan mematok nilai yuan.










BAB III
KESIMPULAN
Defisit dagang AS ke China memang sangat besar yaitu -24.5. Angka tersebut lebih besar empat kali lipat dibandingkan dengan defisit dagang AS dengan Jepang yang menduduki peringkat kedua. Besarnya defisit dagang tersebut ditentukan oleh jumlah ekspor impor AS dengan China. Seperti yang sudah diketauhi di bab sebelumnya dimana terjadi ketimpangan yang sangat besar antara ekspor impor AS dengan China. Ekspor AS ke China pada tahun 2013 122,016.30 milyar USD. Sedangkan impor AS dari China berjumlah lebih dari tiga kali lipatnya yaitu senilai 440,433.50 milyar USD. Besarnya impor AS tersebut salah satunya disebabkan karena masyarakat AS saat ini lebih suka membeli produk dari China yang harganya lebih terjangkau.
AS menuduh China telah melakukan kecurangan terhadap nilai tukar yuan. AS mengatakan bahwa pemerintah China sengaja mematok nilai tukar yuan, tetapi hal tersebut dibantah oleh Bank Central of China. Gubernur Bank Central China Zhou Xiaochuan mengatakan bahwa stabilitas kurs yuan adalah prioritas utama.(6/3/2010). Pemerintah China merasa perlu untuk menentukan nilai kurs yuan karena stabilitas kurs mata uang adalah salah satu esensi dari kestabilan ekonomi.
AS juga tidak tinggal diam menghapai masalah ini, karena jika AS tidak melakukan apa-aparf maka stabilias perekonomian AS akan sangat terganggu. Karena saat ini China adalah saingan utama AS di pasar global. Sejak awal 2010 pemerintah AS selalu berusaha untuk menekan pemerintah China agar merubah kebijakannya terkait pematokan nilai tukar yuan. Namun tekanan AS ditolak oleh pemerintah China. Bahkan pemerintah China pun mengatakan bahwa tekanan tersebut hanya akan memperkeruh suasana perekonomian antara AS dengan China.
Pada pertengahan 2010 senat AS mengeluarkan RUU mengenai penetapan pajak tinggi pada produk impor China yang akan masuk ke AS. Tentu saja RUU tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak. Pihak China yang diwakili oleh Juru bicara Kementrian perdagangan China Yao Jian mengatakan bahwa RUU tersebut tidak akan menghilangkan defisit dagang antara AS dan China. Dengan menghambat arus perdagangan dengan China, dirinya justru menganggap bahwa dengan meloloskan RUU tersebut AS telah melanggar ketentuan yang telah dibuat oleh World Trade Organization (WTO).
Memang tidak banyak yang bisa dilakukan oleh AS terkait masalah defisit ini, namun setidaknya AS tidak tinggal diam. Oleh karena itu pemerintah AS yang di kepalai oleh Presiden Barack Obama tentunya harus mengeluarkan kebijakan terkait permasalahan ini. Karena jika tidak permasalahan ekonomi AS ini akan semakin berlarut dan menggangu stabilitas perekonomian AS




Referensi :
Catatan penulis saat public lecture oleh Prof. Jing Vivian Zhan di The Chinese University of Hong Kong
Catatan penulis saat kunjungan ke Kedutaan Besar China untuk Indonesia
www.cencus.gov
www.irs.gov
http://www.reuters.com/article/comments/idUSTRE81D08R20120214
http://online.wsj.com/news/articles/SB10001424052702303949704579456583465285674
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4
http://www.indonesiafinancetoday.com/read/15571/China-Tuding-Amerika-Serikat-Picu-Perang-Dagang
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/08/16/16015150/Yuan.Terus.Catatkan.Rekor
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/03/07/09241849/China.Tak.Mau.Tunduk
http://informasiforex.com/kenapa-mata-uang-china-dipasangkan-dengan-usd/
http://www.monexnews.com/forex/bank-sentral-china-giring-yuan-ke-rekor-tinggi.htm





Deskripsi

7



Dikutip dari http://www.indonesiafinancetoday.com/read/15571/China-Tuding-Amerika-Serikat-Picu-Perang-Dagang pada 29 Desember 2013, pukul 19.22 WIB.
www.cencus.gov
Dikutip dari http://www.census.gov/foreign-trade/statistics/highlights/top/top1312cm.html . pada 21 Mei 2014. Pukul 12.59.
. dikutip dari http://www.census.gov/foreign-trade/statistics/highlights/top/top1312cm.html . pada 20 May 2014. Pukul 23.15 WIB.
Dikutip dari http://www.indonesiafinancetoday.com/read/15571/China-Tuding-Amerika-Serikat-Picu-Perang-Dagang pada 29 Desember 2013, pukul 19.22 WIB.
Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4#.U3tsstKSyrQ pada 29 Desember 2013, pukul 19.35 WIB.
Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4 pada 29 Desember 2013, pukul 19.50 WIB.
. dikutip dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/03/07/09241849/China.Tak.Mau.Tunduk . pada 18 Mei 2014. Pukul 16.24 WIB
. di kutip dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/08/16/16015150/Yuan.Terus.Catatkan.Rekor . pada 21 Mei 2014. Pukul 16.54 WIB
. dikutip dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/03/07/09241849/China.Tak.Mau.Tunduk . pada 21 Mei 2014. Pukul 17.08 WIB.
. Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4 pada 21 Mei 2014, pukul 17.15 WIB.
Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4 pada 29 Desember 2013, pukul 19.50 WIB.
Per Desember 2013
Dikutip dari http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4 pada 29 Desember 2013, pukul 19.50 WIB.


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai Negara adikuasa AS memang tidak akan pernah berhenti berkonflik dengan Negara-negara lain. Jika kita lihat dalam sejarahnya penyebab AS menjadi Negara super power pada saat ini adalah karna kemenangan AS melawan Uni Soviet pada perang dingin yang menyebabkan bubarnya Negara tersebut. Pasca perang dingin dapat kita katakan bahwa tidak ada lagi Negara yang mampu menandingi AS dari sektor militer maupun ekonomi sampai sekarang. Tetapi saat ini fakta tersebut berubah, karena saat ini AS memiliki musuh baru yaitu China.
Hubungan antara kedua negara yakni China dan AS mulai memasuki babak baru dan semakin menegang. China dan AS memang sering berselisih dan berbeda pendapat tentang berbagai hal, seperti masalah ekonomi. Perselisihan tersebut cenderung memburuk. Ditambah lagi dengan pertumbuhan pesat perekonomian China saat ini dan ambisinya untuk menjadi negara adidaya. Hal itu membuat AS khawatir akan dominasi perekonomiannya di dunia saat ini. AS khawatir jika nanti dominasi perekonomian dunia akan dikuasai oleh China.
Salah satu pemicu konlfik ekonomi kedua negara tersebut adalah upaya AS untuk menyeimbangkan nilai tukar mata uang China dengan pasar global. Upaya tersebut ditolak oleh China. Bahkan Bank Sentral China People's Bank of China menyatakan bahwa pembahasan atas rancangan undang-undang terkait nilai tukar mata uang yuan di Senat AS hanya akan melahirkan perang dagang antar kedua negara. Pemerintah China juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut justru akan memperparah proses pemulihan ekonomi global.
Namun pemerintah AS tetap berupaya menekan pemerintah China agar merubah kebijakannya terhadap harga nilai tukar Yuan agar seimbang dengan harga pasar. Karena jika tidak tentu akan sangat merugikan AS. Barang-barang produksi AS akan sangat sulit bersaing di pasar global dengan barang barang produksi China. Karena dengan adanya pematokan nilai tukar Yuan tersebut harga produk ekspor dari AS akan lebih mahal ketimbang barang dari China yang sangat murah. Bahkan, barang-barang produksi AS sendiri kurang di minati di negaranya. Masyarakat AS lebih suka membeli produk dari China karena lebih murah. Perhatikan diagram berikut :


Dari diagram tersebut dapat kita lihat ketimpangan antara ekspor impor AS dengan China. Memang angka ekspor AS ke China setiap tahun meningkat, tetapi disisi lain ekspor China ke AS juga meningkat setiap tahun. Hal tersebut sangat merugikan AS karena barang-barang impor dari China sangat laku dipasaran AS sedangkan barang produksi AS tidak laku di pasaran China.
Rank
Country
Deficit
1
China
-24.5
2
Japan
-6.0
3
Germany
-5.9
4
Mexico
-4.2
5
Canada
-3.4
6
Saudi Arabia
-2.8
7
Italy
-2.0
8
Ireland
-1.8
i9
Vietnam
-1.7
10
Venezuela
-1.6

Bahkan badan sensus AS mencatat per Desember 2013 defisit perdagangan AS dengan China adalah -24.5. Lalu diikuti oleh peringkat kedua yaitu Jepang sebesar -6. Yang mengejutkan adalah jarak atara defisit dagang dari China dan Jepang lebih dari empat kali lipat. Disini dapat kita lihat bahwa terjadi ketimpangan lagi di defisit perdagangan AS. Oleh karena itu AS merasa perlu untuk menekan pemerintah jepang agar merubah kebijakannya terhadap pematokan nilai tukar Yan.
Berikut adalah daftar 15 besar ekspor impor AS per Desember 2013 :
Rank
Country
Exports
Imports
Total Trade
Percent of Total Trade
---
Total, All Countries
130.9
182.3
313.2
100.0%
---
Total, Top 15 Countries
90.4
139.6
230.1
73.5%
1
China
13.1
37.6
50.6
16.2%
2
Canada
23.3
26.7
50.0
16.0%
3
Mexico
18.0
22.1
40.1
12.8%
4
Japan
5.3
11.3
16.5
5.3%
5
Germany
3.6
9.5
13.2
4.2%
6
South Korea
3.9
4.7
8.7
2.8%
7
United Kingdom
3.4
4.4
7.7
2.5%
8
France
2.8
4.1
6.9
2.2%
9
Saudi Arabia
2.0
4.8
6.8
2.2%
10
Brazil
3.7
2.2
5.9
1.9%
11
Taiwan
2.4
3.0
5.4
1.7%
12
Netherlands
3.4
1.4
4.7
1.5%
13
Italy
1.4
3.4
4.7
1.5%
14
India
1.6
3.0
4.6
1.5%
15
Belgium
2.6
1.5
4.2
1.3%

Respon AS
Sudah kita lihat diatas bahwa latar belakang permasalahan defisit AS dengan China salah satunya karena adanya pematokan nilai tukar Yuan oleh pemerintah China. Dengan adanya peatokan tersebut pemerintah AS tidak hanya tinggal diam saja, karena pematokan nilai tukar Yuan tersebut sangat berpengaruh terhadap perekonomian AS.
Pada awal 2010 AS berupaya untuk menekan pemerintah China agar menyeimbangkan nilai tukar mata uang China dengan pasar global. Tetapi, upaya tersebut ditolak oleh China. Bahkan Bank Sentral China People's Bank of China menyatakan bahwa pembahasan atas rancangan undang-undang terkait nilai tukar mata uang yuan di Senat AS hanya akan melahirkan perang dagang antar kedua negara. Pemerintah china juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut justru akan memperparah proses pemulihan ekonomi global.
Lalu dengan adanya penolakan tersebut, pada pertengahan 2010 senat AS mengeluarkan RUU yang akan menetapkan pajak tinggi pada produk-produk China yang akan masuk ke AS. Para pengamat politik AS mengatakan bahwa kebijakan tersebut hanya akan memperparah perselisihan dagang antara AS dan China. Penaikan pajak tersebut diberlakukan pada sektor impor baja, ban, dan otomotif dari China. Tetapi, banyak pihak mengatakan bahwa kenaikan pajak tesebut tidak akan mempengaruhi produk-produk impor dari China lainnya.
Dapat dipastikan bahwa kebijakan AS terhadap nilai tukar mata uang yuan tersebut akan menuai protes keras dari China. Juru bicara Kementrian perdagangan China Yao Jian mengatakan bahwa RUU tersebut tidak akan menghilangkan defisit dagang antara AS dan China. Dia juga membantah anggapan bahwa China dengan sengaja mencurangi aktifitas perdagangan internasional dengan mematok nilai yuan. Dengan menghambat arus perdagangan dengan China, dirinya justru menganggap bahwa dengan meloloskan RUU tersebut AS telah melanggar ketentuan yang telah dibuat oleh World Trade Organization (WTO).
Dengan adanya permasalahan dagang ini juga China melakukan berbagai kebijakan mengenai produk-produk impor dari AS yang akan masuk ke China. Produk-produk dari AS sangat sulit di pasarkan di China tetapi China dengan teknologinya saat ini sudah dapat meniru produk-produk dari AS. Dan ternyata produk buatan negeri sendiri tersebut ternyata lebih diminati oleh rakyatnya ketimbang produk dari AS. Bahkan saat ini produk-produk China sudah banyak diminati di berbagai negara lainya. Hal itu dikarnakan untuk sebuah produk yang sama, harga dari produk China ternyata lebih murah jika dibandingkan dengan produk dari AS.






BAB II
Analisa RAM
Setelah kita melihat latar belakang di atas mengenai defisit perdagangan AS yaitu salah satunya karena adanya pematokan nilai tukar Yuan oleh pemerintah China. Sebuah pertanyaanpun muncul, mengapa pemerintah AS perlu untuk menekan pemerintah China untuk merubah kebijakannya tersebut? Jawaban sederhananya adalah karena AS memiliki National Interest agar perekonomian AS kembali berjaya.
"Leader"InputOutputNational PowerNational InterestsSTATE
"Leader"


Input
Output
National Power
National Interests
STATE


Menurut model analisa Rational Actor Model (RAM), input dari permasalahan defisit AS adalah pematokan nilai tukar Yuan yang berdampak besar pada perekonomian AS. Sedangkan National Interest yang mempengaruhi leader agar mengeluarkan kebijakannya adalah karena ingin menstabilkan kembali perekonomian AS di pasar global. Lalu National Power adalah pandangan terhadap kekuatan ekonomi AS yang kuat. Dimana seperti yang kita ketahui kekuatan perekonomian AS sampai saat ini masih diakui sebagai yang terkuat dan AS juga tidak ingin kekuatan ekonomi AS dimata dunia tergantikan oleh keuatan ekonomi baru China. Dan outputnya adalah untuk menstabilkan defisit dagang AS salah satunya dengan cara menstabilkan nilai tukar Yuan di pasar global.
Definisi Permasalahan
Permasalahan muncul saat AS melihat adanya pematokan nilai tukar mata uang Yuan secara sengaja oleh pemerintah China. Pematokan tersebut berdampak terhadap perekonomian AS yang menyebabkan defisit dagang antara AS dan China sebesar -24.5. Tetapi tuduhan AS ditolak oleh pemerintah China yang diwakili oleh Gubernur Bank Central China Zhou Xiaochuan. Beliau mengatakan bahwa stabilitas kurs yuan adalah prioritas utama.(6/3/2010). Pemerintah China merasa perlu untuk menentukan nilai kurs yuan karena stabilitas kurs mata uang adalah salah satu esensi dari kestabilan ekonomi.
Goal
Dengan adanya masalah pematokan nilai tukar yuan yang berdampak pada defisit perdagangan AS dan China dan juga berdampak pada perdagangan AS dipasar global dimana produk-produk ekspor AS menjadi tidak laku karena lebih mahal dari pada produk-produk ekspor China yang harganya jauh lebih murah. Lalu yang menjadi tujuan AS adalah untuk menguatkan kembali perekonomian AS agar tidak tersaingi oleh China.
Alternatives
Demi mencapai tujuan diatas memang tidak banyak yang bisa dilakukan AS untuk merespon defisit dagang AS dan Chna tersebut. Karena permasalahan utamanya ada pada pematokan nilai tukar yuan oleh pemerintah China, sehingga meyulitkan AS untuk menentukan kebijakan apa yang harus AS lakukan. Terdapat beberapa alternative kebijakan :
Alternative pertama, melobby pemerintah China agar merubah kebijakannya terhadap pematokan nilai tukar yuan. Pembahasan mengenai kebijakan ini sudah dibicarakan sejak awal 2010 namun upaya AS ditolak oleh pemerintah China. Pada 2011 Wapres AS Joe Biden akan menekan China untuk merevaluasi yuan.
Alternative kedua, menetapkan pajak tinggi kepada produk-produk ekspor China yang akan masuk ke AS, yang bertujuan untuk menekan jumlah impor produk dari China agar produk local lebih diminati. Pada awal 2010 Presiden AS Barack Obama mengatakan bahwa AS akan bertindak lebih tegas terhadap produk ekspor China. Bahkan pada 2011 Presiden Barack Obama diberi wewenang oleh Senat AS untuk menaikkan pajak produk ekspor China.
Alternative ketiga adalah do nothing atau tidak melakukan apa-apa. Tentu saja pilihan ini adalah pilihan yang paling buruk, karena jika AS tidak melakukan apa-apa terhadap permasalahan ini maka angka defisit dagang antara AS dan China akan terus membengkak yang tentunya akan sangat merugikan perekonomian AS.
Choise
Dari alternative kebijakan diatas tentu tidak akan terlalu mempengaruhi perekonomian China, namun setidaknya AS melakukan tindakan yang akan menguatkan kembali perekonomian negaranya. Kebijakan yang sudah dilakukan As adalah menekan pemerintah China agar merubah kebijakannya mengenai pematokan nilai tukar yuan dan membuat RUU mengenai penetapan pajak tinggi pada produk ekspor China.
Tetapi RUU mengenai penetapan pajak tinggi tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak. Karena dengan meloloskan RUU tersebut AS dianggap telah melanggar peraturan yang sudah di tetapkan World Trade Organization (WTO). Para pengamat politik AS mengatakan bahwa kebijakan tersebut hanya akan memperparah perselisihan dagang antara AS dan China. Juru bicara Kementrian perdagangan China Yao Jian mengatakan bahwa RUU tersebut tidak akan menghilangkan defisit dagang antara AS dan China. Dia juga membantah anggapan bahwa China dengan sengaja mencurangi aktifitas perdagangan internasional dengan mematok nilai yuan.










BAB III
KESIMPULAN
Defisit dagang AS ke China memang sangat besar yaitu -24.5. Angka tersebut lebih besar empat kali lipat dibandingkan dengan defisit dagang AS dengan Jepang yang menduduki peringkat kedua. Besarnya defisit dagang tersebut ditentukan oleh jumlah ekspor impor AS dengan China. Seperti yang sudah diketauhi di bab sebelumnya dimana terjadi ketimpangan yang sangat besar antara ekspor impor AS dengan China. Ekspor AS ke China pada tahun 2013 122,016.30 milyar USD. Sedangkan impor AS dari China berjumlah lebih dari tiga kali lipatnya yaitu senilai 440,433.50 milyar USD. Besarnya impor AS tersebut salah satunya disebabkan karena masyarakat AS saat ini lebih suka membeli produk dari China yang harganya lebih terjangkau.
AS menuduh China telah melakukan kecurangan terhadap nilai tukar yuan. AS mengatakan bahwa pemerintah China sengaja mematok nilai tukar yuan, tetapi hal tersebut dibantah oleh Bank Central of China. Gubernur Bank Central China Zhou Xiaochuan mengatakan bahwa stabilitas kurs yuan adalah prioritas utama.(6/3/2010). Pemerintah China merasa perlu untuk menentukan nilai kurs yuan karena stabilitas kurs mata uang adalah salah satu esensi dari kestabilan ekonomi.
AS juga tidak tinggal diam menghapai masalah ini, karena jika AS tidak melakukan apa-aparf maka stabilias perekonomian AS akan sangat terganggu. Karena saat ini China adalah saingan utama AS di pasar global. Sejak awal 2010 pemerintah AS selalu berusaha untuk menekan pemerintah China agar merubah kebijakannya terkait pematokan nilai tukar yuan. Namun tekanan AS ditolak oleh pemerintah China. Bahkan pemerintah China pun mengatakan bahwa tekanan tersebut hanya akan memperkeruh suasana perekonomian antara AS dengan China.
Pada pertengahan 2010 senat AS mengeluarkan RUU mengenai penetapan pajak tinggi pada produk impor China yang akan masuk ke AS. Tentu saja RUU tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak. Pihak China yang diwakili oleh Juru bicara Kementrian perdagangan China Yao Jian mengatakan bahwa RUU tersebut tidak akan menghilangkan defisit dagang antara AS dan China. Dengan menghambat arus perdagangan dengan China, dirinya justru menganggap bahwa dengan meloloskan RUU tersebut AS telah melanggar ketentuan yang telah dibuat oleh World Trade Organization (WTO).
Memang tidak banyak yang bisa dilakukan oleh AS terkait masalah defisit ini, namun setidaknya AS tidak tinggal diam. Oleh karena itu pemerintah AS yang di kepalai oleh Presiden Barack Obama tentunya harus mengeluarkan kebijakan terkait permasalahan ini. Karena jika tidak permasalahan ekonomi AS ini akan semakin berlarut dan menggangu stabilitas perekonomian AS




Referensi :
Catatan penulis saat public lecture oleh Prof. Jing Vivian Zhan di The Chinese University of Hong Kong
Catatan penulis saat kunjungan ke Kedutaan Besar China untuk Indonesia
www.cencus.gov
www.irs.gov
http://www.reuters.com/article/comments/idUSTRE81D08R20120214
http://online.wsj.com/news/articles/SB10001424052702303949704579456583465285674
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3003&type=4
http://www.indonesiafinancetoday.com/read/15571/China-Tuding-Amerika-Serikat-Picu-Perang-Dagang
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/08/16/16015150/Yuan.Terus.Catatkan.Rekor
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/03/07/09241849/China.Tak.Mau.Tunduk
http://informasiforex.com/kenapa-mata-uang-china-dipasangkan-dengan-usd/
http://www.monexnews.com/forex/bank-sentral-china-giring-yuan-ke-rekor-tinggi.htm



Lihat lebih banyak...

Komentar

We're moving the hosting, the preview may show error, this will be automatically reload again in 15 seconds to resolve this.
Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.