Sejarah Rafa’ah Bey Badawi At-Tahtawi

August 13, 2017 | Author: Risma Ma'rifah | Category: Sejarah Peradaban Islam
Share Embed


Deskripsi Singkat

Sejarah Rafa'ah Bey Badawi At-Tahtawi
Riwayat Rafa'ah At-Tahtawi
Nama lengkap : Rafa'ah Bey Badawi A-Tahtawi
Kelahiran : Di Tahta (di dataran tinggi Mesir) 1802

Pendidikan dan Karir Rafa'ah At-Tahtawi

Pada usia 16 tahun melanjutkan pendidikan di Kairo Al-Azhar dan lulus pada tahun 1822 M.
Setelah lulus selama 2 tahun ia mangajar di Universitas, kemudian pada 1824 M At-Tahtawi meraih gelar "Master" di Egyptian Army di Mesir.
Kemudian ia diangkat menjadi imam bagi mahasiswa-mahasiswa yang dikirim oleh Muhammad Ali ke Jomard di Paris. Selama 5 tahun disana ia kursus privat bahasa Perancis dan dapat menerjemahkan 12 buku.
1832 M ia kembali ke Mesir kemudian diangkat sebagai penterjemah dan guru besar di sekolah kedokteran Perancis di Kairo.
1835 M pindah ke sekolah Altelery sebagai penterjemah dan direktur buku-buku ilmu teknik dan kemiliteran.
1836 M menjadi direktur dan penanggungjawab harian "Al Waqa al Mishriah" di sekolah School of Foreign Languages atau Sekolah Bahasa Asing.
1848 M dikirim ke Sudan sebagai kepala sekolah di Kartoum oleh Abbas cucu Muhammad Ali.
1854 M diangkat sebagai direktur disekolah militer oleh Sayid Pasya pengganti Abbas.
1863 M menerbitkan majalah "Raudhatul Madaris" untuk "Munistry of Education".
Selain menterjemahkan buku At-Tahtawi juga mengarang berbagai buku, diantaranya: Qanun al-Tijari, Al Manafi' al Uminyah, Takhlisul Ibriz fi Talkhis Pariz dll.

Ide dan Pemikiran Rafa'ah At-Tahtawi

Bidang Pendidikan
At-Tahtawi menyatakan bahwa pendidikan itu harus ada kaitannya dengan masalah-masalah masyarakat dan lingkungannya.
Ada dua pokok pemikiran At-Tahtawi mengenai pendidikan:
Pendidikan yang bersifat universal dan emansipasi wanita.
Mengenai pendidikan bangsa.
Untuk melengkapi pemikiran pendidikan At-Tahwawi dilengkapi juga dengan ide kurikulum pendidikan yang dihubungkan dengan kepentingan agama dan negara. Yaitu, pertama kurikulum untuk tingkat pendidikan dasar terdiri atas mata pelajaran membaca, menulis yang sumbernya adalah Al-Qur'an, nahwu dan dasar-dasar berhitung. Kedua untuk tingkat menengah ( tajhizi ) terdiri atas : pendidikan jasmani dan cabang-cabangnya, ilmu bumi. Sejarah, mantiq, biologi, fisika, kimia, manajemen, ilmu pertanian, mengarang, peradaban, sebagian bahasa asing yang bermanfaat bagi Negara. Ketiga untuk menengah atas ( `aliyah ) mata pelajaran terdiri atas : mata pelajaran kejuruan. Mata pelajaran tersebut diberikan secara mendalam dan meliputi fiqh, kedokteran, ilmu bumi dan sejarah.
Pemikiran tentang pendidikan yang diterapkan oleh Al Tahtawi di tulis pada buku al-Mursyid al-Amin fi Tarbiyah al-Banin ( pedoman tentang pendidikan anak). Buku ini menerangkan tentang ide-ide pendidikan yang meliputi:
Pembagian jenjang pendidikan atas tingkat permulaan, menengah, dan pendidikan tinggi akhir.
Pendidikan diperlukan, kerana pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mencapai kesejahteraan.
Pendidikan mesti dilaksanakan dan diperuntukan bagi segala golongan. Maka tidak ada perbedaan antara pendidikan anak laki-laki dan anak perempuan. Pemikiran mengenai persamaan antara laki-laki dan pendidikan anak perempuan ini dinilai sebagai mencontoh ide pemikiran Yunani.
Anak-anak perempuan harus memperoleh pendidikan yang sama dengan anak lelaki. Pendidikan terhadap perempuan merupakan suatu hal yang sangat penting karena dua alasan, yaitu:
Wanita dapat menjadi istri yang baik dan dapat menjadi mitra suami dalam kehidupan sosial dan intelektual.
Agar wanita sebagai istri memiliki keterampilan untuk bekerja dalam batas-batas kemampuan mereka sebagai wanita.
Selanjutnya Al Tahtawi mengatakan bahwa dia menginginkan agar para perempuan mempunyai langkah yang lebih baik dalam keluarganya. Karena tujuan pendidikan baginya adalah untuk membentuk personality tidak hanya mengabdikan ilmu yang dimiliki tetapi dengan pendidikan itu akan tertanamkan penting kesejahteraan bagi keluarga dan merasakan keharusan. Peran aktif dari berbagai lapisan masyarakat baik laki-laki maupun perempuan diperlukan dimajukan peradaban dengan bekal pendidikan yang menjadi hak seluruh warga Negara. Di Mesir hak-hak wanita kurang medapat perhatian sehingga Al Tahtawi tergugah menulis buku : " Al Mursyid Al-Amin Al Banat wal Banin " .

Bidang Ekonomi
Pemerintah yang baik, adalah pemerintah yang dapat mengajukan ekonomi. Ekonomi yang maju kesejahteraan masyarakat dapat dijamin. Menurut Al Tahtawi ekonomi Mesir tergantung pada pertanian, ia memuji usaha di jalankan Muhammad Ali dalam lapangan ini. Juga ia menekankan pendapat ahli ekonomi Eropa mengatakan bahwa Mesir mempunyai potensi besar dalam lapangan ekonomi. Memajukan ekonomi, sejahteraan dunia akan tercapai. Hal ini adalah baru karena tradisi dalam Islam untuk mementingkan kehidupan dunia.
Al Tahtawi menekankan bahwa pembangunan perekonomian Mesir diawali dengan kepedulian seluruh bangsa Mesir, sedangkan kunci adalah pendidikan yang akan menghasilkan tenaga ahli terampil dalam masyarakat.
Beberapa ide yang dikemukan Al Tahtawi mengenai bidang ekonomi, termuat dalam karya tulisannya " kitab Takhlish al Ibriz ila talkhis bariz " antara lain:
 Aspek pertanian ; orang Mesir terdahulu terkenal kaya hanya tergantung pada tanah Mesir yang baik dan subur. Oleh karena itu bahwa, perlunya meningkatkan perbaikan bidang pertanian misalnya penanaman pohon kapas, Naila Anggur, zaitun, pemerilaharaan lebah, ulat sutra, dan termasuk hal-hal yang berkaitan dengan pertanian misalnya pupuk tanaman, irigasi yang cukup, sarana pengangkutan.
 Dari aspek transportasi; perbaikan jalan yang menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain, demikian juga jembatan dan pemasangan alat telekomunikasi untuk mempermudah.
Buku atau karya At Tahtawi yang membahas secara rinci mengenai bidang ekonomi, bisa dilihat dalam " Al Manaf al Umumiyyah ". Didalam buku itu dinyatakan bagaimana orang-orang Egypt (Mesir) dahulu dapat berhasil dan sukses, dan kini kemudian akan hilang? Bagaimana mengajar kembali untuk mendapatkan yang hilang itu?

Bidang Kesejahteraan
Kemajuan suatu Negara ditandai meratanya kesejahteraan rakyat dan juga meningkatkan kegiatan perekonomian sehingga stabilitas Negara dapat dicapai.
Sebagaimana diungkapkan oleh Tahtawi, dalam bukunya"Manahij" bahwa manusia pada dasarnya mempunyai dua tujuan, yaitu menjalankan perintah Tuhan dan mencari kesejahteraan didunia, sebagaimana yang dicapai oleh bangsa Eropa modern. Oleh karena itu, kesejahteraan umat Islam harus diperoleh atas dasar melakasanakan ajaran agama, berbudi pekerti baik dan ekonomi yang maju.
Pemikiran Al Tahtawi ini, dilandasi oleh tiga hal; yaitu:
Mesir adalah negeri yang subur tanahnya merupakan Negara agraris, bahkan perekonomiannnya tergantung dari hasil pertanian.
Mesir mempunyai potensi yang besar dalam pembangunan ekonomi.
Mesir pada masa-masa fir'aun telah mencapai kejayaan dalam kesejahteraan rakyat dengan berpegang teguh peda akhlak yang mulia.
Kesejahteraan merupakan tanggung jawab bersama antara rakyat dan pemerintah harus saling berkaitan. Kesejahteraan didunia sangat erat hubungannya dengan kemajuan ekonomi. Sedang kemajuan ekonomi ditentukan oleh semangat kerja dan pengabdian. Al Tahtawi menggambarkam orang-orang yang malas bagaikan patung-patung kuno Mesir, bahkan patung kuno mesir-pun masah dapat dijadikan sumber informasi.
Jadi menurut Al Tahtawi "kesejahteraan" akan tercapai dengan dua jalan, yaitu perpegang pada ajaran agama serta budi pekerti yang baik dan kemajuan ekonomi.
Bidang Pemerintahan
Ide Al Tahtawi tentang Negara dan masyarakat, bukan hanya sekedar pandangan tradisional belaka, dan bukan pula hanya sebagai refleksi pengalaman dan pengetahuan yang telah didapatnya di Paris. Tetapi merupakan kombinasi dan persenyawaan dari keduanya. Dia mengemukakan contoh-contoh yang diteladani yaitu nabi Muhammad SAW. Dan para sahabat dalam melaksanakan pemerintahan yang mempunyai hak kekuasaan mutlak, yang dalam pelaksanaan pemerintahannya harus dengan adil berdasarkan undang-undang. Untuk kelancaran pelaksanaan undand-ondang itu harus ditangani oleh tiga badanyang terpisah yaitu Legislative, Executive dan judicative (Trias Politica Montesque).
Menurut Al tahtawi, masyarakat suatu Negara, terdiri dari 4 (empat) golongan; dua golonan yang memerintah, dua golongan yang lain diperintah. Dua golonan yang memerintah adalah raja dan para ulama (dua para ilmuan). Sedang dua golonan yang diperintah adalah tentara dan para produsen (termasuk semua rakyat).
Golongan yang diperintah (rakyat) ini, harus patuh dan setia kepada pemerintah . Meskipun sebenarnya, seorang raja hanya bertanggung jawab kepada Allah saja. Raja tidak boleh melupakan kepentingan rakyat. Raja harus senantiasa harus ingat kepada Allah dan siksaan yang disediakan bagi orang yang dzalim. Rasa takut seorang raja kepada Allah, akan membuat raja berlaku baik kepada rakyatnya. Selain takut kepada Allah, tindak tanduk raja selalu dikontrol oleh "pendapat umum". Oleh karena itu, antara yang memerintah yang diperintah harus ada hubungan yang baik. Di balik itu, orang-orang yang duduk dipemerintahan harus punya pendidikan yang tepat.
Hubungan orang-orang pemerintahan dengan para ulama, harus serasi dan hidup berdampingan. Kepala Negara atau raja harus hormat kepada ulama karena sebagai mitra dalam menjalankan roda pemerintahan. Demikian pula harus dapat mengaktualisasikan peran dan fungsi syariat dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian ulam harus menguasi perkembangan modern, membekali diri dengan sains modern dan berperan aktif dalam membantu kepala Negara, ikut bermusyawarah dalam menemukan kebijakan pemerintah.
Ide-ide Al Tahtawi ini dikemukakan agar dilaksanakan di Mesir, karena pada saat itu Mesir dikuasa pleh pemerintah yang absolute dibawah pemerintahan Muhammad Ali dan kemudian dilanjutkan oleh beberapa orang pasya.

Patriotisme
Al Tahtawi adalah orang Mesir yang pertama penganut patriotisme. Paham bahwa seluruh dunia Islam adalah tanah air bagi setiap individu muslim, mulai di rubah penekannya. Al Tahtawi menekankan bahwa tanah air adalah tanah tumpah darah seseorang, bukan seluruh dunia Islam. Ia berpendapat bahwa selain adanya persaudaraan se-agama, juga ada persaudaraan setanah air. Dalam perkembangan dunia Islam selanjutnya persaudaraan tanah air ternyata lebih dominan.
Patriotisme adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan suatu masyarakat yang mempunyai pradaban. Kata " Wathan " dan " Hubul Wathan " ( patriotisme) kelihatannya selalu dipakai oleh Patriotisme adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan suatu masyarakat yang mempunyai pradaban. Kata " Wathan " dan " Hubul Wathan " (patriotisme) kelihatannya selalu dipakai oleh Al-Tahtawi dalam bukunya " Manahaj" dan " Al-Mursyid ".

Ijtihad dan Sains Modern
Memahami syari'at Islam menurut Al-Tahtawi merupakan sangat penting dan memiliki kesadaran bahwa syari'at pasti senantiasa up to date, cocok untuk segala zaman dan tempat.
Orang yang mengerti serta memahami syari'at Islam, Al Tahtawi yakin akan pentingnya kesadaran bahwa syari'at pasti senantiasa up to date, cocok untuk segala zaman dan tempat. Untuk itu diperlukan usaha untuk menginterprestasi kembali syari'at kepada situasi yang baru, sesuai dengan kebutuhan hidup zaman modern.
Ulama yang dibutuhkan untuk membangun pemerintah yang kuat dan maju, adalah ulama yang ikut bertanggung jawab bersama kepala negara, ulama yang berpikir dinamis, memiliki pengetahuan luas dan menjauhi sikap statis agar mampu menginterprestasi kembali konsep agama sesuai dengan tuntutan zaman.
Sains dan pemikiran rasional pada dasarya tidak bertentangan dengan syari'at Islam. Karena itu, ijtihad harus dilakukan oleh ulama. Ulama harus dapat merubah masyarakat yang berfikiran statis dan tradisional.
Dalam bukunya "Al Qaul al Sadid fi al ijtihad wa al Taqlid" menguraikan pentingnya ijtihad dan syarat-syarat menjadi mujtahid, serta dalil dalil dan tingkatan para mujtahid.
Al Tahtawi meyakinkan dan menekankan kepada kaum muslimin Mesir dan para ulama Azhar agar menerima dan merasakan betapa pentingnya serta manfaatnya sains modern sebagaimana telah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh orang Barat.
Ia mengatakan pada hakikatnya sains modern itu adalah dan hasil pemikiran kaum muslimin yang kemudian dikembangkan oleh Barat, yaitu dengan perantaraan terjemahan dan buku-buku yang di tulis orang Islam dalam bahasa Arab. Perkembangan sains dan teknologi disamping untuk neningkatkan upaya kualitas umat Islam dalam melakukan ijtihad, juga dapat menunjang kesejahteraan kehidupan kaum muslimin di dunia sebagaimana telah dikembangkan di Eropa.
Gagasan tersebut menjadi fokus penting dan pemikiran dan pembaharuan Al Tahtawi. Oleh karena itu, sebagian besar hidupnya disumbangkan untuk mendukung gagasannya dengan menerjemahkan buku buku agar umat Islam mengetahui budaya yang maju di Barat. Disamping sebagai penulis dan menjadi pimpinan dalarn beberapa pendidikan.
Al Tahtawi dalam hal Satalisme ia mencela orang Paris karena mereka tidak percaya pada qadha' dan qadar. Menurutnya, orang Islam harus percaya pada qadha' dan qadar Tuhan, tetapi disamping itu harus berusaha. Manusia tidak boleh mengembalikan segala-galanya pada qadha' dan qadar. Karena pendirian serupa lilin, menunjukkan kelemahan. Tetapi berusaha semaksimal dulu, baru menyerah.
Orang Eropa berkeyakinan bahwa manusia dapat memperoleh apa yang di kehendakinya dengan kemauan dan usahanya sendiri dan bila gagal dalam usahanya, hal itu bukan karena qadha' dan qadar Tuhan, tetapi karena salah perkiraan atau kurang dalam berfikir atau kurang kuat dalam usahanya.

Penyusun
Risma Ma'rifah
Kelas XII A
Santri Mualimin Pesantren Persatuan Islam 31
Banjaran-Kab.Bandung



Deskripsi

Sejarah Rafa'ah Bey Badawi At-Tahtawi
Riwayat Rafa'ah At-Tahtawi
Nama lengkap : Rafa'ah Bey Badawi A-Tahtawi
Kelahiran : Di Tahta (di dataran tinggi Mesir) 1802

Pendidikan dan Karir Rafa'ah At-Tahtawi

Pada usia 16 tahun melanjutkan pendidikan di Kairo Al-Azhar dan lulus pada tahun 1822 M.
Setelah lulus selama 2 tahun ia mangajar di Universitas, kemudian pada 1824 M At-Tahtawi meraih gelar "Master" di Egyptian Army di Mesir.
Kemudian ia diangkat menjadi imam bagi mahasiswa-mahasiswa yang dikirim oleh Muhammad Ali ke Jomard di Paris. Selama 5 tahun disana ia kursus privat bahasa Perancis dan dapat menerjemahkan 12 buku.
1832 M ia kembali ke Mesir kemudian diangkat sebagai penterjemah dan guru besar di sekolah kedokteran Perancis di Kairo.
1835 M pindah ke sekolah Altelery sebagai penterjemah dan direktur buku-buku ilmu teknik dan kemiliteran.
1836 M menjadi direktur dan penanggungjawab harian "Al Waqa al Mishriah" di sekolah School of Foreign Languages atau Sekolah Bahasa Asing.
1848 M dikirim ke Sudan sebagai kepala sekolah di Kartoum oleh Abbas cucu Muhammad Ali.
1854 M diangkat sebagai direktur disekolah militer oleh Sayid Pasya pengganti Abbas.
1863 M menerbitkan majalah "Raudhatul Madaris" untuk "Munistry of Education".
Selain menterjemahkan buku At-Tahtawi juga mengarang berbagai buku, diantaranya: Qanun al-Tijari, Al Manafi' al Uminyah, Takhlisul Ibriz fi Talkhis Pariz dll.

Ide dan Pemikiran Rafa'ah At-Tahtawi

Bidang Pendidikan
At-Tahtawi menyatakan bahwa pendidikan itu harus ada kaitannya dengan masalah-masalah masyarakat dan lingkungannya.
Ada dua pokok pemikiran At-Tahtawi mengenai pendidikan:
Pendidikan yang bersifat universal dan emansipasi wanita.
Mengenai pendidikan bangsa.
Untuk melengkapi pemikiran pendidikan At-Tahwawi dilengkapi juga dengan ide kurikulum pendidikan yang dihubungkan dengan kepentingan agama dan negara. Yaitu, pertama kurikulum untuk tingkat pendidikan dasar terdiri atas mata pelajaran membaca, menulis yang sumbernya adalah Al-Qur'an, nahwu dan dasar-dasar berhitung. Kedua untuk tingkat menengah ( tajhizi ) terdiri atas : pendidikan jasmani dan cabang-cabangnya, ilmu bumi. Sejarah, mantiq, biologi, fisika, kimia, manajemen, ilmu pertanian, mengarang, peradaban, sebagian bahasa asing yang bermanfaat bagi Negara. Ketiga untuk menengah atas ( `aliyah ) mata pelajaran terdiri atas : mata pelajaran kejuruan. Mata pelajaran tersebut diberikan secara mendalam dan meliputi fiqh, kedokteran, ilmu bumi dan sejarah.
Pemikiran tentang pendidikan yang diterapkan oleh Al Tahtawi di tulis pada buku al-Mursyid al-Amin fi Tarbiyah al-Banin ( pedoman tentang pendidikan anak). Buku ini menerangkan tentang ide-ide pendidikan yang meliputi:
Pembagian jenjang pendidikan atas tingkat permulaan, menengah, dan pendidikan tinggi akhir.
Pendidikan diperlukan, kerana pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mencapai kesejahteraan.
Pendidikan mesti dilaksanakan dan diperuntukan bagi segala golongan. Maka tidak ada perbedaan antara pendidikan anak laki-laki dan anak perempuan. Pemikiran mengenai persamaan antara laki-laki dan pendidikan anak perempuan ini dinilai sebagai mencontoh ide pemikiran Yunani.
Anak-anak perempuan harus memperoleh pendidikan yang sama dengan anak lelaki. Pendidikan terhadap perempuan merupakan suatu hal yang sangat penting karena dua alasan, yaitu:
Wanita dapat menjadi istri yang baik dan dapat menjadi mitra suami dalam kehidupan sosial dan intelektual.
Agar wanita sebagai istri memiliki keterampilan untuk bekerja dalam batas-batas kemampuan mereka sebagai wanita.
Selanjutnya Al Tahtawi mengatakan bahwa dia menginginkan agar para perempuan mempunyai langkah yang lebih baik dalam keluarganya. Karena tujuan pendidikan baginya adalah untuk membentuk personality tidak hanya mengabdikan ilmu yang dimiliki tetapi dengan pendidikan itu akan tertanamkan penting kesejahteraan bagi keluarga dan merasakan keharusan. Peran aktif dari berbagai lapisan masyarakat baik laki-laki maupun perempuan diperlukan dimajukan peradaban dengan bekal pendidikan yang menjadi hak seluruh warga Negara. Di Mesir hak-hak wanita kurang medapat perhatian sehingga Al Tahtawi tergugah menulis buku : " Al Mursyid Al-Amin Al Banat wal Banin " .

Bidang Ekonomi
Pemerintah yang baik, adalah pemerintah yang dapat mengajukan ekonomi. Ekonomi yang maju kesejahteraan masyarakat dapat dijamin. Menurut Al Tahtawi ekonomi Mesir tergantung pada pertanian, ia memuji usaha di jalankan Muhammad Ali dalam lapangan ini. Juga ia menekankan pendapat ahli ekonomi Eropa mengatakan bahwa Mesir mempunyai potensi besar dalam lapangan ekonomi. Memajukan ekonomi, sejahteraan dunia akan tercapai. Hal ini adalah baru karena tradisi dalam Islam untuk mementingkan kehidupan dunia.
Al Tahtawi menekankan bahwa pembangunan perekonomian Mesir diawali dengan kepedulian seluruh bangsa Mesir, sedangkan kunci adalah pendidikan yang akan menghasilkan tenaga ahli terampil dalam masyarakat.
Beberapa ide yang dikemukan Al Tahtawi mengenai bidang ekonomi, termuat dalam karya tulisannya " kitab Takhlish al Ibriz ila talkhis bariz " antara lain:
 Aspek pertanian ; orang Mesir terdahulu terkenal kaya hanya tergantung pada tanah Mesir yang baik dan subur. Oleh karena itu bahwa, perlunya meningkatkan perbaikan bidang pertanian misalnya penanaman pohon kapas, Naila Anggur, zaitun, pemerilaharaan lebah, ulat sutra, dan termasuk hal-hal yang berkaitan dengan pertanian misalnya pupuk tanaman, irigasi yang cukup, sarana pengangkutan.
 Dari aspek transportasi; perbaikan jalan yang menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain, demikian juga jembatan dan pemasangan alat telekomunikasi untuk mempermudah.
Buku atau karya At Tahtawi yang membahas secara rinci mengenai bidang ekonomi, bisa dilihat dalam " Al Manaf al Umumiyyah ". Didalam buku itu dinyatakan bagaimana orang-orang Egypt (Mesir) dahulu dapat berhasil dan sukses, dan kini kemudian akan hilang? Bagaimana mengajar kembali untuk mendapatkan yang hilang itu?

Bidang Kesejahteraan
Kemajuan suatu Negara ditandai meratanya kesejahteraan rakyat dan juga meningkatkan kegiatan perekonomian sehingga stabilitas Negara dapat dicapai.
Sebagaimana diungkapkan oleh Tahtawi, dalam bukunya"Manahij" bahwa manusia pada dasarnya mempunyai dua tujuan, yaitu menjalankan perintah Tuhan dan mencari kesejahteraan didunia, sebagaimana yang dicapai oleh bangsa Eropa modern. Oleh karena itu, kesejahteraan umat Islam harus diperoleh atas dasar melakasanakan ajaran agama, berbudi pekerti baik dan ekonomi yang maju.
Pemikiran Al Tahtawi ini, dilandasi oleh tiga hal; yaitu:
Mesir adalah negeri yang subur tanahnya merupakan Negara agraris, bahkan perekonomiannnya tergantung dari hasil pertanian.
Mesir mempunyai potensi yang besar dalam pembangunan ekonomi.
Mesir pada masa-masa fir'aun telah mencapai kejayaan dalam kesejahteraan rakyat dengan berpegang teguh peda akhlak yang mulia.
Kesejahteraan merupakan tanggung jawab bersama antara rakyat dan pemerintah harus saling berkaitan. Kesejahteraan didunia sangat erat hubungannya dengan kemajuan ekonomi. Sedang kemajuan ekonomi ditentukan oleh semangat kerja dan pengabdian. Al Tahtawi menggambarkam orang-orang yang malas bagaikan patung-patung kuno Mesir, bahkan patung kuno mesir-pun masah dapat dijadikan sumber informasi.
Jadi menurut Al Tahtawi "kesejahteraan" akan tercapai dengan dua jalan, yaitu perpegang pada ajaran agama serta budi pekerti yang baik dan kemajuan ekonomi.
Bidang Pemerintahan
Ide Al Tahtawi tentang Negara dan masyarakat, bukan hanya sekedar pandangan tradisional belaka, dan bukan pula hanya sebagai refleksi pengalaman dan pengetahuan yang telah didapatnya di Paris. Tetapi merupakan kombinasi dan persenyawaan dari keduanya. Dia mengemukakan contoh-contoh yang diteladani yaitu nabi Muhammad SAW. Dan para sahabat dalam melaksanakan pemerintahan yang mempunyai hak kekuasaan mutlak, yang dalam pelaksanaan pemerintahannya harus dengan adil berdasarkan undang-undang. Untuk kelancaran pelaksanaan undand-ondang itu harus ditangani oleh tiga badanyang terpisah yaitu Legislative, Executive dan judicative (Trias Politica Montesque).
Menurut Al tahtawi, masyarakat suatu Negara, terdiri dari 4 (empat) golongan; dua golonan yang memerintah, dua golongan yang lain diperintah. Dua golonan yang memerintah adalah raja dan para ulama (dua para ilmuan). Sedang dua golonan yang diperintah adalah tentara dan para produsen (termasuk semua rakyat).
Golongan yang diperintah (rakyat) ini, harus patuh dan setia kepada pemerintah . Meskipun sebenarnya, seorang raja hanya bertanggung jawab kepada Allah saja. Raja tidak boleh melupakan kepentingan rakyat. Raja harus senantiasa harus ingat kepada Allah dan siksaan yang disediakan bagi orang yang dzalim. Rasa takut seorang raja kepada Allah, akan membuat raja berlaku baik kepada rakyatnya. Selain takut kepada Allah, tindak tanduk raja selalu dikontrol oleh "pendapat umum". Oleh karena itu, antara yang memerintah yang diperintah harus ada hubungan yang baik. Di balik itu, orang-orang yang duduk dipemerintahan harus punya pendidikan yang tepat.
Hubungan orang-orang pemerintahan dengan para ulama, harus serasi dan hidup berdampingan. Kepala Negara atau raja harus hormat kepada ulama karena sebagai mitra dalam menjalankan roda pemerintahan. Demikian pula harus dapat mengaktualisasikan peran dan fungsi syariat dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian ulam harus menguasi perkembangan modern, membekali diri dengan sains modern dan berperan aktif dalam membantu kepala Negara, ikut bermusyawarah dalam menemukan kebijakan pemerintah.
Ide-ide Al Tahtawi ini dikemukakan agar dilaksanakan di Mesir, karena pada saat itu Mesir dikuasa pleh pemerintah yang absolute dibawah pemerintahan Muhammad Ali dan kemudian dilanjutkan oleh beberapa orang pasya.

Patriotisme
Al Tahtawi adalah orang Mesir yang pertama penganut patriotisme. Paham bahwa seluruh dunia Islam adalah tanah air bagi setiap individu muslim, mulai di rubah penekannya. Al Tahtawi menekankan bahwa tanah air adalah tanah tumpah darah seseorang, bukan seluruh dunia Islam. Ia berpendapat bahwa selain adanya persaudaraan se-agama, juga ada persaudaraan setanah air. Dalam perkembangan dunia Islam selanjutnya persaudaraan tanah air ternyata lebih dominan.
Patriotisme adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan suatu masyarakat yang mempunyai pradaban. Kata " Wathan " dan " Hubul Wathan " ( patriotisme) kelihatannya selalu dipakai oleh Patriotisme adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan suatu masyarakat yang mempunyai pradaban. Kata " Wathan " dan " Hubul Wathan " (patriotisme) kelihatannya selalu dipakai oleh Al-Tahtawi dalam bukunya " Manahaj" dan " Al-Mursyid ".

Ijtihad dan Sains Modern
Memahami syari'at Islam menurut Al-Tahtawi merupakan sangat penting dan memiliki kesadaran bahwa syari'at pasti senantiasa up to date, cocok untuk segala zaman dan tempat.
Orang yang mengerti serta memahami syari'at Islam, Al Tahtawi yakin akan pentingnya kesadaran bahwa syari'at pasti senantiasa up to date, cocok untuk segala zaman dan tempat. Untuk itu diperlukan usaha untuk menginterprestasi kembali syari'at kepada situasi yang baru, sesuai dengan kebutuhan hidup zaman modern.
Ulama yang dibutuhkan untuk membangun pemerintah yang kuat dan maju, adalah ulama yang ikut bertanggung jawab bersama kepala negara, ulama yang berpikir dinamis, memiliki pengetahuan luas dan menjauhi sikap statis agar mampu menginterprestasi kembali konsep agama sesuai dengan tuntutan zaman.
Sains dan pemikiran rasional pada dasarya tidak bertentangan dengan syari'at Islam. Karena itu, ijtihad harus dilakukan oleh ulama. Ulama harus dapat merubah masyarakat yang berfikiran statis dan tradisional.
Dalam bukunya "Al Qaul al Sadid fi al ijtihad wa al Taqlid" menguraikan pentingnya ijtihad dan syarat-syarat menjadi mujtahid, serta dalil dalil dan tingkatan para mujtahid.
Al Tahtawi meyakinkan dan menekankan kepada kaum muslimin Mesir dan para ulama Azhar agar menerima dan merasakan betapa pentingnya serta manfaatnya sains modern sebagaimana telah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh orang Barat.
Ia mengatakan pada hakikatnya sains modern itu adalah dan hasil pemikiran kaum muslimin yang kemudian dikembangkan oleh Barat, yaitu dengan perantaraan terjemahan dan buku-buku yang di tulis orang Islam dalam bahasa Arab. Perkembangan sains dan teknologi disamping untuk neningkatkan upaya kualitas umat Islam dalam melakukan ijtihad, juga dapat menunjang kesejahteraan kehidupan kaum muslimin di dunia sebagaimana telah dikembangkan di Eropa.
Gagasan tersebut menjadi fokus penting dan pemikiran dan pembaharuan Al Tahtawi. Oleh karena itu, sebagian besar hidupnya disumbangkan untuk mendukung gagasannya dengan menerjemahkan buku buku agar umat Islam mengetahui budaya yang maju di Barat. Disamping sebagai penulis dan menjadi pimpinan dalarn beberapa pendidikan.
Al Tahtawi dalam hal Satalisme ia mencela orang Paris karena mereka tidak percaya pada qadha' dan qadar. Menurutnya, orang Islam harus percaya pada qadha' dan qadar Tuhan, tetapi disamping itu harus berusaha. Manusia tidak boleh mengembalikan segala-galanya pada qadha' dan qadar. Karena pendirian serupa lilin, menunjukkan kelemahan. Tetapi berusaha semaksimal dulu, baru menyerah.
Orang Eropa berkeyakinan bahwa manusia dapat memperoleh apa yang di kehendakinya dengan kemauan dan usahanya sendiri dan bila gagal dalam usahanya, hal itu bukan karena qadha' dan qadar Tuhan, tetapi karena salah perkiraan atau kurang dalam berfikir atau kurang kuat dalam usahanya.

Penyusun
Risma Ma'rifah
Kelas XII A
Santri Mualimin Pesantren Persatuan Islam 31
Banjaran-Kab.Bandung

Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 CARIDOKUMEN Inc.